Kopi Sidak.

Sidak bocor, jadi weh…

Photo : Kopi sidak / dokpri

GARUT, akwnulis.com. Secangkir kopi hitam hadir menyambut kedatangan incognito ini. Nangkring dengan manisnya dan posisi presisi dengan nama lembaga keuangan yang di datangi, bisa-an ih. Padahal sebuah sidak itu seharusnya bersifat tertutup dan rahasia, tapi ternyata bocor juga hehehehehe.

Sebelum kopi hitam ini disruput, tentu penasaran juga, siapa pembocor informasi ini. Di tracking di otak, kira-kira siapa sambil tetap pasang wajah garang, khan mau sidak alias inspeksi mendadak…. hati-hati, bukan infeksi mendadak ya bro.

Sebelum amigdala dan neocortec kompromi tentang siapa pembocor kunjungan ini, sebuah wajah yang cengar cengir menuju pengakuan datang mendekat dengan sebuah proposal permohonan maaf, “Punten pak, takutnya klo nggak di kasih tau, mereka pada nggak ada”

Garuk-garuk kepala jadinya. Konsep yang disusun buyar.

Ya sudah, gepepe

Tapi, nggak ada salahnya juga khan. Inisiatif rekan kerja untuk memberitahukan kehadiranku berbuah sambutan manis si kopi hitam. Juga kehadiran lengkap manajemen puncak dari PT LKM Garut di kantor barunya.

Sruput dulu guys, Kopi asli garut tanpa gula. Arabica Cikurai, ceunah. Pahitnya menggoyangkan lidah dan memberi sensasi kegetiran yang mengingatkan diri bahwa dibalik kepahitan ini tetap terwujud rasa syukur yang tiada hingga. Sambil ngaca, lihat wajah dan body yang makin manis ini juga sudah cukup kok, srupuut lagi ah.

Yuk, kita lanjut sidaknya…. Cekidot. Wassalam (AKW).

Sunrise di Hutan Bakau Pantai Mundu.

Mengejar Sunrise sendiri di Hutan Bakau.

CIREBON, akwnulis.com. Tatkala mentari hadir di garis cakrawala, di situlah salah satu keindahan dunia hadir untuk menentramkan rasa. Apalagi jauh dari hiruk pikuk pembicaraan, bisingnya lalu lalang kendaraan ataupun teriakan perselisihan termasuk bisikan unfaedah yang terkadang tumbuh menjadi gosip yang menjatuhkan.

Memang perjalanan pagi ini berliku dan tidak direncanakan, tetapi takdir tuhan adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dihindarkan.

Memasuki jalan kecil alias gang sesuai arahan gugelmep tidak jadi halangan, ternyata jalan hanya cukup satu body mobil sehingga dibelokan pertama terpaksa berkeringat karena harus manuver maju mundur di belokan yang super sempit.

Photo : Mentari mengintip / dokpri.

Berhasil disitu dilanjutkan menyusuri jalan gang padat penduduk, hingga menerima tatapan heran warga yang melihat mobil maksa masuk ke wilayahnya… tapi tanggung ah, lanjutkaaan… moga moga ada sesidikit tanah lapang di dalam sana.

Benar saja, jalan semakin mengecil dan pas bodi mobil… pengen nangis tapi gengsi, pedal gas tetap diinjak dan, “Krek!”… “Adduh” body kiri nyangkut di beca yang lagi santai di depan rumah. Apa daya maju kena mundur kena, ya udah maju ajah….. kreek.. srett.. oh terasa sobekannya menyayat hati, mengucur darah kesedihan akibat tidak teliti dan kesembronoan.

Tapi, itu pilihan yang harus diambil kali ini. Maafkan semuanya. Besok lusa ke sininya pake motor atau sepeda saja.

Setelah berbasa basi sejenak dengan seorang ibu pemilik rumah, mobil dijugrugin parkir disamping lapangan dan bergegas menuju pantai mengejar hadirnya mentari melewati batas cakrawala.

Alhamdulillah, kehadiran yang tepat waktu sehingga bisa menghasilkan gambar sesuai harapan dan doa. Sebuah siluet sunrise yang ditemani dengan kesunyian adalah treatmen diri yang mendamaikan.

Lalu sambil mengumpulkan keberanian memasuki hutan bakau Mundu ini dengan kegelapan memudar karena cahaya pagi sudah mulai hadir. Meskipun tetap saja suasana sepinya cukup membangunkan buku kuduk. Jangan takut, baca Basmalah dan bergeraklah.

Menapaki jalur jalan dari serpihan kayu yang ditata rapih, tetap saja harus hati-hati jangan sampai terjerembab ke lumpur pantai yang lumayan 1 meter hingga 2 meter dibawah sana. Asli suasana sunyi, dan… sedikit menegangkan.

Alhamdulillah tiba juga di tepi pantai dan bisa bercengekrama dengan sunrise sepuasnya ditemani tarian pucuk pohon bakau yang hijau menenangkan. Photo sana sini dan sesekali mencoba photo selpi sebagai bukti jikalau ada yang nggak percaya karena mengusung aliran NPH (No Photo, Hoax).

Rekomendasi klo moo cari vitamin Sea disini lebih aman pake motor atau sepeda, sehingga aman menyusuri jalan sempit dan gangnya. Tapi kalau maksa pake mobil ya lebih baik simpan di pinggir jalan besar dan jogging sekitar 1 km ke arah pantai.

Photo : Sunrise dance / dokpri.

Selamat pagi semua, Vitamin Sea kali ini sangat memuaskan karena bisa dinikmati sendiri dan kesendirian. Memang butuh perjuangan tetapi hasilnya luar biasa menguatkan jiwa dalam mensyukuri karunia Illahi sekaligus mewarnai tujuan pencarian makna kehidupan yang hakiki. Wassalam (AKW).

***

Lokasi :

Hutan Bakau Pantai Mundu Cirebon
Jawa Barat.

Algoritma Specialty Coffee.

Karena Algoritma, kita bersua.

CILEUNYI, akwnulis.com. Dikala jemari menari di keyboard virtual smartphone, sebuah algoritma mengintai tanpa disadari. Merekam jejak digital kita dan mengambil kesimpulan canggih bahwa sebuah minat telah tertata dan mengerucut menjadi segmentasi yang bisa disuguhi janji berupa iklan ataupun penawaran sesuatu yang menarik hati (Iya… itu maksudnya iklan cuy).

Memasuki ranah media sosial seperti stalking status instagram, geser noongin status whatsapps orang lain, hingga dilanjut berselancar di lama facebook dan ujung-ujungnya ikut bergoyang di aplikasi tiktok… sang algoritma mengintai kawan.

Di laman facebook dan instagramlah hadir secara silent tetapi presisi untuk menarik minat dan hati dalam bentuk iklan yang ‘sesuai dengan kebiasaan kita’…. tiap individu beda-beda. Itulah kehebatannya.

Nah jemari inipun terpaku oleh sebuah iklan di facebook yang memang menarik hati, apalagi setelah sebulan lalu bulan september mengikuti PUKOTAPTI (puasa kopi tanpa alasan pasti) alias berhenti total menikmati kopi selama sebulan dan tanpa alasan, pokoknya pengen berenti aja, titik.

Kok bisa?”

“Ya bisa atuh, ini kenyataannya bisa kok”

Kembali ke iklan tadi, yaitu sebuah penawaran produk kopi siap saji yaitu menggunakan metode cold brew. Dikemas pake botol yang gaul dan menggunakan biji kopi pilihan dengan label specialty coffee dan diolah dengan fermentasi maksimal sehingga menghasilkan biji kopi wine…. wah menarik nich, patut dicuba… eh dicoba.

Jempol seakan paham bisikan hati, tanpa banyak pertimbangan langsung klik order, klik isi form pemesanan, dapet balasan via whatsapps musti bayar ke rekening mana… daan otomatis klik mobile banking, tring… transfer terjadi dan di menit berikutnya notifikasi hadir dan barang siap kirim…. ajaibbb…. sebuah rasa syukur menyeruak, semua kemudahan ini hadir atas ijin perkenan dan rahmat Illahi Robb.

***

Tak sampai 24 jam, pesanan kopi spesial ini datang seiring teriakan khas, “Pakeeeet

Langsung dusnya dibuka, ternyata dipacking rapih lengkap bubble wrap untuk melindungi botol -botol tak berdosa ini… (naon siih). Botol berisi cairan kopi siap saja, kopi murni tanpa gula, tanpa susu, tanpa madu, tanpa pemanis apapun….. karena sesuatu yang pasti, sang calon peminumnya ini sudah maniiiez… ahaay.

Cold brew winety, itu nama pemasarannya kawan. Eh salah ding, itu adalah label dari perusahaan yang bikinnya, lokasinya di Lembang – Bandung Barat (soalnya di tanya dulu via WA, eh ternyata masih di bandung yang bikinnya). 1 botol isinya 250 ml, 4 botol berarti 1 liter “Nah klo 4 liter berapa botol?”…. halah kok jadi tanya jawab perkuisan seeeh…..

Hayu kita nikmati. Ambil gelas kaca mini kesayangan, currr.. dituangkanlah cairan kopi ini dan… srupuuut.

Woiiih enaak, aciditynya high alias keasaman tinggi, kurang cocok untuk pemula, apalagi yang punya penyakit lambung, khawatir lambungnya kaget dan berteriak hehehehe.

Bodynya sih medium, lebih didominasi oleh keasaman hasil fermentasi bijinya dan aftertastenya…. eummm bentaar… semoga tidak salah, rasa dominannya tamarind, ditemani selarik cocoa dan kacang tanah (duh sotoy kayak expert aja, padahal cuman mencoba jujur melalui lidah ini)… moo percaya monggo, moo enggak juga egepe, ikhlas kok.

Jadi untuk penikmat pemula mah produk ini belum recomend karena keasaman yang mengagetkan. Kalaupun mau nyoba pelan-pelan, setetes demi setetes lama-lama jadi mau. Klo buat penikmat kohitala garis keras, ini bisa jadi pilihan bagi pengusung kepraktisan. Tinggal sruput atau simpan dulu di kulkas untuk di sruput kemudian.

Selamat pagi, selamat order dan selamat menikmati efek iklan algoritma yang bisa membaca kebiasaan kita.

Klo rutin posting, bahas, search, nulis dan hal-hal tentang kopi maka algoritma bekerja memghasilkan sajian iklan produk kopi yang menarik hati.

Beda lagi kalau kita rutin berselancar dengan pilihan kata tertentu, maka iklan yang hadirpun segmentasinya tertentu. Jadi jangan salahkan laman website jikalau muncul iklan obat kuat atau judi online, tapi introspeksi diri saja karena algoritma susah berbohong.

Selamat Ngopay kawan, Wassalam (AKW).

DISADA – fbs

Geuning disada waè…

Photo : Mic Karaokè gaul / doklang.

fbs : fiksimini basa sunda, sebuah karangan cerita fiksi sederhana dan pendek. Makaimal 150 kata sudah membangun sebuah cerita.

***

DISADA

“Abaah… Abaah, gugah, èta soanten naon gandèng” Gorowok jikan ngaruntuhkeun impènan, hudang saharita. Rungah ringeuh, nèangan asal sora.

Lampu pangkèng dicetrèkeun, bray caang. Hapè tujuh ditempoan, pareum kabèh. Tapi sora aya kènèh, “Blutut on… blutut on” meuni tarik naker nepika saimah-imah hudang, barudak ngariung ogè jikan jeung rèncang.

Blutut on!”

Pèk tèh geuning tina mic karaokè gaul nu aya blututan. Teu antaparah deui, di pareuman. Jempè saharita.

Karèk gè rèk reup, mic disada deui, “Blutut on… blutut on”.

Haram jadah, ngaganggu waè ka Aing” langsung mic dicekèk, batrèna dipurak. Di teundeun misah di mèja ruang tamu, karèk jempling.

Alhamdulillah, Ayeuna bisa nuluykeun sarè.

Na atuh kakara rèk ngimpi deui, barudak ribut di kamar hareup. Teu loba carita, langsung kaluar. “Aya naon deui?”

“Itu….” Si cikal nunjuk kana mèja, kaciri mic jeung batrè ngagolèr misah. Tapi masih disada, “Blutut on…”

Ngarèrèt kana wèker gigireunna, jarum jam ngarangkep, jam 00.00 wib. Euh. (AKW).

Berubah…

Sekedar curhat dalam suasana perubahan.

BANDUNG, akwnulis.com. Dikala pandemi mengungkung negeri, disitulah segala perubahan terjadi. Sebagai mahluk tuhan yang tidak abadi maka bersiaplah berubah sebelum nanti akhirnya mati.

Suasana banyak berubah disertai disana sini muncul keluh kesah. Sejumput resah bergulung menjadi gelisah, dengan pertanyaan yang sama, berharap semua kenyataan ini segera kembali indah meriah.

Tapi, perkembangan hari ke hari, jauh harap dengan kenyataan hati. Disinilah semua mahluk diuji, apakah menggunakan kacamata bersyukur dan meyakini bahwa ini adalah skenario Illahi atau malah mencari pembenaran dan menunjuk suatu pihak yang melakukan kesalahan.

Pilihan berada ditangan kita. Karena merespon kejadian adalah hak masing-masing. Silahkan nilai dan tanggapi bahwa ini adalah momen untuk menyesuaikan diri dan belajar menerima kenyataan atau malah semakin terpuruk dalam ketidakberdayaan terkungkung pola pikir yang enggan berubah.

Pilihan di tangan kita, karena perubahan itu nyata. Wassalam (AKW).

Kopi Buhun yuk.

Menjaga imun, minumlah kopi sambil cingogo…

Photo : Kopi Buhun ditubruk pelan-pelan / dokpri.

SUMEDANG, akwnulis.com. Gemericik air yang bercengkerama dengan bebatuan menciptakan musik alami yang menenangkan hati. Di tengah kehijauan suasana yang mengantarkan rasa lebih tenang dan lebih damai dalam suasana kegalauan yang tak berhenti.

Yup, gejala Cabin Fever alias kesuntukan karena terpenjara suasana dan keterbatasan beredar akibat penyebaran covid19 menimbulkan stres tersendiri dan merasa terkotakkan dalam kabin atau ruang sendiri dimana sejatinya manusia adalah mahluk sosial yang gemar dan (harus) berkerumun serta bergaul, apalagi anak gaul heuheuheuheu….. maka mlipir sedikit ke tempat yang menyejukkan adalah jawaban atau obat penyembuhan setelah 7 bulan ini terkurung oleh ketidakpastian.

Sebagai pelengkap dalam mengobati rasa terasing ini maka kembali sajian kopi hitam tanpa gula adalah kawan sejati. Sebulan lalu dicoba dilupakan alias berhenti minum kopi tanpa alasan jelas, kali ini kembali menemani perjalanan kehidupan yang penuh dinamika.

Meskipun belum bisa berkerumun dan ngobrol ngaler ngidul sambil tertawa-tawa, minimal suasana alami yang berbeda ini memberikan ketenangan dan kesadaran bahwa nikmat hidup ini adalah salah satu nikmat dari Illahi Robb yang wajib disyukuri dan ditafakuri.

Secangkir kopi hitam tanpa gula yang masih mengepulkan asap kenikmatan ini adalah kopi buhun Rancakalong yang digiling manual oleh Juragan D dan dilakukan seduhan manual dengan metode kopi tubruk depan depan kecepatan pelan-pelan… naon siih….

Maksudnya kopi tubruk mas bro.

Dengan cangkir jadul yang mengingatkan suasana masa kecil yaitu cangkir kaleng berkelir corak putih hijau, cocok pisan dengan birunya dedaunan dan keputihan alami…. halah kok keputihan… maaf, maksudnya putih alami awan di langit sanah heuheuheu.

Tak lupa, secangkir kopi panas sebelum diseruput, biarkan berpose diatas batu sungai. Bergabung dengan gemericik irama alam dan ditemani gerakan lincah ikan kecil yang berenang disekitaran.

Srupuut….. woaaah panasnya air telah berubah menjadi rasa yang menenangkan. Body kopi medium dengan acidity tahap menengah serta diakhiri after taste fruitty yang hadir selarik ditambah tamarind dan sejumput rasa lemon…. enak euy. Sambil cingogo eh jongkok diatas batu sungai, bagaikan masa lalu di kampung halaman manakala kebelet buang hajat di dekat sungai…. carilah tempat strategis diatas sungai.. dann… berjongkoklah dengan bersahaja.

Selamat menyeruput kopi guys… srupuut… nikmaat. Wassalam (AKW).

Hari Kopi Dunia.

Met Hari Kopi Dunia Guys.

Photo : Kopi Tubruk berlatar Alam / dokpri.

PUNCAK, akwnulis.com. Sebuah pesan whatsapps mengingatkan dengan sebuah ucapan ‘Selamat hari Kopi Dunia tanggal 1 Oktober 2020‘…. waah ternyata hari kopiii, level dunia lagi. Tentu dijawab dengan sukacita dan ingin segera merayakannya.

Tapi…. tunggu dulu, tabayun itu penting bro, cek and ricek. Segera dibuka buku RUPL (Rangkuman Umum Pengetahuan Lengkap) …. ketahuan deh umur klo masih buka buku RUPL yang berisi seantero pengetahuan dan menjadi bukubsakti rujukan pada jamannya. Padahal sekarang tinggal buka mang gugel dan baca – pilah dan baca.

Dari penelusuran singkat via laman wikipedia dan beberapa artikel tentang asal muasal kopi belum ada data akurat. Ada yang menyebut berasal dari ethiopia benua aprika untuk pertama kali jaman ethiopia kuno oleh seorang penggembala bernama Kaldi dan ada juga pendapat bahwa diawali dari cerita tentang Legenda dari Yaman menceritakan bahwa dahulu mistikus sufi Yaman Ghothul Akbar Nooruddin Abu al-Hasan al-Shadhili sedang melakukan perjalanan melalui Ethiopia*).

Selanjutnya disepakati oleh Organisasi kopi Internasional pada 1 oktober 2015 di Kota Milan Italia untuk diperingati tanggal 1 sebagai hari kopi dunia dengan tujuan untuk mendukung para petani kopi dunia semakin berkembang **).

Nah jikalau dunia itu memperingatinya tanggal 1 oktober maka di sini, Indonesia bertepatan juga dengan hari kesaktian Pancasila, sebuah tanggal yang menjadi kebanggaan bangsa indonesia yang berhasil menyelamatkan Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari gerakan Komunisme.

Trus indonesia memperingati hari kopinya kapan?”

Cari lagi, eh nongol info, bahwa hari kopi indonesia itu diperingati tanggal 11 Maret guys… atuh bertepatan dengan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret)… asa nyarambung yach.

Yang paling penting adalah bagaimana memaknai kehadiran kopi ini menjadi momentum rasa syukur kepada nikmat Illahi. Apalagi jikalau ngopinya itu tidak hanya segelas kopi hitam saja, tetapi dimana kita ngopinya, bagaimana pemandangannya, keren nggak penyajiannya, atau manis nggak yang menyajikannya… ups… nggak boleeeh.

Photo : Lanscape pegunungan yang menenangkan / dokpri.

Sebagai rasa sukacita di hari kopi sedunia maka ijinkanlah kami memposting sajian kopi berlatar belakang kehijauan dan punggung gunung penuh pesona. Memanjakan mata, mendamaikan hati dan memberi jawaban atas kehausan addict sruput kopi selama ini.

Biarpun bukan kohitala dengan manual brew V60 atau shiffon dan juga vietnam drif tapi (hanya) secangkir kopi tubruk… lihatlah berlatar belakang pemandangan indahnya, ini adalah sebuah kenikmatan tak terperi yang wajib ditafakuri.

Selamat Hari Kopi Dunia dan Selamat atas Saktinya PANCASiLA. 1 Oktober 2020, Wassalam (AKW).

***

Sumber :

*)https://www.kompas.com/food/read/2020/09/30/183818975/hari-kopi-sedunia-ketahui-sejarah-munculnya-kopi-di-dunia?

**)https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hari_Kopi_Internasional

Surabi Otesu.

Sarapan dulu yuk….

Photo : Jajaran surabi sedang moyan / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Sang mentari pagi baru bersiap untuk menampakkan diri dikala adonan alami sudah berproses untuk menyambut hari. Bergerak di sebuah titik strategis ditemani desau angin pagi yang penuh harapan, semakin menguatkan niat untuk berikhtiar menjemput rejeki dari Illahi hari ini.

Tepat di depan salah satu supermarket di bilangan pasteur, dorongan ini berhenti dan persiapan melapak langsung dikeluarkan, ditata dan diatur sedemikian rupa agar selaras dengan niat dan kenyataan.

Biip… biip.. bipp, penanda pesan via whatsapps mengagetkan keseriusan ini. Segera diraih hape kesayangan ini dan langsung dibuka…. “Ow ternyata pesenan sudah ada, tinggal proses dan nanti akan diambil segera, Alhamdulillah ngalarisan

Segeralah berproses sambil berpacu dengan mentari yang mulai hadir diawali semburat kuning merah khasnya…. cemunguuut.

Nah pesenan kali ini adalah surabi otesu, sebuah varian spesifik yang diminati oleh pelanggan sejati. Jikalau biasanya adalah surabi kinca dan surabi oncom untuk aliran tradisional, maka sekarang musti juga menyiapkan surabi coklat dan surabi keju demi memenuhi tuntutan pasar millenial. Nah surabi otesu adalah jalan tengah bagi penikmat tradisional dan millenial karena rasa alami surabi masih hadir tetapi sangat mengenyangkan dan jikalau diphoto… ukuran munu’u nya itu unik dan menarik seperti…… surabi. 🙂 😄😄😁

Photo : Surabi Otesu / dokpri.

Maka nyambung dengan pesanan tadi, surabi otesu-pun menjadi pilihan karena berbau jepang heuheueheu. Padahal itu adalah singkatan dari Oncom TElur dan SUrundeng……

Tepat jam 06.30 wib, datanglah sang pemesan dan tanpa basa basi mengambil pesanan satu keresek besar, tidak lupa dicomot satu untuk dibelewekkeun… katanya mah tester, bisi nggak enak. Entahlah.

Selamat pagi semua, jangan lupa sarapan, yang mau sarapan Surabi Otesu silahkan merapat kesinih. Wassalam (AKW).

Merenangi Alam.

Kembali nulis kolam renang ah..

Photo : Kolam renang di kaki gunung / dokpri.

SUMEDANG, akwnulis.com. Semilir angin dan sebuah senyuman menyambut hadirnya raga di sebuah tempat alami yang memberikan kedamaian hati. Jiwa sudah bergerak duluan menyecap kesegaran dan keindahan alam yang begitu sempurna.

Dibawah langit yang biru terlihat puncak sebuah bukit dilengkapi dengan berbagai bukit lainnya yang saling mengisi hingga akhirnya hamparan sawah dan gemericik air sungai menjangkau kesadaran bahwa syukur nikmat atas maha karya Illahi tidak akan berhenti.

Melengkapi semua lanscape alam yang begitu mendamaikan hati ini, sebuah kolam renang buatan…. iya pasti buatan atuh, hadir juga dihadapan. Sehingga yang berharap berenang dengan tenang karena dasar kolamnya keliatan, bisa segera buka baju celana dan nyebur di kolam renang.

Tapi tentu saja, yang pertama adalah mendokumentasikannya dengan smartphone kesayangan meskipun ternyata agak sulit mendapatkan gambar tanpa ada orang yang sibuk juga berpose bersama temannya… ya sudah jepret aja.

Kolam renang berair jernih ditemani suasana alami yang murni tentu kenikmatan tersendiri. Ditambah bonusnya adalah manakala sudah bosan di kolam renang tapi masih ingin bermain air… gampang…. keluar dari kolam renang di sisi kanan dan langsung turun ke sungai…

Hah?…

Photo : Sungai alami sejernih hati / dokpri.

Iya aslinya, disamping kolam renang ini adalah sungai kecil berbatu dan berair jernih sejernih cintaku padamu … ahaaay. Memang untuk berenang agak susah, tetapi bermain air dan bercengkerama dengan keluarga, ini alternatif yang menyenangkan juga.

Siapa tahu bertemu udang kecil, burayak, kehkel dan anak bogo… (jangan komplen dengan istilah ini, ini adalah sebutan untuk jenis-jenis ikan kecil alami yang ada di sungai)…. menyenangkan bukan. Tapi…. jikalau bercengkerama disini jangan banyakan, nanti melanggar protokol phisical distancing, apalagi jikalau bercengkeramanya dengan pengunjung lain hehehehe… kecuali yang masih jomlo buat nambah database… itu beda tujuan hehehehe.

Yang pasti tempat ini recomended untuk menyecap suasana alam baik dari sisi perasaan, penciuman dan penglihatan juga sajian makanan yang menggugah selera. Hanya saja fasilitas parkir yang belum memadai serta akses jalan kaki yang lumayan sekitar 600 meteran dan sedikit menanjak, butuh perjuangan.

Oke selamat sore, semoga aktifitas hari ini penuh keberkahan, sehat dan kenyang. Selamat jam seginih, Wassalam (AKW).

***

Lokasi :

PUTRI RIVER INN
Belakang Kantor Desa Citengah Kecamatan Sumedang Selatan. 45311.

Merah putih.

Meeting & ngambil photo tuntas.

Photo : Merah putih di halaman Gd Pakuan / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah pertemuan yang kerap digelar di tempat kediaman Gubernur Jawa barat yang dikenal dengan Gedung Pakuan, tentu menjadi sebuah rutinitas yang menjadi konsekuensi pekerjaan.

Nggak sering juga sih, tapi sering heuheuheu…. nah bedanya sekarang memang dengan protokol kesehatan yang ketat dari mulai tahapan masuk gerbang diberi berbagai pertanyaan serta cek suhu sekaligus harus rapid tes dulu sebelum masuk ke tempat acara. Tapi demi keselamatan semua pihak, kenapa tidak?..

Dikala agenda meeting terbatas yang dihadiri langsung oleh segelintir kecil pejabat sementara secara online dihadiri berbagai pihak dari seantero daerah melalui aplikasi video conference. Maka sebagai salah satu penggembira acara tentu harus menyesuaikan dengan posisi kehadiran kita.

Relatif menjaga jarak dari tempat pertemuan tetapi posisinya harus mudah dilihat karena jika diperlukan dan prepare bahan sudah dipegang sedari tadi, siapa tahu mendadak dipanggil oleh ibu bos.

Nah, tulisan ini bukan laporan selayang pandang tentang pelaksanaan kegiatan, tetapi justru ada fokus lain yang bisa menjadi hiburan dikala rutinitas pekerjaan hadirkan kepenatan dan perlu melihat sisi lain yang berbeda.

Ternyata nggak jauh-jauh kawan, tinggal balikkan posisi badan, bidik gambarnya melalui layar smartphone….. cetrek.. cetrek… hadirlah selembar photo yang menjadikan bendera merah putih di halaman gedung pakuan sebagai penengah di kawal oleh indahnya taman yang menghijau terawat serta dilengkapi arak-arakan awan di atas langit biru.

Maka dipastikan beberapa menit terdistrak alias loading karena dari suasana rapat yang resmi di-switch menjadi ngepasin (mengepaskan) posisi gambar bendera merah putih dan batas kanan kiri dari taman sekitar bendera merah putih itu.

Photo : Merah putih tegak berdiri / dokpri.

Maka hasilnya ada versi berdiri seperti gambar diatas ini dan versi memanjang alias lanscape di awal tulisan singkat ini sehingga bisa mengakomodir keseimbangan taman untuk mendukung sempurnanya sang merah putih yang sejatinya gagah berkibar tertiup angin. Hanya karena ini adalah sebuah photo, maka lambaiannya terdiam.

Meetingnya gimana?”

Alhamdulillah lancar donk, semua usai sesuai rencana dan sekeping gambarpun didapat sebagai pelengkap hari yang ceria. Wassalam (AKW).