PILIHAN orang GENDUT.

Akhirnya harus memilih, jika t1dak?….

CIMAHI, http://www.akwnulis.id. Seiring kemajuan jaman ternyata dihadapkan juga kepada kemajuan perut alias menggendut tak terkendali. Harapannya badan ini meninggi ke atas namun apa daya kenyataannya malah maju ke depan dan hanya perut aja dengan kemajuan signifikan sementara area paha dan wajah menebal. Dengan berbagai alasan maka sangat jelas bahwa hal ini terjadi karena kurang kendali atau lepas kontrol diri sendiri dengan segala godaan keinginan yang tak akan berhenti khususnya dalam dunia perngunyahan bin kulineran.

Maka disaat mulai tersadar dengan keadaan dan sekuat tenaga mengendalikan ternyata angka 113,6 kilogram menjadi alarm inti yang mengguncang harapan. Yakin banget ini mah Obesitas, maka perlu treatment yang jelas, tindakan terukur dan pasti serta tentu berkaitan dengan kesiapan anggaran yang secara regulasi tertahan karena persetujuan secara berjenjang namun jelas semuanya sedang berproses dengan segenap keterbatasan.

Karena hidup itu adalah pilihan maka kita batasi pilihannya agar fokus dalam memastikan mana yang menjadi prioritas. Namun sebelum mengerucut dalam dua pilihan perlu dibuat pemetaan secara komprehensif. Beberapa hal yang diidentifikasi untuk percepatan mengembalikan berat badan ke ukuran ideal adalah sebagai berikut :
1. Diet Ketofastosis
2. Intermitten Fasting
3. Diet tipis – tipis khususnya berhenti makan makanan berbahan dasar tepung dan atau turunannya.
4. Olahraga secara teratur di Gym.
5. Operasi Bariatrik – Sleeve Gastrectomy
6. Operasi Bariatik – Gastric Bypass
7. Operasi Bariatik – adjustable gastic band
8. Diet dengan pendampingan dokter gizi
9. Diet dengan minum obat pelangsing tradisional
10. Diet dengan minum paket produk kesehatan
11. Puasa senin kamis atau puasa daud.
12. Pola makan food combining dan enema kopi.
13. Olahraga mandiri di rumah dengan teratur.

Cukup 13 pilihan saja yang disusun karena mengacu kepada pengalaman selama ini ada tantangan terbesar adalah kedisiplinan diri dan dinas luar (DL). Kalau disiplin jelas itu adalah keteraturan dan ketegasan kepada diri sendiri berdasarkan waktu yang sudah pasti 24 jam. Sementara dinas luar itu berkaitan dengan penugasan di luar kantor atau malah diluar kota, diluar pulau. Biasanya jam makan rutin terganggu dan bertambah apalagi dengan iming – iming makanan khas daerah setempat yang tak bisa ditolak diantaranya aneka seafood dan buah duren baik jenis black trone, monthong, bawor super, bokor merah, musang king serta aneka duren lokal yang memiliki cita rasa khas.

Karena tercatat 13 item maka dilangsungkan FGD internal di dalam otak ditemani kejernihan hati untuk mengerucutkan menjadi satu kalimat penting. Kalimat harapan yang menjadi pedoman dalam mengendalikan oertumbuhan berat badan yang semakin tak terkendali. Bagaimana kalimatnya? … ini dia ‘Kembali mendisiplinkan diri dan konsultasilah ke Dokter gizi karena konsistensi menjadi kunci”.

Lest do it…

Eit tapi sebelum berangkat ke dokter gizi untuk memulai langkah ini. Ada bisikan yang halus diantara amigdala dan neocortex. Sedkit tertegun tetapi kalimat yang dibisikkan akhirnya terdengar jelas, “Ada satu lagi cara bagi orang gemuk agar terkendali kegemukannya yakni datangi tukang jahit”

Sesaat terdiam dan berusaha keras memaknai kalimat bisikan, tetapi tidak bisa menjadi rujukan untuk menurunkan berat badan. Ini hanya akan menhembunyikan sesaat bentuk tubuh yang pada akhirnya kita tersiksa karena kegendutan sementara tukang jahit senang disebabkan setiap bulan kita ganti ukuran baju dengan tambahan ukuran sentimeternya.

Selamat berjuang saudara – saudara gendutku, yakinlah bahwa mengendalikan berat badan selain investasi kesehatan diri kita juga merupakan penyempurna kesempurnaan ibadah bagi umat islam khususnya shalat lima waktu dimana posisi attahiyat akhir akan tumaninah tidak terganjal perut dan pinggang yang kelebihan lemak hehehehe. Wassalam (AKW).

Pamit terakhir Mamah Emi.

Selamat beristirahat mah.

Padalarang, http://www.akwnulis.id, Pukul 02.30 wib  hari selasa dini hari, raga ini baru tiba kembali di kediaman, setelah menghadiri penugasan mewakili pimpinan di acara Maulid nabi jemaah Suluk Naqsabandariyah di Ciater Kabupaten Subang.  Setelah memasuki pintu rumah, tengokan pertama ke sebelah kiri dimana pintu kamar depan masih terbuka dan terang benderang. Disambut wajah mamah mertua yang ternyata masih belum tidur memejamkan mata, memandang dengan sayu tanpa kata – kata.

Mah sehat ya mah, Andri mandi dulu ya”

Anggukan lemah membersamai gerakan raga ini untuk beranjak membersihkan diri ke kamar mandi, tak lupa membawa baju ganti yang bersih dan wangi. Tuntas membasuh diri lalu berpakaian dan kembali menengok ke kamar depan yang dalam 2 bulan terakhir diubah menjadi kamar rumah sakit VIP lengkap dengan ranjang elektrik 3 titik, tabung oksigen kapasitaa 6 meter kubik, kursi roda, kasur decubitus, tongkat bantu dan peralatan penanganan luka.

Memang 2 bulan lalu, kondisi mamah mertua mulai menurun dimana diawali dengan kedua kaki lemas disaat berada di kamar mandi dan mengglosor demi menyangga beban tubuh yang ada. Penulis tidak bisa membantu karena sedang mendapatkan tugas mewakili Gubernur Jawa barat pada rangkaian acara para profesor se Indonesia yang diselenggarakan di Kampus Universitas Indonesia Kota Depok Jawa Barat.  Akhirnya satpam kompleklah yang turun membantu dan mengangkat tubuh mamah ke tempat tidur. Jam 02.00 pagi barulah penulis tiba di rumah dan mendapati mamah yang sudah terbaring di tempat tidur dan masih ingin ke kamar mandi lagi. Setelah bersih – bersih segera membantu mamah mertua bersama iatriku dan ada Bi Sri adiknya papah yang bersama – sama ‘ngarereyang‘ (memegang bersama) untuk menuju kamar mandi.

Dengan susah payah akhirnya mamah mertua bisa ke kamar mandi dan duduk  di kloset. Tentu dengan pengawasan ketat, khawatir mengglosor lagi.

Pagi harinya ternyata mengeluh kesakitan terus di tulang belakang dan pinggang, maka segera kita periksa ke rawat jalan di Rumah Sakit Cahya Kawulyan Kota Baru Parahyangan. Lalu saran dokter untuk dirawat dan 10 hari akhirnya perawatan berjalan di lengkapi tindakan rontgen dan pemeriksaan MRI di RS Santo Borromeus. Dari hasil MRI tersebut ditemukan bukan hanya urusan sakit tulangnya saja tetapi jauh lebih besar dari itu, kecenderungan terdapat sel kanker yang bersumber di payudara dan kemungkinan bermetastase ke tulang belakang dengan indikasi terdapat patahan di tulang belakang yang tidak tahu penyebabnya.

Setelah konsultasi kepada dokter dan kesepakatan keluarga maka diperlukan perawatan khusus oleh rumah sakit lebih besar yang menangani kanker, dengan pilihan adalah 2 rumah sakit di kota Bandung maka kami.memutuskan RSHS (Rumah sakit Hasan Sadikin) Bandung yang akan menangani selanjutnya.

Babak baru dimulai dan menghabiskan waktu 11 hari berada di pavilun Parahyangan dengan pemeriksaan lengkap dari USG, cek darah, hingga operasi Biopsi. Hasilnya jelas bahwa mamah positif mengidap penyakit kanker payudara stadium 4 dengan metastasi ke tulang belakang terutama panggul. Opsi pengobatannya ada 3 pilihan yakni operasi, kemoterapĺ dan tindakan valiatif saja.

Sedih dan berduka, pasti. Tapi kami anak anaknya harus fokus untuk membantu mamah pengobatan dan menenangkan mamah yang juga kaget dengan kenyataan yang ada. Setelah hasil biopsi dan USG selesai dilakukan terapi rehab medik maka babak selanjutnya adalah perawatan di rumah dan sekali kontrol rawat jalan di gedung rawat jalan RSHS lantai 6.

***

Kembali ke cerita selasa pagi tanggal 11 Nopember 2025 lalu. Setelah mencoba memejamkan mata sesaat maka terbangun kembali untuk shalat shubuh dan beranjak mandi untuk bersiap ngantor lagi. Apalagi disposisi pimpinan sudah menanti. Maka setelah semua siap, bersama anak kesayangan yang akan berangkat sekolah maka kami menemui mamah yang terbaring lemah dan mencium tangannya bergantian seperti biasa jika kami berpamitan di pagi hari. Senyuman mamah hadir membersamai keberangkatan kami, meskipun ada hal yang menyesakkan hati. Andaikan kami tahu itu adalah pertemuan dan pamitan terakhir, tentu kami tidak jadi berangkat bekerja ataupun bersekolah. Tapi itulah namanya takdir, tidak bisa manusia mengetahui apa yang akan terjadi.

Sambil berangkat ke SDN di Cijawura Buahbatu, pikiran tetap kepada mamah mertua yang baik hati karena dengan kondisi saat ini terasa semakin menurun dan hari ini kami rencanakan untuk melaksanakan kontrol ke poli rawat jalan RSHS. Maka mobil ambulan sudah disiapkan dan bergerak ke padalarang untuk bersiap menjemput mamah mertua dan nanti kami ijin dari tugas untuk membersamai mamah menemui dokter spesialis penyakit dalam di RSHS.

Ternyata kenyataannya berbeda, mobil ambulan yang sudah hadir di depan rumah bukan mengantar mamah melaksanakan kontrol rutin tetapi mengantar jenazah mamah untuk dimakamkan di samping makam papah mertua yang sudah meninggal 11 tahun yang lalu di kabupaten Kuningan.

Itulah sejumput cerita kami di momentum kepergian eh kepulangan mamah mertua kami ke haribaan Illahi robbi.. tepat pukul 09.30 wib, hari selasa tanggal 11 Nopember 2025. Mamah mertua kami meninggal dunia di rumah padalarang.

Innalillahi Wainna Ilaihi Roojiun.
Allohummagfirlaha warhamha waafihi wa fuanha.

Wassalam (AKW).

VARIASI – fbs

Diskusi singkat tapi bermakna..

FIKMIN # VARIASI #

Lalaunan mapah ngabujeng ka tepas, seja nepangan  mitoha, Ama Haji. Katingal anjeuna nuju sila tutug, melong ka payun bari teu hilap ngenyot udud bako molè di bungkus daun kawung. Ni’mat katingalna.

Assalamualaikum Ama, kumaha damang?” Uluk salam kalawan ajrih, teu hilap rengkuh kanu janten sepuh. “Euleuh Sarjang, Alhamdulillah. Iraha ti dayeuh?”

Tadi ba’da lohor Ama, hapunten nembè tiasa nepangan”
Teu nanaon Sarjang, nu utama mah sarèhat sakabèhna. Naha awak bayuhyuh deui?” Ama melong kana patuangan ogè damis nu nyurungkuy deui. Rada nyereng.

Papagah Ama leumpang sapoè 5 kilo jeung push up 100x jigana tos kahihilapkeun nya?”
“Teu pisan – pisan Ama, masih dilakonan. Mung push upna rada aya variasi”

Variasi kumaha Jang?”
“Muhun, nembè 10x dina ubin, pun bojo piwarang naèk kana risbang, kangge neraskeun push upna Ama” lalaunan ngawaler bari rada isin.

Ama imut ngagelenyu bari ngenyot rokona, “Si Nyai mah nyeplès indungna.”

***

Sebuah tulisan singkat berbahasa sunda yang menemani perjalanan tugas di tol Cipularang menuju agenda dinas ke Depok. Wassalam, AKW.

VARIASI – fbs

Diskusi singkat tapi bermakna..

FIKMIN # VARIASI #

Lalaunan mapah ngabujeng ka tepas, seja nepangan  mitoha, Ama Haji. Katingal anjeuna nuju sila tutug, melong ka payun bari teu hilap ngenyot udud bako molè di bungkus daun kawung. Ni’mat katingalna.

Assalamualaikum Ama, kumaha damang?” Uluk salam kalawan ajrih, teu hilap rengkuh kanu janten sepuh. “Euleuh Sarjang, Alhamdulillah. Iraha ti dayeuh?”

Tadi ba’da lohor Ama, hapunten nembè tiasa nepangan”
Teu nanaon Sarjang, nu utama mah sarèhat sakabèhna. Naha awak bayuhyuh deui?” Ama melong kana patuangan ogè damis nu nyurungkuy deui. Rada nyereng.

Papagah Ama leumpang sapoè 5 kilo jeung push up 100x jigana tos kahihilapkeun nya?”
“Teu pisan – pisan Ama, masih dilakonan. Mung push upna rada aya variasi”

Variasi kumaha Jang?”
“Muhun, nembè 10x dina ubin, pun bojo piwarang naèk kana risbang, kangge neraskeun push upna Ama” lalaunan ngawaler bari rada isin.

Ama imut ngagelenyu bari ngenyot rokona, “Si Nyai mah nyeplès indungna.”

***

Sebuah tulisan singkat berbahasa sunda yang menemani perjalanan tugas di tol Cipularang menuju agenda dinas ke Depok. Wassalam, AKW.

CESPLENG – fbs

Langsung damang da…

RANCAEKEK, akwnulis.id. Sibuk adalah satu kata yang mewakili rangkaian aktifitas yang menyita waktu, tenaga, pikiran hingga perasaan. Tapi tentu kembali kepada kita untuk memegang kendali bahwa 24 jam adalah waktu satu hari dan aturlah sesuai kemampuan diri.

Maka disela-sela kesibukan itu, hadirkan sisi lain dan munculkan penyeimbang rasa sehingga sebuah konsistensi menulis tetap hadir secara berkala. Mungkin bukan kualitas tulisan yang terindeks sebagai jurnal internasional, tetapi tulisan sederhana pendek saja namun miliki misi untuk melestarikan bahasa ibunda.

Inilah goresan jempol di atas keyboard virtual di smartphone kali ini. Seperti biasa jikalau ada pembaca yang tidak memahaminya, angkat tangan saja atau japri seperti biasa. Selamat pagiii….

Silahkan.. selamat membaca.

FIKMIN # CESPLENG #

Gempungan ti kantor karèk bubar wanci tumorek, balik meulah peuting nu jempling. Nyetir gagalèongan tapi dikuat-kuatkeun. Hanjakal poho teu mawa konci sèrep imah. Rèk gegedor bisi ibur tatangga, nelepon euweuh nu ngangkat. Ukur nini antèh jeung candramawat nu nempokeun.

Tungtungna maksakeun sarè dina mobil, nyarandè, reup teu inget bumi alam.

Assolaaaatu hoirum minannauuuuu!!!”

Gebeg hudang, karasa sirah beurat sabeulah. Leng puyeng “Astagfirullohal adzim, kunaon ieu?” Lalaunan hudang, muka panto mobil muru ka gerbang imah nu geus dibuka ku jikan.

Maksakeun mandi cihaneut, tuluy sholat shubuh. Ngagolèr deui ngararasakeun sirah nyut-nyutan. Nèangan ubar suwung, nya ngagolèr wè bari cirambay.

Kring… kring..!!” Sora hapè, maksakeun hudang. “Euleuh dunungan… Hallow bapak!”

Dunungan nyoroscos, ukur dua pilihan, dititah atawa dicarèkan. Porolok kèsang badag, kèsang tiis mapay beungeut ogè karasa saawak-awak. Satèngah jam ngadangukeun. Saenggeus beres ditelepon aya nu bèda, puyeng leungit jangar ngilang. Seger jeung karasa harampang, Alhamdulillah. (AKW)

EKOR CICAK CABANG DUA

Jarang juga nemu kayak gini.

CIMAHI, Akwnulis.id. Sebuah ritual mandi di sore hari adalah hal biasa, termasuk di minggu sore ini. Perbedaannya adalah untuk anak semata wayangku ditambah dengan jadwal keramas karena rambut indah panjangnya perlu dirawat dan dibersihkan secara berkala. Tapi teriakannya sore ini membuat keterkejutan.

Toloooong, ada cicakkk!!!!!…..”

Berhamburanlah orang rumah mendekati sumber suara. Meskipun tentu sedikit tersenyum simpul karena binatang cicak bukanlah binatang yang notabene menakutkan ataupun berbahaya karena memiliki bisa atau racun yang berakibat kesakitan ataupun malah dapat menimbulkan kematian.

Empat orang dan empat jari telunjuk mengarah ke jendela kaca diatas kamar mandi. Terlihat seekor cicak berwarna gelap menempel di dinding kayu. Sekilas terlihat seperti cicak biasa, namun setelah di dekati dan dilihat lebih cermat, ternyata ekorny bercabang dua. Aneh juga.

Hati-hati Aa, jangan ditangkap pakai tangan. Takutnya ekornya bisa mematuk”

Sebuah pendapat singkat dari adiknya papah mertua, atau bibi dalam arti sebenarnya. Bukan bibi sebutan untuk pembantu. Meskipun pendapatnya agak lebay karena mengaitkan tentang ekor bercabang ini dengan kemungkinan memiliki fungsi lain, agak bergetar juga. Jangan.. jangan memang begitu.

Sebuah angan jadi ingat beberapa film alien dan terbayang sosok cicak yang lucu dan terlihat lemah ternyata adalah alien kecil yang sedang menyamar dan berada dalam kehidupan sehari-hari manusia untuk bersiap melakukan invasi pada saatnya yang tepat… wadduh, pikiran ekstrim begini harus dibuang, membuat jiwa tidak sehat dan pikiran tidak tenang.

Bermodalkan sapu lidi ukuran medium dan tangan kosong, perlahan mendekati cicak yang sedang berdiam. Tentu bergerak secara perlahan-lahan. Tepat pada posisi yang sudah dekat dan berada dalam jangkauan, hap… tangan kanan bergerak. Ternyata kalah cepat, cicak ekor bercabang sudah bergerak menghindar, namun karena di dinding kayu berpernis, cicak tergelincir dan oromatis terjatuh ke lantai.

Disinilah keberuntungannya, kami langsung memburu dimana cicak tersebut jatuh. Benar saja, cicak masih terdiam karena (mungkin) efek posisi jatuh yang tidak tepat. Maka sebelum cicak pulih dan bergerak, jemari tangan kanan sudah menangkapnya dan sedikit meronta, namun apa daya. Cengkeraman jemari lebih kuat menahannya.

Tanpa banyak pembahasan, langkah pertama pegang erat dan photo sebagai bagian dari. Eviden kegiatan percicakan sore ini.

Selanjutnya langkah kedua adalah studi literatur versi mbah google dan ternyata ditemukan dua fakta menarik yakni :
a. Terdapat beberapa tulisan yang mengaitkan dengan mitos yang berkembang turun temurun bahwa jika ditemukan seekor cicak berekor cabang dua adalah berkaitan dengan keberuntungan, kekayaan, keselamatan, akan ada pernikahan hingga akan kedatangan tamu dan sekaligus juga sebuah peringatan berhati-hati dalam pengambilan sebuah keputusan.
b. Ternyata kehadiran cicak berekor cabang dua ini bernilai ekonomi tinggi sehingga terdapat iklan penjualan cicak hidup berekor cabang dua di market place dengan banderol harga fantastis, 10 juta rupiah untuk 1 ekor cicak berekor cabang dua.

Jadi sebuah kejadian inipun tak lupa didokumentasikan sambil dipegang erat dengan jemari tangan. Geli sih, tapi memang untuk menghasilkan dokumentasi yang bagus itu perlu sebuah perjuangan.

Setelah tuntas didokumentasikan akhirnya sang cicak disimpan di halaman luar dan biarkan kembali menyatu dengan alam. Namun ada satu hal yang menambah pengetahuan bahwa bukan hanya lidah yang bercabang seperti lidah hewan melata tapi juga ada binatang yang berekor cabang dua. Selamat memaknai pencabangan ini, yang penting jika dikaitkan dengan urusan pikiran maka dibolehkan bercabang tapi tetap untuk sebuah penyelesaian harus fokus sesuai prioritas dan tujuan yang akan dicapai.

Selamat malam kawan, Wassalam (AKW).

KENYOT – fbs

Tulisan curhat seorang kawan, kenyot.

CIREBON, akwnulis.id. Sebuah tulisan singkat hadir dalam bahasa sunda agak sedikit kasar atau istilahnya ungkapan loma (akrab). Tipsnya simpel, baca saja. Paling 2 – 3 menit selesai. Kalau mengerti ya sudah, kalaupun tidak tinggal japri tanyakan mana yang perlu dibahas dan tindaklanjuti.

Selamat membaca, happy weekend kawan.

***

FIKSIMINI # KENYOT #

Matapoè nontorèng nyebrotkeun panasna matak ngebul kana ubun-ubun. Hareudang mah geus puguh da waktuna beurang. Hayang iuh mah engkè peuting, sanggeus matapoè digilir ku bulan sapasi.  Mantakna teu wani lila – lila di buruan hotèl tèh, ukur bisa sakenyot dua kenyot tuluy puntung dipiceun sanajan panjang kènèh.

Rada ambek ogè sabab euweuh rohangan keur ngudud. Bisa di buruan hotèl, di juru deukeut jalan gedè. Meuni teungteuingeun.

Tapi da aturanna kitu, nya wayahna biwir haseum bari ngiluan gempungan nu ngokolakeun urusan nagara.

Keur anteng ngawangkong kadèngè aya wawaran, “Ka sadayana para hadirin anu osok nyesep atanapi ngudug tiasa di rohangan ieu, tapi tetep kedah aya di rohangan dugika rèngsè acara!!”

Horèeee….” nu hadir aratoh, panèkèr jeung jippo disarada, hurung. Sarupaning mèrk udud tinggalolèr dina mèja. Hadirin tingkarenyot, haseup rokok minuhan acara gempungan. Loba nu bengeutna sumanget, atoh amarwatasuta.

Kakara ayeuna bisa ngudud bebas di rohangan tiis AC, rohangan fbs. Kenyoot. Cag. (AKW).

PERNAH GENDUT, lalu ….

3 bulan lalu pernah membulat lho..

CIMAHI, akwnulis.id. Tiga bulan perjalanan kehidupan terasa sekejap saja karena sudah terlewati. Tetapi dengan anugerah ingatan maka rangkaian kejadian bisa diceritakan termasuk menjadi dokumentasi literasi bagi diri sendiri dan catatan penting yang mungkin berguna bagi orang lain.

Itulah yang menjadi kobaran semangat dalam menuliskan cerita pribadi kali ini tentang perjuangan menghilangkan lemak tubuh serta otomatis mengurangi berat badan yang selama ini membersamai diri.

Jika dievaluasi sebenarnya ketidakterkendalinya kondisi berat badan ini pasca kejadian patah kaki pada medio awal tahun 2022 tepatnya di bulan januari, dimana dengan kejadian yang dianggap ‘sepele’ yakni meloncati pot bunga pada saat akan apel pagi berakibat patah meruncing pada ruas kaki sebelah kiri. Cerita lengkapnya klik saja PATAH MENYILANG.

Penyebabnya ternyata 2. Pertama adalah posisi mendaratkan kaki yang salah dan kedua adalah berat tubuh yang mulai memasuki PSK alias Pemuda Seratus Kilo atau tepatnya 100,4 kilogram alias 1 kuintal guys… ngeri khan?

Disaat kejadian tidak terbayang patah menyilang, tapi hanya terkilir saja sehingga diurut dan digosok dengan minyakpun bisa sembuh dan sakitnya hilang. Maka tanpa memeriksakan diri langsung bertugas ke Ujung genteng Sukabumi membersamai kunjungan kerja anggota dewan.

Singkat cerita, kembali ke Bandung dan sang Istri terkejut melihat kondisi kaki yang tidak baik – baik saja sehingga diminta di rontgen. Disitulah dipastikan bahwa ruas kaki ini patah menyilang dan meruncing dari kedua sisi sehingga pilihan terbaik adalah operasi.

Pasca operasi menjadi tantangan terberat karena harus memakai penyangga dan rutin mengikuti terapi. Demi sebuah harapan dapat berjalan kaki kembali tanpa ada kendala kepincangan yang berarti. Disinilah momentum berat badan tidak terkendali karena olahraga rutin praktis berhenti.

Bermain futsal, sepakbola, batminton dan lari terpaksa berhenti digantikan dengan tertatih berjalan kaki. Termasuk hobi untuk dipotret sambil loncat untuk menghasilkan photo levitasi. Semuanya harus terhenti. Sementara makan terus dilakukan karena tidak banyak yang dikerjakan termasuk praktis 1 bulan bekerja di rumah karena belum boleh berjalan sendiri sebelum dinyatakan sembuh berdasarkan hasil observasi. Maka berat badan merangkak naik dari 100,5 kg mulai menyentuh 110,5 kg. Peningkatan drastis 10 kilogram yang tak bisa dihindarkan.

Kondisi kaki berangsur sembuh dan akhirnya pasca 6 bulan perawatan dan terapi akhirnya bisa melepas tongkat penyangga dan beraktifitas seperti biasa. Tentu untuk olahraga tetap dibatasi hanya jalan kaki dan berenang saja.

Termasuk juga perpindahan tugas ke tempat yang lebih dekat dari rumah, ternyata memberi konsekuensi logis lebih bahagia karena waktu sehari-hari diperjalanan bisa dipangkas serta banyak waktu buat keluarga plus kesempatan ngopi bersama istri bisa lebih intens dengan menu yang beragam dilengkapi dengan sajian makanan dan snack menggiurkan di kantor seperti gorengan bala-bala hingga gehu pedas, cilok hangat dan seblak dilengkapi jika sore hari me jelang pulang kantor ditutup dengan batagor kuah ceker, baso kangkung atau nasi padang bungkus yang nasinya menggunung.

Tanpa perlu waktu lama. Terasa pakaian mengecil semua. Kancing baju terlihat menegang menahan tekanan dari perut yang membesar begitupun shalat dalam posisi atahiyat akhir menjadi kesulitan termasuk nafsu makan terus membesar. Apalagi dengan prinsip bahwa pilhan dari makanan atau cemilan itu ada 2 yaitu enak dan enak sekali. Sehingga puncaknya meraih eh memiliki berat badan 111 kg.

Oh my God, gimana ini?”

Maka semakin diintenskannya di tempat tugas baru ini minimal melangkah 6.000 sehari tentu di bantu berhitung dengan smartwatch yang terjangkau. Termasuk memberhentikan atau mengurangi asupan karbo setelah magrib dengan segala perjuangannya.

2 bulan berlalu dengan program jalan kaki  minimal 6.000 langkah dan berhenti makan setelah magrib. Tapi penganan aneka aci di jam kerja masih dimakan, seperti seblak, cilok, batagor, baso dan cibai termasuk sesekali nasi padang dan durian. Akibatnya ternyata berat badan bukannya berkurang… tapi nambah 2 kilogram sehingga berat badannya 113 kg.

Disinilah akhirnya memutuskan mengikuti pola diet lebih teratur dan terarah dengan bimbingan coach yang super cerewet tapi sabar banget untuk selalu menemani langkah diet dengan sebaik-baiknya sesuai protap (prosedur tetap) yang berlaku. Hingga hasil akhirnya membuat 18 kilogram lemak eh berat badan menghilang. Alhamdulillahirobbil alamin. (AKW).

nah yang penasaran dietnya gimana, mohon tunggu tulisan selanjutnya ya.. Have a nice weekend kawan.

***

TEMANKU SENJA

Hangatmu menemaniku.

CISUMDAWU, akwnulis.com. Semburatmu membuatku terpaku, padahal sebentar lagi akan bersiap menghilang di mahligai ufuk barat atas nama siklus tugas kehidupan. Namun ternyata cengkeraman sinar kuning keemasan dan oranye begitu melekat dalam pandangan dan perasaan orang sekitar.

Pertemuan kita beberapa minggu ini begitu intens karena ternyata harus menyore dikala lalu lintas bergerak menuju tempat berbeda, kehangatanmu ada. Sebuah kehangatan hakiki yang menyilaukan sekaligus memberikan kenyamanan dalam mengubah galau menjadi cingcai dan menghapus pesimisme menjadi optimisme.

Mentari senja kemarin lalu atau selumbari bersua di atas jembatan atau tepatnya jalan layang paspati Kota Bandung. Disaat kemacetan menjadi biasa, disitulah kesempatan mengabadikan rasa menjadi terbuka. Berbekal jari jemari dan ponsel hape yang ada maka dihasilkan sebuah gambar sederhana namun bermakna, karena disitu dapat dilihat bahwa semburat mentari sorè menghasilan elegi yang tak lekang oleh janji meskipun terkadang membersitkan serpihan sepi.

Begitupun dengan hari ini, disaat tadi pagi pergi menuju kertajati dan dilanjutkan memenuhi undangan di kediaman bapak bupati. Pada saat kembali ke tempat awal dimana selama ini ditinggali bukan di jembatan layang paspati tetapi pada ruas jalan tol Cisumdawu yang akhirnya bergabung dengan ruas tol padaleunyi.

Di tol Cisumdawu sore tadi, semburat hangatmu kembali menemani membawa semangat untuk tetap bersahaja dan berbagi ceria apalagi sebentar lagi berjumpa dengan keluarga setelah hari minggu terpotong oleh sebuah agenda luar kota. Maka dengan berbagai upaya mengabadikan momentum bersamamu sang pemancar sinar keemasan yang begitu perkasa.

Meskipun hanya bermodal kamera bawaan di hape saja tapi dengan ihtiar maksimal dan semangat menggebu maka puluhan jepretan momentum pendar cahayamu terus dibidik dan dijepret. Ya hasilnya banyak yang blur karena kendaraan terus bergerak sementara fokus lensa kamera terbatas. Tapi itu bukan halangan, terus saja dicoba dan akhirnya ada sebuah photo cahaya mentari senja di jalan tol cisumdawu.

Mentari tepat berada dihadapan seolah menyambut kepulangan kami menuju puncak harapan. Hangatnya cahaya sore sekaligus menyilaukan mata yang tak bisa terus terbuka tetapi sesekali berkedip agar memastikan fungsi matanya tetap terjaga.

Terima kasih semburatmu membersamai kami dalam kehangatan sore baik sore hari yang lalu juga hari ini seiring kepulangan raga ini dari majalengka  berjibaku dalam judul tugas dan pekerjaan yang dituntaskan di hari minggu ceria. Wassalam (AKW).

BUKU ANTOLOGI POTRET RAMADHAN

Buku antalaogiku selanjutnya..

CIMAHI, akwnulis.com. Melanjutkan dan menjaga sebuah kebiasaan baik memang memerlukan perjuangan. Tetapi manakala semua itu dijadikan rutinitas dan juga dengan target minimal dipertahankan kebiasaan itu, maka sebuah prestasi akan dihasilkan. Sebagai seseorang yang ngaku – ngaku penulis padahal hanya senang saja mengolah kata memainkan kalimat tentu perlu pembuktian meskipun sederhana. Salah satunya adalah sesuatu yang dihasilkan, sebuah karya. Meskipun sederhana tetapi ada bentuknya.

Agar karya ini tidak mudah dilupakan ataupun hilang, maka pendokumentasian dan pengarsipannya menjadi tantangan tersendiri. Begitupun diri ini dengan segala keterbatasan baik waktu, ide dan juga anggaran tentu punya cita – cita untuk kembali membuat buku pribadi. Tapi apa mau dikata, sementara harus puas dengan buku antologi saja.

Di awal tahun 2024 sudah hadir buku antologi berjudul ‘SINFONIA YANG TERKENANG” dan di bulan april 2024 ini kembali terbit buku kumpulan cerita di bulan ramadhan 1445 hijriah dengan tema kejadian khusus yang dilakukan oleh masing – masing penulis dan dituangkan dalam buku ini dengan judul’POTRET RAMADHAN – Kenangan kebersamaan yang tak lekang oleh waktu.”

Di halaman 163 tulisanku hadir, bercerita singkat tentang kelakuan anak kecil di sebuah kampung didekat kaki gunung yang begitu antusias menyambut berakhirnya bulan ramadhan di malam takbiran dan terjadilah insiden yang tak terlupakan.

Selamat pagi.
Selamat berkarya.

Itulah mantra sederhana yang selalu menjadi bara semangat dalam menjaga konsistensi menulisku. Wassalam (AKW).