Kohitala Rest Area.

Tugas mendadak adalah perintah, Kopi hitam tetap bikin hati cerah.

Photo : Kopi Tubruk nangkring dulu / dokpri.

PURWAKARTA, akwnulis.com. Pagi yang cerah menyambut kedatangan raga ini dengan senyum yang merekah, tetapi ternyata sesaat kemudian datanglah sebuah titah perintah, “Sekarang ke Ibukota, ada tugas yang harus dihadiri segera”

Secarik surat dilengkapi lembar disposisi sudah siaga di depan mata, tiada alasan apapun kecuali kertas berisi perintah itu diterima dan segera mencari rekan yang bisa menemani perjalanan dadakan menembus kemacetan ke arah jakarta.

Cap cuss cyiiin.

“Trus gimana uang perjalanan dinas dan dukungan akomodasi lainnya?”

Sebuah pertanyaan klasik yang sering menjadi perdebatan hangat dalam sebuah perjalanan dinas.

Tapi kita coba bahwa itu bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan, jalan saja dulu yang penting jangan lupa bawa lembaran visum perjalanan.

Nah, supaya perjalanan menembus kemacetannya tidak terlalu menjemukan, maka perlu rehat sejenak di perjalanan meskipun hanya sesaat saja.

Photo : Kohitala & Friend / dokpri.

Caranya?”

Pilihan sederhana adalah berhenti sejenak di salah satu rest area jalan tol.
1. Pergi ke ATM, ambil duit.
2. Sarapan
3. Ngopay Kohitala
4. isi bahan bakar
5. Isi e-toll

Khusus langkah ketiga dipastikan pesan kopi hitam tanpa gula, meskipun yang manual-an jarang atau nyaris tidak ada semua rest area… eh ada klo di rest area Cipali.. lha ini khan moo ke jakarta.

Bisa di baca di Kopi Mandheiling Rest Area 166 Cipali.

iya yaaa…. jadi pesan kopi hitam kopi tubruk aja, dengan catatan nubruknya nggak keras-keras, takut terpental. Trus ngambil photonya jangan lupa, sebagai bukti kepada dunia bahwa menikmati secangkir kopi tanpa gula juga bikin bahagia.

Setelah selesai semua langkah…

Go……move move.

Maka pergerakan dilanjutkan dengan kendaraan menjelajahi tol Cipularang- tol Japek dan geser dikit Tol Becakayu menjadi alternatif efektif untuk menghindari (sedikit) kemacetan menuju ibukota.

Di Ibukota sudah menanti Kohitala & Anggreknya.

Selamat beredar kawan, Wassalam (AKW).

***

Lokasi :

Rest Area Km97 arah jakarta, Cafenya yang paling deket dengan tempat wudhu Mesjidnya.

V60 Toraja di Djournal Cafe.

Djournal cafe tempat ngopi hilangkan cape.

Photo : V60 Arabica Toraja / dokpri.

TANGERANG akwnulis.com. Secangkir kopi menghadirkan kembali semangat untuk terus bergerak lagi, meski sesaat eh dua hari harus bersabar dengan segala prosedur dan perilaku personal yang beraneka rupa.

Pertemuan dengan sang barista, neng Glesnea di Djournal cafe dilanjutkan dengan memilih beraneka bean yang tersaji untuk nantinya segera diseduh tanpa banyak pancakaki. Agak sedih setelah dipilih ternyata tidak ada bean kopi dari jawa barat, adanya Papua, Kintamani, Mandailing dan Toraja.

Photo : Sang baristi dan pilihan kopi / dokpri.

Ya sudah, pilihannya adalah kopi Toraja yang akan segera di eksekusi dengan metode seduh manual V60.

Dengan perbandingan 1: 15 dan gramasi 16gr serta temperatur air 90° maka menghadirkan sebuah sajian kopi yang segar dan mencerahkan malam ini.

Body medium menuju strong, Acidity medium dan Aftertastenya hadir rasa berry plus tamarind memberikan kesempatan rasa untuk ninggal sesaat di ujung lidah dan memberi kesan memori akan sebuah rasa tersendiri.

Photo : Cafe Djournal SHIA / dokpri.

Waktu menunjukan pukul 21.20 wib di Lantai 1 Dekat gate 8 Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Secangkir kopi toraja ini memberi suasana berbeda, memberi ruang hati semakin lega sebelum sebuah perjalanan panjang akan segera terlaksana. Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
Djournal Cafe
Terminal 3 Lt.1
Antara gate 7 & gate 8
Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Indonesia.

Harga :
V60 Kopi Toraja Rp. 40Rb
Aqua botol 600ml Rp. 27Rb
dengan pajak jadi total Rp. 74.199.

***

Sarapan 3 menu.

Biar hati galau, makanan tetap disikat tuntas.

Photo : Sarapan 3 menu.

JAKARTA akwnulis.com. Kesabaran berbuah berkah, itulah perjalanan kehidupan yang senantiasa berganti arah, karena yang abadi itu adalah perubahan.

Tidak ada manusia yang bisa menolak perubahan, terutama kaum hawa yang sibuk membelanjakan uangnya untuk atas nama serum anti aging dan sebangsanya juga perawatan dengan berbagai metode yang ada. Hati-hati jangan sampai terjebak terhadap perangkap takdir, takdir itu untuk dijalani, disyukuri dan ditafakuri bukan dilawan dengan sekuat tenaga dan dompet yang berisi.

Perawatan tubuh dan wajah tidak masalah selama niat awalnya adalah menjaga dan memperindah ciptaan Allah. Bukan hanya kaum hawa, para lelaki metroseksual juga melakukannya. Tidak ada yang salah, tapi terpenting adalah luruskan niat pada arah yang sesungguhnya.

Kembali ke cerita sabar yang sudah tertuang di curhat onlenku yaitu
MENANTI JANJI,maka sambil menunggu kepastian mari gunakan waktu yang ada untuk kebaikan, niscaya sabar dan berkah akan selalu berdampingan.

dan…. pagi ini sambil hati deg-degan maka dicoba dilarikan perhatian penuh kekhawatiran yang sudah bertahan 20 jam ini ke arah sajian sarapan yang telah terhidang di hadapan.

Trio breakfast telah hadir menghibur diri untuk mengurangi ketegangan. Disebut trio karena memang ada 3, yaitu bubur ayam + salad + secangkir kopi yang masih panas…. yummmy.

Photo : Secangkir kopi & panggilan diri / dokpri.

Fabiayyi Ala irobbikuma tukadziban... wajib bersyukur setiap waktu guys. Jangankan makanan enak seperti ini, tarikan nafas yang normal karena hadirnya oksigen yang melimpah ruah ini adalah sebagian kecil rahmat dan rejeki dari Allah Swt.

Pertama di makan perlahan bubur ayam dengan menggunakan aliran ‘bubur diaduk‘ dilanjutkan dengan salad lengkap dengan thousand islandnya dan ditutup dengan sajian kopi hotel yang panas mengepul… nikmaat.

Kopi hotel sebagai penutup ritual sarapan pagi ini dan menjadi penghibur penting bagi hati yang masih eh sedang galau karena menunggu kepastian. Selamat Sarapan kawan, Wassalam (AKW).

Menanti Janji

Belajar jurus ‘Menyepi dalam Keramaian’.

Photo : Suasana malam di Jakarta / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Menanti bukan berarti tanpa arti, tetapi bernilai tentang makna kesabaran yang hakiki. Apalagi jika sudah dilakukan ikhtiar tiada henti, maka menanti adalah sebuah seni, seni merenungi perjalanan diri dalam takdir yang sudah pasti.

“Bukankah hidup inipun adalah menanti?.. menanti antrian sambil memupuk amal sebagai bekal hidup yang sebenarnya di akherat nanti”

Terdiam sejenak dan hening menghampiri… maaf bukan pak Hening tetapi suasana tenang yang mendamaikan hati dalam sepi.

“Memang disitu sepi?”

Pertanyaan kepo yang ada benarnya, boro-boro sepi karena banyak orang yang sedang mengantri dan berbicara dengan bahasa masing-masing, termasuk dengan bahasa hati.

Patut dijelaskan disini bahwa makna sepi ini adalah persepsi. Karena sepi kali ini adalah sebuah pengejawantahan jurus masa silam yaitu ‘sepi dalam keramaian’ atau bertapa dalam keramaian…

“Bisa gitu?”

“Susah tahu, karena menurut pengertian KBBI bahwa bertapa itu adalah mengasingkan diri dari keramaian dunia dengan menahan hawa nafsu (makan, minum, tidur, birahi) untuk mencari ketenangan batin.”

Jadi yang dilakukan sekarang adalah ‘bertapa 4.0‘. Berusaha mengasingkan diri dari dunia sekitar, dunia sendiri dan fokus serta konsentrasi sehingga seakan hanya ada diri ini ditemani gadget kesayangan dan….. tetep inget urusan duniawi… tidak lupa sambil ngetik ide-ide yang dituangkan di dalam blog pribadi, sambil jangan lupa satu telinga diaktifkan, siapa tahu ada panggilan dari petugas yang sedari pagi melayani para pengantri.

“Ohhh main HP, pasti bakalan cuek yah sama dunia sekitar heuheuheu… gaya lo pake istilah -bertapa 4.0- huhuy”

“Hahahaha… 😀😁😀😁😀”

Perlahan-lahan hening kembali.

***

Mister akawenulisdotcom, ditunggu di loket 212!”

“Wuih langsung namanya dipanggil, kereen”

“Keren atuh da akuh yang mengarang dan menulisnya!”

“Ah sialan, kirain beneran”

Panggilan itulah yang mengakhiri penantian selama 2 hari ini. Sehingga dari terang berganti malam, dilanjutkan dari gulita diganti siang nan ceria… dan akhirnya semuanya tuntas pada waktunya.

Photo : Di Jakarta siang menjelang / dokpri.

Jadi nikmatilah penantian dengan tetap berbaik sangka. Menit dan jam yang seakan terasa lama adalah misteri dunia, karena sebenarnya semua sama bahwa 1 jam adalah 60 menit saja. Tetapi emosi dan rasa bisa membuat waktu begitu lama atau bisa juga begitu cepat melewati hari-hari kita.

Selamat berkarya meskipun penantian mendera, jangan biarkan raga dan jiwa terjebak antrian dunia, tapi bebaskan dalam kreasi imaginasi yang tiada batas nan pasti.

Wassalam, Jakarta awal nopember. (AKW).

Siang – Malam.

Diskusi terus dijalani, abadikan photo juga harus dilakoni dari siang hingga malam.

Photo : Suasana siang di Kuningan – Jakarta / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Sebetulnya nggak sengaja juga bisa mengambil posisi gambar ini, karena posisi meetingnya sebetulnya di gedung eh.. di ruangan yang tidak langsung berbatasan langsung dengan dinding atau kaca luar.

Trus kok bisa ngambil spot photo ini?”

“Konsepnya adalah luckyshot, photo keberuntungan lho”

“Ah kamu mah urusannya beruntung terus!”

Memang begitu kok, termasuk tidur dan bangun pagi, selalu hadir oksigen yang bisa kita hirup dengan sepuasnya dan gratis lagi, bukankah itu keberuntungan?… begitupun bisa ambil photo tadi

Tetapi pas ke toilet pria, ternyata dinding kacanya menyajikan kesempatan berbeda untuk mengabadikan indahnya lanscape kota tanpa banyak filter ataupun aplikasi photo yang bikin manjaaaa, tapi hasilkan photo apa adanya

Anggukan kepala menandakan persetujuan dari diskusi singkat kita. selanjutnya kembali terlarut dalam bahasan meeting yang penting kalau dilihat dari sudut pandang garis miring.

Diskusi terkadang hangat menyengat tapi sesekali bertahan dengan pendapat penting hingga tak bergeming. Itulah indahnya diskusi, berusaha menyamakan frekuensi meskipun masing-masing punya persepsi dan tendensi.

Photo : Suasana malam di kuningan jakarta / dokpri.

Photo kedua diambil dari titik yang sama, ujung kanan kamar mandi pria. Kota Jakarta bertabur gemerlap lampu serta terangnya lampu kendaraan yang sedang bercumbu dengan kemacetan.

Itulah sepenggal kisah kehidupan yang terekam oleh kecanggihan alat dan keisengan memposisikan sudut pengambilan gambar dari siang hingga tiba sang malam.

…..dan langkah selanjutnya adalah membewarakan kepada dunia luar via medsos pribadi yang sudah sesak dengan postingan meskipun minim like apalagi komenan….

“Santai bro, kita khan bukan selebgram”

Itulah cakap terakhir di lantai 12A The H Tower di bilangan Kuningan Jakarta. Karena selanjutnya harus turun membumi dan bergegas memacu kendaraan dalam perjalanan panjang, untuk kembali menemui anak istri yang menanti dengan segala keikhlasan hati. Selamat menikmati malam ini, Wassalam (AKW).

Ngopi HALU di langit.

Menyusuri angkasa bersama segelas rasa.

Photo : Mari nikmati kopi Angkasa / dokpri.

HALIM, akwnulis.com. Angkasa luas menyambut semangat pagi ditemani sisa-sisa embun yang ikhlas berubah menjadi uap indah penuh harapan. Sedikit awan cumulus terlihat di kejauhan, malu-malu tersibak oleh semburat sinar pagi sang mentari.

Begitupun dengan raga ini, sedang bersiap menyajikan sebuah sensasi pagi, minum kopi di atas langit sejati.

Shubuh tadi meracik dengan manual brew phi-sikti (V60) dan pilihannya adalah bean spesial yaitu HALU pure arabica dengan honey process. Bean ini varietas sigararuntang ditanam di ketinggian 1300 m diatas permukaan laut yang di roaster alias diproduksi oleh Coffee Rush.

Photo : Ini Bean-nya, Arabica HALU pure dari Coffee Rush / dokpri.

Perbandingan 1 : 13 dan temperatur air 90° celcius menghasilkan sajian kopi yang ruar biasa, harum mewangi dengan body strong yang ngangenin. Acidity jangan tanya, bikin ingettttt ajjjah… apalagi aftertastenya muncul selarik rasa nanas, manisnya madu dan akhirnya ditutup dengan dark coklat… yummy.

Yang bikin keren lagi, minumnya diatas langit brow….

“Kok bisa?”

“Bisa donk”….

“Gimana caranya?”

Giniii…….. caranya sederhana kok. Beres meracik ambil tumbler yang langsing dan juga gelas kaca kecil. Lalu bawa di tas dan pergilah ke bandara…. bukan ke terminal yaaa….. khan moo naik pesawaat… uhuy

***

Photo : Tumbler langsing + kopi + snack / dokpri.

Sruput kopi HALU pure arabica di temani langit membiru yang membentang setia adalah sebuah kesempatan langka.

Alhamdulillahirobbil Alamin, Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban.

Sruput lagii…..

Srupuuuut lagi.

Awan tersenyum dan batas horison bernyanyi bersama, menemani perjalanan pagi penuh warna warni.

Yang pasti, raga ini disini bersama jiwa penuh dahaga rasa yang terselesaikan oleh hadirnya sajian kopi hangat kohitala dengan rasa luar biasa.

Photo : Berangkaaat…. / dokpri.

Seiring waktu, akhirnya langit biru kembali diatas sana, setelah raga ini menjejak bumi tanpa hempasan berarti, mendarat selamat di Bandara Halim Perdanakusumah Jakarta. Selamat bekerja kawan, Selamat menjalani hari penuh sensasi. Wassalam (AKW).

Kopi Bale Bengong.

Nongkrong di Bale Bengong…

JAKARTA, akwnulis.com. Adrenalin terasa terpacu manakala kita sedang mengejar sesuatu, atau bisa juga pas dikejar sesuatu… hiiiy.

Tapi ini sih posisinya mengejar coy, mengejar waktu katanyah… meskipun sudah tahu waktu itu tidak berubah, tetep aja 24 jam dalam satu hari. Waktu juga memiliki sifat ajeg yang kadang dinilai kejam karena zero kompromi, kalau sudah lewat ya sudah lewati saja. Kalaupun sudah mantan… maksudnya mantan waktu, ya sudah lupakan, itu semua sudah terlewati… bener nggak?…

Yang nggak setuju pasti sang memori, karena akan berusaha keras menyimpan dan menimbun kenangan, mengumpulkan peristiwa lampau serta berusaha sekuat tenaga menjaga semua kenangan agar tetap abadi sepanjang masa.

…. ntar dilanjut, dipanggil ibu negara dulu…

***

Sepi & Kopi.

Ternyata sepi berkawan kopi…

Photo : Kopi & sepi / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Dibalik gemerlap cahaya dan berjajar beratus kursi, ternyata ada kesepian yang menggerogoti kemapanan fikiran diri. Padahal aku tidak suka sendiri untuk kali ini.

Jajaran kursi coklat memandang sesaat lalu kembali mereka bergunjing dengan sesama kursi lainnya. Sementara diriku tetap terdiam seribu bahasa tanpa bisa melakukan pembelaan terhadap dinamika semesta.

Membiarkan diri menjadi bulan-bulanan sepi, bukan untuk beranjak mati. Karena ternyata sepi sendiripun adalah peluang untuk menata hati. Menata diri dan bukan meratapi, mengumpulkan serpihan janji menjadi bentuk yang dimaui meskipun tetap tak kan utuh seperti harapan pertama kali.

Dibalik kesendirian, aku bisa memaknai hari ini, membaca pemahaman orang lain tanpa perlu menghakimi, sekaligus menyelami kesalahan-kesalahan diri yang sudah dilakoni di lalu hari.

Photo : Sepasang gedung yang beda sendiri / dokpri.

Ternyata sendiri itu bukan berarti sepi, tapi sendiripun bisa terjadi meskipun banyak pihak mengepung diri. Hanya saja karena beda sendiri, akhirnya menjulang tinggi tapi praktis tiada teman setia yang menemani.

Selamat menafakuri hari dan belajar menyepi dalam keramaian abadi. Wassalam (AKW).

Aneka Gaya pasca Meeting di Ibukota

Aneka gaya pasca meeting di Jakarta…..

Photo : Loncat basa basi / Pic by Mr Fd.

JAKARTA, akwnulis.com. Panas udara ibukota tidak menyurutkan langkah untuk terus bergerak menyusuri kenyataan… trotoar maksudnya, tetapi malah memberi nuansa berbeda dibandingkan melewati jalan Jenderal Sudirman Jakarta ini pake kendaraan… asli beda banget.

Tadi sih adem di ruang rapat, tapi pas keluar….. wuuuz… panas hawa menerpa meskipun ditemani angin yang setia.

Berjalanlah di trotoar segede gaban lebarnya… serasa dimana gituuu.

Pokoknya terasa beda, tanpa sadar kelakuan kekanak-kanakan muncul dan langsung ambil posisi…. eh belum, minta rekan untuk mengabadikan… gaya andalan.. loncaat tapi jaim… pengennya levitasi tapi jadinya loncat basa-basi heuheuheu.

Berjalanlah beriringan sambil tak lupa melihat suasana gedung-gedung pencakar langit pencabik harapan…. terus berjalan riang sekitar 1 km menuju stasiun MRT terdekat.

“Lha moo naik MRT lagi?”

Pertanyaan bingung dari seorang kawan yang sudah ikut beberapa kali naik MRT di agenda rapat sebelumnya.

“Ih kamu mah, aku khan belum pernah naik MRT…. sama kamu!”

“Ih jijaay…..🤣🤣🤣”

Keringat mulai muncul di ujung pori-pori, tapi kebersamaan menjadi penyejuk dilengkapi kelakar ringan tanpa beban, seolah tugas yang ada begitu ringan, padahal………

Padahal …. cukup menyita waktu, tenaga, uang dan pikiran.

***

Photo : Tiduran di MRT aah / dokpri.

Proses masuk MRT nggak kaku lagi karena beberapa orang sudah terbiasa, tetapi bagi yang belum pernah, kesempatan pertama itu adalah sebuah pengalaman berharga. Jadi wajar jikalau kembali muncul perilaku kekanak-kanakan, sikap memalukan yang mungkin terekam cctv di di dinding MRT, betapa manusia dewasa itu adalah anak-anak yang terkungkung raga menua.

Tuntas menggunakan MRT berpindah dengan skuter (suku muter) alias jalan kaki dari stasiun MRT menuju apartemen yang disewa oleh kawan-kawan perbankan….. pengen tahu aja.

Photo : Ngetik laporan di tempat yg nyaman / dokpri.

Namanya Apartemen Frazer Setiabudi Jakarta, … wah pengalaman baru nich… cemunguutt.. ngagidig… keringetan.

Masuk ke lokasi apartemen… wuih adem, naik ke lantai 4 apa 14 ya?… lupaa euy, ikutan masuk kamarnya… buseeet luas bangeet, kamarnya ada 3 buah dengan 1 kamar besar lengkap dengan toiletnya. Ada juga toilet diluar, trus ruang tamunya nyaman, televisi terkini yang besar deng sofa empuk, ada ruang makan yang bisa juga dipake buat meeting terbatas. Pantry, kulkas, dispenser…. ah jadi pengen bawa keluarga.

Photo : Kolam renang di lihat dari kamar / dokpri.

daan…… kolam renangnya dong… pikabiteun….

Photo : Kolam renang dewasa / dokpri.

Kolam renangnya outdoor terletak di lantai bawah sejajar dengan restoran dan pintu masuk tadi.

Kolam renang dewasanya nyaman banget, lengkap dengan fasilitas kursi santainya dan juga ada tenda peneduhnya. Kolam anak posisi terpisah dengan kedalaman 50 cm dan di dekatnya ada tempat permainan anak… pokoknya buat bawa keluarga… meskipun harga per kamarnyapun ajiib…. tapi minimal tahu dulu.

***

Photo : Kolam renang anak / dokpri.

Suasana yang nyaman tidak membuat terlena, tetapi digunakan untuk membuat laporan kepada pimpinan tentang meeting tadi, kesimpulan meeting dan sudah tentu langkah tindak lanjut.

Waktu 1 jam begitu berharga, maka gunakan sebaik-baiknya karena semua berbalut tugas negara. Meskipun…. Akhirnya jadwal kereta-lah yang memisahkan kita, harus berpisah dengan kenyamanan apartemen dan segar kolam renangnya, kembali berjibaku dengan lalu lintas ibu kota untuk mengejar jadwal kereta. Wassalam (AKW).

Berangkaaat…..

Espresso Ter-mewah.

Ternyata ini adalah sajian espresso termahal kawan…

Photo : Sajian espresso ter-mewah / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Perjalanan bandung – jakarta dengan bermobil memang butuh perjuangan, seiring dengan tangangan kemacetan di titik strategis di tol Cikampek -jakarta.

Tetapi apa mau dikata, tiket kereta habis, waktunya mepet… ya sudah bersama beberapa kru, meluncurlah menapaki jalan dengan segala kelengkapannya.

Maksudnya, isi bensin, isi e-toll card, isi perut di rest area (eh nanti inih mah), juga isi mobil dengan kresek indomaret/alfamart yang penuh dengan makanan ringan, minuman bersoda dan air mineral…. kayak piknik deh, satu lagi nyalakan aplikasi guglemap dan atau waze buat mantau perkembangan lalu lintas ke depan.

Berkat perkembangan teknologi, kita bisa (dibolehkan) tahu tentang sedikit masa depan lho…. tapi bukan urusan takdir yaa… tapi urusan jalan yang akan dilewati dengan bantuan aplikasi. Maka kita akan berusaha mengambil keputusan untuk memilih jalan terbaik, tercepat dan termudah yang dibantu dengan teknologi, meskipun tak sedikit yang malah tersesat karena guglemap nggak kenal sama panggung hajatan di tengah jalan, atau pagar komplek perumahan yang di gembok…. jadi…. meskipun teknologi bisa (sedikit-banyak) menolong kita, tetapi itu hanya gambaran singkat saja…..

Hikmahnya adalah, mari kita senantiasa bertaqwa karena Allah SWT sudah tahu arah kehidupan kita kemana…. sementara kita cuman tau dikit jalan yang (akan) dilalui aja terkadang suka jumawa…. sotoy dan sombong, tapi itulah dasar sifat kita semua heuheuheu.

Kembali ke cerita perjalanan bandung – jakarta, sesuai guglemap, warna merah hati terpampang di layar smartphone, menandakan kemacetan total siap menghadang. Si gugelmap nggak ngasih alternatif, jadi ya udah jalani aja…. ternyata bener, macet semacet-macetnya.

Segera makanan ringan dan minuman di buka, musik di mobil agak kencengin…. pokoknya bersiap melawan kebosanan…. maka 5,5 jam total perjalanan harus dijalani dengan keceriaan… ya iya laah, kalaupun sambil mutung dan marah-marah plus ngegerutu bin ngegerundel… “Tetep aja macet khan sob?”

Photo : Mesin espressonya / dokpri.

Alhamdulillah, tiba di jakarta menjelang sore langsung menuju tempat acara di kawasan bundaran HI, sebuah hotel megah yang nggak masuk standar biaya level kami… tapi indahnya rejeki, ada sponsor yang memberi kesempatan kepada kami, terima kasih.

Sebuah kamar yang luas dan strategis menyambut kami, juga kamar mandi yang lengkap baik shower, bathtube, toilet dan wastafel yang elegan. Serta yang paling membahagiakan adalah hadirnya mesin kopi yang bisa menghasilkan kopi espresso, dopio, americano lengkap dengan kopinya….. Alhamdulillah lagi.

Maka sebuah sebutan dan kesan mendalam menjadikan momen ini sebagai moment ngopay termewah, karena untuk menikmati sajian segelas espresso maka angka 2 juta lebih harus dikeluarkan….. maksudnya untuk bayar hotelnya hehehehe…. Nuhun pisan Mr.T.

Kepenatan melewati kemacetan tergantikan dengan fasilitas kamar yang begitu menyenangkan, meskipun tidak sempat menikmati kolam renang dan gym-nya tetapi secara keseluruhan tugas bisa dilaksanakan dan làncar……

….. kembali lagi urusan kopi….. nikmat banget ngopay di kamar, gratis, enak dan banyaak.. Asyik… srupuuuut.

Met wiken kawan, Wassalam (AKW).