Pantai Jayanti, Cidaun, Cianjur, awal Juli 2026. http://www.akwnulis.id.
Kali ini Kohitala punya nama panggilan baru: Kohitala Gelatik. Bukan burung gelatik yang suka hinggap di sawah, melainkan singkatan dari kopi hitam tanpa gula dalam gelas plastik. Sederhana, apa adanya, tapi justru di situlah nikmatnya. Singkatan yang mudah diingat dan bisa menjadi penyemangat. Gaskeun bray..
Berawal dari Jalanan Ciwidey

Perjalanan diawali dari daerah Ciwidey. Jalannya mulus, langit biru cerah dengan awan putih berarak, dan pepohonan tinggi berjajar di kiri kanan jalan. Udara pegunungan yang sejuk masuk lewat jendela, menyegarkan pikiran sejak awal perjalanan.

Semakin jauh, hamparan kebun teh mulai terlihat. Hijaunya membentang di lereng-lereng bukit, rapi seperti permadani. Perjalanan yang indah, dan tentu saja membuat lupa bahwa jarak yang ditempuh cukup panjang. Tujuannya ke arah selatan, menuju pesisir Cianjur.
Rehat Sejenak di Pantai Jayanti

Setelah perjalanan dari pegunungan, kami rehat sejenak di Pantai Jayanti. Pantai ini terletak di Desa Cidamar, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Hamparan pasirnya luas, perahu-perahu nelayan tertambat di tepian, dan menara suar berdiri tegak menghadap laut lepas. Ombaknya bergemuruh khas pantai selatan.
Dari sejuknya kebun teh ke hangatnya angin laut. Dua suasana berbeda dalam satu perjalanan. Dan di tempat seperti ini, apa lagi yang paling pas selain ngopi?
Pak Ajat dan Jongko Kaki Lima

Perjalanan kali ini ditemani Pak Ajat. Beliaulah yang sigap mencari kopi ke jongko kaki lima di dekat pantai. Di jongko itu tersaji aneka gorengan hangat, kerupuk yang digantung, dan tentu saja kopi. Senyum Pak Ajat mengembang, seperti baru menemukan harta karun.
Kopinya kopi sachet, kopi hitam tanpa gula, diseduh air panas dan disajikan dalam gelas plastik. Harganya Rp5.000 per gelas. Teman ngopinya gorengan, Rp1.000 per buah. Murah meriah, dan untuk suasana pinggir pantai seperti ini, rasanya sudah lebih dari cukup.
Sruputan di Pinggir Pantai

Kami pun membawa kopi dan gorengan itu ke pinggir pantai, di atas susunan batu pemecah ombak. Hari itu siang, dan panasnya bukan main. Matahari pantai selatan terasa menyengat di kulit. Tapi gelas plastik tetap di tangan, gorengan di atas kertas pembungkus, dan laut biru membentang di depan mata. Angin laut sesekali berembus, ombak berdebur memecah karang.
Sruput pertama. Jujur saja, rasanya flat. Khas kopi sachet: tidak ada asam, tidak ada aroma buah, tidak ada aftertaste yang tertinggal. Pahitnya datar, lurus, tanpa kejutan. Tapi di tengah siang yang terik, dengan kawan yang menyenangkan dan laut di depan mata, rasa yang datar itu tetap terasa pas. Kadang yang membuat kopi terasa istimewa bukan rasanya, bukan harganya, bukan pula alat seduhnya, melainkan di mana dan dengan siapa kita menyeruputnya.

Pak Ajat pun ikut menikmati. Gelas plastiknya diangkat, disruput perlahan dengan latar ombak yang memutih di belakangnya. Momen sederhana yang terasa begitu lengkap: kopi, kawan, dan laut.

Catatan Kecil Kohitala
- Tempat: jongko kaki lima di pinggir Pantai Jayanti, Desa Cidamar, Cidaun, Cianjur
- Kopi: kopi sachet hitam tanpa gula, gelas plastik, Rp5.000
- Gorengan: Rp1.000 per buah
- Teman ngopi: Pak Ajat
Sruputan Penutup
Dari jalanan rindang Ciwidey, hamparan kebun teh, hingga debur ombak Pantai Jayanti, rehat sejenak hari itu diisi dengan secangkir, eh, segelas plastik kopi hitam tanpa gula. Tidak mewah, tidak rumit, tapi justru terasa paling pas.
Kohitala Gelatik mengajarkan satu hal: nikmat itu tidak ditentukan oleh wadahnya, melainkan oleh syukur saat menyeruputnya.
Sruput… ahhh, nikmat. Wassalam (AKW dibantu AI)
#Kohitala #KohitalaGelatik #akwnulis #PantaiJayanti #Cidaun #Cianjur #Ciwidey #ngopidipantai







Leave a Reply