-
Baca selengkapnya →: Bungkus Putih Tanpa Nama, Tiga Sloki, dan Sore yang Tak Mau Cepat PulangAda hari-hari ketika semesta tidak mengirim petir, tidak mengirim pelangi, tapi mengirim sebungkus kopi berwarna putih. Polos. Kalem. Seperti tamu yang datang ke pesta tanpa bilang-bilang, tapi langsung jadi pusat perhatian. Sore itu penulis menemukannya. Bungkus putih. Tak ada nama biji besar-besar di mukanya. Tak ada ‘Ethiopia Sidamo Washed Anaerobic…
-
Baca selengkapnya →: Bertapa 48 Jam: Kopi Kalosi dari Kotak Kayu Toraja dan Pelajaran tentang SetiaAda kopi yang datang dalam kantong plastik, ada yang datang dalam kaleng, dan ada kopi yang datang dalam kotak kayu berukir seperti sedang membawa surat wasiat. Kali ini yang datang adalah yang ketiga. Penulis membukanya pelan-pelan, takut ada yang keluar. Jin, misalnya. Atau yang lebih mengerikan: tagihan. Kotak yang Menyimpan…
-
Baca selengkapnya →: Sabu di Tepi Pantai Pangandaran: Dua Puluh Ribu Rupiah dan Rasa Syukur yang Tak TernilaiTidak semua pagi harus dimulai dengan kopi mahal di kafe berpendingin udara. Ada pagi yang cukup dimulai dengan sepasang sandal, langkah yang pelan, dan niat sederhana: jalan kaki dulu, sarapan kemudian. Pagi ini lokasinya di Pantai Timur Pangandaran. Targetnya masih sama seperti hari-hari lain: 6.000 langkah. Tidak lebih, tidak kurang,…
-
Baca selengkapnya →: Selamat Menyendiri, Kopiku: Kopi Bubuk Made in China Menunggu Delapan Jam di Dalam KulkasAda oleh-oleh yang cepat habis, ada oleh-oleh yang disimpan sampai lupa, dan ada oleh-oleh yang diam-diam menunggu waktu terbaiknya di lemari dapur. Kaleng hitam ini masuk golongan yang ketiga. Beberapa waktu lalu, seorang kawan datang membawa kopi hitam bubuk dari China. Katanya, “Ini oleh-oleh, Kang. Cobain.” Kalimat yang sederhana, tapi…
-
Baca selengkapnya →: Loa Natural Lactic di Resto Arunika: Sruput Plum dan Strawberry di Dataran Tinggi KuninganMenikmati sajian Loa Natural Lactic Coffee.
-
Baca selengkapnya →: Excelso Sumatera Mandheling dan Sang Harimau: Seduh Santai di Rumah, Air Dispenser, Rasa Tetap GarangSeduh kopi sambil dipandangi harimau, mau coba?
-
Baca selengkapnya →: Kohitala Gelaca di RM Touchscreen: Cukup Sentuh Kacanya, Hadirlah MakanannyaAda teknologi yang lahir di laboratorium Silicon Valley, dikawal para insinyur berkaus hitam, diluncurkan dengan panggung gemerlap dan lampu sorot. Dan ada teknologi yang lahir di Jatibarang, Indramayu, di depan Kantor Pos, tanpa peluncuran, tanpa panggung, tanpa kabel. Namanya: layar sentuh warteg. Cara kerjanya sederhana namun revolusioner: sentuh kaca, makanan…
-
Baca selengkapnya →: Halu Fruity Whiskey dari Genesis Coffee: Pahit yang Menenangkan Saat Harapan dan Kenyataan BerjauhanAda malam-malam ketika kita tidak butuh nasihat. Tidak butuh motivasi, tidak butuh kata-kata bijak. Yang kita butuhkan hanya sesuatu yang hangat, pahit, dan harum, yang mau menemani tanpa banyak bertanya. Bagi saya, itu secangkir kopi. Dan kali ini, harapan dan kenyataan sedang berjauhan. Jaraknya terasa lebar, seperti dua tepi sungai…
-
Baca selengkapnya →: Arabica Halu Banana dari Seribu Kopi Roastery: V60 Gramasi 15 Gram, Rasio 1:15Ada bean yang dicari-cari, dan ada bean yang kalau ketemu langsung masuk keranjang. Untuk saya, arabica Halu Banana dari Seribu Kopi Roastery masuk golongan kedua. Kali ini ceritanya bukan tentang warung atau kopi sachet, tapi tentang seduhan sendiri di rumah dengan bean yang memang sedang saya sukai. Bagi sebagian orang,…
-
Baca selengkapnya →: Kohitala Gelatik Rp5.000 dan Seafood Sepiring Bertiga di Halaman Masjid Jatitujuh, MajalengkaKopi tidak selalu harus diminum di kafe dengan lampu temaram dan alat seduh mengilap. Malam ini saya ngopi sambil makan malam di halaman masjid Jatitujuh, Kabupaten Majalengka. Tendanya outdoor, sederhana, tapi bersih. Udaranya hangat dengan sedikit angin yang lewat, pas untuk duduk lama. Kohitala Gelatik, Seduh dan Kocek Saja Kopinya…
