Ada teknologi yang lahir di laboratorium Silicon Valley, dikawal para insinyur berkaus hitam, diluncurkan dengan panggung gemerlap dan lampu sorot. Dan ada teknologi yang lahir di Jatibarang, Indramayu, di depan Kantor Pos, tanpa peluncuran, tanpa panggung, tanpa kabel. Namanya: layar sentuh warteg. Cara kerjanya sederhana namun revolusioner: sentuh kaca, makanan datang.

Hari itu Jumat. Perjalanan sudah cukup panjang, perut sudah mulai berorkestra, dan mata kami menangkap sebuah spanduk kuning menyala yang seolah berkata, “Mampirlah, Pak, jangan sok kuat.” Warteg Kharisma Bahari. Di spanduknya tertulis dengan gagah, “Siap Mewarteg-kan Indonesia”. Saya sempat terdiam. Selama ini kita hanya tahu Indonesia perlu dimerdekakan, disejahterakan, dan didigitalkan. Ternyata ada yang bercita-cita diwartegkan. Cita-cita yang, jujur saja, lebih membumi dan lebih mengenyangkan.
Kami bertiga masuk. Saya berbaju putih, Pak Sofyan berbatik biru bercorak mega mendung, dan Pak Mamah berkemeja putih lengan pendek. Kalau dilihat dari jauh, kami seperti rombongan survei kelayakan makan siang. Dan memang itulah misi kami.
Menu yang Tak Perlu Dibaca, Cukup Disentuh
Di warteg ini tak ada buku menu laminasi. Tak ada QR code yang memaksa kita mengunduh aplikasi seberat 80 MB hanya untuk memesan sepotong tempe. Menunya ada di rak kaca, tersusun rapi di atas piring-piring hijau bersanggah putih, dan para pembeli duduk mengelilinginya seperti jemaah mengelilingi mimbar.
Caranya? Tunjuk. Atau sentuh kacanya. Dan, tarraaa, hadirlah apa yang diminta. Inilah yang saya sebut RM Touchscreen: tanpa baterai, tanpa sinyal, tanpa loading, dan tanpa tulisan “mohon tunggu, server sedang sibuk”. Kalau pun ada server, ia berwujud manusia yang sigap dan tersenyum tipis di balik etalase.

Di balik kaca itu berdiri seorang mbak berjilbab abu-abu dan berkacamata. Saya tak sempat bertanya apakah beliau pelayan atau justru pemiliknya. Tapi dari caranya menatap etalase dan membaca jari-jari pelanggan, saya yakin beliau adalah chief technology officer yang sesungguhnya. Satu telunjuk teracung, satu piring melayang. Tak ada salah klik, tak ada force close.

Pak Sofyan, yang berbatik biru itu, adalah penguji pertama. Dengan mata berbinar dan telunjuk terulur, beliau mencoba “pola sentuh” yang konon rahasia: tunjuk dari jarak tertentu, sedikit miring, lalu tahan tiga detik sambil memasang wajah penuh harap. Hasilnya? Lauk datang. Saya yakin di kantor nanti beliau akan mengajukan inovasi ini sebagai best practice pelayanan publik: “Cukup tunjuk, maka urusan Anda akan terlayani.” Sayang, tak semua loket sebaik etalase warteg.

Sementara itu Pak Mamah, berkemeja putih pendek, memilih berdiri. Berdiri di depan etalase itu ada filosofinya: pembeli yang berdiri sedang berpikir keras. Tangannya terangkat, matanya menyisir deretan lauk dari kiri ke kanan, lalu kembali lagi ke kiri. Ini bukan sekadar memilih makan. Ini analisis kebijakan dengan variabel yang sangat kompleks: yang kering atau yang basah, yang gurih atau yang lebih gurih, yang sekarang atau yang nanti ambil lagi.
Jumat Berkah, Warteg pun Beramal

Lalu mata kami tertuju pada sebuah papan hitam di dinding. Kharisma Group, Program Khusus Jumat Berkah. Makan cuma Rp12.000, satu lauk dan dua sayur, dan gratis teh atau es teh manis. Berlaku bagi yang makan di tempat, mulai pukul 11.00 sampai 14.00.
Saya membaca papan itu dua kali. Bukan karena tak paham, tetapi karena hati ini bergetar. Di zaman ketika harga naik lebih cepat daripada kabar burung, ada warteg yang justru menurunkan harga demi berkah. Di zaman ketika kata “diskon” biasanya diikuti tanda bintang dan syarat-ketentuan sepanjang kontrak sewa, di sini syaratnya cuma satu: makan di tempat. Itu pun, kalau dipikir-pikir, bukan syarat. Itu undangan.
Gelaca Seharga Lima Ribu Rupiah
Dan tentu saja, saya tak melupakan misi sakral: Kohitala. Kali ini edisi Gelaca, yakni kopi hitam tanpa gula yang disajikan dalam gelas kaca. Bukan gelas plastik (itu Gelatik), bukan cangkir keramik, melainkan gelas kaca bening sederhana, seharga lima ribu rupiah.

Hitam pekat, tanpa gula, tanpa basa-basi. Ampasnya menari pelan di dasar gelas, uapnya menyapa hidung, dan di meja sebelah piring bekas makan kami sudah bersih nyaris tanpa sisa, tanda bahwa lauk-lauk tadi telah menunaikan tugas dengan terhormat. Menyeruput kopi hitam seusai makan nasi warteg itu seperti menutup surat dengan tanda tangan: tidak wajib, tapi rasanya tak sah kalau tidak ada.
Ada yang bilang kopi enak itu harus dari mesin berharga puluhan juta. Ada yang bilang harus dari kebun di ketinggian sekian meter, dipetik oleh tangan-tangan terlatih. Saya tak membantah. Tapi sungguh, lima ribu rupiah di gelas kaca, di warteg yang riuh, bersama dua sahabat yang masih sibuk menertawakan cara satu sama lain memilih lauk, itu punya rasa yang tak bisa dibeli di tempat lain. Namanya: cukup.
Tiga Perut, Satu Kopi, Enam Puluh Tiga Ribu
Tibalah saat paling mendebarkan dalam setiap perjamuan: menghitung tagihan. Kami makan bertiga, ditambah segelas kopi, dan total semuanya… Rp63.000. Ya, enam puluh tiga ribu rupiah saja. Saya sampai meminta kasir mengulang, bukan karena curiga, tetapi karena ingin menikmati kalimat itu sekali lagi. Di kota besar, angka segitu mungkin hanya cukup untuk segelas kopi dengan nama berbahasa asing dan sepotong kue seukuran koin.
Dan di sinilah drama kecil kami bermula. Di dinding, tertulis jelas: “Dilarang memberi kredit uang atau barang.” Artinya tak ada kasbon, tak ada “besok ya, Bu”. Untunglah kami datang bukan untuk berutang, melainkan untuk sebaliknya.
Warteg ini punya program berbagi, masa kami hanya jadi penonton? Kami pun sepakat tanpa rapat, tanpa notulen, tanpa voting: kami tidak mau kalah. Warteg saja beramal, masa kami hanya bayar pas? Maka saya sodorkan Rp100.000. Dan kami tidak menunggu kembalian. Selisihnya, Rp37.000, kami niatkan sebagai sedekah kecil, semoga jadi pahala yang tak kalah mengenyangkan dibanding nasi tadi. Kalau ada yang bertanya mengapa tiga lelaki dewasa berebut menyerahkan uang tanpa meminta kembalian, jawabannya sederhana: pahala itu rebutan paling sehat di dunia.
Pelajaran dari Kaca yang Disentuh
Dalam perjalanan pulang, saya merenung. Dunia sibuk berlomba membuat layar sentuh yang makin tipis, makin pintar, makin mahal. Padahal ada layar sentuh yang sudah lama bekerja tanpa listrik, di warteg-warteg sepanjang jalur pantura: sebuah kaca bening, deretan lauk yang jujur, dan seseorang yang melayani dengan hati.
Barangkali begitulah kemewahan yang sebenarnya. Bukan yang paling canggih, tapi yang paling bisa dijangkau. Bukan yang paling mahal, tapi yang paling membuat orang pulang dengan perut kenyang, hati ringan, dan sedikit kebanggaan karena sempat berbagi. Layar sentuh boleh berganti generasi. Tapi kopi lima ribu di gelas kaca, bersama kawan yang tertawa, tak akan ada versi terbarunya.
Terima kasih, Warteg Kharisma Bahari. Semoga programmu terus berkah dan etalasemu tak pernah kehabisan sentuhan.
Wassalam (AKW & AI)







Leave a Reply