Kopi Tri Tangtu penghapus pilu.

Move on bersama arabica Tri Tangtu…

Photo : Salah satu patung di Hotel Borobudur Jakarta / dokpri.

JAKARTA. Akwnulis.com. Sebuah tanya mungkin menggantung di ujung cerita. Begitupun kehidupan, tidak akan berakhir dalam satu jalinan kata tetapi terus berubah dan berganti pasangan kata. Ada suka diselingi duka, ceria berkawan erat dengan cemberut, tertawa terbahak berpadu dengan lelehan air mata kesedihan serta pertemuan akan diakhiri dengan perpisahan… itulah hakikat kehidupan.

Setelah dua tulisan yang menyiratkan kedukaan, yaitu Kopi Tubruk kegalauan dan Lara di Pantura….. maka dalam tulisan ini berusaha move on dan mengumpulkan kembali serpihan semangat, merajut lagi keceriaan dan senyuman demi melanjutkan perjalanan kehidupan fana yang hanya sebentar saja.

Hakikatnya hidup hanya singgah sebentar, lalu bergerak kembali menuju tujuan kehidupan abadi yang sebenar-benarnya.

Jadi tidak usah terlalu terlarut dengan kesedihan, meskipun itu yang menguras rasa dan suasana tertekan. Memang menjadi berat karena harus berperan menjadi bagian dalam menentukan atau cukang lantaran (penyebab) berubahnya nasib seseorang secara drastis.

Photo : Kopi Arabica Tri Tangtu Pulosari / dokpri.

Padahal itulah yang terbaik baginya, untuk semua pihak sebagaimana sudah tercatat di lauh mahfuz… di atas langit sana.

Trus gimana caranya me-move on-kan diri dan kembali ke rel kehidupan yang selama ini dijalani?”

Pertanyaan yang cukup mendasar dan sulit dijawab, karena dengan semua peristiwa yang telah terjadi tentu ada hal akan berbeda dengan makna ‘suasana sediakala‘…. tetapi minimal menjadi sebuah ujian keseimbangan psikis untuk tetap bisa fokus meskipun realita tidak bersahabat dengan harapan dan keinginan.

Keyakinan tentang takdir Allah adalah jawaban yang paling hakiki atau fundamental, sementara secara teknical perlu mood booster agar ketenangan raga dan jiwa kembali stabil dan menempatkan logika pada dudukan rasionalnya melalui treatmen suasana dan sajian kopi arabica atau robusta.

“Deuh kopi lagi… nggak ada yang lain ini teh?”

“Kalem masbro… kopi itu banyak ragam banyak rasa dan banyak cerita, makanya jangan khawatir kehilangan makna, serta punya kemampuan untuk dikait-kaitkan dengan aneka peristiwa”

“Trus kopi apa yang sekarang akan dibawa-bawa dalam kisah kita?”

“Ini aja….” tangan kanan menggenggam bungkus kopi arabica Tri Tangtu Pulosari Village dan tangan kiri Kopi Arabica Tri Tangtu Bali Heaven.

Weleh weleh… seriusan geuning”

Sebuah senyum menjadi pembuka prosesi seduh manual v60 bagi kedua varietas kopi arabica ini. Dengan suhu 86° celcius dan perbandingan 200 ml air versus 15 gr kopi bubuk kasar-alus, maka tersajilah mood booster penyeimbang kehidupan dan penglipur lara dari duka yang baru saja terjadi, baru saja terlewati. Sebuah cerita takdir yang tak bisa dihindari.

Photo : ARabica Tri tangtu Bali Heaven / dokpri.

Arabica Pulosari Village menghadirkan acidity dan body medium berpadu dengan aroma khas kopi pangalengan varietas sigararuntang yang mengusung after taste fruitty, berry dan selarik aroma coklat.

Sementara untuk body dan acidity lebih strong bin bold maka arabica Bali Heaven menjadi pemenuh dahaga rasa tentang kepahitan dan keasaman sajian kopi dan betah ‘ninggal‘ di pangkal lidah memberi pengalaman berbeda meskipun mungkin untuk yang belum terbiasa akan sedikit meringis tanpa kata-kata.

Ternyata benar, menikmati dua sajian kopi arabica bisa kembali menstabilkan rasa dan memberi ketenangan di pikiran serta perlahan tapi pasti hadirkan rasa damai dalam menjalani hari-hari selanjutnya. Selamat menapaki hari dan menstabilkan rasa diri. Wassalam (AKW).

***

Lokasi ngopay :
Otutu coffee & Kitchen – Kerkof Leuwigajah Cimahi.

Kopi Tubruk Kegalauan

Mengurangi kegalauan sambil ngopay, semoga semua baik-baik saja.

Photo : Kopi Tubruk Arabica Cibiuk / dokpri.

GARUT, akwnulis.com. Adzan magrib terasa begitu merdu dan penuh makna, di kala raga dan jiwa begitu membutuhkan kehadirannya. Menjadi penentu berhasil-tidaknya perjuangan menahan rasa menekan segala keinginan dunia dan hindari goda yang senantiasa mengintai di semua suasana…. hingga akhirnya bisa berbuka puasa.

“Berbuka puasa pake apa?”

“Kopi donk”

“Cius?”…

“Ya nggak lah, tentu air putih dan doa berbuka yang lebih utama”

“Nggak berbuka dengan yang manis?

Aku terdiam, lalu spontan menjawab dengan menampilkan sunggingan senyum terbaikku, “Enggak euy, soalnya akyu udah maniiez”…

…. g.u.b.r.a.k ….

Setelah reda dari keterjungkalan perasaan, maka dilanjutkan dengan menikmati secangkir kopi tubruk di cangkir putih dan berhias selada… tentu kopi tanpa gula.

Srupuut…. kopi arabika di salah satu rumah makan Kabupaten Garut ini menjadi pembuka semangat dan mengurangi kegalauan malam ini setelah sehari tadi berkutat dengan kesedihan yang tak bisa… tak bisa dan berat untuk diceritakan.

***

Photo : Mesjid Agung Garut / dokpri.

Tadi pagi, masih bisa menikmati udara segar yang tersaji bebas di alun-alun garut. Memandang bangga, betapa gagahnya mesjid agung garut yang menjadi tempat syiar agama islam sekaligus bangunan strategis di Kota Intan.

Lalu bercengkerama dengan air wudhu dan melaporkan kefanaan diri tanpa tendensi dalam rakaat demi rakaat yang bebas dari intervensi…. Alhamdulillah.

Tuntas dari sana, bergerak mengayun langkah menuju bangunan lain yang tidak kalah indah, kediaman pimpinan Kabupaten Garut, Pendopo Bupati…. langsung mencoba mengabadikan sebuah bangunan bernuansa kayu yang sesekali menjadi tempat berkumpul para petinggi ataupun rakyat garut dalam menyampaikan keinginan ataupun menghadirkan solusi dari beraneka rupa permasalahan.

Photo : Bangunan depan Pendopo Bupati Garut / dokpri.

Giliran mendapat kesempatan memasuki lebih dalam area pendopo, wah nuansa dan rasanya beda lho…. maklum khan baru pertama kali ke sini.. (sama kamuuh…).

“Lha… katanya nggak moo cerita, kok ini panjang lebar” komentar komplen menempel di telinga kanan. Aku terdiam, lupa.

“Tapi tanggung ah… lanjut dikit” jawabku, sambil kembali merangkai angan dan memandang ruang pertemuan dengan nama ‘ruang Pamengkang.’

Penasaran dengan artinya tetapi tidak ada kesempatan menanyakan pada siapa, sehingga akhirnya mbah gugel yang ditanya via jempol menari diatas layar smartphone ini.

Ternyata ada beberapa artikel dan kamus online yang menyajikan pembahasan tentang arti kata ‘Pamengkang‘. Meskipun diriku setuju dengan sebuah penjelasan bahwa pamengkang ini dalam bahasa sunda adalah ‘ruang tunggu sebelum menghadap’…. ini cenderung yang paling cocok.

Karena artikel lainnya bicara tentang nama keris legendaris yang (katanya) bertuah dengan sebutan ‘Keris Pamengkang Jagat’… entahlah.

Serta satu artikel lagi yang menyebutkan arti ‘pamengkang’ ini berasal dari 2 kata dalam bahasa sunda yaitu ‘pameng + kang’ yang artinya ‘Tanggung Kakak‘…. jadi (mungkin), sebuah tempat untuk berhenti sejenak, tapi tanggung, jadi musti diteruskan…. gituuuuu.

“Ohhhh gitu ceritanya… tapi nggak sedih ah.. kok diawal katanya ada kejadian yang menggalaukan jiwa?”

“Sudah cukup, gitu aja ceritanya kawan” Sebuah jawaban penenang suasana, meskipun sebuah beban berat semakin bertambah setelah pertemuan ini. Semoga semua yang terjadi berhikmah berkah. Wassalam (AKW).

Kopi & Ramadhan

Perjalanan menikmati kopi di bulan penuh bonus pahala dari Illahi Robbi…

Photo : Espresso with flower / dokpri.

CIUMBULEUIT, akwnulis.com. Bulan Ramadhan yang penuh rahmat serta double-triple bonus pahala dibandingkan 11 bulan lainnya plus grand prize Lailatul qodar adalah momen tahunan yang sangat penting dan jangan dilewatkan. Karena belum tentu di tahun depan bisa berjumpa kembali dengan bulan Ramadhan… (klo doa dan harapan pastinya pengen panjang umur dan setiap tahun bisa bersua dengan bulan ramadhan ini, panjang usia berkah dan bahagia tea geuning).

Meskipun tantangan dan godaan untuk bisa melaksanakan aneka ibadah dengan baik itu berrrat bangeet…. setelah sahur bawaannya ngantuuuk, padahal sebaiknya shalat shubuh lanjut tadarus.

Trus masuk kantor, maka bergumul dengan rutinitas pekerjaan yang tiada henti. Termasuk dinas luar yang cukup menguras stamina. Meskipun selama jam kerja dipersingkat, dari jam 07.30 dan jam pulang kantor pukul 14.30 wib, kenyataannya ternyata tiba di rumah jam 21.00 wib atau malah tengah malam karena harus mengikuti jadwal agenda tarling (taraweh keliling) di luar kota.

Tapi itulah indahnya kehidupan, bagaimana kita mampu mengatur ritme waktu yang ada dan menyeimbangkan prioritas ibadah di bulan penuh berkah dengan beban tugas pekerjaan yang tak kenal ini bulan mei atau bulan ramadhan. Jadi, seni mengatur waktu dan mengatur diri yang menjadi strategi.

“Trus gimana cara ngatur urusan prosesi kopi?”

Sebuah pertanyaan sederhana yang memiliki esensi dasar, di mana selama ini keberadaan kopi menjadi mood booster sekaligus alat diplomasi yang efektif di jam kerja ataupun di luar jam kerja.

Photo : Salah satu sajian bukber / dokpri.

Permasalahan yang muncul adalah, di bulan ramadhan ini nggak bisa nyeduh kopi siang hari dan disajikan dengan prosesi v60 dan basa basi. Atau ngajak kongkow dan ngopi di siang hari karena akan menjadi pembatal bagi ibadah puasa yang sedang di jalani.

Ini kembali kepada rumus seni menyesuaikan, jadi ngopinya tentu setelah berbuka puasa dan lebih banyak dilakukan sendiri di rumah… eh bersama anak cantik yang selalu nempel jikalau tahu ayahnya di rumah, seperti yang tertuang dalam tulisan ‘Kopi Arabica Bali Banyuatis. Ada juga prosesi kopi yang dibuat di rumah, tetapi tidak sempet ditulis.. eh kopinya keburu diminum sampai habiiss….. maklum puasaa.

Photo : Meeting dilanjut bukber / dokpri.

Nah klo diluar rumah, tetep rumusnya adalah dalam balutan semangat bekerja. Tetapi meetingnya digeser mendekati waktu berbuka puasa, yaa mulai sekitar jam 16.00 wib dan berakhir sesaat sebelum adzan magrib berkumandang.

Soalnya klo setelah adzan masih membahas urusan kerjaan, yakinlah akan bercampur dengan pembahasan korma, kolak, bubur kacang, kolang kaling, bubur lemu, bala-bala, gehu, pacar cina, agar-agar, puding dan sebangsanya… dijamin tidak efektif.

Setelah tuntas shalat magrib, baru makan berat dan dikala adzan isya berkumandang, meeting bubar. Diriku bergeser ke lokasi mesjid tempat taraweh keliling.

“Lho kok bisa?”
“Bisa masbro, cari tempat meetingnya berupa kedai atau resto yang dekat dengan lokasi tarling, berees dech”
“Pinter juga kamu”
“Alhamdulillahirobbil alamin”

Apalagi di bulan ramadhan ini, mentraktir berbuka puasa itu besar banget pahalanya…. so jangan segan mentraktir berbuka puasa…. seperti yang kemarin kami rasakan.. rapatnya lancar, bukbernya seru, makanan dan minumannya ajiib dan… dibayarin pula. Hatur nuhun bu Ev dan mr Dan.

Photo : Mesjid yang bersiap menerima jemaah shalat tarawih / dokpri.

Jadi kuncinya adalah sebuah seni menyesuaikan, serta tenang dalam mengambil keputusan untuk melaksanakan meeting ditempat tertentu.

Selamat menunaikan ibadah puasa, sambil menjalani dan menyelesaikan tugas-tugas negara. Wassalam (AKW).

***

Perjalanan berdinas di Bulan Ramadhan

Rehat sejenak di rumah-Mu.

Photo : Mesjid Omar Nuril Barokah, Rest area km101-102 Tol Cipali arah ke Cirebon / dokpri.

BANDUNG coret, akwnulis.com. Perjalanan shaum hari kelima beraneka rupa dan penuh dinamika. Yang paling terasa tentu menjaga stamina apalagi berturut-turut perjalanan ke luar kota.

Tujuan perjalanannya ke kota dan kabupaten di wilayah provinsi jawa barat, dengan menggunakan transportasi darat, dan dibiasakan satu mobil bersama-sama biar hemat, serta di perjalanan juga bisa jadi ajang curhat.. meskipun lebih sering para penumpang tidur terlelap, tinggal pengemudi konsentrasi dan phisiknya harus kuat…. semangaaat.

Yang menarik ternyata anggapan pihak diluar kita.. sangat variatif, mirip cerita sahibul hikayat tentang ‘keledai dan penunggangnya‘…

Ada yang komen, “Semangat ya, biarpun shaum tetap bertugas ke luar kota demi melaksanakan tugas dinas. Semoga lancar di perjalanan”

Ada juga, “Ah itu mah alasan, supaya bisa beredar dengan biaya dinas”

… dan banyak lagi yang memberi support juga sedikit sindiran.

Padahal yang tahu sebenarnya adalah kita yang menjalani, betapa berbedanya diskusi di luar kota, tanpa snack dan makan minum di siang hari bulan ramadhan.

Menapaki jalan tol dan jalan lainnya yang melelahkan.

Perjalanan yang panjang via tol cipali hingga ke perbatasan jawa tengah sana…. atau bermacet ria di tol cikampek arah jakarta. Semua di jalani bersama tim, PP.. pulang pergi dalam 1 hari.

Photo : Mesjid Jami Al Ishlah Jayamukti – Banyusari – Karawang / dokpri.

Capek?… iya, tapi ini adalah tuntutan tugas.

Jadi?….

Cukup satu kata saja, JASUNI. Jalani-Syukuri dan Nikmati.

Salah satu cara istirahat dan rehat sejenak dalam perjalanan berdinas di bulan ramadhan ini tentu singgah duluuu…… abadikanlah tempat yang disinggahi dengan photo terbaikmu. Lalu upload di medsos tanpa perlu berpikir berapa jempol yang akan muncul di Instagram atau halaman facebookmu.

Tapi menjadi pictogram, alias agenda bergambar yang mungkin besok lusa menjadi pengingat sekaligus bukti bahwa memang tanggal segitu pernah beredar ke daerah situh…. atau bukti pernah mampir di situ sebelum tiba di tempat yang menjadi tujuan.

Selamat menjalani ramadhan dengan khidmat dan tugas tetap bisa dilaksanakan dengan tepat. Wassalam (AKW).

Kolam Renang Hotel Puri Khatulistiwa

Menikmati segarnya air setelah peristiwa menegangkan.

SUMEDANG, akwnulis.com. Beningnya airmu agak mengganggu konsentrasi meeting hari ini. Apalagi suasana bulan puasa yang berbeda dengan hari-hari biasa, semakin besar dorongan jiwa untuk segera bercengkerama. Meeting eh workshop tugas negara tetap terlaksana dan harus pintar-pintar mensiasati waktu serta menjaga stamina jangan sampai kendor sebelum waktu adzan magrib tiba.

“Tahu workshop nggak?”

“Tauuuu……. bapaknya work dan ibunya shop.. shopping”

“Ah… ngacoo itu, udah ah”

Memasuki ruang workshop terkait tingkat kesehatan perbankan, langsung membahas angka… lieuur.

Membahas angka di bulan puasa terasa berbeda. Baik rasa juga suasana. Tidak ada snack di meja juga sajian makan siang dengan menu aneka rupa. Tetapi itulah tantangannya… ayoo semangaaat.

Di mulai dengan pemaparan angka-angka yang awalnya begitu enak di pandang, tetapi lama kelamaan berubah menjadi liukan cacing kecil hitam yang terus bertumbuh. Rupa ular tiba-tiba terpampang nyata, king cobra dan black mamba…. oh my good, snake.

Keduanya mendesis dan siap menyerang tanpa ampun, apalagi racunnya yang bisa mengakibatkan kebekuan syaraf dan kematian dengan cepat, begitu menakutkan.

Raga sudah tidak bisa menghindar, karena ternyata terikat dengan aneka angka yang berubah menjadi borgol lembut tapi kuat, sehingga hanya mata dan otak yang masih bisa bergerak.

Di saat kedua ular berbisa berwarna hitam legam keperakan semakin mendekat, keringat dingin ketakutan mengucur deras. Badan digerakkan sekuat tenaga tidak bergeming sedikitpun.

Tolooong……

Di kala kepasrahan tiba, teringat sebuah ayat Alquran, ‘Ud uni astaziblakum‘ …. berdoalah pada-Ku maka akan Aku kabulkan. (Al Mukmin 60).

Tolong hambamu yaaa Alloooh”…. sebuah ucapan doa meluncur indah di puncak ketakutan dan kepasrahan, menembus ujung langit pengharapan.

Byaar…. selarik cahaya membutakan mata.

Sekejap saja semua hilang dari pandangan, ular king kobra dan black mamba serta borgol yang menelikung raga sudah tidak ada bekasnya.

Mas, bangun mas, itu peserta workshop pada ngeliatin” bisikan halus di telinga kiri mengembalikan ingatan dan kondisi yang dihadapi. Ternyata ketiduran di saat workshop hingga terjerembab ke bawah meja…. itulah yang menimbulkan suara berisik dan memancing rasa ingin tahu peserta workshop lainnya.

Sambil nyengir menahan sakit dan malu hati, segera beringsut keluar dari ruang pertemuan. Melarikan diri dari kenyataan, menghambur menuju kolam renang biru yang sedari tadi menunggu dengan setia.

Tanpa membuka baju, segera meloncat ke dalam kolam renang yang begitu segar. Berkelindan mesra dalam kecipak air bening penuh kasih sayang.

Kolam renang berbentuk ujung melengkung dengan kedalaman variatif menjadi pilihan menyenangkan, setiap ujung ovalnya dengan kedalaman 1,2 meter dan ke arah tengah lebih dalam menjadi 1,4 meter. Untuk kolam renang anak terpisah dengan kedalaman 60 cm.

Buat yang nginep tinggal nyebur aja, tapi klo yang cuman moo berenang tinggal bayar 40ribu per orang baik weekday atau weekend. Langsung dapet air seger sekolam renang sama pinjeman handuk serta loker.

Lokasinya strategis di area kampus-kampus ternama di Jatinangor, Sumedang.

Sambil berendam kembali teringat king kobra dan black mamba tadi… wuiiiih untung cuman sebatas mimpi… meskipun malu karena ketiduran dan terjatuh ke lantai tapi dua poin penting adalah : pertama, bisa selamat dari serangan ular yang mematikan dan kedua, menjalani shaum dengan kesegaran setelah berenang.

Selamat menjalani hari-hari puasa dengan segala aktifitasnya. Kerja tetap terlaksana dan ibadah bisa menjadi penyempurna, Wassalam (AKW).

***

Catatan : Tempatnya nyata tapi ceritanya fiksi ya mas bro, lumayan sambil ngabuburit.

Lokasinya di Hotel Puri Khatulistiwa, beralamat di Jl. Raya Jatinangor No.KM, Cibeusi, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat 45363.

.

Kolam Renang Santika Hotel Tasikmalaya.

Pengennya berenang, tapi ternyata….

Photo : Kolam renang Santika Hotel Tasikmalaya / dokpri.

TASIKMALAYA, akwnulis.com. Lantai mezanin menjadi tujuan kali ini, bergegas untuk menemui sang riak segar air di kolam renang mumpung meetingnya belum di mulai.

Tepat pintu lift terbuka, langsung belok kiri. Ternyata terdapat ruang meeting…. ada 2 ruang meeting kecil dan 1 ruang meeting besar daan…. di ruang meeting besar lagi ada acara yang pesertanya anak-anak sekolah dasar atau smp…. terlihat dari pintunya yang terbuka. Sementara kolam renang berada di luar area tersebut di batasi pintu kaca.

Segera melewati pintu kaca dan ada undakan sedikit, di sinilah sang kolam renang berada. Kolam renang Hotel Santika Tasikmalaya.

Kolam renangnya ukuran kecil, lumayan untuk fasilitas hotel. Kedalaman 1,5 meter untuk yang dewasa dan buat anak-anak ada kolam lebih kecil dengan kedalaman 80 cm. Airnya jernih banget dengan lantai keramiknya yang biru bercorak, meskipun aroma kaporit terendus indra perasa tetapi tersamarkan oleh beningnya air dan suasana tenang di sini.

Photo : Kolam renang jernih membiru / dokpri.

Di sini tidak ada petugas lifeguard jadi jika bawa anak kecil harus bener-bener di jaga. Buat nunggu ada gajebo yang beratap rumbia, lalu buat bersantai setelah mandi-mandi atau main air di kolam renang ini terdapat kursi-kursi malas yang berjajar.

Di saat bersiap untuk mengganti dengan celana renang, terdengar suara ribut anak-anak. “Ada apa yach?”

Keluar dari ruang ganti, wajah terperangah karena kolam renang ini sudah dipenuhi anak-anak yang bergerombol. Ada yang duduk di kursi malas, di gazebo juga di pinggir-pinggir kolam renang sambil asyik berphoto atau selpi dan ketawa-ketiwi. Kayaknya acara di ruang pertemuan udah berakhir atau sedang istirahat.

Ada juga yang berkejar-kejaran hingga pinggir kolam renang, meskipun mayoritas cuman duduk bergerombol sambil menikmati kejernihan air kolam renang yang membiru.

Sreet……

Otomatis rencana berubah, nggak elok khan kita berenang tapi di tonton puluhan atau mungkin ratusan anak-anak yang mengelilingi kolam renang ini.

Photo : Kolam renang anak kedalaman 80 cm / dokpri.

Celana renang nggak jadi di pakai, kembali ke stelan casual dan…. akhirnya balik ke kamar…

Renangnya gatot.. gagal total.

Tapi tidak mengapa, manusia merencanakan tetapi takdir kehidupan berbeda. Akhirnya kembali buka-buka laptop, browsing sesuatu hingga menjelang sore. Lupakan berenang kali ini, karena ba’da magrib sudah mulai meetingnya termasuk esok hari.

Ternyata, ruang meetingnya pas depan kolam renang di lantai mezanin tadi. Heu heu heu, minimal meskipun nggak jadi berenang karena takut jadi objek tontonan anak-anak, tetap bisa menikmati suasana dan pemandangannya di sela meeting penting di hari esok. Selamat beraktifitas kawan, Wassalam (AKW).

***

Hotel Santika Tasikmalaya,

Jl. Yudanegara No.57, Cihideung, Tasikmalaya, Jawa Barat. 46121.

Kopi Tawazun di Kandang Kopi.

Keseimbangan dalam ngopi.

Photo : V60 Arabica Gununghalu di Kandang Kopi / dokpri.

TASIKMALAYA, akwnulis.com. Komposisi Kopi dalam proses penyeduhan dan penyajian menjadi penentu dalam hadirnya citarasa yang sesuai dengan harapan. Meskipun prosesnya memerlukan waktu lebih lama dibandingkan dengan kopi tubruk atau kopi sachet biasa, tetapi hasilnya akan berbeda.

Dimulai dari gramasi, jumlah air panas untuk menyeduhnya hingga suhu air yang terukur sesuai keinginan Barista sang penyeduh. Plusnya juga keseimbangan hati dan pikiran.

Bisa saja, proses manual brew V60 pas nyeduh pake goose neck, sambil mikirin kepahitan hutang…. otomatis kopi yang dihasilkan akan semakin pahit atau bodynya hadir maksimal.. hehehehe just kidding guys… itu sih cuma umpama. Yang pasti bean awal kopi yang akan disaji, itu penentu utama.

“Bener nggak?”

“Jangan-jangan bener!”

Untuk membuktikannya silahkan eksperiment sendiri yaaach…

***

Bicara keseimbangan, atau disebut ‘Tawazun’ maka dalam islam sesuai dengan fitrah Allah, manusia itu memiliki 3 potensi yang harus seimbang yaitu Al-Jasad (Jasmani), Al-Aql (akal), Ar-Ruh (Rohani).

Dari sisi jasmani, maka harus memiliki raga yang sehat, dan kuat. Sementara akal adalah perbedaan yang dimiliki manusia dengan hewan, sekaligus manusia lebih mulia dari hewan. Serta terakhir adalah ruh dengan kebutuhannya dzikrulloh, sebuah kebutuhan yang akan memberi ketenangan bathin, ketegaran menghadapi kenyataan, menjaga semangat hidup serta senantiasa bersyukur kepada Allah SWT.
Ketiga komponen ini harus seimbang (tawazun), karena memang saling melengkapi satu sama lain.

“Trus apa hubungannya dengan kopi?”

Pohon kopi yang sehat akan menghasilkan biji kopi yang berlimpah dan tentu berkualitas. Melalui proses penyeduhan manual dari Sang Barista yang diberi Akal ilmu pengetahuan sehingga bisa meracik biji kopi berkualitas ini dengan presisi dan seimbang. Tentu hasilnya dapat disajikan dengan seluruh sukacita dan citarasa yang luar biasa.

Penikmat kopi segera beraksi, mencium aroma, meneguk perlahan, tahan di rongga mulut dan rasakan sensasinya. Memaknai kenikmatan tiap tegukan adalah rada syukur atas berkah yang diberikan Allah melalui indera perasa, indera penciuman dan pencernaan kita. Nikmatnya kopi adalah salah satu nikmat yang diberikan Illahi… Amiin.

Begitupun sajian kemarin malam, manual brew V60 Arabica Gununghalu dengan perbandingan 1 : 17 dan suhu air 89° menghasilkan sebuah sajian kopi yang beraroma harum dengan acidity medium high, Body-nya medium dengan sedikit sisa kepahitan yang menempel di belakang lidah. After tastenya beraneka rupa dengan kecenderungan jeruk citroen dan, tamarind dan karamel.

Menemani suasana malam di Kota Tasikmalaya, tepatnya di Kandang Cafe yang berlokasi di Jalan Tentara Pelajar, Empang sari, Tawang, Kota Tasikmalaya.

Selamat menunaikan ibadah puasa kawan. Jangan lupa bagi yang suka dan suka bingit kopi…. ngopaynya setelah adzan magrib yaaaa… Wassalam (AKW).

Gayo Wine Japanesse.

Sruput kopay dingin duyuuu bray…. di sini.

Photo : Spider nyaaah nemplok / dokpri.

KUNINGAN, akwnulis.com. Pas milih kursi di ruangan bagian dalam, agak terdiam sejenak karena disambut laba-laba raksasa yang nemplok di dinding hitam. “Takuuuut… spiderrrr!” teriakan anak secara spontan bikin pengunjung lain menoleh, lalu tersenyum karena paham bahwa kekagetan itu beralasan.

Di dinding tembok berwarna hitam, nemplok hiasan kayu berbentuk laba-laba. Andaikan itu laba-laba hidup, pasti segera beranjak menghindari, pergi untuk tak datang lagi.

“Sayanggg…. itu cuman hiasan, nich ayah pegang” sambil tangan mencoba menggapai laba-laba kayu tersebut. Anak kecilku tersenyum, “Oh hiasan ya, oke deh” dua detik kemudian berlari mengitari meja lainnya dan sudah lupa dengan kekagetan melihat hiasan laba-laba raksasa.

Photo : Interior jadul / dokpri.

Interior cafe yang menyajikan beraneka makanan minuman dan tentunya manual brew coffee ini homy banget, enak buat nyantai dengan mayoritas nuansa kayu berpadu dengan warna-warni menyegarkan. Namanya cafe dua4 kopi berlokasi di daerah Ancaran Kota Kuningan, dari Alun-alun kuningan ke arah barat dan di perempatan setelah LP belok kanan ke arac Cijoho, terus lurus Ciporang dan setelah itu daerah ancaran. Ada beberafa.. eh beberapa cafe kopi disitu, tapi sekarang kesempatannya ke sini duluuuu…..

Pilihannya tetep #tidakadaguladiantarakita dan jatuh pada manual brew arabica gayo wine. “Kok nggak pesen kopi arabica jabar mas?”
“Tadinya moo gitu, eh readynya cuman arabica gayo wine dan solok, ya sudah pilih salah satu dech”

Photo : Gayo wine japanesse / dokpri.

Anak kecilku milih minuman coklat dan ibu negara dengan creme bruelle-nya. Nah aku mah penasaran dengan metode seduh ‘japanesse‘, langsung tanya dech sama sang baristanya, Kang Agus, yang moo kepo-in IGnya cari aja @ch33monk.

Model seduh manual japanesse ini basisnya tetep seduh pake V60 tetapi berbeda pada sentuhan akhir. Klo komposisinya sih standar, Kang Agus ini pake 1 : 15 dengan suhu 85° celcius. Bedanya adalah pada gelas server susah ready es batu yang menangkap tetesan cairan ekstraksi kopi gayo wine ini dan mengubah cairan panas menjadi dingin.

“Hasilnya?”

Segelas kopi dingin yang begitu kuat level aciditynya… nendang banget. Aroma harum standar, tetapi aciditynya tampil banget dan bikin segeer. Menyeruak fruity berry dan sesaat ninggal di ujung lidah, body medium bikin tersenyum.

Photo : Kang Agus sang Barista 24kopi / dokpri.

Memberi rasa segar di siang terang yang periang, sambil mengamati anak kecilku yang cilingcingcat (nggak mau diem barang sedetik), begitu exited dengan suasana baru dan beberapa barang jadul yang menjadi pelengkap interior cafe ini.

Yang kepo bin penasaran, tinggal search ada di gugel, cafe 24kopi..
Tring… langsung aja klik direction… eh tapi syaratnya klo lagi di kuningan… maksudnya Kabupaten Kuningan Jawa Barat, bukan area Kuningan Jakarta ya guys….. kejauhaaan.

Trus urusan harga yang bikin hepi, manual brew gayo wine ala japanesse ini di hargai 17ribu donk… worthed khan?… pokoknya harga-harganya bersahabat dech…

Yuk ah.. srupuuut… suegerrrr. Wassalam (AKW).

Meeting & Curug Jodo

Rapat yang padat menguras semangat, diteruskan dengan mencari (Curug) jodoh…

Photo : Curug Jodo / dokpri.

SUBANG, akwnulis.com. Tuntas shalat isya maka meeting dilanjutkan lagiii… “Cius meeting malem-malem, bukan meeting kali, tapi meuting (meuting=bermalam bhs sunda)?”

Ya iya memang harus bermalam karena meetingnya dimulai setelah waktu isya. Klo itung-itungan, baru tadi seharian menuntaskan urusan dan melatih kesabaran di Bekasi, monggo dibaca ‘Merajut Janji di Bekasi.‘ Tetapi itulah sebuah komitmen yang harus dijalani, JaSuNi tea geuning. Jadi… lets go, kita meeting.

Segeralah berdiskusi dengan penuh aksi dan aneka reaksi. Berbalas pantun dan saling melengkapi demi sebuah kesepahaman bersama yang saling memperkaya rasa. Malam beranjak menuju puncaknya, sementara pembahasan masih berlanjut. Sesi kami berakhir 5 menit sebelum tengah malam tiba, alias pukul 23.55. Sementara pasukan khusus dan para pengurus melanjutkan penyusunan administrasi yang menjadi pembahasan serius, hingga menjelang mentari muncul secara halus…. wow begadang…. ruar biasa.

Perjuangan belum berakhir….

Photo : Meeting & meeting / dokpri.

Setelah sarapan selesai dilakukan maka battle discuss continue.. ternyata rame, saling berbalas pantun, saling melengkapi dengan aneka argumen yang ketat dan padat.

Dari mulai UU 40/2007, PP 94/2017, Permendagri 94/2017, Permendagri 37/2018, hingga Anggaran Dasar perusahaan menjadi bahasan yang saling melengkapi. Hal mendasar yang bisa dipetik adalah, semua memiliki niat yang sama… we are happy to lesson together.

Mempertahankan argumen dengan kebersahajaan dan menerima argumentasi yang lain jikalau didasari tata regulasi dan tak lupa sejumput diplomasi plus selarik basa-basi…..

Perlahan tapi pasti sesi-sesi meeting bisa dilalui. Pencatatan yang pasti dengan hadirnya notaris semakin mengukuhkan eksistensi. Berucap hati-hati dan berkomentarpun perlu berfikir lebih dari dua kali…. takut masuk akta notaris hehehehehe.

Photo : Camping Park Merpati di sekitar Curug Jodo / dokpri.

Udah ah… cerita seriusnya. Sekarang mah mencari dulu suasana, menenangkan kepala yang terasa panas membara setelah dua hari ini berfikir dan berfikir, bekerja dan bekerja.

“Moo kemana looh?”

“Sini, kita ke Curug Jodoh”

“Hah… serius bro?… takut ah”

Jawabannya takut, tapi penasaran. Akhirnya kami bertiga bergerak dari ruang meeting menuju lobby dan keluar menapaki paving block dan lantai tembok tanpa alas kaki alas nyékèr.

“Kenapa nyeker, khan ada sandal hotel?”

Kami bertiga seolah sepakat, atau sama-sama linglung pasca marathon meeting. Ganti baju, lepas sepatu dan berjalanlah ke lobby tanpa alas kaki…. aya aya waé.

Tujuannya hanya satu, Curug Jodo. Petunjuk arah segera diikuti, naik turun dan belak belok juga dijalani hingga akhirnya tiba di pertigaan dan terpampang tulisan yang dicari.

Photo : Beningnya air panas alami di Curug Jodo / dokpri.

Nggak pake lama segera mengabadikan pemandangan yang ada. Trus buka celana… eh maksudnya celana panjangnya dan bercelana pendek turun ke area curug yang berair bening…. serta yang terpenting adalahh…. airnya panazz… panasss alami, water hot spring tea geuning.

Menapaki dasar kolam air panas begitu menyegarkan, suasana alam yang berangin sejuk membawa kedamaian dan mendinginkan otak dari rasa membara tiada hingga.

Awalnya penasaran dengan nama Curug Jodo, kirain klo dateng kesinih bakalan dapet jodoh…. ternyata bukan itu guys.

Asal muasal penamaan Curug Jodo itu karena air terjun atau curug berair panas ini terdiri dari dua curug yang berdampingan secara alami sehingga dianggap menjadi curug yang berpasangan dan akhirnya dinamakan Curug berJodoh eh Curug Jodo.

Urusan yang datang ke sinih terus dapet jodoh, ya itu mah sudah takdirnya. Karena jodoh itu di tangan Tuhan, jikalau kita yang belum punya jodoh maka harus berusaha meraihnya sekuat tenaga, niat dan usaha sehingga sang jodoh bisa direngkuh…. klo nggak berusaha… ya selamanya jodoh ditangan Tuhan alias Jomfer.. Jomblo forever.

Ah sudah ah, kok nglantur gini….. padahal otak udah stabil lagi karena rekreasi singkat ini. Selamat menjalani komitmen atas pekerjaan masing2 juga takdir perjodohan. Wassalam (AKW).

***

Catatan :
Lokasi Curug Jodo berada di lingkungan Sariater Hotel & Resort, Kecamatan Ciater Kabupaten Subang Jawa Barat.

Merajut Janji di Bekasi

Sebuah perjalanan yang penuh kesabaran serta ketenangan…

Photo : Sarapan Ayam buah / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah rencana adalah ihtiar dalam kehidupan dan ketegaran menjalani kenyataan serta keikhlasan menerimanya, itu yang kereeen.

Hari kerja di minggu ini diuji dengan kemacetan tingkat dewa. Senin pagi dari Cimahi ke Bekasi ditempuh dalam waktu 6 jam 30 menit… atau 6 jam dech karena terpotong dengan sarapan di Rest area Love 72 ruas jalan tol Cipularang.

Kemungkinan besar yang bikin kemacetan semakin parah adalah barengan dengan para pemudik long wiken yang kembali ke jakarta setelah libur lumayan panjang. Aslinya ampe nggak bisa berkata-kata karena kezeeel bin pegeeel.

Photo : Truk pasir kepleset / dokpri.

Ada objek yang bisa di ambil photonya ternyata truk pasir yang terjerembab di pinggir jalan tol, kasian tapi gimana, bingung nolongnya, duh semoga tabah hadapi kenyataan yaaa….

Melihat ke depan, antrian begitu panjang dan memang sulit untuk memilih, meskipun akhirnya tak tahan dengan kemacetan, segera mengambil arah tol exit gate Cibitung.

Eeeh… ternyata diluar tolnya juga sama. “Nasibbb ….nasib”

Photo : Mesjid di Rest area 72 / dokpri

Untungnya para peserta meeting di Bekasinya penyabar dan pemaklum semua, acara yang sedianya dilangsungkan pukul 10.00 wib, musti molor tanpa batas waktu yang pasti, menunggu kami yang masih bertualang dalam pusaran kemacetan.

***

Setelah bermacet ria di jalan inspeksi kalimalang, lalu belok kanan menuju jalur jalan pantura, jalur lokal karawang -bekasi maka suasana perjalanan lebih berwarna karena di tengah kemacetan bisa mampir dulu ke minimarket, warung ataupun mesjid sehingga momen macet spesial ini bisa dinikmati.

Ruar biasa……

Akhirnya dengan bersusah payah bisa tiba di tempat meeting disambut dengan adzan dhuhur yang menenteramkan hati.

Photo : Suasana Meeting / dokpri.

Tuntas sholat jama qashar dimulailah meeting yang muram plus juga ACnya sedang bermasalah…. otomatis jadi sauna dadakan… keringat mulai bercucuran, apa mau dikata….. lanjutkaaaan.

Di sinilah kesabaran dilatih, ketenangan diuji. Bertabur kata diplomasi mengeratkan janji untuk bersama-sama menyelesaikan resesi yang sedang dihadapi. Satu kata yang menjadi niat, kata… Semangaaat.

Akhirnya jam 4 sore mulai bergeser dari bekasong menyongsong tol yang diharapkan lowong…. ternyata zonk.

Macet lagi… macet lagi… tapi tidak seberapa dibanding keberangkatan tadi. Perlahan tapi pasti, merayap menapaki hari di jalan tol cikapek menuju arah tol cipali.

Lha moo kemana?”

“Lanjut malam ini meeting di Subang

Woalah perjalanan masih berlanjut, tapi tidak usah jadi ribut. JASUNI saja, jalani syukuri dan nikmati. Wassalam (AKW).