Mina, musim haji 2025. http://www.akwnulis.id.

Siapa pun yang pernah berada di Mina pada puncak musim haji pasti paham rasanya. Hamparan tenda putih berjajar sejauh mata memandang, seperti kota yang tumbuh hanya beberapa hari dalam setahun. Jutaan tamu Allah berkumpul di satu lembah, dengan satu tujuan yang sama. Di antara lautan tenda itulah saya bertugas, mendampingi jemaah menjalani rangkaian ibadah yang menjadi puncak perjalanan spiritual mereka.

Di luar tenda, matahari seperti tidak mengenal kata kompromi. Termometer hampir menyentuh 48 derajat Celcius. Udara panasnya bukan lagi sekadar terasa, tapi menampar. Angin yang berembus pun tidak membawa kesejukan, malah seperti hawa dari mulut oven yang baru dibuka. Keluar tenda sebentar saja, kulit langsung terasa perih dan tenggorokan cepat kering.

Di tengah suasana seperti itu, wajar kalau yang dicari orang adalah air dingin, kipas angin, atau sekadar tempat berteduh. Tapi di sela tugas, di dalam kepala saya, ada satu keinginan kecil yang terus mengetuk dengan sopan tapi gigih: ngopi. Kohitala, kopi hitam tanpa gula.

Bekal dari Tanah Air

Keinginan itu bukan tanpa persiapan. Jauh hari sebelum berangkat, bekalnya sudah saya siapkan sendiri di Indonesia. Dua jenis kopi drip bag dari Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat: honey anaerob dan natural anaerob. Sengaja dibeli sebagai bekal khusus selama ibadah haji.

Kenapa drip bag? Alasannya sederhana. Ringan, tidak makan tempat di koper, tidak perlu alat seduh macam-macam, dan cukup bermodalkan air panas serta gelas. Untuk perjalanan jauh dengan barang bawaan terbatas, drip bag adalah sahabat terbaik para penikmat kopi. Apalagi saat bertugas, waktu luang datang tidak menentu. Kadang hanya sepuluh menit di sela koordinasi, kadang lebih pendek lagi. Kopi yang bisa diseduh cepat adalah kemewahan tersendiri.

Bagi saya, Kohitala bukan sekadar minuman. Ia adalah jeda. Ritual kecil untuk menata napas, menenangkan pikiran, dan mengingat bahwa di tengah kesibukan apa pun, kita tetap butuh waktu sejenak untuk hadir sepenuhnya. Maka membawa kopi dari tanah air ke Tanah Suci terasa seperti membawa sepotong rumah dalam perjalanan.

Pemanas Air yang Rusak

Rencana sudah matang, kopi sudah siap, gelas sudah tersedia. Tinggal satu hal: air panas. Dan di sinilah ujian kecil itu datang. Pemanas air di tenda rusak.

Awalnya sempat terdiam sejenak. Ada rasa ingin menyerah, toh bisa ngopi nanti saja. Tapi keinginan itu sudah telanjur mengetuk sejak pagi. Lagi pula, bukankah perjalanan haji sendiri adalah latihan untuk tidak mudah menyerah pada keadaan?

Keinginan ngopi panas di tengah suhu 48 derajat mungkin terdengar aneh, bahkan sedikit nekat. Orang lain mencari air dingin, saya malah mencari air panas. Tapi begitulah Kohitala. Bukan soal cuaca, tapi soal ritual yang menenangkan.

Perjalanan Mencari Dispenser

Maka dimulailah perjalanan kecil. Keluar dari tenda, menembus udara yang panasnya menyengat kulit, mencari dispenser air panas.

Langkah demi langkah di antara deretan tenda. Keringat mengucur tanpa diminta. Sesekali berpapasan dengan jemaah yang juga sedang berjalan, entah mencari air, mencari teman rombongan, atau sekadar meluruskan kaki. Wajah-wajah lelah tapi penuh harap. Sebagian tersenyum, sebagian berzikir pelan. Pemandangan yang membuat hati ikut bergetar.

Di tengah perjalanan itu saya sempat tersenyum sendiri. Kebiasaan jalan kaki minimal enam ribu langkah sehari ternyata tetap terjaga, bahkan di Mina. Hanya saja kali ini langkahnya ditemani panas yang luar biasa dan tujuan yang cukup unik: air panas untuk kopi.

Sampai akhirnya dispenser itu ditemukan. Rasanya seperti menemukan oase di tengah padang pasir, hanya saja oasenya berisi air panas. Senyum pun mengembang. Perjuangan menembus panas 48 derajat akhirnya membuahkan hasil.

Saya melangkah mendekat. Gelas kaca sudah siap di tangan, tinggal disodorkan ke keran. Tinggal selangkah lagi.

Tiba-tiba, dari arah samping, muncul sosok yang bergerak dengan kecepatan dan ketepatan luar biasa. Seorang jemaah ibu-ibu, lengkap dengan gelas di tangan, langsung menempati posisi tepat di depan keran. Tanpa antre, tanpa basa-basi, tanpa menoleh.

Saya terpaku sejenak. Gelas masih menggantung di udara.

Mau protes? Rasanya tidak pantas. Ini Mina, tempat orang belajar sabar dan ikhlas. Lagi pula, siapa tahu beliau sedang sangat membutuhkan air panas itu, mungkin untuk teh, mungkin untuk susu, mungkin untuk menyeduh obat. Atau mungkin memang sudah refleks alamiah yang terasah bertahun-tahun di pasar, di arisan, dan di antrean pembagian sembako.

Ya sudah, saya mundur selangkah. Silakan, Bu.

Beliau mengisi gelasnya dengan tenang, lalu berlalu begitu saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Saya hanya bisa tersenyum dalam hati. Inilah dia, the power of emak-emak. Kekuatan yang tidak tercantum di buku manual petugas haji mana pun, tapi nyata adanya dan sulit ditandingi. Di hadapan kekuatan ini, jabatan, seragam petugas, bahkan suhu 48 derajat pun tidak ada artinya.

Setelah beliau pergi, barulah giliran saya. Gelas kaca terisi air panas, dipegang hati-hati, lalu dibawa kembali ke tenda. Ada tambahan pelajaran kecil yang ikut terbawa: kesabaran bukan hanya diuji oleh panas, tapi juga oleh antrean.

Aneh memang, perjalanan pulang selalu terasa lebih cepat daripada perjalanan pergi. Mungkin karena hati sudah lebih lapang.

Ritual Seduh di Dalam Tenda

Di dalam tenda, ritual pun dimulai. Kemasan drip bag dirobek pada garis sobekan, sayapnya dibuka, lalu digantung di bibir gelas. Air panas dituang perlahan, sedikit dulu untuk membasahi bubuk kopi, memberi kesempatan kopi “bernapas” dan melepaskan gasnya. Setelah beberapa detik, air dituang lagi sedikit demi sedikit, sabar, tidak terburu-buru.

Aroma kopi Gununghalu pun menyebar di dalam tenda. Manis, harum, dengan sentuhan buah. Untuk sesaat, penat dan panasnya Mina seperti mundur beberapa langkah. Ada rasa pulang yang sulit dijelaskan. Aroma itu membawa ingatan pada pagi-pagi di rumah, pada meja kerja, pada kebiasaan sederhana yang ternyata sangat berarti ketika kita jauh darinya.

Tamu Tak Terduga

Baru saja aroma kopi mulai memenuhi tenda, ada sepasang mata yang memperhatikan dengan saksama. Seorang jemaah haji mendekat pelan, wajahnya menunjukkan rasa penasaran. Mungkin aromanya yang memanggil. Mungkin juga pemandangan gelas kopi dengan kantong kecil tergantung di bibirnya terlihat asing di tengah suasana Mina.

“Itu kopi apa, Pak?” tanyanya.

Saya pun bercerita singkat. Kopi arabika dari Gununghalu, Bandung Barat, dibawa sendiri dari tanah air sebagai bekal selama bertugas. Diseduh tanpa gula, karena memang begitulah cara saya menikmatinya.

Melihat matanya yang berbinar, rasanya tidak pantas kalau hanya bercerita. Satu sachet drip bag pun berpindah tangan. Bukan untuk diseduhkan, tapi untuk beliau seduh sendiri. Karena ada kenikmatan tersendiri ketika kita menyeduh kopi dengan tangan kita sendiri.

Maka jadilah tenda itu kelas seduh dadakan. Saya memberi petunjuk langkah demi langkah. Robek kemasan di garis sobekan, buka sayapnya, gantung di bibir gelas. Tuang air panas sedikit dulu, tunggu sebentar biar kopinya “bernapas”. Lalu tuang lagi perlahan, jangan terburu-buru. Beliau mengikuti dengan serius, seperti murid yang tidak mau ketinggalan satu pun penjelasan gurunya.

Setelah air tuntas menetes, kantong kopi diangkat. Beliau menghirup aromanya dulu, lalu menyruput pelan.

Hening sejenak.

Kemudian wajahnya berubah. Ada senyum yang merekah, ada kelegaan yang terpancar, seperti orang yang akhirnya bertemu kembali dengan sesuatu yang lama dirindukan.

“Nah, ini dia kopi tanpa gula yang saya cari,” katanya.

Kalimat sederhana, tapi rasanya seperti hadiah. Di tengah panas 48 derajat, di tenda Mina yang jauh dari rumah, ternyata ada sesama penikmat Kohitala yang sedang rindu secangkir kopi hitam yang jujur. Tanpa gula, tanpa krimer, tanpa tambahan apa pun. Hanya kopi dan rasa aslinya.

Saya ikut tersenyum. Perjalanan menembus panas untuk mencari dispenser tadi, termasuk mengalah di depan keran, ternyata tidak hanya untuk diri sendiri. Allah menitipkan kebahagiaan kecil untuk dibagikan. Satu sachet kopi, satu senyuman, satu persaudaraan baru di Tanah Suci.

Bukankah berbagi adalah bagian dari ibadah itu sendiri?

Sruputan Pertama: Java Halu Honey Anaerob

Kopi ini tumbuh di kawasan Gununghalu dan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, pada ketinggian 1.300–1.500 mdpl. Dataran tinggi yang sejuk, tanah yang subur, dan tangan-tangan petani yang tekun. Kombinasi yang menghasilkan kopi arabika berkualitas specialty.

Pada proses honey, kulit buah kopi dikupas tetapi lendir manisnya, yang disebut mucilage, dibiarkan menempel pada biji. Setelah itu biji difermentasi dalam wadah tertutup tanpa oksigen, atau anaerob. Proses yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian, karena sedikit saja salah takaran waktu, rasanya bisa melenceng.

Begitu disruput, manis madu dan karamel langsung menyapa. Menyusul aroma pisang, apel hijau, dan sedikit nuansa buah tropis. Asamnya segar dan seimbang, tidak menusuk lambung. Body-nya lembut, seperti obrolan santai dengan sahabat lama.

Di tengah panas Mina, rasa lembut ini seperti angin sejuk dari kampung halaman. Setelah tegukan terakhir, manisnya masih tertinggal lama di langit-langit mulut. Padahal tanpa sebutir gula pun. Di situlah keajaiban kopi specialty: manisnya datang dari dalam, bukan dari tambahan.

Sruputan Kedua: Java Halu Natural Anaerob

Kalau yang honey tadi lembut dan santun, yang natural ini lebih berani. Buah kopi utuh, lengkap dengan kulitnya, langsung difermentasi tanpa oksigen. Tidak ada yang dikupas dulu, semuanya ikut berproses bersama. Kulit, daging buah, dan biji saling berbagi rasa selama fermentasi.

Hasilnya fruity sejak hirupan pertama: pisang, nangka, dan buah-buahan tropis. Aromanya mengingatkan pada pasar buah di kampung, saat nangka matang dibelah dan harumnya memenuhi udara. Body-nya tebal tetapi tetap halus di lidah, asamnya segar, dan aftertaste-nya panjang dengan jejak buah tropis yang enggan pergi.

Kokoh namun tidak kasar. Karakter yang cocok menjadi teman bertahan di tengah cuaca yang tidak bersahabat. Kalau kopi honey adalah pelukan hangat, kopi natural ini adalah tepukan di bahu yang berkata, “Ayo, kuat. Tugas belum selesai.”

Satu hal lagi yang membuat Kohitala terasa tepat di tengah tugas: kalorinya hanya sekitar 2–5 kkal per cangkir tanpa gula dan susu. Di tengah aktivitas yang menguras tenaga, setidaknya urusan kopi tidak menambah beban. Yang perlu diingat, jangan lupa tetap minum air putih yang cukup. Kopi boleh jadi teman, tapi air putih tetap sahabat utama di cuaca seekstrem Mina.

Dua Proses, Dua Karakter

Duduk di dalam tenda dengan gelas kopi yang sudah hampir habis, saya merenung. Dua kopi ini berasal dari tanah yang sama, dari gunung yang sama, bahkan mungkin dari kebun yang bertetangga. Tapi karena diproses dengan cara berbeda, lahirlah dua karakter yang sama-sama istimewa.

Yang menarik, keduanya sama-sama melalui fermentasi anaerob. Proses yang tertutup, gelap, tanpa oksigen, dan tentu tidak nyaman kalau kita bayangkan dari sudut pandang biji kopi. Tapi justru dari proses itulah muncul rasa yang kompleks, manis, dan berlapis.

Bukankah perjalanan haji juga begitu? Panas yang menyengat, antrean panjang, jarak yang harus ditempuh dengan berjalan kaki, fasilitas yang kadang tidak sesuai harapan, pemanas air yang rusak, sampai antrean dispenser yang diserobot emak-emak. Semua itu adalah “fermentasi” yang membentuk kesabaran, keikhlasan, dan kerendahan hati. Tidak ada yang instan. Semua butuh proses.

Sruputan Penutup

Dari tenda Mina, ada pelajaran yang terasa lebih dalam. Panas 48 derajat, pemanas air yang rusak, langkah mencari dispenser di luar tenda, mengalah di depan keran, semuanya bagian dari proses. Yang penting tetap beradaptasi, lalu bersyukur.

Bagi yang penasaran ingin mencoba, kedua kopi ini mudah didapat di Indonesia. Versi drip bag berkisar Rp8.700–Rp17.000 per sachet, tergantung merek dan prosesnya. Kemasan biji atau bubuk ukuran 200–250 gram dijual sekitar Rp53.000 sampai Rp200.000 lebih. Untuk bekal perjalanan jauh, apalagi ibadah haji atau umrah, drip bag adalah pilihan paling praktis. Cukup air panas dan gelas, jadilah Kohitala di mana pun kita berada. Asal dispensernya ketemu, dan tidak keduluan emak-emak.

Secangkir kopi hitam tanpa gula di Mina ternyata terasa lebih manis dari biasanya. Mungkin karena ada perjuangannya. Mungkin karena rindu rumah yang sedikit terobati. Mungkin karena ada senyum seorang jemaah yang ikut menikmatinya. Atau mungkin juga karena diseduh di tanah yang penuh berkah, di tengah jutaan doa yang sedang dipanjatkan.

Hatur nuhun, Gununghalu. Hatur nuhun para petani kopi Bandung Barat, yang hasil kerja kerasnya ikut menemani perjalanan ke Tanah Suci. Alhamdulillah, Kohitala tetap terjaga, bahkan di Mina.

Sruput… ahhh, nikmat.

#Kohitala #akwnulis #kopiBandungBarat #JavaHalu #ngopidiMina #haji2025 #petugashaji

Leave a Reply

Saya AKW

Foto profil AKW

Andrie Kustria Wardana, penikmat Kohitala (kopi hitam tanpa gula), penulis fiksimini basa Sunda, pencinta kucing, dan pejalan kaki minimal 6 ribu langkah sehari. Di sini saya mencatat perjalanan, secangkir demi secangkir, kata demi kata. Semoga ada senyum kecil setelah membacanya.

Discover more from akwnulis

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading