PROTES SANTRI KECIL

Cerita protes di masa kecil.

*PROTES SANTRI KECIL*

Cerita bermula dari rasa kesal yang membuncah melihat bapak – bapak dan pemuda serta beberapa anak sibuk dengan kongkur, sebuah sebutan untuk memancing ikan berjamaah di satu kolam yang sudah disepakati bersama. Ya sebutannya kongkur, raga ini belum tahu pasti asal muasal istilah tersebut tetapi menjadi pelafalan umum dan semua yakin dengan pengertian dan pemahaman yang sama.

Mengapa dikau kesal adinda?”
Sebuah tanya menyeruak dan langsung fokus padaku. Seorang santri kecil yang sedang belajar agama. Sejenak terdiam tetapi selanjutnya jawaban lantang hadir untuk meraih keadilan, “Bukan tidak suka aktifitasnya, tetapi teriakan dan celoteh serta sumpah serapahnya yang mengganggu konsentrasi kami membaca dan menghafal kitab sapinah dan jurumiah. Padahal sebentar lagi Imtihan Guru”

Guruku, Ustad Saemul tersenyum. Wajahnya yang teduh dan kharismatik memberikan rasa damai padaku, kepada kami pada santri cilik yang berkumpul dihadapannya dalam formasi sorogan kitab kuning. Beliau berkata, “Bersabar dan bertawakal saja, kita doakan mereka tersadar untuk tidak terlalu ribut sehingga tidak mengganggu kita”

Iya pak Kiai, maafkan kami”
“Iya tidak apa-apa, ayo kita kumpul lagi dan membahas hadits pendek dan artinya”

Tapi esok harinya setelah diperhatikan secara seksama, kegiatan kongkur terus berlanjut seakan mengejar jadwal jangan jeda konkur sepanjang bulan ramadhan. Jam 07.00 wib sudah hampir sepertiganya hadir di pinggir kolam dan bersiap ‘menyelamatkan ikan yang tenggelam’. Teriakan dan gaya ngobrolnya yang keras, agak mengganggu suasana pagii di pesantren asrama laki-laki. Tapi itulah kenyataannya.

Hanya saja hari ini berbeda, disaat mulai menaiki jalan menanjak dan cukup ekstrim maka tiada kata seindah doa kepada Allah Subhananu Wataala agar dilancarkan dan dimudahkan dalam pekerjaan juga kehidupan pribadi. Perbedaannya adalah para pemain ini dalam aktifitas kongkur ini terlihat merokok padahal jelas – jelas ini bulan ramadhan dan diwajibkan berpuasa. Maka jiwa mudaku berontak melihat fenomena merokok siang hari tersebut, mengingarkan untuk jadwal shaum harus segera diikuti.

Tapi langkah kaki mungil ini terdiam sesaat, mempertimbangkan kemungkinan yang terjadi. Apalah daya badan anak kecil ini dihadapan orang – orang dewasa yang terlihat begitu kuat dan garang. “Perlu cari strategi yang tepat”.

Maka segera pergi ke belakang kobong (asrama santri) menuju area rahasia. Menyibakkan beberapa daun pisang kering dan segera diambillah lodong, sebuah meriam bambu lengkap dengan amunisinya. Ada botol plastik kecil berisi cairan minyak tanah, satu botol berisi air dan satu botol berisi pecahan karbit siap pakai.

Meriam bambu dipikul karena ukurannya lumayan sambil menenteng peralatan. Menuju lokasi yang tepat di dekat kolam yang masih banyak semak – semaknya. Lalu meriam bambu di pasang dalam posisi yang tepat dengan perhitungan akurat menuju sasaran di kolam.  Tapi tetap tersembunyi dari pandangan para pemancing tersebut.

Setelah dirasa semua siap, maka mulai mengamati sasaran. Ternyata beberapa peserta kongkur sedang menikmati bekal makan siang, padahal ini bulan ramadhan. Semakin bergemeretaklah gigi ini dan menahan rasa kesal yang begitu dalam kepada orang – orang yang tidak berpuasa padahal diyakini mereka beragama islam. Tanpa fikir panjang, langsung saja racikan air dan minyak tanah menjadi adonan pembuka. Terakhir pecahan karbit sebagai pembangkit tenaga dorong.

Setelah terlihat bahwa racikan bahan peledak sederhana ini sudah memanas dan tepat moncongnya menuju sasaran. Maka langkah terbaik adalah menyalakan api pada posisi cairan dalam lodong sudah mendidih.

Tep… Dhuaaaar…

Suara membahana memekakkan telinga, seiring dengan lidah api keluar dari moncong meriam bambu ini. Suara yang menggelegar membuat para pemancing terjengkang kaget. Ada 2 orang yang tigejebur.. eh loncat ke kolam karena rasa kaget yang tidak tertahan. Sisanya terjengkang ke belakang. Ikan di kolampun berloncatan, menyambut kegembiraan dan keseruan.

Dirikupun merasa senang, karena bisa memberikan pengalaman tak terlupakan dari para pemancing yang tidak berpuasa ini. Meskipun mereka ternyata masih melanjutkan aktifitas di pinggir kolamnya. Tapi minimal sebuah peringatan hadir tanpa diduga dengan perantara tangan mungil ini.

Tidak hanya di sekitar kolam pancing yang heboh, tapi juga di asrama atau di kobong. Beberapa senior santri berlarian menuju sumber suara. Tetapi tidak ditemukan siapa – siapa, hanya meriam bambu yang hampir belah saja yang ada. Sementara raga mungil ini sudah menghilang dengan menggunakan ilmu lanvkah seribu dan berdiam di tempat aman. Wassalam (AKW).

I’tikaf & muntaber

Perjuangan di 10 malam terakhir…

CIMAHI, http://www.akwnulis.id. Pelaksanaan shaum di ramadhan tahun ini sudah memasuki fase 10 hari terakhir. Dimulai agenda i’tikaf di mesjid pada malam. – malam ganjil sekaligus berharap meraih dan mendapatkan lailatul qodar.

Dalam kerangka agama tentu banyak tulisan, ulasan juga penjelasan versi video baik dengan wajah para ulama dan ustad ataupun seieing teknologi menggunakan AI (artifisial intelegent) uang berupa video yang interaktif, penuh warna serta dengan visualisasi yang menakjubkan. Sehingga banyak diantara kita yang merasa cukup menjadi jemaah Alyutubiah dan Al intagramiyah serta disusul menjadi jemaah al Tiktokiyah.

Padahal semakin sempurna manakala ceramah di media sosial itupun dibarengan atau disempurnakan dengan kehadiran langsung dalam majlis mengaji, tadarus bersama, kajian agama, menghadiri ceramah tablig akbar dan berbagai aktifitas langsung lainnya dengan tema besar adalah menjaga interaksi langsung dalam balutan silaturahmi.

Kalau shalat tarawih dan shalat 5 waktu lainnya tentu berjamaah di Mesjid apalagi bagi lelaki. Jangan sekali-kali shalat tarawih di rumah dan diimami via youtube, teu aya tidituna. Kabayang klo ada yang maksain begitu karena nvgak mau keluar rumah, rokaat kedua ada iklan di youtubnya. Kita sebagai makmum onlinenya gimana?…..

Jadi mari kita manfaatkan momentum bulan ramadhan ini untuk merekatkan silaturahmi kebersamaan dalam berbagai aktifitas keagamaan sekaligus menguatkan keimanan dalam perkembangan jaman yang terus berubah dan bergerak dengan segala dinamikanya.

10 hari terakhir menjadi kesempatan terbatas untuk mer i’tikaf di mesjid. Memanfaatkan seluruh waktu dan atau mayoritas waktu untuk beribadah kepada Allah Subhana Wataala.

Meskipun ternyata dalam pelaksanaan i’tikaf itu ada istilah yaitu ‘muntaber‘…. bukan berarti penyakit yang pernah mendera masyarakat kita di jaman baheula yakni muntah dan berak… dan ditangani dengan penanganan pertama oralit.

Tapi ini singkatannya berkaitan dengan kehadiran i’tikaf di mesjid. Muntaber disini artinya berbeda, yakni ‘mundur tanpa berita‘ yakni disaat tadi malam adalah malam ke-23 ternyata peserta i’tikaf berguguran. Ada beberapa yang muntaber, alias menghilang pelan-pelan dari area mesjid. Mugi-mugi pulangnya ke rumahnya, jangan sampai ke tempat lain hehehe.

Baiklah itu dulu saja tulisan singkat kali ini, selamat menikmati dan mensyukuri 10 hari terakhir ini tentu dengan semangat ibadah, semangat kebersamaan dan juga semangat harapan besar meraih lailatul qodar. Wassalam (AKW).

IMUT anjeun – refbs

Mugi caang baranang salawasna..

CIMAHI, Akwnulis.id. Tak sengaja berselancar di media sosial pribadi dan menemukan sebuah catatan sederhana 10 tahun lalu. Tulisan singkat berbahasa sunda.

Diserat nganggè basa sunda, pondok waè seratanna nanging tiasa ngabudalkeun rasa nu aya dina manah basa harita.

Haturan….

# Imut anjeun #

Hapunten ulah janten bendu, wiréhna kaayaanna tos kieu, moal kapuluk, ngalelebar artos, hawatos” soanten halimpu doktér rancunit téh karaos neumbrag kana jajantung, ngaheumbat angen meupeuskeun harepan nu mucuk eurih salami nyarengan dina ambulan. Asa teungteuingeun. Tapi nguping halimpu ogé soméahna dokter, lalaunan mulungan rénghap.

Ngaroncé kawantun negerkeun pangacian bari pok, “Teu sawios néng dokter, ieu mah ihtiar pribados. Mugi-mugi aja mu’zizat, keun perkawis rejeki mah parantos aya nu ngatur.” Dokter unggeuk perawat tatan-tatan, plong karaosna. Réngsé nawis serat pertanggelwaleran kulawarga, anjeun dicandak ka tempat anu merenah. Pasosonten nu alum lalaunan béngras. Anjeun imut sanaos mung dina implengan.

Enjingna anjeun gugah sanaos pinuh alat nu nyiksa raga, masihan amanat pikeun ngajagi ibu rama. Dokter ngiring dumareuda da étanganna mah moal tiasa sanaos mung saukur beunta. Imut anjeun ngiatkeun rasa, ngobrol sagala rupi bari teu weléh gumujeng ngadongéngkeun dunya. Ayat kursi janten bubuka, lailahaillallah panganteurna. Anjeun mulang ka Mantenna.

***

Bismillahirrohmanirrohim.
Allohummagfirlaha Warhamha Waafihi Wa’ fuanha.

Wasaalamualaikum Wr Wbr.

RAMO PATARÈMA – fbs

Lalakon harita dina mangsana.

FIKMIN # RAMO PATARÈMA #

Mung sakedap ramo anjeun nyepeng pageuh, tapi geterna matak geunjleung batin. Sakilat mulangkeun ilapat, sajorèlat katresna baheula ngajadi dihin pinasti. Mung sakedap ramo patepang ramo, mapah pagèyè-gèyè. Asa bumi alam èndah lir ibarat sawarga. Sumawonna nu ngaralangkung kalebet nu naringalikeun téh, istuning dianggap teu aya. Dunya milik duaan tèa.

Kecap sono, rindat deudeuh tos teu ngalangkungan baham deui, tapi diwakilan ku ramo nu tos badami pageuh. Sanaos mung sakedap.

Ngarènghap mah antarè, tapi gedur jajantung matak tagiwur. Nahan rasa nu rumasa sanajan sèsa tapi geuning masih kuateun maksa. Basa harita kadeudeuh duaan teu manggapulia, èndah matak betah, bingah amarwatasuta.

Ramo nu lentik diusapan lalaunan, deudeuh nyai kikindeuwan. Ayeuna nyata aya sasarengan.

Sabot keur anteng, kadangu aya gorowok gigireun, “Kii, nuju naon. Naha ngusapan pager?” Sora halimpu incu ngagareuwahkeun. Gebeg!! Culang cileung, geuning sorangan di dieu tèh.

Itu Nini Ijah mah nuju mulungan runtah” Curuk bentik incu nojo ka juru taman. (AKW).

LATSAR – fbs

Pangalaman Latsar, adaw.

FIKMIN # LATSAR #

Bro, tulungan, sok aya nu noong mun keur mandi” pamènta ti babaturan awèwè nu ngiluan diklatsar.
Siap, keun ku Ibro urang bèrèskeun” Uing ngajawab pertèntang. Peutingna sanggeus apel malam langsung sasadiaan, nèangan gantar. Alhamdulillah aya beusi urut tihang bandèra. Lumayan.

Jam 03.00  hudang, beusi panjang dibawa. Keketeyepan muru jamban asrama putri. Muka panto, asup bari nèangan posisi strategis, keur ngagareuwahkeun nu beuki noong. Teu lila aya tiluan siswa awèwè nu rèk marandi. Pas ngaliwatan uing, tiluannana surti.

Nu tiluan mimiti nyoo cai dina bak panjang, maklum jamban asrama mah bak babarengan.

Kaciri dina para aya nu leumpang lalaunan ngadeukeutan.Pas diluhurueun, besi panjang dirojokkeun.

Coss!
Waddawww…”

Kolèang murag ti para.

Gejebur!!!…
Taaah, beunang……”
Babaturan awèwè rècèt. Uing ngadeukeutan nu murag, rèk diteunggeul beungetna sina kapok.

Peureup geus ngeupeul tinggal neunggeul, panon olohok. Eureun saharita.

Dihareupeun dina jero bak panjang. kaciri pelatih latsar, awak jibrug tarang bohak getihan. Cag. (AKW).

IHTIAR – fbs

Sugan tèh enya…

FIKMIN # IHTIAR #

Ngahuleng dina golodog bari ningalikeun nu ngaliwat. Sakapeung unggeuk mun aya nu uluk salam, tapi sok olohok ogè dina mangsana nu ngaliwat jiga hayam. Teu jadi ambek atawa kumaha, keun waè di ridokeun. Boa teu uluk salam tèh da teu ningali uing nu keur cinutrung.

Diuk di golodog tèh lain saukur keur ngabangbrangkeun rasa tapi justru dina jero hatè keur wirid nguatkeun du’a. Aya kahayang, aya pamaksadan. Ieu imah nu boga sagala carita, harita dina mangsana mitembeyan kahirupan rumah tangga jeung si jenat, rèk dijual.

Sugan wè bisa jadi rejeki duit nu leuwih barokah. Sanajan dina nyatana keur hèsè ayeuna mah, tapi tarèkah kudu tuluy diihtiaran bari teu poho, ngadu’a ka Allah nu Maha Kawasa.

Sabot melong kosong ka jalan nu geus suwung patalimarga. Reg tèh aya mobil boks eureun. Gebeg, asa kagareuwahkeun.

Ua punten nyanggakeun pakèt kanggè Uwa istri” gorowok supirna.

Can gè ngajawab, geus kareungeu nu lalumpatan ti jero imah. “Alhamdulillah pakèt tos darugi, nuhun Aa”

Jikan jeung maruna marahmay, bari  muru pakèt sèwang – sèwangan. (AKW).

Perpisahan Pak Bey & Jejak digitalku.

Dibalik momen haru dan sedih, ada penyempurna yang hakiki. jejak digital terpatri.

BANDUNG, akwnulis.com. Siang ini (19/02) adalah sebuah momentum penting bagi seluruh pegawai di Gedung sate karena hadir bersama pada acara perpisahan dengan bapak Penjabat Gubernur Jawa barat yakni Bapak Bey Triadi Mahmudin dan Ibu Amanda Soemedi yang telah menakhodai pemerintah provinsi jawa barat selama 17 bulan lebih.

Tulisan ini tidak mengulas suasana perpisahan yang mengharu biru, campur aduk antara haru dan biru eh sedih. Tapi inilah kenyataan yang harus dihadapi dan dijalani.

Nah di momen terakhir sambutan bapak Sekda, hadirlah di layar LED sebuah pantun berbahasa sunda. Jengjreng…. awalnya biasa saja. Dibaca sekilas dan berlanjut dalam sebuah rangkaian acara.

Tapi…. kok agak hafal untuk kalimat di barisan pertama dan kedua. Ada 2 kalimat yang terasa tidak asing. Tulisannya adalah :  ‘mapay desa nu baranang, manggih domba disimbutan. ..’

2 kalimat ini terasa akrab karena merasa pernah menuliskannya di suatu tempat. Tapi tentunya juga perlu pembuktian. Mengapa 2 kalimat itu memiliki hubungan khusus dengan diri ini. Langsung disalin saja 2 kalimat tersebut dan ditempelkan di kolom searching mbah google.

Tadaaa…..

Ternyata hadirlah urusan searching pertama dan kedua, salah satunya adalah alamat blog pribadiku. Tak sabar dibuka dan benar saja, 2 kalimat itu adalah tulisanku di tahun 2018 atau tepatnya 7 tahun  yang lalu.

Meskipun ternyata 2 kalimat tersebut hadir juga di laman kumparan.com juga website lainnya. Tapi yang membuat hati ini senang karena dengan jejak digital dapat dilihat siapa yang menulis duluan. Mayoritas beberapa website menulis dengan judul ‘Contoh pantun sunda‘ padahal sejatinya itu dibuat dan diupload oleh jemari ini pada tanggal 27 Nopember 2018 atas permintaan seorang kakanda yang beralih tugas dari jabatan Camat Boget Kabupaten Sukabumi dalam momentum perpisahan.

Ada terselip rasa senang karena sebuah tulisan 7 tahun lalu bisa hadir kembali dalam sebuah momentum resmi yang secara kebetulan adalah di lingkungan kerja sekaligus disaat perpisahan pimpinan tertinggi di lingkungan pemerintah provinsi jawa barat khususnya dengan para pejabat tinggi pratama, para pimpinan BUMD dan seluruh pegawai di Sekretariat daerah provinsi jawa barat.

Tulisanku 2018 itu adalah :
Mapay desa nu baranang
Manggih domba disimbutan
Aya mangsana datang
Aya oge mangsana amitan.

Dan sekarang di layar LED terpampang :
Mapay desa nu baranang
Manggih domba disimbutan
Aya mangsana Pak Bey datang
Aya oge mangsana Pak Bey amitan.

***

Rasa haru semakin bertambah, awalnya karena memang begitu terasa keteladanan dari Pak Bey selama menjabat Pj Gubernur Jawa Barat. Kasih sayang, kesederhanaan, ketelitian dan kemudahan komunikasi serta bejibun kebaikan – kebaikan yang beliau tunjukan sebagai seorang pemimpin yang hari ini menjadi saat – saat terakhir sebagai peje dan akan kembali bertugas menjadi eselon I di Kementerian Sekretariat Negara di Jakarta.

Dilengkapi dengan penyempurnaan dari hadirnya kalimat pantunku sebagai pengantar dari ungkapan perpisahan. Itulah indahnya momentum kehidupan dilengkapi dengan catatan dari jejak digital. Bagi yang penasaran, bisa dibuka tautannya disini :…. PANTUN PERPISAHAN – akw.

Selanjutnya sebagai penutup, maka pantun singkat langsung dibuat :
Makan tahu di pinggir pantai sambil naik kuda.
I love u bapak Bey dan Ibu Amanda.

Daun selasih tersemat lagi di depan mata.
Terima kasih dan selamat kembali ke Jakarta.

***

Itulah tulisan singkatku kali ini, sebuah tulisan yang dihadirkan dalam masa – masa perpisahan. Wassalam (AKW).

1 Hari 5 tempat – Ngajègang.

1 hari 5 tempat, gaskeun. purwakarta bekasi karawang subang bandung cimahi.

BANDUNG, akwnulis.id. Semerbak harum pagi menyambut langkah optimis untuk selalu menjaga syukur atas semua berkah Illahi. Memasuki kendaraan yang langsung tancap gas memasuki tol gate Pasteur dan meluncur membelah suasana pagi yang ditemani semburat sinar mentari.

Tak terasa kawasan rest area 97 sudah ada dihadapan mata. Kendaraan dikurangi kecepatan dan belok kiri menjadi secercah harapan karena ada hal yang harus dituntaskan.

Apa yang harus dituntaskan kawan?”

Jawabannya singkat, SARAPAN.

Yuk ritual makan pagi yang harus dijaga dan jangan terlewati. Meskipun sedikit tetapi menjadi kewajiban demi menjaga daya tahan tubuh dan menjalan tugas pekerjaan yang sedang diemban.

“Lha khan biasanya sarapannya dengan menu khusus yang ada roti gandumnya, telur rebus putihnya saja dan beberapa iris jeruk sunkist?”

Hari ini agak lain, karena menu tersebut tertinggal tadi di rumah. Sehingga alternatifnya tetap harus ada yang masuk ke dalam perut yang sudah bergejolak lapar ini. Maka pilihannya adalah sajian bubur ayam panas dengan pola self service di Kedai Mandiri dan tak perlu berlama – lama langsung dinikmati bersama kawan seperjalanan.

Perut tuntas terisi maka perjalanan dilanjutkan menuju titik pertama yakni di wilayah Kabupaten Bekasi tepatnya di Puskesmas Cikarang. Sebuah kegiatan kedinasan yang diawali dengan pelaksanaan apel pagi bersama seluruh pegawai puskesmas dilanjutkan dengan peninjauan pelaksanaan kegiatan yang diicanangkan pemerintah yaitu CKG (cek kesehatan gratis) bagi warna yang berulangtahun.

Tak berapa lama segera bergerak dari Cikarang, sebuah daerah yang begitu gercep. Karena setiap disebut apapun maka jawabannya adalah CEKARANG eh SEKARANG. (lol).

Gaskeun…..

Titik selanjutnya adalah berada 32 menit dari Cikarang yakni di daerah Teluk Jambe Kabupaten Karawang. Tepatnya di satuan pelayanan Griya Ramah Lansia yang menampung 75 orang lansia terlantar dari berbagai daerah di Provinsi Jawa Barat. Terdapat 31 orang lansia wanita dan sisanya adalah lansia laki – laki yang lebih nyaman dipanggil Abah atau aki.

Pertemuan singkat dengan mereka memberi energi baru dalam berkarya. Meskipun terkadang harus ber akting dan sedikit drama karena memposisikan sebagai anak atau malah menjadi cucu bagi mereka yang begitu haus dengan perhatian dari keluarga dan sanak saudara yang dengan berbagai alasan tidak bisa hadir untuk sesekali membersamai mereka, apalagi berkunjung rutin atau mengajak kembali ke rumah keluarga dan hidup di hari tua bersama-sama.

Makan siang menjadi momen lintas kabupaten kembali, karena dengan perjalanan hanya 1 jam saja via tol cipali dengan keluar pintu tol subang kota maka bisa menunaikan ibadah shalat dhuhur sekaligus makan siang gurame bakar di daerah kabupaten subang. Silaturahmi berlanjut lagi dengan jajaran pengurus utama BPR Jabar baik komisaris utama dan Direktur utama serta jajaran di direksi dan komisaris lainnya di kantor pusat sementara yang berada di daerah Jalan Cagak kabupaten Subang.

Sore hanya bergeser lagi ke acara di Perbatasan tangkuban parahu tepatnya di kawasan astro ciater highland dengan sebuah acara rapat kerja yang digelar oleh jajaran DKM Mesjid Raya Bandung dalam rangka evaluasi kinerja 2022 – 2024 dan rencana kerja 2025. Di kegiatan ini tentu menjadi ajang diskusi dan silaturahmi sekaligus menguatkan kolaborasi yang didetailkan dalam dokumen rencana aksi.

Setelah adzan magrib bergema barulah bergerak ke titik akhir yakni kembali ke area Jalan Diponegoro 22 alias kantor Gedung sate untuk mengecek dokumen – dokumen yang ada dan harus dilakukan paraf dan tandatangan secara langsung khususnya terkait urusan kontrak dan keuangan. Hingga tak terasa jarum jam menunjukan pukul 21.20 wib. Barulah sedikit rehat dan bercengkerama ringan dengan para petugas kebersihan yang masih stanby menemani kehadiran. Tidak lupa disajikanlah kopi hitam tanpa gula dengan metode seduh manual V60 dengan berbagai biji kopi yang tersedia dan dilakukan penggilingan secara mendadak.

Harum semerbak kopi memenuhi ruangan, menguatkan harapan dan memberikan kedamaian. Meskipun beberapa kawan masih tergagap disaat menikmati kopi hitam tanpa gula yang disajikan. Tapi menjadi sebuah hiburan bersama dan rasa lelah sedikit terlupa meskipun beredar lintas wilayah, karena saling berbagi tawa disaat melihat wajah mengkerut karena menikmati sajian kohitala (kopi hitam tanpa gula) yang rasanya mendekati rasa brotowali. Selamat berkarya dan ngajegang kawan, Ngariung Ajeg Sagala Bidang. Wassalam (AKW).

KUKURUBUKAN – fbs

Patuangan disada..

Fikmin # Kukurubukan #

Beuteung geus kukurubukan deui, padahal cikénéh di asupan kulub jagong jeung leupeut. Ahéng ogé, tapi dalah dikumaha, geuning kitu kaayaanna. Nya teu loba tatanya, digares wé nu aya hareupeun, gigireun jeung tukangeun. Aya rangginang sésa, bandros urut jeung wajit saetik. Belewek asuk kana baham muru beuteung nu beuki bentelu.

Karék ngarénghap tandaning wareg, jol téh si Etéh mawa bongsang. Jerona tahu sumedang, haneut tur seungit. Langsung dirawu, leungeun nyelesep. Tahu haneut karampa, teu antaparah dihuapkeun dituturkeun ku céngék domba nu ngiluan dina sisi bongsang ayana.

Cacamuilan jeung céplak ngahiji dina sungut nu samutut, parebut pahibut paheula-heula ngadahar tahu. Antukna silih surungkeun, aya ogé nu neunggeul. Atuh jegur téh paséa rongkah. Papuket silih cakar patinggorowok, embung éléh. Tahu sésa mancawura, pacampur jeung taneuh garing oge daun kacapiring.

Beuteung masih kukurubukan, tapi ayeuna mah teu lapar teuing sabab napsu kapegung geus manggih tungtung. Bisa bubak babuk ka batur bari babaung.

NGANTÈT – fbs

Ngotrèt deui basa sunda

Fikmin # Ngantèt #

Hayu euy latihan” Gorowok Si Acun bari mawa pakarang panjang ipis hèrang. Ajat, Apud jeung Uing geuwat nepungan. Ajat jeung Uing mawa bedog hèrang, ari si Apud mah leuwih gagah, tumbak panjang.

Geus ngumpul di tengah lapang, kabèh sayaga masang formasi. Usèp jeung Unang bagian nabeuh.

Jrèng dung jrèng dung jrèng!!!”

Ciaaat…..” kabèh ngembatkeun jurus, peureup jeung tatajong nu anca. Jungkir bari mawa pakarang. Tartib sakumaha pituduh ti Engko Jujun, guru sarèrèa.

Teu karasa latihan Wushu tèh lekasan, hasilna nyugemakeun. Dua poè deui rèk minton di buruan kantor dèsa. Gabung jeung grup liong ti lembur tatangga.

Balik tiheula nya, kè ngumpul deui di buruan masjid. Ulah poho mawa oncor tèa!!” gorowok Usep.

Siap kumendaaan” dijawab saur manuk.

Peutingna ngaji heula ti magrib nepika isya. Geus kitu ngumpul di buruan masjid, karèk ngabring nguruling lembur, pawey oncor Rajaban. Si Acun megat ti imahna. Suka bungah taun ieu, imlek jeung rajaban ngantèt. (AKW).

****