Roemah K-Ve, Cimahi, medio Mei 2024. http://www.akwnulis.id.
Ada cerita ngopi yang langsung ditulis, ada juga yang disimpan dulu, menunggu waktu yang pas. Cerita ini termasuk yang kedua. Momennya sudah cukup lama, sekitar dua setengah tahun lalu, medio Mei 2024. Tapi rasa kopinya, dan wajah kawan yang menemaninya, masih terekam jelas.
Roemah K-Ve, Rumah di Pinggir Jalan Mahar Martanegara

Tempatnya bernama Roemah K-Ve, beralamat di Jalan Mahar Martanegara No. 229, Utama, Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Dari luar, suasananya teduh. Jalan setapak dari paving mengantar langkah melewati taman hijau, pohon-pohon rimbun, dan payung-payung taman, menuju bangunan berdinding kaca dengan atap segitiga yang tinggi. Benar-benar terasa seperti datang ke sebuah rumah.

Masuk ke dalam, ruangannya terang dan lapang. Dinding putih dengan logo Roemah K-Ve terpasang di tengah, langit-langit tinggi, meja kayu panjang yang hangat, dan meja bar hitam dengan deretan papan menu. Beberapa pengunjung tampak serius dengan laptopnya. Tempat yang nyaman untuk ngopi sambil bekerja.

Menunya beragam, dari kopi, teh, jus sehat, sampai minuman segar lainnya. Tapi pilihan Kohitala tetap setia: kopi hitam tanpa gula. Kali ini diseduh dengan cara yang agak berbeda dari biasanya, yaitu menggunakan mokapot.
Mokapot: Tebal, Pekat, Pahit

Mokapot stainless itu datang ke meja di atas alas gabus, ditemani gelas kaca kecil. Kopi dituang perlahan, warnanya hitam pekat kecokelatan.

Sruput pertama, karakternya langsung terasa. Rasa kopi mokapot lebih tebal dibandingkan seduhan manual brew seperti V60. Body-nya berat, dan pahitnya terasa jelas di lidah. Bukan pahit yang kasar, tapi pahit yang tegas, yang membuat mata langsung melek.
Sayangnya, saya lupa menanyakan biji kopi apa yang digunakan. Catatan kecil untuk diri sendiri: lain kali, tanyakan dulu sebelum sruput.
Sekilas Sejarah Mokapot
Mokapot bukan alat seduh baru. Ia lahir di Italia pada tahun 1933, diciptakan oleh Alfonso Bialetti, seorang pengusaha logam dari wilayah Piemonte. Desainnya kerap dikaitkan dengan insinyur Luigi De Ponti. Alat ini diberi nama Moka Express, terbuat dari aluminium dengan bentuk segi delapan yang khas, bentuk yang sampai sekarang masih dikenali di seluruh dunia.
Konon, idenya terinspirasi dari mesin cuci tradisional pada masa itu, yang mendorong air sabun mendidih naik melalui pipa lalu menyiramkannya ke atas cucian. Prinsip yang sama dipindahkan ke dapur: air panas didorong naik melewati bubuk kopi.
Mokapot baru benar-benar populer setelah Perang Dunia II, ketika putra Alfonso, Renato Bialetti, memproduksinya secara massal dan memasarkannya besar-besaran. Maskotnya yang terkenal, sosok pria kecil berkumis, konon terinspirasi dari wajah Renato sendiri. Mokapot pun menjadi perabot wajib di dapur-dapur Italia. Saking lekatnya dengan hidup Renato, saat ia wafat pada 2016, abunya disemayamkan di dalam sebuah mokapot berukuran besar.
Nama moka sendiri diambil dari Mokha, kota pelabuhan di Yaman yang dulu menjadi salah satu pusat perdagangan kopi dunia. Dari pelabuhan itulah biji kopi dari Jazirah Arab berlayar ke berbagai penjuru.
Cara Kerja Mokapot
Mokapot terdiri dari tiga bagian: tabung bawah untuk air, corong saringan di tengah untuk bubuk kopi, dan tabung atas tempat kopi hasil seduhan berkumpul. Ketika dipanaskan, air di tabung bawah mendidih dan menghasilkan uap. Tekanan uap itulah yang mendorong air panas naik melewati bubuk kopi, lalu keluar ke tabung atas.
Tekanannya hanya sekitar 1 sampai 2 bar, jauh di bawah mesin espresso yang bekerja di kisaran 9 bar. Karena itu, kopi mokapot sering dijuluki “espresso rumahan”, meski secara teknis bukan espresso sejati. Hasilnya tetap pekat, tebal, dan kuat, persis seperti yang terasa di Roemah K-Ve hari itu.
Beberapa hal yang biasanya diperhatikan saat menyeduh dengan mokapot:
- Gilingan kopi sedang cenderung halus, tidak sehalus espresso, supaya air tetap bisa mengalir.
- Bubuk kopi diratakan saja di saringan, tidak perlu dipadatkan.
- Isi air di tabung bawah sampai batas katup pengaman, jangan melebihinya.
- Gunakan api kecil hingga sedang, dan angkat mokapot begitu terdengar bunyi bergemuruh tanda air hampir habis, supaya kopi tidak gosong dan terlalu pahit.
Melayani Pak Jajang

Ngopi kali ini tidak sendirian. Ada kawan saya, Pak Jajang, yang ikut duduk semeja. Beliau punya wajah lucu yang selalu berhasil mengundang senyum, bahkan sebelum ia berkata apa-apa. Tapi ada cerita di balik keikutsertaannya ngopi hari itu. Pak Jajang sebenarnya tidak terbiasa ngopi. Dulu, beliau pernah mengalami sakit lambung setelah minum kopi. Belakangan baru ketahuan, rupanya yang jadi pemicu adalah racikannya: kopi yang dicampur gula plus susu.
Kali ini saya yang melayani. Mokapot diangkat, kopi dituang ke gelas Pak Jajang. Sesekali, peran memang perlu bergantian: bukan hanya menikmati kopi, tapi juga menyajikannya untuk kawan.

Pak Jajang pun menyeruput. Matanya terpejam sejenak, menikmati kopi yang tebal dan pahit itu. Ekspresinya, seperti biasa, lucu. Kali ini tanpa gula, tanpa susu, murni kopi hitam. Dan alhamdulillah, tidak ada keluhan pada lambungnya.
Tentu satu kali ngopi belum cukup untuk menyimpulkan. Maka setelah hari itu, kami melakukan pengamatan selama dua minggu. Hari demi hari berlalu, dan alhamdulillah, Pak Jajang baik-baik saja. Lambungnya aman, tidak ada keluhan yang muncul. Rupanya yang selama ini membuatnya kapok bukan kopinya, melainkan gula dan susu yang menyertainya. Pengalaman ini tentu milik Pak Jajang sendiri, karena kondisi setiap orang bisa berbeda. Tapi setidaknya, dari segelas kopi mokapot, Pak Jajang menemukan cara berdamai kembali dengan kopi.
Sruputan Penutup
Dua setengah tahun berlalu, tapi momen ini tetap hangat untuk dikenang. Mokapot yang lahir di Italia hampir satu abad lalu, kopi hitam yang tebal dan pahit, dan seorang kawan dengan wajah lucu yang akhirnya bisa kembali menikmati kopi, tanpa gula, tanpa susu, dan tanpa rasa khawatir.
Kohitala memang selalu begitu. Kadang yang paling berkesan bukan hanya rasanya, tapi dengan siapa kita menyeruputnya.
Sruput… ahhh, nikmat. Waassalam (AKW ditemani AI)
#Kohitala #akwnulis #mokapot #RoemahKVe #ngopiCimahi #kopitanpagula #sejarahkopi







Leave a Reply