CIMAHI, akwnulis.com. Bodinya begitu lembut menyentuh mulut, sementara acidity mediumnya menemani malam sabtu ini menjadi lebih segar. After tastenya jelas tegas rasa berry mendominasi, ditambah dengan manisnya gula merah alami yang menyentuh hati.
Kopi arabica gununghalu honey anaerob yang hadir pagi ini begitu menyenangkan. Memberi kembali sensasi aneka rasa dari sebuah sajian kohitala. Kopi hitam tanpa gula. Menggunakan metode seduh manual V60 sederhana, dengan takaran kira-kira 15 sd 17 gram dan menggunakan air panas dari dispenser saja karena sudah tak sabar ingin meneguk rasanya. Alhamdulillah sesuai ekspektasi dan harapan.
Manual Brew V60 / Dokpri.
Makasih pak Kabid PPUP Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat yang memberikan kesempatan untuk menikmati beraneka biji kopi dan sekaligus dibawa pulang untuk diseduh sendiri di kala suasana hati sedang sepi. Nuhun juga Teh Rini Mayasari, silaturahminya ikut tersambung dengan pergerakan biji kopi arabica gununghalu honey anaerob ini. Srupuuut… eh belum, berdoa dulu atuh. Karena rasa syukur itu adalah kewajiban, termasuk rasa syukur spesial diberi sama Allah kesempatan untuk bisa menikmati sajian kopi hitam tanpa gula yang memiliki aneka rasa. Tidak semua orang lho bisa merasakan nikmatnya. Cenderung akan bilang, “Kopinya pahit ih” atau “Kok asem ya kopinya?” dan berbagai komentar lainnya.
Padahal dibalik kepahitan kopi tersimpan rahasian besar rasa jika kopinya memang bibit yang baik, diolah dengan baik hingga akhirnya diroasting dan diseduh dengan baik hingga hadir untuk bersua dengan indera perasa kita dalam tema ngopi suruput bray gaskeuun…
Kembali ke sajian kopi yang sudah hadir di depan mata, maka perlahan tapi pasti di sruput saja, biarkan cairannya bergerak bebas di mukut dan menyentuh lidah termasuk bagian belakangnya. Tahan sedikit baru biarkan meluncur menuju lambung via tenggorokan untuk proses berikutnya.
Catatan kecil menikmati rumah dinas yang penuh sensasi.
CIBABAT, akwnulis.com. Sebuah momentum pelantikan jabatan menjadi gerbang perubahan kehidupan yang begitu signifikan. Tentu baru pelantikan level terendah, menjadi seorang kepala seksi di sebuah kecamatan. Tetapi bagi diri ini begitu membanggakan, karena setelah beberapa tahun mengabdi sebagai pegawai level pelaksana akhirnya mendapatkan kepercayaan untuk memegang sebuah amanah jabatan. Tentu sebuah kewajiban untuk bersyukur dan memberikan pengabdian dan kinerja yang lebih baik dibandingkan yang sudah dilakukan selama ini.
Maka setelah pelantikan usai, segera kembali ke kantor awal. Menemui pimpinan terdekat untuk mengucapkan terima kasih atas dukungan dan arahannya selama ini sekaligus meminta wejangan untuk menghadapi tugas baru ini serta diakhiri beres – beres berkas dan barang pribadi hingga akhirnya berpamitan.
“Bapak mohon maaf selama menjadi staf bapak jika ada yang kurang berkenan. Juga rekan – rekan, maafkan aku yach”
Kalimat pamit yang menggetarkan, ada rasa sesak di dada meninggalkan bapak Unus, bapak Ahut, kang Slamet yang selama ini menjadi partner setia, begadang bersama, kerja lembur bersama hingga dini hari tiba demi membuat bahan presentasi pimpinan yang dikejar deadline terutama bersama badan anggaran. Selamat tinggal kantor Bappeda Sumedang.
“Selamat jalan yi” “Selamat bertugas di tempat baru” “Jangan lupa besok lusa ditunggu, ini tetap kantormu!”
Berbagai kalimat penyemangat dan penuh rasa kekeluargaan, cukup berat untuk meninggalkan. Tetapi tugas baru sudah menanti seiring amanah jabatan yang sudah tersemat di pelantikan tadi pagi.
***
Esok paginya dengan langkah perlahan tapi pasti turun dari motor dan bergegas memasuki kantor kecamatan Sumedang Selatan. Beberapa pasang mata memandang, dijawab dengan senyuman saja dan bergegas masuk ke pintu depan. Kebetulan ada meja resepsionis di situ.
“Selamat pagi bu, Bapak Camatnya ada? Saya mau lapor penugasan disini”
“Selamat pagi bapak, silahkan isi buku tamu ya. Bapak Camat ada, tetapi kami cek dulu agenda beliau”
Tanpa berlama-lama, langsung diantar ke ruang Camat. Kebetulan belum ada agenda acara sehingga bisa langsung menemuinya.
“Selamat pagi bapak, ijin melaporkan penugasan kami disini, mohon arahan”
“Wah kamu begitu formal, santai saja. Selamat datang di kantor kecamatan dan selamat bergabung menjadi pelayan dan pengabdi masyarakat yang sebenarnya” Ujar pak Camat dengan wajah sumringah.
Suasana kaku segera mencair dan pembicaraan mengalir. Lalu pak Camat memanggil para pejabat kecamatan dari mulai sekretaris kecamatan, para mepala seksi, kasubag hingga staf yang ada. Suasananya begitu akrab, sehingga lebih menenangkan bagi diri ini yang baru saja harus beradaptasi.
Hingga menjelang sore berkeliling dan berbincang dengan sahabat baru. Melihat ruangan – ruangsn kantor termasuk berkeliling sekitar kantor kecamatan dan area rumah dinas.
Ternyata sesuai pembicaraan bersama pak Camat tadi, sesuai tugas sebagai Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban atau disingkat Kasi Tramtib maka berkewajiban dan bertanggungjawab 24 jam terhadap kondisi ketentraman dan ketertiban kawasan kecamatan termasuk area kantor. Otomatis harus tinggal di sekitar kantor kecamatan.
Agak termenung juga, karena jika masih tinggal di rumah sekarang tentu jaraknya jauh yakni di kawasan Jatinangor yang berbatasan dengan area kabupaten bandung. Sementara perlu sekitar 1 jam untuk sampai ke kantor kecamatan. Mau kost atau ngontrak juga pertimbangan ekonomis, ya udah termenung dulu saja.
***
“Pak Kasi belum pulang?” Suara pak camat membuyarkan lamunan. Sedikit terdiam tapi segera menjawab, “Belum pak, rencana mau survey kontrakan sekitar sini pak”
“Oh iya, bagus itu. Tapi bisa juga sebagai alternatif rumah dinas saya digunakan. Pilih saja kamar yang cocok.”
“Serius pak?” Mataku berbinar.
“Iya serius, lagian rumah dinasnya kosong. Silahkan digunakan”
“Terima kasih pak”
Pembicaraan singkat yang berharga. Tanpa membuang waktu segera beranjak dan mengajak 4 orang anggota satpol PP untuk menemani menuju rumah dinas camat yang posisinya tepat di samping kanan kantor kecamatan.
***
“Bapak serius mau tinggal di rumah dinas pak camat?” Pak Dadan anggota satpol PP bertanya.
“Iya dong, memang kenapa?” Saya bertanya balik. Pak Dadan dan pak Tatang saling berpandangan. Saya terdiam, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan. Tapi langkah kaki tetap bersama-sama bergerak menuju rumah dinas.
Ternyata jawabannya sederhana, rumah dinas camat ini sudah 9 tahun kosong dan kondisinya menyedihkan. Luasnya lumayan dari mulai ruang tamu, ruang tengah, kamar depan, kamat tengah, kamat mandi, dapur dan gudang. Tetapi kondisinya bocor dan dapurnya praktis tidak bisa digunakan. Lantainya lembab dan beberapa tempat berlumut, sepertinya dibangun di bekas rawa atau sawah. Ada juga ditemukan katak yang bersarang disana. Laba-laba dan jaringnya cukup banyak ditemukan. Termasuk yang cukup mengagetkan adalah ular sawah yang bersembunyi di tumpukan kayu di gudang.
Keputusan harus segera diambil karena tugas ini tidak bisa menunggu. Daripada mencari kost atau kontrakan dengan harga sekitar Rp 300.000 – Rp 350.000 per bulan di semitar sini atau sepertiga gaji yang diterima setiap bulan lebih baik membenahi rumah dinas saja sehingga dana tersebut dapat digunakan membayar cicilan rumah di jatinangor.
“Ayo bantu saya beres – beres, mulai besok saya tinggal disini”
Anggota satpol PP yang menemani langsung serempak teriak, “Siap Komandan” dan mulai bekerja. Meskipun terdengar beberapa saling berbisik entah berkomentar apa.
Ruang tengah yang agak kering ditutup plastik dan diberi tikar dan sajadah sebagai mushola bersama, sementara yang lembab berair dibiarkan saja. Kamar depan dibersihkan dan diisi 2 meja panjang sisa pemilu. Baru dipasang kasur busa. Jendela diperbaiki begitupun pintu masuk. Tidak lupa tambah meja untuk penempatan komputer dan lemari. Semua jadinya kerja bakti dibantu pegawai kecamatan lainnya.
***
Esok harinya berjumpa dengan beberapa pegawai wanita dan pertanyaannya senada, “Bapak serius mau tinggal di rumah dinas camat?”
“Serius, memangnya kenapa?” “Euh nggak apa – apa, tapi harus banyak berdoa pak”
Saran yang bagus, tetapi menjadi pertanyaan besar, “Apakah rumah dinas itu berhantu?”
Mereka terdiam dan berlalu. Tapi memang disaat ditawarkan kepada beberapa pegawai yang piket harian di kantor untuk menemani tidur di rumah dinas, serempak semuanya menolak. Lebih baik tidur di kantor saja, daripada menemaniku. Ya sudah, Bismillah saja.
Malam pertama tidur di rumah dinas cukup lelap meskioun tengah malam sedikit terbangun karena ada kegaduhan di ruang tengah. Tapi sepi kembali dan raga ini kembali terlelap hingga pagi. Hanya saja di pagi hari sebelum turun dari ranjang darurat harus melihat sekeliling. Seekor ular sawah ukuran sedang ternyata ikut berada dikamar, mungkin naik dari sawah belakang mencari katak dan juga kehangatan. Perlahan diusir keluar, baru bisa beraktifitas dengan tenang.
Hari kedua dan ketiga ular diganti dengan kalajengking dan beberapa katak kecil. Benar – benar rumah yang menyatu dengan alam. Harus waspada setiap saat khususnya bangun pagi.
Dimalam ke empat, kebetulan malam jumat. Saya berpatroli bersama tim gabungan dari kecamatan, polsek dan koramil berkeliling ke beberapa desa yang menyelenggarakan acara dangdutan organ tunggal hingga melewati tengah malam. Tepat jam 01.00 wib dini hari baru kembali ke kantor kecamatan. Setelah basa -basi sesaat, maka saya menuju rumah dinas dan anggota satpol PP seperti biasa bermalam di kantor saja.
Kunci rumah dinas dibuka tak lupa ucapkan salam, “Assalamualaikum” lalu melewati ruang tamu dan ruang tengah. Tiba – tiba sudut mata menangkap sebuah bayangan hitam yang berada di sudut ruang tengah dalam cahaya lampu temaram lalu terdengar suara berat tertahan, “Baru pulang pak?”
“Iya baru pulang” sebuah jawaban otomatis meloncat begitu saja dari mulut yang menganga karena melihat secara nyata sesuatu yang begitu besar, berbulu kasar abu – abu kecoklatan di sekujur tubuhnya dengan rambutnya yang acak-acakan dan wajah tersembunyi oleh bulu – bulu kasar dengan sepasang mata merah yang cukup menggetarkan jiwa duduk dengan santainya diujung ruang tengah, seolah memang disitu singgasananya.
Dalam hati doa tolak bala dibaca tergesa, terasa kulit diseluruh tubuh berdiri bukan hanya di bulu kuduk saja tapi semuanya. Satu hal yang diyakini adalah manusia mahluk mulia, lebih mulia dari mahluk lainnya ciptaan Allah Subhananahu Wataala.
Segera mata berkedip tapi ternyata mahluk itu tetap ada disana. Ya sudah segera bergegas menuju kamar depan, membuka pintu dan mengunci dari dalam lalu naik di ranjang darurat lalu berselimut tanpa mengganti pakaian juga sepatu masih terpakai. Membaca segala doa yang dikuasai dan berserah diri pada Illahi. Sambil berkata dalam hati, “Kita berbagi, silahkan gunakan ruang tengah, tapi tidak di kamar ini”
Tiba-tiba sekilas sepasang mata merah dengan wajah rata terasa hadir di hadapan dan memberikan anggukan, lalu bayangan itu menghilang. Kembali doa – doa dibacakan dan diteriakan meskipun dalam ruang kesunyian hingga akhirnya tertidur karena kelelahan.
***
Esok harinya terbangun dengan pakaian dinas dan sepatu masih melekat di badan, tetapi badan terasa segar dan penuh semangat menghadapi tugas dan kehidupan. Beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu lalu shalat shubuh. Dilanjutkan senam pagi mandiri, mandi dan sarapan di warung depan lalu bergabung di kantor untuk apel jumat pagi.
Sejak itu tinggal dan bermalam di rumah dinas menjadi hal yang biasa. Jika shalat ada yang ikut menjadi makmum tapi pas salam atahiyat akhir ternyata tidak ada siapa-siapa, itu hal biasa. Jika pulang patroli malam ada yang menyapa di ruang tengah, ya sudah jawab saja lalu masuk ke kamar untuk beristirahat. Yang pasti tidak khawatir meninggalkan barang berharga di rumah dinas meskipun tidak terkunci karena ada teman dan penjaga abadi yang mungkin sudah berpuluh atau malah beratus tahun tingggal di rumah dinas ini. (AKW).
Sebuah catatan singkat tentang pentingnya memilih prinsip kehidupan.
Pengkuh / Dokpri.
CIMAHI, akwnulis.com. Semangat pagi hari kali ini tergugah untuk menulis sesuatu yang menjadi sebuah pegangan bagi seseorang dalam menjalani kehidupan ini, yaitu prinsip hidup. Bagaimana seseorang menjalani kehidupan tentu memiliki tujuan dan dalam meraih tujuan masing – masing individu memiliki prinsip.
Tulisan singkat bergaya fiksi dalam bahasa sunda itu mengulas tentang seseorang yang memegang teguh prinsip lehidupan versi dirinya. Yang bersangkutan meyakini bahwa prinsip dalam kehidupan yang dianutnya adalah pilihan terbaik. Sementara dari sudut pandang orang lain mungkin saja berbeda.
Inilah ceritanya…
***
FIKMIN # PENGKUH #
Mang Parman keur atoh sabab jang Ibro geus boga gawè jadi pagawè alfamart. Budak lalaki nunggal. Teu sirikna dibeja-beja ka tatangga. Malah mah numpeng sagala. Jang Ibro ginding makè seragam beureum bulao.
Tapi geuning teu lana Jang Ibro nyekel gawèna. Ayeuna geus cinutrung deui di juru stanplat, ngadon markiran mobil èlf nu naèk turunkeun penumpang.
Mang Parman ambek, sumawonna Bi Kayah, indungna. “Dasar budak bangkawarah, hèsè nèangan gawè tèh” Jang Ibro salsè wè cingogo nyoo rokrak jeung taneuh ngebul, sugan wè meunang undur-undur.
Jang Ibro tanggah bari ngawaler tatag, “Justru ieu tèh sakumaha amanah Apa, Ibro tèh kedah gaduh pamadegan. Saatos dicobian kamari janten padamel, geuning seueur aturan. Ibro mutuskeun badè fokus waè janten pangangguran.”
Mang Parman ngelepek, jikanna rawah riwih. Jang Ibro pengkuh kana prinsipna.
***
Begitulah sebuah cerita singkat dengan genre fiksimini sudah hadir pagi ini. Mengulas tentang perilaku anak muda yang bernama Ibro dengan keteguhannya (PENGKUH) dalam memegang prinsip hidupnya. Tidak peduli apakah baik dan buruk dampaknya, yang penting pegang prinsip dulu hehehehe.
Hikmah tulisan pagi ini adalah memegang teguh prinsip kehidupan itu penting, namun lebih penting menentukan dulu prinsip apa yang akan, sedang kita pegang teguh. Selamat pagi semua, selamat hari jumat penuh nikmat. Wassalam(AKW).
KBB, akwnulis.com. Segelas plastik cairan hitam telah hadir dihadapan, lengkap dengan kepulan asap putih sebagai hasil pertemuan air panas mendidih dengan bubuk kopi andalan. Rasa panas menyeruak di dalam tenda komando ini, tetapi dengan hadirnya kohitala gelatik ini suasana ‘hareudang‘ menjadi ceria.
“Singkatan apalagi KOHITALA GELATIK?”
Oh itu, singkatan dari Kopi Hitam Tanpa Gula dengan Gelas Plastik. Sebuah sajian kopi darurat yang hadir di dalam trnda dapur umum yang menjadi pendukungan terhadap penanganan kondisi bencana yang terjadi di lapangan, yaitu kebakaran di tempat pembuangan sampah Sarimukti Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat.
Para relawan Tagana KBB yang juga merupakan Tagana Jabar berjibaku membantu pendukungan kegiatan ini dengan mendirikan dapur umum dengan tenda dari Dinsos Jabar serta membuat dan menguplai makanan minuman bagi petugas yang bekerja dengan jumalh 1.500 pak setiap kali makan dibawah koordinasi BPBD & Dinsos KBB selama 14 hari sampai dengan tgl 11 September 2023. Selanjutnya peran dapur umum diampu oleh BPBD provinsi seiring penetapan tanggap darurat di level provinsi untuk penanganan selanjutnya.
Sisa sisanya / Dokpri.
Kembali ke tema kopi, sudah jelas bahwa uniknya si kohitala ini adalah bukan hanya berbicara tentang rasa saja tapi banyak dimensi yang bisa kita gali dan menjadi bahan literasi. Pertama bisa dilihat dari sisi bahan baku atau bijinya, kedua bagaimana penyajiannya, ketiga siapa yang menyajikannya, keempat dimana kita menikmatinya dan kelima yang juga krusial adalah dengan siapa menikmatinya… ups agak sensitif nich hehehehe.
Maka tulisan singkat kali ini adalah masuk ke dalam poin keempat yaitu dimana kita menikmatinya. Karena dengan Kohitala Gelatik ini untuk poin pertama sudah jelas bahwa bahannya adalah kopi sachet tetapi dipilih yang tanpa gula. Poin keduanya sudah jelas penyajiannya minimalis dengan gelas plastik. Tentu ini patut disyukuri, gimana kalau disajikannya tanpa gelas? Langsung air panas ditumpahkan ke telapak tangan, atuh berabe gan.
Poin ketiga siapa yang menyajikannya, sudah pasti petugas tagana yang begitu mahir membuat aneka masakan menghadirkan makanan dan minuman yang enak lho, ngvak kalah sama rasa dan kelezatan makanan di rumah makan. Maka dilanjutkan poin keempat, ini yang menjadi titik tolak, dimana kopi ini di nikmati. Tentu berada di dalam tenda yang menjadi bagian dari dapur umum dinsos – tagana. Sebuah suasana berbeda dibandingkan ngopi di cafe. Tapi jangan salah kawan, kenikmatan sruputan, kenikmatan rasa kebersamaan dan senda gurau ala orang lapangan memberi nilai tersendiri yang tidak bisa diukur dengan angka.
Penyajinya gagah / Dokpri.
Bagaimana suasana lelah membuat masakan dan minuman, kericuhan pada saat jam makan, deadline makanan dan minuman tersaji dan terbungkus sempurna untuk segera disebar kepada petugas di lapangan yang berjibaku dengan hadirnya titik api yang baru agar mereka tidak kehausan dan kelaparan adalah cerita kebersamaan yang saling menguatkan ditemani sruputan kohitala gelatik sehingga harus minta tambah dua kali.
Maka kembali dalam tulisan ini, jangan takut untuk memulai menulis. Tulislah, alirkanlah rasa yang tersimpan dan simpanan yang terasa sehingga berbuah kata dan kalimat hingga akhirnya sebagian memori kita tersimpan dalam server berbeda yaitu sebuah tulisan indah yang sarat makna.
Sruput dulu gan, kohitala gelatik kedua.
Sruput dulu gan / Dokpri.
Lalu jika sudah tuntas menulis, sebarkanlah kepada dunia melalui media sosial kita, atau media sosial dimana kita bekerja. Banyak cara agar tulisan kita hadir di dunia maya. Bisa blog pribadi baik gratisan atau berbayar. Bisa juga mengikuti komunitas dan kolom netizen di beberapa media nasional ternama. Tapi ingat beberapa aturan mungkin berbeda, ya pelajari saja dan ikutu ‘role of the gamenya’.
Baiklah selamat memikmati pagi hari yang agak sendu ini, tapi mungkin nanti berganti ceria karena mentari sudah mulai naik di ufuk timur sana. Wassalam(AKW).
Inilah jawaban penting dari kebuntuan menulis, cekidot.
Stuck eh buntu menulis / akwcanva
CIMAHI, akwnulis.com. Perjalanan pagi ini ke kantor mengingatkan terhadap sebuah pertanyaan ibu guru muda yang menjadi peserta workshop pembuatan fiksimini bertema sosial. “Bagaimana caranya agar tetap menulis, sementara terjadi stuck ide atau kebuntuan ide untuk menulis?”
Sebuah pertanyaan mendasar yang sering menjadi tantangan terbesar para penulis khususnya penulis pemula seperti diriku ini. Wajah – wajah peserta terlihat memperhatikan raut wajahku dan tak sabar untuk mendengarkan jawabannya.
Tentu bagi dirimu penulis eh ngaku – ngaku penulis tapi memang suka menulis apalagi berhubungan dengan pekerjaan dalam dekade 2,5 tahun ini cukup lekat di bidang tulis menulis malah dalam bahasa sunda disebutkan jabatannya ulis alias juru tulis hehehe.. tapi juru tulis level SKPD di provinsi.
Pertama kita bedakan dulu antara menulis fiksi dan nonfiksi. Jika penulisannya adalah non fiksi berupa laporan ilmiah atau minimal laporan program kegiatan tentu memerlukan data dan fakta yang nyata dan dapat dipertanggungjawabkan. Manakala kebuntuannya berada disini, maka perlu kerja keras ekstra untuk mendapatkan data valid tersebut sehingga penulisan non fiksi yang ditugaskan atau yang diharapkan bisa segera dituntaskan.
Masih stuck?
Nah untuk penulisan fiksi, tidak ada kendala eksternal seperti hal tersebut. Masalah kebuntuan menulis berada di tangan kita sendiri, di mindset kita, di jari jemari dan hati serta pikiran untuk segera digerakkan.
“Tapi pak, kebuntuannya juga termasuk tema dan konten yang ingin saya tulis”
Senyum dulu ah, pertanyaan lanjutan ini menjadi semakin bersemangat untuk membantu memberi semangat. Bahwa menulis tulisan fiksi itu sangat mudah. Cara jitu diri ini untuk melawan atau memecah kebuntuan menulis itu adalah dengan ‘tuliskan kebuntuan menulis kita itu kira-kira karena apa? apakah karena kehilangan tema atau memang malas saja?’
Jika kehilangan tema, ya inilah tema jitu untuk menulis, TULISLAH SUASANA KEBUNTUAN MENULIS ITU SENDIRI. Percayalah tak terasa 2 – 3 paragraf akan terwujud dan tulisan sederhana kita akan kembali hadir menghiasi dunia.
“Nggak percaya?”
Ini buktinya, dengan tema yang sama ternyata sampai tulisan ini sudah mencapai 8 paragraf lho.
“Apakah tulisan ini penting?”
Untuk penulis eh raga ini tentu sangat penting karena menjadi bagian dari legacy yang tertuang dari curahan pikiran yang mengambil tema tentang KEBUNTUAN MENULIS. Asyik khan?
Jadi sekarang yang terpenting adalah tulislah dulu dan hadirkan legacy pribadi tanpa terbebani itu ini. Gerakkan jemari indahmu dalam keyboard virtual smartphonemu, tuangkan apa yang ada dipikiranmu. Jika sudah selesai jangan lupa baca sekali saja untuk mengecek salah pengetikan (typo) saja. Jangan baca ulang terkait konten, nanti malah nggak jadi diposting tulisan tersebut karena merasa tidak sempurna atau ada kekurangan disana sini.
Tulislah stucknya itu / Dokpri.
Upload di medsos pribadi atau blog pribadi, share ke teman – teman dan biarkan dunia memberi penilaian. Jikalau setelah diposting di medsos pribadi atau blog ternyata minim dan zero respon, ikhlaskan saja. Nggak usah dipikirkan, yang penting kita sudah menuangkan rasa dalam kata – kata yang dititip di dunia maya dan yakini suatu saat ada seseorang yang membutuhkannya.
Begitulah sebuah tulisan hadir dari kebuntuan menulis, ayo silahkan coba. Selamat pagi semua, Wassalam(AKW).
Sebuah catatan pribadi dalam momen festival literasi nasional.
Flyer dengan editan wajah super maksi / Dokpri.
BRAGA, akwnulis.com. Sebuah prinsip hidup yang selalu dipegang adalah manusia merencanakan tapi Allah yang menentukan. Tetapi dalam proses menjalaninya terkadang perlu ditambah dengan semangat ihtiar dan sedikit pemaksaan sehingga semua bisa berjalan, tentu atas ijin Tuhan. Inilah yang terjadi pada raga ini, jikalau berbicara perencanaan maka diundang menjadi bagian acara perhelatan nasional yang dibesut Perpustakaan Nasional adalah sebuah kebanggaan. Jauh – jauh hari sudah di plot bahwa pada tanggal 6 September 2023 mendapatkan amanah untuk menyampaikan materi terkait fiksimini dengan tema masalah – masalah sosial dalam kerangka workshop yang diakhir acara harus menghasilkan sesuatu, suatu tulisan fiksimini dari masing-masing peserta.
Awalnya agak gamang diminta mengampu workshop ini, apalagi ada nama – nama penulis beken disana. Ada Gol A Gong Duta Baca Nasional dan tentu penggiat sastra yang sudah malang melintang juga kang maman suherman yang sudah tidak diragukan lagi kelihaiannya merangkai kata serta bejibun buku yang dihasilkannya. Juga para narasumber lainnya yang juga halalebring, sementara diriku mah baru bisa bikin buku pribadi 3 buah itupun 1 novel dan 2 buku kumpulan fiksimini basa sunda plus 6 buah buku antologi.
Tapi bu Anita Owners Bitread Publishing justru menantang dengan memberikan ruang untuk berbagi tips dalam membuat tulisan fiksmini ini dalam helaran writing festival dari Perpustakaan Nasional yang selama ini dilakukan di jakarta. Hal yang menjadi catatan, katanya. Karena sebagai birokrat yang berkutat dengan rutinitas ternyata masih sempat membuahkan karya tulisan yang mengandung aneka makna.. wow tersanjung 5.
Acara Pembukaan Perpusnas Writers Festival 2023 / Dokpri.
Nah yang menjadi cerita takdir tadi adalah kondisi tubuh. H-1 kondisi badan drop banget, panas demam tinggi, batuk pilek dan suara hampir hilang. Bingung khan, apalagi esok hari diberi kesempatan untuk berbagi dalam sebuah workshop fiksimini bertema permasalahan sosial termasuk ikut dulu acara pembukaan. Suaraa.. gimana ini nanti paparan?… kondisi demam dan bapil sudah mulai mereda tapi suara… semoga.
Maka pilihannya adalah sepulang dari kantor, mandi air panas dan makan malam. Tanpa banyak basa-basi minum obat dan beranjak tidur. Ternyata kawan, takdir berbeda. Sepanjang malam tidak bisa memejamkan mata. Kantuk jauh sekali dari kantung mata. Entah apa yang terjadi. Kelopak mata ditutup tapi pikiran kemana – mana. Aslinya sampai ingin menangis dan marah – marah nggak jelas atas kondisi ini. Namun tetap saja hingga mentari pagi menyinari bumi kembali, kedua mata ini belum terlelap sedetikpun. Tentu dampaknya jelas, rasa pusing di kepala kanan begitu kuat menyerang. Juga berjalan kaki terasa seperti sedang melayang. Apalagi suara, belum kembali seperti biasa.
Sajikan materi dengan suara seksi / Dokpri.
Namun janji adalah janji, janji adalah amanah yang harus dituntaskan. Atas dukungan teman – teman dinsos (bu Rachmi, Bintang, rafli dan faisal), istri, anak dan keluarga maka diawali menghadiri acara pembukaan acara Perpusnas Writers Festival 2023 sebagai pembuka hajatan nasional yang dinanti oleh banyak pihak. Apalagi tahun ini penyelenggaraannya di Kota Bandung, dengan 2 venue yang luar biasa. Museum Konferensi Asia Afrika dan De Majestic Braga, kedua lokasi adalah gedung heritage bersejarah bukan hanya indonesia tapi level dunia.
Setelah mengikuti acara pembukaan secara resmi oleh bapak Kepala Perpustakaan Nasional maka tiba disaat yang dinanti, mengampu workshop yang sudah terjadwal pasti. Ditemani moderator yang full senyum dan baik hati, Kang Adew Habtsa serta para peserta yang begitu antusias dengan beragam latar belakang. Ada siswa siswi sekolah menengah atas, duta baca, guru SMA, guru SMP dan Guru SD serta bapak dan ibu para penggiat literasi.
Bismillah we… prung ah.
Photo bersama & berbagi / Dokpri.
Alhamdulillah, 2 jam bersama di salah satu ruang bersejarah di museum KAA bisa dilewati meskipun suara terdengar begitu seksi. Interaksi dan diskusi menjadi kunci, saling berbagi adalah hal yang hakiki. Tantangan menulis fiksimini disambut atusiasme dan bisa dituntaskan dalam waktu yang tersedia. Jika ada kekurangan dari sisi makna dan kelebihan dalam hitungan kata yang dipatok 150 kata, itulah tantangannya. Tetapi keberanian menulis itulah yang ditularkan dengan menggunakan media fiksimini yang cukup singkat namun sarat makna.
Seiring para peserta membuat tulisan fiksimininya, terasa tidak afdol kalau pemateri inipun tidak melakukan hal yang sama, membuat fiksimini berbahasa sunda bertema masalah sosial. Ini dia tulisannya :
FIKMIN # RUNGSING#
Gulinggasahan sapeupeuting, teu bisa peureum sakerejep kerejep acan. Panon mah bisa dipeureumkeun tapi uteuk ngacacang cus cos kaditu kadieu, teu puguh rampa samar kahayang. Hayang ceurik, tapi piraku awak badag sora handaruan, ngadon lèwèh ku sabab teu bisa sarè.
Kaluar ti pangkèng ninyuh entèh, aya jeruk dua siki, dikeremus. Seger. Tapi angger sirah dungdeng. Asup deui ka pangkèng, ngajaran digolèrkeun. Sugan les peureum, tapi teu bisa, angger kawas tadi. Awak lungsè, lieur, teu bisa sarè.
Keur guling gasahan, karèungèu di buruan aya nu ngawangkong. Lalaunan muka hordèng, noong. Geuning 3an marakè stelan hideung – hideung. Tuluy nu saurang kaciri malèdogkeun bungkusan ka tèras imah. Hatè tagiwur bisi bom atawa barang nu pimatakkeun. Tapi geus kitu simpè.
Fiksimini ini mengusung tema universal yang bisa menjadi muara atau malah asal mula permasalahan sosial yaitu terkait dengan uang. Uang seringnya membutakan mata hati seseorang, uangpun bisa mengubah perilaku seseorang. Dalam tulisan ini, sebuah suasana menjadi baik-baik saja setelah berjumpa dengan uang dadakan, tidak melihat dampak atau konsekuensi yang akan dihadapi.
Ah itulah indahnya cerita fiksi, bisa dinikmati guliran kata yang sering membuncah tiada henti. Berbahagia dan bersyukurlah karena diberi berkah dari Allah SWT untuk dimampukan menulis cerita fiksi dan menikmatinya dalam setiap jalinan kata.
Itulah sebuah momentum rencana yang tersusun jauh – jauh hari hampir berantakan karena si suara sementara menghilang plus kondisi badan yang rapuh karena semalaman sang kantuk menjauh. Tapi dengan dukungan semuanya akhirnya bisa dilalui dengan sebaik-baijnya.
Selamat jam segini kawan, eh masih malam ya?… semangaaat. Wassalam(AKW).
Sebuah ungkapan rasa yang hadir dalam rangkaian kata..
Acara Lepas sambut 070923
CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah pertemuan selalu beriringan dengan perpisahan, sebuah kebersamaan ada saatnya harus menyesuaikan dengan keadaaan. Secara harfiah perpisahan ini hadir karena sebuah prosesi pelantikan pejabat tinggi pratama di lingkup pemerintah provinsi jawa barat. Salah satunya yang beralih tugas adalah bos kami, bapak kami, guru sekaligus orangtua kami. Bapak dr. Dodo Suhendar, MM menjadi Staf Ahli Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Jawa Barat dan dilanjutkan oleh Kadinsos baru, Ibu DR. Ida Wahidah Hidayati, SE, SH, M.Si.
Sebagai refleksi campur aduknya rasa, maka jalan terbaik adalah disampaikan dengan rangkaian kata karena jika diucapkan khawatir terbata-bata. Juga ditulis dalam bahasa sunda sebagai sebuah pesan bahwa selain ungkapan rasa juga ada semangat menjaga atau melestarikan bahasa ibunda.
Haturan….
Pantun Lepas Sambut Kadinsos Jabar 070923
Mapay desa nu baranang Manggih domba disimbutan Aya mangsana datang Aya oge mangsana amitan
Tukang gula disangka semah Nu ditiung mamawa runtah Baheula datang kusabab amanah Ngawangun nagri ngarah tumaninah
Ngarendos peuteuy keur parab oray Isukna tuluy disangrai Sanaos ayeuna atos paturay Silaturahmi mah ulah peuray
Catang regas dina bantal Mulung bendo eusina hurang. Wilujeng tugas ditempat enggal Bapak Dodo, guru oge sepuh urang.
Neang gaang ditengah sawah Kudu dikawal bisi kabawa caah Ayeuna diteraskeun ku ibu ida wahidah Dinas sosial nu pinuh berkah
Daun ragragan kana rancatan Nyandak pajeng nyingkahan begal Pileuleuyan juragan kadis mantan Mugi langkung majeng ditempat enggal
***
Demikian ungkapan rasa yang ditumpahkan dalam rangkaian kata. Ingin terus menulis tapi jemari tak kuasa menahan tangis. Akhirnya biarkan waktu yang abadi menjadi saksi silaturahmi kita. Menjadi saksi bahwa bapak membawa perubahan, inovasi, sinergi dan kolaborasi di dinsos raharja ini.
CIMAHI, akwnulis.com. Perjalanan panjang menikmati tarian kata dan liukan kalimat selama itu terus dijaga semampu diri. Dengan meluangkan waktu menulis apapun yang mampu dituangkan serta disimpan di jagad online yaitu di blog pribadiku ini. Lalu dengan kekuatan media sosial, link tulisannya tersebar meskipun hanya terbatas dari sebagian kontak di hape, ataupun yang kepo melalui status WA yang hanya berumur 24 jam saja.
Alhamdulillah tulisanku yang ringan, pendek dan singkat.. eh sama ya. Ini bisa terus mewarnai jaringan silaturahmi dan juga (mungkin) menjaga literasi pribadi untuk terus berkarya meski tekanan dan tantangan kesibukan adalah sebuah cengkeraman penghalang yang harus dilawan, dihadapi dan ditaklukan.
“Selanjutnya adalah apakah sudah dibuat buku, dikumpulkan dan dicetak tentu dengan cover yang bagus dan dapat dinikmati secara khusus?”
Pertanyaan inilah yang menggugah jari jemari yang lentik eh bulet ini untuk menuliskan barisan kata agar semua menjadi terang benderang.
1. BUKU YANG SUDAH DIHASILKAN
Jika melihat dari sisi produk yang dihasilkan hingga tulisan ini dibaca oleh para penikmat kata yang budiman, baru 3 buah buku yang dihasilkan secara pribadi dan semuanya bergenre fiksi atau cerita rekaan saja (di klaimnya). Meskipun tentu ide ceritanya berhubungan erat dengan pengalaman pribadi dalam menjalani kehidupan yang penuh berkah ini.
Sementara untuk buku keroyokan antologi ada 6 – 7 judul buku yang akan dibahas kemudian. Kembali ke buku murni ciptaan sendiri, inilah daftar buku hasil karya andriekw, sebagai berikut :
1. BELAHAN JIWA 2. ITIKURIH 3. LALANDONG
Yuk kita bedah satu – satu guys.
Novel Belahan Jiwa / Dokpri.
Buku pertama berjudul BELAHAN JIWA adalah sebuah buku dalam bentuk novel yang berisi tentang sebagian perjalanan hidupku mengawal dan menemani almarhumah istri menjalani pengobatan selama 5 tahun kurang 1 bulan sebagai survivor kanker payudara hingga akhirnya kembali ke haribaan illlahi pada bulan oktober 2014 lalu.
Buku pertama ini disusun dengan pendekatan kenekatan tapi terus berihtiar meskipun dengan segala kekurangan. Akhirnya hadirlah buku novel yang menjadi tonggak awal kehadiran buku fiksiku. Alhamdulillah.
Buku ITIKURIH / Dokpri.
Buku kedua berjudul ITIKURIH, adalah kumpulan tulisan rekaan yang super pendek yaitu maksimal 150 kata sudah menjadi sebuah jalinan cerita dan ditulis dalam bahasa sunda atau lebih terkenal dengan sebutan FBS yaitu fiksimini basa sunda. Di buku pertama kumpulan fiksimini sundaku ini terdapat 101 tulisan singkat yang mungkin bisa memberi senyum dan manfaat.
Buku LALANDONG / Dokpri.
Buku ketiga berjudul LALANDONG, masih sebuah buku kumpulan fiksimini basa sunda berjumlah 114 cerita fiksi singkat dengan membahas tentang keseharian menggunakan bahasa sunda yang digunakan sehari-hari. Judul ‘lalandong’ memiliki arti berobat atau pengobatan. Maksudnya adalah dengan membaca buku ini dan menikmati isi ceritanya menghasilkan senyuman dan keceriaan sehingga mengobati suasana jiwa yang sedang galau dan muram.
2. BAGAIMANA CARA MENIKMATINYA? (MEMBACANYA).
Produk buku yang sudah dihasilkan tentu bertujuan menyampaikan ide gagasan atau minimal informasi yang menghibur dan menenangkan. Memberi semangat bagi pembaca dan sekaligus menambah wawasan dalam mensyukuri nikmat dunia. Plus untuk buku yang kedua dan ketiga memiliki ide dan semangat untuk melestarikan budaya daerah yaitu bahasa, khususnya bahasa sunda.
a. VERSI BUKU CETAK Untuk versi cetak maka dipastikan harus hadir bentuk buku cetak yang bisa dipegang, diraba dan dibuka – buka, maaf bukan dicelupin (itu sih iklan snack). Memang versi cetak tidak ada di Toko buku besar, tetapi sekarang dengan hadirnya BITREAD, siapapun bisa menerbitkan buku tampa khawatir dengan biaya yang besar.
Jadi tingal klik DISINI, ikuti langkah – langkahnya dan ditunggu beberapa hari maka versi cetaknya akan dikirimkan ke alamat kita.
b. VERSI E-BOOK Untuk yang ingin membaca dengan membeli ebooknya bisa dilakukan dengan 2 cara : 1) Melalui website Bitread ada tombol ‘keranjang gramedia’ 2) Langsung ke alamat Gramedia ebook dan search ‘andrie kustria wardana’ atau supaya praktis klik saja DISINI. untuk memperlancar proses membacanya diperlukan instalasi aplikasi GRAMEDIA EBOOK dan ikuti langkah – langkahnya. Harga ebooknya lebih murah dibanding versi cetak dan pembayarannya bisa melalui mobile banking atau aplikasi DANA, OVO dan sejenisnya.
c. VERSI RANDOM Nah untuk pilihan ini tergantung selera, kalau mau berbentuk buku ya silahkan pesan. Penikmat ebook juga tinggal doenolad aplikasi dan beli buku onlinenya. Untuk yang penyuka tulisan yang bisa dibaca gratisan, tinggal pantengan eh ikuti aja blogku ini www.akwnulis.com
Itulah informasi yang bisa diberikan bagi siapapun yang ingin atau penasaran dengan buah karyaku yang baru sedikit ini.
Selanjutnya ada beberapa buku yang dibuat keroyokan atau sekedar sebagai kontributor cerita saja yang besok lusa akan kita bahas. Selamat weekend kawanku. Wassalam(AKW).
BANDUNG, akwnulis.com. Jumat pagi kemarin begitu penuh momentum menyenangkan. Diawali dari photo bersama di area pintu masuk lalu duduk di tribun menunggu acara dimulai. Tak berapa lama berkumpul bersama di lapangan softball, photo bersama dengan pak Sekda secara bergiliran dengan unit kerja lain lalu bergerak bersama dalam iringan musik menghentak dan memaksa raga ini bergerak. Senam pagi bersama dimulai.
Tetapi di saat senam pagi usai ditutup dengan photo bersama gubernur, pak sekda, ibu atalia dan para pejabat eselon 2 lalu berjalan menuju tribun penonton barulah teringat padamu, yang ternyata sudah tidak bersama lagi. Tanpa berfikir panjang segera berlari keluar dan mencoba menapaki kembali pergerakan raga ini diawali dari sesi photo perdana diluar arena tadi.
Kepala menunduk sambil mengamati rumput hijau di halaman lalu lantai semen sebelum memasuki lapangan dan dilakukan berulang kali dengan harapan kita bisa berjumpa pagi. Namun. Apa mau dikata, tanda kehadiranmu tidak ada. Semua seperti biasa saja, hilir mudik dengan kesibukan dan kepentingan masing-masing.
Lelah berkeliling, akhirnya kembali ke tribun dalam mengikuti rangkaian kegiatan hingga berakhir dengan segala teriakan dan suasana meriah dan penuh kekeluargaan.
Tiba – tiba teringat ke hari kemarin dan sehari sebelum kemarin atau selumbari, betapa intensitas kegiatan bersamamu begitu lekat. Baik digunakan untuk menikmati audio di spotify, youtube lalu menikmati aneka film di netflix dan disney hotstar terdapat juga proses pengeditan video untuk channel youtube baik pemotongan dan pengaturan ukuran nada hingga perekaman suara yang sesekali diubah menjadi mode suara chipmunk atau tamias (bahasa latin).
Lagi edit & rekam denganmu / Dokpri.
Termasuk juga banyak berpose denganmu, bergaya dengan telinga bertengger selalu kamu. Sebuah kebersamaan disaat – saat terakhir. Sebuah kerjasama apik yang selama ini terjalin, beraneka hasil yang diwujudkan bersama terutama channel youtubeku @andriekw yang masih merangkak menapaki tantangan jaman tanpa terganggu pendapat dari siapapun. Lebih baik membuat sesuatu dari pada berkomentar terhadap karya orang lain padahal diri sendirinya tidak berbuat.
Akhirnya setelah memastikan kehadiranmu tidak bisa ditemukan lagi. Maka dengan merelakan perpisahan ini semoga semua kembali baik – baik saja. Tertulis kata ikhlas didalam kata yang terucap, meskipun hati kecil harus belajar cepat dalam memaknai kehilangan kali ini.
Kenangan bersama kembali muncul seperti potongan gambar film yang tampil disengaja, juga aktifitas rekam dan edit audio video yang selama ini menjadi penyeimbang rutinitas kehidupan, rutinitas pekerjaan yang dinamis dan butuh penyaluran.
Selamat jalan kawanku, semoga ada pihak yang menemukanmu dan memang membutuhkan sehingga dirimu bisa bermanfaat kembali. Tidak sulit kok karena modelnya plug & play dan on off bluetooth dengan mudah. Bisa kompatible dengan berbagai merk smartphone, laptop dan produk apple seperti macbook dan macbook air.
Selamat jalan kawanku / Dokpri.
Selamat jalan kawan.
Tiba – tiba sebuah suara mengagetkanku, “Apa yang hilang mang?, kok wajahnya sedih begitu?”
“Oh itu, beli lagi aja, nggak perlu melankolis begitu!” Sebuah jawaban yang tegas, ketus tanpa empati. Bukan masalah harga saja yang menjadi pertimbangan, tapi nilai kebersamaan dan suka duka mewujudkan sesuatu itu yang menjadi penyebab keterdiaman ini.
Tapi ya sudah, keikhlasan kita harus universal. Ikhlas kehilangan kamu hai earphone bone connectionku sekaligus ikhlas dengan komentar seseorang yang begitu membagongkan. Dalam kehidupan fana ini sebuah momentum kehilangan adalah biasa, meskipun agak limbung sesaat. Selanjutnya tinggal bagaimana kita bisa memaknainya. Happy weekend kawan, Wassalam(AKW).
LEUWIGAJAH, akwnulis.com. Selamat malam para pembaca setia di tulisan singkatku ini yang berkutat antara cerita kopi dan fiksimini. Tulisan sederhana yang orisinil karena hadir dari persentuhan antara kulit jempol dan tuts keyboard virtual di smartphone ini seiring ide dalam otak bergerak menjadi kata dan kalimat.
Idenya hadir karena tadi siang memang menjadi imam shalat dhuhur di mesjid kantor dan kebetulan cincin bacan menemani jemari di tangan kiri, tepatnya bertengger di jari manis dan agak longgar karena memang hasil pemberian. Akibatnya shalat menjadi penuh konsentrasi karena takut pas tangan diangkat, cincin terbang dan menimbulkan akibat.
Alhamdulillah, shalat dhuhur lancar hingga tuntas. Tapi ide ini terus bertengger di benak dan harus di eksekusi menjadi jalinan kata yang tepat sebelum idenya menghilang ditelan kesibukan yang tiada akhir. Selamat membaca.
FIKMIN # NGACLENG #
Anjog ka jero masjid, beungeut masih baseuh ku cai wudu. “Mangga mang, ngaimaman” Teu loba carita Mang Uca maju ka hareup gigireun mimbar. Nangtung ajeg, ngarènghap sakedap, “Allooohu Akbar” Takbirotul ihrom lancar.
Bacaan fatihah jeung kulhu ngagorolang na jero hatè, sabab ieu mah solat lohor. Giliran ruku ogè antarè. Dina mangsa i’tidal aya kajadian.
Bacan jeung baturna / Doklang.
“Samiallohu liman hamidah!” Sora tarik bari leungeun kaluhur nepi ka puhu ceuli, rada ditanagaan. Cleng cleng cleng! Karasa aya nu lèsot tina curuk, jariji jeung jajangkung.
“Adaaw” “Prang….”
Dua sora nu teu pati dipadulikeun, tuluy waè anteng ngaimaman padahal kadèngè aya ma’mum ngagorowok, “Subhanalloh.. Subhanalloh.”
Bèrès salam ngalieuk katukang, ngagebeg. Jang ibro keur diriung, tarangna getihan. Gigireunna kaca masigit peupeus patulayah. Teu lila sakabèh panon ngalieuk, nempo ka imam solat nu teu boga rarasaan. Mang Uca ngaheneng, sabot kitu inget kana ali bacan meunang nginjeum. Geuning lain dina ramo deui tapi tinggalolèr dina karpèt masigit, satilu – tilu.
***
Itulah kotretan kali ini, hati lebih tenang karena ide sudah tertuang. Menambah khazanah catatan pribadiku dan semoga memberi senyum bagi pembaca budimanku. Wassalam(AKW).