Ada pertemuan yang dibuka dengan setumpuk agenda. Ada pula pertemuan yang dibuka dengan sebungkus biji kopi. Kali ini saya memilih yang kedua, dan ternyata jauh lebih ramah di hati.
Awal Januari 2025, di area kantor di Gedung Sate, temanya diplomasi kopi. Saya kembali menikmati kopi bersama kawan-kawan, dan kali ini ada dua tamu yang duduk menemani: Pak Ahmad tamu jauh hehehe yang berbaju hitam, dan seorang kawannya yang berbaju putih. Maaf, Pak, nama Bapak yang berbaju putih belum sempat menempel di ingatan saya, tapi senyum dan obrolannya sudah menempel kuat.

Menyeduh di Depan Para Saksi
Seru juga rasanya menyeduh kopi sendiri sambil disaksikan tamu dan kawan-kawan. Seperti tampil di panggung kecil, dengan ketel, dripper putih, dan teko kaca sebagai alat musiknya. Air dituang melingkar pelan-pelan, dan permukaan kopi pun mengembang bagai kubah cokelat berbusa yang bernapas. tak lupa menggunakan termometer hati sehingga 92 derajat celcius bisa dihadirkan dengan hati-hati. tentu putaran seduhan tetap searah jarum jam karena hasilnya harus maksimal dan sesuai tata aturan penyeduhan.

Resepnya sederhana saja, metode manual brew V60:
- Suhu air: kira-kira 92 derajat
- Gramasi kopi: 17 gram
- Harga: gratis, karena diseduh sendiri 😄
Gratis, tapi nilainya terasa mahal. Sebab yang kami seduh bukan hanya kopi, melainkan juga suasana, tekad dan harapan.

Kisah di Balik Kemasan
Kopi yang kami seduh hari itu adalah Arabica Nabila dari Makmur Jaya Roaster. Kemasannya sendiri sudah seperti buku cerita bergambar. Ada taksi merah melayang dengan pengemudi bertopi, dan di sampingnya tertulis catatan yang membuat lidah ikut penasaran. Beginilah identitas kopi hari itu:

- Notes: raspberry, orange, red tea
- Region: Sinapeul Blok, Manglayang Timur
- Process: natural anaerob
- Variety: Lini S, Typica, Ateng
- Elevation: 1400-1500 mdpl
Dari lereng Manglayang yang sejuk, biji-biji ini naik ke meja kami lalu menjelma cairan cokelat kemerahan yang jernih di gelas kecil. Saat diseruput, notes-nya benar-benar hadir. Ada manis-asam buah beri, ada kerlip jeruk, ada jejak teh merah yang lembut di ujung lidah. Rasanya hadir, meski ia datang bagai selarik janji yang tipis, sehalus fungsi yang nyaris tak terlihat namun terasa. Itulah indahnya Kohitala.

Ketika Cangkir Menjadi Meja Perundingan
Inilah bagian terbaiknya. Percakapan mengalir seperti air dari teko: pelan, melingkar, lalu menemukan jalannya sendiri. Tangan bergerak menjelaskan, tawa pecah di sela-sela kalimat, dan kursi yang tadinya kaku perlahan terasa seperti rumah.
Dari satu gelas ke gelas berikutnya, silaturahmi terjalin, dan negosiasi pun bisa diakhiri dengan senyum, tanpa ada yang pulang membawa kecewa. Kalau di meja rapat kita bicara tentang kesepakatan, di meja kopi kita belajar tentang kesepahaman. Dan kesepahaman, sungguh, sering lahir lebih cepat dari aroma kopi yang baru diseduh.
Jadi kalau suatu hari ada urusan yang tampak alot, coba tawarkan dulu secangkir kopi, lalu seduh bersama-sama. Siapa tahu jalan keluarnya sudah menunggu di dasar gelas.
Terima kasih, Pak Ahmad dan kawan berbaju putih, untuk hangatnya hari itu. Sampai jumpa di seduhan berikutnya. ☕
Salam Kohitala. Wassalam (AKW & AI)
#kohitala #kopihitam #akw #Andriekw #manualbrew #arabica







Leave a Reply