Meeting & Curug Jodo

Rapat yang padat menguras semangat, diteruskan dengan mencari (Curug) jodoh…

Photo : Curug Jodo / dokpri.

SUBANG, akwnulis.com. Tuntas shalat isya maka meeting dilanjutkan lagiii… “Cius meeting malem-malem, bukan meeting kali, tapi meuting (meuting=bermalam bhs sunda)?”

Ya iya memang harus bermalam karena meetingnya dimulai setelah waktu isya. Klo itung-itungan, baru tadi seharian menuntaskan urusan dan melatih kesabaran di Bekasi, monggo dibaca ‘Merajut Janji di Bekasi.‘ Tetapi itulah sebuah komitmen yang harus dijalani, JaSuNi tea geuning. Jadi… lets go, kita meeting.

Segeralah berdiskusi dengan penuh aksi dan aneka reaksi. Berbalas pantun dan saling melengkapi demi sebuah kesepahaman bersama yang saling memperkaya rasa. Malam beranjak menuju puncaknya, sementara pembahasan masih berlanjut. Sesi kami berakhir 5 menit sebelum tengah malam tiba, alias pukul 23.55. Sementara pasukan khusus dan para pengurus melanjutkan penyusunan administrasi yang menjadi pembahasan serius, hingga menjelang mentari muncul secara halus…. wow begadang…. ruar biasa.

Perjuangan belum berakhir….

Photo : Meeting & meeting / dokpri.

Setelah sarapan selesai dilakukan maka battle discuss continue.. ternyata rame, saling berbalas pantun, saling melengkapi dengan aneka argumen yang ketat dan padat.

Dari mulai UU 40/2007, PP 94/2017, Permendagri 94/2017, Permendagri 37/2018, hingga Anggaran Dasar perusahaan menjadi bahasan yang saling melengkapi. Hal mendasar yang bisa dipetik adalah, semua memiliki niat yang sama… we are happy to lesson together.

Mempertahankan argumen dengan kebersahajaan dan menerima argumentasi yang lain jikalau didasari tata regulasi dan tak lupa sejumput diplomasi plus selarik basa-basi…..

Perlahan tapi pasti sesi-sesi meeting bisa dilalui. Pencatatan yang pasti dengan hadirnya notaris semakin mengukuhkan eksistensi. Berucap hati-hati dan berkomentarpun perlu berfikir lebih dari dua kali…. takut masuk akta notaris hehehehehe.

Photo : Camping Park Merpati di sekitar Curug Jodo / dokpri.

Udah ah… cerita seriusnya. Sekarang mah mencari dulu suasana, menenangkan kepala yang terasa panas membara setelah dua hari ini berfikir dan berfikir, bekerja dan bekerja.

“Moo kemana looh?”

“Sini, kita ke Curug Jodoh”

“Hah… serius bro?… takut ah”

Jawabannya takut, tapi penasaran. Akhirnya kami bertiga bergerak dari ruang meeting menuju lobby dan keluar menapaki paving block dan lantai tembok tanpa alas kaki alas nyékèr.

“Kenapa nyeker, khan ada sandal hotel?”

Kami bertiga seolah sepakat, atau sama-sama linglung pasca marathon meeting. Ganti baju, lepas sepatu dan berjalanlah ke lobby tanpa alas kaki…. aya aya waé.

Tujuannya hanya satu, Curug Jodo. Petunjuk arah segera diikuti, naik turun dan belak belok juga dijalani hingga akhirnya tiba di pertigaan dan terpampang tulisan yang dicari.

Photo : Beningnya air panas alami di Curug Jodo / dokpri.

Nggak pake lama segera mengabadikan pemandangan yang ada. Trus buka celana… eh maksudnya celana panjangnya dan bercelana pendek turun ke area curug yang berair bening…. serta yang terpenting adalahh…. airnya panazz… panasss alami, water hot spring tea geuning.

Menapaki dasar kolam air panas begitu menyegarkan, suasana alam yang berangin sejuk membawa kedamaian dan mendinginkan otak dari rasa membara tiada hingga.

Awalnya penasaran dengan nama Curug Jodo, kirain klo dateng kesinih bakalan dapet jodoh…. ternyata bukan itu guys.

Asal muasal penamaan Curug Jodo itu karena air terjun atau curug berair panas ini terdiri dari dua curug yang berdampingan secara alami sehingga dianggap menjadi curug yang berpasangan dan akhirnya dinamakan Curug berJodoh eh Curug Jodo.

Urusan yang datang ke sinih terus dapet jodoh, ya itu mah sudah takdirnya. Karena jodoh itu di tangan Tuhan, jikalau kita yang belum punya jodoh maka harus berusaha meraihnya sekuat tenaga, niat dan usaha sehingga sang jodoh bisa direngkuh…. klo nggak berusaha… ya selamanya jodoh ditangan Tuhan alias Jomfer.. Jomblo forever.

Ah sudah ah, kok nglantur gini….. padahal otak udah stabil lagi karena rekreasi singkat ini. Selamat menjalani komitmen atas pekerjaan masing2 juga takdir perjodohan. Wassalam (AKW).

***

Catatan :
Lokasi Curug Jodo berada di lingkungan Sariater Hotel & Resort, Kecamatan Ciater Kabupaten Subang Jawa Barat.

Merajut Janji di Bekasi

Sebuah perjalanan yang penuh kesabaran serta ketenangan…

Photo : Sarapan Ayam buah / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah rencana adalah ihtiar dalam kehidupan dan ketegaran menjalani kenyataan serta keikhlasan menerimanya, itu yang kereeen.

Hari kerja di minggu ini diuji dengan kemacetan tingkat dewa. Senin pagi dari Cimahi ke Bekasi ditempuh dalam waktu 6 jam 30 menit… atau 6 jam dech karena terpotong dengan sarapan di Rest area Love 72 ruas jalan tol Cipularang.

Kemungkinan besar yang bikin kemacetan semakin parah adalah barengan dengan para pemudik long wiken yang kembali ke jakarta setelah libur lumayan panjang. Aslinya ampe nggak bisa berkata-kata karena kezeeel bin pegeeel.

Photo : Truk pasir kepleset / dokpri.

Ada objek yang bisa di ambil photonya ternyata truk pasir yang terjerembab di pinggir jalan tol, kasian tapi gimana, bingung nolongnya, duh semoga tabah hadapi kenyataan yaaa….

Melihat ke depan, antrian begitu panjang dan memang sulit untuk memilih, meskipun akhirnya tak tahan dengan kemacetan, segera mengambil arah tol exit gate Cibitung.

Eeeh… ternyata diluar tolnya juga sama. “Nasibbb ….nasib”

Photo : Mesjid di Rest area 72 / dokpri

Untungnya para peserta meeting di Bekasinya penyabar dan pemaklum semua, acara yang sedianya dilangsungkan pukul 10.00 wib, musti molor tanpa batas waktu yang pasti, menunggu kami yang masih bertualang dalam pusaran kemacetan.

***

Setelah bermacet ria di jalan inspeksi kalimalang, lalu belok kanan menuju jalur jalan pantura, jalur lokal karawang -bekasi maka suasana perjalanan lebih berwarna karena di tengah kemacetan bisa mampir dulu ke minimarket, warung ataupun mesjid sehingga momen macet spesial ini bisa dinikmati.

Ruar biasa……

Akhirnya dengan bersusah payah bisa tiba di tempat meeting disambut dengan adzan dhuhur yang menenteramkan hati.

Photo : Suasana Meeting / dokpri.

Tuntas sholat jama qashar dimulailah meeting yang muram plus juga ACnya sedang bermasalah…. otomatis jadi sauna dadakan… keringat mulai bercucuran, apa mau dikata….. lanjutkaaaan.

Di sinilah kesabaran dilatih, ketenangan diuji. Bertabur kata diplomasi mengeratkan janji untuk bersama-sama menyelesaikan resesi yang sedang dihadapi. Satu kata yang menjadi niat, kata… Semangaaat.

Akhirnya jam 4 sore mulai bergeser dari bekasong menyongsong tol yang diharapkan lowong…. ternyata zonk.

Macet lagi… macet lagi… tapi tidak seberapa dibanding keberangkatan tadi. Perlahan tapi pasti, merayap menapaki hari di jalan tol cikapek menuju arah tol cipali.

Lha moo kemana?”

“Lanjut malam ini meeting di Subang

Woalah perjalanan masih berlanjut, tapi tidak usah jadi ribut. JASUNI saja, jalani syukuri dan nikmati. Wassalam (AKW).

Kopi Trizara Resort

Ngopay di dataran tinggi Bandung Utara sambil kemping, nikmat pisan, yukk ah…

Photo : Kopi di gerbang Trizara Resort / dokpri.

LEMBANG, akwnulis.com. Terdiam sambil mengatur nafas agar selaras dengan suara rintik hujan yang jatuh menimpa tenda di tengah malam terasa begitu menenangkan. Sepinya malam di daerah Pagerwangi Lembang memberi kesempatan pikiran untuk berkreasi, memilih jalinan kata agar bisa bersua dengan kata lain sehingga miliki makna.
Sesekali terdengar anjing ‘babaung‘ eh menggonggong memecahkan kesepian malam, menemani kesendirian di tenda mewah atau yang sering disebut sebagai glamour camping (glamping) setelah seharian mengikuti sesi pelatihan tentang dasar-dasar penjaminan dan sejumput informasi tentang pengadaan barang dan jasa.

Suasana tenda tipe Nasika ini sepi dan tenang, karena tidak ada Televisi dan radio. Pengelola resort ini memiliki salah satu tagline yaitu : ‘Tanpa elektronik, hidup kita bisa bahagia‘,

Kereen nggak?… 2 hari puasa televisi… ternyata bisa dan biasa aja. Lagian di rumah juga jarang nonton tv. Seringnya malah ditonton tv, kitanya merem depan tv dan tvnya nyala terus sambil nontonin kita yang mereeem hehehehe.

Balik lagi kesinih, sebuah tempat spesial yang memberikan pengalaman berbeda. Camping mewah yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan.

Untuk cerita lengkapnya Trizara Resort versi AKW silahkan klik disini : Menikmati Glamping di Trizara Resort.

Sekarang mah mau cerita tentang kopinya dulu ah.

Selama 2 hari di Trizara Resort ini, bisa menikmati beragam kopi tanpa gula. Yuk kita runut satu-satu :

Photo : Kopi di kelas / dokpri.

Hari pertama, diawali dengan kopi standar Trizara yang tersedia disaat coffeebreak, tinggal geser ke belakang, ambil teko berisi kopi diatas kompor pemanas… currr. Dilanjutkan dengan pasca makan siang, maka pilihannya adalah secangkir americano versi resto yang juga dibawa ke kelas karena sesi materi selanjutnya sudah dimulai, tetapi sebelumnya diabadikan disamping patung gajah kecil dengan background benteng pintu masuk ke Trizara ini.

Photo : Double espresso di resto / dokpri.

Hari kedua, pagi hari langsung dihajar dengan double espresso di resto sekaligus dilengkapi segelas americano… nikmat pisannn. Serta sebelum sesi penutupan, kopi coffeebreak di kelas menjadi pelengkap hari terakhir sebelum semuanya bubar kembali ke kediaman.

Sebenernya di tas sudah tersedia peralatan, jikalau harus menyeduh kopi sendiri dengan kopinya dari Pak Ali – Lembang. Tetapi dengan bejibun agenda pelatihan, akhirnya dibawa kembali utuh karena tidak sempat tersentuh.

Malam inipun tidak berani menyeduh di tengah malam. Khawatir sulit tidur dan juga takutnya lagi asyik nge-manual brew, eh tiba-tiba ada suara dari balik gerumbulan pepohonan di belakang tenda, “Bholeeh mintzaa nggakz?”… khan berabe guys.

Akhirnya, lebih baik telentang di kasur yang empuk ditemani bantal bulu angsa yang memanjakan kepala. Memandang kembali langit-langit tenda yang masih setia menemani diri bersama musik ritmis dari rintik hujan sambil melewati pertengahan malam menuju dini hari yang dingin menusuk kulit ari-ari hingga tulang di dalam diri. Selamat tengah malam kawanku, Wassalam (AKW).

White Rose – Tea

Mencoba teh putih bercampur mawar yang rasanya menawan dengan bejibun khasiat… srupuut.

Photo : Sajian White Rose – tea at KuroKoffee / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Sejak mencoba menikmati beraneka rasa teh.. bukan teteh yach. Ternyata banyak pilihan yang bisa dinikmati dan memancing inspirasi.

Begitupun teh ini, teh putih yang ternyata beraroma mawar dengan nama ‘Rose White Tea’… eh White Rose tea alias teh putih mawar.. teh bodas kembang eros (maaf maksa).

Awalnya kaget juga, kok bisa rasanya ada keharuman mawar mewangi. Keren nich teh, apalagi memang rasanya nikmat.

Tetapi kelihatannya ini adalah percampuran antara teh putih dengan kelopak bunga mawar, meskipun kurang tahu kapan bercampurnya.. 🙂

Mencoba mencari literatur di mbah guggle, ternyataa banyak sekali manfaat rose white ini, diantaranya :

Banyak sekali manfaat kesehatan dari teh mawar ini termasuk kemampuannya untuk meredakan nyeri haid, mencegah penyakit kronis, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mempercepat penyembuhan, memperbaiki pencernaan, mendetoksifikasi tubuh, meredakan infeksi pernapasan, merangsang suasana hati dan mengatur siklus tidur Anda. Ada sedikit efek samping ketika teh ini dikonsumsi dalam jumlah sedang, tetapi penggunaan berlebihan tidak dianjurkan…. kitu ceunah.

Photo : Ini bungkusnya / dokpri.

Penasaran, pinjem dech bungkusnya.. sebuah kemasan berwarna putih dan tertulis disitu havillatea.com untuk informasi lebih lanjut.. nggak pake lama di search… tadaaa… havilla gourmet tea ternyata kantor pusatnya di Bandung bro… di Batununggal dan yang bikin bangga, ternyata pendiri atau salah satu pendirinya adalah orang indonesia dengan sertifikasi tea internasional.. kerenn.

Di website havillatea.com juga disebutkan harga rose white 125ribu dan ada white tea silver needle 130ribu serta harga-harga dari berbagai jenis teh lainnya seperti green tea, ooling tea, black tea, tisane, tea assesoris dan tea set.

Order ah… jadi makin lengkap nich informasi tentang teh putih. Bisa pesen via teteh putihyang bermarkas di Bogor atau juga nanti yang di batununggal ini dengan rose white teanya, selamat nge-teh kawan, Wassalam (AKW).

***

Sumber :

1. http://www.organicfacts.net

2. http://www.havillatea.com

Lokasi : Cafe Kurokoffee, Jl. Ciumbuleuit Bandung.

Salad & Teh Kasih Sayang

Sajian salad yang menemani kebersamaan…

Photo : Ranch Chicken Salad / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Getar hati melingkupi sebuah janji, menghiasi perjalanan hidup yang sesungguhnya adalah misteri. Disini sebuah kepasrahan diuji, “Apakah mampu memaknai hari tanpa tergoda kanan kiri?” … “Atau masih tergetar dan muncul rasa dan ingin seperti orang lain?”

Monggo jawab sendiri.

Begitupun dengan kehadiran pasangan hidup kita, terkadang karena terbalut rutinitas, seolah perjalanan hidup ini biasa saja, business as usual. Padahal, Allah Swt sudah memberikan kesempatan kepada kita untuk memilih manusia ciptaan-Nya untuk menjadi pasangan hidup, insyaalloh hingga ajal memisahkan.

Memang siih, ada yang milih sendiri via jalur bobogohan eh pacaranan yang sebenernya nggak ada administrasi tertulisnya hehehehehe, ada juga yang dipilihin… dipilihin ortu, teman atau dipilihin bos hehehehe.

Ada juga yang langsung terima tanpa proses pemilihan….

“Lha kok jadi bahas pemilihan seeh?”
“Maklum moo pemilu minggu depan, tanggal 17 april 2019”

“Jadi metode pemilihannya gimana brow?”

“Pertama e-purchasing, kedua pengadaan langsung, ketiga penunjukan langsung, keempat tender cepat dan terakhir pilihannya tender.”

“Deuh…… mentang-mentang ikutan diklat Barjas loo…..”

Photo : Marakesh mint tea / dokpri.

Diskusi tidak berlanjut karena memang beda situasi, yang satu ngapalin moo ujian, satu lagi persiapan moo nyoblos. Yang bikin satu tujuan sama adalah rasa kasih sayang yang semakin kuat dan tentu dihadapi, ditanggung dan disyukuri bersama.

Cara paling praktis tentunya berbincang berdua sambil makan di tempat yang nyaman dan romantis… ahaaay.

Ditemani sejumput chicken salad (jiaaah.. sejumput, padahal sepiring metung) dan sajian teh spesial atau artisan tea yang bisa direfill 2x (air panasnya). Pilihan kali ini adalah Marakesh mint, sajian teh tawar dengan aroma dan rasa mint yang menyegarkan.

Trus, salad kasih sayangnya begitu indah dipandang segar dan bercahaya. Ayamnya empuk bangeet, sayuran segar, potongan almond dan apel hijau dan saus dressingnya yang nikmat di lidah makin mengukuhkan kebersamaan ini, namanya Ranch Chicken Salad.

Photo : Ikan koi menemani kebersamaan kami / dokpri.

Kombinasi sempurna antara sajian salad dan Marakesh Mint tea siang ini. Menemani waktu bersama istri tercinta di salah satu restoran di jantung Kota Bandung. Perbincangan berlanjut ditemani gerakan gemulai ikan koi di pinggir meja kami, terkadang mendekat atau tiba-tiba menjauh sambil memamerkan warna warni tubuhnya yang mempesona.

Happy wiken kawan, selamat menikmati detik dan menit penuh kasih sayang. Wassalam (AKW).

Kolam Renang Hotel Metro Tasikmalaya.

Masih tentang kolam berenang, sekarang di Kota Tasikmalaya.

Photo : Kolam renang Hotel Metro Tasikmalaya / dokpri.

TASIKMALAYA, akwnulis.com. Kesana kemari menapaki bumi, senantiasa bersua dengan keagungan Illahi Rabbi. Termasuk berbagai hal yang mungkin biasa, tetapi ternyata memiliki nilai yang bisa saja sangat bermakna.

Itulah yang dicoba diriku tetap pegang dan terapkan, termasuk dalam menikmati kesegaran kolam renang.

Bukan berarti bahwa dengan hadirnya kolam renang harus segera loncat… jebuur dan berenang. Tetapi dengan indra pendengaran bersinergi suara gemericik air atau kecipak gelombang kecil orang berenangpun memberi efek ketenangan.

Bisa saja hanya duduk terdiam dipinggir kolam sambil menikmati suasana yang segar, atau… itu tadi, langsung pake celana renang, jangan lupa kacamata khusus renang…. segera bercengkerama dengan hamparan kesegaran… so simple guys.

Jadi dikala membaca tulisan-tulisanku tentang kolam renang, bukan berarti memang harus berenang atau sudah berenang disitu, tetapi informasi kolam renanglah yang perlu digaris bawahi.

“Jadi kamu nggak berenang?”

“Pasti cuman nonton yang renang yaa?”

“Ngapain mosting photo kolam renang klo nggak direnangi?”

Photo : Swimming pool dari sisi yang berbeda / dokpri.

Tiga pertanyaan umum yang mungkin melingkar di benak pembaca. “Mau tau jawabannya?”

“Mauuuuuu”

“Mau tahu atau mau tahu banget?”

“Mau tahu bangeeeet!!”

Jawabannya, “Emang gue pikirin, mau renang mau tidak yach itu khan pilihaan, terserah!!!”

Nada muram langsung mengembang, padahal jawaban sebenarnya adalah, “Saya lagi belajar berenang, jadi setiap ada kolam berusaha nyemplung untuk menikmati sensasi cengkeraman rendaman air”

Senyuman tersungging dan tawa membahana, seolah tidak percaya dengan jawaban kedua.

Ya sudah, terserah pembaca mau berpersepsi apa…. monggo, yang pasti diriku berusaha menulis apa yang dilihat dan apa yang dirasakan, juga menyajikan photo-photo hasil jepretan hp sendiri. Titik.

Eh lanjuut, nah kolam renang kali ini terletak di lantai 3 Hotel Metro Tasikmalaya. Lokasi tepatnya di Jl. K. H. Z. Mustofa No.263, Nagarawangi, Cihideung, Tasikmalaya, Jawa Barat 46124 (buat tahu harga dan fasilitas lainnya klik aja traveloka, tiket.com dan sebangsanya).

Photo : Tata tertib kolam renang / dokpri.

Bentuk persegi empat dengan kedalaman flat 1,2 meter. Airnya dingin jernih membiru, disekelilingnya terdapat kursi santai dan disampingnya ada space yang sering digunakan untuk ruang pesta. Dipisah oleh tembok pembatas, terdapat kolam anak dengan kedalaman 40 cm. Tetapi wajib dengan pangawasan orang tua atau orang dewasa karena tidak ada baywatch eh… lifeguard.

Fasilitas shower dan kamar mandi terletak di belakang kolam renang dibatasi dinding motif garis yang menjadi penghias fasad di lantai 3 Hotel Metro Tasikmalaya ini.

Photo : Baso Laksana Yamien Manies komplit / dokpri.

Naah… malam harinya, usahakan beredar di Kota Tasikmalaya untuk icip-icip kulinernya. Sebenernya banyak pilihan, tetapi untuk bakso khas tasik ya segera meluncur ke RM Baso Laksana di dekat Mesjid Agung Tasik trus dilanjut Ngopay… eh menikmati Kopi Papua di Warung Kopi Lawas dengan metode vietnam drip.

Wilujeng Ngojay dan Ngopay, Wassalam. (AKW).

Di rumah-MU

Bersimpuh di Banten & Tasikmalaya….

Photo : Mesjid Raya AlBantani – Banten / dokpri.

TASIKMALAYA, akwnulis.com. Perjalanan kehidupan memang penuh dinamika, berubah dan sering tidak sesuai rencana. Itulah indahnya menjalani misteri kehidupan.

“Tidak perlu risau dengan masa depan, mari tafakuri masa lalu, jalani dan syukuri hari ini, maka insyaalloh masa depan bisa dijalani dengan baik-baik saja”

“Ah kamu mah retorika, udah jelas banyak hal yang harus dipikirkan dan membebani kepala ini. Enak aja bilang syukuri dan tafakuri!!!” Komentar tegas yang terlihat penuh rasa waswas.

Diriku terdiam, dan berusaha memberikan wajah datar tanpa ekspresi.

Photo : Mesjid Raya AlBantani, di dalamnya / dokpri.

Padahal, di otak inipun berseliweran urusan yang tak kunjung terselesaikan. Pusing dan mual langsung menyerang, keringat kebingungan mulai mengucur tak tertahan.

Bener juga, gimana ini ya?” Pertanyaan menggantung tanpa jawaban pasti. Seolah awan hitam yang semakin tebal menutupi cahaya mentari sehingga bumi menggigil diserang dinginnya kekhawatiran.

***

Photo : Mesjid Agung Tasikmalaya / dokpri.

Alhamdulillah, sebuah pencerahan kembali menjalar hangat di sanubari. Membisik lembut menenangkan hati, “Tidak usah banyak khawatir, mengadulah kepada yang punya”

Terdiam dan menunduk, merasa malu. Karena terkadang raga ini lupa, bahwa semua masalah ini harus bisa diselesaikan sendiri. Padahal tidak ada daya sedikitpun, jikalau yang punya yaitu Allah SWT tidak mengijinkan.

Astagfirullohal Adzim”

Bersimpuh jiwa ini memohon ampun, menempelkan raga di lantai rumah-Mu. Bersujud untuk bersinergi dengan bumi demi meraih petunjuk langit. Allahu Akbar. Wassalam (AKW).

Pencitraan Sarapan

Biarkan photo sarapan hadir tanpa persepsi apapun, tetapi…

Photo : Breakfast at RM Mergosari / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Jangan terlalu percaya dengan sajian tulisan dan photo-photo di medsos. Jangan terjebak citra dimana semua ingin tampil tidak apa adanya. Begitupun gambar yang muncul di awal tulisan ini.

Jika melihat photo diatas, maka kecenderungan netizen adalah sang penulis dipersepsikan sedang diet dan hanya makan sayur dan buah. Demi sejuta alasan yang terkadang tidak relevan. Mungkin pengen turun berat badan, mungkin pengen meningkatkan kualitas kesehatan atau mungkin juga pupujieun karena disuruh oleh pasangan.

Sebenernya tidak, photo tadi adalah buah karya isengisasi. Menggabungkan antara buah-buahan untuk sarapan dengan lalaban sayuran di RM Mergosari, trus di salah satu RM di daerah Leles dan menu maksi di Tasikmalaya.

Disaat kawan yang lain mengunyah ayam goreng, tahu tempe goreng dan tentunya sambal khasnya yang bikin bakul nasi cepat tandas, maka menata potongan buah dan sayur menjadi aktifitas menyenangkan.

Kamu pengen kurus ya?… sarapannya buah?”

“Bukan ih… klo pengen kurus mah gampang, berhenti aja makan hehehehe…. ini lebih ke rintisan untuk kualitas hidup yang lebih baik”

Lalu ada yang berteriak, “Itu khan pencitraan saja, sebenarnya sambil makan nasi dan lauk pauknya dengan lahap”

Nah klo untuk model menuduh seperti ini, tanggapi dengan santai dan acuh saja. Polanya kafilah menggonggong dan anjing berlalu… eh kebalik. Anjing menggonggong kafilah berlalu.

Photo : Sarapan di salah satu RM di Leles Garut / dokpri.

Sekali lagi jangan terlalu baper dengan postingan orang, jangan juga kepo dan punya kebiasaan stalking alias membuntuti seseorang via update status di medsos. Ntar malah ngebangun persepsi sendiri yang mungkin menyesatkan.

Meskipun memang ada juga yang rajin bangeeet upload status, komentar dan berbagai aktifitasnya seriiiing sekali…. yaaa mungkin itu pengecualian. Tapi sekali lagi, jamannya memang jaman narsis. Jamannya pengen exsis, apalagi nilai kebahagiaan harian bagi sebagian besar orang terletak dari jumlah jempol dan komentar…. meskipun ada sebagian kecil orang bisa menjadi kaya raya karena like dan komen, tapi itu bisa dihitung dengan jari.

Photo : Maksi di Hotel Metro Tasikmalaya / dokpri.

Percayalah, jempol like dan komentar tidak berarti benar-benar menyukai, bisa saja karena kasihan atau mungkin iseng juga mijit-mijit like dan komen…

Jadi inilah jaman anomali, dimana bahagia bisa tergantung dari pijitan ibu jari. Juga informasi yang beredar saat ini, mungkin saja sampah yang tak mesti diamini.

Sekali lagi, hati-hati.

Selamat menikmati hari, tanpa terjebak dari iri dengki karena rutin menilik status medsos orang selain diri. Selamat bermalam minggu, Wassalam (AKW).

Pod Rail Transit Suite Gambir

Mencoba kamar super mini di Gambir, ternyata….

Photo : Dalam Pod room / dokpri.

SERANG, akwnulis.com. Perjalanan pagi dari Stasiun Gambir menuju Wilayah Provinsi Banten, terasa begitu nyaman. Semenjak keluar dari Gambir, Nissan grand livina 1500 cc ini tidak menemui kemacetan berarti. Melesat lancar menuju tol kota dan terlihat bertolak belakang dengan arus lalu lintas menuju pusat jakarta. Terlihat kemacetan mengular meskipun sudah digunakan metode contra flow.

Pak Pri Hartono, sopir GoCar dengan tenang mengemudikan kendaraannya membelah suasana sunyi di satu sisi ditemani sinar mentari yang mulai hadir menghangati bumi.

Perjalanan yang begitu tenang dan damai, termasuk melewati kebon jerukpun tidak ada kemacetan berarti, Alhamdulillah pilihan waktu keberangkatan yang tepat, tadi pas pukul 06.00 wib mulai start dari Stasiun Gambir setelah beristirahat sejenak di PODnya Rail Transit Suite Gambir

“Apa itu PODnya Rail Transit Suite Gambir?”

Photo : Ayo mau dimana? / dokpri.

Nah inilah pengalaman yang perlu dicoba. Kebetulan memang dengan waktu yang begitu ketat dengan penjadwalan padat merayap maka praktis dalam 1 minggu ini pergi kesana kemari, atau istilah kerennya ‘ijigimbrang‘ kesana kemari.

Jangan tanya lelah, karena itu adalah realitas. Jangan tanya cape karena itu bikin bete. Tapi jalani saja semua dengan tetap berusaha menyeimbangkan antara kepentingan kerja dengan perhatian kepada keluarga.

Karena apa, kerja keras dalam bekerja tentu berharap mendapat penghasilan untuk keluarga. Disisi lain bukan hanya penghasilan tetapi juga perhatian bagi keluarga menjadi unsur penting yang harus diseimbangkan.

Photo : 20 kamar pod room / dokpri.

Metodenya?….. itu mah terserah masing-masing. Yang pasti, diskusikan dengan pasangan dan anak bahwa konsekuensi pekerjaan menuntut seperti ini. Disisi lain, luangkan waktu untuk tetap berjumpa dengan keluarga meskipun hanya sebentar. Bercengkerama lalu pamit mengejar kereta, tertawa bersama dirumah lalu terbang dengan pesawat berbujet murah. Tugas negara di jalankan, keluarga tetap terperhatikan…

“Ih kok jadi curcol, kamar pod-nya gimana?”

Ini ceritanya…. jeng jreng….

Kamar pod itu ternyata berasal dari istilah bahasa sunda, yaitu ‘nyemPOD‘ alias nyempil di tempat sempit… heuheuheu, maksa ih.

Tapi aslinya, kamar POd ini memang seukuran badan alias segede kotak peti mati atau tempat kremasi dech (klo liat di film-film). Dengan model dormitory asrama, ranjang bertingkat maka harga yang ditawarkan jauh lebih murah, via aplikasi traveloka dapet harga 200ribu untuk 1 hari. Kalau direct ke hotelnya bisa pake 12 jam atau 6 jam dengan harga lebih murah… tapi tidak dijamin ready, karena penuh terus.

Pod room (male only, share room), itu tulisan di keterangan aplikasi. Soalnya penutup kamar nyem-Pod ini hanya tirai….euh kerai belaka, khan klo ada perempuan trus salah kamar bisa berabe, sementara posisinya berjejer dan bertingkat.

Photo : kopi item fasilitas hotel / dokpri.

Overall, ruangannya bersih, AC dingin meskipun berbagi. Kamar PoDnya pake kartu untuk nyalakan lampu, ada kotak penyimpanan dibawah kaki lengkap dengan kunci. Handuk, sikat gigi dan sebotol air mineral tersedia sebagai fasilitas. Kasur dan bantalnya empuk dan bersih.

Nah, kamar mandinya sharing juga, 2 buah wc dan 3 shower, cukup untuk penghuni kamar Pod ini, khan maksimal 20 orang, tinggal giliran aja.

Oh ya mushola juga ada… juga pas pagi harinya ada fasilitas sarapan dalam bentuk nasi kotak, lumayaan… Alhamdulillah.

Meskipun penulis hanya menikmati sekitar 4 jam saja. Karena tiba jam 01.00 wib dengan KA argo Parahyangan dan disambut suasana temaram serta lomba dengkuran dari para penghuni memberi sensasi tersendiri dan jam 05.00 wib sudah bangun, mandi dan shalat karena pagi harinya harus sudah berangkat ke Banten diantar pak Pri sang Driver Gocar. Tidak lupa sebelum berangkat, ngopay dulu fasilitas hotel. Yaa.. kopi ala kadarnya hehehehe.

Pengalaman ini menambah wawasan dan hikmah, dimana nanti di alam kubur akan lebih sempit dari ini dan gelap gulita kecuali kita bisa membawa amalan-amalan yang baik, shodaqoh yang ikhlas, serta ibadah lainnya yang bernilai berkualitas di hadapan Illahi robbi serta doa-doa dari anak sholehah serta siapapun yang mendoakan kita kelak. Amiin Yaa Robbal alamiin, Wassalam (AKW).

Mengambil Posisi

Menerawangi hari yang penuh misteri.

Photo : Menanti Mentari disini / Dokpri.

SUBANG, akwnulis.com. Dikala rembulan mentahbiskan diri mengurus malam, maka mentaripun setia menjaga siang tetap penuh kehangatan. Kesamaan dari keduanya adalah memberi secercah terang dan menjadi gantungan harapan dalam perjalanan kehidupan.

“Tidak bisa kakak, bulan itu tidak seterang mentari, bulan itu hanya memantulkan cahaya mentari dari punggung bumi”

Sebuah sanggahan yang tidak untuk diperdebatkan. Biarkan rembulan bercahaya dan menjadi pegangan di malam hari. Bukan sumber cahayanya yang menjadi sasaran utama, tetapi fungsi cahaya yang membelah gelap menjadi secercah harap.

Terkadang jikalau konsentrasi sedang membumi maka sangat mungkin di malam purnama bersua dengan ‘Nini Anteh dan kucingnya Candramawat’. Saling berbagi cerita sambil berkejaran diantara awan tipis atau bintang yang juga nimbrung membahas gosip keduniaan.

Esok harinya, mentari kembali beraksi menghangatkan bumi. Menebar keberkahan dan kebahagiaan bagi mahluk Tuhan. Allah SWT yang memiliki maha otoritas, dan mentari sebagai alat. Muncul tepat waktu dalam rutinitas yang presisi, tidak pernah ingkar janji meskipun terkadang awan hitam menutupi.

Photo : Mentari mulai menghangati hari / dokpri.

Begitupun jiwa dan raga ini, setelah menentukan posisi maka sebuah konsekuensi menjadi bagian dari janji. Pelajari tugas dan fungsi, jalani senada dengan regulasi. Jangan lupa siapkan rencana aksi untuk wujudkan hasil yang serasi.

Kalau urusan reaksi, itu pasti. Perubahan selalu diiringi dengan keadaan yang dianggap oleh sebagian pihak sudah hakiki. Padahal perubahan itu yang pasti, Hayu Jalani dan mari beraksi.

Hayuu.. beraksi!!!

“Ada kopi?”

Ada dong, ini kopi rasanya unik bin beda lagi. Dengan sentuhan air panas 87° celcius dan takaran tetap 1:15 maka bisa tersaji sebuah kopi yang mengeluarkan rasa cola sarsaparila.

“Halah apa itu?”

Itu tuh, klo kita minum cola (dulu… waktu sebelum insyaf hehehehe)… ada rasa pahit sepet diantara manisnya cola, diantara ‘nyereng’-nya itu ada rasa khas sarsaparila.

Ah kamu mah ngarang!”

Entahlah, tapi yang pasti selarik rasa itu muncul dan mirip asem pahit buah plum serta pahitnya teh hitam. “Mau tahu kopinya?”

“Mau mau mauu”

Photo : Flores Yellow Island coffee V60 / dokpri.

Ini dia, Flores Yellow Island by Kuro Koffee, disajikan dengan metode V60 manual brew… mangga gan.

Akhirnya mentaripun kembali menyerahkan tampuk cahaya kepada rembulan karena malam mulai menjelang. Urusan kopi dan posisi terus berjalan, perlahan tapi pasti menikmati malam sambil ngopi dan memgumbar lamunan.

Hatur nuhun, selamat beraktifitas guys, Wassalam (AKW).

***