Baristi perempuan berkaos hitam tersenyum di balik meja bar La Cultura Koffie dengan mesin espresso, grinder, dan daftar menu

Ngopi itu biasanya urusan pagi atau sore. Tapi ada kalanya kopi justru terasa paling pas pada jam yang tidak masuk akal. Jam sebelas malam lewat dua belas menit, tepatnya. Di Pangandaran, di akhir September 2026, di saat orang waras sudah meringkuk di balik selimut hotel.

Pantai Barat yang Tidak Pernah Betul-betul Tidur

Sepanjang pantai barat Pangandaran berjajar toko, kafe, dan hotel. Kalau lewat sini malam hari, rasanya seperti disodori pilihan: mau jajan, mau nginap, atau mau ngopi. Kami memilih yang ketiga, dan pilihan itu jatuh ke Lacultura Koffie.

Baristi perempuan berkaos hitam tersenyum di balik meja bar La Cultura Koffie dengan mesin espresso, grinder, dan daftar menu
Mbak Rista, baristi yang semangat menjelaskan menu La Cultura Koffie.

Yang menyambut kami adalah baristinya, Mbak Rista. Ketika saya tanya apa arti nama Lacultura, jawabannya sederhana tapi enak didengar: ini tentang memulai kebiasaan baru, yaitu ngopi. Di menu tertulis “Formed in 2020”, jadi kebiasaan baru itu sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu dan sampai sekarang masih dirawat, bahkan sampai larut malam.

Menu, Harga, dan Satu Kekecewaan Kecil

Soal harga, tidak perlu menebak. Semuanya tertera di menu, dalam ribuan rupiah. Pour over mulai dari Tubruk 18, Filter Coffee V60 22, sampai Filter Coffee Ice 24. Espresso based ada Americano 22 dan Latte atau Cappuccino 25. Ada juga es kopi susu, non coffee, mocktail, sampai bir. Pokoknya ramah di kantong, apalagi untuk ukuran kawasan wisata pantai.

Daftar menu La Cultura Koffie berisi pour over, espresso based, es kopi susu, non coffee, mocktail, dan bir beserta harganya
Menu La Cultura Koffie. Harganya tertera jelas (dalam ribuan rupiah).

Saya sudah membayangkan pesan Japanese, V60 yang diseduh panas lalu langsung didinginkan. Bayangan itu langsung buyar, sebab ternyata sedang tidak tersedia. Ya sudah, hidup memang tidak selalu sesuai pesanan. Saya turun kelas ke Americano ice, sementara Pak Hanif memilih Cafe Latte. Kopi hitam dingin di tangan saya, kopi susu di tangan beliau. Dua pilihan, dua karakter.

Pak Hanif yang Bertopi, yang Gayanya Mengikuti Tompi

Teman ngopi malam itu Pak Hanif. Beliau memakai topi, dan entah disengaja atau tidak, gayanya mengingatkan saya pada Tompi. Duduk bersandar, tangan bertaut, sambil bercerita dengan suara yang rileks. Tinggal ditambah lagu jazz di latar belakang, lengkap sudah suasana malam itu.

Dua pria duduk berhadapan di meja kayu kafe, yang satu bertopi dan berkaos putih, yang lain berbaju putih sambil menyeruput kopi dingin
Ngobrol santai bersama Pak Hanif, Americano ice dan Cafe Latte di meja.

Kang Azis dan Salah Fokus

Lalu ada Kang Azis, yang berkaos belang hijau putih. Beliau malu-malu, senyumnya tertahan, dan matanya agak salah fokus saat Mbak Rista bersemangat menjelaskan menu. Padahal yang dijelaskan adalah kopi, bukan hal lain. Tapi ya sudahlah, namanya juga laki-laki di kafe tengah malam.

Kang Azis juga bingung dengan nama-nama menu. Padahal caranya mudah sekali. Tinggal tanya, lalu pesan. Tidak ada yang akan menghakimi hanya karena kita tidak tahu bedanya Filter Coffee dengan Tubruk. Itu pula yang saya sampaikan malam itu: gengsi jangan dipesan, kopi saja.

Pria berkaos belang hijau putih tersenyum malu di dekat mesin espresso dan grinder kafe
Kang Azis, malu-malu dan agak salah fokus.

Catatan Kecil

Americano ice saya biasa saja dalam arti yang baik: segar, pahitnya jujur, cocok untuk menemani obrolan tengah malam. Yang mahal bukan kopinya, melainkan suasananya. Malam di Pangandaran, ngobrol tanpa terburu-buru, dan baristi yang antusias bercerita tentang kebiasaan baru bernama ngopi.

Kalau suatu hari Bapak dan Ibu lewat pantai barat Pangandaran lewat jam sebelas malam dan merasa belum mengantuk, mampirlah. Kalau menu yang diincar ternyata habis, jangan kecewa. Pilih yang lain, dan nikmati.

Lacultura Koffie, pantai barat Pangandaran, pukul 23.12, akhir September 2026.

Wassalam (AKW & AI)

Leave a Reply

Saya AKW

Foto profil AKW

Andrie Kustria Wardana, penikmat Kohitala (kopi hitam tanpa gula), penulis fiksimini basa Sunda, pencinta kucing, dan pejalan kaki minimal 6 ribu langkah sehari. Di sini saya mencatat perjalanan, secangkir demi secangkir, kata demi kata. Semoga ada senyum kecil setelah membacanya.

Discover more from akwnulis

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading