Musim haji 2025. Di sela padatnya tugas dan ibadah, ada satu kesempatan yang tak ingin saya lewatkan: berkunjung ke kawasan Jabal Nur, bukit tempat Gua Hira berada. Di sanalah wahyu pertama turun, dan kini di kakinya berdiri kawasan budaya lengkap dengan museum yang menceritakan kisah turunnya wahyu itu.
Tapi tulisan ini bukan soal museumnya. Ini soal apa yang saya temukan di halaman bawahnya.
Selepas berkeliling, langkah kaki membawa saya ke deretan kafe di area bawah. Mata langsung tertumbuk pada papan nama bercahaya: Hartley Cup, dengan tulisan Arab هارتلي كوب bersinar biru di sebelahnya. Kursi-kursi besi hitam berjajar di teras, lampu gantung kristal berkilau di balik kaca. Di dalamnya tampak meja bar dengan deretan grinder, kettle leher angsa, dan sebuah dallah putih bergagang emas yang berdiri gagah. Dallah itu seperti mengingatkan: ini tanah Arab, tempat kopi punya sejarah panjang.

Naluri pencari kohitala langsung bekerja. Masuk.
Membaca menu, mencari yang hitam
Papan menunya rapi, dua bahasa, lengkap dengan kolom kalori. Ada espresso, cortado, Spanish latte, hingga Saudi coffee dan Moroccan tea. Mata saya berhenti di satu baris: V60, 16 riyal, kalori 10,5.

Sepuluh koma lima kalori. Bandingkan dengan white mocha di baris atasnya yang menembus 330 kalori. Di sinilah kohitala menunjukkan jati dirinya: kopi hitam tanpa gula, jujur apa adanya, tak perlu dibungkus susu dan sirup untuk jadi istimewa.
Biji yang dipakai: Arabika Ethiopia. Pilihan yang pas. Ethiopia adalah tanah asal kopi, dan menikmatinya di Mekkah, tak jauh dari jalur sejarah perdagangan kopi yang dulu melintasi Laut Merah dan Jazirah Arab, terasa seperti menyambungkan dua titik penting dalam kisah panjang biji hitam ini.
Barista yang ramah dan tangan yang tenang

Di balik bar, seorang barista muda bertopi hitam dan bersarung tangan menyambut dengan senyum lebar. Gerakannya tenang. Biji digiling, kertas filter dibilas, bubuk kopi dituang ke dripper, lalu air panas mengalir perlahan melingkar. Blooming dulu, tunggu sebentar, lanjut tuangan berikutnya. Aroma mulai naik, ada wangi buah dan bunga yang khas kopi Ethiopia.
Saya merekam prosesnya sambil sesekali mengobrol. Di tanah suci, dengan bahasa campur aduk dan senyum sebagai penerjemah utama, obrolan tentang kopi tetap saja nyambung. Kopi memang bahasa universal.

Seruput pertama
Gelas kertas berlogo Hartley Cup pun berpindah ke tangan. Saya duduk di sofa dekat jendela kaca, memandang lalu lalang jamaah di luar.

Seruput pertama: ringan, bersih, ada asam segar yang lembut seperti buah beri, lalu manis alami yang muncul pelan di ujung lidah. Tanpa gula sedikit pun, tapi terasa manis. Inilah yang selalu saya cari dari kohitala, rasa asli yang tak perlu ditambah-tambahi.
Seruput kedua dan ketiga, pikiran melayang. Di atas sana, di bukit batu itu, dahulu Rasulullah SAW berkhalwat dan menerima wahyu pertama: Iqra’, bacalah. Dan di bawah sini, seorang ASN dari Jawa Barat duduk dengan secangkir kopi hitam, bersyukur diberi kesempatan menjejakkan kaki di tanah yang penuh sejarah ini.
Catatan kecil kohitala
- Tempat: Hartley Cup, kawasan bawah dekat museum Gua Hira (Jabal Nur), Mekkah
- Menu: V60 (manual brew)
- Biji: Arabika Ethiopia
- Harga: 16 riyal
- Kalori: 10,5
- Momen: musim haji 2025
Enam belas riyal untuk secangkir kopi, rasa yang jujur, dan kenangan di kaki Jabal Nur. Rasanya lebih dari sepadan.
Kohitala, di mana pun berada, selalu mengajarkan hal yang sama: nikmati yang asli, syukuri yang ada. Wassalam (AKW dibantu AI).







Leave a Reply