Cipeundeuy, http://www.akwnulis.id. Berjalan menyusuri dini hari dengan stelan spesial yakni gamis dan kopiah bulet dengan sepatu olahraga tak lupa kaus kaki sport melindungi kedua kaki ini. Gerak langkah dipercepat karena panggilan Shalat shubuh, adzan sudah berkumandang.
Baru saja keluar gang depan rumah menuju jalan besar, sebuah kendaraan berhenti dan terdengar teriakan, “Ayo ikut, udah adzan tuh, nanti telat!” Seorang bapak berkopeah di balik kemudi hyundai palisade memberikan kesempatan menaiki mobil mewahnya.
“Terima kasih bapak, biar saya jalan kaki saja” satu kalimat singkat yang akhirnya menyudahi perbimcangan dan memisahkan raga kami. Meskipun jiwa tetap terhubung atas nama ‘Pejuang Shubuh’. Kembali fokus berjalan setengah berlari karena mesjid yang dituju masih berjarak sekitar 740 meter lagi.
Alhamdulillah datang ke mesjid tepat waltu, meskipun tak kekejar shalat sunah qobla shubuh tetapi prosesi utama shalat shubuh dapat diikuti secara khidmat dari awal takbirotul ihram hingga attahiyat dan salam untuk menyudahi shalat trtsebut.
Setelah shalat shubuh tuntas dilanjutkan dengan kultum (kuliah tujuh menit) atau ada juga yang menyebut ‘Kuliah kumaha antum’.. Wkwkwkwkwkw. Yang pasti mendengarkan ceramah singkat keagamaan untuk penting menurutku ditengah bejibun kesibukan dan rutinitas harian sehingga waktu untuk mendapatkan ceramah siraman rohani itu menjadi terbatas.
Ada pembahasan menarik dalam kultum ini adalah tentang batasan waktu menurut islam mengacu kepada momen dimana Rasulullah bersama sahabatnya sedang berdiskusi. Penceramahnya seorang dai muda yang terlihat fasih serta bersemangat memberikan materi kultum ini karena itu tadi, dibatasi waktu meskipun bukan 7 menit tetap saja terasa cukup singkat.
Penceramah menjelaskan bahwa salah satu contoh tentang batasan waktu itu adalah sebuah pertanyaan yang dilontarkan kepada Rasullulloh, “Wahai Rasul berapa lama jeda waktu antara batasan sahur dengan shalat shubuh?“
Rasul menjawab, “Waktunya selama membaca 50 ayat alquran”
Disini waktu menjadi relatif tidak diukur dengan berapa lama, tetapi tergantung situasi yang ada. Bagi sahabat rasul kala itu tentu langsung faham kira – kira berapa lama. Tapi bagi kita saat ini, membaca 50 ayat alquran perlu effort yang luar biasa. Apalagi bagi yang masih terbata – bata membaca ayat alqurannya.
Ada hikmah disini bahwa batasan 50 ayat ini bisa menjadi patokan standar minimal ayat yang dibaca setiap hari. Atau penulis mengingatkan kepada diri sendiri a8dalah minimal 24 ayat sehari alias 1 ayat perjam. Tentu ini butuh komitmen karena akan bergantung ihtiar dan konsistensi.
“Kenapa sih dalam tulisan kali ini membahas waktu?” Tiba – tiba kalimat tanya hadir tanpa disangka. Maka sejumput jawaban langsung hadir dengan nyata, “Karena saat ini adalah waktu 48 tahun hadir menapaki dunia. Terima kasih Ya Allah atas berkah usia ini. Terima kasih juga Ibunda yang berjuang jiwa raga melahirkanku serta dukungan utama dari ayahanda”.
Terima kasih semuanya, tiada kata seindah doa dan tiasa berkah tanpa syukur yang membuncah. Hatur nuhun, Wassalam (AKW).

Leave a Reply