Cawene Coffee

Mendung menggelayut, nyeduh kopi bikin terhanyut.

Photo : Cawene Coffee siap dinikmati / dokpri.

CiMAHi, akwnulis.com. Pagi sedikit mendung disaat mentari malu-malu menampakkan diri, mungkin berlanjut hingga siang hari nanti. Cuaca menjadi nyaman jikala nanti mau berjalan-jalan di siang hari, tanpa khawatir sengatan panas yang mengganggu proses pengelupasan kulit muka, maklum lagi perawatan… awwww.

Enaknya ngapain yaaaa?”

Sebuah pertanyaan yang sangat penting, karena akan menentukan gerakan tubuh selanjutnya. Apakah akan melepas selimut hidup yang sedang membungkus raga ini?.. atau tetap bercengkerama dalam tatap dan kelembutan yang halalan toyyiban?… kembali aneka opsi menjadi pilihan.

Ternyata, diskusi adalah cara efektif untuk menyamakan frequensi, membangun kebersamaan persepsi yang akhirnya berusaha bersinergi. Keputusannya adalah melepas sementara selimut dan beringsut menuju ruang tengah untuk menikmati kenikmatan hidup lainnya meskipun sebagian orang menyebutkan sebagai kepahitgetiran.

Apa itu kawan?”

“Yaaa…. Ngopaay.. eh seduh kopiii!!!”

***

Siang ini yang menggoda selera untuk segera dieksekusi adalah sebuah mahakarya, artisan coffee dari Garut Jawa Barat.. pasti arabica bean dengan label CAWENE COFFFEE.

Tanpa perlu berlama kata, maka air panas disiapkan, kertas filter, corong V60, glass server, timbangan, dan tidak lupa… ya kopinya atuhhh… eh bubuk kasar kopinyaa… Cawene coffee.

Setelah corong V60 berlafis.. eh berlapis kertas filter sudah dibasahi air panas, maka prosesi perseduhan manual kopipun akan segera dimulai…..

3 sendok makan bubuk kopi arabica Cawene…. yaa sekitar 20gr Cawene sudah pasrah menunggu sentuhan air panas 92° celcius. Mengucur perlahan, memutar melawan arah jarum jam. Aroma harum menyeruak, serpihan biji diseduh air telah membebaskan aroma yang terpendam dalam biji kopi Cawene ini…. aslinya harum pisan.

Gelas server Dugio300 menampung tetesan kopi hasil filterisasi manual brew V60 di pagi yang mendung ini. Perlahan tapi pasti mendungnya siang berubah jadi ceria, semarak, seiring dengan prosesi manual brew yang memasuki titik akhir.

Photo : Kopi Cawene bersama corong V60 / dokpri.

Sambil menanti tetesan akhir kopi cawene berkumpul di gelas server, mencoba mencari makna Cawene. Ada yang mengartikan Cawene itu cawan dan berkaitan dengan Uga Wangsit Siliwangi yang terkait tentang satria piningit. Sementara dalam kamus bahasa sunda online (unverified) menyebutkan Cawene ini perawan, senada dengan sebuah pendapat yang menghubungkan dengan syair lagu sunda jaman jadul yang menyandingkan ‘bujang’ dengan ‘cawene’.

Apapun pengertiannya, penulis mah seneng aja kerana eh… karena bentar lagi moo nikmatin kopi cawene ini, hasil manual brew V60 olangan….

Kopi cawene yang diseduh ini dengan label Cawene coffee, artisan coffee & roastery. Process natural medium to dark. Diroasting tanggal 04.03.2019, ground coffee berbungkus hitam dengan berat 250gr. Arabica premium, Garut origin west java indonesia. PIRT 5103205011019-23

Harga free karena ada yang ngasih, hatur nuhun Pak Haji 🙏🙏….

Jeng jreeeng…. sajian kopi sudah siaaap.

Cuuur….. dituangkan ke gelas kaca mini kesayangan…

Sruputt.. kumur dikitt… hmmmm

Woaaah…. nikmaatnyooo. Aromanya harum banget, bodynya mantaabs, bold euy.. tebal berisi… dipadu oleh aciditynya yang juga medium high… bikin sensasi ‘ninggal’-nya semakin kentara. Taste yang menyeruak adalah tajamnya rasa fruitty, khususnya lemon dan sedikit jeruk nipis plus tamarind… juga kayaknya muncul rasa berry….

Over all, mantabs nikmat.. tapi untuk pemula mungkin belum pas. Karena akan terkaget dengan body dan aciditynya yang seolah mencengkeram lidah memahitkan mulut.

Buat penikmat kopi hitam, ini recomended.

Srupuut…. nikmaat. Happy wikend guys. Wassalam (AKW).

****

Arabica Wine & Ijen di Renjana

Menikmati V60 Arabica wine vs Ijen.

Photo : Sajian V60 Arabica wine – Renjana / dokpri

BANDUNG, akwnulis.com.Pagi yang cerah dan senyum di bibir merah, sejuta rasa bahagia….’

….”Lhaa kok jadi nyanyiin lagu mendiang Chrisye seeh?”

Tapi ini emang pagi yang cerah meskipun bibir merahnya sih relatif. Merah karena obat merah, atau bibirnya kejemur atau polesan lipstik yang mungkin harganya mahal dari mulai Estee Lauder Pure Color Envy Sculpting (400ribuan) hingga Couture Beauty Diamond Lipstick yang harganya (ceunah) 187 Milyar karena bertabur berlian.

Pagi yang cerah ini, menjadi kesempatan berharga untuk menjajal program jalan 30 menit/hari. Kebetulan ada perintah buat ngewakilin bos rapat di salah satu kantor di daerah jl Riau – jl.Laswi. “Kayaknya nyampe kesitu jalan kaki 30 menitan”

Berangkaat…..

Dengan rute Jl. Martadinata / Jl.Riau luruss aja ngikutin trotoar, dan beberapa kali menyebeberang di perempatan… ada 4 apa 5 per4tan. Mulai dari perempatan Istiqomah, Cihapit, ujung jalan Aceh, Gandapura hingga perempatan Jl. Anggrek…

Ternyata 24 menit sudah hampir tiba di TKP, wah masih ada spare 6 menit. Belok kanan dulu ke jalan Anggrek trus ke Jalan Pudak… ternyata ada 4 cafe kopi…. yang pasti ada kopi pudak, kopi Renjana dann…..halah 2 lagi lupa euy.

Photo : Barista Renjana beraksi / dokpri

Dari Jalan Pudak langsung balik badan dan kembali kepada jalan yang benar eh.. jalan yang menuju tempat rapat….. 35 menit akhirnya waktu berjalan dari daerah Istiqomah hingga ujung jalan Martadinata-Ahmad Yani. Keringat lumayan mengucur, tapi segar… aslinya segeerr. Yaa kalaupun ada sedikit bau keringet pas ntar rapat, itu mah resiko. Namanya juga jalan kaki, ya keringetan.

—- Cerita rapatnya nggak dibahas

Naaaah… jam 2 siang baru beres rapatnya…… setelah bubar…. jalan kaki lagi menuju jalan anggrek tadi… kemooon.

Photo : Sebungkus arabica wine / dokpri

Namanya Kafe Renjana, kata sang duo barista artinya ‘Rencana‘ tapi diwujudkan jadi cafe. Nama baristanya Rio dan Diki. Menunya banyak, dan ruangannya cozy serta rapih. Ada juga ruangan private buat meeting, itu mah musti booking dulu….. lha kok jadi iklan cafe seeeh!!.

Yang penting kopinya bro, manual brew V60 tea geuning….

Tanpa perlu lama, pilihan biji kopi yang ada dibaca satu persatu. Ah pilihan mah nggak boleh terlalu banyak, lagian yang lainnya udah tau karakter rasanya… wheleeeh wheleeh kayak yang udah nyicip ratusan kopi aja, sombong lu!!

Pertama, Arabica wine. Katanya beannya dari gunung manglayang. Oke deh gpp, ditunggu racikan manual brew V60nya.

Sambil duduk di meja sebelah dalam, mencoba menikmati suasana cafe Renjana dalam waktu yang sangat terbatas ini. Enak juga buat nongkrong, eh tapi jauh dari kantor. Ya sudah sesekali aja.

Tak berapa lama sajian kopi manual brew V60 Arabica wine ala Renjana cafe telah tiba dihadapan. Sebelum dinikmati tak lupa didokumentasi, wajiib itu!!

Ouuww…. bodynya bold dan ninggal di seputar bibir, aromanya oke dan ada taste fruitty yang ninggal plus selarik rasa karamel.

Kata baristanya pake perbandingan 1:15 alias 100ml dengan 15gr bean persajian… cucook deh.

Nggak pake lama, disruput habis tuh sajian kopi arabica wine. Eh sang pelayan lewat, sambil tersenyum berkata, “Om kayak minum air putih aja, teguk teguk habis.. itu khan pahit bingiit”

Senyum tersungging, salah besar. Ini sajian nggak pahit, justru nikmat dan bisa sesaat melupakan pahit getirnya kehidupan… ahaaay.

“Pesen lagi neng, Manual brew V60, kopinya Ijen”
“Oke Kakak”

Ahay kok berubah panggilannya dari Om jadi Kakak….

Photo : Sajian V60 kopi ijen / dokpri

Sajian kedua, manual brew V60 kopi Ijen. Sajiannya sama dengan gelas botol saji transparan dengan gelas kecil. Tanpa embel-embel, polos saja.

Perlahan disruput, kumur dikit dan glek.. glek.. glek… aroma harum dengan body lite, cocok buat pemula. Serta acidity medium. Taste tidak terlalu jelas, sangat tipis rasa fruittynya.. “Eh atau jangan-jangan efek arabica wine-nya belum hilang?”

Nggak usah dipikirkan. Biarkan kopi arabica wine dan kopi ijennya bersepakat di dalam lambung untuk menghasilkan MOU perikekopian yang akhirnya akan keluar dari tubuh ini dalam bentuk yang relatif sama.

Photo : bean kopi Ijen / dokpri

Yang pasti keduanya nikmat dengan segmentasi peminat ya g berbeda. Mau yang strong atau medium, itulah pilihan.

Akhirnya sang waktu jua yang memaksa raga ini hengkang dari Cafe Renjana. Kembali ke alam nyata dan berpetualang menapaki jalan kehidupan yang terbentang sepanjang hayat. Wassalam (AKW).

***

Obat Penenang – Kopluprégar

Ketenangan hadir melalui obat yang tepat.

Photo : Sajian Koplupregar lengkap dengan peralatan/ dokpri

JATINANGOR, akwnulis.com. Dinginnya malam di Kamar 103 Kampus Kiarapayung begitu kejam menghujami kulit tipis kami. Sesekali angin menyelusup, menyapa dengan seringainya menyusuri kuduk yang kerap meremang.

Untung saja obat penawarnya ada, beberapa bungkus obat penenang tradisional dengan peralatan lengkap satu kontainer plastik. Dibawa khusus untuk menghadapi situasi seperti ini.

“Obat penenang?, hati-hati ah, jangan sembarang bawa obat begitu. Nanti diciduk petugas”

“Udah selow aja kata Wahyu juga (maksudnya lagu Selow yang dinyanyiin Wahyu), cuman segini doang” sambil mengeluarkannya dari dalam kontainer.

Wahhh… ini mah banyak sekali, ah bahaya ini mah.. bahaya” suara parau kawanku yang phobia dengan penangkapan. Tangannya tak henti meremas bungkus alumunium voil.

“Baca atuh bungkusnyaaa…. ini bukan tablet isinya bro, isinya bijiiiii…. biji kopiiii”

“Biji kopi?… tadi katanya obat penenang?”

“Iya penenang hati yang sedang galaw karena rasa dingin dan kegamangan.. ahaaay”

“Sialaaan”

Segera berlari menghindari kejaran kawan yang kalap karena nggak terima dengan kejadian ini.

Makanya jangan phobia berlebihan.

***

Setelah peralatan lengkap di meja, prosesi dimulai. Pasang kertas filter dicorong V60, timbang biji kopi dan digrinder dengan ukuran suka-suka, goyang-goyang 2-6. Siapkan air panas dengan termos pemanas.. josss.

Sang waktu menjadi saksi dikala air panas membasahi dulu kertas filter, serpihan biji masuk saringan, proses blooming bikin harum ruangan yang sebelumnya diawali oleh aroma biji kopi Luwak Garut yang terpecah oleh keperkasaan mesin grinder.

92° celcius sebuah angka yang tepat untuk menyeduh biji kopi spesial dari salah satu tokoh di garut, nuhun pak haji Aam… currr, puter-puter.

Tes.. tes… obat penenang menetes di bejana kaca transparan.. horee.. horeeee…

Aroma khas arabica menyeruak menjadi penenang pertama, diikuti dengan acidity maksimal khas kopi luwak (jangan sambil bayangin kopi yang keluar dari ‘anu’ luwak yaaa….. ), body kopinya medium dan dari keseluruhannya nikmat maksudddnyaaah.

Photo : para pemburu ketenangan / dokpri.

By the way, anyway…. obat penenang itu bernama Kopi Luwak Premium Garut (Koplupregar) versi spesial yang diproduksi oleh CV Dwi putra laksana….

Srupuuut.. srupput, gelas-gelas mini menyambut kehadiran obat penenang suasana ini secepat kilat, sehingga 50gr kopi yang berubah jadi cairan hitam coklatpun tandas dalam waktu singkat.

“Alhamdulillah, udah pada tenang semuanya,……”

“Iyaaaaaaa.. tenang dan senang”

Dinginnya malam sekarang menjadi sahabat, karena dipererat kebersamaan yang berbalut ketenangan. Canda dan tawa serta cerita Bali, Bogor dan Sukabumi serta Cimahi menguatkan kembali chemistry yang telah terjalin kuat di kaki Gunung Manglayang ini. Wassalam (AKW).

Longbérry di Legok Emok

Rinéh sakedap bari ngarénghap, ni’mat.

Photo : Kopi V60 Arabica Longbérry / doklang.

KBB, akwnulis.com. Legok Emok hiji wilayah nu salin jinis jadi cikal bakal dayeuh anyar di kuloneun Bandung ayeuna. Kitu ogé Bojong Haleuang, kaséréd ku robahna jaman jeung kawijakan Karajaan Pajajaran.

Ayeuna mah geus obah jadi jalan leucir, sasak tohaga wangunan jangkung halughug. Jlug jleg imah jeung buruan sagala ukuran. Matak hélok ogé waas, wewengkon tegalan paranti ngarit ayeuna jadi ladang duit. Sayang jangkrik jeung ngala simeut, kari carita nu matak gemet.

Alhamdulillahna, tutuwuhan haréjo masih dijagi tarapti. Tangkal badag dipelak, dicéboran saban mangsa. Sanaos diwates kluster ogé, ku papagon ti town manajemen.

Kumargi tos janten dayeuh, geuning sangu cikur sareng karédok teu sayogi. Ayana Ékuator salad, daging hayam bodas, diawuran bubuk roti. Diluhureunna dangdaunan, aya salada, léttuce tur daun kalé nu tos di pasihan cairan haseum ditambih kéju bubuk seungit meueusan. Teu hilap endog ceplok ogé aya. Digayem téh ngawitanna nyureng tapi salajengna anteng, geuning raos. Direncangan hiliwir angin ti basisir Saguling.

Photo : Salad Cafe Ekuator KBP / doklang.

Bari nyawang ka nu anggang, suruput kopi saring V60 arabika longbèrry. Nikmat matak peureum beunta, ngepas pisan kana mamarasna. Body-na kandel, napel lami dina handapeun létah tur sawujud baham. Acidityna pas, sedeng tapi najong. Teu hilap seungitna ngadalingding cicirén nu ninyuhna nganggè rasa miwah élmu. Karaos aya tasté bérry nu haseum tapi seugeuuur….

Kangge sagelas nu aya dipayuneun, 25 gr kopina teras digiling. Atos ancur digelutkeur sareng 250 ml cai panas nu haneutna 90° celsius.

Kadé teu kénging digulaan, istuning kopi sosoranganan. Ni’mat pisan, geura cobian. Tempatna di Cafe Ekuator KBP, nu kapungkur tegalan paranti ngangon domba basa tikotok dilebuan.

Ulah hilap, langkung nikmat kedah disarengan ku jimat, garwa rancunit nu salawasna ngait. Silih simbreuh kadeudeuh, nu salawasna pageuh. Wassalam (AKW).

Kolam Renang & Arabica Puntang – Hotel Geulis Bandung

Kerja tetap dipacu dan disitu ada sesuatu.

Photo : Lorong Hotel Geulis Dago Bandung / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. siang menjelang sore tidak lepas dari diskusi tentang persepsi dan intrepretasi dari aneka pasal yang menyangkut nasib direksi. Terjadi dilema di area neocortec dan amigdala, terjebak antara ilmu hukum dan tarian angka-angka. Wah musti rehat sejenak ini mah.. gaswaat.

“Maaf pak, saya ke belakang dulu”

“Silahkan pak”

Terbebas dari pembahasan meskipun dalam waktu yang super singkat, tapi inilah jeda yang sebenarnya.

Karena pamitnya ‘ke belakang’, maka segera bergerak ke belakang hotel. Mengikuti petunjuk yang menempel erat di dinding. Lurus terus menyusuri lorong sambil menikmati detail ornamen hotel butik ini, bikin adem.

Setelah mentok, ada petunjuk belok kanan agak keatas. Ada tangga dengan enam undakan, buka pintu dan tadaaa…… suasana membiru memberi ketenangan dan bikin adem kepala setelah berkutat dengan pasal dan cinta.. upss.

Photo : Kolam renang mini Hotel Geulis / dokpri.

Kolam renang mini menyambut, meskipun kecil tapi lumayan masih bisa dipake renang.. yaa maksimal berdua orang dewasa heuheuheu. Ini hanya fasilitas untuk yang menginap, tapi tetap saja ingin berbagi info ini, siapa tahu pas nginep disini, Hotel Geulis….

Ada juga untuk kolam renang anak, kecil banget tapi yang penting bersih dan nuansa segar. Kursi pantai tersedia, bilasan ada, juga prosotan mini buat anak. Disampingnya ada tempat fitnes, jadi bisa renang trus fitnes ataupun sebaliknya.

Photo : Kursi pantai dan prosotan / dokpri.

Sambil perlahan menghela nafas panjang, serasa beban pikiran sedikit berkurang.

“Wadduh rapaat….” ingatan kembali kepada tugas di ruang rapat. Balik kanaaaan…. berjalan setengah berlari. Tapi sebelum sampai ke ruang rapat, belok sejenak menuju wastafel, membasuh muka menenangkan rasa untuk kembali bersua dengan angka.

***

Trek!!

Pintu ruang rapat terbuka, olala suasana rapat berbeda. Di meja masih berserak dokumen yang ada lengkap dengan coretan dan garis merahnya. Tapi yang bikin membelalak adalah sebuah meja baru disampingnya.

Photo : Manual brew V60 Arabica Puntang / dokpri.

“Silahkan pak dicoba, saya pesenin kopi manual brew v60 dengan beannya puntang arabica, khusus buat bapak” Ibu pengundang rapat menawarkan dengan tulus.

“Woww…. makasihhh, sungguh tersanjung”

Srupuut….. nikmatt.

Aroma kuat arabica puntang menyelusup di indra perasa. Memberi bunga bunga semerbak menenangkan otak. Body yang tangguh tebal tapi mantap. Acidity ‘ninggal‘ medium high khas puntang memanjakan rongga lidah dan tetap nyaman di lambung. Taste fruitty nya kerasaa…. emang arabica puntang tiada duanya. Berarti ini arabica puntang metode V60 ala Cafe Geulis.

Yummy….

Pembahasan rapat selanjutnya semakin lancar, pikiran tenang dan tarian angka serta pasal-pasalpun terasa lebih ringan.

Jadi, .. kolam renang & kopi arabica puntang, bikin kerjaan lancar dan pikiran segar.

Wilujeng ngojay dan ngopay bray, Wassalam (AKW).

V60 Mandailing di Gedogan Cafe

Menikmati sajian kopi, sambil memandang kendaraan lalu lalang disini.

Photo : Sajian kopi V60 Mandheling ditemani mawar merah/dokpri

DAGO, akwnulis.com. Semerbak aroma kopi menyebar di atmosfer rasa, laksana buih menggenggam samudera. Mengisi relung hari yang penuh dinamika, menjadi lebih ceria meskipun tugas yang terus mendera.

Sebuah kafe di Jalan Ir. H. Juanda nomor 116 ini menggugah selera untuk mampir dan tentu mencoba racikan kopinya seperti apa. Namanya Cafe Gedogan, menyajikan aneka makanan minuman dan tentu ada kopiiii…….

Cafe yang buka 24 jam ini tentu bisa menjadi pilihan untuk mengusir penat juga kerisauan hati, dengan nongkrong memandang arus lalu lintas jalan dago sambil nyruput sajian kopi manual brewnya… kayaknya nikmat.

Apalagi bagi orang-orang yang diberkahi kenikmatan disaat meminum sedikit demi sedikit sajian kopi yang bagi sebagian orang adalah kopi pahit yang tidak enak.. hueek.

Photo : Suasana Gedogan Cafe Dago/dokpri.

Padahal nikmaat bingit, ingat falsafah kopi yang wajib dipegang teguh, ‘Pahitnya kopi bisa mengurangi atau malah memusnahkan pahit getirnya kehidupan’.

Ingat ituu….

***

Kali ini pilihannya jatuh pada bean Mandailing arabica. Segera diproses tanpa banyak kata. Mengikuti Sang Barista Jajang Nurjamil memainkan peralatan manual brew V60 dengan komposisi ala Cafe Gedogan dengan harga 21ribu + ppn 10%.

Tadaaa…. hasilnya tersaji apik di botol kaca agak tinggi yang berfungsi menjaga suhu tersaji tetap dengan panas yang stabil. Juga cangkir mini plus 1 buah kue kecil. Ditemani vas bunga berisi bunga mawar artifisal memberi suasana berbeda.

Srupuut….. eh photo dulu buat di blog ini.

***

Bodynya lite, aciditynya juga lite ke medium. Tastenya tidak terlalu detail, ringan-ringan saja… yaa udah aja gitu. Cocok buat pecinta kopi hitam pemula.

Photo : Ngopay bray / dokpray.

Klo buat yang seneng kopi hitam dengan body agak berat, mungkin sedikit kecewa dengan sajian ini. Tapi ya begitu karakter kopinya dan juga komposisi takaran plus suhu air memiliki kontribusi pengaruh yang signifikan.

Over all, nongkrong disini menyenangkan. Mungkin besok lusa bisa mencoba menu kopi manual brew lainnya dalam suasana berbeda. Met ngopay bray, Wassalam (AKW).

Kopi Amungme di rumah

Di rumah jangan lupa ngopi juga Lur.

CIMAHI, akwnulis.com. Disaat malam menyapa di balut keheningan, disitulah suasana tenang merasuk jiwa memberi secercah makna. Perlahan tapi pasti, mata mengikuti tulisan di buku besar yang musti dibaca lagi. Karena harus paham dan mengerti.

Tetapi ternyata rasa kangtukpun bisa datang tiba-tiba. Maka menguap dan menguap, tunduh pisan.

“Gimana solusinya, supaya segeran?”
“Gampangg….”

Langsung sambar corong V60 pink dan filternya. Kopi yang ada adalah Arabica Amungme Gold dari Papua. Bikin air panas dan bersiaaap….

Alhamdulillah, kopi sudah jadi dan nggak pake lagi gelas server tapi langsung gelas bekong kaca agar bisa segera diseruput.

Segelas kopi Amungme ini dinikmati perlahan tapi pasti hingga tandas tiada sisa. Bodynya yang strong diharapkan menghilangkan rasa ini, dipadu serasi dengan aciditynya yang lite sehingga tidak meringis merasakan rasa asam yang berlebihan.

Selesai ngopi sendiri ini, terasa badan hangat dan makin ngantuk. Yaa sudah, bobo yuk… Wassalam (AKW)

Kopi & Sopir Tembak

Menjalani hari dengan tugas yang nggak mau berhenti, diusahakan tetap bisa ngopi.

Photo : Sajian Kopi Ijen dengan metode V60 / dokpri

BANDUNG, akwnulis.com. Dikala harus tampil mewakili pimpinan, disitulah latihan kepemimpinan terbuka lebar. Tidak usah takut, coba saja. Ini kesempatan bagus untuk melatih kemampuan berbicara di depan umum sekaligus ajang belajar untuk menyampaikan materi yang diketahui dan dipahami.

Itulah yang terjadi hari ini, istilah bekennya mah ‘sopir tembak‘ heu heu heu heu.

Dengan berbekal sejumput keberanian dan serpihan-serpihan puzzle pemahaman, segera tampil menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara pelatihan di sebuah hotel yang indah, Hotel Amarossa.

Tadinya kirain bakal ketemu penyanyi mungil asal sumedang, Rossa. Ternyata nggak ada, memang nama hotelnya Amarossa.

Alhamdulillah acara lancar dan bahagia, nambah temen nambah sodara.

***

Tuntas bertugas menjadi ‘sopir tembak’, bergegas pamit kepada panitia. Karena harus bersiap untuk meeting lanjutan di siang hari. Padahal coffee break sudah tersedia, ya sudah lewat saja.

Ternyata pas keluar hotel, mobil nggak ada. Eh baru inget, khan tadi yang nyopirin disuruh beli sesuatu ke daerah Buahbatu… lupa euy.

Ya sudah jalan kaki saja ke kantor, lumayan sambil berolahraga.

Photo : Acting membaca bahan rapat di cafe 9/11 (dokpri)

Maka ngagidiglah.. eh basa sunda, berjalan kaki lah keluar dari halaman hotel Amarossa menelusuri jalan Aceh, belok kanan jalan Banda dan lurus saja… trus belok kiri dan dipertigaan jalan Halmahera berhenti sejenak, ada yang menarik di seberang sana.

“Apa yang menariknya kang?”
“Sesuatu”

Sebuah bangunan berdinding putih, bertuliskan 9/11.

Langsung masuk, aroma kopi semerbak. Iya cafe kopiiii……. cuman nggak leluasa tanya-tanya dan pilah pilih karena waktu yang terbatas. Sebuah dilema, pengen ngopi tapi waktu sedikit sekali. Ya sudah dibujeng enggalna.

“Neng, pesen manual brew V60, kopi ini nich, kopi Ijen sama satu lagi cappucino”

“Oke kakak, semua jadi 36ribu”

Nggak banyak nanya, bayar, tunggu kembalian, ambil kembalian dan cari tempat duduk di luar.

Photo : Sajian secangkir Capucinno / dokpri

10 menit kemudian, muncul sajian yang dinanti-nanti. Kopi manual brew V60 dan secangkir capucinno untuk kawanku.

Disajikan dengan gelas botol server bening dan gelas mini yang menarik.

Srupuut….. euh… acidity ada sih, khas rasa kopi arabica, tapiiiii….. euh.

Suasana hati yang diburu-buru atauu…..penyebabnya, air yang digunakan nyeduhnya kurang pas takaran suhunya. Mungkin cuma 60°celcius jadi ‘baleuy’ alias rasanya hambar karena ekstraksi bijinya nggak maksimal.

Tapii… ya sudahlah. Mungkin lain kali kalau mampir, bisa dinikmati sajian lainnya.

Photo : Sebungkus kopi Ijen / dokpri

Berhubung waktupun begitu sempit, ya usah sruput… glek glek glek… tandas. Langsung bergerak kembali mengayun kaki menyusuri jalan Halmahera-Riau-Banda dan akhirnya sampai di gerbang belakang kawasan Gedung Sate.

Tiba di ruangan, sepatu ganti sandal dan segera wudhu, sholat dhuhur dulu bray.

***

Baru beberapa detik selesai sholat, handphone berdering.

Tap…. segera diangkat, “Assalamualaikum!!”

“Waalaikumsalam, Maaf pak, kata bapak, rapat yang jam 13.00 tolong dipimpin saja, wakili, bapak masih kegiatan dengan Menteri di Subang” Suara aspri bos menyampaikan mandat.

“Siap”

Owwmaygaat….. tugas kedua hari ini, jadi ‘sopir tembak’ lagi. Semangaaaat!!!.

Sedikit bulir keringat tiba-tiba hadir di dahi, mengingat rapat sekarang bukan rapat sembarangan. Tapi ya sudahlah. Hadapi, jalani, dan jangan lupa ngopi. Wassalam (AKW).

V60 versus Chemex

Saatnya battle antara V60 versus Chemex dengan biji kopi yang sama, apa bedanya dihasil akhir?

Photo : Kopi hasil manual brew dengan metode chemex dan V60 / dokpri

BANDUNG, akwnulis.com, Siang berlalu dan sore menjelang. Perut sudah bernyanyi riang karena jadwal makan siang tertunda akibat meeting penting dan harus jadi ‘sopir tembak’ karena para bos ternyata berhalangan hadir memimpin rapat pada saatnya.

Maka bersegera untuk makan siang di sore hari dengan sajian yang menarik hati, dengan menu vegetarian.

Selesai makan siang, maka ada hal penting yang ingin diceritakan. Yaitu sebuah ide iseng membandingan sajian kopi dengan biji kopi yang sama tetapi metode sedikit berbeda.

“Maksudnya bagaimana?”

Begini ceritanya…..
Sang biji kopi arabica pangalengan adalah biji yang dibandingkan. Oleh sang barista digrinder sesuai aturan. Komposisi 15:15 digunakan. Nah giliran nyeduhnya (manual brew), yang satu pake metode V60 dan satu lagi dengan chemex.

Sebetulnya terlihat mirip, sama-sama dikucurin air tetapi beda alatnya.

Photo : Sajian makan siang versi vegetarian. Shorgum, jamur, tempe, edamame, tomat cherry, sayuran / dokpri.

Jeng jreng…. maka tersaji 2 buah botol server yang kembar, bagai pinang dibelah dua. Berisi masing-masing 250ml sajian kopi arabica pangalengan yang akan dinikmati barengan.

Dari sisi tampilan, bedanya adalah gelas kecilnya. Untuk sajian V60 gelasnya persis gelas sloki, untuk yang chemex agak besaran dikit gelasnya, tapi tetap gelas kecil. Yang pasti semuanya bening sebening cintaku padamu….. “Apaaaa seeeeh kamuuuuh??”

“Mari dicoba”
“Siiip…..”

Sruput…… tahan dulu dibawah lidah, yummmy.

Ternyata kami bertiga yang juga hari ini miliki kesamaan karena ‘MASIBAT LANPI’ alias makan siang terlambat dilanjut ngopi, memiliki kesimpulan yang sama tentang perbedaan rasa yang tersaji.

Aromanya oke, bodynya lite, taste-nya muncul selarik karamel dan kacang tanah. Giliran acidity, ini yang beda. Metode V60 menghasilkan acidity moderat yang nikmat, sementara dengan chemex, biji yang sama memunculkan acidity mediym bold alias agak kuat keasamannya sehingga sedikit meringis… haseum pisannn.

Kesimpulannya, kami bertiga yang terbiasa minum kopi tanpa gula dengan metode Manual brew V60, cenderung akan dipertahankan. Nah metode chemex mungkin sekali-kali aja, karena ternyata rasa asamnya yang tinggi…. agak gimana gituuu.

Ngomong-ngomong, makasih traktirannya kawan.

Nah itulah review singkat tentang percobaan sederhana sore ini di greensandbeans cafe. Wassalam (AKW).

Kopi Gayo Sarawaloh

Nyruput kopi gayo lagi di Colony Cafe.

Photo : Sajian Kopi Gayo Manual brew V60 / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com, Di saat pilihan tersaji, tidak usah bingung mikir dan nanya sana-sini. Cara terbaik adalah melakukan pilihan segera.

“Lho hati-hati mas, pilihanmu itu akan menentukan nasib bangsa 5 tahun ke depan”

Aku terdiam, sedikit bimbang. Tapi ya… itu tadi, pilihan harus segera diputuskan karena waktu istirahat kantor akan segera berakhir.

“Emangnya kamu moo milih apa mas?” pertanyaan melunak dari kawan yang terkena demam pilpres 2019

“Ini… milih kopi.”

“Sialan kamuuu!!!!”

Tawa berderai, karena kesalahfahaman. Tetapi beda pemahaman itu wajar, selama kita berdiskusi dan berbagi informasi tanpa dilandasi iri dengki. Bicara pilpres tidak usah dilebih-lebihkan, nanti saja hadir di tanggal 17 April 2019 dan gunakan hak pilih masing-masing, titik.

***

“Saya coba kopi Gayo-nya Kang”

“Oke Kakak…. pake metode apa?”

“V60 saja”

“Siapp”

Langsung Sang barista beraksi, mempersiapkan peralatan perang dengan keyakinan diri. Komposisi 15:15 menjadi patokan, panas air 90° tentu diutamakan. Biji di giling 15 gram dan tidak lupa kertas filter dibasahi dulu demi ritual keamanan dan keabsahan prosesi.

Setelah biji hasil penggilingan berada di atas kertas filter maka proses blooming dimulai, aroma harum menyeruak, menyapa cuping hidung yang tak sabar untuk menghirup segarnya rasa.

Proses penyeduhan berlangsung dalam suasana akrab. Tidak lupa, Vidi sang barista Colony Coffee diabadikan dalam pose seriusnya. Prosesi manual brew V60 yang mengekstraksi biji kopi arabica Gayo.

***

Dilihat dari bungkusnya, ini kopi Arabica Natural yang ditanam di ketinggian 1.300mdpl berlokasi di Pondok Baru Kabupaten Bener Meriah Aceh.

Photo : Vidi, sang barista Colony coffee sedang beraksi / dokpri.

Kata Vidi sang Barista, ini kopi Gayo Sarawaloh, varietas kopi the best yang mendunia…

Wah menyenangkan, penasaran dengan nama ‘sarawaloh‘, langsung nanya mang gugle… tapi tulisan yang ada di jagad maya sangat terbatas tentang istilah ini, lebih banyak merujuk kepada nama kopi yang dijual via e-commerce dengan berbagai keunggulan rasa serta kehebatan lainnya.

Sudahlah… itu mah nanti searching lagi. Sekarang saatnya menikmati.

“Mau di gelas atau di shoot Kang?”

Pertanyaan mendadak yang bikin sedikit tergagap. “Pake botol server donk, supaya suhunya tetap terjaga”

“Oke”

Segera dituangkan sajian kopi ke botol server dan sekaligus diberi gelas untuk meneguknya sekaligus berfungsi untuk menjadi tutup botol server.

Srupuutt……

Aroma oke, dengan body lite nggak bakal bikin kaget bagi yang baru pertama kali minum kopi tanpa gula, nah giliran acidity yang medium dengan taste buah-buahan khususnya mendekati ke arah rasa jeruk, seger pokokna mah.

Alhamdulillah, dari sisi harga 30ribu/sajian udah termasuk pajak pelayanan. Nama cafenya Colony cafe terletak di Jalan Sumatera Bandung sebrang SMPN 2 Bdg. Itu sebenernya gabungan dengan rumah makan sehingga bisa menjadi pilihan kongkow keluarga atau urusan kerjaan, tentu jangan lupa dinikmati sajian kopinya. Haturnuhun (AKW).