BEDA 1 HURUF, BERESIKO.

beda satu huruf ternyata berakibat fatal.

CIGANJENG, akwnulis.com.  Semilir angin siang yang hangat dan memberi raga cepat hadirkan keringat tidak mengurangi semangat untuk menuangkan kata menjadi kalimat yang bisa menjadi penguat. Apalagi ternyata ide menulis dihadirkan dari buah pembicaraan dengan seorang kawan, cerita sehari-hari yang bisa dibuat sebuah cerita singkat yang memiliki arti.

Kali ini ide cerita hadir dari perbincangan dengan rekan kerja sekaligus pegawai senior di kantor yang memiliki banyak pengalaman dalam kehidupan. Salah satunya adalah diskusi tentang sebuah kejadian yang dialami bersama pimpinannya di masa lalu.

Ide ceritanya ditangkap dan coba ditulis ulang atau reka cerita tentu dengan kemasan yang berbeda dan genre bahasa sunda sebagai bagian dari cara penulis melestarikan bahasa ibunda. Maka jadilah fulisan ini. Secara ritual pribadi, tulisan ini masuk dalam frame fiksimini basa sunda atau fbs. Jadi setelah tuntas menulis dibawah 150 kata, langsung di publish di grup tertutup FB. Maka dinamika komentar dan like menjadi penanda respon semuanya. Tapi di grup ini pure bahasa sunda. Lalu untuk di publish di blog pribadi ini, perlu ditambah kata – kata dan cerita latar belakangnya.

Inilah ceritanya :

# MIHEULAAN #

Kijang pasagi bulao kolot nyemprung meulah patalimarga di wewengkon parungpanjang. Uing nyekel setir, di gigireun dunungan diuk ngilu nempokeun mobil jeung motor nu piligenti diliwatan, panonna meuni awas.

Uing mimitina teu jero teuing nincak gas tèh, sabab bisi dunungan bendu. Maklum kakara nyupiran dunungan ka luar dayeuh, biasana ukur sakuliwek lembur. Ngaroris sawah atawa nganteur ka hèleran.

Tapi geus sababaraha kali, dunungan ngagorowok, “Piheulaan Jang, bes!” Mimitina mah palaur, tapi asa dibere sumanget, gas didedetkeun. Miheulaan ti kènca atawa katuhu, dunungan seuseurian.

Teu kaop jalan rada lempeng, dihareup aya treuk kontèner gè, pasti ngagorowok, “Bes!!… bes!!”

Langsung pindah gigi, gas ditincak, setir rada ka katuhu. Cuusss, kijang nyemprung di katuhu. Lèok deui ka kènca, asup jalur. Gas deui.

Bes!!”
Langsung miheulaan ti katuhu, cus.

Bes!!”
Miheulaan deui, dunungan seuserian bungah.

Bes!!” Rikat miheulaan.

“Beus.. beus.. beus!! Dunungan ngagorowok, uing ngagas.

Jebrèd!!.. poèk.

***

Cerita pendek atau super pendek ini berjumlah 147 kata, jika tidak percaya silahkan hitung saja. Ada beberapa respon terkait tulisan ini adalah anggapan bahwa merupakan tulisan yang belum tuntas alias bersambung.  Padahal itulah titik keindahan dan gaya menulis fiksimini yang disetting sedemikian rupa sehingga di akhir cerita bisa memberikan persepsi makna berbeda.

Inti dari cerita ini adalah model komunikasi sederhana yang secara tulisan hampir sama alias mirip padahal maknanya berbeda. Yaitu kata ‘bes‘ dan ‘beus‘ mari kita cermati.

Kata pertama, bes. Itu mengandung arti perintah atau saran untuk bergerak lebih cepat untuk menyalip kendaraan yang ada di depan, tentu dengan perhitungan yang tepat. Biasanya kombinasi antara keahlian dan nekat hehehehe.

Kata kedua, beus. Itu artinya bis, kendaraan besar yang bisa mengangkut banyak penumpang dengan ukuran bis besar atau bis 3/4. Karena kemiripan sebutan itulah sehingga cerita fiksimini sunda tadi hadir.

Akhir cerita ada kata kunci, yaitu ‘jebrèd‘ dan ‘poèk‘ yang artinya berarti terjadi peristiwa benturan dan pandangan gelap dari pengemudi yang sekaligus pencerita. Apakah benturan dengan bis atau benturan dengan tebing untuk menghindari tabrakan dan bisa juga kendaraan berbenturan dengan pohon, itu adalah persepsi dalam sebuah cerita.

Hikmahnya adalah berhati-hatilah diperjalanan. Awali bepergian dengan membaca doa agar selamat di perjalanan hingga tujuan dan kembali ke rumah semula. Saat mengemudi kendalikan emosi dan tetap patuhi rambu – rambu lalu lintas. Selamat beredar kawan, Happy weekend, Wassalam (AKW).

NANGTUNG – fbs

Nuju kitu teh kieu…

FIKMIN # NANGTUNG #

Sabot leungeun katuhu napel dina tarang, panon mencrong lempeng ka hareup. Dina jero saku kènca, saku nu hareup hapè ngageter, sigana aya nu nelepon.

Tegak grak!” Sora komandan upacara nitah nurunkeun posisi hormat. Leungeun turun kana posisi nangtung istirahat.

Geus kitu, ngalèngkah saetik ka hareup ngadeukeutan mic. Rèk biantara dina raraga upacara. Mimitina bubuka jeung puji syukur ka Gusti nu murbeng alam.

Pas asup kana tèma upacara, hapè dina calana ngageter deui. Atuh konsèntrasi ruksak, sabab geterna hapè tèh meuni pas pisan kana tarang baga. Mimitina biasa ngan lila-lila asa ngeunaheun, aya nu hudang.

Ngomong geus pabeulit, antara gètèk jeung ngabahas integritas. Tapi kudu ditahan nepika upacarana lekasan. Samenit asa sataun, kèsang nyurulung tandaning bingung.

Bèrès upacara gura – giru balik kanan, perwira upacara nyambut baru laporan. Uing ngajawab hormatna tuluy rurusuhan ngalèos ka jero kantor. Di jamban kantor karèk bisa nenangkeun manèh, sanajan nu ieu mah nangtung kènéh. (AKW).

DIBATURAN – fbs

Tulisan ringan berbahasa sunda, nggak ngerti ya DM atau japri..

CIBEBER, akwnulis.com. Seiring waktu bergerak menapaki sabtu malam, ternyata dalam 2 minggu ini ada sedikit perbedaan dalam hasil karya sederhana berupa tulisan dan sejumput makna. Terlihat bahwa tulisan yang hadir rutin adalah sebait pantun harian dilengkapi ilustrasi gambar yang mungkin relevan serta ditampilkan di media sosial dalam bentuk postingan reels baik di facebook juga di instagram.

Sementara sebuah janji menggunakan bahasa ibunda yaitu bahasa sunda dalam menuangkan ide dan cerita agak terhenti dalam dua minggu ini. Maka dalam semarak malam minggu ini jemari kembali menari dan berusaha hadirkan cerita singkat 150 kata berbahasa sunda yang lebih dikenal dengan FBS, fiksimini basa sunda.

Inilah ceritanya….

***

FIKMIN # DIBATURAN #

Asa bayeungyang di jero tènda tèh, lalaunan Jang guru Didin kaluar. Leuleumpangan mapay tènda barudak nu geus jarempling, sora kèrèk wè patembalan. Jugana carapèeun geus acara jurit malam.

Nempo ka posko pembina, katingali Guru Dadang keur uplek ngobrol. Tapi rèk ngadeukeutan tèh asa wegah. Mending ngadaweung sorangan bari nempo sungapan Ciawitali nu caina umpal – umpalan.

Pak guru punten diwagel” Sora Jang Dodi mahasiswa magang nu ngiluan perjusami ieu ngagareuwahkeun. “Aya naon Dod?”

Saèna bapak ènggal ka tènda, margi palih kènca bapak aya nu nyarengan” Dodi ngaharèwos, bari ngodeuan tong ningali ka kènca. Tapi kalah ka panasaran, lieuk ka kènca, gebeg. Aya pocong sadua-dua, nyèrèngèh.

Guru Didin tibuburanjat muru ka tonggoh, kana tènda pembina. Bari babacaan sabisa-bisa.

Sup ka tènda pembina, kaciri aya dua urang geus ngaguher. Guru Didin reugreug aya batur. Lalaunan ngagolèr gigireunna. Pas nempo beungeut nu keur kèrek, geuning Jang Dodi jeung babaturanna. “Ari tadi saha?”

***

Seperti biasa jika para pembaca tidak atau kurang paham maknanya karena berbahasa daerah, ataupun memang agak bingung dengan jalan cerita yang singkat ini maka jangan ragu tanyakan saja di kolom komentar atau japri via WA plus DM di Instagram, insyaalloh dilayani dengan segera. Tentu dengan catatan, pertanyaan atau pesan yang relevan.

Selamat bermalam minggu ya, baik yang semarak bersama keluarga tercinta ataupun sendiri menikmati denting waktu yang tak pernah berhenti. Wassalam (AKW).

BERSUA DENGAN PUTRI BERMAHKOTA.

Cerita misteri masa lalu sambil mengisi waktu penerbangan yang ditunda.

KUALANAMU, akwnulis.com. Delay demi delay datang bertubi-tubi sehingga cara terbaik yang harus disiapkan adalah berusaha mengendalikan kesabaran dan memanfaatkan waktu untuk membuat sesuatu yang bermakna. Kekesalan memang sulit dihindarkan tetapi apa mau dikata, pilihan maskapai penerbangan yang katanya sering menerima komplain akhirnya kejadian. Jadi ya sudah terima saja, gitu aja kok repot.

Cara terbaik versi diri ini untuk mengisi waktu penantian yang agak tidak pasti ini adalah menulislah. Maka segera berusaha berkonsentrasi dan mencari tema tulisan yang bisa dituangkan dalam jalinan kata. Inilah ceritanya..

BERSUA DENGAN TUAN PUTRI BERMAHKOTA.

Malam terasa begitu panas suasana di dalam rumahku. Kami berempat duduk bersama dalam acara makan malam memgelilingi meja makan dengan sedikit peluh di wajah masing – masing. Memang musim kering sedang melanda desa kami, tetapi suhu panas malam ini sungguh berbeda, menyiksa.

Setelah makan bersama usai, ayah akhirnya berinisiatif membuka jendela ruang tengah agar ada udara luar yang mungkin bisa membantu mengurangi kegerahan ini. Padahal di tengah rumah, kipas angin berputar – putar dalam mode maksimal demi hasilkan angin kenyamanan.

Aku yang masih bersekolah di kelas 4 sekolah dasar beringsut mengikuti langkah ayahanda yang bergerak membuka pintu depan selain tentunya jendela ruang tengah yang telah terbuka selebar – lebarnya.

Ayo kita diluar saja, lihat bulan purnama nyaris sempurna” Seruan sang ayah langsung disambut dengan kehadiranku yang memang senang sekali bermain di halaman rumah. Biasa bermain sore hari hingga menjelang magrib tiba, lalu pergi ke mesjid besar dekat kantor desa untuk mengaji hingga jadwal shalat isya.

Namun kali ini pengajian ditiadakan karena pak ustad pengajarnya sedang mengunjungi keluarganya yang sakit di luar wilayah kecamatan. Jadi jadwal mengaji di rumah masing – masing.

Bermain – main di halaman rumah dibawah sinar bulan terasa menyenangkan. Apalagi adik kecilku yang masih 4 tahun, ikut bergabung bersama ibunda. Belajar berjalan kesana kemari sambil tertawa – tawa.

Ayah mengambil bola plastik kesukaanku, dan kami bergiliran menjadi penendang bola lalu jadi penjaga gawangnya, seru deh pokoknya.

Hingga pada suatu ketika, ayah menendang bolanya cukup kencang dan bola bergulir melewati semak yang berbatasan dengan jalan setapak di depan rumah. Aku berlari mengejarnya hingga memasuki semak rumput yang cukup tinggi. Terlihat bola plastikku disitu.

Pada saat tangan mungilku menjulur akan.memgambil bola, ada sesuatu yang memandangku dengan tatapan tajam. Dua mata kecil berwarna merah, lalu terlihat seperti berdiri dengan leher mengembang dan sisannya adalah sebuah gulungan indah berwarna perak memantulkan sinar rembulan yang semakin terang. Instingku meminta agar tangan dan badan ini tidak bergerak karena yang berada dihadapanku itu adalah ular sendok yang sedang bersiaga, mungkin terganggu oleh kehadiran bola plastikku.

Aku berhadap – hadapan dengan ular itu, terlihat sepasang matanya memandang waspada. Sama – sama berdiam diri. Aku menahan nafas sekuat mungkin, jikalau harus dilepas maka dilakukan perlahan. Jangan sampai membuat gerakan mengejutkan karena itu akan berakibat fatal. Mulut terkunci tanpa suara sedikitpun.

Ayah yang menyusul karena melihat anaknya terdiam di dekat semak – semak, juga berdiri mematung. Karena ular sendok besar itu bukan binatang sembarangan. Oh ya kawan ular sendok itu adalah sebutan untuk ular kobra lokal yang memiliki ciri bisa menggembukan lehernya sehingga bisa seperti sendok, itulah asal muasal disebut ular sendok. Urusan berbisa, inilah ular yang berbahaya karena bisa yang ada di mulutnya cukup mematikan. Apalagi bagi anak kecil sepertiku.

Aku yang terpaku berusaha menatap kedua mata kecil ular sendok itu. Terlihat kilau warna perak yang membuat ular itu begitu gagah, kokoh dan memiliki aura ketegasan. Tapi yang agak mengernyitkan dahi adalah diatas kepalanya tidak mulus seperti ular – ular biasa, seperti ada bentuk mahkota keemasan yang berkilau ditempa cahaya rembulan.

Tiba – tiba dari sudut matamu terlihat ayahanda yang tadi berdiri perlahan duduk di tanah, tapi matanya tetap waspada menatap ular sendok bermahkota ini. Ular sendok kepala sedikit bergeser dan langsung berhadapan dengan ayahku. Waduh suasana makin tegang, jangan sampai ayanda berkorban mengalihkan perhatian sang ular agar anaknya terhindar dari bahaya tapi berpindah kepada beliau.

Belum selesai pikiran buruk ini berakhir, terlihat ayahanda membungkuk di depan ular bermahkota itu sambil berkata, “Maafkan kami yang telah mengganggu istirahat tuan putri. Ijinkan kami mengambil bola itu dan pergi dari sini”

Ular sendok bermahkota itu terlihat perlahan mengangguk dan bergerak ke samping bola plastik tadi lalu seperti masuk ke dalam lubang yang berada di samping bola plastik itu. Gerakan tubuh gemulainya terlihat begitu indah dan cepat, hingga akhirnya menghilang dari pandangan dan berganti menjadi keheningan.

Ayahanda segera mengambil bola dan mengajakku segera kembali ke rumah, terdengar dari mulut ayahanda gumaman perlahan, “Terima kasih tuan putri.”

Kamipun akhirnya menyudahi bermain di halaman rumah ini dan kembali masuk ke rumah bersama adikku dan ibunda. Ayahanda tidak banyak bicara tetapi terlihat begitu teliti disaat menutup pintu dan jendela sambil sesekali wajahnya melihat ke luar rumah seperti ada sesuatu yang dilihatnya.

Aku beranjak cuci tangan cuci kaki lalu berwudhu untuk dilanjutkan shalat isya dan beranjak tidur di kamarku. Tepatnya di bagian depan rumah mungil kami.

Sementara di kepalaku beraneka reka kata dan kalimat serta memperkirakan sebuah kejadian aneh yang menegangkan ini. Tapi rasa lelah lebih kuat untuk membuat raga ini istirahat dalam buaian mimpi yang tepat.

***

Keesokan harinya adalah hari minggu, hari yang dinanti karena berarti tidak sekolah dan bisa bermain seharian. Indahnya masa anak – anak yang tidak ada beban, hanya tugas sekolah dan turuti kemauan orangtua lalu sisanya adalah bermain dengan teman. Berlarian, main layangan, petak umpet, sorodot gaplok, gatrik, ngurek, berenang di bendungan hingga menyalakan meriam bambu dengan suara yang mencengangkan.

Tapi teringat kejadian tadi malam, tanpa minta ijin kepada ayahanda. Berjalan menuju tempat tadi malam posisi bola plastikku berada dan penasaran ingin melihat lubang tempat masuknya ular sendok bermahkota. Khawatir suatu saat ular itu keluar lagi tanpa aba – aba.

Tapi ternyata di lokasi bola plastik tadi malam, tidak ada lubang sama sekali. Hanya tanah dan rerumputan semak saja. Tidak ada lubang sarang ular, seolah tadi malam ular sendok itu menghilang ditelan bumi begitu saja. Dengan ranting coba ditusuk – tusuk ke tanah, tidak ada tanda – tanda lubang itu berada. Tiba – tiba ada suara yang mengagetkanku dari belakang.

Sudahlah nak, tidak usah dicari. Itu bukan ular biasa” Ayahanda ternyata sudah ada di belakangku. Aku mengangguk dan menggamit tangan ayahku. Lalu berjalan pergi meninggalkan tempat itu.

***

Itulah sekelumit kisah yang bisa diceritakan kali ini. Disaat tulisan ini selesai bertepatan juga dengan panggilan dari speaker untuk segera memasuki pesawat yang akan membawaku terbang kembali ke Jakarta. Alhamdulillahirobbil alamin. Wassalam (AKW).

CEURIK – fbs

Ceurik gè hasil.

FIKMIN # CEURIK #

Teu pira ukur ku basa matak gudawang nu jadi rasa. Teu aya haok gaplok tur gorowok, istuning soanten halimpu tapi geuning ngagudawangna hatè.  Teu katingal tiluar mah, padahal dilebet paburayah katugenah, pacampur sèsa amarah.

Teu aya kecap nu kendat, teu aya kalimah papagah nu biasana merenah. Istuning lambey ngabetem, ngabigeu jempling.

Hanjakalna tèh sanajan lambey mah kuat nahan teu aya cariosan nu kalisankeun, tapi geuning ari rasa boga cara keur nempokan kasaktènna. Naèk kana panon, noèlan cimata nu tungtungna budah teu katahan. Ceurik balilihan.

Nyi mojang nu tadi nyarios, ngahuleng hareugeueun. Samar polah ningali aki – aki ngagukguk ceurik bari kaciri nahan kaambek sakuatna.

Aa ulah nangis, atos atuh”

Si Aki lain eureun, kalahka narikan ceurikna. Kaciri kanyeunyeurian.

Aa atos liren nangisna, isin ka nu sanès”

Nyi mojang nangkeup bari ngusapan tonggong si Aki. Sora nu ceurik lalaunan rèpèh, tapi ingsreukna masih nyèsa, bari nangkeup tipepereket ka nyi mojang nu rancunit.

***

MENULISLAH SELALU

Menulis lagi yuk….

CIMAHI, akwnulis.com. Terkadang menulis sesuatu itu terhenti karena sebuah sebab atau malah lebih sering terhenti tanpa sebab. Seolah begitu buntu ide yang ada di kepala untuk dituangkan menjadi lanjutan kalimat yang penuh dengan kata bermakna. Begitupun saat ini, sesaat terdiam sambil memandangi segelas kopi yang tersaji dingin karena sebuah bola es batu menemaninya di gelas kaca.

Maka sesuai dengan protap atau prosedur tetap yang dimiliki, lakukan sesuatu agar penulisan ini terus melaju. Sebagaimana trik yang pernah disampaikan kepada teman – teman di beberapa pertemuan yang lalu. Cara terbaik diriku jika buntu dalam menulis adalah tuliskan kebuntuan itu karena apa, siapa, mengapa dan bagaimana.

Sebagai penguat motivasi maka lihatlah di kanan bawah sedikit di blog kita ada penanggalan yang menjadi penanda apakah kita menulis atau tidak. Di bulan september yang lalu ada 10 tulisan yang tersaji. Tentu tulisan random yang tertuang dalam berbagai kondisi, yang pasti ada cerita kopi dan cerita berbahasa sunda dalam format fiksimini. Ditambah beberapa cerita urban legend yang cukup meninggikan bulu kuduk meskipun berusaha diceritakan dengan suasana biasa. Tapi kembali kepada para pembaca tentang rasa penasaran, takut atau biasa saja.

Sementara lihat kalender bulan oktober masih sangat minim tulisan, inilah saatnya melengkapinya dengan rangkaian kata yang hadir dari tarian jemari khususnya kedua jempol ini. Tring… maka tulislah semuanya dan menjadi tulisan.

Sementara muncul alasan tentang ketertundaan menulis di minggu ini karena lebih berkonsentrasi dengan tugas – tugas yang bejibun eh begitu menumpuk ditambah dengan lebih menikmati ‘memancing‘ perhatian netizen youtube agar menjadi subsriber baru melalui tayangan under 60 detik di video short yang ternyata dengan algoritmanya menjadi suasana seperti memancing ikan di kolam deras. Ada waktu – waktu tertentu yang bisa mendulang penonton dan nambah pengikut, tapi disaat yang berbeda ternyata zonk. Mengasyikan juga kawan. Belajar ikhlas dengan dimensi yang berbeda, manakala perkiraan keberhasilan ternyata berbanding terbalik dengan hasil.

Namun tentu kembali kepada kita, itu adalah hiburan semata sebagai penyeimbang saja dalam rutinitas kehidupan sehari-hari. Selamat menikmati dan mensyukuri hari – hari kita. Wassalam (AKW).

CUCI TANGAN – chapter 2 – tamat

Akhirnya sebuah rahasia terungkap dan kebenaran dihadirkan semesta.

CIBABAT, akwnulis.com. Yuk ah lanjutkan ceritanya tentang CUCI TANGAN.

Pada saat langkah kaki mendekati wastafel, sebuah teriakan dari lantai 2 mengagetkanku, “Jae, jangan dulu cuci tangan, ini masih ada petai 5 ranggeuy, ayo kita sikat dulu!”

Teriakan yang menggugah selera, terbayang langsung aroma harum petai segar, dicampur sambal terasi dan nasi liwet panas. Oalah perut tiba-tiba terasa kosong lagi. Langsung balik kanan dan kembali menaiki tangga menuju lantai 2. Disaat meniti tangga, Rudi dan Joko turun dan berpapasan. Terlihat mereka berdua sedang berbincang sambil mengangkat tangan kanannya yang juga belepotan sambal dan saus padang.

Nggak jadi cuci tangannya?”
“Entar tanggung, ada makanan favorit menunggu” jawabku dengan riang dan meninggalkan mereka yang menuju arah berbeda yaitu wastafel di lantai 1 tadi.

Tiba di lantai 2 langsung duduk bersila dihadapan gundukan nasi panas, sambal dan tentunya 5 papan petai yang bisa memabukkan. Ayam bakar, wagyu panggang juga ada tapi semua kalah oleh pamor terasi yang menjadi bahan dasar sambel ulek ini.

Nyam nyam nyam, makan lagi edisi kedua kawan, nikmat sekali dan berebut bersama teman-teman lama yang sudah berubah tua. Aku juga menua sama seperti mereka.

Tiba – tiba, “Tolooong… tolong!!”
“Prang!!!” Suara benda pecah berantakan dan suara seseorang meminta pertolongan di lantai 1 terdengar jelas. Karena diriku, Jaka dan Hari berada di meja dekat tangga utama maka langsung bersama-sama berdiri dan bergerak cepat menuju lantai 1.

Ada apa?” Pertanyaan ini tercekat di kerongkongan karena melihat pemandangan tak lazim di depan mata. Rudi dan Joko terkapar kaku di lantai depan wastafel dengan kedua matanya melotot dan kondisi tidak sadar. Sementara sisi kiri wastafel merah jambu pecah berantakan seolah terkena hantaman benda keras.

Astagfirullohal adzim, ada apa ini?” Hari merespon sambil terdiam, melihat pemandangan yang mengenaskan.

Diriku memberanikan diri mendekati tubuh Rudi dan memeriksa jika ada cidera yang berbahaya dengan berbekal senter smartphone. Terlihat wajah Rudi pucat pasi dengan mulut menganga dan nafas memburu. Doa – doa dibaca dalam hati dan perlahan tapi pasti mulai menyadari ada sesuatu yang mengawasi.

Begitupun dengan Joko, tertelungkup di lantai depan wastafel. Pucat pasi dan pingsan. Lalu teman – teman di lantai 2 semuanya turun ke lantai 1 dan membantu dua rekannya yang mendadak pingsan ini. Ada yang membantu memijatnya, tetapi sebagian besar hanya terdiam tapi memberi ruang bernafas agar mereka bisa segera siuman.

Kebetulan ada teman yang menjadi dokter, dengan keahliannya terlihat cekatan menangani kondisi ini. Setelah mengintruksikan membaringkan kedua teman yang pingsan, di cek kondisi kerja jantung dan pernapasan sambil perlahan – lahan dibangunkan. Semua memperhatikan dengan seksama.

Tiba – tiba Joko tersadar tetapi langsung bergeriak, “Ituuu…. ” tangannya menunjuk ke arah wastafel merah jambu.  Reflek mata ini beralih pandangan ke arah wastafel dan di cermin wasfafel seperberapa detik terlihat siluet seseorang yang berpakaian merah tapi sekejap menghilang. Beberapa rekan menangkap juga gerakan sekilas itu dan saling berpandang-pandangan.

Rudipun perlahan tersadar dan di beri minum teh manis panas oleh temannya. Lalu keduanya dipapah oleh teman-temannya menuju kamar di lantai 2 untuk beristirahat.

Ada yang menarik adalah gerak gerik tuan rumah yang terlihat tegang dan gelisah. Sambil sesekali mencuri pandang ke arah wastafel merah jambu ini. Ini yang harus dicermati. Sementara waktu sudah melewati tengah malam, tepatnya pukul 01. 05 wib. Semua peserta reuni mulai beranjak ke kamar masing – masing yang sudah diatur sedemikian rupa. Tapi sebagian ada yang memilih tidur – tiduran di sofa sambil tetap berbagi cerita.

Diri ini penasaran dengan kejadian ini. Maka segelah semua terlihat baik – baik saja, perlahan menuruni tangga utama ini menuju wastafel merah jambu tadi.

Tak lupa doa – doa tolak bala dan doa lainnya yang masih hafal di luar kepala dibaca dalam hati sebagai penguat diri yang sebenarnya ada rasa takut tapi kalah oleh rasa penasaran.

Tiba di depan wastafel, terlihat kondisi wastafel sebelah kirinya pecah dan sebagian keramik berhamburan di lantai. Seolah menerima hantaman benda yang berat. Cermin di wastafel tetap kokoh namun penasaran karena tadi sudut mata melihat ada sosok yang hadir sekejap lalu menghilang.

Tapi ternyata tidak ada apa – apa, hanya pantulan wajah diriku yang mulai beranjal tua eh dewasa dilengkapi kerut wajah tanda usia mulai beranjak menuju masanya. Raga berbalik menuju kamar di lantai dua, untuk beristirahat karena esok hari harus kembali ke rumah setelah mengikuti acara reuni ini.

***

Pagi hari semua berkumpul untuk sarapan bersama, disinilah Rudi dan Joko bercerita. Ternyata tadi malam mereka berdua berniat mencuci tangan yang belepotam di waatafel lantai satu. Masing – masing memilih wastafel yang ada. Rudi ke arah kiri menuju wastafel merah jambu dan Joko ke kanan ke arah wastafel satu lagi.

Disaat bersamaan mereka membasuh tangan dan memandang cermin di wastafel. Disitulah kejadiannya. Diawali suara dentang jam besar di tengah rumah tepat pukul 00.00 wib, wajah keduanya yang terpantul di cermin masing-masing perlahan berubah. Perlahan memucat dan terlihat bersimbah darah serta berganti rupa memjadi wajah perempuan yang sedang kesakitan dengan memakai gaun berwarna merah menyala. Lalu menyeringai dan maju seakan keluar dari cermin. Otomatis keduanya kaget setengah mati, berteriak sekencang-kencangnya dan pingsan berjamaah.

Semua saling memandang tanpa berkata apa-apa, kecuali tuan rumah yang terlihat gelisah seperti menyimpan sebuah rahasia yang membuatnya resah. Agar semuanya jelas maka langsung saja luncuran pertanyaan tertuju kepada kawanku sang pemilik villa mewah, “Amir, betulkah wastafel itu berhantu?”

Amir menunduk dan terlihat mengatur nafasnya agar tetap tenang,  lalu perlahan memgangkat wajahnya dan memandang wajah penasaran teman – temannya. Lalu dari bibir yang bergetar meluncurlah kalimat pernyataannya, “Maafkan aku kawan – kawan, Tidak seharusnya ini diungkapkan. Tapi kebenaran harus tersampaikan. Aku mengikatkan janji dengan sesuatu berwujud wanita gaun merah untuk meraih kejayaan dunia,.. uhuk.. uhuk.. uhuk!”

Amir terbatuk beberapa kali lalu terlihat seperti tersengal dan, .. “Hueeek” Amir memuntahkan cairan seperti darah kental dari mulutnya, bau amis menyebar di lantai, Amir terkulai tersungkur tak bergerak. Semua terpaku dengan keadaan, terdiam tanpa gerakan. Di wastafel merah jambu lantai satu, sebuah sosok gaun merah tersenyum lebar, lalu sekejap menghilang. (AKW).

CUCI TANGAN

Pertemuan yang tak terlupakan.

BAROS, akwnulis.com. Lantai dua villa eksotik ini terasa begitu ramai, masing-masing menikmati suasana kebersamaan yang memang  sudah direncanakan. Reuni kecil teman sekelas kali ini begitu meriah, karena kebetulan salah satu alumninya ternyata rejekinya luar biasa hingga memiliki harta benda yang begitu banyak termasuk salah satunya adalah villa megah yang menjadi tempat reuni kali ini.

Makanan dan minuman hadir seakan tanpa batas, disaat meja kosong maka sekejap saja sudah diisi kembali dengan makanan dan minuman yang begitu banyak. Aneka minuman sampai bingung memilihnya, dari mulai healty juice hingga bourbon, atau es cingcau dan dawet sampai wisky serta white wine yang berumur puluhan tahun. Begitupun makanan, dari mulai western food, chinesse food, Asian food hingga makanan lokal yang menjadi favorit yaitu telur dadar petai muda dan gulai jengkol aneka rasa.

Music yang mengiringipun tidak hanya dengan home band yang disewa plus seorang disk jockey cantik saja, tetapi didiukung dengan speaker – speaker ciamik yang disetting di seluruh ruangan sehingga hasilkan music 8K yang memanjakan Indera pendengaran. Musiknya lembut dan nyaman di telinga sekaligus terasa berlari-lari antara telinga kanan dan kiri, pokoknya luar biasa.

Semua terlihat senang, bercengkerama dengan sesama teman tentang cerita masa lalu yang menggelikan atau terkadang memalukan. Lalu disambung oleh derai tawa saling menertawakan. Dirikupun terlarut dengan keceriaan ini, namun tetap jaga diri untuk tidak meminum makanan yang dilarang agama. Selain beresiko menambah dosa juga khawatir melakukan tindakan diluar kontrol yang berakibat fatal.

Kamu dulu kurus banget ya?”
“Iya Yud, sekarang berkembang ke depan dan ke samping, Hahahahaha….”

Ingat nggak, dulu si Susi ee di kelas dan nangis karena malu?”
“Wkakakakakkak iyaa, tapi khan ada Amir pahlawannya, nganter pulang sambal megangin jaket buat nutup ee yang berjatuhan”

Itulah beberapa celoteh pria dewasa yang ternyata kembali menjadi kanak – kanak disaat bersua Bersama kawan sebaya.
Makan dan minumpun karena memang sesama kawan, ada yang fatsun menggunakan table manner tapi tidak sedikit yang langsung menggunakan tangan dan haap masuk ke mulut dengan tangan belepotan sambel dan saus padang, nikmat sekali.

Diriku juga sama makan dengan lahap dan nikmat serta tangan belepotan, sambal hejo dengan ayam bakar plus cimplungnya serta dadar petai muda begitu mengenyangkan, apalagi nasi pandanwangi yang harum penuh sensasi. Dijamin akan tambah lagi tambah lagi.

Selesai makan dengan gaya barbar dan penuh gelak tawa, semua berebut menuju wastafel sehingga terjadi antrian. Diri ini berinisiatif untuk cuci tangan di lantai bawah karena tadi pas baru masuk villa ini terlihat ada 2 buah wastafel di kanan kiri tangga utama menuju lantai 2. Inilah awal cerita yang tak terlupakan.

Menapaki tangga besar menuju lantai satu tetasa begitu ringan, apalagi lampu – lampu terang benderang dan suara musik dari lantai 2 masih sayup – sayup terdengar. Hingga akhirnya tiba di lantai 1 dan mengambil arah kiri untuk mencuci tangan di wastafel berornamen merah jambu.

bersambung chapter 2.

SIBANYO – fbs

Menulis lagi fiksimini basa sunda – gaskeuun Gan.

CIMAHI, akwnulis.com. Libur sabtu minggu sebentar lagi berlalu, melewati tengah malam nanti maka sudah bersua dengan hari senin yang penuh tantangan. Tapi waktu yang berjalan ini perlu diisi dengan sesuatu yang memiliki adti dan besok lusa bisa dinikmati kembali. Yaitu sejumput kisah dengan beraneka makna, tentu  tidak lebih dari 1t0 kata dan ditulis dalam bahasa sunda.

Tema utama adalah tentang pergerakan waktu dan momentum terbaiknya adalah tengah malam. Kembangkan idenya dan campurkan bersama imajinasi kita sehingga akan terwujud menjadi jalinan cerita yang mungkin sama atau mirip dengan cerita lainnya. Tapi yakinlah selama tidak copas dari tulisan lain, meskipun ada kesamaan tetapi ciri khas tulisan orisinil akan hadir dengan sendirinya.

Selamat menikmati tulisan sederhanaku tentang fenomena tengah malam…

FIKMIN # SIBANYO #

Tengah peuting asa bayeungyang, hudang tina kasur muru ka dapur. Nèangan nu tiis, panto kulkas dibuka, geuning pinuh ku sayur atah jeung pais teri.

Tungtungna mah muru galon nu ngagolèr. Aya eusina saeutik. Langsung wè diangkat, diuyup lalaunan, seger.

Seggher nyaa?”

Gebeg tèh, inget papagah nu boga imah. Dipahing pisan tengah peuting kaluar kamar. Tapi ah èta mah ukur nyingsieunan. Leumpang muru ka kamar, ngaliwatan wastafel eureun heula, rèk sibanyo.

Leungeun muka keran wastafel, mencèt botol sabun cair. Sabot kitu, beungeut nyanghareup kana eunteung di wastafel. Kaciri beungeut celong. Tapi pas ditelek-telek, naha beungeut lalaunan ngabodasan jeung jiga nu garetihan.

Awak ngabatu panon molotot, teu walakaya, nyekel wastafel bari nempokeun eunteung. Beungeut geutihan nyurup jadi beungeut awèwè makè karembong beureum. Imut ngagelenyu, ngan sihung kaciri kènca katuhu.

Teu lila aya leungeun kaluar tina eunteung, nyekel kana beuheung. Karasa tiis camèwèk. Awak karasa hampang, peurih, les poèk mongklèng.

***

Demikian tulisan fiksimini berbahasa sundaku yang ke sekian. Jika ada yang roaming tentang judul tulisan sundaku, maka akan dijelaskan bahwa SIBANYO memiliki arti CUCI TANGAN. Jadi cucilah tangan secara merata sesuai aturan maka resiko terkena penyakit dapat dihindarkan. Selamat malam, selamat merajut asa menghadapi senin pagi ceria. Wassalam (AKW).

RUMAH DINASKU

Catatan kecil menikmati rumah dinas yang penuh sensasi.

CIBABAT, akwnulis.com. Sebuah momentum pelantikan jabatan menjadi gerbang perubahan kehidupan yang begitu signifikan. Tentu baru pelantikan level terendah, menjadi seorang kepala seksi di sebuah kecamatan. Tetapi bagi diri ini begitu membanggakan, karena setelah beberapa tahun mengabdi sebagai pegawai level pelaksana akhirnya mendapatkan kepercayaan untuk memegang sebuah amanah jabatan. Tentu sebuah kewajiban untuk bersyukur dan memberikan pengabdian dan kinerja yang lebih baik dibandingkan yang sudah dilakukan selama ini.

Maka setelah pelantikan usai, segera kembali ke kantor awal. Menemui pimpinan terdekat untuk mengucapkan terima kasih atas dukungan dan arahannya selama ini sekaligus meminta wejangan untuk menghadapi tugas baru ini serta diakhiri beres – beres berkas dan barang pribadi hingga akhirnya berpamitan.

Bapak mohon maaf selama menjadi staf bapak jika ada yang kurang berkenan. Juga rekan – rekan, maafkan aku yach”

Kalimat pamit yang menggetarkan, ada rasa sesak di dada meninggalkan bapak Unus, bapak Ahut, kang Slamet yang selama ini menjadi partner setia, begadang bersama, kerja lembur bersama hingga dini hari tiba demi membuat bahan presentasi pimpinan yang dikejar deadline terutama bersama badan anggaran. Selamat tinggal kantor Bappeda Sumedang.

Selamat jalan yi”
“Selamat bertugas di tempat baru”
“Jangan lupa besok lusa ditunggu, ini tetap kantormu!”

Berbagai kalimat penyemangat dan penuh rasa kekeluargaan, cukup berat untuk meninggalkan. Tetapi tugas baru sudah menanti seiring amanah jabatan yang sudah tersemat di pelantikan tadi pagi.

***

Esok paginya dengan langkah perlahan tapi pasti turun dari motor dan bergegas memasuki kantor kecamatan Sumedang Selatan. Beberapa pasang mata memandang, dijawab dengan senyuman saja dan bergegas masuk ke pintu depan. Kebetulan ada meja resepsionis di situ.

Selamat pagi bu, Bapak Camatnya ada? Saya mau lapor penugasan disini”

Selamat pagi bapak, silahkan isi buku tamu ya. Bapak Camat ada, tetapi kami cek dulu agenda beliau”

Tanpa berlama-lama, langsung diantar ke ruang Camat. Kebetulan belum ada agenda acara sehingga bisa langsung menemuinya.

Selamat pagi bapak, ijin melaporkan penugasan kami disini, mohon arahan”

Wah kamu begitu formal, santai saja. Selamat datang di kantor kecamatan dan selamat bergabung menjadi pelayan dan pengabdi masyarakat yang sebenarnya” Ujar pak Camat dengan wajah sumringah.

Suasana kaku segera mencair dan pembicaraan mengalir. Lalu pak Camat memanggil para pejabat kecamatan dari mulai sekretaris kecamatan, para mepala seksi, kasubag hingga staf yang ada. Suasananya begitu akrab, sehingga lebih menenangkan bagi diri ini yang baru saja harus beradaptasi.

Hingga menjelang sore berkeliling dan berbincang dengan sahabat baru. Melihat ruangan – ruangsn kantor termasuk berkeliling sekitar kantor kecamatan dan area rumah dinas.

Ternyata sesuai pembicaraan bersama pak Camat tadi, sesuai tugas sebagai Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban atau disingkat Kasi Tramtib maka berkewajiban dan bertanggungjawab 24 jam terhadap kondisi ketentraman dan ketertiban kawasan kecamatan termasuk area kantor. Otomatis harus tinggal di sekitar kantor kecamatan.

Agak termenung juga, karena jika masih tinggal di rumah sekarang tentu jaraknya jauh yakni di kawasan Jatinangor yang berbatasan dengan area kabupaten bandung. Sementara perlu sekitar 1 jam untuk sampai ke kantor kecamatan. Mau kost atau ngontrak juga pertimbangan ekonomis, ya udah termenung dulu saja.

***

Pak Kasi belum pulang?” Suara pak camat membuyarkan lamunan. Sedikit terdiam tapi segera menjawab, “Belum pak, rencana mau survey kontrakan sekitar sini pak”

Oh iya, bagus itu. Tapi bisa juga sebagai alternatif rumah dinas saya digunakan. Pilih saja kamar yang cocok.”

Serius pak?” Mataku berbinar.

Iya serius, lagian rumah dinasnya kosong. Silahkan digunakan”

Terima kasih pak”

Pembicaraan singkat yang berharga. Tanpa membuang waktu segera beranjak dan mengajak 4 orang anggota satpol PP untuk menemani menuju rumah dinas camat yang posisinya tepat di samping kanan kantor kecamatan.

***

Bapak serius mau tinggal di rumah dinas pak camat?” Pak Dadan anggota satpol PP bertanya.

Iya dong, memang kenapa?” Saya bertanya balik. Pak Dadan dan pak Tatang saling berpandangan. Saya terdiam, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan. Tapi langkah kaki tetap bersama-sama bergerak menuju rumah dinas.

Ternyata jawabannya sederhana, rumah dinas camat ini sudah 9 tahun kosong dan kondisinya menyedihkan. Luasnya lumayan dari mulai ruang tamu, ruang tengah, kamar depan, kamat tengah, kamat mandi, dapur dan gudang. Tetapi kondisinya bocor dan dapurnya praktis tidak bisa digunakan. Lantainya lembab dan beberapa tempat berlumut, sepertinya dibangun di bekas rawa atau sawah. Ada juga ditemukan katak yang bersarang disana. Laba-laba dan jaringnya cukup banyak ditemukan. Termasuk yang cukup mengagetkan adalah ular sawah yang bersembunyi di tumpukan kayu di gudang.

Keputusan harus segera diambil karena tugas ini tidak bisa menunggu. Daripada mencari kost atau kontrakan dengan harga sekitar Rp 300.000 – Rp 350.000 per bulan di semitar sini atau sepertiga gaji yang diterima setiap bulan lebih baik membenahi rumah dinas saja sehingga dana tersebut dapat digunakan membayar cicilan rumah di jatinangor.

Ayo bantu saya beres – beres, mulai besok saya tinggal disini”

Anggota satpol PP yang menemani langsung serempak teriak, “Siap Komandan” dan mulai bekerja. Meskipun terdengar beberapa saling berbisik entah berkomentar apa.

Ruang tengah yang agak kering ditutup plastik dan diberi tikar dan sajadah sebagai mushola bersama, sementara yang lembab berair dibiarkan saja. Kamar depan dibersihkan dan diisi 2 meja panjang sisa pemilu. Baru dipasang kasur busa. Jendela diperbaiki begitupun pintu masuk. Tidak lupa tambah meja untuk penempatan komputer dan lemari. Semua jadinya kerja bakti dibantu pegawai kecamatan lainnya.

***

Esok harinya berjumpa dengan beberapa pegawai wanita dan pertanyaannya senada, “Bapak serius mau tinggal di rumah dinas camat?”

Serius, memangnya kenapa?”
“Euh nggak apa – apa, tapi harus banyak berdoa pak”

Saran yang bagus, tetapi menjadi pertanyaan besar, “Apakah rumah dinas itu berhantu?”

Mereka terdiam dan berlalu. Tapi memang disaat ditawarkan kepada beberapa pegawai yang piket  harian di kantor untuk menemani tidur di rumah dinas, serempak semuanya menolak. Lebih baik tidur di kantor saja, daripada menemaniku. Ya sudah, Bismillah saja.

Malam pertama tidur di rumah dinas cukup lelap meskioun tengah malam sedikit terbangun karena ada kegaduhan di ruang tengah. Tapi sepi kembali dan raga ini kembali terlelap hingga pagi. Hanya saja di pagi hari sebelum turun dari ranjang darurat harus melihat sekeliling. Seekor ular sawah ukuran sedang ternyata ikut berada dikamar, mungkin naik dari sawah belakang mencari katak dan juga kehangatan. Perlahan diusir keluar, baru bisa beraktifitas dengan tenang.

Hari kedua dan ketiga ular diganti dengan kalajengking dan beberapa katak kecil. Benar – benar rumah yang menyatu dengan alam. Harus waspada setiap saat khususnya bangun pagi.

Dimalam ke empat, kebetulan malam jumat. Saya berpatroli bersama tim gabungan dari kecamatan, polsek dan koramil berkeliling ke beberapa desa yang menyelenggarakan acara dangdutan organ tunggal hingga melewati tengah malam. Tepat jam 01.00 wib dini hari baru kembali ke kantor kecamatan. Setelah basa -basi sesaat, maka saya menuju rumah dinas dan anggota satpol PP seperti biasa bermalam di kantor saja.

Kunci rumah dinas dibuka tak lupa ucapkan salam, “Assalamualaikum”  lalu melewati ruang tamu dan ruang tengah. Tiba – tiba sudut mata menangkap sebuah bayangan hitam yang berada di sudut ruang tengah dalam cahaya lampu temaram lalu terdengar suara berat tertahan, “Baru pulang pak?”

Iya baru pulang” sebuah jawaban otomatis meloncat begitu saja dari mulut yang menganga karena melihat secara nyata sesuatu yang begitu besar, berbulu kasar abu – abu kecoklatan di sekujur tubuhnya dengan rambutnya yang acak-acakan  dan wajah tersembunyi oleh bulu – bulu kasar dengan sepasang mata merah yang cukup menggetarkan jiwa duduk dengan santainya diujung ruang tengah, seolah memang disitu singgasananya.

Dalam hati doa tolak bala dibaca tergesa, terasa kulit diseluruh tubuh berdiri bukan hanya di bulu kuduk saja tapi semuanya. Satu hal yang diyakini adalah manusia mahluk mulia, lebih mulia dari mahluk lainnya ciptaan Allah Subhananahu Wataala.

Segera mata berkedip tapi ternyata mahluk itu tetap ada disana. Ya sudah segera bergegas menuju kamar depan, membuka pintu dan mengunci dari dalam lalu naik di ranjang darurat lalu berselimut tanpa mengganti pakaian juga sepatu masih terpakai. Membaca segala doa yang dikuasai dan berserah diri pada Illahi. Sambil berkata dalam hati, “Kita berbagi, silahkan gunakan ruang tengah, tapi tidak di kamar ini”

Tiba-tiba sekilas sepasang  mata merah dengan wajah rata terasa hadir di hadapan dan memberikan anggukan, lalu bayangan itu menghilang. Kembali doa – doa dibacakan dan diteriakan meskipun dalam ruang kesunyian hingga akhirnya tertidur karena kelelahan.

***

Esok harinya terbangun dengan pakaian dinas dan sepatu masih melekat di badan, tetapi badan terasa segar dan penuh semangat menghadapi tugas dan kehidupan. Beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu lalu shalat shubuh. Dilanjutkan senam pagi mandiri, mandi dan sarapan di warung depan lalu bergabung di kantor untuk apel jumat pagi.

Sejak itu tinggal dan bermalam di rumah dinas menjadi hal yang biasa. Jika shalat ada yang ikut menjadi makmum tapi pas salam atahiyat akhir ternyata tidak ada siapa-siapa, itu hal biasa. Jika pulang patroli malam ada yang menyapa di ruang tengah, ya sudah jawab saja lalu masuk ke kamar untuk beristirahat. Yang pasti tidak khawatir meninggalkan barang berharga di rumah dinas meskipun tidak terkunci karena ada teman dan penjaga abadi yang mungkin sudah berpuluh atau malah beratus tahun tingggal di rumah dinas ini. (AKW).

***