Kopi Lembang Pak Ali.

Ngopay kopi dari pak Ali…..

Photo : Nyeduh kopi sambil ngasuh / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Tanggal merah ditengah minggu tentu menjadi anugerah, bisa dimanfaatkan untuk mencurahkan perhatian kepada anak semata wayang juga pasti kepada ibunya.

Tapi tetap, ngopay jalan terus. Peralatan manual brew V60 sudah siap di rumah dan di kantor. Sehingga tidak perlu dibawa kesanah kesinih…. cukup bermodal niat, kesempatan, kopi bubuk dan air panas 90°… maka bisa ngopay dengan nikmat.

“Trus sama anak gimana?”

Sebuah pertanyaan yang menarik, tapi itulah indahnya mengasuh anak sambil ninyuh… eh sambil nyeduh kopi ala manual… maka pola seni dan kompromi yang dimainkan.

“Gimana caranya?”

“Bentar atuh… sekarang pilih dulu, kopi mana yang akan diseduh manual”

“Ayahhh…..!!!, hayu main di kotak” rengekan manja anak princes segera disambut dengan anggukan dan senyuman.

Horeee!!!,

Binar berjingkrak kegirangan. Raga ini beringsut menuju ‘kotak‘, selembar karpet tebal yang berisi mainan dengan pagar plastik yang terbuka. Sebagai wilayah demarkasi untuk bermain dan berkreasi sang anak tercinta.

***

Jadi….. nyeduh kopinya sambil ngasuh. Sehingga kompromi terjadi… gambar proses seduhan kopi yang tadinya hanya kopi diatas corong V60 dan bejana saji serta gelas kecil kaca kesayangan, harus bersanding dengan warna warni ceria dari mainan disney yang ada yakni donald duck yang lagi boncengan sama mickey mouse.

Eh ternyata photo sajian kopinya jadi aneka warna. Ngasuh jalan dan ngopaypun tetap terlaksana, kehidupan terus berjalan.

Kali ini hadir kopi tanpa label, pemberian dari Bapak Ali yang punya sendiri kebun hingga produk kopi dari daerah Lembang… disaat bersua minggu lalu, memberi sebungkus kopi bubuk ukuran kira-kira 200gr.

Alhamdulillah, milik tah….

Photo : Manual brew v60 kopi pak Ali / dokpri.

Sore ini di eksekusi dengan fi-sixti, suhu air 89° celcius dengan komposisi 1:1, yups.. 30gr beradu dengan 300 ml air….. jreng jreng.. tes.. tes.. tes.

Dikala bungkus coklatnya dibuka, rasa harum aroma kopi terasa menyambar penciuman. Ada rasa buah yang muncul tapi sulit mendefinisikan, pokoknya selarik banyangan rasa manis hadir dalam sekejap.

Penasaran….. setelah tetesan air seduhan tertampung sempurna. Pindah ke gelas duralex kecil… srupuuut…

Hei…. rasanya enak kawan. Body medium cenderung boldnya menyisakan after taste yang ninggal diujung lidah belakang, meskipun tidak lama tapi berpadu dengan acidity medium khas kopi arabica menambah nikmat ngopay sore ini. Dari sisi tastenya ada selarik rasa lemon, dan kakao plus setipis rasa karamel.

Ah takut salah… coba sruput lagi…. slurp.. slurpp….

Enak euy… dikala temperaturnya menurun. Body dan aciditynya menguat… pahitnya sedikit meningkat tetapi makin nikmat. Karena pahit asamnya sajian kopi bisa mengurangi dan menutupi pahit asamnya kenyataan hidup…. eaaaaa, apa seeeh kamuuh.

Sruput lagii…….

Hatur nuhun Pak Ali, wilujeng ngopay bray. Wassalam (AKW).

***

Mengambil Posisi

Menerawangi hari yang penuh misteri.

Photo : Menanti Mentari disini / Dokpri.

SUBANG, akwnulis.com. Dikala rembulan mentahbiskan diri mengurus malam, maka mentaripun setia menjaga siang tetap penuh kehangatan. Kesamaan dari keduanya adalah memberi secercah terang dan menjadi gantungan harapan dalam perjalanan kehidupan.

“Tidak bisa kakak, bulan itu tidak seterang mentari, bulan itu hanya memantulkan cahaya mentari dari punggung bumi”

Sebuah sanggahan yang tidak untuk diperdebatkan. Biarkan rembulan bercahaya dan menjadi pegangan di malam hari. Bukan sumber cahayanya yang menjadi sasaran utama, tetapi fungsi cahaya yang membelah gelap menjadi secercah harap.

Terkadang jikalau konsentrasi sedang membumi maka sangat mungkin di malam purnama bersua dengan ‘Nini Anteh dan kucingnya Candramawat’. Saling berbagi cerita sambil berkejaran diantara awan tipis atau bintang yang juga nimbrung membahas gosip keduniaan.

Esok harinya, mentari kembali beraksi menghangatkan bumi. Menebar keberkahan dan kebahagiaan bagi mahluk Tuhan. Allah SWT yang memiliki maha otoritas, dan mentari sebagai alat. Muncul tepat waktu dalam rutinitas yang presisi, tidak pernah ingkar janji meskipun terkadang awan hitam menutupi.

Photo : Mentari mulai menghangati hari / dokpri.

Begitupun jiwa dan raga ini, setelah menentukan posisi maka sebuah konsekuensi menjadi bagian dari janji. Pelajari tugas dan fungsi, jalani senada dengan regulasi. Jangan lupa siapkan rencana aksi untuk wujudkan hasil yang serasi.

Kalau urusan reaksi, itu pasti. Perubahan selalu diiringi dengan keadaan yang dianggap oleh sebagian pihak sudah hakiki. Padahal perubahan itu yang pasti, Hayu Jalani dan mari beraksi.

Hayuu.. beraksi!!!

“Ada kopi?”

Ada dong, ini kopi rasanya unik bin beda lagi. Dengan sentuhan air panas 87° celcius dan takaran tetap 1:15 maka bisa tersaji sebuah kopi yang mengeluarkan rasa cola sarsaparila.

“Halah apa itu?”

Itu tuh, klo kita minum cola (dulu… waktu sebelum insyaf hehehehe)… ada rasa pahit sepet diantara manisnya cola, diantara ‘nyereng’-nya itu ada rasa khas sarsaparila.

Ah kamu mah ngarang!”

Entahlah, tapi yang pasti selarik rasa itu muncul dan mirip asem pahit buah plum serta pahitnya teh hitam. “Mau tahu kopinya?”

“Mau mau mauu”

Photo : Flores Yellow Island coffee V60 / dokpri.

Ini dia, Flores Yellow Island by Kuro Koffee, disajikan dengan metode V60 manual brew… mangga gan.

Akhirnya mentaripun kembali menyerahkan tampuk cahaya kepada rembulan karena malam mulai menjelang. Urusan kopi dan posisi terus berjalan, perlahan tapi pasti menikmati malam sambil ngopi dan memgumbar lamunan.

Hatur nuhun, selamat beraktifitas guys, Wassalam (AKW).

***

Kopi Casi Cielo & Tugas Negara

Kesibukan ditemani Casi Cielo Guatemala

Photo : Hasil manual brew kopi cielo / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Hari selasa yang begitu padat merayap, diawali dengan kesibukan persiapan di pagi hari hingga akhirnya menembus jam 22.00 wib…. oalaaah sebentar lagi menyentuh tengah malam.

“Serius masih di opis?”

“Aslinyah… memang belum selesai, ya mau gimana lagi”

Perbincangan ini bukan sebuah justifikasi bahwa sok sibuk dan bekerja hingga larut malam, tetapi itulah tuntutan profesi yang tak bisa dihindari.

Tenang kawan, kerja seperti ini tidak setiap hari, jadi jalani saja, simpel khan?… tapi sering… hehehe curcol.

Nah, supaya nambah semangat maka disela waktu rehat gunakanlah membuat sesuatu dengan tepat.

“Ngapain lu?”

“Penasaran yaa? Siniih!!!”

Pas mendekat terasa semerbak harum kopi yang memanjakan hidung, hmmmm nikmat banget, “Kopi apa ini brow?”

Photo : ini bijinya sebelum digrinder / dokpri.

Kopi Casi Cielo Guatemala menyambut dengan aroma harumnya yang khas, masih berbentuk biji dan segera bersiap untuk digrinder disini.

Dari dongeng dibungkusnya, kopi ini ditanam di dataran tinggi guatemala, Amerika Selatan dan dikelilingi pegunungan kuno. Pengertian Casi Cielo ini berasal dari bahasa spanyol yang artinya ‘Almost heaven’ atau hampir seperti surga. Sehingga kopi arabica biji utuh yang dihasilkan akan menciptakan rasa nikmat seperti di surga disaat meniimatinya…. kitu meureun.

Yang pasti, Alhamdulillah bisa menikmati kopi yang berasal dari berbagai penjuru dunia.

Kopi produk starbuck ini pemberian seorang kawan di Sukabumi, yang katanya selalu ingat diriku jikalau melihat produk kopi. Semoga kebaikanmu mendapat balasan lebih banyak kawan, terima kasih yaa….

Keharuman bijinya sesaat dibuka wadahnya menarik hati untuk segera menyeduhnya dengan metode manual brew V60 dengan komposisi 1 : 12 dan air panas 90° celcius. Wuiih keharumannya terasa segar.

Setelah tuntas berekstraksi dan menghasilkan cairan kopi maka saatnya untuk menikmati.

Srupuuut……
Hmmm…..

Bodynya medium dan sedikit ninggal lalu aciditynya low, tastenya yang unik, ada rasa mint yang selarik menyeruak di lidah.

Penasaran, disruput lagi gelas selanjutnya… aciditynya yang low membuat ada sesuatu yang kurang…over all nikmat.

Ditengah kesibukan yang tidak berhenti ini, maka sajian kopi dadak eh manual brew ini seakan menjadi oasis di tengah panasnya sahara tugas…. minimal mengembalikan kembali mood dan kesegaran untuk terus bekerja marathon hingga menjelang tengah malam.

Alhamdulillah, tepat pukul 22.30 wib bisa meninggalkan gedung sate. Kembali sesaat ke pangkuan anak istri, berjumpa sesaat. Meskipun mungkin mengganggu jadwal tidurnya tetapi menjadi sangat penting karena secara prinsip, bekerja itu untuk mereka, untuk keluarga.

Bercengkerama sejenak, dan setelah keduanya terlelap, perlahan berbisik, “Ayah berangkat dulu ya”.

Anggukan lemah sebuah tanda persetujuan. Pelan-pelan meninggalkan mereka, menuju mobil yang sudah datang menjemput tepat pukul 00.00 wib. Demi tugas negara selanjutnya, menuju provinsi tetangga. Wassalam (AKW).

Cawene Coffee

Mendung menggelayut, nyeduh kopi bikin terhanyut.

Photo : Cawene Coffee siap dinikmati / dokpri.

CiMAHi, akwnulis.com. Pagi sedikit mendung disaat mentari malu-malu menampakkan diri, mungkin berlanjut hingga siang hari nanti. Cuaca menjadi nyaman jikala nanti mau berjalan-jalan di siang hari, tanpa khawatir sengatan panas yang mengganggu proses pengelupasan kulit muka, maklum lagi perawatan… awwww.

Enaknya ngapain yaaaa?”

Sebuah pertanyaan yang sangat penting, karena akan menentukan gerakan tubuh selanjutnya. Apakah akan melepas selimut hidup yang sedang membungkus raga ini?.. atau tetap bercengkerama dalam tatap dan kelembutan yang halalan toyyiban?… kembali aneka opsi menjadi pilihan.

Ternyata, diskusi adalah cara efektif untuk menyamakan frequensi, membangun kebersamaan persepsi yang akhirnya berusaha bersinergi. Keputusannya adalah melepas sementara selimut dan beringsut menuju ruang tengah untuk menikmati kenikmatan hidup lainnya meskipun sebagian orang menyebutkan sebagai kepahitgetiran.

Apa itu kawan?”

“Yaaa…. Ngopaay.. eh seduh kopiii!!!”

***

Siang ini yang menggoda selera untuk segera dieksekusi adalah sebuah mahakarya, artisan coffee dari Garut Jawa Barat.. pasti arabica bean dengan label CAWENE COFFFEE.

Tanpa perlu berlama kata, maka air panas disiapkan, kertas filter, corong V60, glass server, timbangan, dan tidak lupa… ya kopinya atuhhh… eh bubuk kasar kopinyaa… Cawene coffee.

Setelah corong V60 berlafis.. eh berlapis kertas filter sudah dibasahi air panas, maka prosesi perseduhan manual kopipun akan segera dimulai…..

3 sendok makan bubuk kopi arabica Cawene…. yaa sekitar 20gr Cawene sudah pasrah menunggu sentuhan air panas 92° celcius. Mengucur perlahan, memutar melawan arah jarum jam. Aroma harum menyeruak, serpihan biji diseduh air telah membebaskan aroma yang terpendam dalam biji kopi Cawene ini…. aslinya harum pisan.

Gelas server Dugio300 menampung tetesan kopi hasil filterisasi manual brew V60 di pagi yang mendung ini. Perlahan tapi pasti mendungnya siang berubah jadi ceria, semarak, seiring dengan prosesi manual brew yang memasuki titik akhir.

Photo : Kopi Cawene bersama corong V60 / dokpri.

Sambil menanti tetesan akhir kopi cawene berkumpul di gelas server, mencoba mencari makna Cawene. Ada yang mengartikan Cawene itu cawan dan berkaitan dengan Uga Wangsit Siliwangi yang terkait tentang satria piningit. Sementara dalam kamus bahasa sunda online (unverified) menyebutkan Cawene ini perawan, senada dengan sebuah pendapat yang menghubungkan dengan syair lagu sunda jaman jadul yang menyandingkan ‘bujang’ dengan ‘cawene’.

Apapun pengertiannya, penulis mah seneng aja kerana eh… karena bentar lagi moo nikmatin kopi cawene ini, hasil manual brew V60 olangan….

Kopi cawene yang diseduh ini dengan label Cawene coffee, artisan coffee & roastery. Process natural medium to dark. Diroasting tanggal 04.03.2019, ground coffee berbungkus hitam dengan berat 250gr. Arabica premium, Garut origin west java indonesia. PIRT 5103205011019-23

Harga free karena ada yang ngasih, hatur nuhun Pak Haji 🙏🙏….

Jeng jreeeng…. sajian kopi sudah siaaap.

Cuuur….. dituangkan ke gelas kaca mini kesayangan…

Sruputt.. kumur dikitt… hmmmm

Woaaah…. nikmaatnyooo. Aromanya harum banget, bodynya mantaabs, bold euy.. tebal berisi… dipadu oleh aciditynya yang juga medium high… bikin sensasi ‘ninggal’-nya semakin kentara. Taste yang menyeruak adalah tajamnya rasa fruitty, khususnya lemon dan sedikit jeruk nipis plus tamarind… juga kayaknya muncul rasa berry….

Over all, mantabs nikmat.. tapi untuk pemula mungkin belum pas. Karena akan terkaget dengan body dan aciditynya yang seolah mencengkeram lidah memahitkan mulut.

Buat penikmat kopi hitam, ini recomended.

Srupuut…. nikmaat. Happy wikend guys. Wassalam (AKW).

****

Arabica Wine & Ijen di Renjana

Menikmati V60 Arabica wine vs Ijen.

Photo : Sajian V60 Arabica wine – Renjana / dokpri

BANDUNG, akwnulis.com.Pagi yang cerah dan senyum di bibir merah, sejuta rasa bahagia….’

….”Lhaa kok jadi nyanyiin lagu mendiang Chrisye seeh?”

Tapi ini emang pagi yang cerah meskipun bibir merahnya sih relatif. Merah karena obat merah, atau bibirnya kejemur atau polesan lipstik yang mungkin harganya mahal dari mulai Estee Lauder Pure Color Envy Sculpting (400ribuan) hingga Couture Beauty Diamond Lipstick yang harganya (ceunah) 187 Milyar karena bertabur berlian.

Pagi yang cerah ini, menjadi kesempatan berharga untuk menjajal program jalan 30 menit/hari. Kebetulan ada perintah buat ngewakilin bos rapat di salah satu kantor di daerah jl Riau – jl.Laswi. “Kayaknya nyampe kesitu jalan kaki 30 menitan”

Berangkaat…..

Dengan rute Jl. Martadinata / Jl.Riau luruss aja ngikutin trotoar, dan beberapa kali menyebeberang di perempatan… ada 4 apa 5 per4tan. Mulai dari perempatan Istiqomah, Cihapit, ujung jalan Aceh, Gandapura hingga perempatan Jl. Anggrek…

Ternyata 24 menit sudah hampir tiba di TKP, wah masih ada spare 6 menit. Belok kanan dulu ke jalan Anggrek trus ke Jalan Pudak… ternyata ada 4 cafe kopi…. yang pasti ada kopi pudak, kopi Renjana dann…..halah 2 lagi lupa euy.

Photo : Barista Renjana beraksi / dokpri

Dari Jalan Pudak langsung balik badan dan kembali kepada jalan yang benar eh.. jalan yang menuju tempat rapat….. 35 menit akhirnya waktu berjalan dari daerah Istiqomah hingga ujung jalan Martadinata-Ahmad Yani. Keringat lumayan mengucur, tapi segar… aslinya segeerr. Yaa kalaupun ada sedikit bau keringet pas ntar rapat, itu mah resiko. Namanya juga jalan kaki, ya keringetan.

—- Cerita rapatnya nggak dibahas

Naaaah… jam 2 siang baru beres rapatnya…… setelah bubar…. jalan kaki lagi menuju jalan anggrek tadi… kemooon.

Photo : Sebungkus arabica wine / dokpri

Namanya Kafe Renjana, kata sang duo barista artinya ‘Rencana‘ tapi diwujudkan jadi cafe. Nama baristanya Rio dan Diki. Menunya banyak, dan ruangannya cozy serta rapih. Ada juga ruangan private buat meeting, itu mah musti booking dulu….. lha kok jadi iklan cafe seeeh!!.

Yang penting kopinya bro, manual brew V60 tea geuning….

Tanpa perlu lama, pilihan biji kopi yang ada dibaca satu persatu. Ah pilihan mah nggak boleh terlalu banyak, lagian yang lainnya udah tau karakter rasanya… wheleeeh wheleeh kayak yang udah nyicip ratusan kopi aja, sombong lu!!

Pertama, Arabica wine. Katanya beannya dari gunung manglayang. Oke deh gpp, ditunggu racikan manual brew V60nya.

Sambil duduk di meja sebelah dalam, mencoba menikmati suasana cafe Renjana dalam waktu yang sangat terbatas ini. Enak juga buat nongkrong, eh tapi jauh dari kantor. Ya sudah sesekali aja.

Tak berapa lama sajian kopi manual brew V60 Arabica wine ala Renjana cafe telah tiba dihadapan. Sebelum dinikmati tak lupa didokumentasi, wajiib itu!!

Ouuww…. bodynya bold dan ninggal di seputar bibir, aromanya oke dan ada taste fruitty yang ninggal plus selarik rasa karamel.

Kata baristanya pake perbandingan 1:15 alias 100ml dengan 15gr bean persajian… cucook deh.

Nggak pake lama, disruput habis tuh sajian kopi arabica wine. Eh sang pelayan lewat, sambil tersenyum berkata, “Om kayak minum air putih aja, teguk teguk habis.. itu khan pahit bingiit”

Senyum tersungging, salah besar. Ini sajian nggak pahit, justru nikmat dan bisa sesaat melupakan pahit getirnya kehidupan… ahaaay.

“Pesen lagi neng, Manual brew V60, kopinya Ijen”
“Oke Kakak”

Ahay kok berubah panggilannya dari Om jadi Kakak….

Photo : Sajian V60 kopi ijen / dokpri

Sajian kedua, manual brew V60 kopi Ijen. Sajiannya sama dengan gelas botol saji transparan dengan gelas kecil. Tanpa embel-embel, polos saja.

Perlahan disruput, kumur dikit dan glek.. glek.. glek… aroma harum dengan body lite, cocok buat pemula. Serta acidity medium. Taste tidak terlalu jelas, sangat tipis rasa fruittynya.. “Eh atau jangan-jangan efek arabica wine-nya belum hilang?”

Nggak usah dipikirkan. Biarkan kopi arabica wine dan kopi ijennya bersepakat di dalam lambung untuk menghasilkan MOU perikekopian yang akhirnya akan keluar dari tubuh ini dalam bentuk yang relatif sama.

Photo : bean kopi Ijen / dokpri

Yang pasti keduanya nikmat dengan segmentasi peminat ya g berbeda. Mau yang strong atau medium, itulah pilihan.

Akhirnya sang waktu jua yang memaksa raga ini hengkang dari Cafe Renjana. Kembali ke alam nyata dan berpetualang menapaki jalan kehidupan yang terbentang sepanjang hayat. Wassalam (AKW).

***

Obat Penenang – Kopluprégar

Ketenangan hadir melalui obat yang tepat.

Photo : Sajian Koplupregar lengkap dengan peralatan/ dokpri

JATINANGOR, akwnulis.com. Dinginnya malam di Kamar 103 Kampus Kiarapayung begitu kejam menghujami kulit tipis kami. Sesekali angin menyelusup, menyapa dengan seringainya menyusuri kuduk yang kerap meremang.

Untung saja obat penawarnya ada, beberapa bungkus obat penenang tradisional dengan peralatan lengkap satu kontainer plastik. Dibawa khusus untuk menghadapi situasi seperti ini.

“Obat penenang?, hati-hati ah, jangan sembarang bawa obat begitu. Nanti diciduk petugas”

“Udah selow aja kata Wahyu juga (maksudnya lagu Selow yang dinyanyiin Wahyu), cuman segini doang” sambil mengeluarkannya dari dalam kontainer.

Wahhh… ini mah banyak sekali, ah bahaya ini mah.. bahaya” suara parau kawanku yang phobia dengan penangkapan. Tangannya tak henti meremas bungkus alumunium voil.

“Baca atuh bungkusnyaaa…. ini bukan tablet isinya bro, isinya bijiiiii…. biji kopiiii”

“Biji kopi?… tadi katanya obat penenang?”

“Iya penenang hati yang sedang galaw karena rasa dingin dan kegamangan.. ahaaay”

“Sialaaan”

Segera berlari menghindari kejaran kawan yang kalap karena nggak terima dengan kejadian ini.

Makanya jangan phobia berlebihan.

***

Setelah peralatan lengkap di meja, prosesi dimulai. Pasang kertas filter dicorong V60, timbang biji kopi dan digrinder dengan ukuran suka-suka, goyang-goyang 2-6. Siapkan air panas dengan termos pemanas.. josss.

Sang waktu menjadi saksi dikala air panas membasahi dulu kertas filter, serpihan biji masuk saringan, proses blooming bikin harum ruangan yang sebelumnya diawali oleh aroma biji kopi Luwak Garut yang terpecah oleh keperkasaan mesin grinder.

92° celcius sebuah angka yang tepat untuk menyeduh biji kopi spesial dari salah satu tokoh di garut, nuhun pak haji Aam… currr, puter-puter.

Tes.. tes… obat penenang menetes di bejana kaca transparan.. horee.. horeeee…

Aroma khas arabica menyeruak menjadi penenang pertama, diikuti dengan acidity maksimal khas kopi luwak (jangan sambil bayangin kopi yang keluar dari ‘anu’ luwak yaaa….. ), body kopinya medium dan dari keseluruhannya nikmat maksudddnyaaah.

Photo : para pemburu ketenangan / dokpri.

By the way, anyway…. obat penenang itu bernama Kopi Luwak Premium Garut (Koplupregar) versi spesial yang diproduksi oleh CV Dwi putra laksana….

Srupuuut.. srupput, gelas-gelas mini menyambut kehadiran obat penenang suasana ini secepat kilat, sehingga 50gr kopi yang berubah jadi cairan hitam coklatpun tandas dalam waktu singkat.

“Alhamdulillah, udah pada tenang semuanya,……”

“Iyaaaaaaa.. tenang dan senang”

Dinginnya malam sekarang menjadi sahabat, karena dipererat kebersamaan yang berbalut ketenangan. Canda dan tawa serta cerita Bali, Bogor dan Sukabumi serta Cimahi menguatkan kembali chemistry yang telah terjalin kuat di kaki Gunung Manglayang ini. Wassalam (AKW).

Kolam Renang & Arabica Puntang – Hotel Geulis Bandung

Kerja tetap dipacu dan disitu ada sesuatu.

Photo : Lorong Hotel Geulis Dago Bandung / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. siang menjelang sore tidak lepas dari diskusi tentang persepsi dan intrepretasi dari aneka pasal yang menyangkut nasib direksi. Terjadi dilema di area neocortec dan amigdala, terjebak antara ilmu hukum dan tarian angka-angka. Wah musti rehat sejenak ini mah.. gaswaat.

“Maaf pak, saya ke belakang dulu”

“Silahkan pak”

Terbebas dari pembahasan meskipun dalam waktu yang super singkat, tapi inilah jeda yang sebenarnya.

Karena pamitnya ‘ke belakang’, maka segera bergerak ke belakang hotel. Mengikuti petunjuk yang menempel erat di dinding. Lurus terus menyusuri lorong sambil menikmati detail ornamen hotel butik ini, bikin adem.

Setelah mentok, ada petunjuk belok kanan agak keatas. Ada tangga dengan enam undakan, buka pintu dan tadaaa…… suasana membiru memberi ketenangan dan bikin adem kepala setelah berkutat dengan pasal dan cinta.. upss.

Photo : Kolam renang mini Hotel Geulis / dokpri.

Kolam renang mini menyambut, meskipun kecil tapi lumayan masih bisa dipake renang.. yaa maksimal berdua orang dewasa heuheuheu. Ini hanya fasilitas untuk yang menginap, tapi tetap saja ingin berbagi info ini, siapa tahu pas nginep disini, Hotel Geulis….

Ada juga untuk kolam renang anak, kecil banget tapi yang penting bersih dan nuansa segar. Kursi pantai tersedia, bilasan ada, juga prosotan mini buat anak. Disampingnya ada tempat fitnes, jadi bisa renang trus fitnes ataupun sebaliknya.

Photo : Kursi pantai dan prosotan / dokpri.

Sambil perlahan menghela nafas panjang, serasa beban pikiran sedikit berkurang.

“Wadduh rapaat….” ingatan kembali kepada tugas di ruang rapat. Balik kanaaaan…. berjalan setengah berlari. Tapi sebelum sampai ke ruang rapat, belok sejenak menuju wastafel, membasuh muka menenangkan rasa untuk kembali bersua dengan angka.

***

Trek!!

Pintu ruang rapat terbuka, olala suasana rapat berbeda. Di meja masih berserak dokumen yang ada lengkap dengan coretan dan garis merahnya. Tapi yang bikin membelalak adalah sebuah meja baru disampingnya.

Photo : Manual brew V60 Arabica Puntang / dokpri.

“Silahkan pak dicoba, saya pesenin kopi manual brew v60 dengan beannya puntang arabica, khusus buat bapak” Ibu pengundang rapat menawarkan dengan tulus.

“Woww…. makasihhh, sungguh tersanjung”

Srupuut….. nikmatt.

Aroma kuat arabica puntang menyelusup di indra perasa. Memberi bunga bunga semerbak menenangkan otak. Body yang tangguh tebal tapi mantap. Acidity ‘ninggal‘ medium high khas puntang memanjakan rongga lidah dan tetap nyaman di lambung. Taste fruitty nya kerasaa…. emang arabica puntang tiada duanya. Berarti ini arabica puntang metode V60 ala Cafe Geulis.

Yummy….

Pembahasan rapat selanjutnya semakin lancar, pikiran tenang dan tarian angka serta pasal-pasalpun terasa lebih ringan.

Jadi, .. kolam renang & kopi arabica puntang, bikin kerjaan lancar dan pikiran segar.

Wilujeng ngojay dan ngopay bray, Wassalam (AKW).

Gayo Takengon versi Ibrik

Mencoba kopi dengan metode manual brewing yang berbeda.

Photo : Sajian kopi Arabica Gayo Takengon dengan metode Ibrik / dokpri

BANDUNG, akwnulis. Setelah satu tahun lebih, menikmati kopi giling dengan metode seduh manual. Maka metode V60 yang menjadi favoritku. Meskipun tidak menutup kesempatan dikala ada saatnya menikmati sajian kopi dengan metode lain. Beberapa yang pernah dicoba adalah manual brewing dengan chemex, kalita, shyphon, tubruk, vietnam drip, cold brew, cold drip serta yang paling umum versi mesin adalah long black, americano, espresso dan dopio.

Makanya, pas ada kesempatan untuk mencoba dengan metode lain dan dibuatin seseorang, tentu tidak dilewatkan. Metodenya masih manual brewing dengan nama IBRIK/CEZVE.

“Metode naon éta?”
“Metode Ibrik lur”

“Iya yang gimana?”
“Slow lur, kaleem, khan moo ngejelasin ini téh”

“Ohhh….. sok atuh!”

“Dengerin…. Turkiz ibrik/cezve is included into the oldest coffee brewing tradition in the world based on the unesco survey. This spesial shrink uses the extra-fine grounded coffee beans mixed with water which is boiled in the unique pan called ‘ibrik/cezve’ that creates colourfull taste of middle east.”

“Sedih ngedengerinnya mang, pengen nangis”

“Lha kenapa sedih??”

“Kagak ngarti apa yang diomongin tadi”

****#^@&#*

Woalaaah… tuing… tuingg… aya aya wae.

****#^@&#*

“Hadeeeeuh.. jadi gini mas bro,…. “ maka cerita berlanjut dengan tema translate bahasa menjadi bahasa pertemanan yang mudah dipahami.

***

Jadi metode Ibrik/cezve ini adalah metode seduh manual secara tradisional yang berasal dari timur tengah, malah katanya merupakan metode seduh manual tradisional yang tertua versi Unesco.

Photo : Alat manual brewing tradisional Ibrik/dokpri

Dengan cara menggabungkan biji kopi yang sudah ditumbuk atau digiling extra halus dengan air yang direbus pada panci unik. Nah panci uniknya yang disebut ‘ibrik/cerve’.. ya mirip mirip dengan kopi tubruk tapi ini ditubruknya pake panci khusus yang namanya ibrik.

Ya tetep beda atuuh… iya juga.

“Gimana hasilnya????”

Nah klo hasilnya kembali kepada bean kopinya yang digiling tadi. Yang dicoba sekarang adalah arabica Gayo Takengon- Aceh. Hasil manual brewing-nya disajikan dalam gelas kaca tinggi. Cairan kopinya cenderung coklat dan keruh… jadi mirip hot coklat kebanyakan air hehehehe… bentuknya.”

Rasanya masih bisa dinikmati. Bodynya lite, tetapi aciditynya medium ke high.. agak rawan untuk yang lambungnya kurang kuat. Tastenya sedikit fruitty dan aromanya tidak terlalu terasa. Jadi kesimpulannya, tetep diriku cenderung pake metode manual brewing V60, lebih lengkap rasa yang dihasilkannya.

“Nah gitu ceritanya kawan, metode seduh manual kopi giling yang diberi nama metode Ibrik/cezve”

“Ohhh…. ngerti deh sekarang”

Hatur nuhun, met ngopay bray. Wassalam (AKW).

***

Arabica Java Preanger pake Chemex

Nikmati kopi pake metode chemex, nikmat.

BANDUNG, akwnulis.com, Sajian penutup setelah makan siang sehat ala Cafe Greensandbean sebenernya banyak pilihan, tapi tetep saja kurang afdol tanpa hadirnya si hitam nikmat, kopi.

Dari mulai bye bye doctor, energy booster hingga aneka teh yang bisa refill hingga 3x. Tidak bisa mengalahkan hasrat meng-kopi, menikmati kopi. Maka dari 3 pilihan kopi yang akan di buat secara manual, kali ini jatuh ke kopi Arabica Java Preanger. Flores Bajawa dan Liberica bean.

Inilah dia, sajian kopi arabica java preanger dengan metode manual brew chemex. Hadir dihadapan dengan ditemani 2 gelas kaca mini, berarti bisa buat dinikmati berdua.

Bagi yang tidak biasa ngopi dikit-dikit, kemungkinan besar akan terjadi kecanggungan. Tapi itu adalah sebuah cara, bagaimana dengan gelas kaca mini ini, kita bisa minum perlahan tapi pasti, menyecap rasa yang tersaji tanpa basa basi. Trus tidak hanya sendirian, bisa juga menikmati bersama teman. Meskipun terus terang, segitu mah klo barengan, yaa takarannya kurang. Tapi tak apa, yang penting bisa minum kopi yang dibuat manual dengan biji spesial. Wilujeng ngopay, Wassalam (AKW).

Kopi Luwak Lembah Cimanong

Ternyata, hampir saja sebuah rasa terlewati waktu yang tak mau memberi jeda.

Photo : Tampilan Kopi Luwak Lembah Cimanong dengan bungkus merahnya, abaikan penampakan mix rosegoldnya yaa / dokpri.

GEDUNG SATE, akwnulis.com, Hampir 3 bulan dikau teronggok begitu saja diantara koleksi kopi yang datang silih berganti. Tetapi tanpa banyak tanya, tetap santai jalani semuanya dengan setia.

Satu bulan lalu akhirnya dibuka, lembar merah bungkusmu mulai tersobek oleh sebuah keinginan. Sebesar harapan akan nama besarmu, kopi luwak.

Tetapi sebelum bijimu menyentuh grinder, tiba-tiba tertahan oleh sebuah keadaan. Karena sang indra penciuman belum menemukan aroma yang diharapkan. Padahal begitu besar perkiraan bahwa aromanya akan membahana memenuhi ekspektasi kehidupan. Akhirnya kembali bungkusan merah dikau terdiam dan mengonggokkan diri di meja eksekusi. Menanti proses ekstraksi yang tak pasti.

***

Hari ini, setelah menyeduh manual dengan V60 kesayangan stok kopi yang ada. Tiba-tiba tatapan ini tertuju pada bungkus merahmu.

“Mau dicoba Kopi Luwak Lembah Cimanong?”

“Hayu Kang, kita jajal” jawaban serempak 2 kawan dari divisi lain yang saat ini bernasib sama, galau karena perubahan lembaga. Tapi daripada galau mendingan dinikmati sambil minum kopi.

***

Langsung corong V60 dpasangin filter. Bean yang ada dalam bungkus merahmu ditimbang 30 gram, dimasukan grinder dan digiling dengan ukuran variatif, supaya bisa keluar beraneka bentuk yang nantinya memberi sensasi rasa berbeda.

Air panas ngejetrék, tandanya sudah siap. Dituangkan di teko kaca Suji berleher panjang. Langkah awal digunakan nyiram kertas filter. Lalu dipasang termometer, air raksa bergerak perlahan dan akhirnya terdiam di ukuran 90° celcius. Sippp.

Jangan lupa air pembersih filter dibuang dulu. Air panas 300 ml sudah ready. Bubuk kopi dituangkan di corong V60, air panas 90° derajatpun beraksi. Awalnya untuk proses blooming dulu dilanjutkan dengan sentuhan hakiki, proses ekstraksi melalui pertemuan air panas dan biji kopi yang sudah membelah diri.

Tak berapa lama, tetes demi tetes hadir di gelas server. Bersiap untuk menikmati.

“Mangga atuh, silahkan”

Gelas server berisi cairan kopi luwak lembah cimanong disorongkan dan serempak rekanku sudah memegang gelas kaca masing-masing.

Currr……

….

Srupuuut….
Srupuuttt…..

“Ow may gattttt… enak euy” itu reaksi pertama dariku. Ternyata ada sesuaty yang terpendam selama ini.

Dari awal memang agak kurang tertarik sama dikau karena aromanya hambar, nyaris tidak ada. Jadi disimpulkan sementara, ah rasanya biasa saja, padahal mahal belinya.. agak nyesel tadinya. Klo nggak salah 125ribu/100gram bean hasil roastingnya.

Ternyata, body-nya nampilin level medium yang layak dinikmati dan yang paling keren adalah Acidity-nya, kerasa bangeeet…… sebuah keasaman rasa yang nyaris sempurna tanpa diganggu bayangan pantat luwak yang pernah mengeluarkan biji kopinya.

Trus yang bikin meringis adalah sensasi ‘Ninggal‘-nya, sebuah ungkapan sederhana yang bermakna bahwa dibelakang lidah terasa menempel rasa asam dan sedikit kegetiran dalam waktu yang cukup lama padahal kopinya sudah lewat dan ngendon di lambung kita.

Enak pisan itu rasa yang tertinggalnya… ruar biasa.

***

Maafkan daku yang sudah menyia-nyiakan dikau, hai kopi luwak lembah cimanong Ciwidey, kamuuh luar biasaaa…

Kamipun bertiga menikmatimu sambil menanti perjalanan waktu hingga adzan magrib membahana di Mesjid Almuttaqien. Wassalam (AKW).