BOJONG, http://www.akwnulis.id. Sudah cukup lama kesempatan menikmati secangkir kopi yang diseduh manual menggunakan metode V60 di suatu kafe atau kedai kopi hanyalah angan. Karena dengan suasana pekerjaan yang berbeda, kondisi keuangan yang harus lebih selektif dan terukur maka nongkrong di cafe sementara ini bukan menjadi pilihan prioritas. Lebih fokus kepada aktifitas di ruang kerja ataupun di lapangan saja. Apalagi ada nuansa bahwa menjambangi cafe itu tentu bukan menikmati sruputan segelas kopi saja tetapi dengan cemilannya ditambah makanan beratnya sehingga akhirnya nominal akhirnya cukup lumayan. Sekali-kali sih tidak apa – apa tetapi jika menjadi rutinitas dan sering, itu dapat berakibat mengganggu stabilitas keuangan dalam nuansa dimensi VUCA saat ini.

Maka cara terbaik adalah mengubah pola dan tetap fokus kepada tujuan atau supaya lebih mudah hafal, mari kita buat singkatan yakni UPOLTAKUSPAJUAN. Coba baca 100x berulang-ulang, dijamin segera hafal. Mari kita implementasikan.

Tujuannya apa?
Tentu tujuannya adalah menikmati kebahagiaan dari sebuah proses pembuatan kopi yang diseduh secara manual dengan menggunakan saringan atau kertas filter V60 yang menghasilkan sajian kopi tanpa gula dengan rasa apa adanya.

Ubah polanya bagaimana?
Dari pola biasanya menikmatinya di sebuah cafe dan dibuatkan oleh seorang barista atau baristi (kalau perempuan) khan mengacu ke putra dan putri hehehehe. Beralih kepada diri sendiri dengan menggunakan tangan sendiri. Tinggal baca panduan atau cari referensi, pelajari dan praktekkan step by stepnya.

Tapi ingat jangan sembarang seduh karena yang diseduh secara manual ini adalah sebuah serpihan biji kopi yang digrinder dengan ukuran agak kasar (tentu ini untuk kepentingan seduhan manual V60) dengan kualitas yang baik. Disinilah fokus utama kita mulai yakni bahan utama yang akan dinikmatinya harus betul – betul berkualitas dan sesuai karakter kopi yang diperlukan. Maka kembali fokus untuk kenali diri sendiri dan ingat – ingat selama ini ngopi di cafe karakter kopinya seperti apa.

Jika aliran ngopi seduh manualnya adalah aliran garis keras maka pilihan biji kopinya adalah WINE dengan karakter biji yang harum sekali, tingkat keasaman tinggi dan bodi cenderung medium bold. Tapi kalau diri ini hasil asesment singkat dengan cara mengingat-ingat kalau ngopi itu kopi apa lebih cenderung yang tidak terlalu tajam keasamannya dengan bodi medium tetapi ada selarik manis di ujung lidah pada saat sudah di telan melewati rongga mulut ini. Maka dipastikan pilihannya adalah ARABICA NATURAL. Tinggal pilih mau arabica darimana, nah di tempat jualan biji kopi tinggal memilih. Sudah pasti dipilih yang sekitar jawa barat saja seperti arabica puntang, papandayan, cikuray, gununghalu, malabar ataupun kamojang. Sebenarnya ada beberapa pilihan arabica lainnya seperti arabica kerinci dan wonosobo namun pilihannya jatuh ke biji kopi ARABICA PUNTANG NATURAL.

Tuntas pilihan biji kopinya maka jangan lupa minta di giling sesuai karakter seduh manual V60 kepada sang penjual. Kecuali di rumah ada gilingan maka bisa dalam bentuk biji dibawa pulang. Setelah itu tinggal fokus kepada tata cara dan tahapan SOP penyeduhan. Terdapat berbagai macam cara tapi yang lebih familiar bagi penulis adalah metode manual brew V60 atau seduh manual dengan corong dan kertas filter V60. Prosesi ini dilaksanakan pasca shalat tarawih karena waktu luang cukup banyak atau kalau kepepet sebelum sahur. Cuma khawatir waktunya mepet di waktu sahur maka akan sulit menikmatinya.

Maka kesiapan bejana kaca, corong V60, kertas filter, pengukur suhu, pemanas air, teko leher angsa dan timbangan gramasinya, langsung beraksi. 36 gram kopi yang sudah digrinder berpadu perlahan dengan air panas sebanyak 300ml menghadirkan keharuman yang menenangkan. Perputaran curahan teko leher angsa mengikuti pola tawaf menghasilkan yang fokus menguatkan rasa. Tetesan demi tetesan akhirnya terkumpul menjadi sajian kopi yang penuh rasa dan cinta.

Saran sih bada tarawih saja lebih leluasa sehingga menikmatinya akan maksimal. Singkat kata setelah semua tahapan seduh manual tuntas  dilaksanakan maka masuk kepada tahapan menikmati hasil. Inilah momentum akhir yang ditunggu – tunggu. Duduk dengan tenang sambil menikmati celotehan anak dan ibunya berpadu suara dari televisi yang melengkapi momen ini. Bacalah Basmalllah sebelum menyeruputnya. Oh ya untuk menyeruputnya tentu menggunakan gelas atau cangkir kecil dan sedikit – sedikit saja. Hati – hati kopinya masih panas ya.

Sruput…. “
“..… aahhhh” sebuah komentar jujur yang hadir pasca menikmati kopi. Terutama bapak bapak, seolah ujaran ahhhhh… adalah legitimasi bahwa kopi yang diseruputnya memberi kenikmatan. Maka jangan lupa dengan ucapan ahhhh tentu dengan berbagai ekspresi dari masing – masing wajah.

Ternyata rasanya nikmat kawan, sekaligus dompet tidak boncos karena harganya lebih murah dari total uang yang dikeluarkan jika dilaksanakan di cafe atau rumah makan. Maklum jika di cafe dan rumah makan yang dibayar bukan hanya kopinya tapi juga cemilan dan makanan beratnya.

Kesimpulannya bagi penikmat kopi berkualitas tanpa kehadiran gula dan pemanis lainnya inilah pola yang paling efektif untuk dilakukan dalam kondisi saat ini. Ada makna lain adalah berkumpul dengan keluarga sekaligus menikmati tahapan proses yang perlu waktu, kecermatan dan kesabaran. Tapi dijamin hasilnya nikmat dan mendamaikan.

Selamat menikmati kopimu kawan.
Ingat nikmati kopi tanpa gula adalah investasi kesehatan masa depanmu.
Beda dengan yang manis itu adalah yang menemani disampingmu, tentu makin bahagia. Wassalam (AKW).

One response to “FOKUS NGOPI”

  1. Cucu Nurpirman Avatar

    Wilujeng Ngopi , pa Karo..

    Especially Sasih Romadhon, ngke ba’da Ta’zil Maghrib. 🙏

Leave a Reply

I’m Andriekw

Welcome to my blog, Sebuat tempat menyimpan asa dalam bentuk jalinan kata. sebuah ruang berbagi tentang perjalanan kehidupan yang disempatkan untuk dicatatkan pada semesta. Semoga bernilai manfaat bagi yang membaca, minimal ada senyum kecil setelah semua kalimat dicerna.

Let’s connect

Discover more from akwnulis

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading