Kopi Arabica Organik Gayo

Menikmati Kopi Arabika Organik Gayo dari Kawan lama.

Photo : Kopi kiriman yang siap disruput / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Di kala mentari mulai berani menampakkan diri, sinarnya mengantar kehadiran raga ini di kantor tempat kerja terkeceh (buat aku mah terkeceh pokoknya.. jangan protes).

Pas kaki baru saja menjejak tangga di teras kantor, terdengar suara tegas bapak satpam, “Selamat pagi pa, ini ada paket buat bapak”
“Woah paket apa?”
“Nggak tau pak”
“Oke, terima kasih yaaa”

Penasaran juga, dilihat nama dan alamat tujuannya bener ke diriku. Pengirimnya tertulis ‘Mr Hendri-Riau’.

Ohhh…. Pak Hendri, karib lama yang satu tahun lalu harus kembali ke Riau setelah bersama-sama bekerja di Gedung Sate selama istrinya tugas belajar di Bandung.

***

Sret!!… tajamnya mata gunting membuka perlahan bungkus paket. Bungkus berwarna perak menyembul dan terlihat tulisannya.. coffee.

Alhamdulillahirobbil alamin, ternyata dikirim kopi organik aceh gayo, hatur nuhun pisan pak Hendri.

Nggak pake tunggu menunggu, peralatan sudah ready kok. Ketel listrik dinyalakan, kertas filter V60 dipasang pada corongnya, timbangan digital sudah standbye dan teko kaca leher angsa lengkap dengan termometer sudah nggak sabar pengen nganter air panas bercumbu dengan bubuk kopi organik aceh gayo jenis arabika.

***

Prosesi seduh manual berjalan sempurna, ekstraksi bergerak sesuai rencana. Komposisi 1 : 15 dengan panas air 91° celcius menghasilkan tetesan cairan kopi asli yang tak mungkin ingkar dari janji rasa sejati.

Photo : Sebagian peralatan ‘perang’ / dokpri.

Aroma harum, bodinya dan aciditynya medium sementara untuk taste-nya ada selarik rasa buah-buahan tapi tidak spesifik. Yang menarik adalah diakhir rasa, atau pas tandas di telan melewati tengggorokan, terasa ada sisa rasa manis segar, “Mungkin karena kopi organik ya?”

Yang pasti mah, kembali bersyukur kepada Allah SWT yang dengan kuasanya menggerakkan hati pak Hendri sehingga mengirimkan bubuk kopi nikmat jauh-jauh di seberang lautan hingga tiba di hadapan, sekali lagi, Alhamdulillahirobbil alamiin.

Akhirnya prosesi seduh kopi arabica organik gayo tuntas, membawa rasa nikmat kopi organik disertai kenangan manis bersama pak Hendri. Terutama, pas disopirin sama beliau di daerah Bungbulang – Pakenjeng Garut Selatan, tetap ngebut padahal jalanan begitu berkabut.

Sekali lagi nuhun pak Hendri. Wassalam (AKW).

Kopi Lembang Red Honey

Pahitnya kehidupan versus pahitnya kopi Lembang RH.

Photo : Quote di IGku @andriekw / dokpri

CIMAHI UTARA, akwnulis.com. “Pahitnya Kopi bisa mengurangi atau menutupi pahit getirnya kehidupan” Sebuah quote yang pernah diupload di IG dan FB ternyata menuai berbagai pendapat. Ada yang setuju, ada yang menentang dan ada juga yang setengah-setengah. Seolah menentang padahal dalam hati meng-iya-kan.

Eh ada juga yang comment lebay alias berlebihan.

“Trus?…. gimana donk?”

Jejak digital sudah tersimpan disaat kita mengirim tulisan, gambar, video di media sosial, sekaligus tanggungjawab sebagai pengirim menjadi melekat.. wadduh.

Eits tapi tenang dulu, daripada pusing mikirin postingan quote yang udah menjadi milik publik, sekarang mah introspeksi aja trus lebih berhati-hati dalam memposting dan meng-upload sesuatu.

***

Sebagai jawaban postingan pribadi tadi di alinea pertama. Segera dibuktikan saja dengan menyinggahi Cafe Kupu-kupu di jalan raya Kolmas Cimahi Utara yang menyediakan aneka menu makanan minuman dan tentunya kopi seduh manual yang menjadi favoritku, metode V70…. eh kelebihan, maksudnya V60.

“Kang, pesen V60 ya. Eh beannya apa?”
Pertanyaan singkat sama pelayan cafe, tapi sang pelayan terlihat bingung.
“Maaf mas, saya masih training, saya tanya ke belakang dulu yaa”
“Oke”

Tak berapa lama, “Kopinya pake kopi dari Lembang”
“Oke kang, peseen!!”
“Baik Mas”

Photo : Sajian Kopi Lembang RH dg V60 / dokpri

Percakapan singkat yang mengandung kejujuran. Pelayan yang masih magang dan belum tahu tentang menu kopi V60 dengan sopan minta maaf dan segera bertanya ke petugas lain. Bagus. Soalnya pernah mampir di suatu kafe, pelayannya nggak ngerti menu kopi tapi sotoy, jadi illfeel. Ini mah bagus, jujur dan sopan.

***

Kopi Lembang Red Honey produk dari @homesteadcoffeebdg tersaji apik pada gelas server dan gelas kaca kecil, tak lupa bean yang terbungkusnya ikut dimejengin sesaat di meja, memanjangkan tatapan mata dan semilir angin di Cimahi utara, betul-betul melupakan pahit getirnya kehidupan… ahaaay.

Photo : gelas terakhir / dokpri

Bodynya medium menyegarkan, aromanya harum dengan acidity khas arabica priangan yang medium high serta taste fruittynya begitu menggoda lidah untuk terus menyeruputnya hingga tandas.

Ternyata, kopi tanpa gula Lembang red honey tanpa gula ini tidak pahit lho, begitupun kehidupan, selama kita senantiasa bersyukur dan bersabar maka perjalanan hidup ini senantiasa diliputi ketenangan dan kebahagiaan. Wilujeng ngopi lur. Wassalam (AKW).

Ngopi di Braga 1.

Hikmah macet berbuah ngopi.

BANDUNG, akwnulis.com. Disaat melewati jalan legendaris di Kota Bandung, kemacetan mendera. Sehingga mobil yang ditumpangi tidak bergerak sama sekali, eh bergerak kok, tapi per sentimeter.

“Salah sendiri, udah tau lewat sini pasti macet. Mbok yaa cari alternatif lain atuh!!” Gerutu hati memarahi diri sendiri. Aku terdiam, nggak nyaman sekali diomeli.

Ternyata sang Gerutu terus aja manas-manasin hati ditengah kemacetan yang menggila. Bikin panas bukan hanya hati, tapi sampai ke ubun-ubun hingga otak nggak bisa mikir lagi.

“Tunggu kamu disini!!!” Teriakanku membuncah menghempaskan sang Gerutu dari sisi pikiran ini, seiring dengan mobil yang digunakan langsung parkir di kanan jalan, mereka ternganga terdiam.

Segera kaki menjejak batu granit lalu trotoar, menyesap nikmatnya menjalani sejarah di pinggir jalan Braga yang legendaris. Bersiul dan bergerak disambut jajaran lukisan kehidupan aneka bentuk yang tertata nyeni di pinggir jalan, juga di dalam bangunan yang berubah menjadi sanggar.

Segera insting alami bekerja di jalan yang penuh cerita ini, culang cileung sambil jalan, nyari kedai atau kafe kopi. Teteeeep kopaay.

Sambil berjalan melewati Toko Roti French, terlihat roti garlic dan bagelen tersenyum juga roti granat berpose gagah. Hotel Gino ferucci terlewati dan berharap di Sugar rush ada kopi, ternyata Closed. Pas nengok ke sebelah kanan, ada rumah makan sekaligus cafe legendaris di Braga yaitu Restoran Braga Permai. “Sugan aya di dieu (siapa tau ada disini)”

Ya harap maklum karena jarang nongkrong dan beredar jadi agak kuper tentang kedai atau resto yang nyediain meno kopi manual. Jadi prinsip ‘Malu bertanya, sesat di kopi’ segera dilancarkan.

Sebelum duduk, tentu tanya-tanya dulu, “Om, menu kopi seduh manual ada?”
“Ada de, monggo duduk dulu. Ini menunya….” segera tersaji menu kopi manual brew dengan 4 pilihan kopi : arabica Gayo, Peaberry bean, robusta Curup Bengkulu, arabica Pangalengan dan kopi luwak. “Wuasyiiik”

“Pilihan manual brewnya juga empat, V60, tubruk, ibrik blooming dan french press.” lanjut pelayan. Mantaabs.

Nggak pake mikir lagi, cari tempat duduk strategis dan bersiap menikmati sensasi kopi disini sambil menunggu kemacetan melengang.

…….

(Bersambung ke Ngopi di Braga 2 yach, anak cantik ngajak main dulu, AKW).

Kopi Gununghalu – CoffeeRush

Ngopay kopi yang sesuai dengan tanah kelahiran.

“Makin bangga jadi orang Gununghalu.”

Pagi yang cerah membawa semangat kebersamaan untuk segera menuntaskan laporan tentang pelaksanaan Diklat yang memasuki putaran akhir ini.

Yang bikin mood booster di pagi hari ini adalah sebuah sajian ciamik dari salah satu kopi terbaik di tanah priangan, yaitu kopi arabica single origin Gununghalu dari CoffeeRush.

Terus terang aja, memang belum pernah ke tempat atau lokasi kebun kopi Gununghalu ini, tetapi karena sama dengan nama daerah yang tertera di Akta Kelahiran 40 tahun silam, makin bangga jadi urang Gununghalu eh (ralat) kelahiran Gununghalu, salah satu nama kecamatan di wilayah Kabupaten Bandung Barat.

***

Nge-grinder dulu 30 gram dengan ukuran kasar, khan moo di manual brew. Harum alami kopi mulai menyapa panca indra inti, menebar aroma segar di ruangan kerja Om Fajar.

Metode seduhnya pake V60 dengan komposisi 1 : 15, panas air untuk nyeduhnya 86 derajat celcius. Caranya tetep protap, proses blumming dulu lalu diseduh berputar perlahan searah jarum jam… aromanya nikmatt pisan.

Hasilnya… Tralalalala… sebuah sajian eksotis dari biji kopi pilihan. Nuhun Bu Nova.

Srupuuut…

Segera rasa nikmat menjejak di ujung lidah, meresap ke bawah lidah dan bermain dulu dalam kumuran istimewa. Setelah tuntas baru ditelan perlahan, hangat rasa menghangatkan jiwa, menambah semangat untuk segera tuntaskan tugas yang ada.

Body-nya medium, Acidity medium high dan taste yang muncul ada sedikit dark chocholate dan selarik kesegaran tamarin, kalau aroma udah jelas harum menyegarkan.

Yuk ngopay ah.. srupuut.

***

“Tambah lagi kopinya Pak?”
“Pasti dong!”

Segera berdiri dan menuju sudut ruangan yang disulap sekumplit cafe, baik persediaan kopi juga peralatan lengkap. Menyenangkan. Haturnuhun, Wassalam (AKW).

Sendiri & Kopi Wine

Mencoba menyendiri agar menyerap diksi dan aksi dalam warnai kehidupan hakiki.

Terdiam memandang meja coklat yang seakan menyeringai, mencemooh kesendirian ini. Tidak mengusik semedi cantik di siang bolong yang cukup terik.

“Bukan tak ingin bercengkerama denganmu sang meja, tapi kesendirian ini pun penuh makna” sebuah ungkapan pembenaran yang memang apa adanya. Meja coklat tersenyum simpul.

Beberapa menit kemudian, kesendirian ini terusik oleh hadirnya senampan harapan yang berisi.gelas kaca beserta bejana yang berisi cairan hitam nan harum. Sesaat terpaku oleh sihir natural yang datang tak diundang. Mematung meski otak tetap waras, mata menyipit mencoba membaca mantera yang tertera di secarik kertas coklat lusuh, “Kintamani Wine!!!”

Aku tidak sendirian.

Sebelum cairan hitam nan harum ini berubah wujud, maka secepat kilat sekuat guntur, segera menuangkan ke gelas kaca. Angkat gelas senyuman kopi Wine mengubah kesendirian menjadi kehangatan dan jalinan persehabatan.

Masalah rasa jangan ditanya, Kintamani Wine dengan manual brew V60 memberi sensasi tersendiri. Aroma, body dan aciditynya memiliki citra kuat dan penuh kesegaran.

Sekali lagi aku tidak sendirian.

Banyak kawan-kawan Kintamani Wine yang juga bersedia menemani, tapi apa daya sang waktu dan kekuatan perut juga yang membatasi perjumpaan ini.

Dengan berat hati, kesendirian ini disudahi. Kembali bergabung dengan kumpulan para pencari jatidiri yang terus berdiskusi meskipun hari sudah tidak pagi lagi. (AKW).

***

Catatan : Lokasi Genesis Cafe, Jalan Raya Lembang No.70 Gudang Kahuripan – Bandung Barat (Sebrang RM Pengkolan).

Diary Coffee 12

Puisi kopiku selanjutnyaa…

Kembali menjelajahi nikmatnya kopi dalam balutan puisi pribadi yang terkadang maksa supaya miliki akhiran yang senada.

Nggak kerasa udah masuk volume 12, cekidot :

Segelas kopi hasil olah V60
Menemani hari dengan memilih Kintamani
Meski terlihat kurang pekat alami
Masalah rasa lumayan bikin adem ati

Suasana alam yang tenang
Bikin sensasi ngopipun tentram
ANgin berhembus tiada kencang
Janjikan damai di dataran Lembang

***

Dua barista sibuk menata
Aneka kopi semuanya dari tatar jawa
V60 vietnam drift dan ditubruk saja
Juga criossan empuk Gesakopi tersedia

Inilah sebuah cafe
Yang berada di Gedung sate
Klo keluar area kantor bakal berabe
Disini tersaji aneka kopi penghilang bete

***

Diary Cofee 11

Puisiku tentang kopiku volume 11

Akwnulis.com. Merajut malam di Ruang Halimun
Berteman sepi menata janji
Hilangkan jenuh jangan melamun
V60 kopi Toraja sambil diuji

1 : 20 menjadi rumus komposisi
Hasilkan kopi penuh presisi
Segarkan malam hilangkan sangsi
Siap bekerja tanpa perlu bersedih hati

***

Segelas kecil Espresso segar menanti
Ditemani birunya rasa alami
Keteduhannya menjaga hati
Kepahitannya miliki arti

Satu teguk langsung tandas
Sisakan nikmat yang tuntas
Diujung gelas masih berbekas
Mercure Nexa tunaikan tugas

***

Tiga poci sedang berjanji
Memadu hati tanpa alibi
Masing-masing berisi kopi
Hasil seduhan via V60 (vi-sixti)

Dua poci Java Prinsca Ateng super
Satu lagi Brazil Sitio Tanque
Mempersembahkan kopi alami
Menjadi pengikat kebersamaan kami

***

Kopi Liong di gelas kaca
Menemani pagi di Bapenda
Bergaya dulu di meja
Berlatar belakang tulisan Puslia

Lanjut dengan gelas berbeda
Tulisan Espresso tapi beda
Ini kopinya grup preanger java
Asem dikit itu biasa

***

Kopi Simpanan Mertua

Menikmati Kopi Simpanan Mertua, cekidot.

Photo : Secangkir Kopi Jantan Simpanan Mertua / dokpri

Mencari tempat untuk menikmati sajian kopi dengan manual brew di Kota Medan membawa raga ini beredar via grab menuju satu tempat di Kota Medan yaitu Jalan Setia Budi… itulah tempat ngopi sejati…. kata mbah Gugel.

Namanya Repvblik Kopi, menarik sungguh… eh sungguh menarik. Makun semangat tuh menuju kesana.

Pas nyampe.. suasana bangunan lama yang elegan dengan ramah menyambut kami. Kombinasi warna putih dan hijau menyiratkan kejayaan masa lampau berpadu dengan sajian yang nanti akan dinikmati.

Photo : Repvblik kopi di sore hari / dokpri

Tetapi ternyata kedatangan kami kurang pas waktunya, 30 menit lagi akan tutup, karena buka dari pagi hingga jam 18.00 wib saja.

Jadi……

Yang ready hanya Kopi tubruk aja dan yang pake mesin… espresso saja… eeuhh…

Agak terdiam sesaat….. mikir dulu.

Tring..!!!

“Pesen mbak kopi tubruk spesial disini dan cemilan yang ada aja”

“Oke pa, kopinya ada Kopi Simpanan Mertua… Kopi Jantan sebentar dibuat”

“Wah apa itu?”

Mbaknya hanya tersenyum, “Saya buatin dulu pesanannya ya pak, waktunya terbatas, ntar saya jelasin”

Kami mengangguk meng-iya-kan.

***

Setelah tersaji dihadapan kami, ternyata Kopi Jantan dari Kopi Simpanan Mertua rasanya beda, acidity yang khas dan body medium yang dihasilkan dari biji kopi arabika mandailing yang sudah disimpan dulu selama 3 tahun sebelum proses roasting memberi pengalaman berbeda. Meskipun penyajiannya dengan tubruk saja, ada aroma dan rasa yang spesial… kebayang klo di manual brew dengan V60 atau kalita….. wuiiih yakinnn tuh originalitas rasa yang muncul akan mencengangkan….

Tapi gepepe…. ini juga rejeki… yuk kita nikmati.

Untuk espresso lebih terasa dari harumnya aroma kopi, untuk rasa hampir mirip kopi lainnya karena proses mekanik mesin membuat rasa original biji kopinya tersamarkan dan cenderung rasa pahitnya yang menyapa lidah.

Sayang sekali waktu ternyata tak bisa kompromi, setelah teguk terakhir lalu kami pamit meninggalkan kafe kopi yang elegan ini. Eh nggak lupa bayar bill-nya dulu. Wassalam (AKW).

Kopi Kerinci di Otten Coffee

Menikmati langsung sajian Kopi Kerinci dengan V60 di OttenCoffee Medan Petisah… enaak pisan.

Photo : Dokumen pribadi.

Jalan Kruing Medan Petisah menjadi tujuan penting sebelum kembali ke kampung halaman. Bukan hanya Toko Bolu Meranti ada di jalan ini, tetapi sebuah toko yang spesifik, yang selama ini menjadi tempat transaksi online pembelian peralatan… ternyata ada di sini di Kota Medan Pulau Sumatera.

Yupp… OttenCoffee. Toko online terkenal bagi pecinta dan penikmat kopi karena memiliki barang-barang berkualitas peralatan kopi sekaligus biji kopi yang terstandarisasi. Memang harga-harganya rata-rata cukup mahal tetapi sebanding dengan kualitasnya (gaya bingit sok sok review, padahal cuman beli corong V60 sama grinder doang via onlen hehehehehe… pissss ah).

Photo : Aneka perlengkapan kopi / dokpri.

Tokonya tidak mencolok, tidak pake plang pinggir jalan. Langsung aja tulisan OttenCoffee serta pintu masuk kaca dengan pegangan dari kayu yang cukup besar dan artistik.

Masuk ke dalam langsung di sambut harumnya kopi yang sedang di roasting di sebelah kiri, mesin roasting Probat yang besar menjulang menyambut kedatangan dengan senang.

Photo : Coffee machine & me / dokpri.

Melangkah lagi ke dalam, semakin lengkap koleksi peralatan pembuatan kopi baik manual seperti Siffon, cemex, kalita, aneka grinder, filter hingga frenchpress dan segala macemnya. Untuk mesin juga tersaji cukup beragam termasuk peralatan cangkir, tumbler, hingga aneka bean kopi dalam dan luar negeri yang memanjakan mata tetapi menggetarkan dompet karena pengen semua bean kopi di beli hehehehe.

***

Tuntas menikmati suasana toko, tiba saatnya memilih biji kopi. Bantak banget pilihan, tetapi pengen nyoba yang acidity tinggi dan bukan kopi Java Preanger.

“Kenapa bukan Java Preanger?”
“Karena beberapa biji kopi Java Preanger masih ready stock di rumah”
“Oooh gituuuu, oke dech”

Setelah milih dan memilah dari sisi rasa, harga dan kemampuan maka untuk dibawa pulang, sebungkus biji kopi jantan seharga 75 ribu… satu aja ah… khan kmarin udah belanja juga Kopi Gayo Wine dan Mandheiling Bintang serta Kopi Jantan produk Sidikalang.com.

Photo : Manual brew v60 kopi kerinci / dokpri.

Tetapi tidak lupa order manual brew V60 Kopi Kerinci produk Ottencoffee yang menjanjikan rasa acidity khas dimana biji ini dibuat dengan natural proses.

Peseen!!!
Tring!!!…. adaaa!!! (15 menit menunggu tidak terasa karena mengambil photo dan video di toko Ottencoffee ini menyenangkan, hingga lupa waktu.)

Disajikan menggunakan bejana Hario 200 ml dan gelas kaca. Harumnya menyeruak rasa. Dengan aroma kopi yang menggugah selera, nggak pake lama.. glek… glek… gleek.

Bodinya medium low, aciditynya yang lumayan nendang, asem di mulut dan tebelnya asem nggak mau ilang disaat kopi udah lewat masuk ke perut. Di akhir rasa muncul taste jeruk dan asam tomat berpadu dengan selarik rasa berry… enak oge.

Bisaan yang bikinnya, pasti lah.. ini khan toko OttenCoffee. Kata si Neng Barista, V60 dibuat dengan komposisi 1 : 15 dan diseduh dengan suhu air 87 derajat celcius.

Alhamdulillah.

***

Akhirnya waktu jua yang memisahkan kita. Meskipun satu kebenaran baru harus diyakini bahwa suci itu bukan berarti putih tetapi beraneka warna sesuai selera kehidupan. Apalagi bagi penikmat kopi, suci itu berarti hitam karena jika suci itu putih maka tidak ada cinta suci diantara kita lagi….

“Apa seeeh kamuuh?”

“Au ahh… gelap”

Wassalam (AKW).

Kangen & Arabica Manglayang Karlina

Berkunjung dan bercengkerama bersama orangtua dan Kopi Arabica Manglayang Karlina.

Photo Pemandangan di perjalanan ke rumah ortu / dokpri

Malam belum lama melewati pukul 9, tetapi rasa kantuk begitu kuat menyerang. Tapi jangan mudah menyerah… lawan kantuk itu.

Lawaan!!!!

Mungkin efek perjalanan yang cukup lumayan berkelok dan menanjak ke rumah orang tua tersayang di ujung wilayah Kabupaten Bandung Barat berbatasan dengan Kabupaten Cianjur. Ditambah makan malam yang super kenyang dengan sajian ‘bakakak hayam”*) original racikan ibunda juga udara dingin pegunungan membuat lengkap suasana untuk segera merebahkan raga di peraduan.

Eittts…. jangan menyerah duluuu… ada senjata pamungkas.

Jrengg!!!!

***

Peralatan perang segera di bongkar dari tas ransel kesayangan. Corong V60, kertas filter, termometer, gelas ukur dan jangan lupa…. bubuk kopi hasil ng-grinder tadi pagi… Kopi Arabica Manglayang Karlina dari Kiwari Farmers.

Meskipun timbangan digital mini nggak dibawa, tapi timbangan feeling aja diberlakukan dengan ukuran kira-kira…. urusan air untuk menyeduh… biarkan dulu mendidih di ceret dan diamkan 2-3 menit supaya suhunya bisa turun ke 90an derajat celcius.

Sudah siaaap?

Okee…. Filter V60 dibasahi dan buang airnya. Tuangkan kopi Manglayang Karlina hasil grinderan sekitar 4 sendok makan…. tuangkan air panasnya sedikit agar bubuk kopi membebaskan sisa oksigen yang terjebak disaat penggilingan. Setelah itu prosesi manual brew bergerak serasi memberi ruang kepada sang kopi untuk merubah diri dalam momen ekstraksi.

Hmmm….. harum menyeruak hidung.
Ekstraksi kopi single originnya menghasilkan rasa sepat sedikit manis, keasamanan medium high dan body bold bikin nyisa di lidah lebih lama. Taste yang muncul fruity yang menyegarkan serta sedikit karamel yang muncul di akhir peminuman… apaa sih bahasanya.. akhir seruputan… 🙂

***

Alhamdulillah, senjata pamungkas andalan bisa bekerja pada waktunya. Menstimilasi neocortex dan amigdala agar bisa sejalan dan menghasilkan ide-ide berharga serta rasa takjim penuh makna. Begitupun syaraf-syaraf kembali bergembira menambah stamina bercerita kepada orang tua tentang apa saja. Detik berlalu menit melaju, kami terus berbincang dalam cengkrama diselingi canda yang jarang bisa terlaksana karena alasan kesibukan kerja juga urusan dunia lainnya.

Aku masih segar bugar sementara Ayah yang mulai terlihat mengantuk. Ibunda tetep ceria dan bertahan dengan kecerewetannya… Alhamdulilah, semua sehat dan bahagia di hari tua. (AKW).

***