Ngopay & Sunrise di Pantai Karanghawu.

SUKABUMI, akwnulis.com. Kekuatan jempol untuk menulis di atas virtual keyboard menjadi hal yang sangat penting karena sejumput cerita tentang perjalanan menikmati kopi telah diawali dengan pengalaman berbeda yaitu sruputannya sambil naik angkot sebagaimana ditulisan terdahulu NGOPI DI ANGKOT BIRU.

Dilanjutkan yaa…

Berbincang singkat namun akrab dengan pengemudi menambah kecerian pagi. Ternyata pak sopirpun sedang membawa segelas plastik kopi yang menjadi ritual rutinnya setiap pagi agar memberi semangat dan kesegaran hakiki.

Perjalanan melewati pinggir pantai dari palabuanratu cisolok, melewati Hotel Samudra Beach lalu pantai Citepus dan berbelok ke kanan agak menjauh dari pantai melewati pasar dan pertigaan ke arah Cikotok lalu akhirnya tiba di Pantai Karanghawu yang menjadi tujuan utama perjalanan ngopay pagi ini.

Target yang penting juga adalah waktu pagi berkaitan dengan kehadiran sang mentari. Maka sebuah doa kembali disampaikan kepada Allah Sang Pemilik Dunia bahwa semoga cuaca cerah tanpa awan tebal apalagi hujan yang membuat mentari enggan menampakan kehadirannya.

Bismillah…

Debur ombak menyambut raga sekaligus menggetarkan jiwa. Ada rasa campur aduk yang memenuhi dada. Senang dan sukacita tentu menjadi utama, namun rasa sedikit gentar juga menelusup melihat kegarangan ombak memukul pantai dengan kelembutan yang penuh tenaga serta segera kembali ke laut lepas dengan kekuatan dan kecepatan yang tidak bisa dikira.

Gundukan karang yang begitu tegar menerima terpaan ombak pantai, menjadi tempat favorit bagi pengunjung untuk mendekat dan mengabadikan menjadi photo dan video yang membanggakan. Tapi tetap kewaspadaan betul – betul utama karena bahaya mengintai diantara runcingnya batu karang dan debur ombak pantai Karanghawu.

Nama karanghawu adalah sebutan bagi pantai ini karena gundukan batu karang yang ada dengan lubang – lubang alami itu jika dilihat mirip dengan tungku sederhana untuk memasak di masyarakat sunda. Nah tungku itu dalam bahasa sunda disebut hawu. Maka jelaslah bahwa penamaan pantai ini sesuai dengan kondisi alam yang ada dan dinilai oleh indera penglihatan nyata.

Mari kembali ke agenda kita, Ngopay di Pantay… eh pantai. Langsung saja mencari spot photo yang pas dengan menggabungkan 4 unsur utama yaitu : ombak, karang dan mentari berpadu dengan secangkir kopi, plus termosnya ya.

Tring… beberapa jepretan saja tapi bisa mewakili semuanya. Rasa senang menyeruak dan benih bahagia menemani pagi ceria. Tak lupa sebagai bukti hadir ngopi di pantai, perlu ada capture photo dan video dengan ekspresi wajah yang begitu menikmati. Sruputtt guys.

Nikmatnya kohitala dilengkapi rasa bahagia karena di pagi ceria ternyata deburan ombak, kehangatan kohitala lengkap dengan sinar mentari yang hadir dengan sempurna, Fabiayyi Ala irobbikuma tukadziban.

Tuntas sudah menikmati kopi di pantai kali ini, maka tidak pake lama, kembali bergegas meninggalkan area pantai dan menyeberang jalan untuk menunggu kehadiran angkot yang akan mengantarkan kembali diri ini ke Hotel Karangsari Palabuanratu.

Perjalanan angkot kali ini dikemudikan oleh Mang Ujang yang terlihat semangat disaat di-on-kan kamera video, eksis juga guys. Video lengkapnya perjalanan ngopay di angkot dan di pantai karanghawu bisa dinikmati di NGOPI DI PANTAI KARANGHAWU SUKABUMI.

Selamat pagi dan selamat memaknai hari. Wassalam (AKW).

NGOPI di angkot menuju Karanghawu.

Sruput kopi di Angkot biru…. Nukmat.

SUKABUMI, akwnulis.com. Deburan ombak menggapai karang begitu keras dan menegangkan, tetapi anehnya terselip juga perasaan senang yang tak bisa dihadirkan dengan sebatas kata dalam bilangan.

Memang bahagia itu unik.
Bahagia itu sederhana.

Setiap orang punya cara masing-masing untuk meraih dan merasakan bahagia. Seperti pagi ini di sebuah pantai di daerah palabuanratu, namanya pantai Karanghawu.

Tak sulit mencari di peta online, hanya butuh keyword saja. Tapi via bertanya dan naik angkot sekitar 10 menit dari palabuanratupun bisa dengan mudah mencapainya.

Maka pagi ini menjadi sebuah momentum yang tak terlupakan kawan. Suasana ngopay (menikmati kopi) yang berbeda. Tentu saja dengan persiapan yang diawali dini hari. Yaitu meracik eh menyeduh kopi secara manual dengan metode SMD (seduh manual darurat). Metode SMD ini dengab memanfaatkan peraltan yang ada di kamar hotel. Mulai dari pemanas air yang sekaligus menggantjkan fungsi ketel leher angsa, trus ukuran bean 16 gram atau 18 gramnya diukur dengan perasaan saja plus temperatur air panasnya menggunakan termometer kulit jari tangan hehehehe… alias dipegang aja.

Ups panaaas….

Kopinya sudah digrinder dari rumah, arabica honey sylvasari. Maka setelah corong filter flatbottom dilengkapi kertas filter yang telah dibasahi air panas. Prosesi ekstraksi terjadi dini hari, selain dinikmati juga dimasukkan ke dalam termos sebagai persiapan untuk ngopi di pagi hari.

Tepat pukul 05.30 wib segera keluar kamar sambil membawa tas ransel berisi termos kopi berlapis bambu juga gelas eh cangkir stainless berbalut bambu dengan tulisan ‘Smiling West Java.’ Menuruni jalanan dari lobi hotel Karangsari Palabuanratu menuju jalan raya sambil memandang hamparan laut yang begitu menggoda.

Tapi, kali ini ada hal yang berbeda. Jari telunjuk refleks bergerak dikala sebuah mobil biru akan melintas, sebuah angkot (angkutan kota).

Pak, bisa ke pantai Karanghawu?”
Tiasa Cep”

Wah senangnya, kebetulan kursi penumpang di samping sopir masih kosong. Buka pintu, duduk dengan nyaman dan angkotpun bergerak perlahan. Alhamdulillah setelah sekian purnama bisa kembali merasakan nikmatnya sensasi menaiki angkot dan berbaur dengan para penumpang lainnya. Apalagi dilengkapi terpaan AG (Angin Gelebug) alias angin dari jendela yang memang terbuka melengkapi sensasi perjalanan pagi ini.

Menyenangkan sekali kawan, apalagi disaat membuka tas ransel dan mengeluarkan termos dan cangkir kesayangan. Putar dikit dan termos terbuka, rasa wangi kopi menyambar kemana-mana. Maka sebagai basa-basi, ijin kepada sang pengemudi yang terpapar harum kenikmatan ini, sekaligus menawarkan untuk mencicipi.

Mangga bapak, bade ngersakeun ngaleueut kopi?” (Silahkan bapak, apakah mau mencoba kopi?”)

Jawabannya tersenyum dan menggeleng singkat, sementara tangan dan matanya memandang ke jalan dengan waspada. Untuk melihat calon penumpang setia dari angkot kesayangannya.

Srupuut guys, kopi nikmat manual brew arabica membasahi mulut dan menggoda lidah agar dengan unggahan rasa yang enak dan bersahaja. Sambil raga bergerak di dalam angkutan kota, aktifitas ngopay tetap dijalankan dengan sempurna, sruput lagii. Nikmat.

Trus cerita Ngopay di pantai Karanghawunya gimana?”

Ahay, sabar kawan. Tulisan sedang berproses. Menyesuaikan kecepatan kedua jempol memproduksi kata-kata. Sabar ya…..

(To be continue…)

Kopi & Tabungan.

Ngopi obat galau serta jadi bijak mengelola tabungan.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah bisikan senja menemani kegalauan hati yang sedang merana. Terdiam tanpa bisa menghasilkan rangkaian kata, tetapi hanya berputar di dalam amigdala dan neocortex saja bahwa hari ini begitu terasa menderita. Padahal mungkin sederhana jikalau ditelusuri penyebabnya, yaitu berawal dari kebingungan karena kebutuhan keuangan yang ternyata terjadi ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran.

Mengapa menjadi galau, khan pendapatanmu besar kawan?” Sebuah tanya membahana dan menohok rasa sehingga sulit memberikan jawabannya. Ingin rasanya memberi penjelasan rentetan kata betapa beban pengeluaran bulanan begitu ketat dan dipengaruhi urusan eksternal yang fluktuatif. Tapi sebuah gengsi menahan diri untuk tidak mudah mengeluarkan curahan hati sehingga kesan pria cengeng akan menjadi label abadi.

Maka sambil terdiam dan menata hati, pemikiran terus berjalan mengevaluasi diri tentang mengapa ini semua terjadi. Runutan data – data keuangan segera disingkap dan diingat kembali, berbagai peristiwa yang telah terlewati dan terbukti membutuhkan sejumlah uang kembali dihitung meskipun tanpa coretan tinta namun dihitung garis besarnya saja.

Sebagai pelengkap sebagai obat penyembuh kegalauan, tak lupa seduhan kopi manual tanpa gula dengan metode filter menemani dalam indahnya kepahitan rasa. Sekaligus mengingatkan bahwa kegalauan ini tidak seberapa. Karena ternyata cara terbaiknya adalah bagaimana mengendalikan dan melawan keinginan diri sendiri.

Maksudnya bagaimana melawan diri sendiri?”

Pertama adalah menata kembali kedisplinan diri dalam mengeluarkan uang untuk segala kepentingan. Ketatkan uang agar tetap bertahan di rekening agar tidak kering. Yakinkan diri agar tidak semudah itu menggesek kartu debit atau kredit plus scan QR di berbagai merchan karena sebuah keinginan semata atau rengekan anak dan permintaan istri, tetapi harus rasional.

Kedua adalah menjadi nasabah yang bijak sehingga dalam menggunakan produk perbankan tidak hanya terpaku terhadap satu produk dan fasilitas saja. Jalin komunikasi dan manfaatkan berbagai produk agar penyisihan uang kita lebih efektif dan bisa tersimpan dengan baik. Meskipun dengan perkembangan teknologi informasi saat ini betapa mudahnya uang yang ada di rekening kita mengalir keluar tanpa terasa, eh terasa sih. Tetapi secara psikologis kok ringan ya mengeluarkan uang 1 – 2 juta karena tidak melihat phisiknya.

Coba kalau kita ambil cash dulu di ATM, baru digunakan membeli atau membayar sesuatu, maka terasa berbeda.

Nah kalau mengacu data yang ada dari Publikasi Otoritas Jasa Keuangan dalam kurun waktu 1 tahun periode april 2021/2022 terdapat peningkatan tabungan sebesar 0,30% (Rp 652.125 Miliar) dan peningkatan tabungan sebesar 0,13% (Rp 325.042.Miliar) dari data tersebut terlihat bahwa trend menabung mengalami peningkatan dari sisi dana pihak ketiga yang terkumpul.

Makin banyak orang menabung, tinggal bijak tidaknya kita sebagai nasabah untuk menggunakan tabungan tersebut.

Ketiga adalah manajemen keuangan yang mengacu pada philosopi keuangan yaitu “Don’t put all your eggs in one basket”. Istilah ini umum di dunia investasi, tetapi menabungpun adalah salah satu investasi terdahulu yang sangat umum serta dikenal oleh kita semua. Maka sebagai nasabah yang bijak jangan hanya menyimpan uang dalam bentuk tabungan saja di bank BRI tetapi juga produk lain seperti deposito, tabungan berjangka, logam mulia ataupun KPR.  Perlu mulai juga mengenal dunia saham meskipun diawali dengan investasi recehan. Syaratnya adalah jangan takut mencoba tetapi banyak bertanya dan mencari referensi yang jelas tanpa tergiur oleh pihak yang bermulut manis menjanjikan gain yang tidak masuk akal.

Sruput kopinya dulu kawan, body dan acidity yang berpadu medium bold dilengkapi aftertaste rasa berry dan kesegaran lemon membantu kurangi kegalauan sore ini. Perlahan membuka hati bahwa semua hal harus direncanakan termasuk urusan keuangan.

Selain sebagai individu yang belajar melek tentang pengelolaan keuangan sekaligus belajar sebagai penyuluh digital yang membantu saudara kita lainnya untuk bersama-sama paham tentang pengelolaan keuangan. Juga sebagai pengendali diri sendiri dalam mengelola keuangan secara bijak dan terukur. Bagi yang sudah berkeluarga maka keputusan pengelolaan uang harus berdasarkan diskusi bersama sehingga bisa saling melengkapi dan menyempurnakan pengambilan keputusan yang ada.

Karena tidak sedikit dari kita yang pengelolaan keuangannya mengalir begitu saja. Dapat gaji bulanan atau pendapatan dari usaha dan langsung digunakan untuk keperluan bulanan. Di saat tertentu ternyata tertekan atau stres yakni pada saat keuangan tidak seimbang antara pendapatan dan pengeluaran, atau ada istilah tentang gaji ‘lima koma’ yang artinya bukan gajian sebesar Rp 5 koma sekian juta tetapi tanggal 5 sudah koma karena gaji habis untuk keperluan bulanan saja.

Nah, diri inipun sekarang menyadari bahwa keputusan 2 tahun lalu dikala berinvestasi membeli rumah dengan mengambil KPR ke bank tentu memiliki konsekuensi untuk disiplin membayar cicilannya sementara rumah satu lagi yang digadang-gadangkan laku terjual, hingga saat ini masih betah menjadi bagian harta tidak bergerak yang menunggu jodoh pembeli. Akibatnya ketidakseimbangan terjadi dan disadari bahwa kedisiplinan dalam menghemat pengeluaran bulanan adalah harga mati. Meskipun disiplin ini begitu berat dan penuh godaan ingin berbelanja hehehehe. Lha malah curcol ya.

Kembali ke topik tulisan ini bahwa kegalauan sore ini bisa dimaknai memiliki berbagai sisi. Dimensi awal adalah pemahaman untuk pengendalian diri dan disiplin, lalu dilengkapi pemahaman tentang seputar perbankan dan sikap bijak nasabah yang baik serta dimensi luasnya adalah berbagi  wawasan dan pengetahuan plus tidak lupa menikmati kohitala (kopi hitam tanpa gula) sebagai mood booster pamungkas menghadapi tantangan kehidupan yang penuh variasi.

Selamat menghadapai tantangan dan cobaan eh godaan hari senin kawan, Wassalam (AKW).

NGopay di RASAHAUS & Kahoot.id

Meeting – Games – Ngopay – Ngojay – Meeting.

BEKASI, akwnulis.com. Ikutan rapat koordinasi afaupun sosialisasi adalah hal yang biasa. Tetapi di acara kali ini, iseng – iseng ikutan kuis interaktif yang digawangi panitia pake aplikasi kahoot (kahoot.id). Sebuah aplikasi permainan interaktif yang menarik dan sekakigus ngetes peserta tentang pemahaman terhadap materi yang diberikan.

Selama ini biasanya via zoom, tapi kali ini hybrid sehingga yang offline di acarapun bisa ikutan. Balap cepat baca soal dan pijit jawaban di layar smartphone masing-masing…. rame.

Pertanyaan tentu seputar inpassing jabatan fungsional adyatama pariwisata dan ekonomi kreatif, tetapi ketajaman mata dan kekuatan sinyal smartphone menjadi pendukung utama. Ternyata kombinasi tersebut membuat nickname akwnulis.com berhasil memuncaki  games di batch 1 ini kawan, Alhamdulillah.

Iseng – iseng berhadiah dan diundang ke depan untuk mendapatkan hadiah. Apalagi pak Kepala Pusat SDM yang langsung menyerahkan dan berphoto bersama. Cetrek.

Pertanyaan dari MC sederhana, “Kok bisa cepet banget jawabannya pak?”, “Jempolnya banyak ya?”

Betul neng MC, jempolnya ada lima

Pantesan

Itulah cerita awal tentang menjuarai games sesi pertama. Tetapi jika setelah makan siang masih ada sesi games, aturannya nggak boleh ikut lagi, khawatir menang lagi dan menutup kesempatan yang lain hehehehe. Padahal belum tentu juga, cuma aturan adalah aturan. Ikuti saja, apa susahnya.

Nah sambil istirahat agak menjauh dari lokasi acara, hunting kopi langsung beraksi. Karena jelas ada cafe di lantai 6. Eh tapi shalat dulu ke mushola, baru cuss TeKaPè.

Nama cafenya lucu, RASA HAUS. Menunya tidak ada versi manual, tetapi semuanya pake mesin. Ya sudah americano langsung dipesan. Sambil menunggu kopi tersaji, bergeraklah mengitari area cafe sambil tetaoi ditemani tongkat kruk yang sementara menjadi pengingat bahwa kaki kiri sedang tidak baik – baik saja.

Area cafe RASAHAUS ini strategis, dengan area indoor yang o smoking dan outdoor yang cozy plus pemandangan menariknya adalah bisa melihat suasana taman dan kolam renang dibawahnya dengan leluasa.

Tapi kesempatan menikmati pemandangannya terhenti oleh suara sang pelayan yang sudah ada disamping kanan lengkap dengan nampan kebesarannya.

Silahkan Kakak, ini Americano-nya”

Terima kasiih

Asyik deh, srupuut yuk. Tanpa perlu basa – basi maka beraksilah tangan menjulur menjangkau cangkir dan mendekatkan pada bibir. Regukan pertama hangat dan nikmat, begitupun regukan kedua dan ketiga memenuhi rasa haus ingin minum kohitala hari ini.

Lalu sebagai pelengkap menu hari ini, pesanan salad versi cafe ini menjadi penyegar mulut sekaligus menghilangkan kantuk karena rasa bumbu asam pedasnya yang cukup membuat lidah bergoyang dan hati degdegan.. hahay lebay.

Namun ingat, sesi acara masih berlanjut. Jadi tak bisa berlama-lama di cafe RASAHAUS ini. Tetapi harus kembali ke lantai 10 dimana acara sedang berlangsung.

Maka berakhirlah sesi menikmati kohitala di cafe ini, raga bergerak menuju acara meskipun sebagian jiwa masih melekat pada mesin kopi di cafe ini. Wassalam (AKW).

***

CAFE RASA HAUS, Lt.6 Hotel Ultima Horison Bekasi.

Hunting KOPI TUTU BADUY

Mencari kopi asli baduy di acara Seren taun 2022.

SUKABUMI, akwnulis.com. Lewat sedikit tengah malam, kami menjejak di bumi palabuanratu tepatnya di Hotel Karangsari. Setelah menempuh perjalanan 6 jam dari bandung dengan 2x beristirahat, maka tibalah saatnya merebahkan raga dan membiarkan jiwa menghela nafas kelegaan.

Tapi sebelum menikmati istirahat, gerakan langkah terhenti karena melewati kolam renang yang berkilau di waktu malam oleh permainan lampu taman. Ada rasa untuk mencoba bercengkerama dan nyebur menyelami rasa, namun ternyata larangan datang dari petugas karena sesi berenang sudah usai. Ya sudah tidak jadi.

Akhirnya mandi di kamar mandi sebagai kompensasinya dan setelah tuntas shalat isya barulah merebahkan raga sambil mencoba memejamkan mata. Alhamdulillah.

Zzzz… zzzzz… zzzz

Jam 04.30 wib mata langsung terbuka dan bangun dari tidur lelap yang memberi kesegaran di tubuh ini. Tidak ada kompromi segera bangun dan bersiap mandi serta memantaskan diri. Karena pagi ini harus melakukan perjalanan lagi menuju lokasi yang direncanakan yaitu Kampung adat Kasepuhan Ciptagelar.

Sarapan pagi menjadi penting karena perjalanan secara estimasi adalah sekitar 2 jam lebih karena memasuki medan jalan yang naik turun bukit dan pinggir Gunung Halimun – Gunung Salak. Persiapan lainpun yakni badan harus fit dan siap berguncang-guncang di mobil double kabin 4×4 Toyota Hilux yang cocok bingit dengan medan jalan ‘unpredixtible‘ ini.

Kampung adat atau desa Adat Kasepuhan Ciptagelar adalah sebuah desa adat yang memegang teguh budaya kearifan lokal yang turun temurun dari para nenek moyang yang tinggal di sekitar gunung halimun dan gunung salak kabupaten sukabumi. Meskipun begitu modernisasi juga diterima secara terbatas, dimana teknologi pembangkit listrik mikrohidro telah hadir.

Nah, terkait perjalanan kali ini. Hati terasa gembira disaat masuk jalan biasa dan ada gapura bertuliskan ‘Selamat Datang di Kasepuhan Ciptagelar’… wah sebentar lagi, begitu suara dalam hati. Benar saja hanya 10 menit kemudian sudah masuk ke pedukuhan eh perkampungan dengan atap khas rumah desa adat.

Tapi kok sepi?”… lalu masuk ke gapura yang bertuliskan Kampung adat Sinarresmi. Ada area luas dikelilingi rumah – rumah panggung. Segera memarkir kendaraan dan bertanya kepada 2 orang warga yang merekapun menatap kami dengan heran.

Ternyata, bukan disini tempatnya. Ini ada kampung adat Sinarresmi sementara yang dituju adalah kampung adat Ciptagelar. Hehehehe, naik mobil lagi dan lanjutkan perjalanan menuruni bukit mendaki punggung gunung dan beberapa kali menyeberangi sungai serta berhenti di tanjakan berkelok tajam. Meloncat dari kabin mobil mencari batu atau kayu pengganjal agar mobil double kabin kami bisa bermanuver dan melanjutkan perjalanan.

55 menit berlalu, barulah tiba di Kampung adat Ciptagelar, “Tapi sepi juga dimana acaranya?” Berhubung GPS handphone terganggu maka GPS lainnya digunakan yaitu Gunakan Penduduk Setempat (GPS) juga khan?… bertanyalah kepada penduduk yang ada.

Dimana acara seren taun teh?”
“Diditu jang, pindah ka Gelar alam, deukeut da, paling leumpang sakilo”
(Disana Jang, pindah ke Gelar alam, dekat kok, cuma satu kilometer jalan kaki).

Tak menyurutkan semangat, segera meninggalkan kendaraan dan bergerak menapaki jalan turun naik bersama para pengunjung dan masyarakat yang ternyata mulai ramai hilir mudik.

Benar saja, 1,2 kilometer jalan kaki ditempuh 56 menit dengan kondisi kaki pasa patah kaki kiri, dan mulai terasa ada sesuatu yang salah di kaki kiri. Tapi perjalanan hampir tiba dan keharusan bersua serta bergaung dalam acara seren tahun mewakili pimpinan adalah yang utama, lanjutkan perjuangan.

Alhamdulillah rangkaian acara seren taun di tempat baru yang bernama Gelar Alam bisa diikuti meskipun tidak semua aktifitas hadir karena acara seren taun ini berlangsung seminggu lamanya. Tapi di acara puncak, gempungan gegeden miwah para jaro bisa bergabung memdengarkan harapan dan langkah-langkah yang sedang dilakukan semua pihak untuk kemajuan desa adat kasepuhan ciptagelar dan ciptaalam ini.

Duh jadi serius, khan mau hunting kopi. Pastinya kopi asli di ciptagelar ini. Tadi di pasar rakyat sudah berusaha ubek-ubek sambil lewat namun belum bersua dengan kohitala lokal.

Pasca menghadiri gempungan atau pertemuan resmi. Ada peninjauan bersama pak bupati, ibu Direktur Even Kemenparekraf dan Ibu Dewi Asmara DPR RI ke stand pameran dan mulai berbelanja berbagai hasil karya masyarakat adat Ciptagelar seperti boboko, aseupan, bedog, pacul, kored, korang… eh korangnya habis.

Dan pucuk dicinta ulam tiba, ada tersisa sebungkus kopi tutu baduy, kopi asli buatan masyarakat ciptagelar yang diproses secara tradisional dan ditumbuk halus menggunakan alu kayu dan proses penghancurannya itu, atau aktifitasnya disebut ‘nutu‘ dan hasilnya adalah hasil ‘tutu.’

Nggak pake basa basi, kopi tutu organik ini berpindah tangan bertukar dengan selembar rupiah merah bergambar pahlawan yang sedang sumringah. Wah senangnya….

Namun untuk menyeduhnya perlu persiapan lainnya. Nanti saja di Bandung bersama kawan-kawan sejawat dan sekantor atau kawan tamu yang kebetulan bersua atau bertandang. Sebagai pelengkap ngopay di lokasi ciptagelar ini, maka dikeluarkanlah bekal kopi manual brew V60 yang sudah dipersiapkan dari shubuh tadi.

Buka termos kayunya, tuangkan di cangkir kayu dan sruputlah jangan ragu-ragu. Nikmatt.

Itulah sekelumit cerita tentang ihtiar mencari kopi asli baduy disela tugas dinas yang menyenangkan namun penuh perjuangan. Untuk yang penasaran dengan versi videonya bisa di klik saja link youtube penulis, ada 3 video yakni :


1. PERJALANAN KE SEREN CIPTAGELAR
2. ACARA SAMBUTAN SEREN TAUN CIPTAGELAR 2022
3. HUNTING KOPI TUTU BADUY PADA SEREN TAHUN GELAR ALAM 2022.

Selamat bermalam minggu guys. Wassalam (AKW)

TOS KOLOT – fbs

Hiji carita basa harita

BANDUNG, akwnulis.com. Pagi menjelang dan mentari bergerak memberi terang. Sebuah ide menulis hadir di kepala dan tak perlu banyak pertimbangan, segera eksekusi dengan jari dan dirapihkan oleh mata. Itulah berkah pemberian Illahi yang harus kita syukuri.

Tulisannya bisa apa saja, namun sebuah tema besar perlu tetap dijaga. Maka blog ini dijaga konsistensinya dalam 2 koridor besar tema yaitu Ngopay dan Ngojay serta tema kedua adalah tulisan singkat fiksi berbahasa sunda.

Selamat pagi kawan, dan inilah tulisannya. Cekidot.

***

TOS KOLOT

Soca neuteup bari ngagerentes, “Duh gusti, èta damis meuni leucir, pangambung bangir ogè lambey pikabitaeun, soca langkung cureuleuk tur matak iuh kana manah”

Nu diteuteup mah anteng wè nyarios perkawis padamelan ogè murangkalihna nu tos ngawitan lebet ka paguron luhur tIna hasil ngiring selèksi nu saujratna. Teu hilap karier carogèna nu seueur cocobi tapi tiasa ngigelan dugika junun janten pupuhu. Cèrèwèdna teu robih.

Kang!”

Gebeg tèh, “Muhun” ngawaler bari rada ngarènjag.

Kunaon sapertos nu malaweung?, ulah seueur èmutan atuh. Da padamelan mah moal aya rèngsèna.”

Teu aya nanaon nèng, kalèrèsan aya nu hilap di kantor” diwaler bari rada tungkul.

Ngawangkong deui ngalèr ngidul dugika teu karaos acara parantos lekasan.

Ayeuna mah urang tèh tos karolot, teu kedah ngèmutan nu tos kalangkung. Urang ngarawat kulawargi sèwang-sèwangan, ngatik murangkalih supados janten solèh sholèhah.”

Amiin.”

Hiji kalimah nu mungkas carita, padahal dada ngaguruh teu puguh rasa.

***

Itulah jalinan kata bahasa sunda kali ini. Tidak perlu dipikirkan, tapi nikmati saja susunan kata dan hamburan makna yang bisa menghasilkan persepsi berbeda.

Kalau masih roaming karena ini bahasa sunda, tulis di kolom komentar atau japri saja sama saya hehehe. Terima kasih, Wassalam (AKW).

Kopi Kelapa.

Sruput kopi dan air kelapa, nikmat tiada tara.

BULAKLAUT, akwnulis.com. Sebuah momentum penting dan nikmat dalam jalinan kisah kehidupan ini adalah disaat angin berhembus menembus dedaunan dan secangkir kopi hitam tanpa gula sedang menempel di ujung bibir. Tinggal sedikit bergerak, maka kenikmatan kopi melengkapi sejauh mata memandang deburan ombak pantai selatan.

Apalagi raga ini terasa segar dilindungi oleh keteduhan pepohonan yang rindang dan rapi berjajar sepanjang pantai. Ditemani secangkir kopi dan sebutir kelapa muda segar yang jatuh dari pohonnya… halaaah jangan ngarang, kelapa mudanya khan memang beli dari ibu-ibu tukang dagang.

Sruputan kopi hitam bergantian dengan air kelapa muda yang segar disertai selaput kelapa muda yang ‘lumèho’ atau seperti lendir maka kenikmatan semakin lengkap memanjakan lidah dan rasa dalam momen mengkopi eh mengopi kali ini.

Ah celoteh singkat ini tak berlanjut karena mulut dan lidah lebih memilih memaknai rasa air kelapa dan segelas kopi yang penuh arti. Srupuut…. Alhamdulillah. Wassalam (AKW).

Antara KOPI & MAKSI

Sebelum maksi sruput kopi.

SETIABUDI, akwnulis.com. Suara alarm perut mulai berdentang disertai sukacita air liur yang berkumpul terbayang kelezatan sajian makan siang. Namun meeting masing berlangsung dan kemungkinan besar akan menabrak waktu istirahat makan sholat eh istirahat sholat makan (Ishoma). Meskipun biasanya ismasho, karena makan dulu dikejar demi kekhusukan shalat dhuhur. Daripada shalat dhuhurnya nggak konsentrasi karena khawatir kehabisan sajian parasman makan siang hehehehe, alasan ini mah.

Maka strategi lainnya adalah mengalihkan perhatian dari rasa keroncongan ini menjadi aktifitas lain yang lebih menarik. Tapi mau ngapain ya?…

Kebetulan kawan di sebelah berbisik dan nawarin untuk ambil kopi dulu sebelum sempat nanti jadwalnya istirahat.

Ide bagus kawan, hayu!” Tanpa basa basi raga bergerak menuju sudut snack break dan memproses sajian kopi dengan peralatan dan bahan yang ada.

Kopinya tentu standar meeting hotel berupa kopi bubuk hitam dan gula yang diwadahi pada keler terpisah serta termos besar berisi air panas. Ya sudah proses saja, yang penting kohitala bisa bersua.

Seperti biasa, setelah secangkir kopi hitam tanpa gula ini tersaji maka sebuah photo dokumentasi adalah bagian dari catatan hakiki. Bagaimana sebuah fragmen kehidupan dalam mencintai sajian kopi menjadi legacy.

Tibalah saat mencicipi, sruputt.. hmmm. Pahit lempeng dan tiasa asam-asamnya. Ketebak oleh lidah sebuah merk kopi, tapi tak perlu ditulis disini demi sebuah privasi. Untuk lebih meyakinkan maka ditanyakan kepada petugas yang mengawal sajian break meeting ini dan direspon dengan anggukan untuk mengiyakan.

Tapi sudahlah yang penting dapet kesempatan menyeruput kopi hitam tanpa gula meskipun sedikit berbeda plus gretongan. Sruput saja sampai tandas.

Alhamdulillah senada dengan harapan, ternyata pas sruputan terakhir ternyata meetingpun usai. Mantaabs, berarti tinggal dilanjutkan dengan kesempatan pertama menikmati sajian makan siang yang begitu dinanti, baru lanjut shalat dhuhur dengan perut telah terisi. Wassalam (AKW).

DITAROS – fbs

Kitu geuning…

Teu karasa nincak peuting katilu, sarè di imah dines dunungan, Juragan Camat Legok Eurih. Alhamdulillah sarè tibra teu kaburu ngimpi – ngimpi acan.

Padahal basa ngadeuheus rèk makè imah dines tèh, Juragan Camat rada ngahuleng.
Nyaan rèk mondok didinya Jang?”
“Sumuhun Bapa”

Uing amit mundur, tuluy mènta tulung ka polpp nu aya di kantor, keur ngabèrèsan imah dines. Mang Idi jeung Kang Sahri papelong-pelong, “Hayu Ang, tapi èta imah tèh geus 10 taun kosong”

Uing teu loba carita, buka panto uluk salam. Kaciri teu kaurus. Tèhel lukutan, ogè di juru balocor. Aya 3 kamar, ngan kamar hareup nu meueusan. Ngangkut mèja rapat wè 2 siki keur risbangna tambah kasur busa diluhurna, jadi kamar bujangan.

Peuting kaopat, jam sabelas karèk anjog ka imah dines rèngsè patroli. Kulutrak muka panto, teu poho uluk salam, “Assalamualaikum!!”
Simpè.

Pas ngaliwat ka ruang tèngah aya sora, “Nembè uih a?”
Sumuhun” Uing ngajawab bari olohok. Geuning aya. (AKW).

Arabica V60 di Teras Kiara.

Kopi, tugas dan kesempatan.

KIRPAY, akwnulis.com. Semilir angin pegunungan dan suasana damai menyeruak di tempat ini. Bersama selembar kertas menu laminating, menanti untuk dibaca secara rinci dan sesingkat-singkatnya untuk segera dipesan karena menunya memang sesuai dengan harapan.

Menu apa itu kaka?”

Seperti biasa, aneka menu makanan dan minuman khususnya kopi manual brew dengan metode V60 yang ternyata begitu menarik hati. Apalagi yang hadir kali ini bukan orang-orang sembarangan, beberapa orang kedua di OPD provinsi menyempatkan hadir di waktu maksi pada sela-sela rangkaian rapat yang datang silih berganti.

Kebetulan tempat untuk menikmati kohitala dan berbagai menu lainnya ini cukup menarik meskipun posisinya cukup jauh menanjak dari jatinangor, berada di wilayah Sukasari.

Patokannya gampang, ada Kampus LAN RI, lewati dikit dan terlihatlah cafe Teras Kiara. Sekarang dengan tuntasnya jalan tol cisumdawu trase awal, terasa lebih dekat. Karena dari tol gate hanya 900 meter saja. Jadi beres maksi dan sruput kohitala bisa langsung masuk tol an ngabretlah ke kantor untuk menyambut dokumen yang bejibun serta agenda lain yang sudah tersusun.

Tempatnya di lantai atas memberi kita kesempatan melihat kehijauan dan juga kampus LAN RI dimana pernah menjadi tempat ditempa di tahun 2018 dalam kerangka Reform Leader Academy. Suasana cafe yang ditata apik memberi pilihan suasana berbeda. Ada yang lesehan dengan bean bag warna warni, ataupun dengan meja kursi. Juga sofa untuk bersantai sambil sruput cikopay.

Kami memilih meja kursi kayu di area outdoor dan memesan bermacam-macam cemilan plus makanan berat karena judulnya khan makan siang. Tapi tetap menu utamanya adalah sajian manual brew V60 dengan pilihan kopinya adalah arabica halu honey. Sebuah pilihan tepat karena dengan acidity plus body seimbang dilengkapi sejumput rasa manis alami yang menenangkan hati.

Srupuut…. enak. Juga rasa nikmat mengunyah menu makanan dari panggang pisang madu, tahu cabe garam hingga nasi bakar dan sop buntut kekinian.

Semilir angin kiara payung memberi kedamaian. Menemani bincang santai dan makan siang yang bernilai. Karena jarang sekali kami berkumpul dalam suasana ceria seperti ini. Biasanya bersua pada rapat serius yang padat dan perlu tindaklanjut.

Akhirnya tugas juga yang membuat kami bubar tergesa. Bergerak menuju kantor masing-masing demi tugas negara. Wassalam (AKW).