Sebagian orang butuh liburan ke pantai untuk menemukan tenang. Sebagian lagi butuh retret ke gunung. Saya? Cukup dapur sendiri, meja marmer, satu corong V60, dan seekor harimau yang menatap tajam dari bungkus kopi. Ya, harimau. Ceritanya nanti, sabar. Duduk dulu, seduh dulu.
Kali ini tidak ada kafe, tidak ada barista, tidak ada musik jazz yang dipilih supaya kita merasa elegan. Ini kopi rumahan. Seduh di rumah, minum di rumah, dan menikmati kenyataan bahwa waktu untuk diri sendiri itu mewah, apalagi kalau murah.

Kenalan dengan Excelso Sumatera Mandheling
Bungkusnya berwarna biru kehijauan dengan tulisan besar EXCELSO, lalu di bawahnya Sumatera Mandheling. Tulisan di kemasan memang dieja Mandheling, versi yang dikenal dunia kopi, meski kampung halamannya dikenal sebagai tanah Mandailing di Sumatera Utara. Di bawah nama itu ada tiga kata penentu nasib: Bold, Citrusy & Spicy. Tebal, berjeruk, dan berempah.
Kalau diterjemahkan ke bahasa warung: kopi ini tidak datang untuk basa-basi. Ia datang dengan gaya, ada jeruk, ada rempah, dan badan yang tegap.
Kemasannya juga menyebut dirinya sebagai salah satu kopi kebanggaan Indonesia, dengan keberanian rasa jeruk yang menyegarkan, rempah-rempah, nuansa earthy, dan body yang lembut seperti beludru. Berat bersihnya 200 gram, diproduksi oleh PT Santos Jaya Abadi di Sidoarjo, dengan label halal. Janji yang cukup panjang untuk satu bungkus kecil, dan saya penasaran apakah semuanya terbukti di cangkir.
Sang Harimau di Bungkus Kopi
Sekarang kita bicara soal bintang utama yang tidak ikut diseduh: harimau.

Di bagian depan kemasan, seekor harimau berbaring gagah di padang rumput hijau. Latarnya pegunungan berselimut kabut tipis, dengan pohon-pohon pinus di sisi kanan dan semburat merah di bagian atas kemasan. Posenya santai, badan rebah, kaki depan menjulur, tapi matanya lurus menatap kita. Tatapan seperti itu bukan tatapan kucing minta makan. Itu tatapan penguasa wilayah yang sedang memeriksa apakah kita layak menyeduh kopinya.
Dari loreng hitam-oranyenya yang rapat dan konteks kopinya yang berasal dari Sumatera, kayaknya ini harimau sumatera. Harimau sumatera adalah subspesies harimau terkecil di dunia dan hanya hidup di Pulau Sumatera. Statusnya sangat terancam punah, jadi menaruhnya di kemasan kopi bukan sekadar hiasan, tapi seperti pengingat bahwa tanah tempat kopi ini tumbuh juga rumah bagi satwa yang kini langka.
Dan jujur saja, pilihan gambarnya cerdas. Kopi yang bold dan spicy memang cocok dilambangkan dengan harimau. Kalau kemasannya bergambar kelinci, saya akan bertanya-tanya kenapa kopi ini mengaku bold.
Saya sempat membayangkan si harimau berbicara dari bungkus: “Hei, Manusia. Itu air kok kurang panas?” Dan saya hanya bisa menunduk. Karena memang, ya, nanti kita bahas.
Ritual Seduh Ala Rumahan: 17 Gram, 1 : 15, Air Dispenser
Saatnya jujur soal peralatan. Ini bukan laboratorium kopi. Ini dapur rumah, dan seduhannya mengikuti kenyataan hidup:
- Kopi: sekitar 17 gram (kira-kira, tanpa drama menimbang sampai nol koma)
- Air: rasio 1 : 15, jadi kurang lebih 255 ml
- Suhu: air panas dari dispenser, kayaknya kurang dari 90 derajat Celcius
- Metode: manual brew V60
Ya, saya menyeduh dengan air dispenser. Tidak ada kettle gooseneck, tidak ada termometer yang berkedip. Hanya keyakinan bahwa kopi yang baik tidak boleh dipersulit oleh kesempurnaan. Air dispenser yang kayaknya belum sampai 90 derajat itu saya tuang pelan ke bubuk kopi, dan kopinya tetap menjawab dengan sopan.
Hasilnya tersaji di server kaca bening dan gelas kecil. Warnanya cokelat tua kemerahan, pekat, bergerak pelan di dalam kaca. Dari luar saja sudah terlihat bahwa kopi ini punya tulang punggung.
Rasanya: Bold, Medium, dan Cengkeh yang Mampir Sekilas
Sruput pertama, dan harimaunya benar-benar hadir. Body bold-nya langsung terasa, tegap dan mengisi mulut, persis seperti yang dijanjikan kemasan. Acidity-nya medium: ada kesegaran, tapi tidak menggigit, cukup sopan untuk tamu yang baru datang.
Lalu datanglah bagian favorit saya, aftertaste-nya. Yang pertama hadir adalah asam jeruk, citrus yang segar, seperti peras jeruk kecil yang menempel di ujung lidah. Lalu, sekilas saja, muncul rasa nyereng yang mirip cengkeh. Cuma sekelebat, seperti tamu yang menyapa di pintu dan langsung pergi. Tapi kehadirannya cukup untuk membuat saya berpikir, “Oh, jadi ini yang dimaksud spicy.”
Dan yang bikin saya senyum sendiri: meski air dispenser, meski kurang dari 90 derajat, rasa jeruknya tetap keluar, cengkehnya tetap mampir. Harimau yang gagah memang tidak bergantung pada kandang yang sempurna.
Me Time yang Bernilai
Menyeduh di rumah itu santai. Tidak ada antrean, tidak ada yang menunggu, tidak ada yang bertanya apakah pesanan saya sudah selesai. Hanya saya, suara air menetes, dan aroma yang naik pelan-pelan dari corong V60. Di antara jadwal yang padat dan kepala yang penuh, beberapa menit seperti ini terasa seperti menekan tombol jeda yang sudah lama tidak disentuh.
Itulah me time yang bernilai. Bukan karena mahal, tapi karena sungguh-sungguh dinikmati. Tidak sambil membuka layar, tidak sambil membalas pesan, hanya duduk, menyeruput, dan membiarkan jeruk dan cengkeh bergantian bicara.
Pelajaran dari Sebungkus Harimau
- Kopi bagus tidak selalu butuh peralatan sempurna. Air dispenser pun bisa, asal kopinya jujur.
- Bold bukan berarti kasar. Body yang tegap bisa berpadu dengan acidity medium dan aftertaste jeruk yang ramah.
- Waktu untuk diri sendiri adalah investasi paling murah dengan hasil yang paling terasa.
- Kalau ada harimau di kemasan kopi, jangan lupa bahwa di Sumatera ia masih berjuang untuk bertahan hidup.
Cangkir saya kosong, tapi harimaunya masih menatap dari bungkus. Seolah bilang, “Besok seduh lagi, ya. Pakai air yang agak lebih panas.” Saya mengangguk. Mungkin. Kalau dispensernya mau bekerja sama.
Wassalam (AKW & AI)







Leave a Reply