Tanjung Lago2

Bergerak menyusuri aliran sungai dan rawa, menuju tanah pengabdian yang ternyata penuh kejutan dan pelajaran tentang nilai kebersamaan.

Photo : Jembatan Ampera di Sungai Musi / Dokpri.

Sambil menikmati semilir angin sore, wajah lelah berganti cerah. Meski kami beda asalnya tapi disini kami sama, nasiblah yang mempersatukan dalam agenda Latsitarda, sebuah wahana latihan bersama lintas matra multi institusi pendidikan kedinasan untuk beintegrasi bersama. Hilangkan ego demi menjadi bagian dalam pembangunan bangsa yang diawali pengabdian kepada rakyat diseantero nusantara.

Perahu yang kami tumpangi adalah perahu terakhir, 4 perahu telah duluan meluncur membelah rawa. Kami harus menanti sang nakhoda yang sibuk memperbaiki mesinnya yang katanya sedikit bengkok karena sesuatu di rawa sana pada saat perjalanan menjemput kami.

Setelah menunggu 45 menit, perahu dinyatakan laik jalan maka kami satu persatu naik. Selanjutnya duduk seenaknya…. disinilah kami, diatas rawa tak jelas arah duduk berjuntai menikmati suasana tanpa ada pelatih kepala, sesaat terasa merdeka sambil menikmati roti kelapa yang tersisa. Tetapi kesantaian kami terusik mulut usil pengemudi perahu, “Bapak-bapak maaf, kakinya jangan di berada di luar perahu, berbahaya”

Photo : Moncong ikan lupa namanya yang hidup di Sungai Musi / dokpri.

“Ah bapak, bahaya apanya?. Ini sungai tenang begini” Kawanku menjawab sedikit angkuh dan kami sepakat meng-amini.

Lelaki tua itu tersenyum, tanpa banyak cakap tangannya membuka roti kelapa yang tersisa. Lalu melemparkan ke sungai di dekat ujung kanan perahu. Sambil tangan kirinya memegang kemudi perahu. Kami hanya melihat atraksi ini tanpa atensi, cuek aje.

Tapi……. gemericik air tenang berubah menjadi kengerian karena hanya hitungan detik disamping kanan kami terlihat tiba-tiba gambaran jelas moncong buaya muara yang menyantap roti kelapa lalu kembali ke dalam air dengan menyisakan siluet tubuh kekar ukuran 3 meteran dan ombak kecil memberi pesan kegarangan. Kami bersepuluh bagai terhipnotis sihir alami, serempak menarik kaki menjuntai kami dipinggir perahu, terdiam sambil berpandang-pandangan, kengerian itu membekas, dalam.

“Baru kemarin ada yang hilang di seret buaya, karena tak mau dengar peringatan saya. Dicari sudah tak ada jasadnya”, terdengar suara datar sang pengemudi perahu yang semakin mengukuhkan kengerian ini. Untuk sesaat luntur sudah kegarangan dan kegalakan senioritas di ksatrian berganti rasa kerdilnya diri dihadapan alam yang merupakan sentilan dari tuhan, Allah Subhanahu Wataala bahwa kita manusia itu tidak ada apa-apanya hanya seperti setitik debu tiada arah.

Photo : Ikan Buaya / Dokpri.

Perjalan menyusuri sungai rawa ini terasa begitu sepi dalam kebisuan, kami semua waspada karena ternyata alam liar penuh kejutan. Air sungai yang dirasa tenang ternyata menyimpan rahasia kehidupan yang mendalam. Siapa sangka bahwa dibawah kami ikut pula berenang buaya besar dan ikan raksasa…. sungguh ngeri membayangkan semuanya.

Suara serangga sore menyambut hadirnya kami yang melintas di wilayahnya. Suara alam yang menenangkan sekaligus menegangkan. “Hey kawan coba lihat di pohon besar depan sana!!” Joni anak Akpol berseru sambil menunjuk. Terlihat pohon besar yang diisi oleh sosok seperti manusia dengan jumlah sangat banyak. Ternyata monyet berwarna abu sedang bercengkerama bersama!!!. Kami merasa senang karena ada hiburan, tetapi peringatan pengemudi perahu melumerkan lagi nyali kami yang sempat menguat, “Maaf jangan pada ribut, monyet itu bisa menyerang, mencakar, menggigit dan melukai kita”…. semua terdiam dan waspada.

Benar saja, pada saat melewati pohon besar atau pohon raksasa yang semakin jelas berada di depan mata. Terlihat beratus monyet berwarna abu kehitaman karena sedikit tersaput kabut sore, sungguh kawan… itu bukan hitungan satu hingga sepuluh monyet, tapi ratusan!!! Jadi inget Film The Rise of The Planet of The Apes, dimana manusia jadi budak dan monyet sebagai penguasa planet bumi.

Photo capture film dari gugel.

Perlahan tapi pasti perahu gethek kami mendekati… mendekati dan detik-detik yang menegangkan begitu memompa adrenalin kami. Tangan waspada memegang apapun yang mungkin dijadikan senjata jika terjadi penyerangan tiba-tiba.

Pelan-pelan dengan kecepatan normal, perahu bisa melewati pohon raksasa tempat bersemayam ratusan monyet…. mungkin ini kerajaan monyet. Satu meter… ua meter… perahu melewati kerumunan, tiba-tiba terlihat dari dahan yang cukup tinggi, seekor monyet besar menunjuk-nunjuk ke perahu kami. Serempak semua monyet menengok dan berteriak dengan suara khasnya, “Nyeeet… ngok… arrggg.. grok.. grok…nyet.. nyeet” menggema suara ancaman bak orkestra kematian, kami saling memandang dengan wajah siap bertarung untuk menunggu komando perlawanan. Gemuruh suara teriakan ratusan monyet terus terdengar di belakang, tetapi kami lihat tidak ada yang mengejar. Lega lah rasa beban di dada ini. Semua penumpang perahu menarik nafas melepas ketegangan.

Pengemudi eh pak tua nakhoda kapal terkekeh, “Jangan tegang begitu pak, mereka berteriak itu adalah kata-kata sambutan selamat datang” Kami semua melongo, “Serius pak?, tadi begitu menegangkan loh” Mas Abud bertanya dengan nada tak percaya. “He he he he… kalau penyerangan, mereka sudah ngobrak ngabrik nich perahu dan kita semua” .... hiy sungguh seram memikirkannya. Berarti tadi itu teriakan pertama, “Hei kawan tuch ada manusia-manusia lucu pake perahu” Lalu disambut teriakan dari monyet lain, “Iya manusia… hallow”
“Mereka imut-imut, gemes”
“Mirip kita yach”
“Badannya pada sixpack ya?”
Serta beragam komentar lainnya dalam bahasa monyet yang tentu tidak dimengerti, berarti ketegangan tadi terjadi karena faktor bahasa.. ahai, jadi pengen kursus bahasa monyet, tapi dimana?….

Riak air sungai tertutup kabut seakan kami semua sedang menuju dunia lain, udara lembab menusuk hidung memberi sensasi ketegangan lain. Kaki bersepatu lars tetap berada dalam perahu karena khawatir ada mulut buaya yang mengikuti dibawah perahu ini. Dzikir menjadi pegangan diri, menenangkan galaunya rasa yang terus menggelora. Dalam benak kami, “Apalagi yang akan terjadi?”

Satu hal yang pasti ketegangan ini memberi sensasi sendiri, memacu adrenalin dan merekatkan silaturahmi. Kami yang bersepuluh dari asal yang berbeda serasa telah menjadi sodara lama karena berjuang bersama melewati pengalaman menegangkan di alam yang liar penuh kejutan.

Akhirnya setelah menerjang kabut bersaput senja. Perlahan tapi pasti atap perkampungan terlihat nyata, kami melinjak gembira seolah telah lepas dari alam liar dan kembali ke peradaban. Perjalanan dengan perahu gethek selama kurang lebih 3 jam melintasi sungai rawa di Sunatera Selatan ini menjadi pengalaman tak ternilai. Menjadi momentum untuk tafakuri diri bahwa manusia itu bukan apa-apa, tiada daya tanpa kuasa Allah Sang Maha Pencipta.

Didepan kami sungai membentang dengan lebar sekitar 50 meter, disamping kanan terlihat bangunan yang terang dengan lampu penerangan. Terlihat 6 perahu gethek dan satu speedboat tertambat di dermaga sederhana. Kami perlahan mendekat…. mendekat.. mendekat.. Alhamdulillah. Beberapa sosok tubuh dan uluran tangan menyambut kami. Bergerak menginjak dermaga, dan terlihat ada plang lusuh tertempel di bangunan tersebut, ‘Dermaga Tanjung Lago’.

Bersambung…….

(Akw).

Panasaran”

Rasa panasaran mah aya mangsana, sanajan ngan satata mawa rasa hayang tamaha tanpa ngarasa.

Photo : Mobil treuk éngkel, tapi sanes nu ieu. /dokpri.

Panangan tipepereket nyepengan setir, soca dibolototkeun kalawan rénghap ngahégak. Sampéan katuhu dugi ka dadas nincak gas, erém mah hilap da hoyong énggal-énggal nyusul anjeun.

Angin ngagorowok ngémutan tong kekebutan tos teu dikuping. Pokona mah hiji tujuan kedah dugi pikeun nyacapkeun kapanasaran. Kitu ogé tatangkalan nu kalangkungan, pada mencrong bari gugupay hariwang. Ningal nu ngajejek gas tos teu nganggo étang-étangan. Siga nu gaduh nyawa salapan.

Mung hanjakal geuning kanyataan teu saluyu sareng pangharepan. Anjeun ngabelesur, sumkuring ngeyeted wé da geuning kéor. Gas dijejek sataker kebek téh sanés narikan, kalah ngadon ngayekyek bari ngebul bau hangit. Kapaksa nyisi da bilih kumaonam.

Teu pira nu dipikahoyong téh, badé nyalip teras miwarang lirén. Saatos paamprok jonghok, badé tumaros, “Aa supir treuk, naon hartosna éta seratan dina treuk anjeun?”

Anjeun tangtos moal ngawaler, paling ogé ngadon rambisak bari neunggeulan imbit treuk. Ngajeblag seratanna,
‘Tos lami teu kitu, pas kitu teu lami’, cag.(Akw).

Gagenhésbeg

Lain istilah ti Jérman ieu mah, tapi geus loba nu ngiluan, WASPADALAH.

Potona doklang (dokumén olangan).

Enggah enggéh bari ngahégak padahal sakuriling gé can tamat, lumpat pasosoré di lapang gasibu. Lumpat pacampur jeung leumpang bari teu nolih kénca katuhu. Pokona targét soré ieu bisa hatam 5 kuriling. Baju kaos jeung tréning ngahaja meuli tadi ba’da jumaahan di golodog pusda’i. Néangan nu mècing, meunang kaos beureum jeung tréning héjo.

Sabot anteng leumpang gancang dina trék bulao. Ujug-ujug trék nampuyak, suku mebes kawas nincak leutak. Tuluy sacangkéng, beuheung nepi ka laput ngaliwatan congo buuk. Leungeun roroésan teu ngaruh sabab sagala rupa nu dirawél téh haripu. Leng poék mongkléng.

Lalaunan beunta kaciri loba jelema, “Dimana ieu?” Jajang ngagerendeng. “Cicing tong gogorowokan jang, geus ngilu ngantri kadinyah” gigireun nini-nini gembrut nyorongot. Jajang murungkut, teu loba ngomong kapaksa nurut. Kaciri nu ngantri rébuan jelema, kabéh bayuhyuh. Ditelek-telek sakabéhna muru lawang cahaya nu gumebyar caang, aya tulisan ngajeblag di luhur gerbangna. Dibaca lalaunan, “Wilujeng sumping Aliran Gagenhésbeg”.

Ngopi saédanna.

Hayu édankeun lur…

Photo : Ngopi sareng dunungan ogé balad gawé / doklang.

Jelema pabeulit patingkuriling, dahareun ngaleuya. Oncor badag oncor leutik nyaangan kariaan. Peuting karék gé ngarawu poék, langsung hégar méncrang caraang. Ahéng pisan. Jampana pasulabreng pinuh ku rupa-rupa kukuluban. Papais, bugis, hui, sampeu jeung suuk ngabibita nu ngaliwat. Aya ogé duét maut, bandrék bajigur.

Nu matak uruy mah, loba pisan jongko dadakan, iimahan maké kenténg kararas dipasieup daun jagong ngora jeung tangkal kopi. Aya réwuan jongko, nu panglobana tukang kopi nu datang ti sikluk gunung, ti juru pasir ngadon adu rasa adu jajatén. Ogé kiripik kicimpring, opak jeung pilus teu hilap burayot sareng rangesing ngabagéakeun rahayat nu datang ngadon sukan-sukan di pakarangan karajaan.

Sagala rupa kopi sayogi, nu diolah biasa ogé anu diteureuy heula ku careuh tuluy dipodolkeun, réwak béak ku rahayat. Barungah bari surak. Jaipongan jeung wayang golék teu maké eureun. Éh eureun kétang pas adan isya jeung subuh.

Hayu ngopi saédanna… éh saraosna.(Akw).

Ahlan Wasahlan 1 Muharram

Émut harita jaman beunceuh, diajar sapinah bari ngalong di kobong.

Pisaminggueun bulan rayagung rék lekasan, geus tatan-tatan ngécéng awi tali unggal balik ngaji, diajar sapinah jeung nahu sorop. Awi tali dina dapuran deukeut imah Wa Ustad. Dicirian mana nu rék dipénta keur nyieun oncor nu panghadéna. Minyak tanah meunang kukumpul tina sésa lampu téplok jeung ngabahékeun tina kompor ema geus aya lima dési. Lamakna sayagi meunang ménta ti Wa Atang jait.

Photo : Masjid Jami Cipari Kuningan / Dokpri

Ayeuna wanci bada lohor, oncor madé-in simuing geus ngajajar di gigir kobong, salosin. Awi konéng matak sieup ditambah rarangkén pucuk jeruk purut. Seger katingalina seungit kaambeuna. Teu butuh waktu lila, sakiceup dua kiceup oncor téh pindah leungeun digantian ku rupa-rupa. Aya nu méré béas dua canggeum, cau sasikat, tomat hejo sakérésék ogé céngék tilu rawu. Atoh pisan, da teu niat dagang, ngan pédah babaturan sok barutuh jadi wé dipangnyieunkeun.

Photo : Di pakarangan masjid agung Kota Makasar / doknyal.

Lumayan keur nambahan eusi dapur ema. Nu hiji disésakeun da uing gé hayang ngilu ngabring ngurilingan lembur bari nyambat asma pangéran, Allahu Akbar.

Photo Mesjis Muhammad CengHo di Kabupaten Gowa / doknyal.

Ba’da isya uing geus saged mawa oncor muru ka lapang hareupeun masid. Barudak loba bari marawa oncor séwang-séwangan. Aya ogé nu mawa dogdog tatabeuhan, dimimitian ku du’a basmalah, tuluy nyundut lamak babarengan. Hurung ngempur nyaangan beungeut polos santri kalong jeung santri mukim. Rék pawey mapay jalan nguriling lembur.

Ngabagéakeun taun anyar, Bismillah.

Allohumma soli ala sayidina muhammaddin… Waala alihi wasohbihi azmain…..

Ahlan wasahlan sasih muharram.

Wilujeng mapag mangsa tur nincak 1 Muharram 1439 hijriyah. Urang niatkeun kahoyong tur kiatkeun ihtiar regepkeun ibadah pikeun ngawujud janten golongan manusa anu taqwa. Amiin. (Akw).

Dulokaeuw

Salah sawios panyawat nu kedah diwaspadai, terutami kanu tos jegud loba rejeki.

Photo : Masjid bumi Alloh di Lombok / dokpri

Mimiti ukur ngejeletit, tuluy nyaliara. Mapay urat muru kekemplong, karasa paregel tina indung suku nepika palangkakan. Teu loba rumahuh sabab da mun aya karasa téh cukup wé ku dibalur binahong jeung babadotan. Adug lajer tetempoan karonéng, leng… dunya karasa poék, jempling tingtrim leungit kasakit.

Jedug.. cangkéng katuhu karasa nyeri. Panon beunta. Geuning ngabadug sisi méja. Kénca katuhu ngariung loba jelema. Campuh parebut barang kawas nu kakara. Bari kukumpul pangacian, karasa nu tingjeletit leungit, pegel ngilang awak karasa seger. “Boa aing geus di surga?.. tapi pan aing lain jelema soléh. Ibadah gé belang betong” gerentes haté.

“Pih tos séhat ayeuna mah?… mamih ka tempat kudung heulanya” sora halimpu gigireun, dilieuk téh jikan jeung anak incu. Uing ngahuleng, unggeuk lalaunan.

Karasa ramo katuhu nyekel kertas leutik, tuluy diilikan. Geuning resép ti dokter subspésialis urusan panyakit jero. Dibaca diagnosis, uing téh katerap panyakit dulokaeuw (duit loba kabutuh euweuh). Ubarna ngan hiji, sedekah. (Akw).

Kolot Kalapa

Bari ngahuleng nungguan karéta, aya ideu ngajorélat. Teu seueur saur, langsung direcah bari bismillah.

Photo : Dokuing (dokuméntasi uing)

Keur ngahuleng nungguan karéta datang dina korsi panjang, teu eunggeuh aya nu bangir gigireun. Ngan karasa geter kahayang nyulusup na luhur kalbu, ngagilisir meulit jajantung. Méré jigrah mareuman amarah nu ngabebela tadi di lembur, basa Nyi Ijem ménta kapastian. Iraha rék tulus ka balé nyungcung méh pianakeun bisa ditulis saha bapana.

Lalaunan mélétét nempo nu rancunit, dibales imut bari neuteup geugeut. Teu loba carita jurus andalan dikaluarkeun, “Badé angkat kamana geulis?” “Ka Jakarta bah” Bah Juma gumasep, nyanghareupan nyi mojang nu matak uruy. Gancang mapatkeun jangjawokan. “Gampang jigana ieu mah yeuh!”

Keur husu bulak balik mapatkeun jampé pamaké,…. Jebréd!!! Bah Juma ngabangkieung, jangjawokan pabureuncay titingalian ranyay. Nyi mojang ngabedega.

Saacan kapiuhan kakuping soanten halimpu, “Dasar buhaya, geus bau taneuh lain tobat kalah ka kumat”

Tungtungna indit ka jakarta teu jadi sabab kareta datang pas keur kapiuhan. Beungeut béngo raga pasiksak, nyangsaya teu puguh rupa. Éra parada. (Akw).

​Si Ua Édun

Reuwas geuning Ua téh ngawadulna janten kanyataan.

Photo : jeprétan simuing

Ngajanteng teu percanten kana naon nu nuju ditingali. Ngajeblag seratan dina latar beureum matak sérab tur ngaburinyay, geuning leres pisan sasauran pun Ua 10 taun katukang.
Teu kedah lami ngimpleng da émutan mah napel na uteuk, néetang detik gé sajorélat tos tiasa dugi kana dongéng baheula, sanaos ukur dina sirah tapi karasa asa karék kamari.

Di buruan tajug Ua mapagahan. Simuing mendeko ngaregepkeun naon waé carita ua, pon kitu deui jang Dugil jeung cép Ratno, balad ngaji nyantri kalong.

“Yeuh barudak, ulah sieun ku ngalamun. Pék ngalamun paluhur-luhur, meungpeung ngalamun mah teu kudu mayar,” saur Ua écés béntés antare. Tiluan unggeuk bari ngembang kadu.

Simuing panasaran tuluy nanya ka si Ua, “Dupi Ua nyalira gaduh cita-cita naon nu yakin bakal kadugi?”

Ua nyéréngéh, teras ngawaler “Tingalikeun engké mah ngaran Ua bakal ngajomantara, lain urang lembur waé nu wanoh tapi urang kota puseur dayeuh, kabéh bakal ningali Ua jeneng jeung aya di tempat-tempat penting.”

Tiluan seuri konéng, ngupingkeun pun Ua ngawadul bin ngarahul. “Asa jauh pisan éta ngarahul téh”.

Ayeuna simuing ngajanteng kénéh payuneun display hurung nu ukuranna 2 x 4 meter, aya ditempat patalimarga jalma nu turun unggah kapal udara. Puguh hébring pisan. “Édun si Ua” gerentes haté leutik, ngiring reueus sanaos Ua mah tos lulus ti dunya fana, kulem tibra di makam Pasir Astana.

Mung sakitu anu kapihatur, sateuacan ditutup lawang sigotaka, nepangkeun pun Ua, wasta Éyé Suréyé. Cag. (Akw).

Beuteung Kuuleun

(Fikmin) fiksimini sunda dumasar kana hal nyata tapi diropéa janten fiksi nu merenah, ceunah.

Photo : Dokumentasi pribados

Diuk nyanghareupan méja buleud di hotél agréng, asa jadi gegedén. Ngadéngékeun nu piligenti biantara bari teu ngarti naon nu diomongkeunna. Ma’lum teu gugur teu angin kudu diuk dina korsi jatah pangersa. Da uing mah ka batawi sotéh ukur nyupiran dunungan. Ari pék dina waktuna, dunungan nyingcet, uing dipelak ngaganti manéhna.
Teu loba nyarita kénca katuhu, ukur imut jeung sasalaman wè da bisi kapanggih rusiahna.

Kakara ngiluan acara kieu. Panghélokna mah acara panungtung nyaéta waktuna dahar. Meuni ripuh pisan, da dina méja pabalatak séndok, garpuh jeung péso aya sababaraha pasang. Asa mubajir, padahal mah maké leungeun wé. Dahar téh aya 3 sési, bubuka (appetizer), utama (main course) jeung panutup (desert). Nu nganteuran dahareun ngabring unggal sési. Dahareun nu teu warawuh, létah bingung beuteung ngaheneng. Tapi da lebar, dihabek wé sakabéhna. 

Alhamdulillah béak korédas, ngan hanjakal 1 jam ti harita, ongkék jeung muncrut di wésé hotél. Kaluar kabéh teu nyésa saeutik ogé. (Akw)

Baju Lebaran

Fikmin lebaran


Sabot leumpang mapay gang, rék ngajugjug ka tukang baso. Kaciri aya nu keur ngarit, reg eureun. Asa wawuh baju batik nu dipakena. “Punten ngiring ngalangkung”

“Mangga cep”, nu keur ngarit rada cengkat. “Geuning ki haji Sobri, meuni ngersakeun dintenan lebaran tos ngarit”, Uing inget da tadi nu jadi pangatur laku pas acara sholat ied téh anjeuna. 

“Lebaran mah keur  manusa jang, da embé di kandang mah angger waé kudu diparaban”, Ki Haji némbalan.

Uing unggut-unggutan, can gé engap baham rék disada. Ki Haji jiga nu surti, “Tuluy bisi ujang panasaran kunaon ngarit mamaké batik nu tadi dipaké solat iéd, sabab baju mah rarangkén, kumaha urangna. Da teu hina dipaké ngarit ogé. Sanajan meureun teu ilahar, nu penting mah lain dipake laku lampah nu ngalanggar papagon agama.

“Muhun atuh dikantun ki”, uing ngaléos. 

Bari ngarampa baju lebaran nu dipake, haté ngagerentes, “Baju uing pangmahalna ngan hanjakal meunang maok ti tatangga.”