Nikmati Kopi Gayo di Juliet.

Menikmati Kopi Gayo di Kota Depok..

Photo : Aceh Gayo by Aeropress / dokpri.

DEPOK, akwnulis.com. Melangkahkan kaki di sepanjang jalan Margonda ditemani berisiknya suara mobil dan motor yang bergerombol dalam lautan kemacetan, terasa sebuah tekanan kehidupan yang musti dihadapi day by day.
Wajah-wajah lelah dibalik helm mereka, berbaur juga helm dan jaket hijau para pejuang ojol (ojeg online) mengantarkan penumpang menuju tujuan masing-masing.
Suara klakson dan bisingnya mesin menjadi musik harmoni keterpaksaan yang harus diterima dengan kepasrahan. Semoga semua sabar menjalani kehidupan.

Jalan kaki terus berlanjut, naik turun trotoar jalan Margonda yang terkadang terhalangi oleh gerobak dorong pedagang ataupun kumpulan motor pejuang ojol yang menunggu panggilan di aplikasi. Jadi berjalan di pinggir jalanpun harus hati-hati plus konsentrasi.

Photo : Ruangan Juliet Cafe / dokpri.

Tetiba di pinggir jalan sebuah bangunan putih terlihat terang benderang dan kayaknya ada sajian kopi yang mungkin saja bisa ikut mewarnai hari, khususnya malam ini di sebuah kota satelit ibukota, yakni Kota Depok meskipun hanya beredar di area terbatas jalan margonda.

Namanya Juliet cafe, masuk aja. Nuansa simpel dan elegan menyambut diri, tapi sudah tidak berfikir pilihan menu yang akan tersaji, fokusnya satu, pesen kopi.

Sesaat basa basi dengan pramusaji, akhirnya menjatuhkan pilihan pada sajian manual brew menggunakan aeropres bukan v60 (katanya sih memang nggak tersedia, ya sudah…. kita coba).

Pilihan bean kopinya pun simple, hanya ada gayo saja untuk manual brew tapi untuk menu kopi lainnya mereka menggunakan houseblended_coffee. Ya sudah gayo pake aeropress aja.

Kafe ini baru direnovasi setelah 2 tahun terbengkalai, dan mengusung tema baru beserta aneka fasilitas yang ada, termasuk tersedianya ruang meeting di lantai 3 yang juga bisa di sewa. Buat gathering dan juga meeting.

Disinipun tersedia pilihan untuk membeli bean kopi, tapi hanya terbatas di display saja…. harap maklum donk, ini khan buka kafe atau kedai kopi… jadi kopi bukan bagian yang utama….

“Ih aku mah pengen kopiiii”
“Berarti kamu salah masuk cafe”

Gitu diskusi dalam kepala, tapi akhirnya sepakat bahwa tak usah berdebat ah, udah nikmati aja. Sruput, rasakan, tulis, edit, postinglah pada dunia juga broadcast via WA.

“Khan WAnya lagi down?”
“Iya bener, tapi share link blog sih baik2 saja, lagian bukan ngirim hoax ini mah….”

***

Photo : Display kopi di cafe ini / dokpri.

Akhirnya sebuah sajian kopi hadir menghampiri, cangkir merah dan aeropressnya datang serta langsung mengambil posisi di meja. Gula dan sendok ditolak karena bertentangan dengan prinsip nikotala.

Currr…..

Srupuuut…

Overall lumayan bisa menikmati kopi tanpa gula. Tapi karena media seduhnya adalah aeropress maka sajian yang dihasilkan masih mengandung bubuk-bubuk kopi yang mengeruhkan. Kopi gayo yang tersaji lebih cenderung mirip biji robusta, less acidity and strong body, atau mungkin beannya hasil roasting dark roast atau juga air untuk menyeduhnya terlalu panas sehingga yang hadir lebih cenderung rasa bean hangus… ah sudahlah… sruput saja. Lagian khan bukan cafe spesialis black coffee juga.

Sruput lagiie… tandas.

Harga 21ribu bagi sajian ini, menjadi pantas karena bukan hanya kopi yang dihitung tapi suasana kafe yang perlu perawatan agar senantiasa bersih dan elegan.

Tadinya moo kepo nanyain romeo, khan ini cafe juliet… tapi ternyata asal kata namanya cafe ini nggak urusan sama romeo tetapi didasari dari nama Julianna, sang pemilik. Selamat menjalani malam ramadhan di Kota Depok guys, Wassalam (AKW).

AR7 coffee Cjr

Pasca berbuka dilanjut ngopay di AR7-coffeecorner Cianjur

Photo : Arabica Tangkuban parahu di AR7_coffeecorner / dokpri.

Berbuka puasa terasa bahagia
Meskipun dalam posisi berada di sebuah kota
Setelah batalin dengan setetes aqua
Dilanjutkan dengan makan bersama

Lalu beranjak mencari
Sesuai yang hakiki
Cairan hitam penuh arti
Namanya kopi yaa kopi

Ternyata gayung bersambut
Hanya selemparan batu kopi menyambut
Tanpa rame-rame dan ribut
Semuanya sudah pasti berurut

AR7_coffeecorner itu namanya
Menunya banyak tempatnya enak
Pilihan kopinyapun nikmat
Manual brew minum di tempat

Pilihannya tetep v60
Bikin rasa yang jadi pasti
Arabica Tangkuban perahu yang dinikmati
Diolah cermat oleh barista sejati

Photo : Suasana AR7_coffeecorner / dokpri.

Rasa yang hadir cukup menawan
Acidity medium dan body sepadan
Tidak ninggal dan ringan di organ
After taste berry bikin bertahan

Inilah kisah berbuka di negeri orang
Setelah hampir 3 hari nggak pulang
Demi jalani tugas yang datang
Komitmen sebagai kuli pejuang

Selamat menjalani kehidupan
Yang senantiasa bergerak penuh perbedaan
Jalani syukuri sembari bersimpuh
Nikmati adalah sikap yang ampuh.

Hatur nuhun, Wassalam (AKW).

***

Lokasi : Bojong, Karang tengah Cianjur.

Arabica Wine DNA Coffee

H15 ramadhan, nyeduhnya Kopi Arabica Wine, yummy…..

Photo : Hasil seduhan Arabica wine DNA coffee / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Bersua dengan kolega lama yang juga penikmat kopi adalah kebahagiaan tersendiri. Apalagi mengusung prinsip Nikotala*), cucok sudah…. pembicaraan kesana kemari bercerita tentang suka duka masa lalu ditambah dongeng roasting-cupping-drinking weh hehehehe.

Tapi nggak bisa nyruput kopay karena siang hari masih bulan ramadhan.

Batal atuuuh…..

“Ini kopinya kang”…. sebungkus kopi dengan wadah plastik coklat dan ditempel label kertas bertuliskan DNA coffee dan roastingnya medium dan prosessingnya wine…. woaah arabica wine… tak terasa mulut membasah oleh liur yang tetiba hadir… geuleuh ih… yaa nggak ngeclak donk, ini khan cuman hiperbola…

“Duh jadi pengen mau cepet magrib, sok atuh adzan!”

Kawan lamaku Mang AT langsung tertawa, “Kamu mah sakaw kopay yach?”

“Hahahaha…. enggak!, cuman pengen bingitt”

Kami terbahak berdua, ternyata dengan tertawa mengurangi nafsu ingin ngopay lho, tapi setelah berhenti tertawa… eh pengen lagi ngopaay.

Keneh keneh kamu mah…

Akhirnya pembicaaraan berakhir karena ada meeting yang nggak bsa ditinggalkan. Kami berpisah setelah berbagi kisah, membahas kopi tanpa banyak basa basi dan tertinggal sebungkus arabica wine DNA Coffee yang akan segera dinikmati, nanti.

***

Rakaat akhir shalat witir hampir terganggu, di kala membaca salah satu surat juz Amma.. eh pikiran melayang ke Dangiang Nur Alam….
“Apa itu dangiang nur alam?”

“Ntar jawabannya yaa… solat dulu”

Photo : coffee wine siap dinikmati / dokpri.

….untung saja hanya sekilas… lalu kembali pegang kendali hingga ucap salam kanan dan kiri.

Dzikir pasca witir telah tuntas ditutup dengan doa niat shaum, setelah itu bergegas menuju ruang tengah, mempersiapkan prosesi yang sudah dinanti-nanti yaitu…. nyeduh kopi.

Oh iya.. jelasin yang tadi dulu, Dangiang nur alam itu adalah kepanjangan dari merk kopi, DNA coffee…. jadi bukan DNAnya deoxyribonucleid acid atau asam deoksiribonukleat, adalah sejenis biomolekul yang menyimpan dan menyandi instruksi-instruksi genetika setiap organisme dan banyak jenis virus (id.m.wikipedia.org).

Ihh kok jadi kesitu,…. DNa itu adalah dangiang nur alam. Penjelasannya lebih afdol klo bisa jumpa dengan sang pencetus nama itu, tetapi dari searching via website, istilah danging lebih merujuk kepada kekuatan diluar manusia yang memberi pengaruh kuat (komara) dalam perjalanan hidup ini….. ah ntar aja ah, bisi salah pengertian.

Tapi yang menarik ternyata sejalan dengan cerita Mang AT yang tadi siang ngirimin kopi ini. Bahwa petani pembuat kopi ini dalam prosesnya tidak hanya melakukan hal teknis sesuai aturan main memproses kopi, tetapi juga disertai ritual sembahyang, sholat dan doa, memohon kepada Allah Swt agar kopi yang dihasilkan sesuai harapan, itu semua atas ijin Allah Swt, Tuhan Sang Maha Pencipta…. Amiiin.

Prosesss…. proseeees… sess

Metode manual brewnya tetep pake corong V60 dengan segala keterbatasan penulis. Perbandingan 1 : 12, suhu air 88° celcius dan putaran air seduhan mengikuti arah jarum jam disertai pikiran jernih dan sebait doa…. prosesi penyeduhan berjalan sempurna…..

currr…..

serpihan biji kopi arabica wine DNA coffee berekstraksi dengan sepenuh hati, mengeluarkan potensi rasa yang tersembunyi…. tak sabar menanti.

Setelah gelas server berisi cairan hangat memanas kopi ini, dituangkan perlahan ke gelas kaca mini kesayangan…. currrr.

Srupuuuut……. waaaaaw…. puleeen.. eh rasanya nendang dengan proses roastingnya, tetapi lembut menyentuh syaraf-syaraf lidah, enak dan terasa menenangkan.

Body dan acidity bersaing di kelas serius, asamnya maksimal dibalut pahit getir yang kokoh bertahan, serta after taste yang begitu betah ninggal diujung lidah, woaah…. kopi wine yang sejajar atau lebih baik dari gayo wine….. Alhamdulillah, akhirnya ada juga yang bisa menyainginya.

“Kamu aja nggak gaul, padahal ujungberung khan deket, nongkrong di kedai aja, alamatnya di Jl. Walagri Mulya, RW.09, Pasanggrahan, Kec. Ujung Berung, Kota Bandung, Jawa Barat 40617”

Anggukan lemah menandakan persetujuan, tapi agak sulit untuk merealisasikan. Maklum istiqomah hehehehe.

Bicara after taste, variasinya lumayan, dominan rasa fruitty…eh jeruk lemon dan dark chocolate, plus selarik karamel dilingkupi oleh keasaman maksimal…. jeddd.. dank pokoknya. Seakan keasamannya menggigit bibir dengan rasanya. (Lebay nyaaa?…..)

Buat kelompok aliran bergula, mungkin kurang cocok menikmati kopi ini. Tetapi bagi penikmat kopi jalur nikotala*)… very recomended.

Srupuut….. hmmmmmm… nikmatt… Alhamdulillahirobbil alamin. Hatur nuhun Mang AT, Wassalam (AKW).

***

*)nikotala : nikmati kopi tanpa gula.

Kopi Tri Tangtu penghapus pilu.

Move on bersama arabica Tri Tangtu…

Photo : Salah satu patung di Hotel Borobudur Jakarta / dokpri.

JAKARTA. Akwnulis.com. Sebuah tanya mungkin menggantung di ujung cerita. Begitupun kehidupan, tidak akan berakhir dalam satu jalinan kata tetapi terus berubah dan berganti pasangan kata. Ada suka diselingi duka, ceria berkawan erat dengan cemberut, tertawa terbahak berpadu dengan lelehan air mata kesedihan serta pertemuan akan diakhiri dengan perpisahan… itulah hakikat kehidupan.

Setelah dua tulisan yang menyiratkan kedukaan, yaitu Kopi Tubruk kegalauan dan Lara di Pantura….. maka dalam tulisan ini berusaha move on dan mengumpulkan kembali serpihan semangat, merajut lagi keceriaan dan senyuman demi melanjutkan perjalanan kehidupan fana yang hanya sebentar saja.

Hakikatnya hidup hanya singgah sebentar, lalu bergerak kembali menuju tujuan kehidupan abadi yang sebenar-benarnya.

Jadi tidak usah terlalu terlarut dengan kesedihan, meskipun itu yang menguras rasa dan suasana tertekan. Memang menjadi berat karena harus berperan menjadi bagian dalam menentukan atau cukang lantaran (penyebab) berubahnya nasib seseorang secara drastis.

Photo : Kopi Arabica Tri Tangtu Pulosari / dokpri.

Padahal itulah yang terbaik baginya, untuk semua pihak sebagaimana sudah tercatat di lauh mahfuz… di atas langit sana.

Trus gimana caranya me-move on-kan diri dan kembali ke rel kehidupan yang selama ini dijalani?”

Pertanyaan yang cukup mendasar dan sulit dijawab, karena dengan semua peristiwa yang telah terjadi tentu ada hal akan berbeda dengan makna ‘suasana sediakala‘…. tetapi minimal menjadi sebuah ujian keseimbangan psikis untuk tetap bisa fokus meskipun realita tidak bersahabat dengan harapan dan keinginan.

Keyakinan tentang takdir Allah adalah jawaban yang paling hakiki atau fundamental, sementara secara teknical perlu mood booster agar ketenangan raga dan jiwa kembali stabil dan menempatkan logika pada dudukan rasionalnya melalui treatmen suasana dan sajian kopi arabica atau robusta.

“Deuh kopi lagi… nggak ada yang lain ini teh?”

“Kalem masbro… kopi itu banyak ragam banyak rasa dan banyak cerita, makanya jangan khawatir kehilangan makna, serta punya kemampuan untuk dikait-kaitkan dengan aneka peristiwa”

“Trus kopi apa yang sekarang akan dibawa-bawa dalam kisah kita?”

“Ini aja….” tangan kanan menggenggam bungkus kopi arabica Tri Tangtu Pulosari Village dan tangan kiri Kopi Arabica Tri Tangtu Bali Heaven.

Weleh weleh… seriusan geuning”

Sebuah senyum menjadi pembuka prosesi seduh manual v60 bagi kedua varietas kopi arabica ini. Dengan suhu 86° celcius dan perbandingan 200 ml air versus 15 gr kopi bubuk kasar-alus, maka tersajilah mood booster penyeimbang kehidupan dan penglipur lara dari duka yang baru saja terjadi, baru saja terlewati. Sebuah cerita takdir yang tak bisa dihindari.

Photo : ARabica Tri tangtu Bali Heaven / dokpri.

Arabica Pulosari Village menghadirkan acidity dan body medium berpadu dengan aroma khas kopi pangalengan varietas sigararuntang yang mengusung after taste fruitty, berry dan selarik aroma coklat.

Sementara untuk body dan acidity lebih strong bin bold maka arabica Bali Heaven menjadi pemenuh dahaga rasa tentang kepahitan dan keasaman sajian kopi dan betah ‘ninggal‘ di pangkal lidah memberi pengalaman berbeda meskipun mungkin untuk yang belum terbiasa akan sedikit meringis tanpa kata-kata.

Ternyata benar, menikmati dua sajian kopi arabica bisa kembali menstabilkan rasa dan memberi ketenangan di pikiran serta perlahan tapi pasti hadirkan rasa damai dalam menjalani hari-hari selanjutnya. Selamat menapaki hari dan menstabilkan rasa diri. Wassalam (AKW).

***

Lokasi ngopay :
Otutu coffee & Kitchen – Kerkof Leuwigajah Cimahi.

Kopi Arabica Sunda Hejo ‘Klasik Bean’

Kopi dalam balutan silaturahmi, kopi asli arabica klasik bean sunda hejo.

Photo : Sajian Kopi Sunda Hejo arabica / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Berkah silaturahmi itu salah satunya mendatangkan rejeki yang tidak disangka-sangka sama sekali. Begitupun dengan urusan menikmati kopi, tidak usah khawatir dengan stok yang sudah menipis, karena akan segera terganti.

Yakinlah itu.

Diawali dari sering mengganggu dengan share link tulisan blogku yang mayoritas berisi cerita tentang kopay (kopi) & ngojay (berenang) via japri kontak whatsapp kepada kolega, saudara dan teman-teman yang sudah ada di kontak smartphoneku… tentu semuanya sudah kenal duluan.

Tujuannya sangat sederhana, belajar memerangi hoax atau berita bohong/tidak jelas dengan membuat tulisan sendiri di blog dilengkapi photo hasil jepretan Smartphoneku.. sehingga hadir sebuah tulisan singkat dan ringan, …..mungkin nggak penting juga, tapi yang utama adalah…. diriku bisa bertanggungjawab atas apa yang di tulis dan dibagikan linknya kepada orang lain.

Gitu dulu yaach... oh satu lagi, rutin menulispun bisa menjaga otak tetap berfikir dan raga bergerak sehingga menghindarkan dari berbagai penyakit khususnya penyakit kepikunan lho.

Plus tulisan-tulisan ini bisa jadi warisan bagi anak cucu dan generasi selanjutnya.

Setuju khan?…. setuju aja, biar cepet.

***

Kembali ke hikmah silaturahmi tentang hadirnya rejeki, maka dalam pertulisan ini akan dibahas tulisan dengan tema ‘rejeki kopi’…....

Begini ceritanya… monggo… cekidot.

Photo : Kopi Arabica sunda hejo & prosesi V60 / dokpri.

** Rejeki Kopi **

Penulis mengenal beliau beberapa tahun lalu, sebagai pejabat di bidang audit dan pernah berinteraksi beberapa kali. Lalu sang waktu berlalu, tahun demi tahun berjalan tanpa menoleh ke belakang……. dan setahun terakhir berkomunikasi lagi karena memang nomor kontak WAnya masih tersimpan.

Komunikasinya bukan urusan dinas, tetapi mengomentari artikel di blogku yang dominan urusan kopi dan kopi dan kopi…. dan kopi.

“Kenapa sihh nulis kopi?”

Bentaar…..

“Emmmmm….. tema tentang kopi itu universal dan sangat luas, sehingga bisa dikaitkan dengan berbagai hal. Juga emang seneng kopi dan intensif sejak 2 tahun lalu”

Wadaw jawabannyaah….

Ternyata….. sekarang beliau sekarang mendapat amanah tugas di Kota Intan Garut, dan…….. yang cocok pisan adalah… sama-sama penyuka eh penikmat kopi.

“Mau nyoba kopi sunda hejo?, minta alamat lengkapnya”

Photo : Kiriman Kopi Sunda Hejo dan kawan-kawannya / dokpri.

Pesan via WA dari beliau, dijawab segera dengan memberi alamat lengkap…. ta-daaaa

Sehari kemudian sebuah dus besar JNE datang ke rumah dan diterima istri tercinta.

Awalnya bingung juga, tiba-tiba ada paket. Tetapi pas inget penawaran beliau, kayaknya kiriman kopi nich
.. Alhamdulillahirobbil alamin.

“Udah buka aja say, itu kiriman dari Pak bos,…. teman di Garut”

***

Malam hari baru tiba di rumah, dan setelah mandi serta tarawih… teringat untuk mencoba kopi kiriman beliau.

Melewati dus merah dan penasaran lihat isinya…. wadduh kok banyak banget ya?…

Kebayang nggak fren…. isi utamanya adalah sebungkus kopi arabica sunda hejo klasik bean, sebungkus kopi robusta dan sebotol kopi cold brew IPQ coffee... ditambah dengan beraneka makanan ringan oleh-oleh khas garut seperti kerupuk cungur, kripik bawang, dodol piknik original dan campur, dorokdok, kerupuk kulit, rangginang, roti bagelen plus baso aci instan….

Jadi prinsipnya adalah… kopinya ada, ditemani balad-baladnya banyak bingit…. bikin meriah.

Photo : Aneka kopi Klasik Bean Sunda hejo / dokpri.

Maka perjalanan di saat pengiriman, sang kopi tidak merasa kesepian, tetapi bersendagurau dengan kawan-kawan oleh-oleh keringan lainnya. Membawa kehangatan dan kebersamaan hingga tiba di tempat tujuan.

Alhamdulillah, hatur nuhun Pak Is atas kirimannya. Semoga kebaikan ini tergantikan dengan rejeki yang lebih banyak dan penuh berkah… serta suatu saat bisa kongkow bareng di Rumah Kopi Rancasalak 771 Kadungora Garut, bercengkerama sambil menikmati racikan manual brew di situ, Insyaalloh.

***

Prosesi yang pertama adalah manual brew pake V60 Arabica Sunda Hejo klasik bean semi wash dengan komposisi 1 : 15, menggunakan air panas bersuhu 90° celcius..

cuuurrr…. pelan tapi pasti.. menetes di tabung server.

Setelah tertampung semua, dituangkan ke gelas kaca mini merk duralex (gelas kesayangan… cuman itu yang dipunyai hehehehe).

Srupuut……

Uenaaak euy… rasa kopinya yang khas dan segar menyeruak di rongga mulut, seluruh lidah dan menyebar ke aneka arah sambil yang pasti meluncur ke lambung untuk berkumpul dan berproses.

Kopi arabica ini di roasting pada tanggal 30 april 2019 lalu… berarti 12 hari lalu, … pas banget tuh. Bisa munculkan rasa dan karakter kopi yang sebenarnya.

Aroma harum menyeruak indera penciumanku, acidity medium dengan rasa buah-buahan… berefek zegaar.. eh zegaaar… eh segaaar.

Body medium dan ada sedikit after taste ninggal di belakang lidah dengan menyisakan sejumput rasa lemon dan tamarind…. yang bikin asyik adalah rasa segarnya spesial sehingga tak perlu berlama-lama 200 ml yang tersajipun tandas di seruput tanpa syarat.

Yang robusta besok lagi ah nyeduhnya, sekarang udah hampir tengah malam….. udah ngantuk moo bobo dulu, bersiap menjalani puasa di esok hari.

Xie xie, merci beaucoup Pak Bos, Pak Is…

Mantabs kiriman kopinya, Haturnuhun, Wassalam (AKW).

Kopi Bali Banyuatis.

Ngopay setelah berbuka shaum…

Photo : Sajian Kopi Arabica banyuatis / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Suara Adzan begitu menggetarkan kalbu, menjadi penggugah hati dan memberikan rasa bahagia tiada tara, karena berarti masa penantian di hari kedua bisa dilewati dengan sempurna.

“Allohumma lakatsumtu Wabika amantu waala rizkika aftortu birohmatika yaa arhamarrohimin”

Segera segelas air hangat membasahi mulut dan menghangatkan lambung yang sedari pagi istirahat dari rutinitas mengolah makanan dan minuman… nikmat rasanya. Dilanjutkan dengan mengunyah potongan melon dan buah plum…

Kress kress… yummy.

***

Tuntas shalat magrib segera menggelar peralatan perang di atas meja makan sekaligus persiapan mencoba kiriman baru, coffee banyuasih Bali dari Ibu K. Agung. Coffee arabica yang diolah secara tradisional di daerah Singaraja Provinsi Bali, menggunakan biji kopi arabika pilihan dan disangrai dengan menggunakan kayu bakar sehingga akan menghasilkan rasa alami natural yang memikat.

“Jadi penasaran” Suara hati menambah semangat untuk membuka bungkusan kopi 200gr dengan gambar penari cantik legong bali yang senantiasa mengerling penuh arti.

Srett…. wuaah, bungkus kopinya sudah terbuka. Aroma sederhana menyeruah menyapa indera penciuman. Terlihat bubuk halus kopi yang siap dinikmati.

Air panas sudah siap, corong V60 sudah lengkap dengan kertas filternya. Tinggal seduh dengan perlahan… eh salah, bubuk kopinya di tuangkan dulu di kertas filternya. Barulah prosesi penyeduhan dimulai, currr… perlahan.

Photo : Baristi kecil sedang beraksi / dokpri.

“Ayah, aku aja yang ngucurinnyaah!” Tangan mungil sigap ambil alih, tapi belum ah, bahaya. Air panasnya bisa melukai kulit lembutnya.

Ternyata anak cantik ini pantang menyerah, tetap saja berusaha terlibat lebih jauh. Akhirnya dibimbing untuk mencoba mengucurkan air agar prosesi penyeduhannya ideal.

***

Jrennng…….. tersaji coffee arabica banyuatis versi manual brew v60. Selarik aroma harum melengkapi rasa alami yang muncul sendiri. Acidity medium less dan body bold memberi sensasi tersendiri. After taste-nya rasa pahit kakao ‘ninggal‘*) sesaat di belakang lidah, plus aroma asap kayu bakar memberi kesan berbeda.

Coffee ini adalah salah satu produk unggulan yang diproduksi oleh CV Pusaka Bali Persada, Singaraja Bali – Indonesia.

Akhirnya, 200ml coffee banyuatis ini berpindah ke lambung dan memberi kesegaran bagi raga serta ketenangan untuk jiwa. Segar bugar menjadi modal untuk menjalani shalat tarawih malam ini.

Selamat beribadah di bulan penuh berkah. Semangaat… Wassalam (AKW).

*)Ninggal : ungkapan penikmat kopi tanpa gula di kala rasa pahit dan asamnya kopi berdiam agak lama di lidah dan dinding mulut, red.

Kopi Buah Merah Putih

Ngopay sambil sarbu… nikmat.

Photo : Kopi buah merah putih ala chef akw / dokpri.

KUNINGAN, akwnulis.com. Semangaat pagi kawan, jangan terjebak dengan judul yaa…. klo penasaran tinggal baca saja. Judul dan konten tidak jauh kok. Tapi itu tadi, kekuatan judul bisa menarik pembaca untuk membaca tapi juga bisa mengecoh pembaca yang hanya baca judul dan sepintas info singkatnya.

Terus terang saja, ini tulisan adalah artikel ke-sekian yang ditulis dengan semangat ‘one day one article’, meskipun terkadang ada juga bolong-bolongnya karena kesibukan dan sejumput kemalasan. Tapi semangat menulis harus terus dipertahankan.

Tentang isi, lebih banyak curahan hati meskipun tentu menyimpan selarik informasi. Mayoritas bertema kopi dan ditambah cerita lain yang saling melengkapi.

Yuk kita biasakan nulis, nulis apa saja yang dialami sehari-hari.

***

Ini cerita kopi lagi, jangan bosen ya guys…

Setelah istri tercinta yang rutin menyajikan sarapan buah potong aneka rupa, maka ada ide untuk menata ulang buah-buahan potong yang tersaji.

Siapin piring dan perlahan menata ala-ala. Setelah selesai menata bergeser ke urusan kopi, manual brew kopi arabica puntang… jreeeng.

Kopi sudah siap, tanpa gula yaa…. eh tapi bagus juga jika disandingkan dengan potongan buah.

Ta.. daa….

Kopi buah merah putih, secangkir kopi di gelas kaca bersanding dengan buah semangka merah dan buah pear putih menghasilkan gradasi merah putiih…. kayaknya cocok klo tampil di sajian pas agustusan, bulan kemerdekaan RI.

Kopinya tetep masih manual brew Arabica Puntang, kopi kebanggaan jawa barat tea atuh….

Srupuut… suap2 buah potong… nikmatt.

Photo : Menata buah potong / dokpri.

Giliran penataan ala-ala buah potong yang satu lagi agak bikin tertegun. Karena anggur lonjongnya kok keliatan kayak ulat besar warna hitam….. hiiiiy.

Padahal di tengahnya ada buah plum, dikitari potongan buah semangka, lalu buah pir dan akhirnya potongan buah semangka…. nah anggur yang diatasnya jadi bikin aneh…

Tapi sudahlah, yang penting ngopay dan sarbu alias sarapan buah.

Jadi, kembali ke awal. Yuk nulis atau baca artikel secara lengkap yaa. Selamat wiken, Wassalam (AKW).

Kopi Ngasuh

Nyeduh Arabica puntang & Gayo Wine sambil ngasuh… inilah hasilnya.

Photo : Paw Patrol & kopikuu / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Seduhan kopi di malam hari menjadi teman setia untuk mengisi sisa hari sebelum berganti menjadi esok yang penuh harapan.

Seduhan kopi ini juga yang membantu mata dan badan agar tetap segar sambil menemani sang anak kesayangan yang senantiasa begadang karena ingin main bersama ayah sebelum terlelap di peraduan.

Kopi gayo wine dan arabica puntang pemberian Mr MN menjadi andalan malam ini. Tetapi ada yang beda, suhu air yang digunakan diturunkan di 78° celcius. Tujuannya untuk mempertajam acidity yang dimiliki kopi ini, yang sebenernya memang karakter gayo wine ini sudah mengusung acidity yang cukup tinggi.

Di saat corong V60 sudah bertengger di gelas server, terdengar di samping kanan, “Ayah ini kertas penyaringnya” suara anak kesayangan sambil membawa kertas filter V60. “Makasih sayaang”
“Sama-sama”

Lalu anak kesayangan mengambil teko leher angsa dan berlari menuju kompor gas yang sedang bertugas memanaskan air untuk prosesi penyeduhan.

Reflek diriku mengejar dan menahan gerakan si kecil nan lincah ini. Bukan apa-apa, air panas dan anak umur 3 tahun itu sangat beresiko.

Akhirnya yang paling aman sambil digendong dech. Maka prosesi penyeduhan menggunakan pola 1 tangan. Karena tangan kirinya megangin badan anak kesayangan yang nggak mau diem.

Currr……. perlahan tapi pasti gayo wine terekstraksi, berikutnya arabica puntang… 2 sajian kopi berbeda dengan satu tangan… heuheuheu lumayan pegel.

Photo : Secangkir kopi dan pigure minni mouse dkk / dokpri

Akhirnya manual brew ala ala tercipta sambil terus mendengarkan celoteh anak kesayangan, “Hai guys, hari ini aku bantu ayah bikin kopi… harum guys…. eh gitu dulu ya guys.. jangan lupa like dan subscribe yaa” ini terilhami youtube, ampyuun dech.

“Ayah hayu sini minum, kopinya disiniii” rengekan tengah malam yang tidak bisa dinegoisasi. Hanya menurut saja yang bisa dilakukan, sambil menenteng segelas kopi kecil arabica puntang.

Kompromi belum selesai, karena gelas isi kopi inipun harus dikolaborasi dengan mainan kesayangannya, chase – paw patrol.

Ya…. sudah pasrah, yang penting bentar lagi anak kesayangan mau bobo sebelum tengah malam terlewati. Wassalam (AKW).

Kopi Alumni RLA

Menikmati kopi reuni terbatas di harpitnas..

Photo : Sajian V60 Arabica Puntang Wine / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Hari kamis lalu adalah harpitnas alias hari kejepit nasional karena setelah hari rabunya libur karena pencoblosan, ditemani KOPI PEMILU, hari jumatnya libur nasional hari paskah, otomatis tersematlah harpitnas. Jangan lupa karena tanggal 17-nya libur maka pakaian Korpri harus dipakai.

Ternyata nyampe di kantor banyak yang saltum (salah kostum), pada pake batik biasa. Disini mah berlaku hukum alam, klo perbandingannya banyak yang berkorpri maka yang berbatik biasa yang kemaluan… eh yang malu, begitupun sebaliknya. Saling ledek pasti ada.

Kecuali yang saltumnya bos, nggak berani ledek-ledekan, paling secara halus heu heu heu… emang kamu mahluk halus?

Udah ah kok ngebahas saltum sih, sekarang pengen cerita tentang makna persahabatan dan persaudaraan yang diawali dari sebuah proses seleksi diklat yang kekinian dengan metode online dan video converence… tidak lagi menggunakan alat tulis karena semua serba digital. Hingga akhirnya lulus dan bersama-sama mengikuti training yang spesial, Reform Leader Academy.

Hari kamis lalu, agenda meeting ternyata bejibun juga di hari kejepit. Tapi tetap semangat dong. Di sela agenda makan sianglah, kami bisa bersua dengan sang Ketua Alumni RLA, memanfaatkan waktu yang sangat singkat.

Pertama pembicaraan hangat ditemani sajian manual brew Arabica Puntang wine di Gesa cafe, itu tuh yang di basement gedung sate samping pintu masuk museum, lengkap sudah kopi-kopi jawa barat, nggak bakal nyesel dech.

Photo : Nasi Hainan ala resto G&B / dokpri.

Untuk masalah makananan maka bergeserlah ke GreensandBean di jalan Bahureksa. Jalan kaki menuju lokasi agar memenuhi target 6000 langkah minimal sehari, tentu sambil ngobrol dan tengak tengok karena takut ada kendaraan nylonong mencelakai diri dan sang Ketua Alumni.

Photo : Teh biru bunga telang & seragam korpri / dokpri.

Pilihan makanannya adalah Nasi Hainan dan Vietnamese salad. Sementara sajian minumannya di-matchingkan dengan seragam korpri, maka teh biru yang menjadi pilihan, yaitu teh khas di resto ini yang menghasilkan warna biru, berasal dari bunga telang… nama resminya di sini adalah ‘Teh… halah lupa, ntar aku japri dulu.

Yang pasti, waktu maksi terbatas ini bisa dinikmati bersama dalam balutan tali persaudaraan RLA yang tak kan lekang oleh waktu, insyaalloh keberlanjutan kristalisasi program EODB ruang riung dapat segera terwujud di Kampus kita Kiarapayung.. srupuut… aaam.

Salam Reformers, Wassalam (AKW).

Kopi Arabica Thailand.

Mengeksekusi eh ekstraksi Kopi Arabica dari negeri gajah putih…

Photo : Sajian Manual brew V60 arabica ti thailand / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Bergerak dalam rutinitas kesibukan adalah ritme kehidupan. Tetapi cara mengisi waktu masing-masing orang adalah sebuah seni tersendiri. Jadi mari maknai waktu 24 jam sehari ini dengan kesibujan masing-masing, tapi harus ingat bahwa keseimbangan itu penting.

Begitupun dengan tulisan ini, bukan menjadi beban tetapi… sebuah tantangan bahwa inilah salah satu bukti ‘my time’, yang bisa saja terlewat begitu saja karena keasyikan bekerja…. atau berbincang dengan rekan, atasan, tamu, bawahan, orang tidak dikenal.. kenalan dulu, …….ngaler ngidul dan…… waktu bergerak terasa begitu cepaat…

Jadi…. kembali kepada slogan, ‘ngopay dan ngojay‘, saatnya ngopay bray….

Kali ini kesempatan mengeksekusi eh.. mengekstraksi bean kopi dari Thailand,…. makasih banget Mr Al dibawain jauh-jauh nich,… ayo kita cobaa…

Dari bungkusnya terlihat cukup simpel, tadinya disangka gambar berlian… ditilik-tilik… ternyata itu mesin roasting kopi.. bener khan?…

Lanjut ah… setelah diphoto bungkusnya lanjutlah dengan menggunting perlahan.. dan yeaah… biji-biji kopi terlihat dan.. agak bersinar???…. coba di lihat lebih seksama… seperti berminyak..

Agak aneh juga, tapi mungkin saja memang begitu…

Nggak usah bingung.. eksekusiii… grinderr dipasang ukuran coarse, terrrrr!!!!!…

Air panas sudah mendidih, filter siap di corong V60… kemon guys.

Bubuk kasar kopi sudah siap di corong V60, pasrah menerima proses ekstraksi yang akan mengubah diri.

Curr……

Photo : Ini bungkusnya / dokpri.

Tersajilah cairan hitam yang menyimpan harapan, sedikit aroma khas kopi hadir menyentuh ujung penciuman.

Perlahan tapi pasti, sruputan time…. cairan kopi arabica dari thailand ini menyentuh lidah dan lorong mulut. Membekaskan sebuah catatan penting, bodynya bold alias pahit mendekati rasa khas robusta… kelihatannya proses roastingnya dark roast sehingga yang hadir dominan bodynya, sementara acidity minimum meskipun taste kopinya hadir selarik dan selapis tipis.

Secara keseluruhan, performa yang hadir masuk ke penilaian lumayan dan biasa, tetapi……. yang mahal dan tak ternilai adalah perhatian dan silaturahmi dari seorang kawan, sekaligus sebuah nilai pengalaman untuk berkesempatan bisa mencoba mengolah, menyeduh dan mengekstraksi kopi lalu menikmati dan akhirnya menulisi… eh menuliskan sebuah cerita tentang prosesi seduh kopi arabica dari negara tetangga, sekali lagi makasih Mr. Al.

Sisa seduhan kopi masih tersaji diatas bejana kaca. Perlahan tapi pasti akan segera habis seiring waktu yang tak pernah mau berhenti.

Wilujeng ngopay Bray, Wassalam (AKW).