Ada kopi yang datang dalam kantong plastik, ada yang datang dalam kaleng, dan ada kopi yang datang dalam kotak kayu berukir seperti sedang membawa surat wasiat. Kali ini yang datang adalah yang ketiga. Penulis membukanya pelan-pelan, takut ada yang keluar. Jin, misalnya. Atau yang lebih mengerikan: tagihan.

Kotak yang Menyimpan Arti dan Misteri
Lihatlah kotaknya. Bingkai kayu hitam dengan ornamen geometris bernuansa Sulawesi yang rapi sekali, seperti dikerjakan orang yang sabar dan tidak pernah buru-buru ngejar target. Di tengahnya ada label cokelat bergambar rumah adat berbentuk atap melengkung seperti perahu. Itu Tongkonan, rumah adat Toraja. Konon, lengkung atapnya menyerupai perahu, mengingatkan pada leluhur yang datang berlayar. Kopi yang dibawa dalam kotak seperti ini tidak sekadar kopi. Ia membawa cerita, bahkan sebelum dibuka.
Di atas label, ada stempel bulat merah putih: Kopi SETIA, Sejak 1967. Hampir enam dekade. Lebih tua dari sebagian besar jabatan di negeri ini, dan jauh lebih konsisten. Di bawah gambar tertulis Arabica Kalosi, netto 250 gram, dibuat oleh PT Setia Unggul Mandiri, Makassar, lengkap dengan logo halal dan nomor BPOM. Resmi. Sah. Berizin. Kopi ini jelas tidak datang untuk membuat masalah.

Lalu kotak itu dibalik, dan terbukalah rahasia di dasarnya. Ada stiker putih: “KOTAK BESAR TYPE A”. Ada tulisan Inggris yang menyatakan kopi Arabika Toraja termasuk yang terbaik di antara Arabika lain, diolah dengan mesin sangrai terbaru demi kesempurnaan minum kopi. Ada pula versi huruf Jepang yang meliuk-liuk, yang sayangnya tidak terbaca oleh penulis. Dua bahasa asing, satu kotak kayu, nol pemahaman. Tapi penulis tetap manggut-manggut, supaya terlihat paham di depan kopi.
Dan di sudut stiker, ada satu tulisan kecil berwarna biru: “Exp Oct 26”. Kalau dibaca Oktober 2026, ya bulan ini juga. Wah. Berarti kopi ini sedang berada di ujung masa terbaiknya, dan penulis sedang berlomba dengan kalender. Cold brew pun seketika berubah fungsi: bukan sekadar seduhan, tapi operasi penyelamatan. Kopi Sulawesi, ditolong sebelum bulan berganti. Dramatis? Memang. Wong ini akwnulis.
Di Dalam Kotak, Ada Kantong Perak Berkaret Kuning
Tutup kotak dibuka. Engsel kecilnya berderit sedikit, cukup untuk menciptakan suasana sakral. Di dalamnya, bukan harta karun, bukan peta menuju pulau terpencil, melainkan kantong foil perak yang diikat karet gelang kuning. Sederhana sekali. Setelah semua kemegahan ukiran dan stiker bahasa tiga benua, isinya diikat dengan karet gelang. Inilah keseimbangan hidup: sampulnya berkelas, isinya merakyat. Persis seperti sebagian besar dari kita.

Kopinya bubuk halus. Dan seperti kopi bubuk China yang lebih dulu bertapa di kulkas, kopi Kalosi ini pun tidak akan diajak ke corong V60. Ia akan diajak ke jalan sunyi bernama cold brew.
Ritual: 120 Gram, 1.200 Mililiter, Tanpa Terburu-buru
Penulis menyiapkan tabung saringan perak di bejana kaca. Sekitar 120 gram bubuk Arabica Kalosi dimasukkan, lalu diseduh dengan 1.200 ml air dingin. Hitung-hitungannya gampang, 1 : 10. Hitungan yang rapi, bulat, dan mudah diingat, dan kalau semua urusan hidup sesederhana ini, tidak akan ada lembur di dunia.

Air perlahan meresap ke dalam bubuk. Warna di bejana berubah dari bening ke keemasan, lalu ke cokelat tembaga yang makin ke bawah makin pekat. Pelan, pelan sekali, seperti bapak-bapak yang mau memarkir mobil di gang sempit: tidak boleh tergesa, banyak yang menonton.

Dua Penghuni Kulkas dan Satu Janji Hari Senin
Bejana lalu diantar ke tempat bertapa: kulkas. Kali ini ia tidak sendirian. Di rak yang sama, sudah ada penghuni lama: satu tumbler kaca ukuran sedang berisi sisa kopi China dari tulisan sebelumnya yang belum dihabiskan. Pertemuan dua kopi dari dua penjuru. Yang satu dari Hainan, yang satu dari Sulawesi. Yang satu masuk dalam kaleng, yang satu masuk dalam kotak berukir. Dan keduanya bertemu di rak kulkas berpenerangan temaram, seperti dua musafir yang kebetulan menginap di penginapan yang sama.

Penulis menutup pintu kulkas sambil berbisik, “Akur-akur ya. Jangan rebutan rak.” Kopi China mungkin berkata, “Saya duluan di sini, Bang.” Kopi Kalosi mungkin menjawab, “Saya anak Toraja, nggak takut dingin. Di tempat asal saya juga adem.” Percakapan khayalan ini tidak terbukti kebenarannya, tapi cukup menghibur selama menunggu.
Syaratnya tetap: minimal 8 jam. Tapi kali ini penulis memutuskan memberi bonus. Sampai jumpa hari Senin. Artinya, 2 x 24 jam = 48 jam. Matematika bapak-bapak mengatakan: 48 dibagi 8 sama dengan 6. Jadi kopi ini bertapa enam kali lipat dari syarat minimalnya. Lembur enam kali lipat, tanpa uang lembur, tanpa makan siang, tanpa grup WhatsApp yang berisik. Sungguh karyawan teladan.
Makna di Balik Kata “Setia”
Sambil menunggu, penulis duduk dan merenung. Merek kopi ini bernama Setia. Dan di dunia yang serba instan ini, kata itu terasa seperti barang antik. Kita semakin terbiasa dengan hal-hal yang cepat: pesan terkirim dalam sedetik, makanan datang dalam tiga puluh menit, kenalan jadi mantan dalam dua minggu. Sementara kopi cold brew mengajarkan sesuatu yang sebaliknya: bahwa hal terbaik tidak selalu lahir dari tergesa-gesa. Ada rasa yang hanya mau keluar kalau diberi waktu.
Menunggu itu bentuk lain dari setia. Setia pada proses, setia pada janji yang dibuat sendiri, setia pada hal-hal kecil yang tidak ada penontonnya. Kopi di dalam kulkas itu tidak tahu apakah ada yang memuji atau tidak. Ia hanya terus bekerja dalam diam, jam demi jam, mengeluarkan yang terbaik dari dirinya. Kalau saja manusia bisa seperti itu: berproses tanpa perlu tepuk tangan.
Dan siapa tahu, dua hari ke depan bukan hanya kopi yang matang. Penulis juga, sedikit-sedikit, ikut matang. Setidaknya matang dalam hal bersabar, yang biasanya penulis lemah kalau urusannya makanan di meja sudah wangi tapi belum boleh dimakan.
Jadi, selamat bertapa, wahai Kopi Kalosi. Bersahabatlah dengan sang kopi China di sebelahmu. Jangan saling iri. Jangan saling bandingkan siapa yang lebih pekat. Dan ketika Senin tiba, kita bertemu dengan satu pertanyaan besar yang dari tadi menggantung di udara: apakah kesetiaan menunggu itu membuahkan rasa?
Sampai jumpa hari Senin. Penulis akan datang dengan gelas, dengan lidah, dan dengan sedikit rasa deg-degan, seperti orang yang mau membuka amplop hasil ujian.
Wassalam (AKW & AI)







Leave a Reply