Photo : Kopi buah merah putih ala chef akw / dokpri.
KUNINGAN, akwnulis.com. Semangaat pagi kawan, jangan terjebak dengan judul yaa…. klo penasaran tinggal baca saja. Judul dan konten tidak jauh kok. Tapi itu tadi, kekuatan judul bisa menarik pembaca untuk membaca tapi juga bisa mengecoh pembaca yang hanya baca judul dan sepintas info singkatnya.
Terus terang saja, ini tulisan adalah artikel ke-sekian yang ditulis dengan semangat ‘one day one article’, meskipun terkadang ada juga bolong-bolongnya karena kesibukan dan sejumput kemalasan. Tapi semangat menulis harus terus dipertahankan.
Tentang isi, lebih banyak curahan hati meskipun tentu menyimpan selarik informasi. Mayoritas bertema kopi dan ditambah cerita lain yang saling melengkapi.
Yuk kita biasakan nulis, nulis apa saja yang dialami sehari-hari.
***
Ini cerita kopi lagi, jangan bosen ya guys…
Setelah istri tercinta yang rutin menyajikan sarapan buah potong aneka rupa, maka ada ide untuk menata ulang buah-buahan potong yang tersaji.
Siapin piring dan perlahan menata ala-ala. Setelah selesai menata bergeser ke urusan kopi, manual brew kopi arabica puntang… jreeeng.
Kopi sudah siap, tanpa gula yaa…. eh tapi bagus juga jika disandingkan dengan potongan buah.
Ta.. daa….
Kopi buah merah putih, secangkir kopi di gelas kaca bersanding dengan buah semangka merah dan buah pear putih menghasilkan gradasi merah putiih…. kayaknya cocok klo tampil di sajian pas agustusan, bulan kemerdekaan RI.
Kopinya tetep masih manual brew Arabica Puntang, kopi kebanggaan jawa barat tea atuh….
Srupuut… suap2 buah potong… nikmatt.
Photo : Menata buah potong / dokpri.
Giliran penataan ala-ala buah potong yang satu lagi agak bikin tertegun. Karena anggur lonjongnya kok keliatan kayak ulat besar warna hitam….. hiiiiy.
Padahal di tengahnya ada buah plum, dikitari potongan buah semangka, lalu buah pir dan akhirnya potongan buah semangka…. nah anggur yang diatasnya jadi bikin aneh…
Tapi sudahlah, yang penting ngopay dan sarbu alias sarapan buah.
Jadi, kembali ke awal. Yuk nulis atau baca artikel secara lengkap yaa. Selamat wiken, Wassalam(AKW).
Secangkir kopi manual brew di rest area km166 Cipali.
Photo : Pilihan biji kopi / dokpri.
MAJALENGKA, akwnulis.com. Perjalanan hidup adalah sebuah realita, detik dan menit terus bergerak tanpa kompromi kata-kata. Pekerjaan dan keluarga adalah elemen penting yang saling melengkapi rasa, di situlah aroma perjuangan hidup terasa.
“Kamu moo nulis apa seeh,kok ngaler ngidul nggak jelas?”
“Kalem mas bro, ini baru intro belum masuk ke lagunya, apalagi refrain, masih jauh tuh!” Sebuah kata pembela memberi ruang hela nafas yang menyegarkan jiwa. Memberi peluang untuk sejenak berfikir dan lupakan segala beban, cukup beberapa detik saja… 10 detik cukup.
Rasakan semua berkah kesehatan, kemudahan dan kebahagian kita, insyaalloh 10 detik ini adalah momen bersyukur… jangan lupa 2 detik terakhir lisankan dzikir terbaik kita….
Braaay caang, terang fikiran segar pengharapan.
“Nggak percaya?… monggo dicoba”
***
Perjalanan melewati tol Cipali di siang hari terasa begitu panas dan melelahkan. Apalagi di kala harus berhadapan dengan cahaya mentari yang menyongsong kedatangan. Selain menyilaukan juga bisa mengganggu proses pemutihan kulit muka.. ahaaay harap maklum yang lagi perawatan.
Photo : Hendra sang Barista sedang beraksi / dokpri.
Alhasil di rest area km166 Cipali menyempatkan berhenti. Tujuan utama mencari toilet, tujuan kedua nguliat merenggangkan otot dan ketiga adalah mencari kedai kopi…. sakaaaw nich.
Tujuan pertama, toilet langsung mudah dicari. Cerr….. eh sret dulu sletingnyaaah.
Tujuan kedua, otomatis dilakukan dengan merenggangkan kedua lengan, merenggangkan otot badan hingga terasa tulang gemeretak dan terasa nyaman.
Tujuan ketiga ternyata gayung bersambut, ada kios berwarna interior dan ekterior merah dengan nama Warung Bah Dodoy. Menyediakan kopi seduh manual dengan metode V60… cocok visan. Pilihan kopinya lumayan, dari mulai gayo, flores blend, gunung anjung, solok radjo, vietnam blend, rengganis, gunung guntur, gunung syawal, lintong lampung hingga mandheiling sumatera.
Ah pilihan yang menyenangkan….
Kali ini jatuh pilihannya ke kopi Mandheiling Sumatera. Jangan tanya kenapa yaa… memang pengen itu, titik.
Sang Barista, Kang Hendra atau di IGnya dengan akun Gilang Restu segera beraksi, meracik kopi dengan sepenuh hati untuk disajikan kepada sang penikmat yang sudah tidak kuat pengen nyruput cepat-cepat.
Photo : Warung merah bah dodoy km166 / dokpri.
Komposisi 15gr dan 120ml air panas dengan suhu 80° derajat, diharapkan dapat menghadirkan rasa kopi yang sudah dikandung secara hakiki, ini jenis arabica kawan. Sehingga rasa asam aciditynya terasa menawan disertai aroma yang lumayan dengan haega 25K persajian.
Srupuut… nikmaaat.
Tuntas menikmati kopi mandeiling ini, maka perjalanan dilanjutkan. Menuju tujuan yang penuh harapan. Selamat ngopay kawan, Wassalam(AKW).
BANDUNG, akwnulis.com. Seduhan kopi di malam hari menjadi teman setia untuk mengisi sisa hari sebelum berganti menjadi esok yang penuh harapan.
Seduhan kopi ini juga yang membantu mata dan badan agar tetap segar sambil menemani sang anak kesayangan yang senantiasa begadang karena ingin main bersama ayah sebelum terlelap di peraduan.
Kopi gayo wine dan arabica puntang pemberian Mr MN menjadi andalan malam ini. Tetapi ada yang beda, suhu air yang digunakan diturunkan di 78° celcius. Tujuannya untuk mempertajam acidity yang dimiliki kopi ini, yang sebenernya memang karakter gayo wine ini sudah mengusung acidity yang cukup tinggi.
Di saat corong V60 sudah bertengger di gelas server, terdengar di samping kanan, “Ayah ini kertas penyaringnya” suara anak kesayangan sambil membawa kertas filter V60. “Makasih sayaang” “Sama-sama”
Lalu anak kesayangan mengambil teko leher angsa dan berlari menuju kompor gas yang sedang bertugas memanaskan air untuk prosesi penyeduhan.
Reflek diriku mengejar dan menahan gerakan si kecil nan lincah ini. Bukan apa-apa, air panas dan anak umur 3 tahun itu sangat beresiko.
Akhirnya yang paling aman sambil digendong dech. Maka prosesi penyeduhan menggunakan pola 1 tangan. Karena tangan kirinya megangin badan anak kesayangan yang nggak mau diem.
Currr……. perlahan tapi pasti gayo wine terekstraksi, berikutnya arabica puntang… 2 sajian kopi berbeda dengan satu tangan… heuheuheu lumayan pegel.
Photo : Secangkir kopi dan pigure minni mouse dkk / dokpri
Akhirnya manual brew ala ala tercipta sambil terus mendengarkan celoteh anak kesayangan, “Hai guys, hari ini aku bantu ayah bikin kopi… harum guys…. eh gitu dulu ya guys.. jangan lupa like dan subscribe yaa” ini terilhami youtube, ampyuun dech.
“Ayah hayu sini minum, kopinya disiniii” rengekan tengah malam yang tidak bisa dinegoisasi. Hanya menurut saja yang bisa dilakukan, sambil menenteng segelas kopi kecil arabica puntang.
Kompromi belum selesai, karena gelas isi kopi inipun harus dikolaborasi dengan mainan kesayangannya, chase – paw patrol.
Ya…. sudah pasrah, yang penting bentar lagi anak kesayangan mau bobo sebelum tengah malam terlewati. Wassalam(AKW).
Rapat yang padat menguras semangat, diteruskan dengan mencari (Curug) jodoh…
Photo : Curug Jodo / dokpri.
SUBANG, akwnulis.com. Tuntas shalat isya maka meeting dilanjutkan lagiii… “Cius meeting malem-malem, bukan meeting kali, tapi meuting (meuting=bermalam bhs sunda)?”
Ya iya memang harus bermalam karena meetingnya dimulai setelah waktu isya. Klo itung-itungan, baru tadi seharian menuntaskan urusan dan melatih kesabaran di Bekasi, monggo dibaca ‘Merajut Janji di Bekasi.‘ Tetapi itulah sebuah komitmen yang harus dijalani, JaSuNi tea geuning. Jadi… lets go, kita meeting.
Segeralah berdiskusi dengan penuh aksi dan aneka reaksi. Berbalas pantun dan saling melengkapi demi sebuah kesepahaman bersama yang saling memperkaya rasa. Malam beranjak menuju puncaknya, sementara pembahasan masih berlanjut. Sesi kami berakhir 5 menit sebelum tengah malam tiba, alias pukul 23.55. Sementara pasukan khusus dan para pengurus melanjutkan penyusunan administrasi yang menjadi pembahasan serius, hingga menjelang mentari muncul secara halus…. wow begadang…. ruar biasa.
Perjuangan belum berakhir….
Photo : Meeting & meeting / dokpri.
Setelah sarapan selesai dilakukan maka battle discuss continue.. ternyata rame, saling berbalas pantun, saling melengkapi dengan aneka argumen yang ketat dan padat.
Dari mulai UU 40/2007, PP 94/2017, Permendagri 94/2017, Permendagri 37/2018, hingga Anggaran Dasar perusahaan menjadi bahasan yang saling melengkapi. Hal mendasar yang bisa dipetik adalah, semua memiliki niat yang sama… we are happy to lesson together.
Mempertahankan argumen dengan kebersahajaan dan menerima argumentasi yang lain jikalau didasari tata regulasi dan tak lupa sejumput diplomasi plus selarik basa-basi…..
Perlahan tapi pasti sesi-sesi meeting bisa dilalui. Pencatatan yang pasti dengan hadirnya notaris semakin mengukuhkan eksistensi. Berucap hati-hati dan berkomentarpun perlu berfikir lebih dari dua kali…. takut masuk akta notaris hehehehehe.
Photo : Camping Park Merpati di sekitar Curug Jodo / dokpri.
Udah ah… cerita seriusnya. Sekarang mah mencari dulu suasana, menenangkan kepala yang terasa panas membara setelah dua hari ini berfikir dan berfikir, bekerja dan bekerja.
“Moo kemana looh?”
“Sini, kita ke Curug Jodoh”
“Hah… serius bro?… takut ah”
Jawabannya takut, tapi penasaran. Akhirnya kami bertiga bergerak dari ruang meeting menuju lobby dan keluar menapaki paving block dan lantai tembok tanpa alas kaki alas nyékèr.
“Kenapa nyeker, khan ada sandal hotel?”
Kami bertiga seolah sepakat, atau sama-sama linglung pasca marathon meeting. Ganti baju, lepas sepatu dan berjalanlah ke lobby tanpa alas kaki…. aya aya waé.
Tujuannya hanya satu, Curug Jodo. Petunjuk arah segera diikuti, naik turun dan belak belok juga dijalani hingga akhirnya tiba di pertigaan dan terpampang tulisan yang dicari.
Photo : Beningnya air panas alami di Curug Jodo / dokpri.
Nggak pake lama segera mengabadikan pemandangan yang ada. Trus buka celana… eh maksudnya celana panjangnya dan bercelana pendek turun ke area curug yang berair bening…. serta yang terpenting adalahh…. airnya panazz… panasss alami, water hot spring tea geuning.
Menapaki dasar kolam air panas begitu menyegarkan, suasana alam yang berangin sejuk membawa kedamaian dan mendinginkan otak dari rasa membara tiada hingga.
Awalnya penasaran dengan nama Curug Jodo, kirain klo dateng kesinih bakalan dapet jodoh…. ternyata bukan itu guys.
Asal muasal penamaan Curug Jodo itu karena air terjun atau curug berair panas ini terdiri dari dua curug yang berdampingan secara alami sehingga dianggap menjadi curug yang berpasangan dan akhirnya dinamakan Curug berJodoh eh Curug Jodo.
Urusan yang datang ke sinih terus dapet jodoh, ya itu mah sudah takdirnya. Karena jodoh itu di tangan Tuhan, jikalau kita yang belum punya jodoh maka harus berusaha meraihnya sekuat tenaga, niat dan usaha sehingga sang jodoh bisa direngkuh…. klo nggak berusaha… ya selamanya jodoh ditangan Tuhan alias Jomfer.. Jomblo forever.
Ah sudah ah, kok nglantur gini….. padahal otak udah stabil lagi karena rekreasi singkat ini. Selamat menjalani komitmen atas pekerjaan masing2 juga takdir perjodohan. Wassalam (AKW).
***
Catatan : Lokasi Curug Jodo berada di lingkungan Sariater Hotel & Resort, Kecamatan Ciater Kabupaten Subang Jawa Barat.
Sebuah perjalanan yang penuh kesabaran serta ketenangan…
Photo : Sarapan Ayam buah / dokpri.
BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah rencana adalah ihtiar dalam kehidupan dan ketegaran menjalani kenyataan serta keikhlasan menerimanya, itu yang kereeen.
Hari kerja di minggu ini diuji dengan kemacetan tingkat dewa. Senin pagi dari Cimahi ke Bekasi ditempuh dalam waktu 6 jam 30 menit… atau 6 jam dech karena terpotong dengan sarapan di Rest area Love 72 ruas jalan tol Cipularang.
Kemungkinan besar yang bikin kemacetan semakin parah adalah barengan dengan para pemudik long wiken yang kembali ke jakarta setelah libur lumayan panjang. Aslinya ampe nggak bisa berkata-kata karena kezeeel bin pegeeel.
Photo : Truk pasir kepleset / dokpri.
Ada objek yang bisa di ambil photonya ternyata truk pasir yang terjerembab di pinggir jalan tol, kasian tapi gimana, bingung nolongnya, duh semoga tabah hadapi kenyataan yaaa….
Melihat ke depan, antrian begitu panjang dan memang sulit untuk memilih, meskipun akhirnya tak tahan dengan kemacetan, segera mengambil arah tol exit gate Cibitung.
Eeeh… ternyata diluar tolnya juga sama. “Nasibbb ….nasib”
Photo : Mesjid di Rest area 72 / dokpri
Untungnya para peserta meeting di Bekasinya penyabar dan pemaklum semua, acara yang sedianya dilangsungkan pukul 10.00 wib, musti molor tanpa batas waktu yang pasti, menunggu kami yang masih bertualang dalam pusaran kemacetan.
***
Setelah bermacet ria di jalan inspeksi kalimalang, lalu belok kanan menuju jalur jalan pantura, jalur lokal karawang -bekasi maka suasana perjalanan lebih berwarna karena di tengah kemacetan bisa mampir dulu ke minimarket, warung ataupun mesjid sehingga momen macet spesial ini bisa dinikmati.
Ruar biasa……
Akhirnya dengan bersusah payah bisa tiba di tempat meeting disambut dengan adzan dhuhur yang menenteramkan hati.
Photo : Suasana Meeting / dokpri.
Tuntas sholat jama qashar dimulailah meeting yang muram plus juga ACnya sedang bermasalah…. otomatis jadi sauna dadakan… keringat mulai bercucuran, apa mau dikata….. lanjutkaaaan.
Di sinilah kesabaran dilatih, ketenangan diuji. Bertabur kata diplomasi mengeratkan janji untuk bersama-sama menyelesaikan resesi yang sedang dihadapi. Satu kata yang menjadi niat, kata… Semangaaat.
Akhirnya jam 4 sore mulai bergeser dari bekasong menyongsong tol yang diharapkan lowong…. ternyata zonk.
Macet lagi… macet lagi… tapi tidak seberapa dibanding keberangkatan tadi. Perlahan tapi pasti, merayap menapaki hari di jalan tol cikapek menuju arah tol cipali.
“Lha moo kemana?”
“Lanjut malam ini meeting di Subang”
Woalah perjalanan masih berlanjut, tapi tidak usah jadi ribut. JASUNI saja, jalani syukuri dan nikmati. Wassalam (AKW).
BANDUNG, akwnulis.com. Hari kamis lalu adalah harpitnas alias hari kejepit nasional karena setelah hari rabunya libur karena pencoblosan, ditemani KOPI PEMILU, hari jumatnya libur nasional hari paskah, otomatis tersematlah harpitnas. Jangan lupa karena tanggal 17-nya libur maka pakaian Korpri harus dipakai.
Ternyata nyampe di kantor banyak yang saltum (salah kostum), pada pake batik biasa. Disini mah berlaku hukum alam, klo perbandingannya banyak yang berkorpri maka yang berbatik biasa yang kemaluan… eh yang malu, begitupun sebaliknya. Saling ledek pasti ada.
Kecuali yang saltumnya bos, nggak berani ledek-ledekan, paling secara halus heu heu heu… emang kamu mahluk halus?
Udah ah kok ngebahas saltum sih, sekarang pengen cerita tentang makna persahabatan dan persaudaraan yang diawali dari sebuah proses seleksi diklat yang kekinian dengan metode online dan video converence… tidak lagi menggunakan alat tulis karena semua serba digital. Hingga akhirnya lulus dan bersama-sama mengikuti training yang spesial, Reform Leader Academy.
Hari kamis lalu, agenda meeting ternyata bejibun juga di hari kejepit. Tapi tetap semangat dong. Di sela agenda makan sianglah, kami bisa bersua dengan sang Ketua Alumni RLA, memanfaatkan waktu yang sangat singkat.
Pertama pembicaraan hangat ditemani sajian manual brew Arabica Puntang wine di Gesa cafe, itu tuh yang di basement gedung sate samping pintu masuk museum, lengkap sudah kopi-kopi jawa barat, nggak bakal nyesel dech.
Photo : Nasi Hainan ala resto G&B / dokpri.
Untuk masalah makananan maka bergeserlah ke GreensandBean di jalan Bahureksa. Jalan kaki menuju lokasi agar memenuhi target 6000 langkah minimal sehari, tentu sambil ngobrol dan tengak tengok karena takut ada kendaraan nylonong mencelakai diri dan sang Ketua Alumni.
Photo : Teh biru bunga telang & seragam korpri / dokpri.
Pilihan makanannya adalah Nasi Hainan dan Vietnamese salad. Sementara sajian minumannya di-matchingkan dengan seragam korpri, maka teh biru yang menjadi pilihan, yaitu teh khas di resto ini yang menghasilkan warna biru, berasal dari bunga telang… nama resminya di sini adalah ‘Teh… halah lupa, ntar aku japri dulu.
Yang pasti, waktu maksi terbatas ini bisa dinikmati bersama dalam balutan tali persaudaraan RLA yang tak kan lekang oleh waktu, insyaalloh keberlanjutan kristalisasi program EODB ruang riung dapat segera terwujud di Kampus kita Kiarapayung.. srupuut… aaam.
BANDUNG, akwnulis.com. Adzan shubuh belum berkumandang, disaat raga ini terdiam. Memandang deretan kertas kecil yang berserak diatas meja makan. Kertas – kertas penting yang menjadi syarat administratif kelancaran pencoblosan suara di bilik suara hari ini.
Yup… itu adalah kertas panggilan pencoblosan di TPS 81.
Kembali terdiam, memandang lekat keempat surat panggilan pencoblosan tersebut. Neocortec dan amigdala berdiskusi sambil memgumpulkan rekaman data dan fakta yang dilihat mata, didengar telinga serta dirasakan oleh hati untuk mengkristal menjadi pilihan yang akan diputuskan segera.
Tapi, perbedaan mendasar penentuan pilihan memerlukan ketenangan dalam memilah fakta dan memilih informasi. Karena ada 5 hal yang akan dipilih, yaitu Presiden, DPR RI, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kota.
Supaya semua bisa jernih dan di otakpun Amigdala beserta Neocortec dapat selaras maka selain tarik nafas dalam-dalam maka peralatan perang disiapkan…. corong & kertas filter V60, termometer, timbangan, kopi, panasin air, gelas kecil dan bejana saji.
Kopinya sesuai dengan stok yang ada… kopi Cawene sedikit lagiii… pas buat sajian 300 ml mah.
Disaat sang termometer sudah meneriakan ukuran suhu 90° celcius, maka air panas sudah siap berekstrasi dengan kopi yang sudah menanti di atas ciorong V60 beralaskan filter yang sudah basah dengan harapan….
Currr….
Clak… clak… clak….
***
Alhamdulillah…. sajian kopi cawene dengan manual brew V60 sudah tersaji… Srupuut… srupuut… serrrr menyebar rasa kehangatan dan kenikmatan ke seantero raga. Begitupun stimulus terhadap otak menjadi semakin cekas, Amigdala dan Neocortec berdamai dan berpelukan…
Srupuut lagi ah, munpung adzan shubuh belum tiba. Yang pasti pilihan sudah jelas dari 5 jenis pilihan yang akan tersaji nanti di TPS 81.
Sruputtt lagiii….. Nikmat. Selamat mencoblos kawannnn dan keluar hasilnya jadi suara. Wassalam(AKW).
BANDUNG, akwnulis.com. Variasi sajian makanan menjadi ilmu tersendiri. Meskipun ini tidak berdiri sendiri, diawali dengan pemilihan bahan makanan yang tepat, cara pengolahan yang benar dan pelaksanaan penyajian yang menarik dengan rasa yang mudah dinikmati banyak orang.
Di masa SLTP SLTA dulu, mulai mengenal dengan mata pelajaran tata boga. Sebuah mata pelajaran yang berhubungan erat dengan makanan serta minuman. Jauh sebelum itu, di masa kecil sebenernya sudah mulai beraktifitas seperti ini dengan istilah ‘papasakan‘ alias masak pura-pura tapi beneran… eh gimana siih?
Maksudnya masaknya sambil bermain dengan kawan, membuat perapian darurat, pake ketel kecil atau penutup kaleng kue, mentega dan minyaknya ambil dari dapur orangtua. Yang dipasaknya biasanya nasi dengan potongan bawang putih merah tanpa ukuran jelas plus garam. Yang paling sering masak eh goreng kerupuk… gampang dan dapat dinikmati bersama-sama.
Kalau sekarang, anak-anak mungkin babakaran dengan marsmallow dan barbeque, sementara di masa lalu adalah bakar jangkrik dan belalang yang begitu mudah di dapat dari kebun sekitar tempat bermain untuk menu penuh protein dengan rasa yang tak kalah dibanding daging ayam (pada waktu itu yaaa).
Pengalaman masa kecil yang menyenangkan.
Photo : Appetizernya buah potong / dokpri.
Hari ini, sajian makanan yang dibuat dengan ilmu tata boga yang terus berkembang, membuat tampilan yang lucu untuk dipandang, pas di mulut dan yang pasti rasanya harus lezaaat.
Begitupun dengan hari ini, berjumpa dengan sajian makanan dan buah-buahan yang menarik sajiannya juga penasaran dengan rasanya… kemoon.. cobian.
Sebagai pembuka, senampan buah iris eh buah potong dengan kesegaran dan aneka warna menarik plus 2 buah bunga kuning bikin sajian lebih semarak. Yummy.. segerr.
Photo : Sajian Aneka salad yang menawan / dokpri.
Lalu beraneka salad mini tersaji dengan apik, pengen ngambil semua… tapi khan harus ingat orang lain juga kapasitas perut ini. Sehingga pilihannya jatuh kepada 2 sajian salad. Satu sajian salad sayuran seafood dan satu lagi salad mayonies… kecil tapi enak lho.
Giliran makan beratnya tentu saja sayuran dan goreng ikan yang menjadi pilihan. Tak lupa tahu goreng aci pedas dan sapi lada hitam menjadi pelengkapnya. Yang jadi pembeda, si potongan daging ikannya itu mirip cireng, penganan jajanan makanan ringan yang ngehits di Bandung. Pas dimakan… ya tetep ikan goreng, yaitu daging ikan dori.
Photo : Sajian main course / dokpri.
Beraneka sajian makanan dan buah-buahan yang ditampilkan, diolah dan disajikan dengan berbagai teknik berdasarkan keilmuan dan tentu pengalaman sang Chef di meja dapur hingga sajian apik sang pelayan menjadi salah satu momen tasyakur binnikmah hari ini. Betapa berkah Illahi tiada henti, dengan segala kesempatan dan kemudahan ini. Alhamdulilah.
Selamat menjalani hari dengan tetap bersyukur dan menata hati. Wassalam(AKW).
***
Lokasi : Restoran Lt.3 Sensa Hotel, Cihampelas Walk Bandung.
Sebuah cerita fiksi reka-reka di suasana pencoblosan 17 April 2019…
Photo : Dipilih dipilihh… / dokpri.
CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah cerita fiksi yang terinspirasi dari gegap gempita ‘election day’ hari ini… 170419 monggo.
*** MENGEJAR AYAH ***
“Naaaak…. Naaak!!!, Kesiniii cepaaat !!!”, Teriakan histeris ibunda dari halaman depan membuat sesaat terhenyak. Tanpa basa-basi, segera diri ini berlari dari dapur melewati tengah rumah dan menuju halaman depan menghampiri Ibunda, “Ada apa Bunda?”
“Cepaat ambil seprei atau selimut atau apapun, dan kejar ayahmu, cepaaaat!!!” Perintah Ibunda dengan wajah yang panik dan pucat bukan lagi sebuah tanya yang perlu tanggapan. Segera baluk kanan ke dalam rumah, ke kamar utama. Ambil seprei dan selimut yang terpasang dan segera menghambur keluar mengejar Ayahanda tercinta.
Di belokan warung Mak Onah, Ayahanda terkejar dan terlihat dalam kondisi memalukan. Tanpa banyak tanya segera didekati dengan tergesa-gesa dan menutupkan selimut serta seprei yang dibawa untuk melindungi aurat Ayahanda. Sayangnya, karena tergesa, tubuh ini malah menubruknya dan kami rubuh bersama menyentuh aspal jalanan, Ayahandaku pingsan.
Beberapa orang yang sedang ngopi di warung Mak Onah menghambur menghampiri kami. Mereka membantu menggotong Ayahanda menuju warung untuk mendapatkan pertolongan pertama.
***
Perlahan-lahan Ayahanda siuman dan terlihat kebingungan. Setelah diberi minum air teh manis sedikit, diriku penasaran dengan kenekatanan Ayahanda ini.
“Ayah bingung, tadinya mau ke TPS pake celana panjang takut disangka pendukung pasangan 02, tapi kalaupun bersarung khawatir dianggap pendukung pasangan 01, padahal Ayah sebagai tokoh masyarakat harus netral. Begitupun celana dalam, yang merah dipake, salah. Pake CD putih apalagi, yang hijaupun beresiko, ya sudah Ayah polosan saja”
Diriku dan tetangga yang tadi menolong Ayahanda, hanya bisa tersenyum sambil saling pandang satu sama lain. “Ada-ada saja Ayahanda ini, maksudnya mau netral… eh jadinya malah memalukan.” ***
***
Photo : Menunggu Ayah nyoblos disini / dokpri.
Ini versi bahasa sundanya dengan genre fiksiminisunda, tidak lebih dari 50 kata, silahkannn…..
Fikmin # Ngudag Abah #
“Ujaaang… Ujaaang!!!……..” Sora Ema ngagorowok ti buruan. Uing tibuburanjat muru datangna sora, sieun Ema kumaonam.
“Aya naon Ma?” “Enggal nyandak simbut atawa sepré jang, susul bapa maneeh, gancaaang!!!” Ema ngagorowok bari rarayna geumpeur tur pias.
Teu seueur tataros, beretek Uing lumpat ka pangkéng. Ngarurud sepré, langsung tibuburanjat kaluar ti bumi. Muru Abah nu ngagidig ka TPS.
Di péngkolan warung Ceu Onah, Abah kasusul. Teu antaparah deui, langsung di gabrug bari ngarurubkeun sepré.
Gubrag!!!, Abah nambru katindihan Uing, Abah kapiuhan. Nu keur ngopi di warung kalaluar, tuluy ngabantuan ngagotong Abah.
***
“Dupi Abah téh kunaon, bet ka TPS teu dicawet teu dilancingan?” Uing naros semu bingung.
“Abah ogé bingung Jang, rék di pantalon bisi disangka grup calon ieu, di sasarung bisi disangki grup itu. Cawet beureum lepat, cawet bodas salah. Cawet héjo komo…. nyaa atos wé Abah ka TPSna saaya-aya”
Uing jeung tatangga nu ngariung ukur kapiasem, duh Abah aya-aya waé.
***
Photo : Salam tiga jari / dokpri.
Disclaimer :
Ini hanya cerita reka fiksi belaka, kesamaan nama, tempat dan sebutan, itu hanya kebetulan saja. Wassalam(AKW).
Photo : Gerbang awal Trizara di sore hari / dokpri.
LEMBANG, akwnulis.com. Sebuah nama ‘Trizara Resort’ menjadi 2 kata yang segera dimasukan ke kolom pencarian lokasi di Guggelmap, well… lokasinya dekat kok, belum nyampe ke Lembang, atau kota lembangnya. Terletak diantara Jalan raya Bandung – Lembang dan jalan Sersan Bajuri.
“Moo ngapain kesitu?”
Sebuah tanya yang musti dijawab dengan segera. Ini adalah tugas dalam pekerjaan sekaligus menambah wawasan karena undangan ini adalah sebuah kesempatan pelatihan yang diselenggarakan oleh PT Jamkrida Jabar, salah satu BUMD milik Pemprov Jawa barat yang bergerak di sektor Penjaminan kredit daerah.
Akses ke Trizara ini banyak pilihan, satu, dari jalur jalan Bandung – lembang langsung belok kiri memasuki jalan pager wangi. Kedua via jalan sersan bajuri ada 2 pilihan, cuman memang jalannya kecil, berkelok dan nanjak, jadi musti ekstra hati-hati. Ketiga akses dari jalan Kolonel Masturi, jadi dari atas, tinggal masuk ke gerbang arah Trizara dan luruss….. lalu ada pertigaan tinggal belok kiri, sampai dech. Tapi ingat, semua pilihan jalan tersebut akan menemui tanjakan yang cukup terjal, jadi musti bawa, pake atau diantar oleh mobil yang fit dan kuat nanjak.
Photo : Tangga kembar mengapit aliran air / dokpri.
Nah… pas nyampe depannya, disambut dengan pintu gerbang berupa benteng di Paris Prancis yaitu benteng kemenangan Arc De Triomphe, tapi didekati lagi terlihat nuansa india. Ya sudah ah…. masuk aja… eiit… mobil di parkir dulu di seberang gerbang. Ada lapangan parkir. Trus terlihat lapang bola volley, lapangan futsal dan arena bermain ATV… wuaah kayaknya seruuuu…
Memasuki pintu gerbang, disambut suasana pemandangan yang menenteramkan hati. Sebuah karpet raksasa berwarna hijau senada dengan hamparan rumput hijau di sekitarnya dengan tulisan besar ‘Trizara Resort’ memberikan penyambutan pertama, ruar biasa.
Melewati resepsionis, langsung meniti rangga… eh tangga menurut yang ditemani gemericik air bening berundak senada undakan tangga menuju ruang meeting yang berbentuk renda.. eh tenda besar berwarna putih…. keren euy, pelatihan di dalam tenda, tapi jangan-jangan panass…. jadi penasaran.
Photo : Suasana di Tenda sambil dengerin pembukaan oleh ibu bos / dokpri.
Ternyata….. perkiraan saya salah. Tenda pertemuan yang bisa menampung hingga 75 orang ini termasuk meja dan kursi ini nyaman lho, tidak panas karena ventilasi yang bagus ditambah kipas angin yang sudah disetting dipasang diatap tenda juga standing fan yang bikin suasana tetap menyegarkan. Ditambah dengan jendela-jendela tenda yang memungkinkan angin dari luar bisa masuk…. segerr dech.
Photo : 2 kursi santai depan tenda / dokpri.
Diseberang Tenda pertemuan ini ada juga ruang kelas dengan kapasitas lebih kecil, kapasitas sekitar 25 orang. Cocok untuk rapat terbatas tim kecil.
Nahh makan siangnya naik lagi ke atas, ke restoran yang cozy dengan sajian makan siang yang rata-rata hangat sedikit membara, maksudnya bumbu yang disajikan rata-rata bercabe… tapi enak, cuman agak khawatir sakit perut (ternyata tidak, baik-baik aja kok). Di dekat restoran ini, turun satu undakan tangga tersedia mushola untuk 3 orang lengkap dengan tempat wudhu. Satu undak ke bawah disitulah toilet bersemayam… eh berlokasi.
***
Giliran yang ditunggu-tunggu telah tibaaa…. pembagian kunci tenda. Berupa kunci gembok lengkap dengan nama tendanya yaitu Nasika 09.
Wuih nama-namanya unik, yang ternyata memiliki makna tersendiri. Semuanya terinspirasi dari bahasa sansakerta, mulai dari Trizara yang berarti kebun/taman di surga. Lalu area tenda dengan nama-nama dari aneka indra. Ada yang namanya Netra(penglihatan), Nasika(penciuman), Zana(sentuhan), serta Svada(Rasa) yang menjadi nama-nama untuk kawasan tenda dengan ukuran, dan keunggulan masing-masing. Kayaknya tenda Zana(sentuhan) yang dikhususkan buat honeymoon yang bikin penasaran nich… hehehehehe.
Termasuk kafenya juga bernama indriya cafe terletak di awal, di dekat resepsionis.
Photo : Menikmati Gunung Tangkuban Perahu / dokpri.
Tenda mewah untuk acara berkemah yang glamorous sehingga dikenal dengan istilah Glamping (Glamorous camping) adalah konsep yang diusung disini. Jadi pengen segera ajakin anak istri dan sanak saudara nginep bareng-bareng disini…
Tenda yang didapat adalah tenda Nasika, berkapasitas 4 orang. 1 bed ukuran king size untuk dua orang, 1 bed single tapi cukup lebar juga dan dibawahnya bisa ditarik sebuah bed yang tidak kalah nyaman.
Colokan banyaaak…. disamping kanan bed king size ada 5 colokan, didalam peti kayu harta karun ada 5 colokan, dibawah meja ada 3 colokan dan satu colokan deket pintu kamar mandi… berarti 14 colokan. Dikurangi buat teko pemanas, lampu sorot depan dan buat obat nyamuk elektrik.. sisa 11 colokan buat berempat… lebih dari cukup.
***
Photo : Suasana dalam tenda tipe Nasika / dokpri.
Kamar mandinya yang keren, wc duduk, shower air panas, wastafel, penyimpanan handuk berupa tangga, lengkap dengan sikat gigi, sabun, shampo, shower cap, dan body lotion dengan lantai tembok yang kokoh. Beda banget dengan camping beneran yang darurat, BAB nya ke semak-semak sambil bawa cangkul kecil dan air di botol plastic .. heu heu heu masa lalu.
Juga terdapat berbagai aktivitas outdoor yang menantang seperti bermain ATV berbasah kotor, flyng fox, trampolin, jogging, jojjing atau bermain futsal dan volley ball…. yang pasti memberi peluang untuk berolahraga dan beraktifitas di luar tenda, bersama-sama.. itu kereen pisan. Apalagi tidak ada TV dan AC, begitu alami dan menjadi cara memaksa agar nggak ngendon di tenda, tetapi beraktifitaslah diluar bersama kawan dan keluarga.
Klo urusan kopi disini nggak ada manual brew tapi gpp… bisa pilih espresso dan americano… cerita lengkapnya klik aja Kopi Trizara Resort... monggo.
Menu sarapannya juga standar hotel berbintang, lengkap banyak pilihan. Tetapi karena diriku sarapan hanya buah-buahan, jadi potongan semangka dan melon saja yang menjadi pengisi perut di pagi yang cerah ini.
Sebuah plang pengumuman yang cocok dengan suasana hati, diantara plang berwarna hijau dengan tulisan putih tersebar di berbagai titik area Trizara resort ini. Tertulis ‘Destinasi seseorang bukanlah sebuah tempat, melainkan sebuah cara baru untuk melihat sesuatu’.
***
Ah masih banyak kata yang ingin dicurahkan tentang Trizara ini, tetapi ternyata tersekat sampai disini saja, biarkan kelanjutan ceritanya menjadi kesempatan orang lain untuk bercerita.
Photo : Photo barengan
Segera mengambil payung yang tersedia di dalam tenda. Dibuka dan digunakan menembus derasnya hujan di malam hari menuju restoran tempat makan makan tersaji. Wassalam(AKW).