BANDUNG, akwnulis.com. Dikala mentari hadir dengan kehangatan hakiki, disitulah sinergi abadi terulang setiap hari. Apalagi hari ini, birunya langit begitu memukau dengan aura ketenangan yang tiada tara. Sungguh nikmat karunia kehidupan dari Allah SWT yang wajib disyukuri dan ditafakuri.
Hembusan angin yang lembut menyapa wajah hingga ke hati, menenangkan nurani dan memberikan tambahan semangat berbakti sesuai dengan tugas dan target hari ini, besok dan lusa lagi.
Maka jangan disia-siakan momentum ini, ambil kesempatan dengan meraih smartphonemu, bidik… abadikan…
Cekrek!…
Frame indahnya pagi yang membiru sudah berhasil terdiam di memori handphone. Dengan sentuhan kasih sayang teknologi, maka tanpa berlama-lama akan segera berkelana di dunia maya melalui proses upload di media sosial dengan beraneka tagar dan caption serta tring…..
…..menanti respon siapapun didunia sanaaa.
Eh ada yang lupa, ambillah secangkir kopi hitam tanpa gula dan abadikan bersama pagi yang ceria.
Hati-hati dengan penantian respon di medsos berupa like, jempol dan juga komentar. Biarkan itu berproses, jangan terjebak oleh banyaknya jempol dan komentar di medsos kita, karena itu adalah kenikmatan semu belaka.
Paling penting adalah sebuah nikmat syukur atas lukisan tuhan pagi ini sudah diabadikan dan tentu disyukuri dengan dzikir serta kerendahan hati.
Selamat pagi, selamat menyeruput kopi dan memaknai pahitnya kopi ternyata menyimpan manisnya rasa syukur yang sangat berarti. Wassalam(AKW).
CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah perjalanan tidak lepas dari ketertarikan melihat kanan dan kiri denyut kehidupan yang penuh keanekaragaman. Meskipun mungkin secara berkala akan melewatinya, tetapi…. itulah kehidupan, senantiasa dinamis dalam gerakannya dan bisa jadi diluar perkiraan.
Nah, dalam pola hubunganpun ternyata ada pasang surut antara suka dan duka. Bisa juga rindu dan benci trus rindu lagi…. atau malah keterusan benci?…. atau benci hilang dan akhirnya rindu, eh giliran bertemu sudah tidak mungkin merindui karena bukan milik kita lagi?…
Dalam pasang surut ini, terselip sebuah sikap yang sering dipertontonkan dan terkadang tanpa sadar hadir karena dorongan jiwa yang hakiki.
“Apa itu?”
Sikap inilah yang seringkali hadir dalam perjalanan hubungan, yaitu sikap manja. Ingin dimanja dan bertemu dengan sikap ingin memanjakan, cocok ituh. Yang gawat adalah sama-sama ingin dimanja, akan dipastikan bahwa hasil akhirnya adalah perpisahan karena tidak terjadi chemistry take and give.
Yang ada tek en tek (baca : take and take) mana giftnya?…. hehehehe.
Maka kecocokan itulah yang harus dicari titik temu. Perlu usaha yang tak kenal lelah ditambah protokol doa, untuk diberikan pilihan yang terbaik. Jangan lupa, setelah semuanya hadir maka jagalah dengan segenap rasa dan balutan syukur tiada hingga.
“Ngapain ngebahas urusan manja di malam minggu kakak?.. lagi pengen dimanja yaaa?”
Sebuah tanya yang dinanti agar segera mengakhiri cerita hari ini. Urusan manja hadir karena secara tidak sengaja melewati cafe kecil di bilangan Kota Cimahi sebelah utara dengan label ‘Kopi Manja’…
Langsung berhenti, datangi, pesan kopi yang disebut kopi manja, tunggu, datang kopinya, bayar, sruput…. ehh panass… khan take away…. sabaar nyruputnyaaa….
Kopi Manja ternyata kopi susu khas cafe ini, dan tetap bermanis gula… jadi terpaksa icip dikit dan dilanjutkan oleh ibu negara. Pilihan manual brew v60nya juga ada, itulah yang dijadikan pesanan kedua.
Photo : Manual brew arabica simalungun / dokpri.
Kendaraan bergerak dan kopi dalam cup ikut kemana raga bergerak. Hingga akhirnya berhenti di suatu tempat….. pasti disruput pada saat yang tepat.
Srupuuut…. hmmm V60 kopi manjanya memenuhi rongga mulut…… body dan aciditynya medium high dan cenderung lembut di lidah dengan aftertaste ada selarik tamarind dan buah chery….. Alhamdulillah.
Usut punya usut ternyata KoPi Manja ini adalah singkatan dari siMAlunguN dan JAwa. Kopinya dari simalungun dan dijual sama orang jawa….. dengan pilihan kopinya satu jenis saja yaitu kopi arabica simalungun tetapi setelah diolah maka disajikan dengan berbagai pilihan baik manual brew V60, kopsus, latte dan sebagai sebagainyaaah…..
Jadi ternyata istilah manja ini bukan merajuk karena balutan cinta kasih sayang dan perhatian, tetapi singkatan 2 kata yang di setting sedemikian rupa supaya bikin penasaran dan tentu menarik minat membeli bagi pemanja kopi eh pecinta kopi…. karena mungkin saja kembali memunculkan rasa ingin dimanja…. awww manja kamuuu.
Udah ah..
Semoga malam minggunya sukses dan tetap bisa bemanja ria meskipun hati-hati jangan salah memanjakan karena bisa berakibat ketergantungan. Wassalam(AKW).
KBP, akwnulis.com. Tanpa menanti detik dan menit yang cukup lama, segera tersaji pilihan minuman masing-masing yang menemani kebersamaan sore ini. Senja akan datang tetapi menikmati kebersamaan adalah keharusan.
Raga berbincang dan bertukar cerita keseharian, dilengkapi sesekali mulut memberi kalimat penyempurna sehingga jalinan kata yang tertutur adalah cerita kehidupan yang miliki makna.
Smartphone yang selalu menjadi pembatas kebersamaan, hanya digunakan sebagai pelengkap pengambilan gambar saja. Selanjutnya dipaksa tergeletak di meja dan mencoba mulai berbicara satu sama lain, karena jika tidak maka pertemuan ini akan kehilangan ruh sinerginya. Masing-masing akan tetap dengan dunia smartphonenya, sementara semesta kebersamaan akan terciderai tanpa sengaja.
“Simpan smartphonemu dan mari kita berbincang sayang”
Sebuah ajakan sederhana yang hasilkan nilai berbeda. Perbincangan akan lebih fokus dan intens tanpa terganggu dengan seliweran notifikasi di smarthone yang senantiasa menggelitik untuk dihampiri dan dibuka dengan jempol lentik… ahaay lentik… udah tangannya jempol semua juga.. ups.
Photo : Manual brew V60 Ijen arabica / dokpri.
Pilihan masing-masing berbeda, tetapi tetap ada kopinya. Diriku diwakili oleh rasa original kopi yang hadir melalui sajian manual brew V60 dengan pilihan kopinya adalah Kopi Ijen arabica yang diseduh dengan suhu 90° celcius menghasilkan kopi siap minum yang harum dengan body dan acidity medium ditambah aftertasenya hadir rasa citrun, kacang tanah dan cocoa…. (moga-moga bener nih lidah mengecapnya)… srupuuut.
Sementara sayangku tercintaah lebih memilih kopi ditemani susu yang dibuat karamel dengan bantuan pemanasan api dipermukaan cangkirnya yang dikenal dengan istilah –chreme bruele-. Sajiannya cantik dan menggoda, tetapi bagi penikmat kohitala ini harus dihindari, karena ada unsur susu dan gula.
“Tapi icip dikit boleh khaaan?”….
Boleh donk, saling bertukar icip juga tidak mengapa. Tetapi tetap harus seminimal mungkin, karena…. klo maksimal ntar ngabisin secangkir… atuh akan menimbulkan keributan dan ketidaknyamanan….. meskipun sebenernya pesen lagi gampang, tetapi suasana yang terbangun akan berbeda karena pengalaman yang ada tak akan tergantikan segera.
Selamat sruput sore kawan, jangan lupa sebelum menyruput dibuka dulu maskernya yaa. Wassalam(AKW).
Sedikit keluar dari kopi hitam, mari nyruput gambar…
BANDUNG, akwnulis.com. Nulis kopi terus, bahas kopi terus, apa-apa dikaitkan sama kopi. “Apa nggak bisa nulis yang lain?”
Kalimat tanya di pagi buta, hadir menohok tanpa tedeng aling-aling. Bukan complain sih, tapi mungkin puncak dari kebosanan karena dikirimin terus tulisan di blog ini yang temanya tidak jauh dengan kopi, atau malah maksa disambung-sambungin dengan kopi.
Heuheuheu….. sebenernya ingin berdebat dan membertahankan argumen bahwa menulis itu adalah….. bla bla bla, bahwa menulis itu….. segala macam pokoknya. Tapi yakin argumen ini tidak akan meluruskan persepsi karena vonis kebosanan mungkin lebih kuat mencengkramnya.
Jangan terlalu tegang kawan, biarkanlah tulisan sederhana ini mampir dihadapan melalui link yang rutin daku kirimkan. Buka dan baca dengan santai, jikalau tidak, ya sudah simpan saja sebagai arsip kehidupan karena yakin besok lusa ada masanya untuk dibuka dan menjadi teman dikala kesepian.
Nah, supaya nggak boring dengan kohitala (kopi hitam tanpa gula), kali ini sengaja mengumpulkan berbagai gambaran eh gambar dalam kehidupan yang dilukis spesial oleh sang barista, menghadirkan aneka gambar dengan masa kehadiran hanya beberapa menit saja.
“Kenapa begitu?”
Photo : Cafe latte intimisasi at Herbal house / dokpri.
Karena hadirnya gambar diatas secangkir kopi khususnya latte akan bertahan beberapa menit saja karena setelah disruput dengan nikmatnya, si gambar berubah dan akhirnya menyatu dengan warna alami latte kecoklatan.
Latte memang bukan kohitala, bukan si kopi hitam dengan rasa misteriusnya. Tetapi latte awalnya kohitala yang harus berkawan dengan susu steam dan tentu (terpaksa) hadirkan sejumput gula…. tapi sesekali tidak mengapa khan?…. hidup itu butuh variasi kawan. Inilah beberapa kopi bergambarku :
1. Latte bergambar angsa (goose), dari beberapa tempat sudah banyak barista dan baristi yang menggambar si cantik berleher panjang ini. Lucu memang gambarnya tapi apa mau dikata untuk dinikmatinya harus merusak gambar angsa yang tersaji.
2. Latte bergambar muka babi, nah caffelatte bergambar wajah babi bisa didapatkan dari salah satu cafe di bilangan kota bandung sebelah utara. Sebuah gambaran wajah babi yang lucu menghiasi permukaan cangkir kopi lengkap dengan senyumannya yang imut-imut.
Photo : Latte bergambar babi-face / dokpri
3. Latte bergambar keintiman, tah ini pasti penasaran. Ternyata barista ada juga yang bikin dua wajah berlainan jenis yang begitu dekat satu sama lain, wajar khan dianggap latte intimisasi?…
4. Lattee bergambar daun (leaf) kayaknya sudah standar yach, rata-rata cafe bisa menyediakannya. Tapi itupun gambar daun tertentu. Sementara reques gambar daun pintu dan daun telinga belum ada yang bisa membuatnya diatas cangkir latte yang tersaji dan terakhir…
5. Latte bergambar kelinci (Bunny/rabbit), ini kebetulan dapet pas beredar tipis-tipis di wilayah garut. Ternyata bisa hadir gambar kelinci lucu diatas cangkir latteku.
Itulah sejumlah terbatas gambar-gambar yang hadir di permukaan kopi dan pernah daku nikmati. Memang sedikit karena pilihan utama tetap kohitala, ini hanya bagian dari variasi dan (sebenernya) sangat jarang melakukan pemesannya…. yaa sebulan sekali sih masih.
Selamat menikmati sajian kopi dengan gambar masing-masing yang memiliki banyak arti. Wassalam(AKW).
BANDUNG, akwnulis.com. Perjalanan panjang di masa pandemi tidak menutup diri untuk menikmati sajian dan sensasi beraneka macam kopi. Meskipun rasa takut masih menggelayuti, tetapi bergerak tipis-tipis mencari sensasi kopi bisa meningkatkan imun karena menjaga bahagia.
Meskipun begitu protokol kesehatan yang paling utama. Makser… eh masker wajib digunakan, malah double jikalau harus (terpaksa) rapat dengan jumlah peserta lebih dari 7 orang (sesuai surat edaran pak bos)… masker sekali pakai dan masker modis.. itu tuh masker kain yang warnanya senada dengan seragam yang dipakai di hari tersebut.
“Ih centil kamu khan bapak-bapak, ngapain maen matching matchingan… klo perempuan atau ibu-ibu wajar” Celoteh seorang pegawai perempuan melihat kecocokan antara masker dengan seragam.
Tak usah dijawab kawan, senyumin aja. Tak akan menang jikalau berdebat dengan kaum emak-emak. Biarkan celotehnya menjadi penghias rasa di hari yang penuh dinamika.
Photo : Masker dan batik, matching khan? / dokpri.
Lagian klo matching antara masker dan seragam nambah pede lho. Trus lebih aman kalau di double dan lebih modis pas di photo… asyik jadi rajin photo lho.. alasannya adalah untuk pelaporan kinerja harian sekaligus menyalurkan bakat narsis yang terpendam sekian ratus purnama plus waapada agar terhindar dari paparan virus corona sang virus seribu rupa.
Hand sanitizer dan spray anti kuman-bakteri-virus menjadi kawan setia yang waspada disamping tas punggung yang selalu menemani kemanapun pergi. Itulah salah satu sikap adaptasi kebiasaan bauuu…. eh baruuu.
Kali inipun bukan menyengaja datang demi kopi, tetapi undangan meetingnya ternyata ditempat yang bisa menyajikan kopi. Kebetulan banget khan?.. Alhamdulillah.
Setelah diskusi singkat dalam prosesi pemesanan, maka diskusi berlanjut dengan penuh keakraban meskipun tetap jaga jarak dan jaga perasaan, apalagi jaga hari hehehehe.
Nah, lagi rame diskusi. Tiba-tiba pelayan datang dengan membawa teko berlapis emas (ahaay lebay, tekonya kayak dilapis emas) dan tinggi menjulang dengan 4 gelas kaca mini plus satu mangkuk kurma. Ini dia sajian yang tadi dipesan, Qahwa Qurma Qoffee… Q semua, Maksudnya Qahwa Kurma Coffee.
Photo : Kopi Sultan nich / dokpri.
Kopi sultan nich, andaikan memang teko tingginya dari emas beneran. Pasti mahal harga sajiannya.
Tanpa mau menyiakan waktu percuma di sela diskusi, tangan langsung bergerak meraih gagang teko keemasan dan menuangkan cairan kopi yang ternyata tidak berwarna hitam kawan tetapi seperti air keruh putih kecoklatmudaan. Nggak usah khawatir, cobain aja dulu bray….
‘Srupuuut…..’
Emmm….
Rasanya mirip jamuuu, kopinya hampir nggak kerasa, tapi hangatnya sih bisa nyaingin KOJAMTAGUL. Lebih mirip sebagai minuman herbal dibanding minuman kopi inih mah…. tapi karena ini adalah pengalaman, maka tuangkan lagi… tuangkan lagi… sruput dan sruput hingga akhirnya jatah ber-empat orang bisa habis sendirian…. dasar rwO6.
Untuk rasa manisnya ternyata sambil makan buah kurma yang tersaji juga di mangkuk kaca. Jadi sruput carian qahwa kurma Coffeenya sambil kunyah buah kurmanya, gitcu.
Jangan lupa buka dulu maskernya dan simpan dengan hati-hati. Simpan di amplop atau di plastik dan dilipat maskernya baru di sakuan... disimpen dalam saku, ntar kelar minum kopinya yaa… pake lagi maskernyaaaa.
Rasa hangat rempahnya setelah disruput berkali-kali, maka kemungkinan hasil identifikasi lidah pribadi adalah daun sirih dan atau kapulaga…. ditanya ke pelayan tentang bahan dasarnya.. hanya gelengan kepala yang didapatkannya.. ya sudah gapapa.
Akhirnya karena yang lainnya tidak mau mencoba… ya sudah daku habiskan saja… srupuuuut. Kopi ala timur tengah ini masuk ke raga dan memberikan sensasi berharga serta pengalaman yang tiada tara. Selamat mencoba meskipun rasa yang hadir diluar ekspektasi kira.
Makasih Pak T dan om P atas undangan meetingnya….
Ambil hikmah keanehan rasa dan pengalaman ngopi dengan teko emas yang khas hehehehehe. Wassalam(AKW).
SUBANG, akwnulis.com. Perjalanan menikmati kopi terus berlanjut tiada henti. Jikalau biasanya kohitala (kopi hitam tanpa gula) yang dinikmatinya, maka untuk tulisan kali ini adalah pengalaman minum kopi yang ditambah unsur lain, selain gula.
Unsur tambahannya adalah jahe merah yang memberikan efek kesegaran berbeda dan diyakini menjaga kualitas imun tubuh yang sangat diperlukan di masa pandemi corona.
Jadi yang disajikan kali ini adalah KOJAMTAGUL (Kopi jahe merah tanpa gula)…. maaf jangan protes dengan singkatannya, ini hak prerogatif penulis hehehehe.
Disajikan di cangkir krem berkelir coklat serta dengan latar belakang air kolam yang keruh dan beberapa ikan yang kebetulan mejeng menemani frame kojamtagul ini, maka tiada sabar untuk segera mencoba minuman kesegaran ini.
Oh iya kawan, disajikannya panas dan gula terpisah. Jadi bagi yang belum (merasa) manis, bisa menambahkannya. Tapi kalau yang sudah yakin dengan ‘kemanisan diri’ maka tinggalkan gula dengan segera.
Bismillah… srupuuut…
Hmm… rasa kopinya tetap dapat dengan body medium dan less acidity alias lempeng rasa kopi robusta biasa, tapi plusnya adalah kesegaran yang hadir dari rasa jahe merahnya yang menghangatkan rongga mulut, lidah hingga ke tenggorokan dan sementara berakhir di lambung untuk bersua dengan aneka makanan minuman yang sudah hadir lebih dahulu.
Recomended deh sebagai minuman hangat penyegar badan sekaligus tetap bisa menikmati rasa kopi yang begitu berarti.
Sebagai pendukung sruputan kopi ini hadir juga menu makan siang yang tak kalah ajibnya. Dari mulai sambal dadak, tumis kangkung, tempe goreng, nasi pulen, kerupuk dann…. gurame bakar…. siap disantap.. karena memang waktunya pas untuk makan siang.
Photo : Gurame Bakar dkk / dokpri.
Kombinasi yang lengkap minum makan kali ini….. dan tiada cara lain yang pertama dilakukan adalah dengan senantiasa bersyukur kepada Illahi Rabb atas rejeki yang senantiasa terlimpah kepada hambanya.
Terima kasih Pak H.OM atas jamuannya, semoga dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda. Amiin.
Tak terasa kopi jahe merah tanpa gula habis di gelas ketiga, begitupun gurame bakar dan kawan-kawannya bisa dituntaskan tanpa banyak tersisa, kecuali duri-duri yang memang jika tertelan akan menyiksa. Selamat beraktifitas kawan, Wassalam(AKW).
CIMAHI, akwnulis.com. Sabtu malam saatnya bersama dengan keluarga dan…. aktifitas pribadi yang menenangkan hati.
“Apa itu?”
“Biasa bro, nyeduh kopi pake v60”
Si kecil antusias menemani prosesi manual brew ini, sambil tangan mungilnya sesekali memegang ujung server, atau ambil sendok buat ikutan ngudek kopi yang sedang meneteskan diri…. hampir saja merusak tahapan demi tahapan dalam rangka menyeduh kopi malam ini.
Diingatkan dengan kata lembut ternyata nggak mempan, tapi jikalau dengan suara keras, khawatir memberi contoh kekerasan sejak dini…. jadi tetap berkata lembut dengan mata melotot….. atuh sama ajah heuheuheu.
Kali ini manual brew v60nya menggunakan kopi dari garut dengan merk dagangnya ‘Neng INCEES‘, entah ada hubungan apa dengan Syahrini sang Artis, tapi kalau melihat bungkusnya ada gambar mata yang menggunakan alis cetar anti baday. Apakah ini punya sang artis ataupun memang strategi marketing dari penghasil kopi, nggak masalah. Terpenting adalah mari kita coba saja bagaimana rasanya.
Makasih buat Abang Bismark yang berkenan mengantarkan sendiri Kopi Neng INCEES ini, nuhun pisan. Semoga dibalas perhatian ini berlipat ganda.
Bismillah….
Photo : Like father like daughter / dokpri.
Bungkusnya dibuka dan harum semerbak menerjang muka. Air panas sudah siap di atas kompor, kertas filter sudah nangkrong eh nangkring di corong v60…. tinggal diambil bubuk kopi dengan ukuran kira-kira.
“Lha nggak pake gramasi?”
“Gramasi feeling aja ya, soalnya timbangan digitalnya pecah, terjatuh”
Maka empat sendok makan plastik… eh lima sendok mucung, kira-kira 35gram yang diseduh pake air panas 400 ml (jangan protes dengan komposisi ya…. tapi klo komen sih boleh…. )
Tetesan kopi hasil ekstraksi menjadi atraksi tersendiri. Anak semata wayangku tak sabar menantikan prosesi ini tuntas. Bukan apa-apa, bekas seduhan kopi ini yang menjadi bahan anyang-anyangan (bermain) anak kesayangan, ditambah air dan seakan-akan bikin kopi sendiri… like father like daughter.. kitu ceunah.
Setelah dipindah di gelas kaca kopiku, perlahan tapi pasti mendekati bibir daan…..Sruputtt.. srupuuut.
Photo : Prosesi ekstraksi tampak atas / dokpri.
Hmmm…. Bodynya bold euy… tebal dan pahit menghangat, acidity high… bikin nyengir dan sekilas nyereng.. euh apa ya bahasa indonesianya?…. ya nyereng aja dah, sekilas tapi… kayak mendekati arabica wine lho aciditynya dan aftertasenya (moga-moga nggak zalah eh salah) hadir rasa lemon kolot, kacang tanah dan gula merah serta sekilas dark chocholate.
Jadi dengan komposisi tadi, lebih cocok untuk penikmat kohitala saja, untuk yang belum siap menerima keasaman dan kepahitan hidup.. eh kopi, baiknya banyakin aja air panas seduhnya atau… turunin gramasinya sehingga dapetnya lite meskipun mungkin bisa terjebak dalam rasa watery (loba cai : b.sunda).
Nikmat pisan, sebuah prosesi seduh kopi sambil ngasuh anak dan ngasuh diri sendiri di malam minggu yang penuh arti. Selamat jam segini, Wassalam(AKW).
BANDUNG, akwnulis.com. Jalan Supratman Kota Bandung relatif lengang ketika raga ini melintasinya. Jadi bisa relaks menyetir tanpa khawatir tiba-tiba ada yang mlipir. Mendekati nomor 44 terasa keinginan mampir semakin kuat, maka tanpa perlu banyak bersikap tapi berpikir cepat. Banting setir ke kiri dan masuk ke area kantor yang asri.
Ternyata feeling so good, disambut ramah oleh petugas resepsionis dan langsung diantar ke ruang bapak sekretaris.
Gayung bersambut lagi, beliau lagi relatif santai sehingga bisa leluasa berdiskusi dan menimba pengalaman dalam menjalani dunia birokrasi.
Hal yang lebih penting adalah suguhannya, meskipun beliau sedang shaum sunah senen-kamis tapi tetap ngegrinder-in biji kopi sendiri pake grinder manual yg stainless trus menyeduh manual dengan pola kopi tubruk dan disajikanlah…. kurang ajar ini tamu ya, udah tahu pribumi lagi shaum.. eh malah minta dibuatin kopi, maafkan kakanda.
Kopi yang disajikan adalah kopi jabar dengan kode west java P.88 hasil roaster D’Journey. Pastinya dengan diseduh tubrukpun tetap muncul acidity medium dan body mediumnya dengan after taste selarik citroen hadir meskipun akhirnya hilang kembali.
Diskusi berlanjut dan sruputan kopi tubruk semakin menyemarakkan pertukaran pendapat dan kalimat yang menghasilkan sebuah jalinan kesepahaman tentang konsepsi dan arti kolaborasi.
Hatur nuhun seduhan kopina pak, jangan kapok bikin kopi buat akyu…. ahaay ngarep. Wassalam(AKW).
PASIRHALANG, akwnulis.com. Semilir angin dari kaki gunung Burangrang memberikan kesegaran dan kedamaian. Setelah 4 purnama tidak pernah lagi nongkrong di meja sebuah cafe alam, maka hari ini pecah telor. Meskipun masih dihinggapi kekhawatiran terhadap pandemi covid19, tetapi dengan menghindari kerumunan maka kemungkinan tertular sangat kecil. Lagian di cafe ini nggak pernah kongkow dengan orang lain. Cukup bercanda dengan desau angin pegunungan dan sesekali tertawa berderai melihat aksi kumbang berebut putik bunga yang mulai mekar.
Sebelum pandemi tiba, tempat ini menjadi favorit untuk menghabiskan waktu dalam kesendirian ditemani botol server berisi sajian kopi v60 dan cangkir kecil untuk menyruputnya…. yummmy.
Tapi itu dulu, sekarang suasananya telah berbeda. Dunia berubah dengan cepat dan menjungkirbalikkan fakta seiring wabah pandemi yang belum ada vaksin penawarnya. Kalaupun ada produsen obat yang sudah mampu menghasilkan obat anti covid19 di amrik sana, ternyata langsung di borong Om Trump dengan semangat arogansi adidayanya.
Sudahlah, sekarang lebih banyak berdoa dan mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta sembari ihtiar usaha semaksimal mungkin dengan mengikuti protokol kesehatan pencegahan covid19 yang sudah jelas petunjuk – petunjuknya. Yakinlah bahwa bahaya Covid19 ini masih gentayangan di sekitar kita, apalagi dengan status OTG yang bisa mengecoh kita.
Tetap gunakan masker dan lakukan phisical distancing, sering mencuci tangan, gunakan hand sanitizer dan bawa semprotan anti bakteri dan virus (serasa isi TRK… aplikasi kinerja harian yach di kolom tugas covid19 hehehehe)… jika masih khawatir juga dengan berkas-berkas dan orang yang ada, maka lengkapi dengan face shield dan sarung tangan plastik.
Back to laptop…
Kali ini menikmati sajian kopi hitam tanpa gula hasil manual brew dengan V60 terasa begitu emosional, inilah ngopay perdana di masa pandemi corona… meskipun berbatas waktu tetapi cukup memberikan suasana berbeda dan menuntaskan rindu. Sajian kopi arabica ciwidey menemani kenikmatan siang ini.
Acidity medium dan body menengah dilengkapi aftertaste rasa berry dan citrun serta sekilas rasa cocoa dan dibalut rasa keasaman alami ciri khas kopi bandung selatan.
Photo : Minum kopi bersama Japati – merpati / dokpri.
Kejutan lainnya adalah teman ngopinyapun spesial, yaitu merpati atau japati. Entah lapar atau memang merpati nggak pernah ingkar janji, maka dikala raga ini sedang sendiri, datanglah seekor merpati menemani. Clingak clinguk dan memberi sedikit kerling serta senyumannya kepadaku, kubalas dengan menyorongkan kamera agar dapat mengabadikan momen berharga ini, NGOPI JAPATI. Minum kopi sambil ditemani seekor merpati yang tiba-tiba hadir tanpa basa basi.
Itulah sekelumit aktifitas ngopay diluar rumah yang tuntas dihadiri meskipun bukan kumpul-kumpul, tetapi hanya menyendiri di meja panjang pualam sambil merenungi perjalanan kehidupan yang begitu beraham dan sarat hikmah pengalaman.
Semilir angin gunung Burangrang kembali mengingatkan untuk segera beranjak pergi karena tugas pribadi sudah menanti, Wassalam(AKW).
BANDUNG, akwnulis.com. Perjalanan mengikuti turbulensi telah berakhir seiring dengan tuntasnya shelter seleksi terbuka jabatan pimpinan tinggi pratama (JPTP). Sebuah momen singkat yang menghasilkan aneka pengalaman, beragam cerita, rasa suka dan duka hingga ketegangan yang datang tanpa diduga.
Hasil akhir adalah yang terbaik dan qodar dari Allah SWT, sebagai salah mahluk tuhan di bumi maka salah satu tugas kita adalah ikhtiar dan mengambil hikmah dari seluruh rangkaian perjalanan kehidupan ini.
Gambar awal blog ini adalah momen shalat jumat dengan adaptasi kebiasaan baru di antara proses Seleksi Terbuka JPTP yang telah berlalu.
Dalam tulisan ini, hanya ingin berbagi tentang sejumput kata yang dirangkum menjadi beberapa cerita, di permanis sajian photo sederhana tapi nyata yang terjadi selama proses seleksi terbuka.
1. Deadline, sebuah judul yang menceritakan pemberkasan administrasi, yang mau baca klik saja DEADLINE.
3. Muncul juga semangat berkompetisi tetapi tetap tersenyum, diwakili oleh tulisan SENYUM SINGA.
4. Saking tegangnya jadi laper melulu… maka diwakili oleh coretan MAKANAN & TULISAN.
5. Tidak lupa mencoba menenangkan diri di area uji kompetensi yang tercermin dari tulisan TURBULENSI KOPI.
6. Ujian dilanjut dengan pembuatan makalah dan wawancara, yang diwakili dengan tulisan DOUWE EGBERT & GULA CAIR.
7. Masih sesi Ujian, hasilkan juga tulisan KOPI AKB.
8. Setelah lolos 3 besar, memasuki sesi wawancara dengan Tim Penguji Profesional hingga wawancara langsung dengan Gubernur, ternyata belum sempet menulis karena ketegangan meningkat. Diwakili saja dengan meme TEH PAKUAN seperti gambar dibawah ini.
9. Sesi akhir adalah Tes Kesehatan yang lengkap dan menghasilkan cerita KOHITALA PRAMITA.
10. Ditutup oleh tulisan singkat fiksi berbahasa sunda yaitu CEK LAB – fbs.
Alhamdulillah, ternyata lumayan juga, terdapat 9 tulisan yang mewakili perjalanan singkat menikmati eh menjalani turbulensi dan akhirnya kembali normal.. eh new normal… eh AKB… ya begitulah.
Selamat menikmati dan menjalani hari-hari penuh adaptasi. Satu catatan penting, keberanian iseng-iseng menulis ini yang menjadi poin penting dalam mengikuti seleksi terbuka JPTP ini, meskipun hasil akhir adalah sebuah takdir.
Selamat kepada akang teteh (soalnya diriku peserta seleksi termuda) yang telah mengemban amanah jabatan JPTP untuk sukseskan JABAR JUARA. Wassalam(AKW).