Ngopi itu biasanya urusan menikmati. Tapi akhir Desember 2025 kemarin, ngopi saya naikkan level jadi urusan mengerjai. Bukan dengan niat jahat, cuma niat iseng yang dibungkus rapi dalam sebuah botol.

Botol Hitam yang Mencurigakan

Lokasinya di Mahatma Coffee, kafe kecil di area rektorat Unpad Jatinangor. Saya datang membawa sebuah botol berisi cairan hitam pekat. Dari jauh, siapa pun pasti mengira itu kopi hitam seduhan spesial, mungkin cold brew, mungkin kopi rahasia dari entah mana. Padahal isinya jamu pahit buatan sendiri, campuran inulin dan brotowali.

Brotowali itu, bagi yang pernah kenal, pahitnya tidak main-main. Pahit yang tidak minta izin dulu. Dan karena warnanya hitam serta dibawa dalam botol, tidak ada yang curiga. Saya cukup bilang satu kalimat sakti: “Cobain ini, kopi spesial.” Selebihnya biar lidah yang bekerja.

Dua pria duduk di meja kafe, yang berbaju putih tertawa lebar, dengan botol berisi cairan hitam dan wadah stroberi di atas meja
Botol hitam di atas meja, dan senyum tanpa dosa dari sang penulis berbaju putih.

Korban Pertama: Kang Gan Gan

Yang pertama maju adalah Kang Gan Gan, berbaju batik biru bermotif. Gelas kecil diangkat, wajahnya masih ceria, senyumnya lebar, seolah menyambut kopi terbaik tahun ini. Tapi ceria itu hanya bertahan sampai ujung lidah. Beberapa detik kemudian, wajahnya kabur entah ke mana. Tidak kuat dengan pahitnya.

Pria berbatik biru tersenyum ceria sambil mengangkat gelas kecil berisi cairan cokelat
Kang Gan Gan: wajah masih ceria, sebelum pahitnya tiba.

Kang Habyl yang Melotot Bertahan

Berikutnya Kang Habyl, yang berbaju biru dan berpipi gembil. Ia memilih jalan perjuangan. Mata melotot, rahang dikunci, berusaha bertahan dengan segenap kekuatan. Sayang, pahit brotowali tidak mengenal kata tahan banting.

Pria berbaju biru gelap meneguk isi gelas kecil dengan wajah berusaha bertahan
Kang Habyl berusaha bertahan menghadapi kepahitan.

Om Sofyan Hampir Menyerah

Om Sofyan, berkemeja putih bercorak, sebenarnya sudah curiga dari awal. Tapi rasa penasaran mengalahkan kewaspadaan. Begitu cairan menyentuh lidah, ekspresinya berubah, dan hampir menyerah. Hampir, karena gengsi masih sempat menyelamatkan.

Bu Diah: Ragu, Minum, Menjerit

Bu Diah, yang berkerudung merah, paling hati-hati. Gelas didekatkan, dicium, diragukan. Lalu diminum juga. Dan akhirnya menjerit kepahitan. Ragu-ragu itu ternyata punya alasan.

Wanita berkerudung merah mendekatkan gelas kecil ke wajah dengan ekspresi ragu-ragu
Bu Diah ragu-ragu sebelum akhirnya menjerit.

Giliran Akang Protokoler

Terakhir, akang protokoler pun ikut merasakan kepahitan yang mendalam. Dengan gaya tegap seperti bertugas di acara resmi, ia meneguk, dan wajah tegasnya langsung kehilangan protokol. Tidak ada urutan acara yang bisa menyelamatkan lidah dari brotowali.

Pria berseragam abu-abu meneguk gelas kecil di kafe, sementara pria berbaju putih menoleh di sebelahnya
Akang protokoler merasakan pahit yang tidak ada di susunan acara.

Americano dan Latte Penyelamat

Akibatnya mudah ditebak. Semua yang ikut mencicip, dengan lidah yang masih pahit dan tidak mau hilang-hilang, akhirnya memesan Americano dan Latte di Mahatma Coffee demi mengusir rasa pahit itu. Jadi bisa dibilang, prank ini sukses besar: kafe kecil itu ikut kecipratan rezeki, dan saya ikut kecipratan tawa.

Pesan dari Sang Penulis Berbaju Putih

Di balik semua keisengan itu, ada pesan kecil yang ingin saya titipkan. Setelah menikmati kopi jamu pahit ini, sepahit apa pun kopi yang akan dinikmati pasti terasa lebih manis. Americano yang biasa saja mendadak terasa lembut. Latte mendadak seperti hadiah.

Begitu juga hidup. Kalau sudah pernah mencicip yang paling pahit, yang biasa-biasa saja akan terasa manis. Dan bagusnya, kopi jamu ini tidak sepahit kenyataan. Hahahaha.

Maafkan semuanya ya, kawan-kawan. Minggu depan saya janji bawa yang manis. Mungkin.

Mahatma Coffee, rektorat Unpad Jatinangor, akhir Desember 2025.

Wassalam (AKW & AI)

Leave a Reply

Saya AKW

Foto profil AKW

Andrie Kustria Wardana, penikmat Kohitala (kopi hitam tanpa gula), penulis fiksimini basa Sunda, pencinta kucing, dan pejalan kaki minimal 6 ribu langkah sehari. Di sini saya mencatat perjalanan, secangkir demi secangkir, kata demi kata. Semoga ada senyum kecil setelah membacanya.

Discover more from akwnulis

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading