PADANG, akwnulis.id. Pukul 01.00 dini hari rasa kantuk mulai menyerang tapi harus tetap terjaga dan berkemas memasukan perlengkapan ke dalam koper kabin dan tas ransel. Karena kalau terpejam dan tertidur biasanya lama dan akan berakibat fatal khusus untuk dini hari ini. Karena jika terlambat saja bergerak untuk berangkat, akibatnya akan tertinggal dari petualangan hebat. Membersamai pak KDM dan timnya bertolak ke provinsi Sumatera Barat dalam rangka memberi dukungan dan bantuan bagi saudara kita yang ditimpa musibah bencana longsor dan banjir bandang.
Tepat pukul 02.00 wib pamitan kepada istri yang terganggu tidurnya tapi menjadi kewajiban suami untuk selalu menyampaikan aktifitas tugas meskipun sering mendadak dan tak kenal waktu. Penulis meyakini bahwa doa istri sangat penting untuk kelancaran tugas dan tentu bernilai keberkahan. Berangkaaat, kendaraan bergegas membelah tol Cipularang – Tol Cikampek – Tol Kota – Tol Bandara Soetta dan pukul 04.32 tiba di parkiran bandara dan mencari tempat parkir dalam gedung sekaligus mushola terdekat. Ternyata semesta mendukung, kami berputar naik hingga lantai 4 dan selain mendapati toilet yang bersih ternyata ada bangunan mesjid yang representatif, Alhamdulillah. Bisa shalat shubuh berjamaah dan tak lupa basuh muka dan sikat gigi. Mandi nanti aja sekalian di padang ya… hiiy jorok.
Mesjid AlFatih Terminal 3 Bandara Soetta.
Terlelap sesaat di jok kendaraan dan jam 06.30 bergabung dengan rombongan di terminal 3 bandara soekarno – hatta bersiap menunggu pesawat garuda yang akan mengantarkan penerbangan ke Bandara Internasional Minangkabau di Sumatera Barat.
Singkat cerita penerbangan berjalan lancar dan sesuai dengan jadwal yang tertera di tiket pesawat. Rombongan bergerak menuju hotel yang sudah dipersiapkan, cek in lalu masuk kamar untuk segera mandi, berganti pakaian, shalat jama qashar mumpung dapat fasilitas musafir. Lalu bergerak ke lobi hotel untuk langsung berkegiatan bersama pak KDM dan tim.
Kirain mau ada briefing atau meeting, baru bergerak. Ternyata pak KDM turun ke lobi langsung menuju kendaraan yang disiapkan dan intruksi untuk langsung menuju daerah pasaraya untuk berbelanja.
“Belanja?” “Iya belanja keperluan bantuan bagi korban bencana”
Lokasi yang dituju adalah daerah pasaraya kota Padang, kami semua bergegas mengikuti dan inilah keseruan siang hari ini. Pak KDM bergerak cepat keluar masuk lorong pasar dan menemukan toko sembako. Langsung borong sembako, biskuit, beras, minyak, gula dan berbagai kebutuhan pokok lainnya. Dibelakangnya tim sibuk berbagi tugas, ada yang pegang kuitansi bermeterai, ada yang mencatat, ada kameramen dan videografer yang mendokumentasikan kegiatan serta yang lebih sibuk yang membawa koper berisi uang tunai. Seru suasananya karena bercampur dengan antusiasme warga di lokasi yang kaget dan senang melihat langsung pak KDM. Momen selpi dan photo bersama KDM menjadi incaran, petugas pengamanan sibuk dengan segala gayanya. Tenang, terukur tapi tetap santun.
Belanja di Pasaraya Kota Padang.
Terlihat Tim I yakni TIJIBON (Tim penjinak bon) harus bergerak cepat mengumpulkan faktur dan bon yang harus dipertanggungjawabkan. Lalu kembali mengejar pak KDM yang sudah beralih ke toko pakaian dalam untuk memborong celana dalam pria dan wanita, kaos anak, tikar hingga handuk dan berbagai kebutuhan pampers, pembalut dan banyak lagi.
Tim II yakni TIPUTSI (Tim Peliput Dokumentasi) tak kalah sibuknya mengabadikan momen berharga yang penuh keseruan serta banjir keringat karena ternyata suhu cukup menggerahkan apalagi ditambah lari kesana kemari mengikuti langkah cepat bapak aing.
Tim III yakni TIWALIT (Tim Pengawal Duit) tetap bertugas profesional dan waspada untuk menghadapi berbagai kemungkinan. Kondisi lapangan relatif terkendali karena dikawal marinir TNI AL, Satpol PP dan BPBD.
Setelah tuntas berbelanja, semua rombongan bergerak meninggalkan area pasaraya dan menuju rumah makan karena adzan magrib akan segera berkumandang. Sekaligus berbuka puasa di rumah makan, karena memang pak KDM berpuasa. Tapi agak sulit menemukan rumah makan padang di Kota Padang, yang ada hanya rumah makan saja tapi sajian menunya memang sajian makanan padang. Atuh saja aja ih.
Sambil rombongan makan malam, pihak restoran berjibaku menyiapkan ribuan pesanan nasi bungkus padang yang akan dibawa malam ini ke shelter pengungsian korban bencana yang berlokasi di Kota Padang tepatnya di Kecamatan Pauah dan beberapa wilayah lainnya.
Lalu rombongan bergerak dan sempat tertinggal oleh rombongan pak KDM, maka inisiatif naik mobil yang ada saja tetapi dengan tujuan yang sama. Lokasi pengungsian berada di bangunan sekolah dasar dan Kehadiran pak KDM serta tim dapat memberikan sececah harapan dan motivasi bahwa kita semua bersaudara dan harus peduli meskipun tentu berbeda provinsi. Setelah itu dilanjutkan ke titik lokasi bencana untuk melihat langsung kondisi lapangan. Sekitar 15 menit perjalanan kita melihat di kanan kiri rumah penduduk yang rusak dan sisa rumput serta pohon besar yang masih bergelimpangan.
Pak KDM turun ke Lokasi Bencana.
Pak KDM turun ke lokasi bencana di Kecamatan Pauah ini dan kami membersamai. Dalam temaram malam serta dibantu oleh sinar dari lampu senter terlihat pemandangan menyedihkan dimana terlihat satu kampung hilang dan berubah menjadi sungai yang cukup dalam. Lalu yang asalnya sungai berubah menjadi daratan lumpur dan pepohonan yang masih beresiko karena tanahnya masih ada pergerakan. Isak tangis warga yang saudaranya hilang, rumahnya musnah serta akses terbatas menjadi perhatian pak KDM dan tim serta pak Sekda Kota Padang yang juga membersamai.
Nasi bungkus disebar dan pak KDM mengusulkan pembangunan rumah pengganti. Tentu diperlukan dukungan administrasi yang harus berproses secara utuh dan komprehensif karena menjadi kerjasama pemerintah provinsi, kabupaten kota dan pihak swasta. Hingga waktu menunjukan pukul 22.30 wib barulah rombongan bergerak kembali ke hotel untuk beristirahat dan mempersiapkan agenda kegiatan esok hari yakni mengirimkan bantuan ke Sibolangit Sumatera utara dan Langsa di Provinsi Aceh menggunakan pesawat kecil milik maskapai penerbangan Susi Air.
Selamat beristirahat kawan, besok pagi kita bersua untuk acara selanjutnya. Wassalam (AKW) (Padang, 041225)
KARAWANG, akwnulis.id. Rabu dini hari penugasan via disposisi dalam grup whatsapps membuat raga terjaga. Sesaat mengumpulkan konsentrasi dan membaca penugasan dengan hati – hati ternyata kembali ditugaskan mewakili untuk menyampaiikan sambutan atau orasi di Kanpus UNIKA (Universitas Singaperbangsa) di Kabupaten Karawang sebuah kabupaten di jawa barat wilayah pantau utara atau pantura.
Waktu persiapan sangat terbatas karena acara di karawang dimulai pukul 09.00 wib berarti estimasi keberangkatan bersama tim adalah paling lambat 06.30 wib. Maka berjibakulah sebelum adzan shubuh berkumandang, koordinasi dengan kawan – kawan terkait kehadiran sekaligus yang krusial adalah penyiapan bahan paparan yang nanti akan disampaikan. Apalagi dalam even ini trmanya terkait inovasi teknologi, sementara divisi atau area kami adalah ranah koordinasi dan fasilitasi.
“Tapi tidak mengapa, markicob mari kita coba”
Diterima pak Rektor Unsika / akw.
Tepat pukul 06.30 kami berempat berangkat dari Cimahi, tentu teman – teman lebih pagi lagi berangkat keluar rumah masing – masing karena semuanya beda wilayah. Dena di daerah buahbatu, Sofyan di daerah dago dan pak ajat di bilangan cimahi utara sementara posisi kita di cimahi selatan. Semuga butuh perjuangan dan keikhlasan.
Diperjalanan kami berbincang dan membahas tentang perbaikan bahan paparan. Tak lupa di rest area KM62 Tol Cikampek rehat sejenak sekaligus me-charge mobil Ioniq di tempat fast charging 220 volt. Cepet banget, cukup 20 menit ngecas sudah terpenuhi dari 50% jadi 99%, lets go kita lanjutkan perjalanan.
Tak perlu lama tiba di kampus Universitas Singaperbangsa di Kabupaten Karawang. Diterima sebentar di ruang rektorat oleh pak rektor beserta jajaran dan langsung menuju gedung berbeda yakni aula besar untuk kegiatan seminar dimaksud. Maka mulailah berbasa basi dilanjutkan menyampaikan materi pembahasan yang tidak jauh dari Visi misi Nasional dan tentu provinsi jawa barat baik dalam rentang waktu 5 tahun dan juga 20 tahun tentang rencana pembangunan jangka panjang. Tidak lupa nilai – nilai kasundaan disampaikan sebagai bahan perenungan seperti konsepsi pembangunan karakter Pancawaluya dan tahapan kehidupan dalam Pancaniti. Paparan lengkap bisa disaksikan di channel youtubeku tinggal klik saja SEMINAR UNSIKA MEWAKILI KDM.
Tuntas penyampaian materi terbitlah diskusi dan setelah semuanya usai maka diakhiri dengan peninjauan stand yang memamerkan berbagai hal hasil karya yang didasari kreatifitas dan inovasi.
Selesai tugas dari karawang dilanjutkan perjalanan menuju ke rumah kediaman pak Gubernur KDM di Lembur Pakuan Kabupaten Subang untuk mengikuti acara selanjutnya yakni pertemuan Wakil Menteri Haji & Umroh RI beserta Kakanwil HU Jabar beserta jajaran yang akan berjumpa dengan gubernur serta para bupati walikota. Semangaaat. Tobe continue. (AKW).
GARUT, http://www.akwnulis.id. Sebuah kesempatan berharga bisa hadir langsung di sebuah acara yang dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat KDM serta mendengarkan pidatonya yang unik khas namun sarat makna. Kesempatan itu hadir pada saat mendengarkan sesi sambutan KDM yang lebih cocok disebut ceramah pada acara Maulid Nabi dan Milad Ma’had Pondok Pesangren Al Jauhari di Kecamatan Karang Tengah Kabupaten Garut (24/11).
Sebuah kata kunci dari KDM ada di bait terakhir dalam rangkaian kalimat penuh rasa hasil olah rasa yakni : “Ayat Ngawujud ka adab“. Sebuah penggalan kalimat yang sangat relevan dengan pola atau model pengajaran dan pendidikan di dunia pesantren dimana konsep MENGAJI bukan sekedar membaca dan menghafal Alquran semata namun lebih dalam dari itu.
MENGAJI adalah sebuah kata yang komplek dengan pemaknaan multi dimensi. Mengaji bukan sekedar aktifitas harian santri yang secara terjadwal membuka kitab dan Alquran. Membacanya, memahami artinya, menguasai mahroznya, menghafal semua juznya adalah sebuah keharusan sebagai bekal kualifikasi seoramg santri yang besok lusa akan terjun ke tengah – tengah masyarakat.
Tetapi ada aktifitas MENGAJI yang tidak kalah penting dan membangun karakter, menguatkan niat serta memjadikan mental tahan banting plus penuh kemandirian yakni : – bagaimana aktifitas membersihkan pondok, rumah kiai dilaksanakam dengan sukarela dan penuh keikhlasan. – bagaimana akfifitas mencuci baju milik sendiri dan juga ditawarkan kepada guru, kiai manakala ada pakaian kotor untuk dibantu dicucikan. – bagaimana aktifitas memasak bersama adalah bagian dari belajar ikhlas dan itulah mengaji yang sebenarnya. Serta banyak lagi aktifitas lainnya yang justru itu adalah makna dari mengaji yang sebenarnya. Sementara tantangan mondok saat ini situasi ‘mengaji’ tadi telah tergantikan oleh hadirnya CLEANING SERVICE, LOUNDRY& CATERING. Padahal kemandirian, keuletan dan keikhlasan itu harus dilatih seirimg pembelajaran membaca dan menghafal serta memaknai semua kitab serta tentu Kitab Suci Alquran.
“LAILAHA ILLALLAH…” Makna Illah ituadalah NETRAL atau tidak berpihak. Teu bisa diraba, teu bisa ditempo, teu bisa diangseu ngan bisa di rasa. Saha nu bisa ngarasa?.. nu boga RUMASA.
KDM sedang Pidato / Dokpri.
Hirup ukur sasampeuran, awak ukur sasampaian, sariring-riring dumadi sarèngkak saparipolah sadaya kersaning Gusti.
Dalam hal ini kalimat tersebut dimaknai tentang keikhlasan diri dalam menghambakan seluruhnya kepada Allah Subhana Wataala serta secara wujud nyata yang sederhana adalah KEPASRAHAN.
***
Sebelum mencoba menuliskan kembali rangkaian kalimat yang diucapkan KDM, jari jemari terdiam karena agak sulit menulis kata perkatanya. Untung saja saat ini ada rekaman digital dalam bentuk video di platform youtube KDM. Maka segera didengarkan meskipun harus diulang – ulang pemutarannya karena begitu cepat pelafalannya. Dalam channel youtubenya pak KDM sekaligus memberikan klarifikasi kepada khalayak karena ada salah satu TV swasta yang menyiarkan video di maksud dan menyebut sebagai MANTRA.
KDM menyampaikan. “Ini bukan kalimat mantra, tetapi rangkaian kata yang hadir dari olah rasa dan dituangkan dalam kalimat berirama”
Penulis mencoba menuliskan ulang sebagai berikut :
Bumi manjing ka langitna Ti langit seah hujanna Lembur subur kota bagja Masjid jeung diri ngahiji Elmu geus aya na semu Harta geus ngawujud harti Nyanding pamingpin ka rakyat Pandita ajeg wiwaha Pitutur ngawujud subur Ayat ngawujud ka adab.
***
Kalimat terakhir ini yang menjadi tema bagaimana ayat – ayat dalam Alquran, poin – poin dalam berbagai kitab dapat diwujudkan dalam ADAB, tercermin dari perilaku sopan santun santri yang berada di dalam lingkungan pesantren, tata hubungan antar santri, santri dengan guru ustad sekaligus santri dengan Kiai dan keluargnya serta diimplementasikan dalam interaksi di luar pesantren untuk bertetangga, bersyiar dan bersilaturahmi.
Itulah satu sisi tema yang mampu ditangkap oleh kami, seorang penulis pemula yang mencoba menangkap fenomena khususnya gaya kepemimpinan KDM yang dianggap unik penuh dinamika.
Wilujeng Milangkala Ma’had Al Jauhari langkung nanjeur, oge wabilkhusus kahatur Assoc Profesor KH Dr Jujun Junaedi Pimpinan Ma’had Aljauhari salawasna damang sehat sabihara – bihari. Cag. Wassalam (AKW).
Sebuah catatan kecilku dalam membersamai even FDI (Festival Dulag Istimewa)
Apel persiapan FDI H-1 / Dokhum
BANDUNG BARAT, akwnulis.id. Gema takbir silih berganti dengan sukacita menandakan hadirnya bulan syawal yang begitu gempita. Rasa sedih hadir karena bulan ramadhan segera betakhir, tetapi juga gembira karena bisa melewati satu bulan momentum hari – hari puasa dengan mengisinya beraneka aktifitas yang bukan hanya bicara tentang lapar dan dahaga tetapi yang terpenting adalah melatih diri untuk menjaga derajat taqwa serta mensucikan diri menguatkan niat untuk melakukan ibadah – ibadah terbaik di sebelas bulan yang terbentang dihadapan mata. Sebelum bersua dengan bulan ramadhan tahun depan, Insyaalloh.
Berawal dari diskusi sederhana bersama bapak bos kita, pak KDM, bapak Gubernur Jawa Barat tentang aktifitas memukul bedug di bulan puasa ternyata berlanjut dengan tantangan yang tidak biasa, inilah pwrcakapannya :
“Ari nakol bedug sabaraha warna?” “Tilu warna pak” (baca tiluarna)
Diartikan dalam bahasa indonesia menjadi :
“Kalau memukul bedug berapa warna?” “Tiga warna” (baca dari luarnya).
Tim hadiah – piagam & tropy FDI
Sebuah tatarucingan eh tebak – tebakan sederhana yang sudah menjadi percakapan biasa bagi anak – anak dan remaja di lembur atau di kampung tentang memukul bedug. Tahu kan bedug?… itu yang ada di mesjid, biasa digunakan atau dipukul menjelang berkumandangnya adzan. Bentuknya seperti tong besar yang terbuat dari berbagai bahan baik dari kayu, drum bekas yang dibungkus dengan kulit kambing atau sapi dan satu sisinya bolong / kosong sebagai tempat keluarnya suara.
Bedug ini dipukul menggunakan pemukul atau disebut panakol, bisa dari kayu yang dibentuk seperti korek api tapi ukuran besar atauapun kayu/besi yang ujungnya dililiti kain atau karet sehingga nyaman digunakan sebagai pemukul.
Nah aktifitas memukul bedug itu disebut dengan ngadulag. Malah baju lebaran juga sering disebut baju dulag. Sehingga bedug dan ngadulag adalah dua kata yang tidak bisa dipisahkan. Sekaligus menjadi dasar perintah bagi pak KDM, Kang Dedi Mulyadi memerintahkan kami agar merancang, merencanakan dan menghadirkan even FDI (festival dulag istimewa) 1446 H di halaman gedung pakuan Provinsi Jawa Barat.
Begadang H-1 cek ricek piagam.
Maka bergeraklah kami dengan segera, mempersiapkan pelaksanaan festival dulag istimewa ini dengan segenap kemampuan kami yang ada. Tentu tantangan pertama adalah ketidakpahaman kami bagaimana sebuah even ngadulag eh nakol bedug ini secara teknisnya, sementara mau bertanya lagi kepada pak KDM, masih takut takut kita. Maka langkah awal adalah mencari referensi melalui media online sekaligus bertanya kepada orang – orang atau pejabat di kabupaten purwakarta, bagaimana gelaran festival ngadulag dilaksanakan di alun – alun purwakarta semasa pak KDM menjabat sebagai bupati purwakarta beberapa waktu yang lalu.
Tentu ditengah – tengah tugas lain yang perlu konsentrasi. Maka langkah demi langkah persiapan yang diawali dengan pembagian tim, penentuan nama dan siapa berbuat apa. Lalu menyusun timeline dengan target akhir adalah pelaksanaan FDI festival dulag istimewa ini yang akan dilaksanakan pada malam takbiran atau hari terakhir bulan ramadhan.
Dua pertanyaan besar yang menghantui kami, yakni : “Bagaimana format sebenarnya yang diharapkan oleh pak Gubernur terkait festival dulag inj dan apakah pelaksanaan shalat idul fitri atau hari pertama lebaran itu tanggal 31 maret 2025 atau bisa saja tanggal 30 maret 2025 memgingat pemberitaan sidang isbat akan dilaksanakan di tanggal 29 maret 2025 oleh kementerian agama?…”
Tim Inti lapor pak Sekda Jabar.
Suasana mulai menegang… Teman – teman di Biro Kesra segera mempersiapkan segalanya. Tentu dengan segala ketidaktahuan, namun semangatnya sama. Ini adalah tantangan yang harus dan bisa diwujudkan bersama-sama. Dengan dikomandani oleh bapak Kabag TU (syeh) Ahmad dan ketua teknis Aa Sofyan dan tim TU tidak hanya humas namun kolaborasi semuanya untuk mewujudkan konsep awal even ini.
Begitupun dari Bos Sekda, intruksi teknis tentang festival dulag ini menjadi pedoman bagi kami dan dituangkan dalam Kerangka acuan kerja, paparan versi canva, konsep di media sosial konsep sertifikat juga beraneka surat menyurat baik dalam benfuk nota dinas di internal sekretariat daerah juga surat keluar yang ditujukan kepada berbagai OPD pendukung.
Seperti permohonan dewan juri ke Disparbud, dukungan tim kesehatan dari Dinkes, dukungan publikasi dan live streaming youtube ke Diskominfo, dukungan media luar ruamg termasuk LED outdoor dan yang pasti kehadiran pak Gubernur itu sendiri ke Biro Adpim serta permohonan mencetak undangan resmi plat merah. Juga Dinas Perrhubungan dan Satpol PP serta Polrestabes Bandung untuk pengamanan, ketertiban, pengaturan lalu lintas sekaligus jangan lupa tentang perijinan keramaian.
Panitia FDI bersiap – siap.
Karena jelas intruksi pak Sekda, disaat Panitia inti melakukan audiensi diminta seluruh OPD mengirimkan satu tim dulag yang berjumlah 4 orang serta perwakilan kabupaten / kota dari 27 daerah dengan 2 perwakilan yaitu kategori dewas dan kategori pemuda. Termasuk konsep performance dari masing – masing peserta dengan menggunakan kendaraan masing – masing untuk melewati tribun depan gedung pakuan. Lakukan penampilan, dinilai dan bergerak meninggalkan area halaman gedung pakuan.
Maka detailing waktu menjadi ketat karena diharapkan bisa tuntas di pukul 22.00 wib. Pasukan Kesra semua bahu membahu dengan dikawal para Ketua Tim dan jelas dikawal oleh Bapak Agis JF Madya satu – satunya di biro Kesra.
Rapat internal via zoom meeting menjadi kunci kebersamaan sehingga pergerakan teman – teman fokus kepada aneka persiapan dan juga disaat pelaksanaan. Kang Dadan mengkordinir hadiah dan piagam pontang – panting dibantu pak Juan, pak Asep Achyar juga Fahmi, Septian, Sakti dan maafkan nama – nama yang belum disebutkan. Ternyata piagam yang di tandatangan gubernur harus jelas usulannya, ada nota dinas, kajian, berita acara yang ternyata dengan jaringan kekompakan dengan BKD dan Biro Hukum dapat dituntaskan segera.
Tantangan hadir tentang besaran hadiah yang harus berjibaku dengan usulan perubahan komponen, pemotongan pajak hingga penyerahan hadiah tersebut apakah via transfer ataupun tunai. Seru pisan pokoknya, Neng Rani dan tim perencana berjuang belakang layar dikawal aa Sofyan serta Tim TU sementara waktu pelaksanaan terus mendekat tinggal menghitung hari.
Ada juga pak Haji Encep dan pak Damir sebagai tim pengendali cuaca yang bertugas memastikan dengan ihtiar dan doa agar di malam festival dulag istimewa ini tidak ada hujan dan langit tetap cerah. Nah ternyata dukungannya tidak main – main langsung BPBD, BNPB dan BMKG dalam pelaksanaan rekayasa cuaca sehingga curah hujan beberapa lokasi di jawa barat diihtiarkan agar turun di lautan sehingga mengurangi potensi bencana banjir di kawasan jawa barat.
Pleno Dewan juri
Tim pencari obor sekaligus persiapan untuk makan minum acarapun tak kalah sibuknya. Ada pak Juan, pak Mamat, pak Agis, bu Muftia yang sibuk mencari obor. Juga tim bu Amelia dan bu Imas BMS yang mengkordinasikan konsumsi dari mulai angka 550 pak menjadi 1000 pak disaat even berlangsung yang disupport full oleh Biro Umum Setda Jabar.
***
Sementara urusan kemungkinan hari lebaran kapan, berdasarkan perbandingan sederhana dengan melihat sidang isbat 5 tahun ke belakang, penanggalan 1 syawal selalu sejalan dengan rencana awal pemerintah. Dikaitkan juga dengan arahan pak Sekda di saat tim kami melaporkannya. Berarti jelas, pelaksanaan Festival Dulag Istimewa 1446 H akan dilaksanakan pada tanggal 30 maret 2025 setelah shalat isya sampai malam. Noted.
Pak Kabag TU dilantik jadi Karo Adpim.
Terdapat kejutan yang membahagiakan keluarga besar Biro Kesra Jabar adalah dengan dilantiknya Bapak Syeh Kabag TU menadi Kepala Biro Adpim yang baru. Menjadi JPT Pejabat tinggi pratama atau level eselon II, Alhamdulillahirobbil Alamin… kami ikut bangga dan bahagia meskipun terselip kesedihan karena harus berpisah secara kedinasan. Tapi kerjasama tetap abadi, semoga pengganti beliau adalah orang yang berintegritas dan paripurna seperti beliau.
Balik lagi urusan FDI, waktu tersisa tinggal 2 hari. Tetapi ada hal yang masih mengganjal dalam hati yakni format atau konsep acara yang sudah kami susun, apakah sesuai dengan konsep dan harapan pak KDM, gubernur kami?.. ternyata karena Karo Adpimnya adalah alumni Biro Kesra maka kami diberikan slot waktu untuk menghadap.langsung kepada bapak Gubernur di kediaman pribadinya, di lembur pakuan Subang.
Benar saja, hari jumat siang menemui pak KDM dan ternyata format acara festival ngadulag yang diharapkan adalah nirkendaraan tetapi bedugnya dan para penakolnya eh petugasnya stanby di halaman gedung sate dan disuarakan bersama-sama. Lalu juri bergerak menilai satu persatu penampilan para peserta dan alhirnya merumuskan hasil penilaian yang dituangkan dalam 18 juara. Tanpa banyak basa – basi, pulang menemui pak Gubernur langsung di gelar rapat virtual marathon mulai dari dewan juri, para perwakilan OPD dan 27 kabupaten kota sebagai calon peserta serta petugas dan tim semuanya karena perubahannya sangat signifikan.
Lapor ke Pak Gubernur, bp KDM.
Maka bergeraklah bersama mempersiapkan segala hal dengan aneka perubahannya. Pak Agis menjadi koordinator absensi bagi teman – teman semua sekaligus didapuk sebagai plt Kabag TU melanjutkan tugas pak Ahmad. Pak Ahmad sendiri tetap mendukung kegiatan ini dengan kapasitasnya sebagai pejabat eselon 2 yang mengatur agenda Gubernur.
Pak Sofyan pontang – panting mengawal persiapan teknis kegiatan. Pak Dadan dan tim mempersiapkan piagam, trophy, souvenir dan hadiah. Bu muftia pabeulit sama obor dan tuntaa oleh pak agis, pak juan dan pak rahmat karena bukan hanya obornya saja yang harus ada tetapi lengkap dengan minyak tanah sebagai bahan bakarnya. Bu Oi dan tim penerima tamu sibuk wara – wiri. Apalagi tim registrasi, sudah ready dari minggu pagi demi menerima dan mengarahkan peserta hingga mengkordinasikan tanda tangan dan visum dari para peserta kabupaten / kota.
Pak Gub betikan hadiah kepada juara FDI
Pak rahmat dan pak Juan alih profesi menjadi sopir mobil bak demi mengangkut bedug besar dari mesjid raya Bandung ke halaman gedung pakuan. Tim dokumentasi humas terus bergerak, tim acara berkoordinasi intens dengan protokoler. Termasuk diri ini yang juga harus bersiap tampil menyampaikan laporan kegiatan. Sebuah mantra menjadi pembuka, hadirkan senyum bersama – sama : MOBIL FIAT MOBIL SEDAN, TEU KIAT HOYONG LAPORAN.
Akhirnya di malam takbiran tanggal 30 maret 2025 kegiatan Festival Dulag Istimewa 1446 Hinriah resmi dilaksanakan di halaman gedung pakuan. Total 70 tim hadir dari 27 kabupaten kota dan perwakilan OPD di lingkungan provinsi jawa barat.
Bersama pak Gub KDM & Dewan Juri FDI.
Sukacita peserta dan warga menyatu dalam bahana suara bedug yang dipukul bersama begitu menggetarkan jiwa. Menggabungkan marwah nafas islami, tradisi budaya sunda serta makna mendalam tentang memukul bedug sebagai PENGINGAT bagi umat manusia khususnya muslim muslimah untuk selalu tepat waktu dalam beribadah kepada Allah Subhanahu Wataala.
Menghasilkan 18 juara dari 3 kategori, yakni juara I, juara 2, juara 3, juara harapan 1, 2 dan 3. Dimana dalam prosesi penilaian yang dikawal ketat oleh Bu Neni dan tim BMS menyisakan juga sebuah pengorbanan dengan hilangnya smartphone bu Neni ditengah hiruk pikuk penilaian penampilan dulag dari masing-masing kelompok.
Terima kasih Bapak Gubernur Jabar atas tantangannya, Bapak Sekda yang selalu membimbing kami, seluruh pimpinan OPD serta Baznas Provinsj Jawa Barat yang mendukung terselenggaranya acara FDI ini. Para Dewan Juri yang berjibaku menilai secara objektif yang merupakan representasi dari akasemisi, praktisi dan seniman yakni ada kang Erlan – seniman, Abah Faruq – LASQI & Kang Rizky Hamdani – ISBI serta seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya acara ini.
Tuntas acara bersama sebagian tim & pak Sekda Jabar.
Super thanks for Keluarga Besar Biro Kesra Setda jabar yang begitu kompak, militan, tetap bertahan dengan segala perubahan dan sampai lepas tengah malam menuntaskan even FDI ini hingga setuntas-tuntasnya. Bravo Biro Kesra.Wassalam(AKW).