OPERASI PATAH KAKI

RS IMANUEL, akwnulis.com. Sambil tertatih dan berfikir keras, raga bergerak menuju kantor untuk menyelesaikan berbagai tugas pekerjaan administratif yang menumpuk, sekaligus proses pengajuan cuti sakit di mulai. Secara simultan juga mencari informasi terkait dokter spesialis bedah orthopedi lain sebagai ‘second opinion’ terkait kondisi ruas jari kaki yang patah menyilang sekaligus antisipasi penguatan menghadapi operasi yang cukup mengguncang perasaan.

Esok harinya (20/01) bergeraklah ke RS Immanuel dan mengikuti prosedur pendaftaran sebagai pasien baru dengan status rawat jalan. Ternyata opini dokternya sama, harus segera operasi karena beresiko radang dan merusak jaringan.

Maka… dikuatkan hati dan yakini bahwa ini jalan terbaik. Proses selanjutnya dukungan pembiayaan, berlanjutlah koordinasi dengan pihak administrasi rumah sakit dan pihak prudential selaku mitra asuransi dipastikan untuk segera dilakukan proses operasi melalui mekanisme rawat inap. Diminta 1×24 jam untuk menunggu dan setelah itu bisa segera masuk ruang rawat inap.

Bismillah….

Namun tetap saja, proses operasi ini perlu dana dan disitulah pelajaran penting kembali menyentil diri agar selalu memiliki cadangan anggaran darurat, karena kehidupan memang ada suka dan dukanya. Alhamdulillah dukungan asuransi, dan keluarga terdekat serta tabungan pribadi bisa mengatasi.

Alhamdulillah juga dukungan penuh keluarga dan rekan – rekan kerja memberi semanģat dan kekuatan mental untuk menghadapi semuanya.

Tetap tampil tegar dan seakan menghadapi proses operasi adalah hal biasa, padahal rasa khawatir hadir karena selama ini tidak pernah berurusan dengan rumah sakit secara pribadi, maksudnya dirawat langsung.

Kalau nganter yang dirawat dan ngurus – ngurus mah udah biasa, tapi pas diri sendiri mau operasi… terasa ada hadir rasa khawatir dan banyak pikiran kemari kesana.. eh kesana kemari.

Sabtu (22/01) resmi masuk kamar 811 Gedung Alkemi RS Immanuel dengan pengawalan penuh dokter pribadi istriku tersayang…. dan dimulailah rangkaian persiapan pre-operasi. Oh iya tes PCR menjadi penting dan tuntas sebelum naik ke kamar perawatan. Periksa darah, rontgent, pasang selang infus, periksa rutin tekanan darah secara berkala dan suhu… sampe bosen tuh bolak balik sang perawat… tapi itulah prosedurnya.. jalani dan nikmati. Tepat pukul 22.00 wib setelah pemeriksaan tekanan darah dan dinyatakan stabil normal, maka diputuskan untuk persiapan operasi esok hari…. aduuh.. kok ngilu yach membayangkannya.

Minggu (23/01) Shalat shubuh baru tuntas, langsung persiapan operasi dengan berganti baju khusus berwarna purple…. unyu unyu.. dan ternyata tidak boleh ada selembar pakaianpun… weleh weleh… ada rasa malu dan risih. Namun apa mau dikata, prosedur harus dijalani, khan nggak keren atuh kalau operasi gagal atau ditunda gara-gara nggak mau nyopot kolor kesayangan heu heu heu.

Nah tepat jam 06.00 wib, para perawan… eh perawat datang dan membawa daku beserta pembaringan bergerak keluar kamar menyusuri lorong, masuk dan keluar lift hingga akhirnya ke ruang tunggu operasi yang berAC sangat dingin…. walah, udah mah telanjang trus cuma dibungkus selembar kain ungu… kerasa banget dinginnya… nunggu lagi…. brrrrrrrrr.

Sesuai jadwal, tepat jam 07.00 wib bergerak ke ruang operasi  kembali dipindahkan ke meja operasi yang ternyata hangat membelai kepala, punggung dan bokong hingga kaki bagian belakang… nikmat.

Lalu terdengar intruksi, “Obat bius segera kami masukan ya pak, sebentar lagi bapak akan tertidur”

Benar saja, setelah suntikan dilakukan ada rasa hangat yang mengalirkan kenyamanan di selang infus pada tangan kiri, terasa badan ringan dan…. terlelap.

***

Kayaknya seblak enak buat makan siang” Celoteh para Ko-as menyadarkan diri ini dan memulihkan kondisi diri setelah operasi pemasangan sekrup titanium di ruas jari kaki kiri.

Ternyata 2,5 jam telah berlalu, dan raga ini kembali terbaring di ruang tunggu operasi menunggu jemputan perawat ruangan. Tak berapa lama raga dipindahkan ke tempat tidur yamg menanti di luar ruang operasi, disambut sukacita istri tercinta yang menunggu dengan waswas dan kekhawatiran. Alhamdulillah, proses operasi patah kaki kiri berjalan lancar dan sukses.

Segera tempat tidur yang berisi diriku bergerak menyusuri koridor RS, naik lift dan masuk kembali ke kamar perawatan di lantai 8 gedung Alkemi. Selamat beristirahat. Wassalam (AKW).

***

Ini berdasarkan kisah nyataku dan ternyata dengan menulis bisa sedikit mengalihkan rasa sakit dan linu pasca operasi.

PATAH TULANG 2

Cerita nyata sambungan dari cerita PATAH KAKI…

CIMAHI, akwnulis. Inilah kisah selanjutnya dari cerita PATAH MENYILANG yang terjadi senin (17/01) lalu. Sebuah pelajaran berharga dari sebuah kejadian.

(Ini cerita kisah nyata ya…. )

Hayu kita lanjutkan…

Apel pagi telah usai dan dilanjutkan briefing santai sambil berdiri bersama pak bos dan rekan – rekan struktural. Sambil diselingi tertawa, pembicaraan mencair jauh dari kesan formal. Beberapa informasi lanjutan tersampaikan dan intruksi pimpinanpun hadir untuk dilaksanakan.

Namun di saat akan merubah posisi kaki kiri, terasa linu menusuk hati. Datang dari telapak kaki kiri di pinggir kiri. “Wah kayaknya bener ini keseleo.”

Karena sakit semakin tidak tertahan, beringsut ijin untuk mendahului memasuki ruangan. Ternyata setapak demi setapak langkah kaki begitu menyakitkan. Peluh mulai hadir menandakan raga menahan dengan keterpaksaan. Tapi jangan galau, mari lawan kesakitan ini dan berihtiar untuk penyembuhan.

Punten, panggil Pak MSR” Sebuah permintaan meluncur dari mulut ini dan langsung ditanggapi rekan-rekan. Pak MSR ini adalah pegawai di kantor yang juga punya keahlian memijat urut serta membantu salah urat, keseleo dan aneka kepegalan dalam raga kehidupan.

Tak pake lama, pak MSR hadir dengan minyak zaitun sebagai senjatanya. Tangan terampilnya segera memegang telapak kaki kiri dan menjelajahi kemungkinan urat – urat yang bergeser akibat ‘tijalikeuh‘ tadi.

Ada rintihan dan beberapa teriakan tertahan di saat proses urutisasi terjadi. Sebuah harapan terpatri, semoga segera membaik karena tugas strategis menanti.

Tugas strategis apakah?”

Tugas strategis banyak atuh, sesuai peran dinas. Namun minggu ini sebuah rapat kerja dengan Komisi II DPRD Provinsi Jabar menjadi prioritas, yaitu pembahasan tentang raperda inisiasi desa wisata dan Neraca Satelit Daerah… yang lokasinya di ujung selatan sukabumi tepatnya di kawasan Ujung Genteng Kabupaten Sukabumi.

Maka kondisi kaki yang tijalikeuh tidak menghalangi keberangkatan, meskipun tentunya ada sebuah rasa ‘nyanyautan‘ sepanjang jalan selama kurang lebih 7 sampai 8 jam.

Cara mengalihkan rasa sakit tentunya dengan melakukan aktifitas yang menjadi hobi pribadi, yaitu menikmati sajian kopi dan mendokumentasikan dalam bentuk tulisan di blog www.akwnulis.com serta membuat video yang selanjutnya di upload di kanal yutub @AKWchannel.

Hasil tulisannya bisa dibaca di KOPI HITAM & LAUT UJUNG GENTENG dan KOPI HALU BANANA – Pelabuanratu serta PAKANCI – fbs.

Nah untuk video di kanal youtube ada beberapa yang dibuat yakni : MENIKMATI KOPI DI PALABUANRATU SUKABUMI lalu UJUNG GENTENG – CILETUH : mantay kerja kerja monitoring ngopi.

Alhamdulillah tugas dinas yang diemban bisa dituntaskan berlokasi di ruang pertemuan villa ujang ujung genteng, meskipun dengan setelan sebelah kaki menggunakan sendal jepit karena kaki kiri ternyata bengkak dan linu – linu setiap digerakkan plus semaleman sulit tidur karena ternyata sakitnya itu semakin meningkat. Param kocok dan obat oles sedikit menghibur dan mengalihkan rasa sakit tersebut.

Tentunya satu hikmah bahwa kesakitan ini mengingatkan diri bahwa diri ini adalah mahluk lemah yang tiada daya upaya tanpa kehendak Allah Sang Maha Pencipta. Hanya terkilir eh tijalikeuh saja, betapa segala aktifitas terganggu dan terasa tersiksa. “Alhamdulillah cuma kaki kiri yang terkilir, bagaimana kalau dua-duanya?”

Nah setelah tuntas bertugas, maka selasa sore (18/01) bertolak kembali ke bandung menempuh perjalanan panjang nonstop 7 jam 12 menit dengan tentunya menahan sakit di kaki kiri yang terlihat tidak baik – baik saja.

***

Suasana pagi hari di halaman RS Halmahera Bandung sudah ramai kendaraan dan lalu lalang orang. Dibantu sang Driver untuk registerasi pasien baru, maka tinggal duduk manis di mobil dan setelah menunggu sekitar 35 menitan, baru beringsut masuk dengan tertatih-tatih.

Prosedur periksa tekanan darah dan keterangan diri, isi formulir, dipanggil suster, diperiksa dokter, disuruh rontgent, balik lagi ke dokter… daan… inilah hasilnya : ruas tulang kedua diatas jari kelingking kaki kiri patah menyilang.

Astagfirullohal adzim, patahnya menyilang dan menghasilkan 2 ujung tajam”

Tanpa banyak diskusi, pak Dokter dengan lugas dan singkat meminta operasi segera karena beresiko radang dan merusak jaringan. Resep dituliskan dan keluar dari ruang dokter menuju ruang administrasi… nah ini yang degdegan… bukan untuk ambil obat dan bayar rawat jalan tapi… estimasi kemungkinan operasi serta biayanya yang ternyata mendebarkan hati.

Benar saja, biaya obat-konsul-rontgen hari ini dibawah 1 juta, namun estimasi jika operasi disini sekitar 50jtan cukup menyesakkan… duh aya-aya wae.

Berbagai pertimbangan hadir di benak ini, meskipun rasa sakit mendera namun tindak lanjut segera menjadi utama. Maka diskusi dengan istri sudah pasti, kontak agen asuransi juga dilakoni termasuk opsi apakah cukup ke ahli patah tulang saja?… semua berseliweran di kepala. Tapi nanti dulu… ini mewakili pimpinan di acara IKAPI juga menanti… ya udah meluncur dulu dengan tertatih dan meringis tapi tetap tugas harus dilaksanakan karena belum mengajukan ijin cuti…. (BERSAMBUNG).

***

LIBURAN GAGAL / PAKANCI BEDO – bilingual

Cerita bilingual Sunda – Indonesia, tentang piknik dan emosi.

CIMAHI, akwnulis.com. Hari ini adalah tanggal merah ditengah minggu, eh nggak ditengah juga ya karena hari selasa. Tapi tetap saja hari libur tambahan yang bisa menjadi kesempatan bagi pegawai yang fulltime senin hingga jumat dan terkadang sabtu – minggu ada tugas tambahan, ini adalah kesempatan baik untuk berkumpul bersama keluarga atau pergi bersama anak istri untuk memaknai ‘family time’ yang begitu berharga.

Namun, diri ini masih belum bisa ikut beredar bersama karena masih harus bersabar berdiam di rumah dengan segala keadaannya sambil menunggu pemeriksaan dokter dan intruksi selanjutnya pasca operasi patah tulang telapak kaki kiri ( Cerita lengkapnya di tulisan PATAH MENYILANG).

Maka untuk menjalani hari – hari di rumah ini, istilahnya bedrest aja. Padahal nggak di bed / tempat tidur terus. Mandi, makan atau berjemur tetap bergerak meskipun tertatih menggunakan kruk penyangga yang dirasakan menjadi mudah lelah karena di kala bergerak atau berjalan dengan menggunakan kekuatan kaki kanan dan kruk penyangga cukup menguras stamina.

Nah, salah satu pembunuh waktu adalah berusaha terus ‘produktif’ untuk menghasilkan sesuatu karya sesederhana mungkin. Inilah salah satunya, membuat video tentang cerita singkat berbahasa bilingual… ciee gaya khan. Tapi bukan inggris – indonesia, ini mah Indonesia – sunda, alias bahasa sunda dan bahasa indonesia… “Boleh khan disebut bilingual?”

Cerita sederhana dengan tema ‘family time’ yaitu jalan – jalan bersama keluarga, namun di tengah jalan ada kejadian tidak terduga. Inilah ceritanya :

FIKMIN # PAKANCI BEDO #

Keur anteng opatan mapay jalan numpak sèdan kaluaran anyar. Silih gonjak adi lanceuk jeung indung bapana. Kaca jandèla dibuka opatannana amèh karasa hiliwir angin kabagjaan. Tirilit, sora telepon asup. Bi Konah ngalieuk ka salakina nu keur anteng nempoan sawah di sisi jalan.

Bah, aya telepon tah”
Pang angkatkeun wè Ma” Mang Osid ngajawab bari ngagèlèhè.

Ih si Abah centil” Nèng Usi seuri ningal kalakuan nu jadi bapa. Jang Kèmod anteng nyetir.

Pas bi Konah rèk ngangkat telepon, kabaca dina layar hapè, ‘Cintaku Bebebku Jikanku’. Gebeg, bi Konah ngabigeu, karasa jajantung eureun. Hapè dicekel bari awak ngeleper. Belewer hapè anyar salakina dialungkeun ka jalan. Paburantak diadu jeung aspal.

Abaaah….. siah tèga pisan nyalingkuhan Uing, najisss!!!” Bi Konah ceurik bari nyakaran Mang Osid nu bingung teu puguh peta.

Jang Kèmod jeung Nèng Usi ngembang kadu. Di imah, anak bi Konah nu panggedèna nyobaan deui nelepon ka hapè bapana makè hapè indungna nu tinggaleun tadi isuk dina bangbarung.

***

Begitu ceritanya guys… paham khan?”

Enggak mas, mboten ngèrtos”
Roaming aku kawan”

Nah inilah maksud bilingual, maka jika dilakukan terjemahan bebas dengan bahasa indonesia jadi begini ceritanya :

CERITA # GAGAL LIBURAN #

Dikala berempat menikmati perjalanan di kendaraan keluaran terbaru. Saling bercanda antara adik dan kakak bersama kedua orang tuanya. Kaca jendela mobil semuanya dibuka agar terasa hembusan angin kebahagiaan yang ada.

Beep.. beep!

Getar telepon genggang punya sang ayah, ada telepon masuk. Bu Kinasih menengok ke arah suaminya yang sedang fokus melihat hijaunya tanaman padi di sawah sepanjang jalan.

Pap, ada telepon masuk”
Tolong diangkat telelponnya mah” Pak Osada menjawab sambil bersandar manja di bahu istrinya.

Ih papih ganjen” Neng Usi tertawa melihat perilaku ayahnya. Kiko sang kakak tersenyum sambil memegang setir mengendalikan arah kendaraan.

Disaat Bu Kinasih akan mengangkat telepon, terbaca dilayar smartphone ‘Cintaku Bebebku Istriku’.. Bu Kinasih kaget dan terdiam, detak jantung terasa berhenti. Hanphone dipegang sesaat dan reflek dilempar ke luar jendela mobil.

Brak!! Pecah berantakan beradu dengan aspal.

Papahhhh!!!… kamu tega menyelingkuhi mamah, najiss!!”

Bu Kinanti meraung dan menangis sambil menyakar wajah suaminya. Pak Osada terdiam, bingung. Kiko dan Usi sama – sama bingung, tidak bisa berbuat banyak.

Sementara di rumah, Anto anaknya yang paling besar mencoba kembali menelepon ayahnya menggunakan handphone Bu Kinasih yang tertinggal di rumah tadi pagi di dekat pintu kamar.

***

Begitu terjemahan singkatnya. Jadi apakah perjalanan piknik ini berlanjut atau tidak dan suasana hati Bu Kinasih masih galau atau tidak, silahkan lanjutkan dengan persepsi masing – masing pembaca. Selamat jam seginiih, Wassalam (AKW).

PATAH MENYILANG

Sebuah cerita di senin pagi, Tijalikeuh mahal.

BANDUNG, akwnulis.com. Senin pagi ini terasa berbeda dan sedikit menegangkan. Mentari pagi juga terasa menyorot lebih kencang  sehingga keringat begitu mudah hadir dan perlahan tapi pasti mulai bercucuran.

Sebabnya sederhana, salah perhitungan kondisi jalanan. Jika biasanya relatif lancar atau merayap cepat, kali ini terdiam macet semenjak keluar komplek. Alamak…. gaswaaat, apalagi sudah ditugaskan untuk menjadi pembina apel di senin pagi.. teganglah awak.

Kembali melihat kondisi jalanan yang terdiam dan cuaca panas menambah kebimbangan. Tapi otak harus tetap fokus, dan hati tenang dengan mencoba berdzikir dan berdoa. Sekaligus berfikir alternatif memggunakan kendaraan roda dua.

Langsung aplikasi google map dan waze dibuka dan dianalisa. Tertegun sesaat  karena ternyata kedua aplikasi sepakat bahwa menggunakan motorpun tidak lebih cepat karena banyak obstacle diperjalanan dibandingkan menggunakan mobil yang terbantu dengan akses jalan tol baros – pasteur.

Sedikit demi sedikit beringsut menapaki jalan sambil tetap tatapan tajam pada detak jam digital yang terasa begitu cepat bergerak. Ada sejumput sesal karena lupa bahwa senin ini (17/01) adalah dimulainya PTM (pembelajaran tatap muka) di semua tingkatan pendidikan. Otomatis semua tumpah ruah di pagi meriah pada jam antar menuju masing – masing sekolah.

Akhirnya nafas sedikit lega setelah memasuki pintu tol baros menuju Kota Bandung via tol pasteur, kemungkinan waktu tempuh bisa diperkirakan…. cusss.

Tapi kenyataan berbeda, keluar pintu tol bejubel juga dan setelahnya dihadang oleh kemacetqn di perempatan jalan pasteur – suryasumantri.

Alamak, ada apa ini?” Gerutu mulai hadir dalam dada. Tapi apa mau dikata  hanya pasrah saja dalam balutan ketegangan dan istigfar, serta keinginan menghentikan sesaat waktu di jam digital karena kemungkinan kesiangan sangat terbentang.

Dan benar saja, turun dari jembatan layang paspati dihadapkan dengan kepadatan di pertigaan gasibu… walah sisa waktu tinggal 5 menit ke waktu apel pagi… kemungkinan tidak tercapai..

Tenang… tenang, Subhanalloh Walhamdulillah Wala Ila Haillallah Allahu akbar.

Akhirnya… hambatan terakhir di jalan anggrek terlewati dan masuk ke gerbang kantor. Buka pintu mobil lalu bergegas menuju tempat apel pagi di halaman kantor.

dan…. 8 menit terlambat… rekor baru setelah berbulan-bulan absensi selalu bersih dari keterlambatan. Kali ini tidak bisa menghindar dan harus hadapi kenyataan. Ada sesal mendalam dan memberi sejumput kalut di pikiran sehingga untuk sesaat konsentrasi buyar.

Dikala langkah kaki kiri tergesa, dan sedikit meloncati pot kecil untuk menghemat beberapa detik berharga.

Krakk!!’ Suara keras dari telapak kaki kiri, tapi tidak menghalangi langkah selanjutnya. Menempati posisi peserta apel pagi dengan sedikit nyeri mulai menjalari hari.

Tuntas bapak bos memberikan arahan di apel pagi, atas ijin beliau maju ke depan dan menyampaikan beberapa hal sekaligus melakukan push up 10x hitungan atas nama konsekuensi keterlambatan.

Apakah itu wajar atau berlebihan?” Sebuah tanya menemani kenyataan, tapi biarlah masing – masing individu punya hak sendiri dalam memberi penilaian. Yang penting sebagai seorang birokrat muda yang pernah diajarin leadership knowledge, menjadi pimpinan itu harus memberi teladan yang baik sekaligus bertanggungjawab dikala melakukan kesalahan.

Itulah asal mula cerita kecelakaan… eh kejadian luar biasa yang menimpa kaki kiri ini. Sebuah momentum ‘Tijalikeuh’ atau kejiklek atau keseleo yang seolah ringan…. ternyata…. patah karena takdir Allah SWT…. (AKW).

(Bersambung)….

PAKANCI – fbs

Ide cerita di pantai selatan Ujung genteng Sukabumi..

CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah perjalanan memberikan inspirasi menulis dalam berbagai sisi. Tentu tulisan utamanya adalah cerita perjalanan yang nyata meskipun tetap harus bertema. Tema utamanya adalah NGOPAY dan NGOJAY, tapi karena berenang (ngojay) tidak memungkinkan maka jadinya MANTAY (main ke pantai) dan hasilnya adalah 2 tulisan serta video di youtube. Ini tulisannya :

1. KOPI HITAM & LAUT UJUNG GENTENG.

2. KOPI HALU BANANA – Pelabuan Ratu.

Ternyata ide dari perjalanan ini masih ada, dan dicoba ditulis dengan genre berbeda yaitu di ranah reka atau fiksi dengan tulisan berbahasa sunda yaitu fiksimini sunda.

Tulisannya singkat, hanya 149 kata saja. Nggak percaya?… silahkan hitung saja kata perkata.

Tetapi sudah membuat cerita singkat yang di paragraf akhir memberi peluang untuk melanjutkan cerita sesuai ekpektasi pembaca… seru khan?..

Ya sudah kalau penasaran, silahkan dibaca. Jikalau tidak paham kata dan kalimatnya, DM aja kakak… IGnya @akwnulis dan @andriekw.

Silahkan….

FIKMIN # PAKANCI #

Anjog ka vila geus ngaliwatan indung peuting, kaayaan simpè dibaturan hawar – hawar sora lambak laut kidul. Di gerbang vila, lalaki tengah tuwuh ngajentul, nungguan.

Ieu sosina jang, itu vilana” curuk pèot bentik kana wangunan di juru beulah katuhu.

Nuhun bah”

Uing leumpang sorangan muru vila, “Naha teu nganteur nya?”

Ah teu loba mikir, nu penting geus boga sosi. Tinggal asup vila, ucul-ucul, mandi, ganti baju, sarè, sanggeus 8 jam numpak èlf  ayeuna mangsana rinèh.

Assalamualaikum…” Uing uluk salam, ukur syarat wè. Da angger simpè. Sosi dicolokkeun, cetrèk. Panto muka, tepas simpè rada meredong.

Mèh teu keueung, muru cetrèkan lampu, urang hurungkeun kabèh. Aya deukeut panto ka pangkèng.

Cetrèk. Burinyay.

Peureum sakedapeun, sèrab. Pas beunta hookeun. Tepas jadi badag  aya korsi karajaan jeung lampu gantung nu baranang. Sagala inuman jeung bungbuahan dina bokor emas ngaleuya.

Dalapan punggawa kènca katuhu ngabedega. Duaan maju kahareup bari nyembah dokoh pisan, “Wilujeng sumping Pangèran…”

***

Terima kasih yang sudah berkenan membaca sampai tuntas. Tulisan ini hadir sambil menemani recovery pasca operasi patah kaki.

Wadduh patah kaki kenapa?.. operasi dimana?…”

Nantikan tulisan selanjutnya, Wassalam. (AKW).

KOPI HALU BANANA – Pelabuanratu.

Sruput Kopi di Palabuanratu…

PELABUHANRATU, akwnulis.com. Perjalanan 5 jam Bandung – Sukabumi, tepatnya Pelabuan ratu cukup melelahkan, meskipun sempat sedikit rehat di daerah Warung kondang. Berhenti sesaat dan bersilaturahim dengan kolega lama adalah sebuah cara menjaga marwah persahabatan hakiki tanpa tendensi apa-apa.

Dikala kendaraan mulai melewati daerah Warung kiara, sudah pede bahwa sebentar lagi tiba. Eh ternyata jalan masih berkelok meliuk-liuk melewati punggung bukit dan lembah hingga menemukan daratan rata memasuki wilayah Citarik dan  daerah Bagbagan, wah sebentar lagi tiba.

YOUTUBE : NGOPI DI PELABUAN RATU

Langsung jemari searching keyword ‘cafe kopi pelabuanratu’, jreng…. beberapa nama cafe dan warung kopi hadir di hadapan. Semua memberi harapan namun tetap harus ada pioritas yang akan didatangi karena waktu terbatas dan hari sudah menjelang malam.

Tapi kembali, kesenangan menikmati kohitala ( kopi hitam tanpa gula) harus ditahan sejenak karena ada panggilan dari penguasa untuk sowan sejenak ‘bisi teu diaku dulur’ ( takut nggak dianggap saudara). Maka diskusi hangat dan berbagai trik dan tips kehidupan didapatkan dari percakapan sore yang santai. Baik tentang persahabatan, alternatif masa depan mengikuti perkembangan jaman, hingga tata etika non feodalisme dilengkapi dengan derai tawa dan desah nafas kepedasan setelah menyantap sajian indomie kuah bertabur potongan cabe rawit dan secangkir bandrek panas, maknyus guys.

Setelah ucap pamit dengan berat hati, maka kembali membuka smartphone dan meneruskan pencairan eh pencarian kafe kopi tadi dan berhitung jarak. Juga iseng dikirim pesan pada nomor yang tertera, terutama terkait metode pembayaran karena uang cash tinggal selembar. ‘Kami nggak punya mesin EDC, tapi bisa bayar via QRIS’…. Jawaban yang melegakan… meluncurrr.

Ngengg…. dengan patokan SPBU dan TPI ( Tempat pelelangan ikan) Pelabuan ratu. Kami menuju TKP (Tempat Ko Pi) yang bernama Kafe Kopi Siliwangi…. ternyata dekat dari tempat sowan tadi, hanya 4 menit guys.

Tempat kafenya strategis di jalan besar dengan posisi nongki bisa outdoor ataupun indoor, tinggal selera masing-masing untuk sekedar duduk diluar sambil merokok atau di dalam mendengarkan suara penyanyi yang sing a song santai pake karaoke youtube.

Tiba di dalam kafe langsung menyerbu ke tempat barista dan menemukan 2 buah bean sebagai calon sajian V60 yaitu Bean arabica halu banana dan bean arabica karo  sumatera. Asyiiik….. coba yuk ah.

Eits disamping kanan ada mesin roasting, wah keren nich. Bisa ngatur kualitas dari bean yang tersaji…. jadi penasaran.

Kang, pesen V60 yang arabica halu banana dilanjut yang arabica karo sumatera”

Siap Kakak, moo pake 1 : 10 atau 1 : 15?”…

Mainin 1: 10 dong, makin strong makin mantab”

Ditunggu Kakak”.

***

Sambil menunggu prosesi seduhan manual oleh sang Barista maka mencoba menikmati suasana dan mendengarkan dendang lagu yang sedari tadi membahana. Berdamai dengan keadaan dan ikuti vibe yang ada, maka rasa nyaman akan tercipta.

Sajian pertama hadir, Arabica Halu Banana yang diseduh oleh kang Sandi sang Barista yang tenyata satu aliran yaitu grup suhu sembilan dua. Sruput perdana membuahkan rasa, kepahitan body medium strong menenangkan raga yang sedikit terganggu karena nyeri di kaki kiri yang tadi pagi terkilir di halaman kantor di saat mengejar apel pagi bersama.

Acidity khas arabica halu yang medium up, terasa menyapa langit-langit mulut dan berakhir dengan after tastenya fruity serta selarik rasa banana memenuhi janji namanya… sruput lagiii..

Sajian kedua adalah Arabica Karo Sumatera, Bodynya strong dan acidity medium standar plus aftertaste sedikit hampa. Tetapi tetap dibalik kepahitannya hadir sebuah kesadaran bahwa kenikmatan menyeruputnya bisa mengurangi kenangan pahit bersamanya, ahaay.

Yang pasti kedua sajian manual brew V60 kali ini kembali menjadi kolaborasi rasa yang memberi ketenangan jiwa sekaligus menguatkan semangat untuk terus bergerak menuju Ujung Genteng Sukabumi dengan jarak sekitar 85 km lagi membelah malam dari titik ini.

YOUTUBE : UJUNGGENTENG – CILETUH : mantai, kerja kerja, ngopay.

Selamat bergerak dan tak lupa ngopi. Wassalam (AKW).

Kopi Hitam & Laut Ujung Genteng

Akhirnya bisa menyeruput kopi hitam di tepi pantai, alias ngopay & mantay… Sruput.

UJUNG GENTENG, akwnulis.com. Deburan ombak dan semilir angin pantai akhirnya menyapa raga dan indra perasa dengan harmonisasi kedamaian. Setelah hampir 2 tahun tak bisa beranjak dengan segala keterbatasan, maka hari ini pertemuan dengan sang laut kembali terjadi.

Perjalanan panjang 7 jam lebih dari Bandung Ke Ujung genteng ini terbayarkan oleh sapaan alam yang begitu menggugah rasa memberikan sensasi berbeda serta mereguk ‘Vitamin Sea’ untuk menguatkan jiwa agar semakin bersyukur atas rahmat dari Allah Sang Maha Kuasa.

Tentu ini semua terjadi karena takdir-Nya, tetapi sebagai mahluk lemah ini nilai ihtiar perjalanan adalah sebuah catatan penting kehidupan. Dengan berbagai judul acara dan kegiatan, yang pasti kali ini bisa bersua kembali dengan pantai.

Yup, pantai di Ujung genteng ini cukup panjang dan ada beberapa lokasi, tetapi yang dikunjungi hanya 2 saja yaitu pantai ciracap yang sekarang sedang di datangi dan selanjutnya pantai pangumbahan dimana terdapat konservasi penyu yang menjadi andalan.

Nah, tak lengkap rasanya perjalanan ini tanpa ditemani sajian si kopi hitam. Maka segera mencari di kios – kios terdekat saja.

Lha nggak bawa kopi asli?”

Kebetulan keabisan lagian tadi malem sudah menikmati kohitala di Pelabuanratu kok”

Oalaah ternyata, ya sudah ditunggu tuh tulisan yang ngopay di pelabuanratunya”

“Oke, ditunggu yaa”

Percakapan imajiner melengkapi langkah tertatih ini, karena kaki kiri membengkak akibat keseleo di kantor pada hari sebelumnya.

Mendekati kios kecil, seorang ibu menyambut kedatangan. “Wilujeng sumping cep, badè ngaleueut naon?” (Selamat datang, mau menikmati apa?”)

Segera pesan kopi hitam yang ada, meskipun tentu kopi gunting.. it’s okey.. less sugar is very important.

Maka sambil menunggu kopi hitam tersaji, segeralah berjalan perlahan ke pantai, menapaki pasir pantai yang bersih memutih lalu menginjak air pantai yang menenangkan diantara perahu nelayan yang sedang beristirahat setelah lelah mencari ikan di tengah lautan.

Kembali ke bibir pantai dan telah tersaji kopi hitam bercangkir hitam dengan tulisan : Be Awesome Today but First, COFFEE.

Satuju pisan èta caption… cucok markocok.

Langsung perlahan tapi pasti… disruput guys.. hmmm… nikmat, kepahitan kopi ditemani deburan ombak pagi… ruar biasa, Alhamdulillahirobbil alamiin.

Inilah tulisan ngopi di pantai kali ini, pantai yang pertama. Sebuah keinginan menggebu ingin bercengkerama dan berenang di air laut terpaksa diurungkan karena kondisi kaki yang tidak memungkinkan. Cukuplah sedikit berendam, berpose dan duduk menikmati deburan serta angin kencang sambil menghabiskan kopi hitam di cangkir hitam.

Tulisan yang pantai pangumbahan, nantinya, nunggu mood dan kesempatan. Hatur nuhun. Wassalam (AKW).

NGOPI Gedung Negara & Arabica Manglayang.

Kembali beredar sambil menikmati kopi hitam tanpa gula, edisi Cirebon.

CIREBON, akwnulis.com. Pahitnya kopi hitam tanpa gula adalah sebuah kecanduan hakiki. Semua memang pahit jikalau kopi tanpa gula, tetapi diantara kepahitan itu terselip rasa berbeda dan pengalaman aneka rupa. Karena bisa memaknai perbedaan dari kepahitan rasa ini adalah anugerah tak terkira.

Kali ini raga dan langkah agar menjauh menuju pantura, tepatnya bergiat di kota cirebon dengan tema KOPI NURDIN (nurut dinas) alias terbawa hadir karena urusan pekerjaan.

Nah laporan kerjaan mah ntar dituangkan dalam nota dinas laporan, tapi kalau urusan ngopay maka disinilah tempatnya menuliskan rasa dan kenangan.

Kopi yang pertama tersaji adalah kopi sachet biasa yang diseduh tanpa gula sebut aja merknya kopi kapal api. Untuk rasa ya begitulah flat tanpa banyak rasa-rasa, tetapi suasana dan sajiannya yang bikin berbeda. Pertama cangkirnya cangkir dinas berlogo pemprov jabar dan kedua lokasi kopi tersaji di ruang tamu gedung negara eks keresidenan Cirebon yang penuh sejarah dan kejayaan masa lampau.

Maka dihadirkan dokumentasi kemegahan gedung negara sebagai background yang melengkapi secangkir kohitala (kopi hitam tanpa gula) untuk diabadikan sebelum akhirnya tandas di sruput untuk menikmati dahaga kepahitan kopi yang melenakan.

Alhamdulilahirobbil alamin.

Lalu melengkapi sajian kohitala yang sebenarnya, sebelum pulang ke bandung maka searching-lah lokasi tempat yang menyajikan kohitala dengan metode seduhan manual V60.

Ternyata gayung bersambut dengan hadirnya tawaran dari seorang kawan untuk berdiskusi sambil menikmati sajian kopi… tentu menyenangkan… berangkaaat.

Kopi kedua adalah kopi hitam asli tanpa gula dengan biji kopinya arabica manglayang. Proses seduhan manual dengan filter dan corong V60 menghadirkan sebuah rasa pahit yang kaya makna. Bodynya medium dengan acidity seimbang, hadir selarik segar lemon dan brown sugar sebagai after taste dari sajian kohitala ini. Sruput yummy.

Sajian kohitala ini semakin lengkap dengan menu makanan beratnya yaitu steak yang merupakan pilihan menu spesial di Chantel food space Cirebon. Nyam nyam…

Itulah cerita ngopay kali ini, selamat memaknai kepahitan rasa dengan syukur tiada kira. Wassalam (AKW).

RUMAH PUTIHKU 2022

Rumah putihku… Bersiap memyambut calon pemilik baru.

CIMAHI, akwnulis.com. Memandang sendu bangunan putih yang memberi getaran berbeda karena sejumlah kenangan telah dilalui dalam suka dan duka. Ya, rumah tinggal yang sekarang terdiam menanti pinangan dari jodoh pemilik yang baru.

Awal 2019 hampir saja berganti kepemilikan, namun takdir berkata lain dengan hadirnya virus covid-19. Semua fokus menghadapi serangan bencana kesehatan yang mendera seluruh dunia. Masing-masing menahan investasi dan pembelian barang property sambil berhitung apakah usaha dan tabungan bisa bertahan di masa pandemi.

Tidak perlu banyak kata, karena 2 tahun ini adalah masa keprihatinan pada level masing-masing. Begitupun rumah putih ini, setelah beberapa calon pemilik memastikan akan membayar, ternyata kesulitan likuiditas di masa covid-19 menjadi alasannya.

Akhirnya rumah putih kembali sendiri, menjalani hari demi hari dengan pemilik lama,  sang penulis ala-ala ini.

Kali ini  setelah pandemi mendera dan dianggap relatif lebih landai dengan target imunisasi menuju herd immunity maka geliat pemulihan ekonomi semoga semakin optimis dengan tetap ketat menjaga protokol kesehatan.

Maka, kami tunggu pinangan calon pemilik baru dari rumah putih siap huni ini.

Ini info lengkapnya…

RUMAH PUTIH ANEKA BAKTI CIMAHI

Rumah satu lantai bernuansa putih yang elegan, dengan luas bangunan 152 meter persegi. Terletak di Komplek Perumahan Aneka Bakti, Leuwigajah Kecamatan Cimahi Selatan.

Akses dari jalan raya Sadarmanah – Cibeber berjarak 150 meter. Kendaraan umum angkutan kota tinggal berhenti di gerbang komplek dan berjalan kaki sedikit.

Parkir kendaraan 1 buah KR4 dan terlindung dengan atap kanopi baru policarbonat.
Kamar tidur 3 buah + 1 kamar pembantu di lt2 dan kamar mandi 2 buah.

Meja makan dengan 3 kursi,
Kasur spring bed ukuran king size,
Lemari baju 1. Didepan pintu masuk terdapat Kolam ikan hias dibawah teras depan dan dapat dilihat langsung karena menggunakan kaca tebal.

Air bersih, bagus, bersumber dari air PDAM dan Sumur Bor dan dilengkapi filter penjernih dengan 2 buah torn.
Listrik 1200 watt menggunakan token.

Lampu ruang utama dengan downlite + lampu hias. Jalan depan rumah lebar 5 meter, leluasa jika perewis/berpapasan.
Keamanan 24 jam dengan portal dan satpam.
Mesjid dekat sekitar 200 meter.

***

Alamat : Jl. Yuda Bakti No.3 Rt01 Rw11 Komplek Aneka Bakti Leuwigajah Cimahi Selatan.

Penawaran Terbatas, yang minat monggo kontak :

Call/WA : +6287721300307

2022 ADAPTASI

2022 tetap MENULIS

BANDUNG, akwnulis.com. Momentum peralihan tahun masehi kali ini bertepatan juga dengan momentum perubahan pak bos di kantor. Otomatis berbagai penyesuaian menjadi tantangan tersendiri karena bukan hanya administrasi dalam bentuk coretan tahun yang biasanya 21 menjadi 22 akhirannya. Ini klo nggak konsen masih salah – salah lho. Terutama untuk coretan basah di kertas. Klo via aplikasi mah langsung aman… 2022. Meskipun ada shock juga 24 jam karena beberapa aplikaai penting terkait gawean error, nggak bisa diakses… tapi bentar ketang, sekarang udah baikan lagi seperti hubungan aku, dia dan kau hehehehe.

Nah pergantian pimpinan ini yang juga harus disikapi dengan bijak, cepat dan humanis… halah banyak jargon. Tapi yang terpenting adalah satu kata yaitu ADAPTASI.

Apa yang dimaksud adaptasi?”

Terjemahan bebasnya versi aku mah yaitu PENYESUAIAN. Jadi bagaimana segera menyesuaikan dengan pola kerja, budaya kerja dan sifat pimpinan yang baru.

Bagaimana dengan pimpinan lama?… pimpinan lama tetap harus kita hormati, jaga komunikasi dan menjadi bagian tidak terpisahkan dalam perjalanan kita sebagai birokrasi sekaligus sebagai orang tua yang mewarnai sikap perilaku dan tata kerja kita.

Ada juga yang berpendapat bahwa ADAPTASI itu penting, karena ada hurup P dan S.

Maksudnya gimana?”
“Ih telat kamu mah, coba hilangkan hurup P dan S nya”

Sesaat berpikir… kriiik…. kriik…. krikkk

“ADAPTASI, dicoret P dan S nya…. ADA TAI…. waaah bauuu… sialan ih, kirain apaaa”

Akhirnya paham juga heuheuheu…
Nggak nggak ini mah iseng kawan.

Yang pasti penyesuaian itu ada dalam setiap detik kehidupan, karena hakekatnya kita aemua memang akan selalu berubah seiring waktu yang tak kan berhenti barang sedetikpun. Jadi pergantian kepemimpinan adalah hal yang biasa, pergantian jabatan juga sebuah kelumrahan karena itulah rumus dunia fana.

Nah untuk catatan pribadi ada hal yang harus konsisten, konsisten dilakukan dalam segala perubahan ini.

Apa itu kawan?”

Hehehe pertanyaan kepo langsung menyeruak, jawabannya sederhana, MENULIS.

Menulis selalu dan selalu menulis, minimal di blog pribadi www.akwnulis.com dan di grup menulis di medsos serta membuat buku keempatku.

Idealnya ikut juga menulis terkait kedinasan, tetapi ternyata momentum kemarin akhir tahun pabeulit dengan pergantian kepemimpinan di kantor sehingga waktu yang ada habis bersama prioritas tugas yang ada.

Tema menulisnyapun tetap konsisten bahwa yang paling rutin dilakukan adalah berkaitan dengan KOPI, si biji hitam misterius, lalu kuliner dan terakhir adalah tentang tulisan singkat fiksi FIKSIMINI BASA SUNDA.

Meskipun memang belum menulis setiap hari tapi minimal seminggu sekali ada 2 tulisan singkat yang hadir di blogku dan 1 tulisan fiksimini basa sunda. Seperti tulisan fiksimini bertema pergantian tahun 2021/2022, silahkan klik saja SATAUN CINGOGO.

Itu dulu celoteh malam ini, selamat mensyukuri dunia fana dan jangan bosan beradaptasi. Wassalam (AKW).

***