AKW memegang gelas kaca berisi kopi hitam tanpa gula, duduk di jongko cingcau Rajamandala bersama ibu pedagang

Rajamandala, perbatasan KBB dan Cianjur, pekan kedua Juli 2026. http://www.akwnulis.id.

Setelah Kohitala Gelatik yang setia dengan gelas plastiknya, kini giliran saudaranya tampil: Kohitala Gelaca. Kopi hitam tanpa gula, disajikan dalam gelas kaca. Beda wadah, beda nama, tapi semangatnya tetap sama: sederhana, jujur, dan apa adanya.

Deretan Jongko Cingcau di Rajamandala

Lokasinya di perbatasan Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat, dengan Kabupaten Cianjur. Di sepanjang jalan, jongko-jongko penjual cingcau berjejer panjang. Atapnya terpal warna-warni, dindingnya dihiasi spanduk-spanduk bekas promosi, dan lantainya dialasi tikar untuk duduk lesehan. Sederhana, tapi mengundang untuk singgah.

Neng Anggi mengangkat segelas es cingcau hijau di tepi jalan Rajamandala, dengan deretan jongko cingcau di seberang jalan
Neng Anggi dan es cingcau hijau, dengan deretan jongko cingcau di seberang jalan.

Cingcau memang menjadi ciri khas daerah ini. Rajamandala dikenal sebagai salah satu sentra produksi cingcau di Bandung Barat. Cingcau hijaunya dibuat dari perasan daun cingcau, lalu didiamkan hingga mengental menjadi gel berwarna hijau segar. Minuman yang alami, menyegarkan, dan sejak lama dikenal sebagai minuman yang menyehatkan.

Kohitala Gelaca, Lima Ribu Segelas

AKW memegang gelas kaca berisi kopi hitam tanpa gula, duduk di jongko cingcau Rajamandala bersama ibu pedagang
Kohitala Gelaca: kopi hitam tanpa gula dalam gelas kaca, di jongko cingcau Rajamandala.

Meski jongko ini spesialis cingcau, kopi tetap tersedia. Dan tentu saja, pesanan saya tetap setia: kopi hitam tanpa gula, disajikan dalam gelas kaca. Harganya Rp5.000 segelas.

Rasanya sederhana, tidak ada yang istimewa dari kopinya. Tapi suasananya berbeda. Duduk di atas tikar, di bawah atap terpal, ditemani pemilik jongko yang ramah. Namanya Teh Nining. Kebetulan, namanya mirip dengan nama Ibu Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat. Pas sekali, yang satu mengurus perdagangan di tingkat provinsi, yang satu lagi menjalankan dagang langsung di pinggir jalan. Obrolan ringan pun mengalir, dari soal cingcau sampai soal kehidupan sehari-hari.

Segarnya Es Cingcau

Teh Nining, pemilik jongko, meracik segelas es cingcau hijau dengan deretan kopi sachet tergantung dan gelas-gelas kaca di meja
Teh Nining meracik es cingcau di jongkonya.

Kawan-kawan yang ikut singgah, Pak Sofyan dari tim humas, Neng Anggi, dan Pak Rohmat, memilih menikmati es cingcau. Teh Nining meraciknya dengan cekatan. Potongan cingcau hijau dimasukkan ke gelas, ditambah es dan pelengkapnya, lalu disajikan dingin. Di belakangnya, deretan kopi sachet tergantung rapi, dan gelas-gelas kaca berjajar siap dipakai.

Teh Nining melayani pesanan di jongko cingcau Rajamandala, dengan gerobak mie bakso dan deretan kopi sachet di belakangnya
Teh Nining sigap melayani pesanan di jongkonya.
Pak Sofyan berkacamata dan berkemeja putih menyendok es cingcau hijau dari gelas kaca di jongko cingcau Rajamandala
Pak Sofyan dari tim humas, sesendok es cingcau yang segar dan alami.

Pak Sofyan menikmatinya sesendok demi sesendok. Kenyal, dingin, dan segar di tenggorokan. Pas untuk melepas dahaga di tengah perjalanan.

Pak Rohmat dan Neng Anggi duduk lesehan di tikar jongko cingcau Rajamandala sambil menikmati es cingcau dari gelas kaca
Pak Rohmat dan Neng Anggi, lesehan di tikar jongko menikmati cingcau.

Pak Rohmat dan Neng Anggi pun tak ketinggalan. Ada yang duduk bersila di tikar, ada yang bersandar santai. Semua menikmati dengan caranya masing-masing. Suasana yang akrab, seperti singgah di rumah saudara.

Jajan yang Bermakna

Jajan di jongko seperti ini ternyata bukan sekadar soal minum dan melepas lelah. Ada silaturahmi yang terjalin, dengan pemilik jongko, dengan sesama pengunjung, dan dengan kawan seperjalanan. Dan yang tak kalah penting, setiap rupiah yang dibelanjakan di sini ikut menghidupi usaha kecil masyarakat setempat.

Mendukung UMKM tidak selalu harus lewat program besar. Kadang cukup dengan singgah, memesan segelas kopi lima ribu atau es cingcau, lalu mengobrol hangat dengan penjualnya.

Catatan Kecil Kohitala

  • Tempat: jongko cingcau di perbatasan Rajamandala (KBB) dan Kabupaten Cianjur
  • Kopi: kopi hitam tanpa gula, gelas kaca, Rp5.000
  • Menu khas: es cingcau hijau dari perasan daun cingcau
  • Teman jajan: Pak Sofyan (tim humas), Neng Anggi, dan Pak Rohmat

Sruputan Penutup

Kohitala Gelaca di Rajamandala mengajarkan bahwa rasa kopi boleh sederhana, asalkan suasananya bermakna. Segelas kopi hitam, segelas es cingcau hijau, tikar lesehan, dan senyum ramah pemilik jongko. Semuanya berpadu menjadi pengalaman yang hangat.

Ngopi, silaturahmi, sekaligus mendukung UMKM. Nikmat yang berlipat.

Sruput… ahhh, nikmat. Wassalam (AKW & AI).

#Kohitala #KohitalaGelaca #akwnulis #cingcau #Rajamandala #BandungBarat #dukungUMKM

Leave a Reply

Saya AKW

Foto profil AKW

Andrie Kustria Wardana, penikmat Kohitala (kopi hitam tanpa gula), penulis fiksimini basa Sunda, pencinta kucing, dan pejalan kaki minimal 6 ribu langkah sehari. Di sini saya mencatat perjalanan, secangkir demi secangkir, kata demi kata. Semoga ada senyum kecil setelah membacanya.

Discover more from akwnulis

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading