Ada kopi yang dinilai dari rasanya. Ada juga kopi yang dinilai dari di mana ia diseduh. Pagi itu, saya minum yang kedua.
Awal Mei 2024, dalam rangka tugas ke Kalimantan Selatan, kami sempat singgah ke Pasar Terapung Lok Baintan. Pasarnya bukan di darat, tapi di tengah sungai. Pembelinya naik perahu, penjualnya duduk di sampan, dan transaksinya terjadi dari lambung ke lambung. Tidak ada lapak, tidak ada parkir, hanya air cokelat yang bergoyang pelan dan sampan-sampan yang berdempetan.

Ibu-Ibu yang Bawel, Semangat, dan Gesit
Yang pertama menyerbu bukan aroma kopi, tapi suara ibu-ibu pedagang. Bawel, semangat, dan gesitnya luar biasa. Dayung di satu tangan, dagangan di tangan lainnya. Pisang, jeruk, rambutan, sayur, semua ditata rapi di dalam sampan yang sempit, lalu disodorkan ke arah kita seolah berkata, “Coba dulu, Pak, jangan cuma lihat.”

Bagi saya yang sehari-hari terbiasa dengan meja rapat, pemandangan ini seperti kelas tentang ketangguhan. Mereka bekerja sejak subuh, di atas air, tanpa kursi empuk dan tanpa AC, tapi senyumnya tidak habis-habis.

Literasi Keuangan Kelas Sampan
Nah, ini yang bikin saya terkagum-kagum. Soal literasi keuangan, ibu-ibu pedagang di sini ternyata sudah canggih. Kalau uang tunai habis dan tidak ada kembalian, mereka tidak panik. Mereka sudah siap dengan kode QRIS yang digantung pakai tali di leher.
Uniknya, QRIS itu awalnya tersembunyi di balik pakaian, tempat paling aman sedunia. Baru ketika ada pembeli yang bertanya, “Bisa bayar pakai QRIS, Bu?”, kartu kecil itu muncul ke permukaan, lalu bayar, selesai. Dompet digital bertemu sampan kayu di tengah sungai, dan keduanya akur.

Pelajaran buat kita yang suka mengeluh soal transformasi digital: ibu-ibu ini tidak ikut seminar, tidak ada bimtek, tapi sudah jalan duluan.
Kohitala Gelatik, Lima Ribu Rupiah
Tentu saja saya tidak melewatkan kopinya. Inilah Kohitala Gelatik: kopi hitam tanpa gula, di gelas plastik. Harganya lima ribu rupiah per gelas.
Soal rasa, jujur saja, standar. Tidak ada notes lemon, tidak ada aftertaste yang menari-nari. Tapi standar yang jujur, tanpa gaya dan tanpa basa-basi. Yang mahal bukan kopinya, tapi suasananya: kopi itu diseduh di atas sampan yang berdempetan di tengah sungai. Di kedai mana pun, lima ribu rupiah tidak akan pernah membeli pemandangan seperti ini.
Pindah ke Atap Sampan Bersama Haji Ade Hadian
Setelah puas dengan keseruan pasar, kami beranjak dari keramaian. Tapi kopi belum selesai. Saya dan Haji Ade Hadian naik ke atap sampan, duduk bersila di atas tikar, dan menyeruput kopi di sana. Saya setia dengan Kohitala Gelatik, sementara beliau memilih kopi luwak sachet.

Sensasinya seru sekaligus menegangkan. Atap sampan tidak sedatar meja kantor dan sungai tidak pernah benar-benar diam. Jadi menyeruput kopi di sini berarti dua hal sekaligus: menikmati rasa dan menjaga keseimbangan. Gelas plastik dipegang erat, sandal ditaruh di samping, mata bergantian antara kopi dan air di bawah.

Matahari pagi menyorot dari sela pepohonan di tepi sungai, dan di atas daun pisang tersaji nasi kuning dengan pisang sebagai teman ngopi. Sederhana, tapi rasanya sulit dikalahkan.

Catatan Kecil
Kopi hitam tanpa gula di gelas plastik itu mungkin tidak akan masuk daftar kopi terbaik. Tapi pengalamannya tak ternilai: ibu-ibu pedagang yang bawel dan gesit, QRIS yang muncul dari balik pakaian, sampan yang bergoyang, dan secangkir kopi jujur bersama seorang sahabat di atap perahu.
Kadang kopi terbaik bukan yang paling enak, tapi yang paling membekas. Terima kasih, Lok Baintan. Terima kasih, Haji Ade Hadian. Terima kasih, ibu-ibu pedagang yang sudah mengajari saya cara berjualan dengan hati dan tetap melek teknologi.
Kohitala Gelatik. Pasar Terapung Lok Baintan, Kalimantan Selatan, awal Mei 2024.
Wassalam (AKW & AI)







Leave a Reply