TAGIWUR – fbs

Ulah salempang Jang..

FIKMIN # TAGIWUR #

Pasosonten ngahaja mapah di taman pengker, maksadna ngabèragkeun hatè nu tagiwur. Biasana layung sok imut masihan kakiatan sanaos ukur katingal ti katebihan. Mung hanjakal, anjog ka taman geuning suwung. Layung pundung disimbut ku pepedut nu kempel ngariung.

Atuh tagiwur tèh nambihan, asa sorangan teu aya balad pakumaha. Tapi lèngkah mah tetep dilempengkeun, mamanawian mendak bagja nu matak ngareugreugkeun.

Lalaunan mapay jalan lempeng, karaos simpè. Geuning teu aya nu haat ngarèncangan,  nu aya ngadon narebihan bari norowèco. Kadangu dua kecap nu matri kana diri, pupujieun sareng uyuhan.

Tapi sanaos layung masih pundung, lèngkah mah kedah teteg. Saha nu terang aya lolongkrang tur bongbolongan.

Di juru taman, rasa marojèngja ogè manah nu titatadi teu pararuguh akhirna tiasa gaduh angkeuhan. Tagiwur ngirangan, layung ogè mimiti katingal. Margi geuning landongna mah teu sesah. Cai wudu ditambih sujud dina tajug di juru taman. Cag. (AKW).

MUNFARID – fbs

Manawi tèh…

FIKMIN # MUNFARID #

Rurusuhan muru imah dines camat, bisi kaburu adzan isya. Ucul – ucul sapatu, muru ka jamban, wudhu. Ngagelar sajadah tengah imah nu molongpong euweuh korsi meja. Ukur karpèt we keur nutupan ubin, lumayan teu tiis teuing. Maklum karek dicicingan da saacanna kosong.

Kusabab karasa simpe, sanajan munfarid gè maca surat alfatihah tèh ditarikkeun. Pipikiran tèh sugan wè aya anggota satpol pp atawa anggota koramil nu rèk solat jamaahan. Panto hareup muka, jadi nu ngaliwat bisa langsung ningali nu keur solat.

Rokaat kahiji simpe, tah pas rokaat kadua mah alhamdulillah rèang nu nyebat “Aamin.”

Reugreug aya nu ngamakmum. Sigana barudak satpol nu pariket. Bacaan surat bada Alfatihah mah dipanjangkeun, Wadduha lagam bayati.

Tah rèngsè attahiyat ahir dipungkas ku maca salam bari ngalieuk ka katuhu terus ka kènca, teu hilap ngusap beungeut sorangan. Pas malik ka tukang, rèk ningali saha nu ngamakmum, olohok.

Ditukangeun kosong molongpong, ukur sora angin peuting nu ngahiliwir. (AKW).

REM & CHARGER

analog sederhana dari ke-kepo-an.

BANDUNG, akwnulis.id. Perjalanan harian menapaki kehidupan terus berlanjut. Begitupun pengalaman kehidupan semakin bertambah seiring perpindahan tugas yang terjadi. Maka tombol adaptasi kembali di aktifkan, dan harus cepat mengamati pola serta sikap dan perilaku plus mengelola harapan dari banyak pihak sambil meluangkan waktu untuk ‘belanja masalah‘.

Ada salah satu yang menarik dalam pengalaman alih tugas ini adalah berkesempatan menggunakan kendaraan listrik yang canggih. Sebuah pengalaman yang luar biasa bagi seorang pegawai yang selama ini begitu akrab dengan kendaraan bermotor dengan bahan bakar pertalite, pertamax ataupun bio solar dan dexlite. Disaat masuk kabin tentu excited alias colohok melihat panel dashboard yang futuristik. Maka satu kata yang utama adalah, “Alhamdulillahiroobil alamin”…

Maka dengan segala ke-kepo-an itu, pasti culang cileung dan penasaran. Hanya saja tidak bisa dieksplorasi semua karena ternyata amanah tugas berbanding dengan beban pekerjaan yang cukup menggerus waktu menyita saat sehingga 24 jam sehari adalah sebuah medan perjuangan yang harus di-menej dengan efektif dan efisien. Tentu selain waktu tidur dan waktu keluarga maka sisanya adalah saatnya bekerja.

Nah sambil berjibaku dengan segala perubahan yang ada, teman baru ruangan baru, suasana baru dan jelas tantangan berbeda. Ada hal yang menggelitik hati dari panel dashboard mobil listrik ini, Hyundai Ioniq 5. Yaitu panel paling kanan yang menunjukan posisi PWR dan CHG. Indikator tersebut jika diamati lebih seksama adalah memperlihatkan sebuah teknologi yang memungkinkan kendaraan listrik yang sedang bergerak itu tidak hanya menghabiskan daya batere yang tersedia tetapi juga berkemampuan menyimpan atau menghasilkan listrik itu sendiri (charging) pada saat kendaraan sedang melaju.

Pikiran sederhana ini menjadi tergelitik untuk menulis dan mengamati hal ini karena jika kita menginjak gas sekuat tenaga maka panel PWR (power) naik dengan indikator biru dan itu artinya batere sedang digunakan untuk membuat kendaraan ini melaju di jalanan. Tetapi di saat kaki melepas pedal gas, maka terjadi proses CHG (charging) atau pengecasan untuk menghasilkan daya listrik meskipun sedikit. Jika ingin chargingnya maksimal tinggal di injak pedal rem secara terukur maka proses charging semakin maksimal. Itu ditandai dengan panel membiru lebih banyak di posisi display CHG. Ini yang luar biasa, karena otak ini langsung menghubungkan dengan analogi aktifitas sehari – hari dengan membuat persamaan.

Persamaan yang dimaksud adalah batere yang tersimpan sebagai energi & tenaga, batere yang digunakan adalah gabungan semangat, amarah dan nafsu serta ego. Sementara melepas pedal rem dan menginjak rem adalah bentuk sabar dan kedewasaan sehingga bisa mengisi kembali tenaga dengan sentuhan emosi positif dan hasilkan tenaga tambahan agar kita semakin lama bisa bertahan.

Artinya kendaraan listrik ini menggunakan prinsip sederhana namun hakiki dalam kehidupan yaitu mengaplikasikan modelling sabar dan kedewasaan untuk menghasilkan energi dan tenaga positif meskipun kendaraan atau keadaan kehidupan sedang bekerja keras dan melaju kencang untuk meraih target yang sudah ditetapkan.

Maafkan jika analogi ini mungkin salah, tetapi minimal ke-kepo-an ini berbuah berkah. Bahwa di satu sisi kita bersyukur dengan hadirnya teknologi di mobil listrik ini, disisi lain banyak nilai yang perlu dimaknai, ditafakuri dan tentu disyukuri seeta dinikmati. Selamat menjalani hari – hari ke depan yang penuh dinamika. Jangan lupa selain gaspool, ada juga momentum angkat gas dan lakukan pengereman secara akurat karena Rakib & Atid tak pernah berhenti mencatat. Happy weekend sahabat, WassalamualaikumWrWbr. (AKW).

KOPI TIBALIK

Ternyata ihtiar berbeda itu menegangkan…

SOREANG, akwnulis.id. Jemari bergetar disaat kembali bercengkerama dengan keyboard virtual untuk membuat sebuah tulisan sederhana yang selama ini menjadi jembatan penyeimbang jiwa dikala berhadapan dengan kenyataan yang sedang  menanti kepastian. Padahal selama mingu – minggu ini jemari tetap menari dan berusaha menuliskan fenomena yang terjadi. Namun bukan dalam posisi penyeimbang jiwa tetapi mencatat serpihan – serpihan kehidupan dan merajutnya menjadi kumpulan kebaikan dimana esok lusa menjadi sejarah yang hadir tanpa amarah.

Bergelas kopi hitam tanpa gula sebetulnya sudah tak terhitung menemani tarian jemari ini. Namun catatan yang hadir bukan bagaimana kopi hitam tanpa gula itu memiliki body – acidity dan aftertaste yang istimewa. Tetapi betul – betul sebagai teman saja yang terdiam tanpa ekspresi dan menyaksikan jemari ini menari tanpa diiringi musik yang mendayu. Cukup dibersamai desau keresahan dan denting kekhawatiran yang bersuara lirih namun terasa perih padahal bukan luka, hanya kumpulan kata – kata.

Maka kembali mengapa jemari ini bergetar saat ini, karena yang tertuang dalam tulisan adalah sebuah syukur nikmat yang selama 2 minggu ini tidak sempat tercatat karena suatu sebab.

Namanya KOPI TIBALIK alias kopi terbalik. “Menarik khan nama kopinya?”
Tentu membuat penasaran. Karena jika dirunut dari biji maka tidak ada yang aneh, dibolak balik ya tetep biji kopi. Jikalau menggeliat disaat hangat dan panas di roasting, pada akhirnya tetap biji kopi tidak terbalik sampai akhirnya di grinder, diseduh dan dinikmati.

Ternyata istilah terbalik ini merupakan metode penyajian saja. Simpel sekali, meskipun ternyata tidak sederhana pada saat menikmatinya. Kopi yang dibuat ternyata biasa saja, kopi base espresso yakni americano. Hanya saja penyajiannya dibalik dimana pisin tutup gelas itu berubah menjadi alas gelas. Sudah deh, tidak menarik.

Tapi ternyata ini baru permulaan karena tantangannya hadir pada momentum menikmatinya.

Mau dibalik lagi gelasnya dibawah, nggak lucu ah. Maka dengan konsentrasi penuh gelas dan pisin atau tatakan ini diangkat perlahan dan buka celah gelas dengan hati – hati. Karena jika bukanya terlalu lebar, air kopinya keluar semua dan dijamin akan tumpah karena pisinnya kecil.

Maka harus konsentrasi, terukur dan diangkat perlahan tapi pasti…. wadduh menegangkan kawan. Lalu monyongkan bibir menyentuh pisin dan sruput perlahan, agak ribet memang. Tetapi sensasinya menghadirkan suasana rasa tersendiri. Tetap rasanya pahit namun diperkaya dengan manisnya rasa ihtiar termasuk memonyongkan bibir agak ke depan agar hasil maksimal.

Setelah 7 kali prosesi membuka gelas kupi terbalik ini akhirnya bisa habis meskipun bibir kok terasa lebih maju dari biasanya. Resiko untuk meraih kenikmatan yang berbeda. Maka jemari bergetar disaat menuliskannya karena terasa menjadi penyeimbang jiwa dalam gempuran ketidakpastian yang berkelindan dengan harapan banyak pihak terhadap raga sederhana ini untuk berkhidmat dalam memposisikan sebagai bagian dari solusi.

Sebagai penghormatan terakhir maka gelas terbalik dan pisin serta ampas kopi diberikan anggukan hormat takzim karena telah memberi kesempatan untuk sedikit menghela nafas dan kembali ke jalur penikmat kohitala dengan cara yang berbeda.

Padahal sebenarnya dalam sejarah tradisional di kampung halaman, menikmati kopi dengan menggunakan pisin atau tatakan itu adalah hal yang lumrah dengan tujuan membuat suhu air kopi panas itu segera turun. Kopinya di gelas biasa tapi pas mau diminum dituangkan ke pisin. Namun sekarang yang berbeda adalah posisi gelasnya yang disajikan sudah terbalik dan nyepot ke pisin. Sehingga perlu spesial effort pada saat membukanya perlahan.

Selamat mensyukuri hadirnya malam karena berarti besok insyaalloh akan kembali berjumpa dengan pagi berseri dan siang yang benderang. Salam kohitala gelas kebalik, Wassalam (AKW).

Berat Badan & Kohitala.

Sehat itu perlu ihtiar, kohitala jalan terus.

KLATEN, akwnulis.id. Seiring waktu yang tak mau berhenti sedetikpun meskipun panggilan dan permintaan selalu terdengar, karena waktu itu ditakdirkan begitu. Maka perubahan dan suka duka dalam kehidupan akan terus bergerak tanpa bisa dihentikan.

Begitupun raga ini berusaha meniti waktu dengan segala variasi. Tentu harapannya adalah perubahan ke arah yang lebih baik, sekecil apapun perubahannya.

Kalau minum kopi nggak berubah ya?.”

Minum kopipun alias menikmati kohitalapun berubah, baik tempat, bean kopinya, dengan siapa ngopinya dan siapa yang bayarnya hehehe. Satu hal dalam ngopi atau minum kopi ini tidak berubah itu hanya dari sisi dimulai dari mana minum kopinya tidak berubah?….. tentu dimulai dari mulut. Mulut tetap mulutku ini yang memulai meneguk sajian kopi tanpa gula, bukan mulut orang lain. Catat itu.

Kedua adalah yang tidak berubah yakni kohitala, kopi hitam tanpa gula. Ini dipertahankan atas nama prinsip perkontenan dan juga menjaga kesehatan dengan menghindari unsur lain selain biji kopi asli.

Ada juga tentang istilah ngopi ini mendapat komplen, karena dalam bahasa sunda ternyata NGOPI itu artinya menikmati kudapan, snack ringan dan dinikmati dengan teh hangat, kopi, wedang jahe, bandrek, bajigur, gula sereh dan juga susu. Jadi bukan ansich minum kopi doang… banyak yang dikunyah – kunyah.

Tapi ada hal penting dalam kehidupanku tentang ngopi eh minum kopi hitam tanpa gula ini, yakni menjadi teman setia dikala mengikuti program penurunan berat badan dengan labelnya TWS alias Tong Waka Sombong (jangan dulu sombong).

Maksudnya bagaimana?”
“Jangan sombong gimana?”

Maksudnya dalam program diet ini jangan dulu sombong pada saat berat badan menurun dan bentuk tubuh membaik. Karena tantangan terbesar sebuah program penurunan berat badan adalah di masa setelah program berakhir. Apakah mampu mempertahankan dengan berat badan ideal atau malah dengan cepat kembali ke asal, malah lebih berat dari awal program diet. Gatot itu, gagal total.

Sekarang diri ini masih dalam program penurunan berat badan tersebut. Meskipun sekarang godaan begitu kencang apalagi dalam pelaksanaannya harus menjalankan tugas perjalanan dinas luar kota. Begitu berat tantangan yang dihadapi karena tidak bisa leluasa memilih makanan yang akan dinikmati terutama untuk menu makan siang.

Sarapan relatif aman karena mayoritas hotel menyediakan sarapan dengan berbagai pilihan telur, buah potong dan roti. Meskipun lebih secure membawa roti gandum sendiri. Salah satunya roti gandum yang recomended adalah produk roti gandum Mom’s di jalan progo Kota Bandung.

Maka marilah mencintai diri sendiri dengan berbagai ihtiar agar umur raga ini sesuai dengan umur yang tertera di kartu tanda pengenal. Salah satu usaha adalah mengembalikan lagi proporsi berat tubuh baik dari sisi pengurangan lemak tubuh dan penguatan massa otot. Berdoa sehat selalu adalah utama tetapi ihtiar menjadi penyempurna sementara menyruput kopi hitam tanpa gula adalah pendukung setia. Selamat berkarya hari ini, Wassalam (AKW).

MISTERI DI KAMAR MANDI

Sebuah cerita di awal penugasan baru.

BANDUNG, akwnulis.com. Hari ketiga bertugas di kantor baru ternyata selain berkenalan dengan para pegawai juga mulai berkenalan dengan suasana berbeda yang menambah khazanah pengalaman pribadi untuk penugasan eselon III yang ke-3 ini.

Ruangannya cukup besar dan dilengkapi dengan kamar mandi didalam sehingga tidak perlu lari ke kamar mandi kantor yang terletak di belakang belum lagi jika harus antri karena ternyata yang kebelet itu bersamaan dan berombongan. “Berabe khan?”

Maka dimanfaatkanlah kamar mandi di dalam ini dengan baik, jadi sering kencing saja. Kalau buang air besar jarang karena memang jadwalnya sudah tetap menjadi satu paket sebelum mandi pagi di rumah.

Karena memang jumlah pegawainya terbatas, jadi mudah untuk menghafalnya. Dalam hitungan tiga hari sudah terekam wajah – wajahnya di memori. Lain cerita dengan namanya, jikalau tertukar itu sih biasa. Bisa diselesaikan dengan canda dan tawa. Maklum orang baru, itu sebagai kalimat pendukung pembenarannya.

Nah, terkait perkenalan dengan dunia yang lain adalah terjadi di hari ke empat. Pada saat di pagi hari membuka ruang kerja, lalu duduk di kursi kerja sambil memeriksa surat – surat. Terasa ada suasana berbeda. Penasaran, mulai berdiri dan mengelilingi kursi tamu, tapi tidak ada apa-apa. Ya sudah duduk kembali menuntaskan surat – surat yang menumpuk.

Tapi serasa ada bebauan berbeda melewati hidung ini” begitu gumam dalam hati. Penasaran, berdiri dan berkeliling di ruangan, siapa tahu ada bangkai tikus yang mungkin mati tersembunyi. Namun tak ada tanda – tanda itu. Perlahan mendekati pintu kamar mandi, lalu di buka. Sekalian mau buang air kencing.

Ternyata…. dihadapkan dengan seonggok rejeki. Numpuk di lobang wc dan tidak disiram. Terlihat masih rapih sempurna. Tanpa berfikir panjang segera dibersihan dengan berpuluh siraman gayung air dan memijit tombol flush berulang kali. Muka memerah menahan amarah, berarti ada seseorang yang memiliki kunci akses ke ruang kerjaku ini dan meninggalkan tanda alias nyirian dengan seonggok tadi.

Tuntas dibersihkan menuju keluar ruang kerja, memanggil kasubag TU dan seluruh pegawai serta OB dan satpam. Tanpa basa basi langsung ditanyakan, “SIAPA YANG BEABE DI RUANG SAYA??!!!”

Semua terdiam, menunduk dan sebagian bingung.  2 kali berteriak tetap tidak ada yang mengaku. Ya sudah mungkin mereka sungkam mengaku di depan umum. Tapi saat itu juga saya minta kunci akses ke ruang kerja saya untuk dikumpulkan termasuk kunci duplikatnya. Ada 2 duplikat, 1 kunci di OB dan 1 buah dari satpam. Semua saya ambil dan simpan di ruang kerja.

Hati cukup tenang, minimal mulai saat ini tidak ada yang bisa akses sembunyi – sembunyi ke ruang saya dan nebeng ke kamar mandi. Hari itu sorenya pulang ke rumah dengan tenang.

Esok hari kembali hadir di kantor pukul 06.55 wib dan disambut senyum sapa OB dan satpam yang bertugas. Tentu jawaban senyumanpun menjadi wajib. Pagi ya indah di tempat kerja baru.

Menebar senyum kepada pegawai sambil berkeliling hingga akhirnya memasuki ruang kerja. Anak kunci pintu diputar dan pintu ruangan terbuka. Tapi ternyata bau kemarin langsung menyengat hidung. Tanpa basa basi segera menuju kamar mandi, membuka pintu dan terperangah.

Seonggok kotoran kembali memenuhi lobang kloset dan terlihat masih baru. Tanpa banyak tanya kembali disiram dan di bersihkan. Tentu dengan membaca doa – doa ya g hafal di dalam hati. Setelah semua bersih, bergegas keluar kamar mandi dan duduk di kursi kerja, terdiam.

Sudah jelas ruangan terkunci, juga semua kunci termasuk kunci cadangan dan duplikat sudah dikumpulkan. Berarti sudah tidak ada yang bisa akses masuk ke kamar mandi di ruang kerja ini. Aneh.

Sementara di diamkan dulu saja, kita lihat esok hari. Siapa tahu ada 1 orang pegawai yang masih menyembunyikan kunci cadangan dan bisa akses masuk di pagi hari sebelum semuanya masuk kantor. Berarti cenderung dari anggota satpam atau office boy. Eits jangan salah sangka dan berburuk sangka dulu, kita cari bukti yang valid. Suasana kantor dalam momen perkenalan program kegiatan berlangsung dan berjalan dengan tenang.

Esok hari datang ke kantor pagi hari, masuk ruangan dan membuka pintu kamar mandi, ternyata tumpukan kotoran segar itu ada lagi. Siram dan bersihkan dan diamkan.

Lusapun masih terjadi, mulai rasa bingung berubah jadi rasa aneh dan tanda tanya besar, “Siapa yang selalu BAB ini?.”

Akhirnya jawabannya hadir di hari kamis bada magrib. Secara kebetulan harus kerja lembur sehingga tetap berada di kantor untuk menuntaskan pekerjaan.

Kamis pagi menjadi sebuah rutinitas aneh karena harus kembali menyiram seonggok kotoran di toilet ruang kerja. Padahal semua akses terkunci. Tapi ya sudah berusaha ikhlas saja. Mau bagaimana lagi.

Nah pas jam 17.45 wib sebelum adzan magrib, suasana sudah meredup karena menjelang senja. Posisi sedang didalam ruangan, di kursi ketja dengan memeriksa berbagai dokumen yang berserakan di meja kerja. Tiba – tiba suara notifikasi blackberry berbunyi dan berkedip, “biip.. biip”.. ada pesan masuk.

Pesan dari kepala satpam, isinya : “Maaf bapak, ijin menyampaikan informasi. Ada yang masuk ke ruang kerja bapak, perempuan bergaun putih panjang. Tidak sempat kami larang karena tiba-tiba sudah di depan pintu ruang kerja bapak”

Wajah menegang dan tangan yang memegang ballpoin ikut diam, bola mata memandang lekat ke pintu masuk yang tepat berada di depanku. Karena memang posisi sedang berada di dalam ruangan. Tapi tidak ada pintu yang terbuka apalagi ada seseorang yang masuk. Coba baca lagi pesan di blackberry, tetap tulisannya tidak berubah.

Namun beberapa saat kemudian tiba – tiba pintu kamar mandi terbuka sendiri lalu menutup perlahan.   Sesaat sepi, lalu terdengar suara showernya yang mengeluarkan air serta diakhiri suara flush dari toilet. Kembali sepi seiring kymandan adzan magrib dari mesjid sebelah kantor.

Beberapa menit terdiam tanpa bisa bergerak, namun hati dikuatkan dengan membaca doa – doa pendek yang dkuasai.  Nafas masih terengah tetapi raga dipaksakan berdiri. Lalu berisaha bergerak melangkah ke kamar mandi. Segera buka pintu kamar mandi dan…..

Kamar mandi kosong, tetapi percikan air ada dimana-mana. Lalu terlihat di toilet ada lagi kotoran seperti hari – hari sebelumnya. Padahal tadi ba’da asyar menggunakan kamar mandi. Semuanya bersih dan tak ada kotoran. Tanpa banyak bicara segera kotoran tersebut dibersihkan lalu berwudhu di pancuran dan menutup pintu kamar mandi perlahan.

Menggelar sajadah di ruangan untuk menunaikan shalat magrib. Namun sebelumnya sebuah ucap disampaikan cukup lantang, “Silahkan jika mau menggunakan kamar mandi dan buang air besar, tapi jangan lupa dibersihkan”

Cetrek!
Pintu kamar mandi sedikit terbuka lalu menutup kembali. Lalu hening.

***

Semenjak kejadian malam jumat itu, tidak ada lagi kejadian tentang kotoran yang tertinggal di lobang wc. Tetapi jika di kamar mandi basah karena seperti bekas dipakai, dimaklumi saja.

Itulah sebuah cerita yang mengiringi penugasanku di masa terdahulu, tepatnya 11 tahun yang lalu. Wassalam (AKW).

Nongki di Kopitotomi.

Yuk ah… ngopi dulu di Kopitotomi

BANDUNG, akwnulis.com. Kebiasaan ngopi tanpa gula dengan metode seduh manual tetap bertahan hingga saat ini. Seduhan yang favorit tentu dengan menggunakan corong dan kertas filter V60. Banyak metode seduh yang lain, namun ternyata dengan corong V60 ini terasa hasilnya apa adanya. Bukan berarti metode seduh manual lainnya hasilnya tidak apa adanya, tetapi lebih kepada pendekatan selera serta kebiasaan saja.

Beda dengan sajian kopi yang dibuatkan oleh orang lain baik barista atau mbakristi, silahkan metode seduh manual apapun dibuat ataupun berbasis mesin. Yang terpenting adalah falsafah diri tentang KOHITALA (kopi hitam tanpa gula).

Kesempatan kali inipun adalah catatan singkat tentang sebuah suasana menikmati kopi tanpa gula di sebuah kedai atau cafe yang memberi kejutan berbeda. Sebetulnya tidak sengaja menemukannya, namun pas masuk ternyata cafenya cozy dan terdapat beberapa sudut tempat yang menyenangkan untuk menikmati kopi. Baik yang Ududer (tukang ngudud/merokok) ataupun non-Ududer tersedia zona nyaman. Hal penting lainnya adalah tersedia mushola yang mungil namun bersih. Jadi aman berlama-lama nongki di cafe ini, pas adzan berkumandang bisa langsung menunaikan ibadah shalat.

Namanya cafe KOPITOTOMI yang berlokasi di Jl. Sadewa 18 Kota Bandung.

Ada juga yang menarik adalah terdapat sebuah pintu mini yang menghubungkan ruang tengah ke halaman belakang yang juga ditata dengan warna menyegarkan. Jadi melewati pintu itu harus dongko atau merunduk, jadi bisa disebut ‘pintu sopan’ karena semua yang melewatinya akan merunduk. Kalau mau coba sombong, jangan merunduk, dijamin nggak bisa melewati pintu itu.

Terdapat juga tempat di ruang tengah untuk live musik. Hanya karena datangnya siang hari jadi tidak ada penampilan live musik, tapi yang penting live eh a life show must go on.

Baik lagi ke urusan kopi hitam tanpa gula dan dengan metode seduh manual maka pilihannya tetap sederhana. Ada menu manual brew V60 arabica wine gununghalu untukku dan juga japanese kopi yang dinikmati oleh rekan kami. Sajian yang dibuat sang barista begitu menggugah selera dan tentunya sambil menikmati sajian kohitala juga menikmati suasana damai yang menenangkan rasa.

Sruput bray….

Sebetulnya banyak menu lainnya tetapii karena waktu yang terbatas maka tidak bisa banyak diulas. Gampang besok lusa kesini lagi kawan, agar nongkrong dan sruput kopi serta makam dan minumnya tuntas. Wassalam (AKW).

SOSIALITA Band & Arabica Wine Sylvasari Gnhalu.

Sosialita Band ditetapkan dan arabica wine sylvasari diseduh dan disruput penuh kenikmatan.

CIMAHI, akwnulis.com. Sore ini menjadi istimewa karena bisa Kembali menghela nafas sejenak setelah sabtu pagi tadi menguras energi untuk hadir Bersama dan memberikan dukungan kepada teman – teman yang tergabung dalam SOSIALITA Band. Sebuah nama band yang dibentuk atas inisiasi kebersamaan dan juga mempertemukan talenta – talenta music di internal kantor kami yang diambil dari berbagai unit terpisah. Tidak hanya dari kantor pusat tetapi dari lintas kantor lainnya baik di unit pelayanan teknis dan juga dari unit satuan pelayanan. Personil dan penamaan grup band ini mengalami pasang surut dan hampir 1tahun untuk memutuskan menjadi nama SOSIALITA Band.

Awalnya ada ide diberi nama ODGJ Band, namun beresiko memiliki konotasi lain padahal personilnya terdiri dari unsur pegawai baik yang sudah berstatus pegawai negeri ataupun yang non pegawai negeri. maka dipilih alternatif nama lain, lalu muncul pilihannya adalah RAHARJA Band, senada dengan jargon kantor. tetapi seiring kesibukan pekerjaan maka penamaan dan kegiatan pembentukan band ini kembali terlupakan dan fokus kepada pekerjaan sesuai kewenangan masing – masing. tetapi semangat pembentukan band dan penamaannya terus menggema meskipun belum mencuat kembali, kayaknya menunggu momentum yang tepat.

Akhirnya Waktu juga yang menjadi saksi bahwa sebuah keinginan jika Allah berkehendak akhirnya bisa diwujudkan. diawali dari rangkaian kegiatan peringatan hari ulang tahun ke79 Kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan kantor kami, Dinas Sosial Provinsi Jawa barat. maka terbentuklah panitia penyelenggara, konsep kegiatan dibahas, sponsor mulai dikontak dan akhirnya digelarlah rangkaian kegiatan perlombaan yang terbagi menjadi 3 tahapan kegiatan besar yaitu Perlombaan olahraga, perlombaan tradisional dan acara puncak.

Singkat cerita seorang pejabat di kantor kami ternyata sekaligus memiliki kemampuan sebagai pencari bakat akhirnya bisa menggabungkan berbagai potensi bermusik dan berlatih di kantor kami, jalan Amir Mahmud 331 Cimahi. Lalu di acara puncaklah menjadi momentum penting penamaan SOSIALITA Band ini disampaikan. tentu sebelumnya melaporkan dulu kepada Ibu Pj Walikota Banjar yang merupakan ibu Kadis kami bahwa penamaan grup band ini mengacu kepada nama dinas kita sekaligus juga memiliki makna lain yang diharapkan menjadi daya tarik tersendiri.

Maka dipanggung acara puncak inilah dibewarakan dan dikumandangkan nama band kami yang terbaru dengan nama SOSIALITA Band dengan personil terdiri dari Nanang Kusmana LJS & Andriani GWM (Keyboard), Wawan HR GRA (Bass), M Taopik GRA (bass), Raga GBKs & Rizal Ikbal F GRA (guitar), Ikhlasqulkamal LU (Saxophone, Yana (kendang) serta ibu Enok Komariah LJS – Rachmi Nurhanifah LJS, Yudha aditya LJS & Rahmat Irawan GRA sebagai vokalis. Selamat berkarya SOSIALITA Band.

Sebagai debut perdana dari grup band baru kami, maka lomba band OPD antar dinas di lingkup provinsi jawa barat dalam acara MUMTAZ yang diselenggarakan di halaman mesjid Al Jabbar menjadi ajang unjuk kabisa awal. Alhamdulillah meskipun tidak masuk 3 besar tetapi ada nilai penting bagi kami adalah menjadi momentum kekompakan dan kebersamaan baik band yang tampil juga para supporter yang begitu bersemangat. bergerak bersama dan bersorak mendukung band kesayangan kami dari 2 lagu yang ditampilkan.

Demikian cerita singkat kami di sabtu kemarin, tapi ceritanya belum selesai karena sore hari di rumah bersama keluarga kecilku, itu yang luar biasa. tambah lagi dengan ‘me time‘ yang paling hakiki adalah melakukan prosesi penyeduhan kopi secara manual alias manual brew dengan menggunakan corong v60 andalan apalagi biji kopi yang digiling dan diseduh ini adalah specialty coffee bean dari Sylvasari kopi gununghalu arabica wine.

Detik – detik tahapan prosesi menjadi sensasi tersendiri. Apalagi keharuman kopi yang hadir pada saat momentum digrinder adalah kenikmatan luar biasa dilanjutkan pas dilakukan penyeduhan, keharuman kopi yang memenuhi udara adalah saatnya yang begitu mendamaikan sebelum ada 2 tahapan kenikmatan lainnya.

Apalagi 2 tahapan kenikmatan selanjutnya?”

Ternyata ada yang kepo, selalu ingin tahu. baiklah atas nama pemenuhan kepenasaran para pembaca langsung saja dijelaskan. 2 tahap itu sebenernya sederhana saja tetapi sangat penting.

Tahap satu adalah ditata dengan baik, simpan bejana berisi kohitala kopi hitam tanpa gula hasil karya ini ditemani gelas kecil kesayangan plus ditambah ornamen tanaman yang ada di sekitar. Tidak lupa biji kopi arabica wine sylvasarinya diajak juga. Lalu ambil posisi pemotretan yang ciamik, cetrèk. Alhamdulillah terdokumentasi dengan jelas dan bersiap untuk upload di medsos.

Tahap kedua dan pamungkas adalah sruputlah dan nikmati. Jangan lupa selalu baca kalimat basmalah, “Bismillahirrohmanirrohim….”
Srupuuut. 
Nikmaat…
Alhamdulillahirrobbil alamin.

Terkait kopinya yang diseduh ini dipesan khusus ke produsennya dan dikirimkanlah kopi arabica wine sylvasari gununghalu. Dengan karakter yang dihadirkan memiliki body yang tebal dengan keharuman memikat, acidity cukup tinggi dan aftertastenya ternyata muncul rasa berry dan sedikit dark coklat yang menyegarkan. Itulah kebahagiaan sederhana yang selalu disyukuri. Selamat menjalani kehidupan dan selalu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Wassalam (AKW).

PAPANGGIH – fbs

Selamat sore, yuk ah nyerat deui

CIMAHI, akwnulis.com. Senja belum menjadi malam tapi ide menulis hadir harus segera dituangkan dalam jalinan kata yang mungkin memberi aneka makna. Tak lupa karena semangat belajar untuk ikut melestarikan bahasa sunda, maka cara belajarku adalah dengan menuliskan sebuah cerita singkat dalam format FBS (fiksimini basa sunda).

Ini dia tulisan singkatnya :

FIKMIN # PAPANGGIH #

Ulin ka basisir jayanti tapi balikna apruk-aprukan nepi ka asup wewengkon leuweung larangan. Mimitina mah ban motor ngagaur meulah jalan satapak, ban pacul anyar nganjuk ti bengkèl Mang Kosim. Tapi beuki jauh tèh lain manggih lembur, ngadon nanjak loba tangkal geledegan.

Sabot ngaliwatan tangkal kihujan, pes tèh mesin motor ngadadak pareum, erèmna ngonci saharita. Awak ngacleng ka hareup, untungna geus jagoan labuh, jadi teu lila nangtung deui.

Ngarèrèt katukang, kaciri motor ngait kana akar. Leumpang ngadeukeutan. Gebeg!, gigireun motor aya mahluk belang koneng hideung panonna moncorong.

Tapi lain Jang Osid nu borangan ieu mah, komo geus meunang parancah ti Uyut, yèn mahluk ieu mah tong dipikagimir. Tapi deukeutan lalaunan, nyambat karuhun. Teu poho leungeun ngodok kana tas. Geus deukeut teu antaparah deui, asem kawak langsung diulaskeun kana beungeut jeung huntuna. Maung cicing bari nyengir. 

Teu lila kèom tuluy calangap, ngagaur handaruan.
Huaaaaahhhrgggg!!!”
Reup poèk mongklèng. Cag.

***

Fiksimini Basa Sunda atau FBS, sebuah genre menulis fiksi atau karangan berbahasa sunda dengan maksimal 150 kata sudah membangun sebuah cerita lepas. (AKW).

KABESÈKAN – fbs

Tulisan singkat tentang kabesèkan…

FIKMIN # KABESÈKAN #

Jadwal nginum susu protèin ba’da magrib geus matuh dilakonan wanci sabulan. Tapi geuning jalma mah teu leupas tina panyakit poho. Rarasaan botol paranti ngocokna dibawa, pèk tèh tinggaleun. Atuh jadi culang cileung, hanjakal teu manggih botol nu lian sanajan di kotèktak.

Tungtungna aya akal, rèk ngajaran di huapkeun waè sasèndok sasèndok. Kabeneran sèndok mah aya. Bungkus susu protèin dipesèk, sèndok asup jadi sisiukna. Am kana baham, ngeunah euy asa susu coklat bubuk. Lalaunan diteureuy, “Asa seuseut” tapi dipaksakeun wè. Sèndok kadua lancar, ngan pas nu ngatilu geuning kalahka susu bubukna tèh nyangked dina elak-elakan, ateul.

Uhuk!” Sora batuk tarik, tina baham mancawura bubuk susuna, aya ogè nu ameng kana irung, atuh beuki ateul tikoro. Batuk teu bisa eureun, nèangan cai jauh, babalongkèngan bari tina liang irung kebul susu bubuk kaluar kènèh.

Untung babaturan haat nulungan, ngasongkeun cihaneut bari rada kèom. Ningali beungeut diwedak  camèrok ku susu bubuk. Cag.