Lembur malam di kantor, 25 Februari 2025. http://www.akwnulis.id.
Malam itu kantor belum juga sepi. Pekerjaan masih menumpuk, tenggat sudah di depan mata, dan lembur jadi pilihan yang tak terelakkan. Lampu ruangan tetap menyala, laptop tetap terbuka, dan mata mulai minta istirahat.
Di saat seperti itu, ada satu cara ampuh untuk menjaga semangat tetap menyala: ngopi. Kohitala. Kopi hitam tanpa gula. Kali ini bukan beli, tapi seduh sendiri.
Robusta, V60, dan Tangan Sendiri

Biji yang dipakai robusta Gunungtilu, diseduh dengan metode manual brew V60. Air panas dituang perlahan melingkar, kopi dibiarkan blooming, lalu tetes demi tetes turun ke server kaca. Warnanya hitam pekat, nyaris tanpa celah cahaya.
Karakternya jelas sejak sruputan pertama. Pahit sekali. Body-nya full, tebal dan berat di lidah. Acidity-nya flat, nyaris tidak terasa asam sama sekali. Aftertaste-nya pahit dan lempeng, tanpa kejutan, tanpa basa-basi. Robusta memang begitu: lugas, tegas, dan tidak berusaha menyenangkan siapa pun.
Bagi penikmat Kohitala, karakter seperti ini justru menantang. Tapi malam itu, kopi ini tidak diminum sendirian.
Wajah-Wajah Nyengir
Server kopi pun berkeliling. Kawan-kawan yang ikut lembur, juga para OB yang setia menemani sampai larut, satu per satu kebagian gelas kecil berisi robusta pekat itu.

Mang Rudi, OB yang malam itu ikut bertahan, mengangkat gelasnya dengan gaya bersulang. Satu sruput, dan ekspresinya langsung berbicara. Senyum yang bercampur kaget, seperti baru saja disambut pahit yang tidak diduga.

Giliran Mang Cici, OB senior di kantor. Gelas didekatkan ke bibir, sruput pelan, lalu matanya menyipit. Nyengir. Pahitnya robusta tanpa gula langsung terasa sampai ke pangkal lidah.

Rehan, pegawai muda yang energik, mencoba dengan penuh percaya diri. Sruputan pertama, dan senyumnya berubah jadi senyum kecut. Tangan kirinya masih memegang ponsel, tapi wajahnya jelas sedang berdamai dengan rasa pahit.
Mayoritas nyengir. Wajar saja. Mereka belum terbiasa dengan sajian kopi hitam tanpa gula, apalagi yang diseduh dengan metode V60. Selama ini kopi identik dengan manis, dengan susu, dengan krimer. Malam itu, mereka bertemu kopi dalam wujudnya yang paling jujur.
Pahit yang Menyatukan

Saya pun ikut menyeruput. Pahit, tebal, lempeng. Tapi di tengah kelelahan lembur, pahit itu justru membangunkan. Mata kembali terjaga, pikiran kembali fokus.
Dan yang lebih berharga dari rasanya adalah momennya. Tawa kecil melihat ekspresi kawan-kawan, obrolan ringan di sela pekerjaan, dan rasa kebersamaan yang tumbuh dari segelas kopi pahit. Atasan, pegawai, dan OB duduk di meja yang sama, menikmati kopi yang sama, dan nyengir dengan cara masing-masing.
Kopi memang bukan sekadar minuman. Ia bisa menjadi jembatan. Pahitnya dibagi, dan justru karena dibagi, pahit itu terasa lebih ringan.
Sruputan Penutup
Robusta Gunungtilu V60 malam itu mungkin bukan kopi yang paling ramah di lidah. Tapi ia berhasil menemani lembur, membangunkan semangat, dan menghadirkan tawa di tengah penat.
Siapa tahu, dari wajah-wajah nyengir malam itu, akan lahir penikmat Kohitala berikutnya.
Sruput… ahhh, nikmat. Wassalam (AKW with AI)
#Kohitala #akwnulis #robusta #Gunungtilu #V60 #manualbrew #ngopilembur #kopitanpagula







Leave a Reply