AKW menyeruput kopi tubruk hitam tanpa gula dalam gelas kaca di Warung Pangersa rest area KM 125 tol Cipularang

Rest Area KM 125, Tol Cipularang, 30 Oktober 2025. http://www.akwnulis.id.

Pagi itu perjalanan dimulai lebih awal. Tujuannya Purwakarta, tepatnya sebuah tempat bernama Leuweung Seni. Tapi sebelum mobil melaju lebih jauh, ada satu ritual yang tak boleh terlewat: ngopi. Kohitala. Kopi hitam tanpa gula.

Dan pilihan jatuh pada sebuah warung sederhana di rest area KM 125, Cimahi, tol Cipularang arah Jakarta karena alasannya sederhana. Mobil perlu minum BBM dan orangnya perlu minum kopi hitam, jadi sama – sama senang khan.

Warung Pangersa, Nuansa Tempo Dulu

Tampak depan Warung Pangersa, bangunan kayu beratap genteng di rest area KM 125 tol Cipularang arah Jakarta
Warung Pangersa, rest area KM 125 tol Cipularang arah Jakarta.

Namanya Warung Pangersa. Bangunannya kayu, beratap genteng, dikelilingi tanaman hijau yang tertata. Di tengah rest area yang biasanya dipenuhi gerai modern, warung ini tampil beda. Seperti mampir ke rumah di kampung.

Meja warung kayu bernuansa tempo dulu di Warung Pangersa dengan televisi tabung lawas, gelas enamel tergantung, dan ibu penjaga warung
Nuansa warung tempo dulu: televisi tabung, gelas enamel, dan meja kayu.

Masuk ke dalam, suasananya makin terasa. Meja warung dari kayu tua, televisi tabung lawas di atas meja, deretan gelas dan teko enamel tergantung di dinding, toples-toples berjajar rapi. Seorang ibu berkerudung menjaga warung dengan tenang. Semuanya seperti membawa kita mundur beberapa puluh tahun.

Kopi Tubruk Lima Ribu

AKW menyeruput kopi tubruk hitam tanpa gula dalam gelas kaca di Warung Pangersa rest area KM 125 tol Cipularang
Kohitala tubruk lima ribu rupiah, bekal semangat pagi.

Pesanannya sederhana: kopi hitam, tanpa gula. Kopi tubruk biasa. Harganya cuma lima ribu rupiah.

Kopi bubuk langsung diseduh air panas, disajikan dalam gelas kaca bergagang. Ampasnya perlahan turun ke dasar gelas. Tunggu sebentar, lalu sruput.

Jujur saja, rasanya biasa. Tidak ada aroma buah, tidak ada asam yang cerah, tidak ada aftertaste panjang. Pahit sederhana khas kopi bubuk warung. Tapi justru di situ letak kejujurannya. Kopi ini tidak berpura-pura menjadi kopi spesialti. Ia hadir apa adanya, dan pagi itu, itu sudah cukup.

Karena kadang yang dibutuhkan dari secangkir kopi bukan kompleksitas rasa, melainkan semangat. Dan kopi tubruk lima ribu ini menunaikan tugasnya dengan baik. Mata terbuka, badan hangat, siap melanjutkan perjalanan.

Menuju Leuweung Seni

Perjalanan berlanjut ke Purwakarta. Tujuannya menemui seorang seniman, Bapak Yusman, di Leuweung Seni. Agendanya penjajakan pembuatan mobil hias. Bukan mobil hias sembarangan, karena mobil hias ini akan dihadirkan di perhelatan STQ Nasional 2025 di Kendari, membawa nama Jawa Barat.

Tantangannya tidak ringan. Mobil hias itu harus keren, sesuai dengan selera Bapak KDM, dan tentu harus menyesuaikan dengan anggaran yang dimiliki LPTQ. Menyeimbangkan mimpi dan kemampuan, itulah seni tersendiri dalam setiap perencanaan.

Begitu tiba, suasananya langsung berbeda. Leuweung Seni benar-benar sesuai namanya. Rindang, asri, dan memang di-setting sebagai hutan betulan. Uniknya, hutan ini berada di pinggir perumahan. Beberapa langkah dari deretan rumah, tiba-tiba kita sudah dikelilingi pepohonan, dedaunan, dan udara yang lebih sejuk.

Seeng, Hawu, dan Kopi yang Tak Terekam

Seeng hitam di atas hawu sederhana dengan kayu bakar bambu di tanah hutan Leuweung Seni Purwakarta
Seeng di atas hawu sederhana, alat masak air tradisional di Leuweung Seni.

Di salah satu sudut, mata tertumbuk pada pemandangan yang sudah jarang ditemui: seeng hitam bertengger di atas hawu sederhana. Kayu bakar dan bilah bambu tersusun di bawahnya, sisa arang masih terlihat. Alat memasak air tradisional Sunda yang dulu akrab di dapur-dapur kampung, kini hadir di tengah hutan kecil ini. Sederhana, tapi menyimpan kenangan.

Bapak Yusman berkemeja hitam melihat layar ponsel saat diskusi santai sambil ngopi di Leuweung Seni Purwakarta
Bapak Yusman (berkemeja hitam) menyimak referensi di layar ponsel saat diskusi mobil hias di Leuweung Seni.

Diskusi pun berjalan santai. Duduk lesehan, ide-ide dilempar, referensi dibuka di layar ponsel, dan tentu saja, kopi ikut disajikan. Gelas enamel bermotif dan cangkir gerabah tersaji di atas meja kayu. Suasananya hangat, obrolannya cair, dan arah konsep mobil hias mulai terbayang.

Sayangnya, momen menyeruput kopi di Leuweung Seni tidak sempat terekam kamera. Wajah saat meminumnya luput dari dokumentasi. Tapi tak apa. Tidak semua kenikmatan harus diabadikan. Sebagian cukup disimpan dalam ingatan.

Sruputan Penutup

Pagi itu dimulai dengan kopi tubruk lima ribu di warung tempo dulu, dan berlanjut dengan kopi di tengah hutan kecil bersama seorang seniman. Dua kopi yang sederhana, dua suasana yang berbeda, tapi keduanya menemani satu ikhtiar: menghadirkan karya terbaik Jawa Barat di STQ Nasional 2025.

Kohitala mengajarkan hal yang sama, di rest area maupun di tengah leuweung: tidak perlu mewah untuk bermakna.

Sruput… ahhh, nikmat. Wassalam (AKW bersama AI)

#Kohitala #akwnulis #kopitubruk #WarungPangersa #LeuweungSeni #Purwakarta #STQNasional2025

Leave a Reply

Saya AKW

Foto profil AKW

Andrie Kustria Wardana, penikmat Kohitala (kopi hitam tanpa gula), penulis fiksimini basa Sunda, pencinta kucing, dan pejalan kaki minimal 6 ribu langkah sehari. Di sini saya mencatat perjalanan, secangkir demi secangkir, kata demi kata. Semoga ada senyum kecil setelah membacanya.

Discover more from akwnulis

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading