Monster uteuk keur ngaheneng nyarandè dina tangkal kiara badag. Nyangsaya bari ngalèhlèh. Babaturanna ngaliwat, nempo nu keur nyarandè, ngarandeg ngadeukeutan. “Manèh kunaon mon, jika nu leuleus kitu?” “Teuing atuh euy, padahal asa euweuh nu salah ti isuk – isuk tèh. Geus saluyu jeung papagon”
Babaturan monster uteuk nu ngaranna Monsèp alias monster kasèp karunyaeun, “Geus manggih uteuk poè ieu Mon?”
“Puguh wè monsèp, geus tilu sirah di suruput ti tadi isuk” “Euleuh geuning, cukup atuh”
Monster uteuk nuluykeun, “Ngan pas nyuruput uteuk nu katilu, asa bèda. Boa – boa èta nya? Nu matak laleuleus tèh.”
“Tah tah tah, saha ngaran jelemana nu disuruput tèh?”
“Poho euy, tapi lemburna mah di tutugan leuwi larangan, nu panonna bolotot rada gembil”
Monsèp ujug – ujug ngagakgak nepi kagugulitikan, “Hahaha pasti nyuruput sirah Si Èho”
“Jelema èta mah teu boga uteuk, lèho kabèh saawak-awak, heu heu heu heu!”.
BANDUNG, akwnulis.com. Alhamdulillah akhirnya bisa kembali menuangkan kata menjadi cerita meskipun sedikit terbata – bata karena berbagai alasan yang nyata tapi inilah hasilnya.
FIKMIN # BORANGAN #
Tos lami teu liar wengi jalaran rumaos yuswa beuki nambihan. Tangtos nu utami ngiatkeun niat ngempelkeun bekel pikeun jaganing di ahérat. Supados lungsur langsar dina enggoning kekempel bekel téh ayeuna mah ka masigit langkung remen sanaos teu lima waktos. Netepan lohor nu tara kalangkung mah, margi moal sieun ngadadak janten imam. Cekap ku modal Allohuakbar tur samialloh, tiasa lancar ngaimaman.
Wengi ieu kapaksa kedah nyarengan dunungan, calik dina korsi nu teu patos caang. Saurna téh, “Réncangan sakedap nya Bah, ulah kamamana, calik waé bari ngaleueut.”
Mung unggeuk nu tiasa kapihatur, padahal dada ngaguruh haté tagiwur. Ningali barudak beunceuh bobolékakan ngalangkung payuneun raray. Kirang bahan, kaluhur kahandap. “Astagfirullohal adzim” mung istigfar nu teu liren di dawamkeun.
“Om ikut duduk ya bentar” ujug – ujug soanten halimpu kadangu, bréh dipayuneun aya bidadari sampulur tur rancunit. Soca olohok raga teu walakaya. Sieun nu teu aya papadana, sieun nyaah sapertos baheula nu tungtungna janten sangsara. (AKW).
Rapat malam di Hotel Pullman, jangan lupa sruput kohitala gratisan tapi elegan.
Capucino Pullman Hotel Jakarta / Dokpri.
JAKARTA, akwnulis.com. Sebuah catatan dalam rentang waktu tertentu pasti dibatasi oleh sesuatu objek yang jelas sehingga sebagai penanda menjadi satu kepastian memori dan memudahkan untuk mengingatkan kembali. Sebagai kelanjutan petualangan menikmati sajian kopi kali ini tidak lepas dari catatan terakhir tentang NGOPI DITAHURA & SABILULUNGAN.
Tuntas di acara tersebut bukan berarti kegiatan selesai karena raga ini harus bergerak dan meluncur ke kota jakarta untuk memenuhi penugasan selanjutnya. Tidak ada kata lain selain berangkaaaat…
Perjalanan sore hari menuju jakarta relatif lancar dan tidak terlalu banyak hambatan. Hanya kepadatan di sekitar tol cikampek KM54 saja. Selanjutnya waktu tempuh relatif normal hingga memasuki tol kota. Seperti biasa padat merayap dan kesabaran menjadi kuncinya. Lalu bundaran besar semanggi hingga akhirnya mencapai bundaran Hotel Indonesia dan memgikuti arus kendaraan yang ada akhirnya bisa tiba di hotel pullman thamrin tempat penyelenggaraan acara, meskipun ada sedikit drama karena harus putar – putar jalan dulu karena ternyata akses masuk hotelnya dari belakang dan terlewati.
Ini mesin kopinya / Dokpri.
“Ya sudah, jadikan pengalaman untuk lebih fokus dan teliti” begitu petuah bagi diri sendiri dan sesama rekan yang membersamai.
Masuk lobi dan diarahkan naik ke lantai 2 dimana disambut dengan meja registerasi bin absensi tetapi tidak langsung berkegiatan karena dipersilahkan dulu menikmati sajian makan malam, Alhamdulillahirobbil alamin.
Disinilah batasan awal cerita kopi kali ini, karena pada saat berkeliling langsung bersua dengan mesin kopi yang komplit dan otomatis dengan petunjuk yang mudah dan tentunya kopi dan susunya penuh sehingga tinggal pencet pencet tombolnya saja. Tombol capucino yang menjadi pilihan pertama. Tunggu sesaat lalu cangkir terpenuhi dan bersiap dinikmati. Tapi tidak lupa ada hal penting yakni photo dulu, sruput nanti tapi dokumentasikan yang pasti.
Cetrek! Cetrek!
Sebuah karya seni di lt2 / Dokpri.
Sruput perlahan menjadi sebuah kenikmatan secangkir kohitala. Memang capucino ada susunya tetapi perbandingan kopinya jauh lebih banyak. Terpenting harus diingat adalah hindari gula nikmati kopinya. Apalagi di hotel Pullman, kesempatan ini menjadi momen langka karena setelah acara pasti keluar hotel dan mencari hotel sesuai standar yang ditentukan.
“Apakah lebih enak kopi di hotel Pullman pak?” Sebuah pertanyaan menyasar diantara kesibukan meeting malam ini, tentu jawabannya sederhana, “Alhamdulillah, enak dong”
Saya selalu berusaha menikmati secangkir kopi tanpa gula itu dari berbagai sisi dan itulah yang harus dimaknai dan disyukuri sehingga pilihan sedehananya hanya dua, kopi enak dan enak sekali. Kali ini karena berbasis mesin kopi tentu ada standarnya berbeda dengan penyeduhan manual yang bisa beraneka rupa cara serta hasilnya. Maka pilihan capucinno ini dilanjutkan dengan yang murni kopi saja yakni espresso. Cairannya sedikit tapi rasanya begitu mantabs dirasa dimulut dengan body strongnya yang membuat ‘beunta’ lebih lama.
Meeting malam hari / Dokpri.
Berulah setelah secangkir capucino dan secangkir espresso masuk ke dalam raga, meeting malam ini dimulai. Lumayan bisa membuat mata ini tetap terjaga meskipun sang waktu beranjak menuju tengah malam untuk berganti esok hari.
Setelah meeting tuntas, bersegaralah pamitan dan keluar area hotel di daerah bundaran Hotel Indonesia ini untuk menuju daerah Halim dimana hotel itu berada. Begitulah cerita kohitala kali ini, jangan bosan ya. Besok.lusa pasti ada lagi cerita kopi dan kohitala lainnya. Wassalam(AKW).
Kesegaran alami dan kenikmatan rasa berpadu dengan meeting dan Sabilulungan.
Jembatan Tahura / Dokpri.
BANDUNG, akwnulis.com. Rindangnya pepohonan dengan kehijauan alami menyambut kehadiran diri dengan senyuman ramah tanpa tendensi. Maka tanpa ragu langkah kaki menjejak mantap menelusuri jalan setapak yang nyaman dilalui meskipun berkelok tetapi diyakini memiliki tujuan akhir yang sesuai dengan ekspektasi.
Selangkah, dua langkah dan seterusnya terasa begitu menyegarkan udara yang terhirup ke dalam rongga dada. Itulah sebuah keadaan yang tidak bisa ditemukan dalam rutinitas sehari-hari yang berkelindan keluar masuk gedung serta ruangan berdinding yang terkadang mengurung kita tanpa disadari. Sementara sekarang ini tarikan nafas bisa begitu bebas meraup oksigen yang ada dan menyegarkan raga kita juga membuat otak kembali gembira tanpa memikirkan masalah yang ada.
Setelah berkelok dan jalan setapaknya sedikit menurun maka bersua dengan jembatan besi kecil berwarna hijau dibawahnya terdapat sungai kecil atau lebih tepatnya parit dengan airnya yang cukup deras bergerak menuju kolam raksasa berupa danau buatan yang semakin memperindah kawasan ini. Ada juga seorang bapak dibawah jembatan sedang menikmati kebahagiaan hidup versinya dengan berdiam tenang memandang permukaan air sungai dan tangan kanannya waspada memegang alat pancing dalam kerangka menolong ikan yang tenggelam alias memancing ikan hehehehe.
Barista sedang beraksi / Dokpri.
Perjalanan masih berlanjut karena jalan setapaknya terus mengular dan banyak pencabangan. Tetapi dengan insting dan petunjuk arah maka bisa sampai di tempat yang ditentukan sesuai waktu yang direncanakan. Apalagi ada petunjuk khusus yang begitu mudah dikenali yakni keharuman seduhan kopi manual yang semerbak menembus udara dan menelusup diantara dedaunan.
Yes, ada kohitala disana.
Benar saja, mendekati lokasi acara sudah terlihat patung bapak Ir H. Juanda menyambut di boulevard dan disamping kiri sebuah aktifitas yang begitu didamba telah hadir. Sang barista dengan seragam putih hitamnya lengkap dengan papan nama dan emblem korprinya sedang menyeduh kopi secara manual menggunakan metode filter V60 juga tersedia mesin kopi espresso base bagi penyuka latte, capucinno dan americano.
Patung Ir. H. Juanda di Tahura / Dokpri.
“Alhamdulillahirobil alamin, pak pesen satu, manual brew V60 hot ya”
“Oke pak, silahkan ditunggu” begitu ramah barista menyambut permintaanku sementara tangannya terampil menyiapkan peralatan perangnya dan memilih biji kopi yang tersedia.
“Mau biji kopi apa pak?” barista bertanya.
“Yang rekomended dari aa barista aja, apa sebaiknya untuk diseduh pake V60?” Menjawab tapi balik bertanya.
“Saya pilihkan biji kopi arabica palasari ya pak, dijamin cocok”
Secangkir Capucino / Dokpri.
“Baik pak, terima kasih, ditunggu racikannya” sebuah senyuman hadir dan dengan excited melihat bapak barista ini mengolah kopi, menggiling, menyeduh membuat ektraksi menjadi sebuah atraksi yang hadirkan sensasi dan sebuah philosopi bahwa ‘Sebuah proses yang terlihat lama adalah untuk hasilkan asa dan rasa yang ssmpurna’. Itu buat penikmat kohitala versi manual. Kalau untuk penikmat kopi instan mungkin berbeda, tetapi tidak perlu khawatir kawan karena perbedaan itu adalah anugerah.
Akhirnya secangkir plastik eh cangkir kertas berisi kopi manual brew V60 telah hadir di hadapan dan pelan tapi pasti langsung di eksekusi… hmmmm segar dan nikmat kawan. Bodynya yang lembut, acidity sedang serta aftertaste fruttynya melengkapi keceriaan acara hari ini.
Khusuk menyimak arahan / Dokpri.
Tak lupa juga meminta versi esspreso basenya yakni secangkir capucino sehingga lengkap sudah sajian kohitala kali ini. Baik versi kopi seduh manual juga kopi pakai mesin. Hidup ngopi, srupuuut.
Alhamdulillah kebahagiaan yang sederhana dilanjutkan makan siang bersama dan menghadiri rapat pimpinan di alam terbuka tak lupa menyaksikan para pejabat tinggi pratama para eselon II menandatangani shadow target dan diakhiri dengan sebuah kebersamaan menyanyikan lagu sabilulungan.
Para JPT eselon II nyanyi Sabilulungan / Dokpri.
Sebuah lagu tanah pasundan yang diciptakan maestro sunda Mang Koko, menjadi satu cara untuk kembali merekatkan kebersamaan dalam ngaheuyeuk dayeuh ngolah nagara dari bapak Sekretaris daerah dan Penjabat Gubernur Jawa barat saat ini. Bagi yang penasaran ingin melihat para gegeden bernyanyi bersama, kebetulan penulis merekamnya dan disimpan di platform youtube, silahkan klik saja SABILULUNGAN RAPIM ESELON II.
Demikianlah perjalanan memaknai waktu kali ini, meskipun masih enggan raga ini beranjak dari keintiman pepohonan dan kedamaiam dedaunan tapi tugas selanjutnya memaksa raga ini bergerak berpisah dengan tahura. Sampai jumpa di cerita selanjutnya, Wassalam(AKW).
BANDUNG, akwnulis.com. Ternyata seiring waktu berjalan banyak hal yang trlah dilalui dan dijalani. Tentu campur aduk sebegaimana konsepsi kehidupan yaitu antara suka dan duka seperti hadirnya malam untuk melengkapi siang sebagai pasangannya. Banyak hal yang sudah dilalui tentu terekam jelas dalam ingatan dan juga sanubari, apalagi jika kejadiannya bermakna mendalam dan spesial. Tentu semakin terngiang dan selalu hadir dalam ingatan.
“Bagaimana dengan rutinitas ataupun hal – hal sederhana yang sudah dilalui, apakah ingat semuanya?”
Disinilah letak perbedaan satu sama lain meskipun yakin secara umum banyak hal sederhana atau dianggap sederhana dalam keseharian terutama urusan rutinitas terlewati begitu saja dan terlupakan, seolah itu adalah hal biasa. Padahal menurut penulis, semua momentum kejadian kehidupan itu tidak ada yang sederhana. Semuanya bisa terjadi atas ijin Allah Subhana Wataala. Sehingga sebagai hambanya yang tak berdaya sudah menjadi kewajiban untuk senantiasa mensyukurinya.
Raga ini bersama jemari berusaha menuliskan ini adalah bagian dari rasa syukur sekaligus juga melengkapi dokumentasi diri bahwa saat ini sedang apa, sedang memikirkan apa, sedang punya ide apa ataupun memang sedang duduk santai sambil menikmati secangkir kohitala (kopi hitam tanpa gula).
Maka saya sampaikan bahwa menyimpan memori rutinitas kehidupan sebaiknya tidak hanya dalam ingatan tetapi juga dilengkapi dengan media lain yang dengan mudah kita cari, buka dan mentafakuri kejadian yang telah berlalu tersebut. Karena kejadian yang telah berlalu langsung menjadi sejarah kehidupan kita dan tidak akan terulang kembali. Cara paling jitu adalah mensyukurinya dan jangan lupa menyimpannya dalam catatan, gambar dan video baik di media riil seperti kertas, file digital di hardisk ataupun mengumpulkannya dan mencetak menjadi sebuah buku. Bisa juga seiring kemajuan jaman adalah menyimpannya di media sosial.
‘Titip file ya‘ itu sebuah caption yang ditulis untuk membersamai puluhan photo kegiatanyang sudah dilaksanakan seseorang. Lalu muncullah klik like dan juga komentar dari postingan tersebut lalu dibalas oleh pemilik akun dan ramailah poatingan tersebut. Tetapi ada juga postingan photo yang sepi dari like, jempol dan tak ada satupun komentar. Tidak perlu bersedih jikalau tidak ada interaksi atau respon, karena kita bukan siapa – siapa. Poafing dan simpan titip di media sosial sebagai sarana pengingat memori yang akan berguna di kemudian hari.
“Media sosial apa yang ideal?”
Ini tergantung selera dan pilihannya beragam baik di facebook, instagram, twitter, tiktok hingga youtube ataupun aplikasi lainnya termasuk blog online yang bertebaran jumlah dan pilihan fiturnya.
Masih belum puas takut suatu saat lupa pasword media sosialnya ya sudah gunakan metode lama. Simpan di hardisk komputer atau eksternal dan simpan di kamar saja. Besok lusa mau lihat lagi tinggal dicolokan kabel datanya ke PC atau laptop.
Bisa juga berbagai photo jepretan smartphone kita dicetak dengan kertas glossy dan ditempelkan di album photo. Seperti masa masa yang lalu.
Termasuk menulis ini, ini adalah sarana pembelajar pribadi untuk menyimpan dokumen berupa ide, gagasan, kegalauan yang dituangkan dalam kata kata dan besok lusa menjadi dokumen pribadi yang membantu kita mengingatkan tentang berbagai hal. Bisa tulisan serius, santai atau sekedar guyon demi mengendurkan urat syaraf yang mulai menegang. Selamat menulis dan menyimpan memori anda dimanapun. Wassalam (AKW).
JAKARTA, akwnulis.com. Perjalanan visitasi terus berlanjut, setelah 2 titik adalah di Universitas Marsekal Suryadarma di kawasan Halim lalu dilanjutkan dengan visitasi ke Kantor MabesAU di kawasan Cilangkap Jakarta yang menjadi pengalaman perdana diri ini bisa masuk ke kawasan spesial yang tentu butuh ijin tertentu bagi orang biasa. Jika tidak ada urusan TP2GD tentu tidak mungkin begitu saja masuk ke kawasan ini. Kawasan yang tertata, bersih dan begitu tenang. Maka kita lanjutkan ke titik visitasi sesuai rencana yaitu ke rumah kediaman bapak Adityawarman Suryadarma dan makam marsekal Suryadi Suryadarma di Taman Pemakaman Karet Bivak.
Tetapi sebelum menuju kedua lokasi tersebut rombongan rehat sejenak karena waktu sudah menunjukan pukul 13.00 wib. Maka sesuai dengan intruksi pimpinan rombongan, kendaraan bergerak menuju salah satu rumah makan yang menjadi tujuan yaitu RM Padang.
“Sips, makan siang dulu, Alhamdulillah..”
Kohitala RM Mekar jaya / Dokpri.
Jadwal makan siang kali ini menjadi semakin lengkap karena bukan hanya makanan padang yang disajikan di meja panjang tetapi spesial requesnya yaitu segelas kopi hitam tanpa gula. Kopinya memang seadanya tetapi cukup memberikan kesempatan diri ini untuk kembali meneguk nikmatnya rasa dalam kepahitan yang merata.
Tuntas mengisi perut, maka rombongan bergerak kembali membelah kemacetan kota jakarta dengan tujuan ke rumah kediaman samsi sejarah tentang perjuangan Marsekal Suryadi Suryadarma yaitu bapak Adityawarman Suryadarma,. Beliau adalah putra dari bapak Suryadi Suryadarma yang juga meneruskan kecintaan ayahanda menjadi penerbang pilot di maskapai penerbangan sipil.
Membubuhkan tandatangan di bukunya / Dokpri.
Tiba di kediaman bapak Adityawarman dismabut dengan ramah dan berbincang santai tapi serius tentang penggalan kisah selama membersamai ayahandanya sekaligus sukaduka dalam menyusun buku biografi tentang ayahandanya. Sebuah buku dengan judul BAPAK ANGKATAN UDARA karya Adityawarman Suryadarma setebal 362 halaman yang diterbitkan KOMPAS penerbit buku sudah beberapa kali cetak ulang menjadi hasil karya luar biasa dan memiliki andil besar dalam kancah sejarah angkatan udara republik indonesia.
Sebuah kesempatan langka yang tidak bisa dilewatkan. Selain nilai silaturahmi juga belajar sejarah bangsa yang begitu penuh dinamika sehingga waktu hampir 2 jam berlalu tapi tidak ada rasa jemu. Semua antusias berbincang dan mendengarkan penjelasan bapak Adityawarman meskipun akhirnya harus berpamitan karena waktu terus berjalan dan ada satu titik tujuan lagi yang harus dituntaskan yaitu menuju pemakaman Marsekal Suryadi Suryadarma di Taman Makam Karet Bivak.
Taman Makam Karet Bivak Jakarta / Dokpri.
Tak lupa sebelum rombongan ini pamit, penulis dan rekan kami bapak Hanif menyempatkan untuk meminta tanda tangan beliau di bukunya dan berpose.
Tuntas dari rumah kediaman bapak Adityawarman maka rombongan bergerak menuju Taman Makam Karet Bivak di Jakarta pusat dan langsung mencari area mushola atau mesjid untuk menunaikan ibadah shalat berjamaah karena sudah memasuki waktu shalat dhuhur. Terdapat sebuah bangunan di area pemakaman ini yang memiliki 2 lantai. Dilantai pertama adalah ruang pamer dan menampilkan nama – nama tokoh nasional dan tokoh betawi sementara turun satu lantai adalah ruang kantor dan terdapat mushola yang bisa digunakan shalat berjamaah sekitar 20 orang.
Akhirnya setelah selesai shalat semua menuju lokasi makam marsekal suryadi suryadarma dan berdoa sekaligus memastikan keberadaan makam ini sebagai salah satu syarat penting dalam pengusulan menjadi calon pahlawan nasional yakni terdapat bukti dimana dimakamkannya.
Menuju Jogjakarta / Dokpri.
Demikian perjalanan hari pertama dalam unsur TP2GD provinsi ini. Selanjutnya perjalanan mencari dan meneliti bukti – bukti sejarah ini dilanjutkan ke kota gudeg, Jogjakarta. Agendanya esok hari dan sore ini langsung menuju bandara soekarno-hatta untuk mengejar penerbangan malam hari ke bandar udara internasional Yogyakarta di kulonprogo. Terima kasih(AKW).
Kajantenan teu disangki-sangki (kejadian mendadak)
Ilustrasi by canva – akw
Bojonghaleuang, akwnulis.com. Semilir angin pagi menemani diri untuk kembali menuangkan kata dalam sebuah cerita sederhana tapi tetap berusaha membuatnya dalam genre bahasa sunda.
Ide dasar cerita hadir dari sebuah perbincangan santai ayahanda tercinta yang selalu memiliki cerita – cerita kehidupan yang menggemaskan. Salah satunya yang tertuang dalam tulisan sunda dibawah ini.
Sebagai disclaimer tentu perlu disampaikan bahwa tulisan sunda ini bergenre fiksi atau cerita rekaan. Meskipun mungkin in-line dengan keadaan atau kejadian sehari-hari tetapi penulis bisa mengklaim bahwa cerita yang hadir 60% kisah nyata dan sisanya adalah cerita rekaan semata.
Jadi terkait pembaca mempercayai kejadian dalam cerita ini, itu silahkan karena memang seolah umum terjadi. Kalaupun tidak percaya juga tidak apa – apa. Hal terpenting adalah pembaca bisa menikmatinya dan sedikit tersenyum dalam hitungan 1 – 2 menit saja karena tulisannya dibawah 150 kata. Nggak percaya? hitung saja.
Inilah ceritanya :
Ilustrasi by canva – akw
***
Fikmin # DIGABRUG #
Keur leumpang mapay jalan gedè, peuntaseun masjid kacamatan. Kaciri dihareupeun aya pulisi numpak motor. Gebeg, inget kamari nyingcet di Cililin, pas keur pamariksaan SIM. Mèngkol ka kebon da rumasa SIM bèak, kaliwat dua warsih.
Pèk tèh nyaan, èta pulisi motorna ngadeukeutan. Bari mencrong. Duh dada beuki ratug. Beungeutna beuki ècès kaciri, enya pulisi nu kamari.
Reg motor hareupeun. Pulisi muka hèlm bari nanya, “Pak Umar?”
Uing calangap bari lalaunan unggeuk. Ujug – ujug ngagabrug pulisi tèh. Teu bisa walakaya. Geus kabayang pasti leungeunna mawa bangkol. Jiga wè nu akrab ngagabrug padahal rèk nèwak.
Pas geus pageuh nangkeup, pulisi nanya deui, “Pak Umar?” “Mmuu.. hunn”
“Alhamdulillah bapak, ieu Jaè. Murid bapak kapungkur nu bangor tèa. Tos janten pulisi ayeuna mah”
Bray rarasaan caang, kasieun ngilang. Geuning lain pèdah SIM bèak ieu mah. Alhamdulillah. Ditangkeup tipepereket pulisi tèh. Bagja.
***
Itulah cerita singkat berbahasa sunda kali ini. Salam literasi sederhana, salam konsistensi. Menulislah meskipun hanya 5 paragraf saja, tapi sudah menjadi sebuah jalinan cerita dalam fragmen kehidupan kita. Wassalam(AKW).
Diskusi di Universitas Suryadarma dan berkunjung ke MABESAU
Sambutan di UNSURYA / Dokpri.
HALIM, akwnulis.com. Ternyata di Stasiun whoosh halim cukup ramai orabg – orang yang akan berangkat ke bandung menggunakan kereta whoosh ini. Maka penulis menyesuaikan dan mencari toilet untuk sekedar usap wajah mencuci muka agar tetap segar dan berwibawa, apalagi sekarang harus menggunakan jas sebagai pakaian wajib dalam rangkaian visitasi ini.
Tak berapa lama ada kontak di smartphone dari bapak Karsim selalu Liaison officer Dispen Mabes AU. Keluar dari toilet lalu berjumpa dengan bapak LO dan mengantarkan raga ini untuk menunggu di ruang VIP bagi penumpang kereta whoosh dengat tiket VIP. Karena ternyata tim TP2GD lainnya baru berangkat dari stasiun tegalluar 45 kemudian setelah jadwal keberangkatanku, pantesan ditungguin kok nggak muncul – muncul ya?… ya sudah kita tunggu saja. Di ruang VIP sudah menunggu bapak Letkol Eko dan berbincang santai untuk persiapan visitasi kali ini.
Suasana Diskusi di UNSURYA / Dokpri.
Tak terasa waktu berjalan dan informasi terbaru bahwa tim TP2GD Jabar sudah tiba di stasiun halim dan kami bergerak menuju kendaraan Hiace yang telah stanby di area penjemputan lengkap dengan 3 orang pamen Dinas Penerangan Mabes AU berpangkat Kolonel yaitu Kasubdisjarah Dispenau Kolonel Sus Dra Maylina Saragih, Kasubdispenum Dispenau Kolonel Sus Drs Ahmad Nairiza, M.Si dan Kasubdislurja DisminPersau Kolonel Sus Dra Christiana, s.Sos, M.Si.
Sementara dari Tim TP2GD Provinsi Jawa barat cukup lengkap dipimpin langsung oleh Ketua TP2GD bapak Profesor Dr.Reiza D Dienaputra, M.Hum dan dihadiri para anggota yaitu : – Profesor Dr Ajid Thohir, M.Ag – Agus Salide, SH, M.H – Brigjen TNI (Purn) Wawan Ridwan – Kolonel (Purn) Hidayat K.N – Dr N. Kartika – Budi Sujati, M.Hum Serta dari sekretariat TP2GD provinsi jawa barat dihadiri bapak Muhammad Hanif dan Agus Syamsudin.
Rombongan beramahtamah sejenak, bersalaman, antri naik 2 unit mobil hiace, 1 mobil box dan satu unit Ertiga yang sudah tersedia dan bergerak menuju tujuan visitasi pertama yaitu Universitas Marsekal Suryadi Suryadarma.
Perjalanan tidak terlalu lama karena lokasi universitas tersebut masih di kawasan halim, tepatnya di seberang pintu masuk ke area bandara halim perdanakusuma. Setibanya di universitas suryadarma langsung disambut oleh bapak rektor beserta civitas academika Unsurya dan bergerak menuju ruang pertemuan di lantai 2. Inilah acara formal pertama dalam rangka visitasi TP2GD kali ini.
“Mengapa Universitas Suryadi Suryadarma ini menjadi penting dalam rangka pengusulan CPN ini?”
Patung Suryadi Suryadarma di MABESAU / Dokpri.
Sebuah pertanyaan sederhana tetapi memiliki jawaban komprehensif yang bernilai strategis dalam proses pengusulan calon pahlawan nasional ini. Jawaban lengkap dari ketua tim Profesor Reza jika dirangkum adalah betapa pentingnya pertemuan ini karena merupakan salah satu momen klarifikasi pembuktian terkait eksistensi Marsekal Suryadi Suryadarma dalam berbagai bidang dan dibuktikan juga dalam bentuk dokumen, monumen, penamaan tempat pertemuan, gedung serta dilengkapi testimoni dari keturunannya atau orang – orang yang pernah sejaman dengan beliau.
Di universitas suryadarma ini jelas bahwa kiprah beliau sangat luar biasa. Selain sebagai bapak pendiri dan cikal bakal AURI juga menjadi nama universitas ini dan juga terdapat artefak patung kepala di area universitas ini.
Photo bersama di Halaman MabesAU / Dokpri.
Lanjutan visitasi untuk memvalidasi dokumen, gedung, papan nama, photo, video dan artefak lainnya maka setelah tuntas dari Universitas Suryadarma atau disingkat UNSURYA maka rombongan bergerak menuju cilangkap dimana kantor Markas Besar Angkatan Udara berada. Sekaligus pengalaman berharga bagi diri ini bisa memasuki kawasan Mabes TNI, berkeliling di lokasi yang dituju. Ikut memastukan tentang nama Suryadi Suryadarma didedikasikan sebagai nama gedung utama Mabes TNI AU serta terdapat pahatan patung kepala yang begitu berwibawa di lobby ruang utama Mabes TNIAU Cilangkap Jakarta.
Halaman MABESAUDiskusi bersama
Tidak lupa di halaman luar gedung Mabes TNI AU kembali berphoto bersama dan menikmati suasana halaman Kantor yang asri bersih tertata serta lapangan upacara berlantai warna metah menyala diapit oleh semburan air mancur yang megah dan gagah. Di seberang depan terlihat juga salah satu sisi dari halaman dan gedung Markas Besar TNI ANgkatan Laut Republik Indonesia. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, rombongan kembali bergerak ke titik visitasi selanjutnya yaitu rumah kediaman anak pertama dari Bapak Marsekal Suryasuryadarma yakni bapak Adityawarman Suryadarma. (AKW).
PADALARANG, akwnulis.com. Pagi yang cerah mengantarkan raga ini menuju stasiun padalarang di bandung barat. Tujuannya tentu untuk menikmati kembali kecepatan dan kemajuan negeri ini dari sisi transportasi publik dengan menaiki Whoosh kereta cepat jakarta bandung dalam rangka tugas yang diembankan. Sebetulnya tim yang berangkat 11 orang, tetapi mayoritas berangkat dari stasiun Tegalluar Gedebage Bandung yang juga menjadi stasiun pemberhentian akhir kereta Whoosh ini.
Hadirnya raga ini adalah untuk Mewakili Ibu Kepala Dinas sosial provinsi Jawa barat sebagai wakil pengarah TP2GD (Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah Provinsi Jawa barat dalam rangka Visitasi pengusulan Calon Pahlawan Nasional Marsekal Suryadi Suryadarma bersama para pejabat dari Dinas Penerangan Markas Besar Angkatan Udara Republik Indonesia.
Pelaksanaan Visitasi ini dalam rangka melihat, memverifikasi dan memastikan secara langsung bangunan, artefak, benda, makam, patung, gedung pertemuan hingga saksi hidup dari perjuangan calon Pahlawan Nasional Marsekal Suryadi Suryadarma dilaksanakan selama 3 hari yaitu tanggal 02 mei 2024 sampai dengan tanggal 4 mei 2024.
Maka cerita pertama ini adalah pengalaman awal untuk memulai perjalanan visitasi ini. Whuuush whuss whuuus…..
Pilihan menu di kereta whoosh / Dokpri.
Proses masuk kereta menjadi hal biasa karena sudah serba digital. Tiket dalam bentuk barcode sudah dicapture di smartphone. Masuk ruang stasiun menuju lantai 2 keberangkatan dengan eskalator dan sejenak mampir di toilet untuk sekedar mencuci muka dan sedikit kencing. Tak berapa lama pengumuman untuk bersiap menuju kereta maka kaki bergegas, mendekati tempat gate pemberangkatan. Tempelkan barcode tiket tadi di gate, tring pembatas terbuka dan kita melenggang masuk. Langkah belum selesai karena harus naik ke jembatan penyebrangan tapi tidak usah berkecil hati karena ada 2 pilihan. Pertama dengan tangga biasa dan kedua menikmati eskalator.
Tiba di atas jembatan penyebrangan, kembali berjalan kaki dan bisa melihat dibawah kita rel kereta mengular membentang panjang hingga menghilang di tikungan. Lalu kita turun lagi di sisi lain dan bersiap menunggu kedatangan kereta. Jangan khawatir harus menunggu dimana dan menghitung kira – kira pas nggak berdirinya. Tinggal lihat tiket elektronik kita, baca gerbong berapa. Lalu lihat di lantai tempat kita menunggu, sudah ada tulisan digrafir dilantai semua petunjuk gerbong sesuai pemberhentian kereta whoosh dari gerbong 1 sampai akhir. Berdirilah disitu sesuai nomor gerbong kita.
Memasuki gerbong disambut senyum dan gestur keramahan petugasnya lalu duduk sesuai nomor kursi dan bersiap menikmati perjalanan. Ada satu saran, jika sudah duduk dan kereta whoosh bergerak ternyata ingin ke toilet bersegeralah. Apalagi jika ingin buang air besar dan perut mules, karena perjalanan ke jakarta dari padalarang hanya sekitar 25 menit saja. Khawatir kita masih ngeden karena mules, ternyata kereta whoos sudah sampai di stasiun halim jakarta hehehe.
Ruang Keberangkatan di stasiun Halim / Dokpri.
Oh iya perjalanan menaiki kereta Whoosh kali ini terasa lebih lengkap karena kereta makan atau gerbong restonya sudah berfungsi dan pilihan menunya ada di selipan kursi masing – masing yaitu dari Indomaret poin. Berbagai pilihan menu minuman dan makanan teredia. Maka memesanlah atau datang langsung ke gerbong restonya yaitu di gerbong ke-5 rangkaian kereta whoosh ini. Selamat mencoba.
25 menit berlalu dan akhirnya mendarat eh tiba di stasiun Halim dengan selamat. Bergegas keluar dari rangkaian gerbong kereta whoosh dan menuju eskalator turun satu lantai menuju area kedatangan. Ternyata suhu diluar cukup panas sehingga diputuskan untuk beristirahat sejenak di area keberangkatan stasiun Halim sambil menunggu petugas dari Mabes TNI AU datang menjemput dan mengarahkan. (AKW).
CIMAHI, akwnulis.com. Melanjutkan dan menjaga sebuah kebiasaan baik memang memerlukan perjuangan. Tetapi manakala semua itu dijadikan rutinitas dan juga dengan target minimal dipertahankan kebiasaan itu, maka sebuah prestasi akan dihasilkan. Sebagai seseorang yang ngaku – ngaku penulis padahal hanya senang saja mengolah kata memainkan kalimat tentu perlu pembuktian meskipun sederhana. Salah satunya adalah sesuatu yang dihasilkan, sebuah karya. Meskipun sederhana tetapi ada bentuknya.
Agar karya ini tidak mudah dilupakan ataupun hilang, maka pendokumentasian dan pengarsipannya menjadi tantangan tersendiri. Begitupun diri ini dengan segala keterbatasan baik waktu, ide dan juga anggaran tentu punya cita – cita untuk kembali membuat buku pribadi. Tapi apa mau dikata, sementara harus puas dengan buku antologi saja.
Di awal tahun 2024 sudah hadir buku antologi berjudul ‘SINFONIA YANG TERKENANG” dan di bulan april 2024 ini kembali terbit buku kumpulan cerita di bulan ramadhan 1445 hijriah dengan tema kejadian khusus yang dilakukan oleh masing – masing penulis dan dituangkan dalam buku ini dengan judul’POTRET RAMADHAN – Kenangan kebersamaan yang tak lekang oleh waktu.”
Tulisanku di halaman 163 / Dokpri.
Di halaman 163 tulisanku hadir, bercerita singkat tentang kelakuan anak kecil di sebuah kampung didekat kaki gunung yang begitu antusias menyambut berakhirnya bulan ramadhan di malam takbiran dan terjadilah insiden yang tak terlupakan.
Selamat pagi. Selamat berkarya.
Itulah mantra sederhana yang selalu menjadi bara semangat dalam menjaga konsistensi menulisku. Wassalam(AKW).