KOPI & KANTUK – 2K

Apakah berhubungan antara ngantuk dan ngopi?…

BANDUNG, akwnulis.com. Ada sebuah kebiasaan bahwa dianjurkan minum kopi agar tidak memgantuk dan ini di-iyakan oleh mayoritas khalayak masyarakat, begitupun penulis. Tetapi seiring waktu tentu bertambah informasi dan dilengkapi berbagai pengalaman pribadi bersentuhan dengan sajian cairan hitam bernama kopi. Ternyata banyak ragam dan kegunaan yang berkaitan dengan urusan kantuk mengantuk ini.

Pengalaman pribadi bersama kopi khususnya dalam 4 tahun belakangan ini fokus untuk menikmati kopi secara esensi, hakiki dan philosopi dengan pilhannya adalah menikmati kopi tanpa bahan campuran lainnya dan membuat istilah sendiri yaitu KOHITALA (Kopi hitam tanpa gula). Sebuah istilah yang diciptakan menjadi komitmen diri agar menjaga prinsip ini, baik dari pemilihan biji hingga pemprosesan dengan grinder lalu penyeduhan manual hingga akhirnya dinikmati.

Oh iya, penulis bukan sebagai pengopi sejati yang sudah mampu memahami dari hulu hingga hilir. Tetapi hanya sebagai bagian dari pecinta citarasa kopi yang diawali dari bean hasil roastingnya. Nah kalau dari mulai memilih bibit, mempersiapkan lahan, menanam dan merawatnya, lalu memanen hingga berproses menjadi greenbean, itu adalah perjuangan luar biasa dari para petani kopi… Bravo para petani kopi.

Hingga akhirnya greenbean ini tiba di mesin roasting baik milik petani, milik pihak lain, pihak ketiga, keempat dan kelima hinga packaging yang biasa, unik atau aneh sekalipun. Nah disini penulis ikut melanjutkan sebagian kisah kopi ini sebagai pecinta kopi atau tepatnya penikmat kopi.

Jadi dari mulai bean hasil roastingnya disitulah raga ini bersama. Memproses yang paling rutin tentu dengan manual brew V60 dan sesekali flat bottom serta tidak alergi juga kalau diproses dengan model kopi tubruk biasa.. no problem. Jika tidak bisa mendapatkan kopi seduh manual maka pilihannya adalah mesin kopi dan hadirlah espresso, americano, longblack dan dopio. Sesekali cappucino, latte, dan afogato, jikalau terpaksa.

Dari perjalanan inilah dirasakan bahwa menikmati kopi dengan hadirnya kantuk itu berbeda. Karena tidak semua kopi mengandung kafein tinggi, seperti kopi jenis robusta. Kebetulan saya kurang menyukai jenis kopi robusta yang memiliki rasa pahit saja tanpa bisa dipilah acidity dan after tastenya, hanya body atau kepahitan saja yang hadir sehngga lebih cocok dicampur dengan gula, susu, krimer, sirup dan sebagainya.

Jadi kalau malam menjelang sekitar jam 23.00 wib, grinder dulu bean kopi arabica lalu diseduh dengan manual brew V60. Duduk sejenak sambil menikmati keheningan dan menyeruput kopi buatan sendiri, lalu minum air putih dan gosok gigi. Beranjak ke tempat tidur dan terlelap hingga pagi menjelang. Sesekali juga terbangun jam 01.00 dini hari. Langsung seduh kopi, sruput dan bobo lagi hehehehehe. Jadi bagi penulis kopi hitam tanpa gula justru menjadi kawan akrab dalam kengantukan.

Pas ngebahas urusan ngantuk, jadi inget tulisannya Om Winter ( W. Christ Winter, MD) di buku yang berjudul The Sleep Solution. Dibahas tuntas tentang ngantuk dan nikmatnya tidur itu berdasarkan kajian-kajian dan penelitian akademik. Termasuk perbedaan dari ngantuk dengan kelelahan. Biasanya kita tidak peduli dengan perbedaan ini, padahal kelelahan itu berbeda. Ngantuk hanya indikator awal, sementara kelelahan termasuk dengan depresi, kekurangan vitamin serta perlu penanganan komprehensif tidak sekedar mengganti dengan waktu tidur saja.

Bentar ya….  supaya nulisnya lebih semangat maka sruput dulu kopi manual brew yang sudah disiapkan dari tadi oleh sang Barista dari T-box Tea Coffee & Bakery. Kopi arabica Bali Mt. Batukaru natural menemani sore yang menyenangkan ini, menambah inspirasi untuk kembali menulis sebagai ‘pelarian hakiki’ dari segala kesibukan yang mendera dari hari ke hari.

Kembali ke buku tadi, ternyata tidur itu terbagi menjadi beberapa fase. Pertama adalah fase tidur ringan yang ditandai dengan kondisi tidur namun masih bisa mendengarkan aktifitas sekeliling serta mudah untuk terbangun, fase ini berkisar di 5% hingga 50% tidur kita. Fase kedua adalah tidur nyenyak, kondisi inilah yang mampu memulihkan kelelahan termasuk fungsi faal tubuh yang telah diforsir sepanjang hari dengan porsi rata-rata 25%.

Fase terakhir adalah tidur REM (rapid eye movement) atau fase tidur dengan gerak mata cepat. Fase ini disebut juga tidur mimpi, dan menyumbangkan rata-rata 25% dari tidur kita. Dari ketiga fase ini dapat dipahami bahwa tidur yang tepat akan menjaga ritme siklus sirkadian kita tetap stabil dan menjaga keseimbangan emosional, hormonal dan kondisi tubuh untuk segar kembali dalam menjalani aktifitas di pagi hari.

Nah, bagi yang senang begadang dengan minum kopi yang berkafein tinggi khususnya jenis robusta maka harus juga berhati-hati karena dalam jangka panjang beresiko menimbulkan ketidakseimbangan metabolisme, hormonal hingga emosional. Disini penulis bersyukur bahwa menikmati kopinya adalah jenis kopi yang rendah kafein dan masih begitu mudah untuk mengantuk jika memang sudah menjelang malam. Trus kalau mau ngopi dengan base-nya arabica khususnya kopi mesin seperti espresso, americano dan longblack, nikmatilah siang hari sehingga efek kafeinnya tidak mengganggu jam tidur kita.

Jadi catatan pentingnya adalah :
– Jika mengantuk segera mempersiapkan diri untuk tidur karena obat ngantuk itu tidur hehehe.
– menikmati kopi yang berkafein tinggi, disarankan pagi, siang atau sore hari sehingga tidak mengganggu siklus ngantuk dan tidur kita.
– Jika memang perlu begadang sesekali, kopi dengan bean robusta menjadi pilihan utama.
– kohitala manual brew dengan bean arabica relatif aman dinikmati kapanpun dengan syarat tanpa tambahan apapun baik gula, susu, krimer, sirup dan sebagainya.

Itu dulu ya celoteh kopi kali ini, yang penting kira syukuri kesempatan ngopi juga saat berharga bisa sruput kopi apalagi diproses dengan biji pilihan dan dikerjakan sendiri atau bantuan barista hingga akhirnya disruput sendiri. Happy weekend kawan, Wassalam (AKW).

Kopi Spesial Pangersa Cilame.

Menikmati kopi spesial winewine

SOREANG, akwnulis.com. Sebuah perjalanan kali ini cukup menantang karena ternyata meskipun dekat dari kota bandung apalagi setelah ada akses jalan tol soroja, maka durasi tempuh semakin singkat. Ya sedikit tersendat di jalan layang paspati adalah hal biasa, tetapi terbayarkan dengan kelancaran dikala memasuki pintu tol pasteur hingga keluar pintu tol soreang.

Dari pintu tol soreang perjalanan dilanjutkan menuju arah ciwidey dengan kondisi lalulintas cukup padat tapi lancar atau istilahnya RAMLAN (ramai lancar). Tepat di daerah Cilame, maka ambil jalur kanan dan tantangan dimulai. Jalan cukup sempit serta kondisi mulus – mulus berbatu, turun menikung seperti menuju dasar bumi lalu berkelok menanjang tiada henti dengan samping kiri adalah terbuka. Menyusuri lereng bukit yang memiliki pemandangan menyegarkan namun harus ekstra hati-hati mengemudi karena kemungkinan perewis eh pasalingsingan… berpapasan maksudnya dengan kendaraan berlawanan maka perlu perlahan atau bergantian karena kondisi jalan yang lebarnya pas pasan, kanan tebih dan kiri jurang. Wow pokonya mah.

Sebelum berangkat dan memenuhi undangan ke tempat ini sempat nggak nyadar bahwa lokasinya di daerah kecamatan Kutawaringin Kabupaten Bandung. Karena yang penulis ketahui bahwa daerah Cilame itu di sekitar padalarang perbatasan antara Kabupatun Bandung Barat dan Kota Cimahi, eh ternyata salah. Ini daerah Cilame yang berada di Kabupaten Bandung tepatnya di Kecamatan Kutawaringin dan melewati dulu daerah kecamatan Soreang.

Pendakian terus berlanjut, mobil meliuk melahap belokan dan tanjakan yang seolah tak berakhir. Tapi tenang kawan, semua pasti ada akhirnya. Jadi jalani saja dan gas terus, eh gabung sama injak rem yaa.. kombinasi gerakan kaki serta kedua tangan mengendalikan kemudi adalah sinergi dari pengemudi adalah sebuah keahlian yang dinamakan ‘bisa ngopir.’

Betul juga, akhirnya kondisi jalan agak melandai dan tiba di lokasi, sebuah bangunan permanen yang berdiri megah disamping bukit dengan pemandangan alam ciamik. Pemilik rumah atau villa inilah yang mengundang kehadiran kami dan memberikan suguhan spesial. Sajian kopi super spesial yang sementara tanpa label resmi. Biji kopi yang dihasilkan setelah diproses dan diroasting hingga siap digrinder diberi label KOPI PANGERSA. Tetapi yang disajikan ini berbeda, sebuah cairan bening kecoklathitaman yang memiliki keharuman cukup tajam.

Ini kopi apa namanya Abah?”

Kami memanggil sang pemilik villa dengan sebutan Abah, panggilan khusus kepada beliau.

Jangan banyak komentar, ayo cicipi dulu” Abah menjawab sambil tersenyum dan menuangkan sajian kopi super spesial ini ke gelas – gelas kecil untuk segera dinikmati bersama.

Wah keharumannya begitu semerbak, lalu tak pake lama disruput bersama. Mata terbelalak sedikit tak percaya, karena rasa kopinya luar biasa. Ada rasa wine yang mencengangkan (dalam makna sebenarnya) eh malah lebih wine serta keasaman tingkat dewa serta rasa manis yang mengigit plus begitu hangat menyapa rongga mulut, makin penasaran tentang cairan kopi apa ini.

Enak pisan, kopi apa ini Bah?”

Ini belum dikasih nama, tapi hasil experiment abah dengan melakukan fermentasi sederhana dari cairan kopi yang diproses serta disimpan selama kurang lebih 4 bulan lamanya”

Euleuh…. kembali mata terbelalak, kaget disaat mendengarkan tentang proses pembuatannya. Ternyata begitu sulit dan lama, tapi memang setimpal dengan rasa yang ada.

Betapa prosesnya betul – betul harus telaten dan dilakukan seseorang yang memiliki jiwa seni. Karena mulai dari proses awal memanen biji mentah kopi atau ceri. Dipilah dan dipilih dengan cara memasukan ke kolam, lalu yang mngambang dibuang dan biji yang terpilih yang lanjutkan proses penjemuran eh pengeringan. Proses penjemuran juga kembali disortir dengan kasat mata melihat ukuran dan dites kembali dengan merendam di air lalu dijemur kembali hingga memenuhi standar yang diharapkan.

Barulah memasuki tahapan roasting dan dihasilkan biji sempurna siap dilakukan penggrinderan (penggilingan) dengan mode giling kasar lalu dilakukan penyeduhan manual menggunakan corong dan filter V60 untuk mendapatkan cairan kopi yang akan menghadirkan kenikmatan. Ternyata proses berlanjut, kumpulan seduhan manual brew V60 ini dilakukan proses fermentasi yang tentunya perlu trial and error berulang kali hingga akhirnya didiamkan pada suhu kamar selama murang lebih 4 bulan lamanya.

Proses penyulingan dalam fermentasi ini tidak dijelaskan detail oleh Abah, tetapi kemungkinan tingkat kerumitan dan kesabarannya itu yang menjadi dasarnya. Ini perlu seni, ketelitian, ketelatenan dan jelas modal karena biji kopinyapun terbaik, prosesnya panjang serta alat fermentasi dan penyulingan yang customize. Maka cara terbaik adalah bersyukur dan berterima kasih karena mendapatkan kesempatan langka bisa menikmati sajian kopi yang luar biasa.

Perjalanan pendakian dan liukan tajam tanjakan telah terbayarkan dengan sajian kopi ‘ajaib’ yang menghangatkan badan serta mempererat silaturahmi plus keakraban perbincangan sore hari ini. Sambil bersendagurau, memandang hamparan daerah kabupaten bandung serta tidak lupa ikut menyumbangkan lagu (maksudnya mencoba bernyanyi ternyata yang keluar suaranya sumbang hehehehe) karena hadir juga grup band yang sedang berlatih di basement villa ini. Oh ya sekaligus informasi bahwa Abah ini selain ahli meracik kopi spesial juga drummer handal yang begitu memukau.

Begitulah celotehan dan pertemuan dengan sajian kopi spesial kali ini. Sekarang harus pamit karena mentari mulai beranjak ke peraduan, sehingga perjalanan menuruni bukit perlu lebih hati-hati karena licin dan berkabut. Tapi rasa kopi spesial cilame ini terus membayangi, tapi tetep harus pulang. Hayu ah, go. Wassalam (AKW).

Jalan kaki – Ngopi – Hepi.

Cerita kerja, jalan dan ngopi lalu kerja lagi.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah perhelatan sedang berlangsung di Artha kiara park Kota Bandung yang bertajuk GPM (Gelar pangan murah) dalam rangka hari pangan sedunia tahun 2022. Sebuah acara yang dihadiri atas nama tugas kedinasan, tentu disambut dengan suka cita, hadiiir.

Waw, kok begitu semangat, ada apa?”

Seorang kawan melihat antusiasme yang tidak biasa juga gestur tubuh yang berbeda. Padahal khan memang hadirnya rasa senang itu anugerah Illahi. Bisa hadir dalam segala suasana juga dalam konteks berbeda-beda. Jawaban ter-universal adalah hadirkan sebuah senyuman sempurna tanpa perlu banyak kata. Sementara itu cukup kawan.

Hayu berangkat” Teriakan singkat yang langsung menggerakkan raga ini melyncur ke lokasi acara dari kantor menggunakan kendaraan menuju TKP (Tempat Kegiatan Perlangsung).

Tiba di acara langsung berbaur saja, isi absen, mencari tempat duduk dan menyapa para tamu undangan yang berdekatan. Oh ya tak lhpa menggunakan kaos dari panitia namun dilengkapi rompi sebagai bagian dari ihtiar menyamarkan perut yang tercetak pas karena ukuran kaosnya 1 nomor dibawah seharusnya.

Tuntas acara, saatnya me time. Sederhana kok cuma jalan kaki mengelilingi area kiara artha park sambil sesekali menengok jam di pergelangan tangan, terutama melihat jumlah langkah kaki yang sudah dilaksanakan. Tentu target hariannya simpel kok, cukup minimal 6.000 langkah saja. Lumayan 3 keliling sudah dilakukan. Tapi ternyata baru 2.895 langkah saja.

Maka jalan kaki siang ini harus dilanjutkan, apalagi pas diskusi dengan emak-emak pengawal hari ini ternyata siap mengikuti challenge ini yaitu jalan kaki dari area artha kiara park ke kantor sejauh 2 kilometer dan bisa ditempuh selama 26 menit kata google map, hayu berangkat…

Maka dengan formasi jajaran genjang kami berempat bergerak menyusuri jalan kiara condong – jalan jakarta dengan model pengamanan ketat. Di depan ibu Erna ‘ngagidig’ samping kanan nutup jalan ada amih Yeti yang gesit berjalan sambil mengawasi lalu lintas sementara di belakang sebagai tim penyapu ada bu Poppy yang selalu waspada dengan mata tajam dan layar smartphonya untuk merekam gerakan – gerakan dan fenomena dijalan untuk diunggah pada akun tiktok pribadinya. Wah pokoknya serasa pejabat yang dikawal tiga prajurit senior hehehehe…

Nah setelah dari terusan jalan jakarta ada keinginan naik flyover yang membelah jalan ahmad yani tapi ternyata bukan untuk pejalan kaki, itu khusus kendaraan. Maka rute diubah menuju jalan sukabumi lalu belok kanan memasuki jalan cianjur lalu berjalan teruus dan teruuus hingga mentok di jalan laswi. Ternyata adzan dhuhur berkumandang, Alhamdulillah saatnya Ishoma. Rehat sejenak dari pekerjaan untuk lapor rutin kepada Sang Pencipta dilanjutkan makan siang sambil bercengkerama.

Mumpung sedang diluar kantor, maka pilihannya langsung yang terlihat oleh mata yaitu di kawasan LASWEE creative space. Karena banyak pilihan stand untuk makan juga terlihat cafe kopi yang bisa menenangkan hati plus mushola untuk ibadah dhuhur sebagai janji hakiki.

Makan siang lengkap dengan ibu – ibu yang tetap semangat meskipun bersimbah keringat karena jalan kaki tepat di siang hari disusul driver yang mengikuti juga ada anak magang yang menyusul untuk bergabung pada sesi makan siang ini.

Khusus diriku tentu pilihan kopi manual brew dengan filter V60 menjadi menu tersendiri. Namanya cafe STUU kebetulan pas diskusi, nama baristanya sama, andri. Lalu gramasi satu sajiannya 15 gram dengan biji pilihan yang berasal dari pegunungan bandung selatan yaitu arabica natural puntang dengan merk dagang beannya adalah KOZI. Bercampur dalam proses manual brew dengan 250 ml air. Menghasilkan sajian kopi panas tanpa ampas dengan cita rasa yang bikun bengras.

Srupuuut… body mediumnya menyapa lidah dan rongga mulut sementara aciditynya menari menggelitiki langit-langit mulut dengan keasaman yang medium high plus aftertase citrun, tamarin dan beri yang menyegarkan. Nikmat.

Urusan menu makanan sih tidak jauh – jauh dari mulai pilihan baso urat campur, aneka dimsum, pisang goreng hingga tidak lupa nasi putih yang merupakan kewajiban. Karena kalau belum makan nasi berarti belum makan, meskuoun bakso sudah 3 mangkok hahahahaha..

Itulah sejumput cerita perjalanan tugas sehari-hari dibalut dengan kebersamaan dan tentunya menyempatkan diri untuk ngopay meskipun ada sekat jam kerja khususnya jam istirahat siang.

Maka setelah makan minum, ngopay dan shalat dhuhur sudah tertunai dilanjutkan dengan bergerak berjalan kembali meninggalkan area Laswee creative space menuju kantor yang tinggal bergerak lurus, menyebrangi jalan ahmad yani dan tiba di kantor untuk melanjutkan akfifitas siang menuju sore ini. Wassalam (AKW).

Perpisahan Mendadak.

Perpisahan itu hadir karena ada pertemuan.

BANDUNG, akwnulis.com. Ternyata sebuah perpisahan itu tidak ada tanda-tanda, tanpa gejala ataupun rasa berbeda. Tetapi terjadi begitu saja. Tetapi hal yang terpenting adalah meyakini tentang destino atau takdir. Bahwa semua yang terjadi sekecil apapun sebenarnya sudah ada ketentuannya.

Apalagi perpisahan mendadak kali ini mengingatkan kembali kebersamaan kami yang begitu erat dalam menjalani kehidupan. Menapaki pantai, hutan, hingga trotoar kota dan kabupaten, menunggang motor dengan kecepatan adalah hiburan, termasuk mengakses jalan desa dan licinnya jalir ke hidden gems yang viral di media sosial. Selama ini begitu kompak kita bersama.

Namun akhirnya sang waktu jua yang menjadi batas kebersamaan. Sehingga momentum perpisahan harus dihadapi tanpa persiapan yang ada.

Nah sebenarnya kejadian siang inipun sungguh tidak terbayangkan. Karena dari pagi semua baik-baik saja, bisa menikmati secangkir kopi sebelum mengikuti aktifitas yang bejibun hari ini. Kopi yang hadir kali ini tentu bukan main-main, sebuah sajian kopi apik yang diproses dengan tahapan plus perasaan.

Kopi longblack dengan keharuman yang melenakan disajikan di sebuah tempat yang sejuk menghijau dengan background senada bertuliskan hotel aryaduta. Sruputan nikmat di pagi ceria sebelum ke ballroom tempat acara berlangsung, menjadi mood booster untuk suksesnya kegiatan hari ini.

Acarapun berjalan lancar hingga menjelang ishoma, tetapi disaat berusaha memenuhi target 6.000 langkah mengelilingi area atau kawasan hotel aryaduta, terjadilah kejadian yang penuh suka cita.

Anda mau cerita apa sih, kok muter – muter?”

Ih sabar dong, ini khan sedang berproses di kepala lalu bersiap meluncur di lidah dan melewati mulut maka akan berhamburlah kata-kata.

Ini masalahnya kawan” Dengan wajah sendu dan sembab karena perpisahan mendadak, jari telunjuk mengarahkan ke bawah kaki kiri. Terlihat sepatu dan bantalannya telah berpisah dan sulit digabungkan kembali. Karena memang sudah berbeda kepentingan plus hancurnya beberapa bagian karena dimakan usia dan kehampaan.

Sebagai penghibur hari, selain secangkir kopi ada juga cuplikan film romantis yang sedang happening di Netflix. Di film Love in the Villa disebut dengan istilah L’amore trova una via yang terjemahannya adalah ‘cinta menemukan jalannya’. Meskipun jalannya belum tentu sesuai dengan harapan tapi dalam film ini tentu berakhir dengan happy ending dan sangat kaya suasana keindahan budaya dan story telling tentang romantika romeo & juliet serta dapat menikmati keindahan kota verona italia… tapi ternyata masih sedih juga.

Maka disela jam istirahat bergegas mencoba memperbaiki perpisahan ini, namun apa mau dikata. Sudah sulit untuk menggabungkan kembali. Ya sudah akhirnya biarkan kenyataan yang akan membuka mata dan mengurangi kesedihan yang ada. Selamat jalan sepatu bootsku yang penuh kenangan. Wassalam (AKW).

KOPI DAYAK INDU KUHH

Akhirnya menikmati kopi dayak.

CIMAHI, akwnulis.com. Dus coklat itu sudah berada di samping meja kerja tadi pagi, namun belum menarik perhatian karena memang sedang berkelindan dengan kesibukan yang seolah tak berhenti dan menutup ruang untuk sejenak menarik nafas serta mengeluarkannya dengan perlahan. Tetapi tentu harus dikendalikan juga agar kesibukan ini tidak mendikte kita dan akhirnya diperbudak kesibukan sehingga merusak pendulum life work balance menjadi condong ke satu sisi.

Maka waktu ishoma adalah rehat yang sebenarnya. Gunakan kesempatan unguk shalat dhuhur berjamaah dan dilanjutkan menyantap makan malam sesuai menu yang tersedia. Maksudnya tersedia di kantin kantor dengan memu masakan rumahan yang akrab di lidah serta ramah di dompet hehehehe.

Sepiring makan siang telah berada dihadapan dengan porsi nasi sepertiga porsi menu biasa dan ditemani oleh seekor ikan pindang, sepotong goreng tempe dan dilengkapi sambal plus sayuran. Lengkap sudah makan siang kali ini. Alhamdulillah.

Nah selesai makan baru teringat akan dus coklat tadi, maka tergopoh segera dihampiri. Ternyata dus coklat ini sudah menempuh perjalanan panjang lintas pulau hingga akhirnya mendarat di jawa barat tepatnya di ruang kantorku ini.

Sebuah nama dan alamat pengirim memberikan rasa senang dan bangga karena sebuah silaturahmi yang terjalin tahun lalu via zoom meeting dengan tema SETARA membuahkan silaturahmi dan persaudaraan lintas pulau dan lintas generasi. Yup, sebuah kiriman paket dari Ibu Kepala Dinas Dagperin Provinsi Kalimantan Tengah telah nyata hadir di depan mata dan diyakini isinya adalah kopi spesial kalimantan tengah yakni kopi dayak. Makasih ya bu.

Segera paket dibuka dan menjadi terpana, karena bukan hanya bungkusan kopi yang ada tetapi ditemani oleh-oleh lainnya yang begitu banyaknya. Ada goreng ikan seluang crispy dan ikan seluang merk sopiah, kain khas kalteng, teh bajakah, kopi bajakah khas dayak erikano serta Indu kuh coffee rempah yang menggugah rasa penasaran.

Langsung di bawa ke mobil dan nanti di rumah bisa dinikmati sambil tak lupa menulis kesan dan pesan yang mengacu pada rasa dan suasana yang dihadirkan. Selanjutnya melarut kembali dengan kesibukan hingga tak terasa adzan asyar hampir tak terdengar serta waktu sudah mendekati magrib. Walaah hampir saja….

***

Tiba di rumah tentu tak bisa langsung menyeduh kopi dayak spesial ini karena harus lakukan ritual yang menjadi wajib semenjak pandemi memporakporandakan negeri. Wajib mandi dulu dan segala macam pernak pernik yang menempel di badan seperti ikat pinggang, dompet, jam tangan, emblem korpri, nametag harus masuk alat steril dan dilakukan sterilisasi UV selama 21 menit.

Nah setelah tuntas semua, inilah saatnya menikmati kopi palangkaraya kalimantan tengah. Sajian kopi khas yang tentu memiliki kualitas rasa ang berbeda. Bungkusnya dibuka dan meihat sudah berbentuk bubuk halus maka tak perlu repot – repot dengan corong V60 lengkap dengan kertas filternya tapi cukup siapkan air panas 93° celcius dan lalukan metode tubrukisasi alias kopi tubruk meskipun ingat nubruknya pelan-pelan ya.

Tak lupa kopi yang sudah ditubruk air panas tetap diaduk untuk meratakan bubuk kopi bersenyawa dengan air panas menghasilkan sajian hitam pekat yang menggoda dengan rasa nikmat.

Tiup perlahan dan sruputlah sajian kopi dayak ini untuk dinikmati oleh lidah sebagai awalan dan mulut untuk kelanjutan. Lalu bergerak memenuhi lambung hingga berrekreasi di usus serta berproses sesuai serapan masing-masing. Rasa pertama yang hadir adalah rasa kopinya stabil dan dilengkapi rasa herbal alami yang menyegarkan. Sruput lagiii….

Memang kopi merk Indu kuhh ini adalah kopi asli dayak palangkaraya yang diolah serta dicampur berbagai unsur rempah termasuk beras. Lalu hasilnya memang sebanding, kopinya dominan dan harum serta rasa rempah yang hangat dan nyaman. Ada unsur kapulaga, beras, adas, kelapa, kayu manis, ketumbar.

Sruput lagi dengan perlahan berulang dan pasti. Menghasilkan kesegaran berbeda serta keharuman menggoda. Selamat ngopay kawan, makasih bu Aster. Wassalam (AKW).

MENGHITAM DI KUROKOFFEE.

Menikmati kopi dan suasana hitam bersama kesayangan.

BANDUNG BARAT, akwnulis.com. Meluangkan waktu dari segala rutinitas untuk sekedar menarik nafas adalah sebuah cara yang cukup bernas untuk mengembalikan semangat bekerja agar semakin tangkas. Karena memang hanya sekedar tarikan nafas, maka tidak perlu butuh waktu lama apalagi berhari-hari, tapi gunakan waktu istirahat makan siang untuk sekedar refresh dengan memilih tempat dan suasana yang bisa memberi nuansa ‘mini healing’ yang tentunya tidak harus mahal tetapi terjangkau.

Pasti kamu cari tempat ngopi ya?, terus sruput pelan-pelan, diphoto lalu mulai menulis dan link tulisannya di broadcast ke nomor WA yang ada di hape kamu ya?”

Waaah…. pertanyaan yang tepat dengan sasaran dan membuktikan bahwa branding diri mulai mengena pada sasaran. Tiada pilihan lain selain anggukan dan senyum terbaik yang diberikan. Lagian kalau bicara tentang kopi, diri ini hanya sejumput debu dari begitu banyak penyuka, pecinta dan pemburu kopi yang sebenarnya. Bukan juga seorang ahli kopi yang memahami secara detail dari mulai hulu sampai hilir. Tapi hanya seorang pecinta kopi yang tentunya sesuai dengan tema mencintai dengan ketulusan memang tanpa syarat.

Jadi kehadiran kopi hitam tanpa gula, tidak harus dicintai karena sebuah rasa yang bisa didapati oleh lidah sang indera perasa tetapi juga keharumannya, suasana tempat ngopinya, cara penyajiannya, interaksi dari barista dan pelayanannya, harga sajian kopinya, cara pembayarannya dengan hanya uang cash atau bisa gesek dan atau QRIS serta yang lebih bernlai adalah bersama siapa ngopinya… ini penting kawan.

Lalu setelah dinikmati maka pendokumentasian adalah langkah selanjutnya. Sehingga cerita mencintai kopi ini menggema dan tercatat serta menjejak dalam format digital agar bisa belama-lama tercatat pada semesta. Nah tentang pengiriman link kepada kontak WA yang tercantum di hape, memiliki makna silaturahmi dan pengecekan. Apakah nomor ini masih aktif atau berganti, atau juga memang disetting blokir untuk fitur broadcast all. Sekaligus memberitahukan bahwa nomor WA andriekw tidak berganti dan dipertahankan lebih dari 10 tahun menemani kesibukan sehari-hari.

Kopi kali ini bernuansa hitam, eh memang kopi tanpa gula pasti hitam kawan. Ya untuk kopi manual brew V60 lebih ke arah warna coklat bening menggemaskan, tapi kopi tubruk, epresso, dopio, americano dan long black jelas miliki warna hitam meskipun tidak pekat tetapi terkadang mengkilat.

Bener lho nuansanya hitam tidak hanya sajian kopi tapi warna tembok tempat ngopinya juga hitam, termasuk meja kursi dan ornamen lainnya. Kalau wajah baristanya sih nggak hitam, tetap normal dengan sawo matang hehehe. Settingan lampunyapun dibuat temaram sehingga membuat suasana yang tenang, sunyi dan hitam.

Eta keukeuh hitam…

Nah kalau pilihan kopinya tentu sesuai harapan, sajian kohitala manual brew V60 hot telah terhidang dengan baik. Pilihan beannya adalah Koishikawa Chaya dengan notesnya adalah blackcurrent, jasmine dan orange. Rasanya menyegarkan dengan body dan acidity medium melengkapi momentum sruputan yang mendekati sempurna.

Ditambah dengan rekomendasi baristanya yang memiliki kopi dingin dengan rasa lemon yang juga dingin menyegarkan, namanya lemonade cold brew. Disimpan di botol coklat dengan tutup kertas kuning juga label dengan warna menyolok. Rasanya nikmat pisan, meskipun rasa manisnya perlu diwaspadai, kayak manisnya kamu ih jadi pengen lagi.

Srupuut guys….. kopi panas V60nya dan kopi dingin lemonade cold brew berpadu serasi menyempurnakan suasana hitam yang penuh kenikmatan. Apalagi dihadapan ada bidadari cantik yang menawan, lengkap sudah. Alhamdulillah. Wassalam (AKW).

***

KUROKOFFEE – Ruko Pancawarna No. 12 KBP.

Swimming Pool Hotel Ciputra Jakarta.

Kembali menikmati kolam berenang.

JAKARTA, akwnulis.com. Sebuah pemandangan yang meneduhkan sekaligus mengundang raga untuk bercengkerama adalah birunya kolam renang yang berada di lantai 7 Hotel Ciputra Jakarta. Tapi apa daya jadwal rakor begitu tegas mengatur sesi hingga terdapat sesi malam yang secara konsisten dihadiri lengkap oleh para peserta. Itulah makna konsistensi dari semua pihak yang tergabung dalam agenda pembahasan tentang rencana aksi destinasi pariwisata.

Tepat pukul 21.30 wib acara hari pertama usai, namun disaat akan mencoba kolam renang ternyata sudah tutup. Pasca pandemi covid19 penggunaan kolam renang dibatasi, hingga hari ini. Ah jadi teringat masa – masa sebelum pandemi melanda. Bisa menikmati bercengkerama dengan air segar di kolam renang hotel pada malam hari. Nuansa berbeda dengan kerlap kerlip lampu kolam renang yang begitu menyenangkan. Jejak digitalnya bisa dilihat pada tulisanku beberapa tahun yang lalu yaitu BERENANG DI MERLYNN PARK HOTEL (2018).

Akhirnya diputuskan untuk menuju kamar saja di lantai 16 yang sudah disediakan panitia. Keluar dari lift langsung belok kanan dan agak sedikit ada rasa berbeda. Tapi kemungkinan besar ini sugesti saja dari cerita istri yang katanya ada sesuatu yang tertangkap kamera pada saat teman-temannya bertugas di sore hari. Tambah lagi jadi teringat peristiwa di sebuah hotel yang nun jauh disana harus berbagi room dengan ‘sesuatu’ yang cukup menguras adrenalin, ini catatannya BERBAGI KAMAR MANDI. Tapi itu adalah sugesti, bertawakallah kepada Allah dan yakinkan bahwa kita manusia adalah mahluk yang mulia.

Tempel kunci elektronik di kamar nomor 16xx dan sebelum memasukan di kotak power maka ucapan salam “Assalamualaikum Wr Wbr” menggema di depan pintu. Lalu bergerak ke dalam dan tak perlu lama langsung buka tas punggung dan menyiapkan baju ganti setelah nanti mandi air hangat di kamar mandi hotel ini.

Setelah kesegaran didapatkan, shalat wajib dituntaskan maka membuka laptop untuk mengecek surat masuk dan keluar adalah juga keharusan. Meskipun akhirnya menuju peraduan namun sebelumnya tidak lupa mengabadikan sekeping suasana ibukota di malam hari yang bertabur cahaya.

Tidur aja.. zzzzz

Esok hari keinginan untuk mencoba aktifitas renang ini kembali menggebu. Maka melihat sesi acara diawali pukul 08.00 wib. Ada celah waktu untuk digunakan menikmati ksegaran pagi. Maka bergegaslah keluar kamar menuju parkiran untuk mengecek perlengkapan. Biasanya di mobil sudah tersedia alias nyetok celana renang lengkap dengan kacamatanya.

Tapiii…. ternyata setelah mengaduk-aduk bagasi mobil, celana renang dan kacamata tidak bersua termasuk tas khususnya. Berarti memang takdir tuhan belum bisa menikmati suasana berenang kali ini. Ya sudah tidak usah dipaksakan, tetapi sebagai pelipur kecewa maka raga tetap bergerak ke lantai 7 untuk merasakan suasana kolam renang secara langsung.

Kolam renang di Hotel Ciputra ini berada di lantai 7 dan terdiri dari 2 kolam renang. Satu kolam untuk anak dan satu lagi berbentuk setengah oval untuk dewasa dengan kedalamannya variasi dari 1,25 meter sampai 1,75 meter. Jadi bagi yang belum mahir banget berenang harus hati-hati, apalagi tinggi badan dibawah 170 cm, pas coba berdiri disini berarti harus bersiap tahan nafas dan jangan panik ya. Apalagi memang tidak ada penjaga khusus kolam renang. Minimal ajak teman untuk saling menjaga sehingga dapat menikmati kolam renang dengan terjaga keselamatan.

Setelah puas photo dan sejumput video akhirnya diputuskan meninggalkan area kolam renang dan memaksa melupakan untuk rencana berenang kali ini. Tapi minimal sudah survey dan mungkin besok lusa atau kapan – kapan bisa dilaksanakan.

Apalagi jadwal breakfast sudah mulai di restoran. Maka keputusan akhirnya adalah kembali kepada acara rakor di hari ke-2 tentu dengan full stamina. Semangaaat. Wassalam (AKW).

DATA, Kopi & WFA

Presentasi dan materi diakhiri dengan FWA sambil sruput Kopi.

PASTEUR, akwnulis.com. Suasana rapat dengan model U bisa langsung membuat suasana menjadi beku dan kaku terjebak oleh suasana formal rapat yang lengkap dengan pernak pernik formalitas. Apalagi didukung penuh oleh hembusan air conditioner ruangan yang melenakan, maka rasa kantuk begitu mudah hadir dan segera mengaburkan pandangan berganti mimpi sesaat yang memang bernilai nikmat.

Itulah saat menantang bagi diri ini yang harus memberikan materi pada saat jam rawan dimana para peserta sudah makan siang dan kelihatan wajah – wajah kenyang. Maka cara terbaik adalah berusaha menghadirkan interaksi dan sedikit humor agar kantuk peserta hilang dan bisa antusias menerima materi yang akan disajikan.

Maka segera dikeluarkanlah aneka kemampuan termasuk posisi raga pun diubah. Tidak lagi duduk di depan meja penyaji materi tetapi segera bergerak turun dari podium dan berdiri setara dengan para peserta sekaligus mata dipicingkan untuk melihat peserta mana yang terkantuk-kantuk atau malah diam tetapi mata tertutup dan menikmati mimpi siang di sejuknya ruangan meeting hotel ini.

Ngapain milih yang ngantuk-ngantuk?”

Pertanyaan sederhana tapi efektif menyegarkan suasana. Caranya adalah dekati peserta yang sedang terkantuk-kantuk dan berikan mic yang ada, lalu berikan pertanyaan. Dijamin akan terjaga dan hilang rasa kantuknya berganti wajah tegang dan kebingungan atas apa yang sedang terjadi. Kalau nggak percaya, silahkan coba.

Maka mengalirlah rangkaian kata dan kilasan slide presentasi dilengkapi tawa canda dan tegur sapa dengan sebuah tema yaitu REKOKOM (regulasi, komunikasi dan komitmen) tentang pentingnya data yang dihasilkan sekaligus cara mendapatkan data tersebut.

Lalu setelah tugas menyampaikan materi usai, dilanjutkan dengan tugas lain yang harus konsentrasi sertai tidak terbuai. Meskipun raga sebetulnya sudah mulai lunglai. Maka cara terbaik adalah pindah suasana meskipun masih berada di satu area, ditambah dengan sajian kopi hitam tanpa gula, tapi sedikit foam susu sehingga cappucino yang datang merk Ily segera mengubah suasana.

Sruputan pertama menjadi utama untuk mengembalikan stamina. Alat kerja langsung digelar, laptop, tablet, smartphone dan sisa-sisa kertas yang harus dilihat satu persatu karena masing-masing menjadi unik dengan tulisan tangan yang berbeda-beda.

Apalagi momentum kali ini begitu cocok dengan tema tulisan selama ini yaitu NGOPAY & NGOJAY. Karena lokasi kerja kali ini berdekatan dengan kolam renang yang bisa digunakan ‘ngojay‘ serta dihadapan sudah hadir kopi untuk ‘ngopay‘. Alhamdulillah.

Sruputan berpadupadan dengan baca tulisan tangan dan pemandangan kolam renang, sebuah momentum FWA (flexible working arrangement) yang menyenangkan. Pekerjaan tuntas sambil memunggu rangkaian kegiatan di lantai atas yang berharap hadir pada saat penutupan. Itulah sepenggal kisah tentang presentasi, materi, kolam renang dan kopi. Wassalam (AKW).

***

Lokasi : Hotel Holiday Inn – Pasteur Bandung.

Cinta diantara Buku & Kopi.

Cerita cinta dan perpisahan menjadi nikmat karena berteman dengan kopi dan harapan.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah perjalanan kehidupan tentu berbeda dari setiap orang, maka ceritakanlah versi masing-masing agar menjadi lintasan sejarah meskipun mungkin hanya selarik baris yang hampir transparan. Ceritanya tentu tertuang dalam tulisan, photo atau video pendek dengan catatan senada. Usahakan jangan dilisankan saja, karena lisan hanya terngiang dan mungkin hilang. Tapi tulisan, photo dan video relatif umurnya lebih lama akan menghiasi kehidupan ini.

Jadi tidak usah risau melihat orang begitu rajin mengekspose aktifitas dirinya secara harian atau malah per jam dan ‘update‘ dimana sedang apa bareng siapa, minimal di whatsapps status lalu dilanjutkan di media sosial dengan berbagai ‘caption‘.

Ada caption ‘Coba tebak dimana ini?’ atau ‘Alhamdulillah sampai juga’ dan berbagai caption lainnya. Itulah bentuk eksistensi diri yang (mungkin) berharap ada reaksi. Atau bisa juga memang ingin nulis caption seperti itu tanpa peduli pendapat orang dalam bentuk komentar atau sekedar jempol yang kecil sekalipun.

Begitupun raga ini bergerak mengikuti alur kehidupan tentu didukung oleh jiwa yang optimis dan harus semangat dalam menapaki kehidupan. Maka tugas pekerjaan dan aneka pergerakan kemari kesana eh kesana kemari ataupun tetap stay di kantor di area bandung dan sekitarnya harus dijalani dengan rasa syukur dan ceria. Meskipun masalah atau beban selalu ada, itu adalah ciri kehidupan. Tinggal bagaimana kita menyikapi dalam menghadapinya.

Sebagai penyeimbang dari berbagai tugas yang perlu stamina serta bejibun urusan yang seolah tidak berhenti, perlu ada ‘mini healing’ yang cocok untuk diri ini. Nggak terlalu sulit, hanya perlu kontak GPS (gunakan penguasa sekitar) dan kebetulan terlewati dan tanyakan informasi serta rekomendasi tempat ngopi. Jika ada beberapa alternatif maka perhitungkan dengan estimasi jarak dan waktu serta arah yang tepat dengan pergerakan menuju kembali ke kantor sehingga jam kerja tetap efektif. Maka waktu yang pas adalah di saat jeda istirahat siang sekitar jam 12.00 sampai 13.00 wib.

Pilihan lain tentunya diluar jam kerja, bisa sore hingga malam atau di hari sabtu minggu. Meskipun susah juga karena ternyata tugas yang ada terus menguntit dan waktu untuk bersua dengan keluarga tetap menjadi prioritas. Jadi pinter – pinter liat momen ya guys.

Tapi jikalau sambil beredar ternyata sulit juga menyempatkan waktu. Cara terpraktis adalah di tempat kerja saja, menikmati kopi sambil tersenyum simpul membaca sebuah buku yang sarat makna dengan kemasan kertas per halamannya mewah semewah isinya.

Mau tahu judul bukunya?”
“Mauuuu….” Jawaban beragam dari teman – teman sekantor yang reflex menjawab meskipun tidak semua paham yang dipertanyakan. Jangan – jangan karena kasian ya?.. Wallahu alam.

Judulnya adalah ‘Ada Nama Yang Abadi di Hati Tapi Tak Bisa Dinikahi’ buah karya brilian dari Kang Maman Suherman, seorang tokoh media, penulis, kreator dan berbagai sebutan yang memang layak disematkan. Buku ini hadir melalui perantara sahabat lama, Neng Feby – bos Raka FM, Hatur nuhun pisan. Maafkan baru sekarang bisa dibuka, dibaca dan dinikmati. Oh ya dan ini bukan satu-satunya buku dari Feby, ada 3 buku lagi yang antri untuk segera dinikmati, sekali lagi terima kasih hatur nuhun.

Isi bukunya jenaka meskipun sebagian mengulas tentang perpisahan. Tapi tema utamanya adalah tentang cinta yang begitu syuliit dilupakan, karena rehan baiiiik…. eh salah, karena cinta itu adalah anugerah Tuhan yang penuh cara untuk melukiskan dan tiada hingga kata yang bisa diucapkan.

Sebagai penyempurna maka kehadiran sesloki kopi adalah hal yang wajib. Kopi yang di manual brew V60 kali ini adalah kopi arabica halu ‘strawberry waffle’ dan langsung digrinder sesuai kepentingan dan keinginan.

Srupuuut…. nikmat sambil tersenyum simpul membaca jalinan kata yang ternyata begitu mengena. Seperti ‘Puncak tertinggi mencintai = KEIKHLASAN dan kehampaan tanpa batas pengharapan = ABADI MENCINTAI…. uwoooow jlebb bingiit cyiin.

Berpadu dengan body kopi yang medium bold, acidity medium high serta aftertastenya lebih ke lemon dan dark coklat plus bulet rasanya atau pulen. Meskipun rasa strawberry wafflenya nggak dapet, tapi kenikmatan rasa kopi arabicanya tetap berkarakter dan penuh warna. Sruput lagi ah…

Alhamdulillah, akhirnya sore hadir menjelang magrib dan raga ini harus bergerak meninggalkan tempat kerja untuk bercengkerama dengan kepadatan lalulintas di wilayah jembatan layang paspati hingga pintu tol pasteur demi kembali bersama keluarga.

Tapi… baru saja menapaki flyover paspati, handphone berdering…

*** to be continue ya…

Ternyata musti balik ke kantor… Semangaaat. Wassalam (AKW).

Terbang, Kopi & Bahagia.

Menikmati kopi sambil terbang adalah bentuk bersyukur, setuju nggak?

CIMAHI, akwnulis.com. Berkeliling ke berbagai tempat dengan alasan tugas adalah sebuah kenyataan. Meskipun terkadang datangnya perintah begitu mendadak. Tidak masalah, karena itulah salah satu resiko pekerjaan dan amanah yang diemban. Jalani saya guys.
Bulan september yang lalu menjadi saksi, betapa perputaran diri ini lumayan aktif. Termasuk pengalaman naik pesawat pertama (lagi) setelah 2 tahun terdiam akibat pandemi covid19 berkecamuk. Tidak terlalu jauh cukup Jakarta – Makassar PP dan Bandung – Yogja PP.

Itu sih baru 2 kali bro, sombong amat, saya sebulan bisa 10 kali penerbangan, nggak pernah ditulis dan di publish!!”

Tiba-tiba sebuah celoteh menyambar dan langsung menohok diri. “Wow, something wrong?” Sesaat terdiam sambil mencoba berfikir jernih. Kenapa ada yang sewot ya?.. padahal ini kan hanya pernyataan pribadi dan di medsos pribadi juga. Tapi kenapa sebuah reaksi begitu tajam menghujam.

Trus mikir juga, jangan jangan banyak juga yang tidak nyaman dengan pernyataan itu karena boro-boro terbang pake pesawat, lha wong keluar kota juga nggak pernah. Disinilah diri ini merasa serba salah. Tapi tentunya perlu dilengkapi disini bahwa bisa naik pesawat lagi adalah sebuah berkah rejeki dan kesempatan dari Illahi untuk menjadi Ibroh dan miliki nilai abadi tentang pemaknaan hidup yang sementara ini.

Maka sebagai bentuk rasa syukur itu adalah menggunakan kesempatan selama di pesawat untuk tetap terjaga. Tidak terpengaruh oleh penumpang kanan kiri yang langsung memejamkan mata sesaat pesawat bergerak di runway untuk tinggal landas. Mungkin bukan ingin tidur, tetapi berusaha memejamkan mata agar proses take off ini tidak terlalu terasa. Sementara diri ini sibuk dengan persiapan gelas kecil dan dokumentasi.

Yup, gelas kaca kecil untuk nanti menuangkan segelas kopi hitam tanpa gula dan dinikmati dengan sruputan perlahan dikala pesawat sedang bergerak diantara awan putih yang berarak begitu indah. “Bukankah ini bentuk rasa syukur atas nikmat-Nya?”

Ternyata, nilai bahagia dan bentuk syukur manusia itu berbeda-beda. Penulis berusaha besyukur dengan meanfaatkan waktu selama penerbangan dengan membuat konten dalam bentuk potongan video dan photo tentang kopi di pesawat termasuk adegan sruputan kopinya karena untuk menepis pendapat ‘No pic Hoax’ dan aktifitas ini membuat bahagia.

Tapi.. disamping kanan dua orang ibu-ibu telah terlelap dalam buaian mimpi dan itulah bahagia buat mereka karena mungkin saja telah berjibakù dengan beban tugas serta kesibukan di daratan, inilah saat yang tepat untuk beristirahat tanpa gangguan. Ada juga yang sibuk dengan gadgetnya dan menonton film-film yang telah di download sebelumnya tentu lengkap dengan headset kekinian.

Sementara di kursi samping lorong, terlihat seorang ibu yang pucat dan tegang dalam menjalani penerbangan ini. Terlihat begitu tersisa eh tersiksa.

Disini perlu disadari bahwa mencari bahagia adalah berbeda setiap orang, meskipun secara umum akan setuju jika kita selalu bersyukur dengan segala keadaan maka kebahagiaan akan datang. Jadi kita sepakat untuk jangan lupa selalu bersyukur dan memanfaatkan weekend ini bersama keluarga meskipun ternyata tuntutan tugas terus mendera. Happy weekend kawan, Wassalam. (AKW).