JARGON 2026 : CIKUR

2025 penuh dinamika, 2026 menantang.

SODONG,  http://www.akwnulis.id. Sebuah jargon adalah kata atau kalimat singkat yang berupa arti secara harfiah ataupun menjadi singkatan dari jalinan kata yang memiliki makna. Tentu konteksnya seiring dengan kondisi yang ada dan diramu menjadi kata yang bersahaja, mudah diingat dan memberi daya ungkit kebanggaan serta rasa memiliki dalam keluarga meskipun sebetulnya dibangun pada pilar tugas kedinasan. Namun semangatnya adalah berdinas bisa dimana saja tetapi silaturahmi adalah abadi.

Di tugas pekerjaaan yang diawali medio Oktober – Desember 2024 lalu berlanjut Januari 2025 memiliki tantangan baru yang cukup komprehensif. Satu sisi mendapat tugas jabatan baru disisi lain ada tugas tambahan sebagai pelaksana tugas di instansi yang berbeda. Tapi itupun tidak sendiri, pak Kabag TUpun sama, tugasnya double malah triple dengan unit kerja tugas yang berbeda.

Maka waktu itu jargonnya adalah NGAJEGANG, sebuah kata dalam bahasa sunda yang memiliki arti dua kaki terbuka dan masing – masing menginjak lantai atau pijakan yang berbeda atau berjauhan. Lalu singkatan dari kata ini adalah NGARIUNG AJEG SAGALA BIDANG (Kumpul bersama dengan kokoh di segala bidang). Jadi merupakan doa dan motivasi terhadap kami, meskipun banyak penugasan yang penting bisa kokoh kompak dan hasilnya optimal.

Dalam kurun waktu 2025 jargon NGAJEGANGlah yang membersamai pergerakan kami dalam melaksanakan tugas fungsi, melengkapi dengan kreatifitas dan inovasi meskipun sederhana tapi itu adalah buah fikir yang nyata. Bahu membahu antara ketua tim dan anggota, para pejabat fungsional bekerjasama dan secara struktur di lembagakan dengan apik tanpa banyak drama.

Memasuki akhir tahun 2025 suasana berbeda, kami sudah tidak NGAJEGANG lagi. Tetapi fokus akselerasi tugas di bidang kami, urusan Kesejahteraan rakyat tetap terjaga. Serta bersiap menyongsong tantangan baru di tahun 2026.

Tahun 2026 semangat besarnya adalah tetap berkarya dalam suasana efisiensi karena satu sisi potensi anggaran provinsi jawa barat berkurang 2,48 Triliun dari Transfer Keuangan Daerah sementara target pembangunan infrasruktur harus diwujudkan. Maka disinilah suasana adaptasi terasa. Bagaimana menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Maka kebijakan yang ada adalah mengurangi atau merasionalisasi angka – angka anggaran dalam program kegiatan diluar infrastruktur  dengan tetap menjaga kondusifitas para pegawai melalui kebijakan bahwa gaji dan tunjangan posisi aman tidak ada pengurangan alias dipertahankan.

Disinilah makna bersyukur hadir, karena tidak semua pegawai di pemerintah daerah mendapatkan kepastian ini. Sebuah kepastian angka gaji dan tunjangan yang menjadi hajat hidup serta sandaran utama dalam keseharian. Begituoun secara ajaran agama bahwa bersyukur itu bentuk dari kualitas keimanan seseorang.

Dari sinilah hadir jargon baru untuk 2026 yaitu ADAPTASI & BERSYUKUR. Mari kita menyesuaikan dengan nuansa dan keadaan efisiensi anggaran dan selalu bersyukur karena tunjangan dan gaji tetap dipertahankan oleh kebijakan gubernur KDM ini. Agar jargon ini lebih mudah diingat maka disingkat menjadi SIKUR.

SIKUR.. sikur... sikur.

Sebuah kata yang mudah diingat tapi sulit mencari padanan arti. Maka disinilah kreatifitas tentang kata ditantang untuk berkreasi lagi. Setelah berfikir keras, eh nggak keras juga tapi berfikir dan tentu berdoa ke Allah Subhana wataala maka perlu sedikit polesan yang mudah diingat dalam satu kata tetapi satu kata tersebut memiliki makna. Jadilah singkatan ini adalah CIKUR (adaptasci & bersyukur)… “hehehe terkesan maksa nggak?”

Ya gpp namanya juga usaha, usaha yang baik demi memudahkan mengingat dan menikmati makna philosophi di dalamnya. Cikur adalah bahasa sunda yang merupakan nama salah satu bumbu masakan yang memiliki aneka khasiat rempah. Dalam bahas indonesia cikur ini adalah Kencur atau bahasa latinnya Kaempferia galanga, rempah – rempah yang memiliki aneka khasiat serta merupakan salah satu bumbu masak yang populer.

Jadi aman khan?… bismillahirrohmaniirohim.

Jargon untuk tahun 2026 adalah CIKUR yang berarti adaptachi dan bersyukur. Awas jangan diplesetkan jadi adaptaci dan bercukur, sangat jauh artinya kawan.

Selamat memaknai tahun 2026 dengan senantiasa menyesuaikan dari berbagai perubahan yang ada sekaligus tetap bersyukur dalam segala hal. SELAMAT PAGI, salam CIKUR.

Wassalam (AKW).

1 Hari 5 tempat – Ngajègang.

1 hari 5 tempat, gaskeun. purwakarta bekasi karawang subang bandung cimahi.

BANDUNG, akwnulis.id. Semerbak harum pagi menyambut langkah optimis untuk selalu menjaga syukur atas semua berkah Illahi. Memasuki kendaraan yang langsung tancap gas memasuki tol gate Pasteur dan meluncur membelah suasana pagi yang ditemani semburat sinar mentari.

Tak terasa kawasan rest area 97 sudah ada dihadapan mata. Kendaraan dikurangi kecepatan dan belok kiri menjadi secercah harapan karena ada hal yang harus dituntaskan.

Apa yang harus dituntaskan kawan?”

Jawabannya singkat, SARAPAN.

Yuk ritual makan pagi yang harus dijaga dan jangan terlewati. Meskipun sedikit tetapi menjadi kewajiban demi menjaga daya tahan tubuh dan menjalan tugas pekerjaan yang sedang diemban.

“Lha khan biasanya sarapannya dengan menu khusus yang ada roti gandumnya, telur rebus putihnya saja dan beberapa iris jeruk sunkist?”

Hari ini agak lain, karena menu tersebut tertinggal tadi di rumah. Sehingga alternatifnya tetap harus ada yang masuk ke dalam perut yang sudah bergejolak lapar ini. Maka pilihannya adalah sajian bubur ayam panas dengan pola self service di Kedai Mandiri dan tak perlu berlama – lama langsung dinikmati bersama kawan seperjalanan.

Perut tuntas terisi maka perjalanan dilanjutkan menuju titik pertama yakni di wilayah Kabupaten Bekasi tepatnya di Puskesmas Cikarang. Sebuah kegiatan kedinasan yang diawali dengan pelaksanaan apel pagi bersama seluruh pegawai puskesmas dilanjutkan dengan peninjauan pelaksanaan kegiatan yang diicanangkan pemerintah yaitu CKG (cek kesehatan gratis) bagi warna yang berulangtahun.

Tak berapa lama segera bergerak dari Cikarang, sebuah daerah yang begitu gercep. Karena setiap disebut apapun maka jawabannya adalah CEKARANG eh SEKARANG. (lol).

Gaskeun…..

Titik selanjutnya adalah berada 32 menit dari Cikarang yakni di daerah Teluk Jambe Kabupaten Karawang. Tepatnya di satuan pelayanan Griya Ramah Lansia yang menampung 75 orang lansia terlantar dari berbagai daerah di Provinsi Jawa Barat. Terdapat 31 orang lansia wanita dan sisanya adalah lansia laki – laki yang lebih nyaman dipanggil Abah atau aki.

Pertemuan singkat dengan mereka memberi energi baru dalam berkarya. Meskipun terkadang harus ber akting dan sedikit drama karena memposisikan sebagai anak atau malah menjadi cucu bagi mereka yang begitu haus dengan perhatian dari keluarga dan sanak saudara yang dengan berbagai alasan tidak bisa hadir untuk sesekali membersamai mereka, apalagi berkunjung rutin atau mengajak kembali ke rumah keluarga dan hidup di hari tua bersama-sama.

Makan siang menjadi momen lintas kabupaten kembali, karena dengan perjalanan hanya 1 jam saja via tol cipali dengan keluar pintu tol subang kota maka bisa menunaikan ibadah shalat dhuhur sekaligus makan siang gurame bakar di daerah kabupaten subang. Silaturahmi berlanjut lagi dengan jajaran pengurus utama BPR Jabar baik komisaris utama dan Direktur utama serta jajaran di direksi dan komisaris lainnya di kantor pusat sementara yang berada di daerah Jalan Cagak kabupaten Subang.

Sore hanya bergeser lagi ke acara di Perbatasan tangkuban parahu tepatnya di kawasan astro ciater highland dengan sebuah acara rapat kerja yang digelar oleh jajaran DKM Mesjid Raya Bandung dalam rangka evaluasi kinerja 2022 – 2024 dan rencana kerja 2025. Di kegiatan ini tentu menjadi ajang diskusi dan silaturahmi sekaligus menguatkan kolaborasi yang didetailkan dalam dokumen rencana aksi.

Setelah adzan magrib bergema barulah bergerak ke titik akhir yakni kembali ke area Jalan Diponegoro 22 alias kantor Gedung sate untuk mengecek dokumen – dokumen yang ada dan harus dilakukan paraf dan tandatangan secara langsung khususnya terkait urusan kontrak dan keuangan. Hingga tak terasa jarum jam menunjukan pukul 21.20 wib. Barulah sedikit rehat dan bercengkerama ringan dengan para petugas kebersihan yang masih stanby menemani kehadiran. Tidak lupa disajikanlah kopi hitam tanpa gula dengan metode seduh manual V60 dengan berbagai biji kopi yang tersedia dan dilakukan penggilingan secara mendadak.

Harum semerbak kopi memenuhi ruangan, menguatkan harapan dan memberikan kedamaian. Meskipun beberapa kawan masih tergagap disaat menikmati kopi hitam tanpa gula yang disajikan. Tapi menjadi sebuah hiburan bersama dan rasa lelah sedikit terlupa meskipun beredar lintas wilayah, karena saling berbagi tawa disaat melihat wajah mengkerut karena menikmati sajian kohitala (kopi hitam tanpa gula) yang rasanya mendekati rasa brotowali. Selamat berkarya dan ngajegang kawan, Ngariung Ajeg Sagala Bidang. Wassalam (AKW).