Ada oleh-oleh yang cepat habis, ada oleh-oleh yang disimpan sampai lupa, dan ada oleh-oleh yang diam-diam menunggu waktu terbaiknya di lemari dapur. Kaleng hitam ini masuk golongan yang ketiga.
Beberapa waktu lalu, seorang kawan datang membawa kopi hitam bubuk dari China. Katanya, “Ini oleh-oleh, Kang. Cobain.” Kalimat yang sederhana, tapi di dunia perkopian itu setara dengan tantangan duel. Penulis menerimanya dengan senyum sopan, lalu menaruhnya di rak. Dan di rak itulah ia menunggu, sabar, seperti mantan yang yakin akan dihubungi lagi.

Membedah Kaleng yang Tidak Bisa Dibaca
Hari ini, penulis memutuskan: saatnya. Kaleng diangkat, diputar, diperiksa dengan tatapan detektif. Di muka kaleng ada logo merah CHUN GUANG, tulisan Pure Coffee, dan deretan aksara Mandarin besar-besar yang meliuk seperti tarian naga. Penulis memandangnya lama sekali. Hasilnya: tetap tidak paham. Satu-satunya yang berhasil dibaca dengan percaya diri adalah angka 250. Di situ penulis merasa menang, setidaknya satu kata sudah dikuasai.
Untung di sisi lain kaleng ada label berbahasa Inggris. Isinya: bahan coffee powder. Titik. Tidak ada embel-embel. Jujur banget. Tidak seperti gebetan zaman dulu yang bilang “nggak ada apa-apa” padahal ada apa-apanya. Lalu ada petunjuk penyimpanan, simpan di tempat kering dan sejuk, tutup rapat setelah dibuka. Ada pula keterangan asal bahan baku: Hainan, Xinglong. Pabriknya Hainan Chunguang Foodstuff, di Wenchang, Provinsi Hainan.

Petunjuk di kalengnya sebenarnya jelas: dua sendok makan bubuk (sekitar 12 gram) ke dalam cangkir, tuang sekitar 120 ml air mendidih, buang ampasnya, lalu sajikan. Boleh ditambah gula, susu, atau kelapa sesuka hati. Cara yang praktis, tradisional, dan pasti aman.
Tapi penulis bukan orang yang hidup dengan cara aman. (Kecuali soal parkir. Soal parkir penulis selalu cari yang paling teduh.)

Di versi Mandarinnya ada barcode berawalan angka 69. Kata orang yang paham, awalan 690 sampai 699 memang kode negara China. Penulis mengangguk-angguk sok tahu, padahal baru tahu lima detik yang lalu. Begitulah ilmu pengetahuan: datang tiba-tiba, pergi kalau tidak dicatat.
Keputusan Besar: Tidak V60, Tapi Cold Brew
Biasanya, kopi baru di rumah ini langsung dipertemukan dengan corong V60. Itu tradisi. Itu adat. Tapi kali ini penulis menahan tangan. Kopi bubuk yang sudah halus dari pabrik, ditambah misteri rasa yang belum diketahui, rasanya lebih cocok diajak bicara pelan-pelan lewat air dingin. Cold brew. Cara seduh yang tidak suka terburu-buru, mirip bapak-bapak yang lagi memancing: bukan soal dapat ikannya, tapi soal duduk tenangnya.
Kebetulan, bejana kaca cold brew di rumah sudah siap. Bersih, bening, dan punya saringan stainless berwarna perak di dalamnya. Dari tadi bejana itu seperti menunggu giliran, bahkan sambil pura-pura sibuk. Di latar belakang, mesin penggiling kopi hitam yang gagah itu melirik sinis. Penggiling itu seolah bergumam: “Bubuknya sudah jadi dari pabrik, terus aku ngapain di sini? Dianggurin begini.” Sabar, Mas Penggiling. Giliranmu datang di seduhan berikutnya.

Lalu tibalah momen sakral itu. 150 gram kopi bubuk dituang langsung ke dalam saringan di bejana. Bukan dua sendok seperti petunjuk di kaleng. Ini seratus lima puluh gram. Kalau petunjuk di kaleng itu secangkir kopi untuk satu orang, maka penulis sedang menyiapkan kopi untuk satu RT. Hitam, pekat, dan penuh percaya diri.
1.300 Mililiter Air Dingin dan Seni Menunggu
Berikutnya, air dingin sebanyak 1.300 ml dituang pelan-pelan. Pelan, tapi pasti. Bubuk kopi di saringan mulai basah, berubah warna, lalu menyerahkan aromanya tetes demi tetes ke dalam air. Kalau dihitung-hitung, perbandingannya kira-kira 1 : 8,7. Kopi cukup banyak, air cukup lega. Hitungan ini jelas bukan hitungan ahli matematika, tapi hitungan orang yang percaya bahwa kopi sebaiknya jangan pelit.

Dan lihatlah warna di dalam bejana itu. Dari bening di atas, lalu keemasan, makin ke bawah makin gelap, pekat, seperti lapisan pelangi versi kopi. Indah sekali. Kalau ada pameran seni rupa bertema “Perjalanan Air Menuju Hitam”, ini calon juara satu.
Tapi inilah pelajaran terbesar cold brew: tidak ada tombol cepat. Tidak bisa diseduh sambil nunggu azan. Tidak bisa ditinggal sebentar lalu langsung diminum. Cold brew mengajarkan satu hal yang sangat sulit dipahami manusia modern: kadang, hal terbaik itu hanya butuh dibiarkan.
Selamat Menyendiri, Kopiku
Setelah semuanya terseduh, bejana ditutup, lalu dibawa ke satu tempat yang dingin, sepi, dan penuh keheningan: kulkas. Pintunya dibuka, lampu kulkas menyala hangat, rak tengah kosong melompong. Di sana bejana diletakkan sendirian. Ya, sendirian. Tanpa teman, tanpa sayur, tanpa telur, tanpa sambal sisa semalam. Hanya dia, dan dingin.

Perhatikan dasar bejananya: ada rona magenta yang berpendar. Entah itu pantulan lampu kulkas, entah efek cahaya, entah kopinya sedang baper karena ditinggal sendirian. Penulis tidak berani menyimpulkan. Penulis hanya berani menutup pintu pelan-pelan, seperti menutup pintu kamar anak yang baru tidur.
Syaratnya jelas: minimal 8 jam, biarkan sendirian agar prosesnya sempurna. Delapan jam itu bukan waktu yang singkat. Itu sama dengan satu hari kerja penuh, bedanya kopi ini diam saja, tidak minta laporan, tidak ada rapat tambahan, dan tidak ada yang bilang “Mohon arahan, Pak”. Dari semua rekan kerja yang pernah penulis temui, kopi di kulkas ini adalah yang paling pengertian.
Berarti, baru besok pagi kita bisa mengambil dan menikmatinya. Selama itu, penulis hanya bisa menebak-nebak rasanya. Manis? Pahit? Berani? Malu-malu? Ada rasa cokelat? Ada rasa kacang? Ada rasa “wah ini kopi dari seberang lautan”? Entahlah. Biar besok pagi lidah yang menjawab. Dan kalau ternyata rasanya biasa saja, setidaknya penulis sudah punya cerita luar biasa tentang menunggunya.
Selamat menyendiri, wahai kopiku, kopi made in China yang dititipkan seorang kawan. Tidurlah yang nyenyak di dalam dingin. Jangan masuk angin. Jangan ada yang mengganggu. Dan kalau ada sambal sisa semalam yang berniat menyapamu, abaikan saja. Besok pagi kita bertemu, dengan sepenuh rasa penasaran dan segelas penuh harapan.
Wassalam (AKW & AI)







Leave a Reply