Manual brew Flores Natural Uwu, dua gelas sloki, dan segelas dirty latte.

SEMARANG, http://www.akwnulis.id. Ada kedai kopi yang membuat kita cepat-cepat menghabiskan minuman lalu pergi. Ada juga yang membuat kita duduk lebih lama, memegang cangkir lebih pelan, dan mencium aroma lebih dalam. Strada Coffee di kawasan Gajah Mungkur, Kota Semarang, termasuk yang kedua. Kali ini saya datang dengan niat sederhana: ngopi tanpa gula. Dua pesanan sudah ada di kepala sebelum duduk, yaitu manual brew Arabika dan dirty latte. Yang satu untuk merenung, yang satu untuk dipeluk. Ahay lebay. Untuk manual brew, pilihan saya jatuh pada Flores Natural Uwu. Di meja, kartu kecilnya sudah lebih dulu bercerita. dia masuk dalam tier 2 dan di garansi sama mbaknya bahwa rasa sweetnya bakal keluar tapi harus ditunggu dengan sabar. oke deh.

Kartu Kecil Berwarna Merah

Ada hal yang semakin membahagiakan adalah kelengkapan keterangan dari kopi yang akan dinikmati, yakni sebuah kartu kecil yang sarat makna. Kartu itu menyebut kopi ini berasal dari Uwu, Manggarai, Flores, varietas Kartika, proses Natural Artisan, ditanam di ketinggian 1600 mdpl. Profil sangrai untuk filter, dengan body sedang dan acidity yang lembut. Flavor notes-nya tiga: red apple, orange blossom honey, dan black tea.

Tiga catatan rasa itu terdengar seperti puisi pendek. Apel merah yang segar, madu bunga jeruk yang halus, dan teh hitam yang bersih. Kalau kopi ini benar-benar sejujur kartunya, tanpa gula pun ia tidak akan kesepian. Disinilah lidah akan bersaksi, apakah bisa mengenali rasa – rasa tersebut atau cukup selarik kepahitan saja?…

Bejana Kaca Bernama Kendi S70

Yang membuat saya tersenyum adalah cara kopinya datang. Bukan sekadar cangkir, tetapi bejana kaca berbentuk kendi. Kartu di meja menyebutnya Kendi S70, terinspirasi dari kendi tradisional Nusantara. Leher kendi yang menyempit berfungsi mengumpulkan aroma, sehingga wangi kopi terasa lebih intens ketika dihirup. Untuk penyeduhan langsung dengan Kendi S70, cone bersudut 70° menciptakan ekstraksi yang berada di antara pour-over dan immersion. Hasilnya kopi dengan karakter sweet & bold. Wah rasa penasaranku berbuncah, inilah bahagia tanpa terlihat. Sebagian saja yang paham dan mungkin itu adalah aku, iya aku. kamu gimana?

Kendi, benda yang biasanya kita temui di rumah nenek atau di meja tamu zaman dulu, ternyata bisa ikut menyeduh kopi masa kini. Ada rasa hangat di situ, seperti tradisi yang ikut duduk di meja bersama kita. Cangkir-cangkirnya pun lucu. Bentuk dan warnanya membuat meja kecil itu terasa seperti pojok laboratorium yang ramah, tempat kita boleh bereksperimen tanpa takut salah.

Sensory Glass Experience: Dua Sloki, Dua Kegunaan

Bagian yang paling saya tunggu datang kemudian: dua gelas kosong berukuran sloki. Bukan satu, tapi dua, masing-masing dengan tugas berbeda. Kartunya menyebut konsep ini Sensory Glass Experience: kopi yang sama disajikan dalam dua jenis gelas untuk menghadirkan pengalaman rasa yang berbeda. Gelas pertama, Tulip Glass. Bentuknya menyempit di bagian atas. Fungsinya membantu mengangkat aroma, kompleksitas rasa, dan acidity. Kalau ingin merasakan sisi cerah dan wangi dari kopi natural, di sinilah tempatnya. Gelas kedua, Sloki Glass. Bentuknya lebih terbuka. Fungsinya membantu menonjolkan sweetness dan body, memberi sensasi rasa yang lebih round. Kalau ingin merasakan sisi manis dan bulat dari kopi yang sama, pindahlah ke gelas ini.

Kartunya ditutup dengan ajakan yang saya suka: nikmati kopi dengan kedua gelas dan rasakan bagaimana bentuk gelas memengaruhi persepsi rasa dan aroma. Maka saya menuang bergantian. Cium dulu dari gelas tulip, seruput, lalu pindah ke sloki dan seruput lagi. Kopinya sama, tapi lidah dan hidung diajak menempuh dua jalan yang berbeda. bukan persimpangan tetapi pengalaman yang beragam bisa dihadirkan dari dua sajian karena sarana penyeruputannya berbeda, ajaib sekali guys.

Tiga Babak Rasa Flores Natural Uwu

Seperti biasa, saya coba membagi pengalaman minum ini menjadi tiga babak rasa yang terdeteksi oleh lidahku yang semakin sering bermain di tataran kepahitan enak alias manisnya kehidupan dalam kepahitan rasa kopi yang diseduh manual. Babak pertama: body. Sedang, seimbang, tidak berat dan tidak encer. Cocok untuk yang ingin menikmati kopi pelan-pelan tanpa merasa dipaksa. Babak kedua: acidity. Lembut. Bukan asam yang menusuk, melainkan kesegaran seperti gigitan pertama apel merah. Di gelas tulip, sisi ini terasa paling menonjol. Babak ketiga: aftertaste. Manis halus seperti madu bunga jeruk hadir di ujung lidah, disusul kesan teh hitam yang bersih, menutup seruput dengan tenang. Di gelas sloki, sweetness dan body terasa lebih bulat.

Tanpa gula, semua karakter itu terdengar dan terekam jelas. Tidak ada yang menutupi, tidak ada yang berebut panggung. Kopi natural memang punya modal manis dari buahnya sendiri. Kalau diseduh dengan baik, gula justru tidak diperlukan.

Penutup yang Hangat Dingin : Dirty Latte

Setelah manual brew, saya pesan dirty latte, tetap tanpa gula. Kalau manual brew adalah sesi merenung, dirty latte adalah pelukan hangatnya. Espresso yang tegas bertemu susu yang lembut. Ada gurih alami dari susu yang membuat kopi terasa ramah, tanpa perlu tambahan manis apa pun. Dua kopi dalam satu kunjungan, dua karakter yang saling melengkapi: yang pertama mengajak berpikir, yang kedua mengajak beristirahat. Cairan Espresso yang mengotori susu dimaknai men-dirtyi-i terlihat memikat, cukup 2 bahan tapi memberi sebuah semangat.

Ini aliran dirty latte klasik, tapi itulah makna dari kesederhanaan dan ikut menjadi penyempurna sajian manual brew yang sudah sejak awal dinikmati.Ternyata kopi tanpa gula bukan berarti kopi yang pahit. Kadang justru di situlah manis yang paling jujur bersembunyi.

Apa itu Kopi Natural?

Kopi natural, atau natural process, adalah cara pengolahan pascapanen di mana buah kopi (cherry) dikeringkan utuh bersama kulit dan daging buahnya, baru kemudian biji dipisahkan. Selama pengeringan, gula dan rasa dari buah meresap ke dalam biji. Itulah sebabnya kopi natural sering hadir dengan karakter buah yang menonjol dan manis alami. Kartu di meja menyebut prosesnya Natural Artisan, yaitu pengolahan natural yang dikerjakan dengan perhatian khusus supaya karakter buahnya tetap terjaga.

Kenapa Bentuk Gelas Memengaruhi Rasa?

Sebagian besar yang kita sebut “rasa” sebenarnya adalah aroma. Saat kopi diseruput, aroma naik ke belakang hidung dan berpadu dengan rasa dasar di lidah (manis, asam, pahit). Gelas yang menyempit di bagian atas, seperti tulip, mengumpulkan aroma sehingga hidung menangkapnya lebih tajam, dan kesan asam serta kompleksitas terasa lebih menonjol. Gelas yang terbuka, seperti sloki, membiarkan aroma lebih cepat menyebar sehingga perhatian bergeser ke sensasi di mulut, yaitu manis dan body.

Tips Menikmati Manual Brew Tanpa Gula

  • Cium dulu, baru seruput. Aroma adalah separuh dari pengalaman.
  • Seruput saat kopi masih hangat, lalu lagi saat mulai dingin. Suhu yang turun sering mengungkap manis dan acidity yang tadinya tersembunyi.
  • Kalau tersedia dua gelas, coba keduanya. Bandingkan mana yang lebih menonjolkan aroma dan mana yang lebih menonjolkan manis.
  • Baca kartu catatan rasanya. Itu seperti peta kecil, dan kadang lidah kita menemukan lebih dari yang tertulis.

Maka kunjungan ke Strada Coffee kali ini menambah satu pelajaran: nikmat minum kopi tidak hanya ditentukan oleh bijinya, tetapi juga oleh cara menyeduh, cara menyajikan, bahkan bentuk gelas yang kita pegang. Semua ikut bercerita, tinggal kita mau mendengarkan atau tidak. Selamat ngopi kawan di mana pun berada, dan jam berapa pun, tanpa gula pastinya. Hehehe.

Wassalam (AKW dibantu AI)

2 responses to “NGOPI TANPA GULA DI STRADA COFFEE – SEMARANG”

  1. Ike Avatar
    Ike

    Keren.. selalu dinanti inspirasinya. Bagaimana niatan menulis. Menyiapkan waktu dalam kesempatan yg sempit. Mengatur bahan tayang plus kemasan inspitasi. Kebetulan saya dan temen2 ikut dalam menikmati ruang Strada 😁

    1. andriekw Avatar

      Makasih ibu… k3sempatan dan traktirannya.

Leave a Reply

I’m Andriekw

Welcome to my blog, Sebuat tempat menyimpan asa dalam bentuk jalinan kata. sebuah ruang berbagi tentang perjalanan kehidupan yang disempatkan untuk dicatatkan pada semesta. Semoga bernilai manfaat bagi yang membaca, minimal ada senyum kecil setelah semua kalimat dicerna.

Let’s connect

Discover more from akwnulis

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading