
MAKASAR, http://www.akwnulis.id. Keberangkatan ke Makasar kali ini ada sedikit kejadian di bandara keberangkatan yakni Bandara Soekarno Hatta terminal 1C disaat cek ini di counter Citilink. Kejadian pertama adalah sedikit terhambat karena kekurangan satu huruf di tiket yang sudah dipesan yakni huruf E. Di tiket tertera ANDRI padahal nama di ktp adalah ANDRIE. Maka beberapa prosedur tambahan dilakukan diantaranya harus membubuhkan tanda tangan kembali di kertas kosong. Dipandang berulangkali wajah dan photo di ktp oleh mbak yang bertugas serta harus menunggu lagi sekitar 7 menit karena mbaknya minta ijin mengkonfirmasi perbedaan ini kepada pimpinannya.
Ya sudah pasrah saja karena memang sudah terjadi. Pelajaran yang penting adalah harus teliti dan hati – hati, termasuk nama yang tertera di tiket pesawat dengan nama lengkap di ktp baik kita pesan sendiri tiket pesawatnya ataupun di pesankan pihak lain.
Nah nyambung ke masalah kedua yakni tongsis alias tongkat siswa eh tongkat eksis. Mbak yang baru datang setelah mengkonfirmasi urusan beda nama ke pimpinannnya kembali ke counter langsung bilang, “Pak maaf tongsis dilarang masuk kabin, sebaiknya di bagasi!”
Oalah…. sedikit tertegun karena dikira boleh membawa tongsis ke dalam kabin. Padahal tongsis ini ikut terbawa juga diluar skenario. Tongsis itu milik kawan di kantor yang menawarkan untuk digunakan mendokumentasikan kegiatan dengan lebih mudah dan menghasilkan video atau photo bukan hanya wajah sendiri tetapi dapat mengcapture suasana lebih lengkap dan dengan frame yang tepat.
Pada saat keberangkatan di stasiun kereta cepat Whoosh Tegalluar, dipinjamkan untuk melengkapi pengambilan gambar. Selama perjalanan menuju bandara digunakan, mulai dari stasiun Whoosh di tegalluar, didalam whoosh, proses naik grab premium dan di dalam mobil grab premiumnya.
Nah pas di bandara mendengar info itu jadi dilema. Mau ditinggal, bukan barang sendiri. Dibawa ke kabin jelas dilarang. Pilihannya masuk bagasi, tapi masa tongsis doang. Duh kasian ini barang, wajah memandang tongsis yang meringis di genggaman.
Saran mbak penjaga conter, “Coba bapak tanya ke petugas keamanan yang ada di conter ujung”
“Baiklah, terima kasih”
Segera menuju ke counter ujung dan berbincang singkat. Sarannya simpel saja, lebih baik di masukan bagasi bersama tas gendongnya. Tapi jangan lupa jika membawa laptop atau tablet harus ditenteng dibawa ke kabin.
Ya sudah karena keputusan harus cepat diambil seiring detik waktu yang bergerak terus. Maka pilihannya sederhana saja, tongsis dimasukan ke tas punggung dan tablet di tas diambil untuk ditenteng ke kabin. Karena tas punggung yang awalnya masuk kabin ternyata takdirnya harus masuk bagasi karena mengawal sang tongsis. Agak degdegan juga karena risleting tas tanpa ada kuncinya padahal beberapa barang spesial ada tersimpan disana seperti sunblock, pelembab, minyak rambut, dan parfum yang akan setua menjaga penampilan. Wuiiih sok rapih yaaaa…
Setelah prosesi pemasukan bagasi oleh mbak di counter citilink maka melengganglah menuju ruang tunggu. Tangan kanan pegang hape dan tangan kiri bawa tablet. Ringan sekali langkah ini. Terima kasih tongsis ya, anda meringankan beban pundakku meskipun menambah sedikit khawatir di hatiku takut tas punggungku pas masuk bagasi pesawat jadi berantakan.
Pelajaran hari ini adalah, sering – sering membaca aturan yang diterapkan di dunia penerbangan komersial. Karena ternyata grup Penerbangan Garuda termasuk Citilink mengacu kepada ketentuan yang berlaku yakni Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 39 tahun 2024 Tentang Program Keamanan Penerbangan Nasional. Khususnya di lampiran KMP tersebut mengkategorikan tongsis (self stick) sebagai alat tumpul yang berpotensi digunakan untuk menyebabkan cidera serius dan melumpuhkan. Maka jelas saklek aturannya sehingga bisa saja menjadi penghambat penerbangan jikalau kita ngeyel memaksakan diri membawa tongsis tersebut ke kabin.
Begitulah ceritaku tentang cek in dan tongsis kali ini. Have a nice flight. Wassalam (AKW).

Leave a Reply