AKW berikat kepala Sunda mengangkat gelas americano hitam tanpa gula, duduk di kursi lipat bersama kawan di Kopi Murangkalih Sumedang

Kopi Murangkalih, Sumedang, awal Mei 2026. http://www.akwnulis.id.

Malam itu Kohitala singgah di Kota Sumedang. Bukan di kafe besar dengan lampu gantung dan sofa empuk, tapi di sebuah kedai kopi sederhana yang mangkal di emper toko, tepat di seberang SMAN 1 Sumedang.

Menanti Kirab Milangkala Tatar Sunda

Ngopi kali ini bukan sekadar mampir. Kami sedang menunggu pelaksanaan Kirab Milangkala Tatar Sunda, yang diawali dari Sumedang, tepatnya dari halaman Museum Srimanganti, Gedung Negara Sumedang. Kirab ini membawa Mahkota Binokasih, pusaka peninggalan Kerajaan Pajajaran yang diwariskan kepada Kerajaan Sumedang Larang, menuju pusat pemerintahan Kabupaten Sumedang. serta esok hari berlanjut rombongan bergerak ke tasikmalaya, ciamis carut dan berbagai daerah lainnya di provinsi jawa barat.

Kirab dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Barat, KDM, bersama Bupati Sumedang dan jajaran Forkopimda. Suasananya tentu istimewa. Karena itu pula, pakaian yang dikenakan malam itu adalah baju adat Sunda: pangsi hitam, dan tidak lupa iket di kepala. Ngopi dengan pangsi dan iket, rasanya ada nuansa tersendiri. Seperti menyeruput kopi sambil menyambung diri dengan akar budaya.

Kopi Murangkalih: Ngopi, Ngobrol, Ngide

Papan nama Kopi Murangkalih bertuliskan Ngopi, ngobrol, ngide di atas jendela kedai kopi mobil yang menyala di malam hari, Sumedang
Kopi Murangkalih: ngopi, ngobrol, ngide.

Namanya Kopi Murangkalih. Dalam bahasa Sunda, murangkalih artinya anak kecil. Tapi tenang saja, alhamdulillah ukuran kopinya tetap untuk kapasitas orang dewasa. Namanya yang hangat dan akrab seolah mengajak siapa pun untuk datang tanpa sungkan. Papan namanya menyala di atas jendela kedai, lengkap dengan semboyan yang sederhana tapi pas: ngopi, ngobrol, ngide.

Kedainya berupa mobil yang disulap menjadi bar kopi. Jendela sampingnya terbuka lebar, di dalamnya berjajar grinder, mesin kopi, stoples biji kopi, dan tumpukan gelas plastik. Lampu-lampu kecil menggantung di atasnya, menambah suasana malam yang santai.

Memesan dari Jendela Mobil

AKW berikat kepala Sunda memesan kopi di jendela kedai kopi mobil Kopi Murangkalih, barista menyiapkan pesanan di samping grinder
Memesan dari jendela kedai kopi mobil.

Malam itu kami bertiga: saya, Kang Sofyan, dan Aa Dena. Memesan langsung dari jendela mobil, berhadapan dengan barista yang sigap menyiapkan pesanan.

Pilihan saya tentu Kohitala: americano, kopi hitam tanpa gula. Kang Sofyan ikut memilih americano. Sementara Aa Dena memilih jalannya sendiri, roasted almond.

AKW tersenyum memegang ponsel di depan jendela kedai kopi mobil Kopi Murangkalih, barista menunjuk menu di meja
Tiga pesanan, total empat puluh delapan ribu rupiah.

Harganya ramah di kantong. Americano Rp15.000 per gelas, dua gelas untuk saya dan Kang Sofyan. Roasted almond Rp18.000 untuk Aa Dena. Total Rp48.000 untuk tiga orang. Jajan bertiga, murah meriah, dan tetap berkualitas.

Americano, Kohitala yang Sederhana

AKW berikat kepala Sunda mengangkat gelas americano hitam tanpa gula, duduk di kursi lipat bersama kawan di Kopi Murangkalih Sumedang
Americano, Kohitala lima belas ribu di emper toko Sumedang.

Americano sejatinya sederhana: espresso yang ditambah air, sehingga rasanya lebih ringan dibanding espresso murni. Americano di Kopi Murangkalih rasanya standar saja. Tapi airnya tidak terlalu banyak, sehingga rasa kopinya tetap hadir dan tidak hambar. Tanpa gula, tanpa susu. Pilihan yang pas untuk penikmat Kohitala yang sedang jauh dari alat seduh manual brew.

Bagaimana dengan roasted almond pilihan Aa Dena? Katanya enak. Ya sudah, enak we lah.

Kami duduk di kursi dan meja lipat yang disediakan di emper toko. Gelas diangkat, senyum mengembang, dan obrolan pun mengalir. Persis seperti semboyan di papan namanya: ngopi, ngobrol, lalu ngide. Dari obrolan santai di emper toko, kadang justru lahir ide-ide yang tak terduga.

Catatan Kecil Kohitala

  • Tempat: Kopi Murangkalih, emper toko di seberang SMAN 1 Sumedang
  • Americano: Rp15.000 (dua gelas)
  • Roasted almond: Rp18.000
  • Total: Rp48.000 untuk bertiga

Sruputan Penutup

Kopi yang baik tidak selalu harus ditemukan di tempat yang megah. Kadang ia hadir dari jendela sebuah mobil, di emper toko, di bawah lampu-lampu kecil malam Sumedang. Harganya bersahabat, suasananya akrab, dan kawan-kawannya menyenangkan. Apalagi dinikmati dengan pangsi dan iket, sambil menanti Mahkota Binokasih diarak dalam Kirab Milangkala Tatar Sunda.

Kohitala memang begitu: sederhana, jujur, dan selalu punya cerita.

Sruput… ahhh, nikmat. Wassalam (AKW & AI)

#Kohitala #akwnulis #KopiMurangkalih #ngopiSumedang #americano #kopitanpagula #MilangkalaTatarSunda #MahkotaBinokasih

Leave a Reply

Saya AKW

Foto profil AKW

Andrie Kustria Wardana, penikmat Kohitala (kopi hitam tanpa gula), penulis fiksimini basa Sunda, pencinta kucing, dan pejalan kaki minimal 6 ribu langkah sehari. Di sini saya mencatat perjalanan, secangkir demi secangkir, kata demi kata. Semoga ada senyum kecil setelah membacanya.

Discover more from akwnulis

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading