
SODONG, http://www.akwnulis.id. Jangan terpaku dengan kesenangan baru sementara hal baik yang sudah menjadi rutinitas ternyata terabaikan. Bagaikan anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Mainan lebih besar, lebih mahal dan lebih memarik minat untuk bermain. Sementara mainan lama yang setia menjadi kawan bermain selama ini seolah berubah menjadi mainan lama yang usang dan membosankan.
Itulah analogi yang dirasakan oleh penulis belakangan ini. Sudah hampir 1 tahun mainanku yang setia dan menjadi pelipur rasa disaat gundah gulana sekarang terdiam merana. Meringkuk di sudut asa tanpa punya kuasa untuk bertanya dan hanya mampu merenungi nasib dalam penantian tanpa harapan nyata. Sementara penulis terlarut dengan mainan baru yang menggelinding cepat seiring perkembangan jaman yakni merambah media sosial khususnya pembuatan video yang menampilkan aktivitas keseharian.
Ya, mainan baruku adalah merekam kegiatan, melakukan editing sederhana, mengupload di media sosial khususnya di channel youtube dan facebook juga sesekali di Instagram dan tiktok. Ternyata menyenangkan karena bisa belajar berbagai ilmu baru, adrenalin terpacu mengejar target upload setiap hari agar audien eh netizen atau follower bertahan dan merayap dengan pasti untuk bertambah terus.
Terkuras memang waktu yang selama ini adalah ‘me time‘ itu adalah menulis. Sekarang tergerus atau malah tergantikan oleh aktifitas ini. Proses membuat video untuk media sosial.
Ada hal lain lagi yang secara langsung mendukung tentang akrifitas baru ini sekaligus ancaman bagi kebiasaan menulisku. Di tahun lalu masih menggunakan jargon ‘one day one article’ sekarang itu berlaku untuk upload video dan tulisan di blogku hanya mampu ‘one month one article‘… duh jauh sekali kinerja keisenganku ini. Padahal dahulu adalah hiburan pribadi dan merelaksasi hati dengan mencurahkan rasa agar menari dengan jari jemari menuangkan untaian kata menjadi kalimat penuh makna.
Ada ancaman lain yang tak kalah serius yakni hadirnya AI artifisial intelejen yang mampu membuat tulisan baik pendek ataupun panjang dan terstruktur dalam hitungan menit. Ambyar sudah… hancur lebur kebiasaan menulisku.
Tapi itu dulu, disaat raga ini terlena dengan keadaan. Sekarang kita kembalikan marwah keaslian menulis ini ditengah gempuran aplikasi ChatGPT, Gemini AI dan kawan – kawannnya yang mampu menghasilkan tulisan dengan cepat karena memiliki otak buatan dihadapi oleh otak manusia yang asli atau sebemarnya. Karena dapat dirasakan oleh penulis bahwa hasil karya AI atau tulisan buatan AI itu tidak memiliki jiwa, tidak ada asa yang mengalir didalamnya dan itulah sisi manusia yang tidak dapat di tiru oleh AI ini.
Maka kembali menguatkan hati, meluangkan niat dan meneguhkan jari jemari agar bisa menari di keyboard smartphone ini dan menceritakan apapun fenomena yang ada seperti yang dilakukan di tahun – tahun yang lalu. Mungkin tema akan berubah karena perubahan itu keniscayaan. Tetapi aktifitas menulis yang aslinya itu harus dipertahankan sampai kapanpun. Ayo kita menulis lagi kawanku, Wassalam (AKW).

Leave a Reply