Ada pagi yang sengaja tidak dikasih agenda. Eh, sebenarnya ada, tapi agendanya baru mulai setelah kopi habis.
Medio awal Agustus 2024, di lantai teratas RSKK Provinsi Jawa Barat di Rancaekek, saya naik ke rooftop. Anginnya adem, gunung-gunung di kejauhan biru tipis, dan di rak kawat pot-pot putih menggantung rapi seperti sedang ikut menunggu. Di bawah, gedung sibuk dengan urusan pelayanan. Di atas, kami menggelar meja.

Racikan Pertama: Ibu Baristi Berkaos Hijau
Taplak bergaris abu-abu sudah terbentang. Grinder hitam berdiri gagah, mesin kopi stainless menjaganya dari samping, gelas-gelas kertas bergambar daun bertumpuk rapi. Yang maju paling dulu adalah ibu baristi berkaos hijau.
Beliau meracik sambil senyum-senyum. Tangannya cekatan, gerakannya tenang, dan entah kenapa kopi terasa sudah hangat bahkan sebelum air menyentuh bubuknya. Kopi itu memang tidak pernah hanya soal kopi. Kadang soal siapa yang menyeduhnya.

Dilanjut Barista: Arabica Natural Kareumbi
Estafet berlanjut ke barista berkaos hijau. Bijinya Arabica Natural Kareumbi. Digiling, dituang ke dripper V60, lalu air panas diputar pelan-pelan, mulai dari bloom sampai tetes terakhir. Aroma naik, orang-orang mendekat tanpa diundang. Itulah keistimewaan manual brew: tidak bisa diburu-buru. Mau cepat? Ya tunggu dulu.

Hasilnya dituang ke server kaca, lalu dibagi ke gelas-gelas mungil. Inilah Kohitala Gelaca: kopi hitam tanpa gula, di gelas kaca, apa adanya. Saya seruput. Acidity-nya medium, body-nya medium. Aftertaste-nya yang bikin senyum: ada lemon, ada asam yang segar. Sepertinya Kareumbi sedang ingin bilang, “Bangun, ini sudah pagi.”

Yang Hadir, yang Menyeruput
Pagi itu hadir Bapak Dewan berbatik merah, ditemani bapak berbaju putih dan berkopeah hitam yang tertawanya lepas. Hadir pula Ibu Kepala Dinas, Hj. Kim Agung, bersama para Ibu Sekretaris Dinas, di antaranya Hj. Eva Fandora dan Hj. Anne. Mereka duduk di bangku dan sofa, gelas kecil diangkat, wajah-wajah langsung bicara. Ada yang tersenyum lebar, ada yang terdiam sebentar lalu mengangguk pelan.

Di meja, sekeranjang buah ikut ngariung: pisang, anggur hijau dan hitam, apel, kiwi, jeruk. Ada kurma juga. Yang asam bertemu yang manis, yang pahit dikawal yang segar. Hidup memang sebaiknya begitu.

Jumatan Dulu Ya… Ntar Ngopi Lagi
Setelah ngopi, acara inti dimulai: rapat dengar pendapat dengan DPRD. Tapi hari itu hari Jumat. Waktu shalat Jumat mendekat, dan di sini urusan dunia tahu diri.
Meja-meja disingkirkan satu per satu. Dalam sekejap ruangan rapat disulap jadi tempat shalat, sajadah hijau digelar berbaris, jemaah bersujud berdampingan. Dewan, kepala dinas, staf, semuanya satu saf. Pas saya rekam, saya cuma sempat menulis di layar: “Jumatan dulu ya… ntar ngopi lagi.”

Selesai shalat, meja kembali ke tempatnya. Rapat dilanjutkan. Kopi tadi menyisakan hangat di perut dan segar lemon di ingatan, jadi diskusi pun terasa lebih ringan.
Catatan Kecil
Di gedung yang hari-harinya penuh berkas, ternyata cukup sebiji kopi, seduhan sabar, dan sedikit waktu untuk menurunkan jabatan sebentar ke lantai bawah. Di rooftop itu kami duduk sama rendah, minum dari tetes yang sama, lalu bersujud di saf yang sama.
Itulah ngariung, berkumpul bukan karena rapat, tapi karena ada yang pantas dinikmati bersama. Dan kalau urusan ngariung sudah beres, urusan rapat insya Allah ikut lancar.
Terima kasih kepada para barista, Ibu Kepala Dinas, Ibu Sekretaris Dinas, Bapak Dewan, dan semua yang hadir.
Kohitala Gelaca. Arabica Natural Kareumbi. V60. Rooftop RSKK Rancaekek, awal Agustus 2024.
Wassalam (AKW & AI)







Leave a Reply