NEBENG

Urban legend di Cadas Pangeran, sebuah cerita 5 tahun lalu.

“Ikut yach!” sebuah kalimat sendu menggema di rongga telinga menyentuh degup rasa di sisa sepertiga malam menuju dini hari. Tidak menjadi pikiran dan dianggap angin lalu, mungkin hanya desau angin yang menjadi halusinasi, atau memang ceracau otak yang sudah lelah menemani raga yang terus beredar menapaki dunia.

Kedua tangan memegang stang kendali motor matic kesayangan. Sementara pelindung kepala adalah helm jadul bertemakan gaya pilot tempur lengkap dengan stiker Persib, menang kalah jiwa ragaku. Menembus gerimis hujan yang tetesannya berlomba masuk ke dalam helm. Mencoba menyapa rasa dan bercengkerama di atas kulit kepala di daerah Cadas Pangeran, sebuah perjalanan malam ke sekian kali dari Bandung ke Sumedang.

Tidak berapa lama, tercium harum melati yang melenakan. Meski semakin dicium terasa wanginya itu ditambah bau lain, wangi kesedihan dan nestapa. Motor terasa berat padahal gas sudah poll di batas maksimal. Wewangian dan bau terasa semakin menusuk, sesakkan dada dan membuat jantung berdebar lebih kencang tanpa kendali. Kulit punggung terasa dingin sedingin es balok yang terikat erat di belakang badan. Seolah menemani kebekuan hati yang kembali menjadi-jadi akibat penolakan gadis kota, sore tadi.

Jalan berkelok terasa sepi, kabut tipis menemani tanpa basa-basi. Menambah suasana penuh kengerian dan sensasi. “Apa yang sedang terjadi?” Suara hati kecil menggema.

Tangan kanan memutarkan stang gas sampai maksimal, berharap motor matic ini segera berlari kencang melewati Cadas Pangeran. Tetapi yang terjadi adalah motor matic ini bergerak perlahan seolah ada beban berat yang menghambat juga halangan tak kasat mata. Pikiran waras masih membekas, dan terbayang bahwa oli rem maticnya mungkin sudah habis. Sehingga transmisinya terganggu. Sang malam terus menemani dengan setia.

Mesin motor menderu maksimal, tetapi bergerak tetap lambat, terseok-seok bagaikan ayam keok. Harum melati berganti menjadi bau bangkai, dingin dan sepi semakin terasa mencengkeram. Tidak ada pilihan lain yakni berdoa kepada Allah sambil berusaha mengendalikan motor matic ini agar tetap bergerak di jalur jalan, menjauh dari jurang yang begitu menanti kedatangan. Gerimis terus turun menambah suasana semakin penuh tekanan.

Istigfar dan aneka doa terus dilafalkan hingga setengah berteriak. Motor bergerak meski perlahan.

Tepat melewati batas tugu melewati daerah Cadas Pangeran, motor melonjak terasa ringan. Bergerak lincah kembali seperti biasanya. Beban dipundak hilang sekejap, bau bangkaipun lenyap terganti harum tanah disaput tetesan hujan. Dingin menusuk berganti hangatnya banjir keringat. Tak banyak tanya, langsung tancap gas menuju Kota Sumedang.

Tak berapa lama, terdengar bisikan serak tanpa wujud, “Terima kasih Nak.” Tangan reflek untuk tancap gas semakin cepat sambil berteriak, “Allahu Akbar!!!!.”
Bulan sabit dini hari tersenyum melihat tingkah polahku. Sesosok bayangan hitam perlahan menghilang di ujung Cadas Pangeran.

*)Catatan : Cerita Urban Legend yang ditulis 5 tahun lalu dalam versi fiksimini bahasa sunda. Ditulis ulang dan menggunakan bahasa indonesia agar bisa dinikmati oleh para pembaca. Tidak lupa versi aslinya di tampilkan dengan beberapa perbaikan. Selamat menikmati.

Versi Asli, 24 Desember 2012

***NU NEBENG***

“Ngiring” Soanten leuleuy ngagupay cepil dina simpéna wengi ngudag janari. Teu janten émutan paling ogé kukupingan, maklum awor sareng angin anu silih surung lebet kana sela-sela hélm butut. Ngaréncangan kuring uih ti Bandung ngabujeng ka Sumedang numpak motor métik si kukut.

Mung teu lami ti dinya asa kaambeu seungit malati nu ngalewangkeun ati, asa jauh panineungan. Teras motor karaos abot padahal mung nyalira da dipengker mah kuéh pamasihan pimitohaeun. Teras tonggong karaos nyecep tiis nembus na tulang, sumawonna jalan ogé mingkin simpé maturan kuring nu tunggara.

Ah di gas wé satarikna supados énggal dugi, tapi kalahka gegerungan lalaunan bangun nu ripuh. Boa boa oli metikna séép janten ngaganggu kana transmisi. Nya si kukut maju wé samampuhna. Pas leupas ti péngkolan pamungkas Cadas Pangéran, kaambeu téh janten bau bangké. Langsung istigfar bari si kukut digas satakerna, motor hampang deui sakumaha ilaharna.

“Nuhun” Soanten anteb dina cepil katuhu.(Akw).

WASTAFEL *)

Mendengarkan peringatan itu penting, tetapi mampu meredam kesombongan pribadi itu jauh lebih penting.

(Photo : Ilustrasi Wastafel / Mr HP by request)

“Jangan menyikat gigi atau cuci muka pas jam dua belas malam di wastafel itu ya!” Suara bapak kost sambil menunjuk wastafel di ujung lorong. Sebuah informasi disaat kami baru memulai mencoba menjadi anak kost di wilayah Jatinangor. Kami hanya tersenyum dan menganggukan kepala tanpa komentar, tak acuh. Terus berlalu memasuki kamar masing-masing.

Ada 5 kamar yang baru terisi dari 12 kamar yang ada. Kamar depan yang terluas, disitu bapak kost tinggal seorang diri. Kost-an ini memang agak terkesan seram karena itu adalah bangunan tua, tetapi dengan harga nego dan bersahabat maka kost ini menjadi ideal bagi kami yang butuh pengiritan biaya.

Satu bulan berlalu, kami berlima menjadi akrab meski beda fakultas. Mencoba menjadi mahasiswa yang baik, belajar dan belajar demi meraih nilai baik untuk dipersembahkan ke orangtua yang berjibaku di kampung sana demi membiayai anak-anaknya meraih cita. Kost rumah putih ini telah menjadi rumah bersama kami, rumah kedua tempat kami belajar bersama di ruang tengah. Nonton tv dan maen PS. Ataupun bersih-bersih bersama di hari libur. Wastafel di lorong tetap berfungsi tanpa perlu ditakuti.

Bulan ketiga ada tambahan warga di kost-an, namanya Jefri. “Nurdin” Tanganku terulur dan langsung disambut dengan genggaman erat, “Jefri si Anak Rantau.” Anaknya agak cuek tapi menyenangkan. Yang bikin kami khawatir adalah disaat peringatan tentang wastafel disampaikan, Jefri tertawa. “Ah kalian penakut semua. Nanti malam kita coba. Siapa yang berani macam-macam dengan Jefri Si Anak Rantau!!!” Kami terdiam, bapak kost hanya memandang dengan diam.

(Photo : Ilustrasi Wastafel / Mr HP by request)

Sore beranjak malam suasana rumah menjadi tegang. Ruang tengah tidak ramai karena kita berkumpul sambil belajar, tetapi lebih banyak diam dan berdoa tidak ada kejadian apa-apa. Jefri berjalan sambil bersiul, duduk di ruang tengah, “Tenang saja kawan, tak usah khawatirkan aku.”

Mendekati jam 12 malam, terasa semakin mencekam. Gerimis diluar dan suara desau angin menambah dramatis keadaan. Terdengar siulan ringan dan langkah kaki Jefri menuju wastafel di lorong. Kami di kamar masing-masing mendengarkan penuh ketegangan. Termasuk bapak kost yang juga khawatir dengan kenekatan ini, beliau standbye di kamarnya, kamar paling depan.

Pukul 00.00 wib pun tiba, suasana sepi dan sunyi betul-betul mengunci hati membekukan pikiran. Gerimis dan desau angin menghilang dalam gelapnya malam. Tidak ada suara teriak ketakutan dari Jefri karena ada sesuatu atau suara lainnya. Akupun merasa tenang juga (mungkin) perasaan bapak kost dan kawan kost lainnya.

Tapi…. hingga 20 menit berlalu, suasana sepi sunyi terus berlanjut. Kami penasaran, tak berapa lama terdengar suara pintu kamar depan membuka, langkah kaki menuju wastafel di lorong. Aku mengintip dari jendela ternyata bapak kost. Akupun membuka pintu kamar dan bergabung bersamanya. Juga anak kost lainnya.

“Astagfirullohal Adzim”, Bapak Kost bergumam, kami semua terdiam melihat apa yang ada di hadapan. Jefri meringkuk sambil menggigil, mulut terbuka mata melotot penuh ketakutan tanpa bisa berucap sepatah katapun. Wajahnya pucat badan membiru. Peralatan sikat gigi dan gayung tersimpan rapi di wastafel. Kamipun menggotongnya bersama-sama tubuh Jefri yang kaku seolah membeku menuju ruang tengah untuk diberikan pertolongan pertama.

Melirik ke bapak kost, terlihat wajah sedih dan sendu tapi penuh tanda tanya. Disaat kami bergerak menjauh dari wastafel, sesuatu dalam kaca wastafel tersenyum puas dan tertawa tanpa kata. Bergerak dan menghilang. (Akw).

*)Catatan : Tulisan fiksi ini 5 tahun lalu, terinspirasi dari true story jaman kuliah. Tulisan singkat ini tertuang dalam Facebook di grup Fiksimini sunda. Ditulis tentu dengan bahasa sunda, tetapi sekarang dicoba dibuat versi bahasa indonesia agar lebih mudah membaca dan menikmatinya. Berikut tersaji versi awal dengan judul yang sama.

***

WASTAFEL ***

“Kadé ulah nyikat huntu atawa sibeungeut dina wastafel pas jam duawelas peuting” Papagah Wa Udan basa mimiti asup ka imah kos di totogan Sukawening. Imah kos wangunan baheula karasa rada geugeuman, tapi da loba batur ieuh.

“Usép” Leungeun uing nyolongkrong, “Enud” Ceuk manéhna bari seuri. Tuluy ngawangkong pancakaki ngalor ngidul kawas nu loma. Antukna jadi dalit jeung si Enud teh. Ngan hanjakal boga sifat keukeuh peuteukeuh.

Kaasup anu dihulag nyoo wastafel tengah peuting, kalahka nangtang jeung rék ngabuktikeun. Satengah duabelas malem jumaah geus saged rék nyikat huntu bari teu weléh sura-seuri, padahal sakabéh pangeusi kos tagiwur bisi katempuhan urusan anu can karuhan.

Téng jam dualas, euweuh sora nanaon deukeut wastafel. Istuning jempling, simpé. Lalaunan, Wa Guru, Uing oge babaturan ngadeukeutan wastafel tea. Kaciri Si Enud ngaringkuk handapeun wastafel, leungeun méréngkél. Teu bisa ditanya, teu bisa digulanggapér. Ngagibrig bari molotot.
Na jero kaca wastafel aya nu ngaléos bari nyéréngéh.

Bongé

Ngarujak poék dibaturan simpé, bari anteng ngaraga meneng.

*)FiksiminiBasaSunda

Photo : Mung Ilustrasi / Doklang.

Seubeuh nyuruput soré, ayeuna mulutan peuting. Poék mongkléng ditoélan, bari keukeuh teu bisa dihulag ku omongan. Teu kaop dicarék, ngadon molototan. Purnama dirawél béntang dibubat babét. Rungsing sakujur alam.

Ari sia nanaonan?” Sora ahéng handaruan nepi ka tungtung deuleu. Nu ditojo haré-haré. Batan ngalieuk kalah ka tuluy culubak celebek.

Sia téh bongé?” Sakali deui sora ahéng meulah jomantara parat ka tungtung langit. Karék manéhna ngarandeg, tilu gunung diburakeun jeung cai atah ti Citarum nu ngabayabah ngabau hangru. “Ngaing teu bongé Ki Sobat, ukur nyeri ceuli ngadéngé sia mangratus taun nyarita tapi euweuh nu mangrupa.”

“Geus hayu dibaturan, ari hayang mérésan mah” Sora ahéng rada leuleuy. Manéhna giak ngeureunan lampah. Sanajan poék geus téréh nepi ka mongkléng. Teu loba nyarita, duanana leumpang pakaléng-kaléng. Jangjian ngaraksa bumi ngajaga sagara keur sampeureun jaga. Purnama jeung para béntang sujud syukur bisa salamet tina sulaya. (Akw).

Ngudag Katresna

Ngiringan ngareuah-reuah saémbara ahir taun FBS, dina wanda dalapan rubuhan.

Photo : Ilustrasi Tatangkalan / motlang

Mopoék ngarawu kélong, ngabigeu teu wasa melong. Éra ku rasa parada, isin ku banda teu boga. Sanajan niat mah luhur, geuning ajrih ku kapaur. Katresna ngancik pasini, teu bisa ukur ku surti. Rasa teu cukup ku ngarti, tapi kudu aya bukti. Hanjelu meupeuskeun hulu, poék haté ripuh saku.

Ihtiar muru ka dukun, meuli bikang hayam kalkun. Ceunah sarat méh mangpaat, katresna sugan ngolépat. Anjuk hutang uclak éclok, duit rénten gé dilebok. Nu penting mah jadi ginding, keur nyangreud parawan tingting.

Tapi geuning ukur sugan, implengan jeung kanyataan. Kalkun salosin téh nyamos, hutang raweuy awak hampos. Tukang rénten ngancam nyawa, tatangga ogé sarua. Prung mabur euweuh harepan, nyumput di leuweung tutupan. Nyamuni ngajadi kunti, nguatkeun élmu saépi. Nyébakeun jiwa nu rujit, nyembah sujud ka jin ifrit. Ayeuna kari hanjakal, langgeng jadi jurig tangkal. (Akw).

Catetan : Ieu fiksimini sunda nu di kotrét ku simkuring, dina raraga ngiring ngareuah-reuah saémbara FBS ahir taun.

Rumus : 8 engang, tungtung kalimah murwakanti.

LINI (fikminbasasunda..*)

Nampi papastén kalayan rido, da hirup di dunya ngan sajorélat.

Sirah beuki nyanyautan haté seseblakan, mikiran nasib Si Ujang nu keur aya dipangbérokan. Ngabadog tatangga alatan butuh narkoba. Kamari isuk-isuk imah dikepung, pulisi ranggéténg bedil. Si Ujang nu keur ngaréngkol dibangkol.
“Hampura Gusti, Uing teu lulus ngatik budak, hampuraaa….”
Raga rubuh cimata bedah, tajug réyod ngahelas ngiluan rambisak.

Nyeri sirah beuki nataku. Jorélat beungeut Si Jenat, ngusapan beungeut, “Sing sabar akang, hirup mah ukur sakedap. Serah sumerah ka Gusti, tobat miwah pasrah kana sagala papastén” Uing unggeuk, bari nyusut cimata.

Karék gé rék eungab ngajawab, tajug ngariyeg oyag-oyagan. Tingrarekét pikahariwangeun. “Lini…. lini, Allahu Akbar!!!” Spéker masjid ngabéjaan. Uing hudang tuluy lumpat muru ka buruan imah. Karék ogé ngaléngkah, gelap ngaburinyay, caringin badag rungkad jeung tutung. Poék.

Pas beunta awak karasa seger harampang, nyeri sirah leungit. Kaciri Uing diriung di tengah imah. Si Ujang aya. Uing imut tuluy ngaléos, bari nyekel pageuh leungeun Jikan Si Jenat. Ngalayang muru kaanggangan. (Akw).

*) Catetan : Dongéng rékaan, hatur lumayan.

Sélpi…

Pasanggrok di jalan rebun-rebun, ngobrol sakedap da tos ilahar. Ari pék téh bénten..

Photo : Masjid Nurul Iman di wewengkon Parongpong Lembang / Olanumot.

Ba’da solat shubuh shubuh Bah Unéd muru ka landeuh, boga kahayang ngaroris balong nu karék dua poé katukang di pelakan bibit guramé dua kintal. Bari ngahariring leumpang antaré, ngarasakeun segerna hawa éndahna dunya.

Palebah pengkolan masjid kacamatan pasanggrok jeung jikan kuwu, Nyi Saodah katut anakna nu manjing rumaja. Budak lalaki awak sembada. “Badé angkat kamana Abah téh, tos singkil tabuh sakieu?” Nyi Saodah naros. “Biasa wé Nyai, sono ka balong. Nyai jeung si Ujang ogé meuni nyubuh tos laliar?”
“Pun anak hoyong moto sanrais kanggé di médsos” Waler Nyi Saodah. Budak nyolongkrong sasalaman bari rengkuh.

“Sélpi heula ah”, Budak téh nyoo hapéna. Nyi Saodah unggeuk. Bah Unéd kerung, bari melong ka budak, “Sélpi?”
“Sumuhun Bah, hayu!”, anakna Kuwu giak naker. Bah Unéd ngajeten bari ngagerentes na jero haté, “Deudeuh teuing ujang, awak bangbang geus kaciri kumisan, ari dibéré ngaran Selpi, meuni néngtérégé.” (Akw).

Sélpi – Fiksimini Basa Sunda 021217

Diajar Ngaji… *)

Haréwos jaman teu gedag ngoyagkeun paniatan salira nu tos jangji ngadoja manusa.

Photo : Ilustrasi nu keur meuleum domba bari mopoék / Olanumot.

Ngabeulit ati ngaréngkas raga, ngan teu bisa aral subaha. Ukur ngahuleng bari ngabetem nyerangkeun laku salira. Teu ngukur umur teu émut yuswa . Kumincir lain wayah, mijah bari sakapeung owah.

Ragamang leungeun kokoréh, niat noél ka salira. Tapi hampos da geuning geus salin rupa jadi gundukan méga. Tulang ilang, irung nu mancrit leungit. Diganti ku rumasa nu nabeuh goong dina tonggong gorowong.

Mapatkeun jampé pamaké, salira beuki réhé. Ngaréngkénék dipengék ku seungit kélék. Salikur panon ngiceupan teu eureun-eureun. Tuluy ngagorolong simata lolong. Gancang metakeun jurus pamungkas, salira ngadon ngigel ngawut-ngawut anggel. Nyirihil bari nyeuhil tuluy ngaharéwos bari bobos, “Tong hariwang kang, da geus tugas ngaing ngajak sia ngajauhan surga.”

Teu loba mikir jeung tatanya, ayat kursi ngajait diri, Alpatihah nyuaykeun pitenah, alhamdulillah. Salira ngaleungit bari susuit, muru incuing nu anteng nyeukseukan peuting.(Akw).

*) Sebuah genre karangan bahasa sunda yang disebut fiksimini, tulisan fiksi dengan maksimal 150 kata. Sudah membangun alur cerita dan idealnya dengan diakhiri ‘rénjagan’ atau kejutan bagi pembaca. Komunitasnya bernama FBS (Fiksimini Basa Sunda).

Ternyata kamu… *)

Seikat rasa yang tergelitik emosi diatas aspal kehidupan yang panas.

Photo : Dokpri.

Sebenarnya tak kenal dengan pemilik mobil putih kecil itu, tetapi tiba-tiba pas masuk jalan tol langsung terasa begitu akrab dan menjelma menjadi seteru. Tak mau mengalah dan saling susul menyusul, malah hampir bergesekan bagaikan perlombaan rally yang berujung penghargaan. Terasa aura emosional berpadu dengan adrenalin menjalar ke sekujur tubuh, bergerak lincah mendidihkan darah. Memaksa sang kaki menginjak gas hingga lewati batas toleransi. Jemari menggenggam erat stir dan mata begitu fokus melihat pergerakan depan, samping dan belakang.

“Pokoknya tidak boleh kalah, titik!!!.”
Gaung doktrinasi menggenggam otak, memaksa diri untuk berontak, salip kiri bahu jalan menjadi lumrah seolah harga satu nyawa itu sangat murah.
Entahlah, semua terjadi begitu saja.

Duel unjuk kemampuan masih terus berlangsung, saling salip sudah tidak terhitung. Disaat mampu mendahului, terasa degub jantung nengencang dan rasa khawatir disalip mencuat meski kesombongan terasa sesaat sebelum disalip ulang oleh sang kompetitor. Mobil putih melesat kencang mendahului dari bahu jalan.

Segera dikejar tanpa melihat lagi tanda kecepatan yang lewati batas kewajaran. Dada bergemuruh penuh peluh, rasa kalah terasa menyeluruh tapi perjuangan belum usai karena terlihat mobil putih kecil itu jauh didepan tetapi mentertawai dengan tingkat kepuasan tertinggi.
Hampir saja jarum kecepatan di spedometer protes karena melewati 220km/jam, tetapi tak kuasa menolak karena aura persaingan masih menggelegak.

Tepat 30 menit kami “berlomba”, hingga akhirnya mendekati pintu gerbang pasteur dan terjadilah gesekan bodi mobil karena berebut ingin duluan menempelkan kartu e-toll dan keluar dengan rasa masygul. Tanpa kesepakatan kami meminggirkan kendaraan masing-masing. Hamburan kosakata sampah sudah berbuncah dimulut tinggal disemburkan, tetapi….

Yang keluar dari mobil putih sang kompetitor adalah seseorang dengan postur tubuh gagah dan mukanya bersih serta mirip aku. Dia tersenyum sambil mengulurkan tangan, “Maafkan saya yang telah mengganggu kosentrasi mengemudi anda” Aku terdiam karena seolah sedang bercermin. “Kamu siapa?” Meluncur pertanyaan dari bibir yang bergetar. Dia tersenyum, sementara amunisi sumpah serapah yang tadi siap membuncahpun susut dan hilang tanpa disadari.

Aku menunduk sesaat untuk meyakinkan diri bahwa ini bukan mimpi. Tetapi saat wajah kembali diangkat, sang kembaran sudah menghilang begitupun kendaraan putih yang ditungganginya. Hanya tersisa selembar kecil kertas putih yang agak kekuning-kuningan. Perlahan berjongkok dan memungut kertas tersebut. Dibaca perlahan, ‘Lain kali jangan ngebut lagi ya bro.’
Raga terdiam pikiran termangu, sambil menatap goresan di bodi mobil hasil gesekan tadi. Ucap istigfar memenuhi rongga keteledoran. Memberi ruang untuk sesaat terdiam sambil merenungi hikmah kejadian. Wasssalam. (Akw).

*) Coretan iseng menemani perjalanan melintasi tol Cipali.

Nyaah Ka Indung

Nyaah ka indung mah utama, tapi cara jeung rupa tangtu kudu maké rumpaka.

“Huwaaaaaa…… huaaaaaa!!!” sora ema ngahudangkeun saimah-imah. Patinggurudug Enang, Enung jeung Ening ngaboro datangna sora. Kaciri indungna diuk dina risbang, nginghak balilihan. Enang rikat ngusapan tonggong, Enung meuseulan bitis jeung Ening nyusutan cipanon nu ngagarantung dina damis indungna.

“Tos ema teu kedah sedih, palaputra aya didieu ngajagian” Enang ngalelemu indungna. Ma Iroh kalah ngagoak bari nyekelan hapé nu ngajeblag poto Abah almarhum.

Enung mairan, “Insyaalloh Abah tos salamet di kalanggengan, urang kintun du’a waé ma” Enang jeung Ening unggeuk nyaluyuan.
Tapi Ma Iroh angger cirambay bari curukna tutunjuk kana layar hapé.

Teu lila Ma Iroh eureun ceurikna, tuluy nyarita bari dareuda, “Ari nyaraah ka kolot mah, buru eusian pulsa hapé ema atawa téthering, méh bisa muka yutub deui, tadi pareum pas keur kakagokna”

Teu talangké tiluanna lumpat ka enggon séwang-séwangan. Enang ngahurungkeun téthering, Enung jeung Ening meuli pulsa maké internét béngking. Ema Iroh répéh ceurikna. Tengah peuting jadi jempling deui. (Akw)

Baradé lurrrr!!!…

Baheula nu geus kasorang, kapungkur nu masih nunutur. Ulah janten bangbaluh tapi ropéa janten pangaweruh supados tetep lingsig tur lintuh.

Photo : Spion di buruan masjid / potlang.

“Harita mah pakaya jeung pangajén meuni dalit dina kahirupan amang….”, dongéng mang Usa bari pepeta, mertélakeun pangalaman keur jegud loba pakaya. Meuni pogot jeung rada somseu, tanggungan cingcau diantep heula da keur anteng bacéprot nyarita jaman harita.

Sanajan meureun dongéng hirupna dibalur ku wadul sawaréh, kanyataan sawaréh. Sanajan matak uruy bin kabita, tapi da geus kaliwat. Ayeuna ukur jadi sauted carita sapuruluk dongéng nu bakal ngahiang ukur ku angin halimpu nu ngaliwat teu loba ucap.

Mang Usa masih bacéo, pepeta bari surungah séréngéh. Nu ngadéngékeun patingkoléséd, bedo rék meuli cingcau dan nempo nu dagangna lain ngaladangan tapi ngadon norowéco teu eureun ngomong. Mang Usa beuki motah, taneuh dirawu tuluy dihuapkeun. Cingcau dikeduk bari dibalédogkeun kanu araya, atuh kabéh paburisat nyalametkeun diri. Lain pedah bisi nyeri dibalédog cangcau, tapi horéam wé lamokot héjo bari geunyal.

Mang Usa maceuh bari ngagerem, panon beureum tapi rambisak. Teu lila léwéh, nangkuban dina sisi tegalan, nginghak tuluy gagaukan. Puluhan pasang panon nyerangkeun, tapi teu wani ngadeukeutan da sieun kumaonam.

Teu lila mang Usa eureun ceurikna, cengkat bari nempo ka sakurilingna, tuluy ngagorowok, “Baradé cingcauna lurrrr!!!” Leungeunna lamokot taneuh tegalan jeung késangna. Nu nempokeun dumareuda.(Akw).