Mina, musim haji 2025. http://www.akwnulis.id.
Hari-hari terakhir di Mina selalu punya ritme sendiri. Tubuh mulai lelah, tapi hati justru semakin lapang, karena rangkaian ibadah puncak hampir tuntas. Tinggal satu lagi yang harus diselesaikan: lempar jumroh hari ketiga, maka semangat harus dijaga, phisiknya pertahankan dengan seluruh jiwa raga.
Dini Hari Menuju Jamarat

Dini hari, saat sebagian besar kota tenda masih terlelap, kami sudah bergerak. Langkah demi langkah menuju Jamarat, melewati jalur panjang di bawah jembatan beton yang terang benderang oleh deretan lampu. Petugas keamanan Saudi berjaga di beberapa titik, memastikan arus jemaah tetap tertib. Dari segala penjuru, jemaah berbagai bangsa berjalan ke arah yang sama, sebagian berombongan, sebagian menuntun orang tuanya.
Memilih waktu dini hari bukan tanpa alasan. Udara masih bersahabat, matahari belum menunjukkan kegarangannya. Bagi jemaah lansia, pilihan waktu seperti ini bisa sangat menentukan. memang terdapat berbagai pendapat tentang waktu ideal melempar jumroh mengacu dengan berbagai referensi. namun itulah indahnya pemahaman dan pengetahuan berpadu bersama kenyataan.

Semakin dekat ke lokasi, jemaah semakin rapat. Bahu bertemu bahu, tas punggung bersenggolan, tapi semua bergerak dengan satu tujuan. Tujuh butir batu untuk masing-masing jumroh: Ula, Wustha, dan Aqabah. Setiap lemparan adalah simbol, bahwa godaan harus dilawan dan keteguhan hati harus dijaga. Senyum menjadi bahasa universal sehingga tak ada yang merasa dirugikan. kita satu saudara dalam kibaran panji Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW.
Alhamdulillah, lempar jumroh ketiga tuntas.
Tugas Belum Selesai: Mencari Jemaah yang Kesasar
Kembali ke tenda, bukannya istirahat, justru tugas lain sudah menanti. Ada jemaah yang belum kembali. Beliau sudah sepuh, dan ternyata kesasar masuk ke tenda lain. Kabar itu langsung membuat hati tidak tenang. Bukan hanya karena beliau kebingungan, tapi juga karena kondisi fisiknya cukup rapuh. Di tengah kelelahan setelah rangkaian ibadah, kondisi seperti itu bisa cepat menurun.

Di Mina, cerita seperti ini bukan hal langka. Tenda-tenda putih berjajar nyaris seragam, lorong-lorongnya mirip satu sama lain, dan dalam kondisi lelah, orientasi mudah hilang.
Awalnya pencarian tidak mudah. Kami harus menyisir tenda kloter lain, bahkan lintas syarikah, perusahaan yang melayani jemaah di Tanah Suci. Setiap wilayah punya pengelolanya sendiri, dan tidak semua pintu bisa langsung diketuk begitu saja. Ditambah lagi, mayoritas jemaah dan petugas sama-sama sedang kelelahan. Mata berat, kaki pegal, tenaga tinggal sisa.
Tapi menyerah bukan pilihan. Lorong demi lorong disusuri, tenda demi tenda ditanyai, ciri-ciri dicocokkan. Sampai akhirnya, alhamdulillah, beliau ditemukan.
Beliau kemudian dirujuk ke petugas setempat untuk diperiksa kondisinya, lalu diantar kembali ke tenda awal bersama rombongannya. Pencarian itu baru benar-benar tuntas bada subuh. Rasa lega bercampur syukur. Bagi petugas, tidak ada kabar yang lebih melegakan daripada semua jemaah kembali lengkap di tendanya.
Kohitala di Bawah Matahari Pagi

Pagi harinya, matahari Mina mulai naik. Di lorong antar tenda, beberapa jemaah duduk santai berjemur, menikmati hangatnya pagi sebelum panas siang datang menyergap.
Saat itulah saya kembali menyeduh sisa bekal dari tanah air: sachet arabika Gununghalu natural. Air panas dituang perlahan, aroma buah tropis langsung naik. Pisang, nangka, dan manis yang samar. Body-nya tebal tapi tetap halus di lidah, dan aftertaste-nya panjang. Karakter yang kokoh, cocok untuk pagi setelah malam yang panjang. Gelas kaca berisi kopi hitam pekat itu saya bawa keluar, duduk menemani jemaah yang sedang berjemur.

Obrolan pun mengalir. Soal lempar jumroh tadi malam, soal rasa kangen rumah, soal rencana setelah kembali ke Mekkah. Obrolan ringan yang sederhana, tapi justru dari obrolan seperti inilah kedekatan antara petugas dan jemaah tumbuh.
Kopi tanpa gula di pagi hari memang punya khasiat sendiri. Pahitnya jujur, harumnya menenangkan, dan kafeinnya membangunkan semangat yang sempat terkuras. Pagi itu, Kohitala bukan sekadar minuman. Ia adalah bahan bakar, karena siang hingga sore nanti tugas berat sudah menanti.
Berkemas, Kembali ke Mekkah
Sore harinya, suasana Mina berubah. Tenda-tenda mulai riuh oleh kesibukan berkemas. Koper ditutup, tas dirapikan, barang-barang dicek ulang. Jemaah bersiap meninggalkan Mina, kembali ke Mekkah.
Di antara rombongan yang naik bus sore itu, ada jemaah sepuh yang semalam sempat kesasar. Beliau kini duduk tenang bersama rombongannya, berangkat bersama-sama menuju Mekkah. Pemandangan sederhana, tapi bagi kami itulah hadiah terbaik dari hari yang panjang.
Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Beberapa hari di Mina terasa panjang sekaligus singkat. Panasnya, antreannya, lorong-lorong tendanya, jemaah yang kesasar, semua akan menjadi kenangan yang terus diceritakan.
Sruputan Penutup
Dari dini hari di Jamarat hingga sore berkemas, satu hari terakhir di Mina itu terasa lengkap. Ada ibadah yang dituntaskan, ada amanah yang dijaga, ada secangkir kopi yang menemani, dan ada jemaah yang ditemani. serta tugas fungsi harus dilaksanakan penuh bakti.
Hatur nuhun, Gununghalu. Sachet kecilmu ikut menjadi saksi hari terakhir kami di Mina.
Sruput… ahhh, nikmat. Wassalam (AKW dibantu AI)
#Kohitala #akwnulis #kopiBandungBarat #Gununghalu #ngopidiMina #haji2025 #petugashaji







Leave a Reply