SODONG, http://www.akwnulis.id. Shalat shubuh kali ini dilaksanakan dengan pegangan erat kedua tangan diatas perut sambil mendengarkan lantunan surat Alfatihah dan ayat suci alquran yang begitu tartil dari Imam shalat. Sementara badan bertahan oleh hembusan angin yang terasa lebih dingin dari biasanya.

“Mengapa hembusan angin hadir secara langsung?”

Karena memang desain mesjidnya terbuka sehingga Imam dan makmum langsung berhadapan dengan hembusan angin karena tidak ada dinding penghalangan. Tetapi digantikan dengan lafad Allah yang dibentuk bulat serta didalamnya diberi penerangan lampu hijau sehingga menghadirkan nuansa religiusitas yang penuh makna.

Tetapi dini hari ini hembusan angin yang menembus kain gamis ini begitu terasa dingin menggigit hingga terasa menembus kulit dan daging hingga menyentuh tulang tulang rusuk dan rongga dada. Tetapi bukan sesak yang ada namun rasa nyaman berlindan dengan kedamaian yang melingkupi jalinan perasaan. Ternyata alunan ayat suci AlQur’an yang sedang dilafalkan imam shalat memberi suatu cahaya kehangatan yang tidak bisa diucap dengan kata namun hasil nyata terasa begitu berbeda.

Maka tidak ada tahapan lain yakni melanjutkan pergerakan shalat shubuh ini dengan segala urutannya yang dipimpin seorang imam melalui suara indah dan gerak ritmis tubuhnya menghangatkan asa dan memberi pedoman nyata bukan hanya urusan dunia tetapi sebuah bekal hakiki untuk kelanjutan kehidupan yang sebenarnya di alam sana.

Shalat shubuh tuntas disempurnakan dengan rangkaian dzikir dan doa serta beberapa jemaah tidak beranjak dari tempat duduknya tetapi tenggelam dalam kekhusukan membaca kalam Illahi ayat demi ayat dengan suara lirih dan keharuan. Sebuah komunikasi universal dari seorang hamba kepada Tuhannya.

Penasaran dengan suasana dingin yang menggigilkan raga maka setelah tuntas berdoa, langsung merogoh saku celana dan mengambil HP untuk memeriksa suhu pada pagi ini. Ternyata benar saja apa yang dirasakan oleh kulit terbukti secara pengecekan aplikasi yakni 17° celcius. Pantesan tiris pisan.

Itulah catatan kecil pagi ini, sebuah momentum yang penulis syukuri. Meskipun hati kecil ingin kembali berkemul dengan kehangatan selimut kehidupan, tapi apa daya waktu untuk berangkat bekerja sudah menghadang di depan mata. Maka pilihannya adalah menyambar handuk dan bercengkerama dengan air kamar mandi dan bersiap memaknai hari. Wassalam (AKW).

Leave a Reply

Saya AKW

Foto profil AKW

Andrie Kustria Wardana, penikmat Kohitala (kopi hitam tanpa gula), penulis fiksimini basa Sunda, pencinta kucing, dan pejalan kaki minimal 6 ribu langkah sehari. Di sini saya mencatat perjalanan, secangkir demi secangkir, kata demi kata. Semoga ada senyum kecil setelah membacanya.

Discover more from akwnulis

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading