BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah pesan di whatsapps memberikan tantangan baru, karena diminta mereview sebuah citarasa yang tersembunyi dibalik biji kopi yang penuh misteri.
Diri ini bukan siapa-siapa, apalagi bicara sebuah citarasa. Tetapi hanya anak manusia yang seneng kohitala alias mencoba menikmati sajian kopi tanpa gula dengan proses manual dan ‘agak ribet‘ bagi beberapa orang karena dianggap terlalu mengada-ada. Padahal ujungnya sama. Segelas kopi yang tinggal diminum saja.
Nah, justru dalam tahapan proseslah akan hadir sebuah syukur dan makna tertentu yang diawali dari indahnya butiran biji kopi dengan keharuman alami. Lalu berlanjut dengan pembubukan… halah nggak enakeun, penggilingan biji tepatnya. Tentu dengan takaran tertentu yang berlaku di dunia manual brew.
Hingga akhirnya proses penyeduhan yang sesimpel mungkin dengan takaran 1 : 13 dan panas airnya 91° celcius, prosesi manual brew segera dilaksanakan…
“Bean nya apa?”
Eh iya lupa, ujug-ujug seduh. Atuh timbang dulu lalu grinder dengan ukuran 3 ke 4. Trus pasang kertas filter dan basahin pake air panas biar hilang bau kertas dan juga kemungkinan unsur kimia lainnya… dan jangan lupa, nama beannya adalah : Arabica Coffee WAGOKOPI.
Pilihan kopi dari tanah pasundan tepatnya dari dataran tinggi ciwidey. Hadir karena silaturahmi dan diminta untuk mereview sebuah rasa. Sangat tersanjung dan malu, karena bukan penyicip sejati. Tetapi menjadi sebuah tantangan, bahwa sensasi rasa yang hadir perlu dituliskan menemani catatan takdir meskipun bukan jaminan resmi karena memang bukan barista yang tersertifikasi.
Photo : Wagokopi tampak belakang / dokpri.
Sruputan perdana memberi sensasi rasa menggoda dengan body medium menuju bold. Menariknya ada selarik ninggal di ujung lidah dengan sensasi kacang tanah dengan tingkat acidity medium dan bergeser ke after taste ada rasa sensasi mint dan seulas lemon… yummy seger.
Itulah rasa dan sensasi yang hadir, dari keterbatasan kemampuan mengecap dan mengecup… eh, mengecap dan menelan atuh…
CIREBON, akwnulis.com. Sebuah pertemuan yang tidak disengaja terkadang harus berujung dengan sejumput luka. Apalagi ternyata luka yang hadir berupa guratan cerita yang mengakar dalam ketidakberdayaan serta runtuhnya dinding kepercayaan.
Itulah sebuah frase yang menyiratkan sebuah KECEWA.
Padahal jemari yang mengetik dengan rasa yang ada mungkin saja berbeda, itulah kekuatan literasi bahasa.
Photo : Kumbang Koksi / dokpri.
Jadi, janganlah ikutan galaw dan berprasangka yang tidak-tidak manakala menemukan untaian kata dengan ‘tone’ KECEWA.
Karena jika kecewa, segera ganti vokal akhirnya dengan hurup e, maka segera akan terobati. Tapi resep ini tidak berlaku untuk perasaan muak atau NGEWA (bahasa sunda)… karena hasil akhirnya berbahaya… 🙂
“Ngartos teu?”
Terserah sih, mengerti dan tidak itu adalah hak anda para pembaca setia blog ini, bukan kewajiban. Jadi silahkan saja yaah…yang pasti mah mari kita kembali ke paragraf awal tentang sebuah jumpa yang berakhir kecewa.
Karena awalnya bersua tanpa sengaja dengan si kecil lucu sang kumbang koksi yang seksi dengan warna merah penuh sensasi. Tiba-tiba hinggap di jemari tanpa basa basi dengan menghadirkan senyum yang saling mengisi. Maka tak ada kata lain selain memandang dan menikmati berbagai gerakannya dari mulai kepak sayap hingga gerakannya mengitari area jari jemari.
Tapi… itu tadi, ternyata di akhir harus tertoreh luka dan kecewa karena ternyata kumbang koksi ini yang juga sering disebut ‘sesedanan’ ini memiliki bentuk pertahanan atau perlawanan dengan mengeluarkan cairan yang berbau tidak enak.
Padahal bukan ancaman, tetapi hanya jemari lain ingin menyentuh, ternyata dimaknai sebuah serangan yang akan membuat dia terjatuh.
Jemari terpaksa ditepis dan sang kumbang koksi pergi tanpa perlu menangis. Selamat jalan kawan tak terduga yang datang tanpa berkabar tetapi harus pergi karena kesengajaan. Udah ah jangan nulis yang bikin galau ah. Hatur nuhun, Wassalam(AKW).
***
Catatan : Kumbang koksi atau Ladybug, Coccinellidae. Salah satu hewan kecil anggota Ordo Coleoptera.
CIMAHI, akwnulis.com. Aya rindat soca nu nyarengan angkatna waruga, aya sèrèdèt hatè basa anjeun ngalèngkah nonggongan bèja. Asa teu nyangki, geuning kedah kieu dina ahirna.
Photo : Pileuleuyan / dokpri.
Sanaos dikiatkeun supados cisoca teu murubut maseuhan raga, geuning sesah da èta mah tos aya tidituna. Kantun nyayogikeun salosin salempay kanggo nyusut sagalana.
“Janten tèga waè ieu tèh?” Geter soanten ngawakilan kapeurih, rasa hanjakal bet patepang basa harita.
“Terang bakal kieu mah, teu kedah tepang teras kenalan nya nèng?”
“Sumuhun Akang, duh hapunten samudaya kalepatan”
Soanten nu biasana halimpu, ayeuna mah asa seukeut ngarakacak manah. Ngaguratan nasib janten pasiksak teu puguh rasa. Marojèngja.
Sababaraha kali meureumkeun soca, sugan wè ieu tèh ukur impènan nu henteu nyata. Mung hanjakal dina mangsana beunta, anjeun tèh beuki nebihan bari ngagupay panungtungan.
Tungtungna mah nyuuh kana taneuh bari ngagukguk, ngabahèkeun bangbaluh rasa. Nitip ieu sadayana, supados hampang deui dina mayunan kanyataan yèn anjeun tos miang muru harepan sèwang-sèwangan. Cag. (AKW).
***
Fbs : fiksimini basa sunda, genre tulisan cerita fiksi singkat berbahasa sunda dengan maksimal 150 kata sudah membangun sebuah cerita.
KBB, akwnulis.com. Bersua dengan kamu memang tanpa sengaja, tetapi kerling mata dan gesture tubuh indahmu mendadak mempesona.
Photo : Taman mini bingit / dokpri.
Tak bisa mata lepas dari gemulainya, padahal jelas kamu bukan siapa-siapa.
Mencoba menahan diri untuk terdiam dan seolah tak peduli, tetapi tarikan keinginan begitu kuat untuk mendekatimu. Merasakan dan melihat lebih rinci tentang segala keindahanmu. Dilihat dan diamati seksama setiap senti tubuhmu yang mewakili betapa Maha Besarnya Illahi. Menciptakan mahluk indah yang begitu rinci dan seksi.
Tapi, setelah begitu dekat denganmu. Barulah disadari bahwa ada gelitik geli dalam hati melihat bulu halusmu dan berbagai sudut tubuhmu yang meruncing dan menghadirkan kegarangan dalam kelembutan.
Terpaksa akhirnya menahan diri dan harus memastikan bahwa kehadiran dalam pertemuan ini harus tetapi menjaga jarak menghindari persentuhan dan menjaga perasaan.
Photo : Lucu tapi geli / dokpri.
Karena jika tidak, maka kemungkinan rasa kegelian menyebar dan mungkin ditambah panas dan gatal yang tak berkesudahan.
Selamat menghiasi taman kehidupanku dengan kehadiranmu yang lucu imut meskipun menyimpan rasa geli dan kemungkinan menyebarkan kegatalan hakiki. Ternyata keindahan akan terpancar manakala dilihat dan diamati saja, karena jika diraba maka tanggung sendiri akibatnya.
Diawali dari harapan dan berujung pada syukur atas semua kenikmatan.
BDG, akwnulis.com. Jikalau jumat lalu bersua dengan biji kopi yang masih hijau meranum di dataran tinggi Ciwidey tepatnya di kecamatan Pasir jambu. Maka sekarang berhadapan dengan sang barista yang memberi peluang untuk memilih sebanyak-banyaknya opsi bean, suhu, ritual penyeduhan dengan putar kanan searah jarum jam.
Photo : Si Hijau misteri / dokpri.
Jangan sambil terlalu lama, mari putuskan pemilihan kopi ini dengan cara seksama.
Kali ini, keinginan menikmati coffee dengan strong acidity menyeruak dalam hati. Jadilah mata menjelajah mengitari botol-botol kaca besar yang berisi aneka bean yang menarik hati. Sambil tak lupa tanya-tanya sana sini
Tetapi akhirnya, pilihan jatuh kepada BANCEUY arabica medium air roasted yang diproduksi SIKICOFFEE.
Langsung order….
Sambil menanti barista mengolah rasa, maka sebuah syukur kembali membuka. Betapa seiring waktu dan kesempatan yang ada, kembali bisa menikmati.. eh akan menikmati kohitala di tempat-tempat yang berbeda dan miliki sejuta makna.
Alhamdulillah….
Nggak pake lama, sebuah sajian ciamik kopi hitam tanpa gula dengan metode manual brew V60 telah hadir dilengkapi keterangan bahwa suhu yang digunakannya dipastikan 90° celcius… tak sabar segera mencoba.
Tapi jangan lupa, diabadikan dulu sebelum dinikmati sebagai bukti bahwa hadirnya kohitala ini bosa terbingkai abadi.
Sruputan pertama memberikan sensasi nyata tentang kekuatan acidity alami yang dihasilkan dari biji kopi hasil ekstraksi bersua dengan kucuran air bersuhu tinggi…. nikmat tiada henti.
Photo : Strong Acidity Coffee / dokpri
Bodynya sih medium, tapi aciditynya wow haseum pisan… dengan profile fruitty dan tamarind serta suasana cafe yang cozy, memberikan kesempatan untuk sedikit menghela nafas dalam deru tugas yang begitu bertubi.
Itulah warna warni kehidupan, ada saatnya kita melihat harapan tumbuh yang diwakili biji kopi hijau memukau. Seiring waktu, harapan ini berproses, berinteraksi, berproses dan bergerak dengan berbagai pihak hingga akhirnya…… (ceritanya dipersingkat saja…) sekarang dapat tersaji menjadi nyata dalam bentuk secangkir kopi.
Terkadang, Pasangan yang ada bukan bicara rasa. TETAPI, bagaimana saling menjaga.
Photo : Pasangan Serasi / dokpri.
Contohnya Hand sanitizer mini dan sajian Kohitala V60.
Apakah berhubungan langsung?… tentu tidak. Jikalau dipaksakan disemprotkan ke gelas berisi kopi sajian manual brew v60, maka yang terjadi adalah pembolayan (cancel) untuk meminumnya karena jelas beresiko. Kecuali isinya diganti gula cair hehehehe…..
Teu nyambung sih, tapi lebih tenang menikmati kopi sambil sebelumnya semprotkan cairannya ke tangan dan gosokan dengan merata, baru ambil gelas untuk sruput tanpa perlu lama-lama.
Nah sekarang terasa terlindungi… karena tidak ada jaminan bahwa gelas yang tersaji dari sang baristi mungkun saja membawa kuman, virus atau bakteri
Wilujeng.. selamat menikmati kopi dengan hati yang lebih damai tanpa basa-basi. Wassalam, (AKW).
Pagi yang cerah dilengkapi dengan gerakan seribu langkah. Harapannya adalah kembali berolahraga meskipun bukan bergerak di alam bebas tetapi menjalani perputaran kaki sambil mengelilingi seluruh sudut area kantor yang ternyata cukup luas juga.
Photo : Kopi Adaptasi / dokpri.
Jam ditangan kiri menunjukan 2 ribu langkah telah terpenuhi, cukup sebagai awalan pagi ini. Berkeliling seluruh sudut ruangan di kantor baru dari mulai halaman depan hingga sudut arsip di lantai 3 paling belakang.
Setelah puas berkeliling, maka kembali ke depan dan menjumpai sudut khusus yang dikawal sang barista.
Kopiiii……
Maka diskusi sengit membahas body, acidity dan after taste sang kopi yang menjadi pilihan pagi ini…… tapi yang hadir bukan manual brew v60 tetapi cafelatte… dan tanpa gula.
Tadinya agak terhenyak karena berbeda dengan apa yang ada di benak ini, tapi tak masalah karena yang terpenting adalah sang gula terpisah, itu saja
“Kecewa?… karena biasanya disajikan manual brew V60 kohitala tetapi ternyata yang datang adalah sajian cafelatte?”
Photo : Berkeliling Kantor / dokpri.
Tentu tidak kawan, hidup itu adalah bersyukur dan adaptasi. Senantiasa berubah dan bergerak seperti yang dicontohkan jarum jam yang selalu setia menghitung ritme kehidupan.
Jadi, meskipun yang hadir cafelatte, nikmati dan syukuri saja… trus setelah terucap Bismillah maka selanjutnya sruputlah perlahan…. srupuut… slruup.. nikmaat.
Yuk menyesuaikan dengan kenyataan. Selalu semangat dan berihtiar tentu dengan pikiran yang dipenuhi harapan kebaikan. Amiiin… Wassalam(AKW).
SANGKURIANGDUA, akwnulis.com. Semilir angin sore kembali menggetarkan hati, mengingatkan kembali bahwa sebuah kenyataan telah berbeda dan harus dihadapi tanpa banyak basa basi.
Sesaat masih berfikir ini semua adalah mimpi, tetapi ternyata inilah kenyataan hakiki.
Perpindahan sebetulnya adalah hal biasa, dan jikalau dihitung berdasarkan catatan numerik maka merupakan jabatan ke struktural ke-15, atau klo dilengkapi dengan jabatan fungsional ‘buntut gajah’ dan sebagai staf yang baik karena sedang tugas belajar atau berpindah dari kabupaten ke provinsi, maka total dengan pelantikan ini adalah 19 kali…. waaah berarti sesuai dengan gelar yang disandang, M.Si (Mutasi Selalu Ikut) heu heu heu…
Hanya kali ini begitu mengharu biru karena ternyata disadari atau tidak, momentumnya begitu nyata. Disaat lagi sayang sayangnya harus berpisah karena sebuah komitmen pegawai negeri untuk siap ditempatkan dimana saja (asal di Bandung…. Amiiiin YRA).
Jangan salah sangka bahwa sayang pada siapa, tetapi ini sebuah ungkapan yang sebenarnya dikala hubungan tugas bersama seluruh mitra nyaris terjalin sempurna dan bersiap menapaki tantangan bersama dalam mengarungi terjangan gelombang serta tarian luwes untuk mensinkronkan regulasi dengan tetap menjaga sebuah nilai keuntungan dan akhirnya deviden bagi pemegang saham yang selalu dinanti.
Photo : Berempat untuk berpisah / dokpri.
Disadari atau tidak, ternyata memang cukup lama berada di Biro yang menaungi pembinaan Badan Usaha Milik Daerah. Meskipun setiap dua tahun sekali berpindah bagian, tetapi total di 3 jabatan ini ternyata memakan waktu 6 tahun. Waktu yang cukup panjang dan penuh makna serta asa.
Secara tergesa jemari tergerak mengabadikan momentum kebersamaan dengan meramu video dengan sumber photo-photo di hape lalu upload di youtube… ternyata…. banyak yang komplen karena dianggap tidak termasuk kenangan… padahal… memang baru sebagian photo-photo ditampilkan karena alasan data kepenuhan sehingga berganti memory card.
Tenang kawan, akan ada video lainnya dengan cerita ‘AKW di Biro BUMD‘. Sekarang sedang berjuang mengumpulkan kembali photo-photo lainnya yang sudah berserak ditempat yang berbeda.
Ya, disebutnya Biro BUMD saja ya. Karena seiring perjalanan kedinasan, nama biro ini sudah berganti 4 kali….
Jadi, nanti ada cerita lainnya yaa….. sekarang mah yang pengalaman terdekat saja dulu yaaa…..
Photo : Jalan pagi terakhir di Biro / dokpri.
Juga yang tak kalah penting adalah memetakan tugas-tugas di jabatan lalu sekaligus bersiap beradaptasi dengan lingkungan baru yang menantang karena dunia eh bidang berbeda dengan pekerjaan selama ini.
Selamat menjalani dan mensyukuri hari ini dan mengharap berkah untuk hari esok. Bismillah.Wassalam(AKW).
Patalimarga pasosorè di wewengkon Cihaliwung pabeulit da hayang paheula-heula. Geus ilahar sok aya nu ngabantuan ngatur jalan.
Jorojoy aya niat hayang mèrè dahareun, ulah duit sarebuan waè. Ngadeukeutan parapatan, kaciri nu keur riweuh leungeun pakupis bari gogorowokan, “Maju mang, majuu…. èta nu hareup eureun heula!”
Pas geus deukeut pisan, kaca mobil di buka, leungeun katuhu ngasongkeun kèrèsèk, “Ieu bolu hatur lumayan”
Plak, leungeunna lain nampa kantong kèrèsèk, kalah ka ditepak, murag ka jalan.
“Gejul Siah” Uing nutup kaca bari kekerot, gas ditincak ngadius samutut.
Acong tukang ngatur jalan nyisi ka pos ojèg, reureuh heula.
“Kunaon euy?” Jang Otay nanya.
“Eta supir rèk nipu deui cuy, mèrè kèrèsèk bari ngagorowok ‘bolu’, padahal jiga kamari eusina runtah pikarujiteun”
“Gableg wèh mobil, ari kalakuan teu balèg”
“Sabar Cong, boa teuing nu ayeuna mah jelema bener”
Duanana papelong-pelong, tuluy lalaunan leumpang muru ka parapatan.
Kaciri bolu siffon jeung cau bolen, ambarayah pejèt kagèlèng.
Photo : Suasana Kota dari jendela kamar hotel / dokpri.
akwnulis.com. Memasuki lobby hotel dan menanyakan posisi restoran dimana sebuah jadwal janjian tersusun sedari tadi. Ternyata cukup naik tangga atau via lift, supaya sedikit membakar kalori dan mengurangi berat badan yang bertahan, eh bertambah saban hari.
Meeting sambil makan siang yang tertunda ternyata nikmat juga. Berbincang dan membahas beberapa tema pentung serta rencana tindaklanjut kegiatan yang akan dilaksanakan bersama-sama.
Setelah selesai berdiskusi, maka kembali ke lantai lobby dan melakukan check in untuk mendapatkan kunci kamar. Prosesnya cepat karena kamarnya sudah dipesan sebelumnya via traveloka.
Lantai 13 menjadi pemberhentian pintu lift dan setelah keluar maka dicari nomor kamar yang tertera di bungkus kunci kamar. Kamarnya deket dengan lift, jadi mempermudah gerakan jika naik turun lobby dan kamar. Sambil melirik jam ditangan, waktu shalat magrib hampir usai.
Memasuki kamar, disambut dengan suasana muram dan tembok kamar yang terlihat kusam. Agak jengah dan kecewa karena berbeda dengan tampilan di traveloka, tetapi apa mau dikata. Minta pindah hotel tentu diperlukan tambahan dana.
Ya sudahlah, kita nggak usah mikirkan pindah hotel, lagian cuman 1 hari. Syukuri saja apa yang ada.
Simpan tas yang sedari tadi bertengger di punggung dan segera mengambil wudhu untuk menunaikan shalat magrib. Disinilah sesuatu yang berbeda terasa. Suasana kamar mandinya temaram dan pada saat sedang berwudhu serasa ada yang memperhatikan. Langsung dalam hati membaca doa perlindungan dan melihat ke sekeliling kamar mandi, kosong tidak ada siapa-siapa, hanya memang lampunya tidak terlalu terang. Ah mungkin ini hanya perasaan saja, setelah capek seharian melakukan perjalanan darat dan dilanjutkan marathon rapat.
Setelah shalat magrib dilanjutkan dengan membuka laptop dan membuat revisi bahan paparan esok hari. Kembali jemari terlarut dengan keyboard untuk menghasilkan kata-kata, gambar dan info grafis yang saling melengkapi. Hingga tak terasa, waktu sudah menunjukan pukul 22.00 wib.
Photo : Kamar mandi tempat berbagi / dokpri.
Nah, karena kegerahan juga serta sisa keringat tadi siang. Diputuskan mandi dulu sebelum beranjak tidur. Kembali masuk kamar mandi dan membuka pakain yang melekat di badan. Kamar mandinya memang terbatas karena tipe kamar hotel standar. Wastafel dan WC serta tempat terpisah untuk mandi dengan shower atas yang siap mengguyur badan ini. Pas menginjak lantai tempat mandi, kembali terasa ada sesuatu yang beda. Bulu-bulu halus di kaki dan tengkuk sedikit meremang. Ada apa ya?
Ah paling juga sugesti, jangan takut, udah mandi aja…..
Badan telanjang diguyur aliran air shower yang berlimpah dari atas kepala menyegarkan raga dan rasa. Secara reflek mata terpejam dan menikmati sensasi kesegaran yang ada. Butiran air membelai kulit begitu menenangkan, tetapi…..
Dikala mata terpejam dan guyuran air membasahi kepala hingga sekujur badan, konsentrasi terpusat dalam ketenangan. Ternyata disamping kanan sekitar 30 sentimeter saja, sesosok mahluk sedang berdiam sambil memandang…. Astagfirullohal adzim. Langsung matikan shower.
Trek.
Segera mata dibuka, tidak ada apa-apa. Hanya temaram kamar mandi yang sekarang terasa mencekam. Baca doa dalam hati sambil mempercepat membasuh badan karena sabun dan busa shampo masih menempel di rambut dan badan.
Tapi penasaran, jangan jangan memang masih ada. Sambil dada berdegup lebih kencang. Kembali menyalakan shower dan air hadir lagi mengguyur kepala….. tidak ada apa-apa, tentu dengan mata tetap terbuka.
Masih penasaran, coba mata dipejamkan lagi sambil menikmati guyuran air dari shower.
Ternyata…. mahluk itu masih adaaaa…… wajahnya hanya berjarak 30 sentimeter dari wajahku. Sesosok wajah tanpa ekspresi dengan seluruh tubuhnya berbungkus kain putih yang sudah kotor terkena tanah disana-sini.
Astagfirullohal adziim…. Hiiyyy…. kali ini reflek meloncat keluar kamar mandi sambil tak lupa menyambar handuk putih yang sudah tersaji. Keluar kamar mandi dengan degup jantung yang tak karuan, Ya Alloh ternyata mahluk itu terlihat nyata dan begitu dekatnya….. hiiiiiy.
Melihat jam di hape, jam setelah sebelas malam. Haduuh… pantesan udah malam. Tapi apa mau dikata kesegaran berbalut kekagetan…. ada ada saja.
Setelah mengenakan pakaian maka dengan menguatkan diri kembali memasuki kamar mandi untuk mengambil air wudhu untuk persiapan shalat isya.
Perlahan membuka pintu kamar mandi, aura mencekam ternyata masih melekat. Tetapi memang tidak ada apa-apa yang terlihat kecuali sisa uap air dari shower yang tertinggal.
Berwudhu tanpa memejamkan mata, khawatir terlihat kembali sosok menakutkan yang tadi ada.
Meskipun tetap saja terasa bahwa kehadiran mahluk itu masih ada, atau memang sudah lama ada disitu… entahlah.
Tapi…. penasaran juga… di coba ah.
Sambil berdiri didepan pintu kamar mandi, pejamkan mata perlahan dengan konsentrasi….
Walaaah…. segera membuka mata kembali dan bergerak menutup kamar mandi, karena ternyata mahluk berbungkus kain putih dengan kepala terikat diatas serta beberapa bagian tubuhnya pun terikat masih berdiri di tempat tadi. Tersenyum sih… tapi sekali lagi…. mengerikaaaan.
Ada pikiran pindah kamar atau keluar hotel pindah ke tempat lain, tapi tanggung udah mau tengah malam… dilema.
Akhirnya diputuskan berbagi saja, silahkan berada di kamar mandi tetapi jangan keluar kamar mandi selama diriku ikut tidur semalam ini disini.
Tuntas shalat isya dilanjutkan dengan membuka quran dan mengaji sebisa-bisa. Lalu diteruskan dengan lantunan murottal dari laptop hingga akhirnya diriku terlelap dibuai mimpi.
Esok hari kembali berwudhu dengan kewaspadaan tinggi, tetapi relatif tidak mencekam lagi karena sebentar lagi akan terbit pagi, Alhamdulillah.
Itulah sekelumit kisah nyata di sebuah hotel berbintang yang berada di sebuah kota di provinsi Jawa Tengah pada bulan desember lalu.
Ditulis sekarang sambil berkumpul bersama keluarga tercinta.
Selamat long weekend di rumah saja ya kawan. Jangan lupa jaga protokol kesehatan. Wassalam(AKW).