Berjumpa dg KABAH dalam tugas.

Mengantar Jemaah Lansia Umroh wajib.

MASJIDIL HARAM, akwnulis.id. Sore itu getaran hati begitu kencang dikala taksi yang kami bertiga tumpangi bergerak membelah lalulintas di kota Mekah. Getaran semakin menjadi bukan karena banyaknya pemeriksaan dari aparat keamanan di Kota suci ini tetapi sebuah gejolak haru yang tak tertahankan karena akan melihat langsung Kabah, sebuah tujuan utama selama 5 waktu setiap hari menjadi arah shalat fardhu kita. Pemeriksaan di jalanan cukup ketat, lebih dari 5 kali diberhentikan dan ditanyakan terkait tanda pengenal berupa kartu NUSUK. Sebuah identitas resmi yang harus dimiliki para calon jemaah haji.

Bagi kami kloter terakhir penerbangan ibadah haji kali ini penuh tantangan. Karena bis shalawat diberhentikan sementara untuk persiapan kegiatan puncak haji di arafah muzdalifah dan mina padahal kami harus tetap melaksanakan ibadah umrah wajib sebagai syarat awal pelaksanaan haji. Tentu yang kami utamakan adalah koordinasi dengan para ketua KBIH sebagai ketua rombongan dan ketua regu agar jemaah langsung melaksanakan umrah wajib sementara petugas bisa belakangan setelah jemaah mayoritas tuntas berumrah. Maka pilihan naik taksi kami anggap lebih praktis meskipun harganya bisa gila-gilaan. Ya sudah jalani dan hadapi saja.

Taksi berhenti di dalam terowongan dan setelah membayar biaya 50 real bertiga yakni Bapak Ketua Kloter, pembimbing ibadah dan diriku maka kami bertiga menuju eskalator yang ternyata langsung mengarah ke WC 3 dan tentunya langsung berada di gerbang pintu masuk Masjidil Haram, Masyaallah Tabarakallah.

Bertepatan dengan kumandang adzan magrib, maka kami bersegera menyesuaikan dan ikut shalat magrib di pelataran masjidil harom. Setelah itu barulah bisa memasuki area dimana Kabah berada. Setelah mewati gerbang mesjid, lalu lurus dan turun melalui eskalator, disitulah degup jantung begitu kencang karena dihadapan raga yang rapuh dan tiada daya ini terlihat batu hitam hajar aswad, Kabah yang berdiri kokoh menyambut kedatangan berjuta umat muslim dan segala penjuru dunia. Doa melihat Kabah dilafalkan dilanjutkan dengan memulai prosesi tawaf dimana hati ini bergetar dan mengharu biru, “Bismillahi Allahuakbar” dimulailah prosesi mengelilingi Kabah dengan berbagai lantunan doa, shalawat hingga berbagai doa di sampaikan karena inilah tempat terbaik dimana doa akan segera dikabulkan juga beribu pahala akan didapatkan.

Desak – desakan manusia yang mengelilingi Kabah inipun ternyata memberi isyarat penting tentang makna kesabaran dan keikhlasan. Disaat badan ini terdorong keras oleh rombongan manusia yang berusaha memotong jalur demi mencium hajar aswad termasuk melihat seorang ibu yang terjepit dan meringis kesakitan, muncul sebuah tanya, “Apakah karena obsesi mencium hajar aswad dengan segala keutamaannya harus mendzolimi orang lain yang sedang berusaha melaksanakan tawaf?”

Mungkin pendapat masing – masing berbeda, tapi penulis memilih untuk tidak dzalim atau menyakiti orang lain demi mencapai dan mencium hajar aswad. Aktifitas selanjutnya adalah melakukan prosesi Sa’i yaitu berkeliling dari bukit sofa ke bukit marwah selama 7 kali. Sesuai aturan yang sudah dipelajari pada saat manasik haji, maka ucapan doa di kala mulai bergerak, disaat berada dibawah lampu berwarna hijau dimana laki-laki fisunnahkan untuk berlari kecil hingga berdoa di bukit marwah dengan menghadap kembali ke kiblat semakin menebalkan rasa iman kita dan menguatkan tentang bagaimana sejarah panjang tentang perjuangan nabi ibrahim dan siti hajar di masa lalu.

Akhirnya setelah prosesi sa’i berakhir maka tuntas sudah pelaksanaan umroh wajib yang dipungkas dengan pelaksanaan tahalul yakni mengguntinh sedikit rambut dengan mebaca doa, “DOA TAHALUL”. Tidak lupa juga menyempatkan untuk meminum air zam zam yang tersedia berlimpah ruah di berbagai titik masjidil haram. Di lokasi Sa’i air zamzamnya begitu dingin seperti didalam kulkas. Sementara yang diluar terutama di pelataran air zamzamnya tidak terlalu dingin tetapi tentu tetap enak nikmat menyegarkan dan berpahala serta memberi efek penyembuhan.

Setelah tuntas semua, kami bertiga kembali meninggalkan masjidil haram dan kembali berhadapan dengan sopir taksi yang mematok harga tidak manusiawi. Ya sudah dibayar saja patungan bertiga dengan harga 2 kali lipat sewaktu kami berangkat. Yang penting kami segera bisa tiba di hotel dan beristirahat karena esok hari banyak sekali tugas yang harus dilakukan terutama menyangkut nasib beberapa jemaah yang terpisah rombongan juga terpisah dari koper besarnya yang tak kunjung datang. (AKW).

Tiba di MEKAH & Dinamika awal.

Datang & kerja, semangat.

SHISHA MEKAH, akwnulis.id. Sesaat memasuki hotel 704 Wehdah al Khoir langsung dihadapkan dengan informasi yang menyesakkan dada. Salah satu jemaah kloter 28 dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit King Abdul Aziz Arab Saudi dimana sebelumnya diberitakan ada jemaah haji pingsan di sektor 10 tepatnya lobi hotel 1021 lalu ditangani oleh petugas kesehatan arab saudi dan langsung dibawa ke rumah sakit King Abdul Aziz. Memang informasi ini belum A1 tetapi sebagai bagian dari petugas haji maka dipastikan harus ada gerakan khususnya dari ketua kloter dan dokter serta perawat dari tim kesehatan.

Setelah koordinasi intens bu Dokter dan pihak KKHI serta pak ketua kloter dengan pihak sektor disampaikan bahwa penanganannya langsung dibawah kordinasi daker (daerah kerja) mekah. Berita tersebut belum selesai lalu dapat informasi beberapa jemaah belum mendapatkan atau belum masuk ke hotel dan berada di sektor 3. Kami yang masih jetlag dari pesawat harus langsung berkordinasi cepat agar tidak ada jemaah yang telantar sementara operasional bis shalawat sudah dihentikan sementara. Jadi pilihannya naik taksi kembali, untungnya bapak binbad (pembimbing ibadah) bisa sedikitnya berkomunikasi bahasa arab. Jadi bertanya dan menawar ongkos taksi bisa jelas di awal dan mendapat kepastian.

Kami berempat bergerak menuju sektor 3 dan disambut baik oleh bapak Kepala sektor 3 dan setelah dikordinasikan dengan cepat, jemaah sudah dipastikan mendapatkan hotelnya serta bisa beristirahat dengan tenang. Hanya saja tantangan menuju kantor sektor 3 ini tidak main – main. Karena jalan – jalan sudah banyak ditutup maka pilihannya adalah berjalan kaki. Kebayang nggak, siang mentrang di suhu 45° – 48° celcius kami berempat berjalan kaki dengan bermodal google map dan berpakaian kain ihram. Keringat terasa mengucur terutama di paha, gimana gitu rasanya.

Lelah dan pegal terasa tetapi semangat kami harus tetap membara. Ini baru permulaan sebagai tantangan awal dalam penugasan sebagai petugas haji tahun ini. Maka dari kantor sektor 3 kami kembali bergerak ke kantor Dakker di daerah shisha untuk mengecek kartu NUSUk para jemaah dan petugas. Kembali kombinasi jalan kaki, naik taksi dan jalan kaki hingga masuk ke lantai 2 kantor Dakker mekah. Lapor dan diskusi dengan petugas disana, mendapatkan kartu NUSUK petugas dan juga jemaah dengan pengecualian  kartu NUSUK penulis ternyata tidak ada di dakker, katanya di ambil oleh petugas syarikah.

Olala…

Ternyata perjuangan belum tuntas, hati kecil ini berbisik, “Harus ikhlas dan banyak istigfar disini mah, yang penting jemaah dulu baru urusan pribadi.”

Setelah dipastikan urusan jemaah bisa tertangani oleh ketua kloter dan tim, kami kembali ke hotel dan barulah berkoordinasi terkait ID card NUSUK yang ternyata harus janjian dengan pihak syarikah dan bahasa arab menjadi wajib. Hasil koordinasinya kami bisa bersua di lusa karena sore ini kami harus melaksnakan umroh wajib terlebih dahulu.

Alhamdulillah petugas haji kloter yang sudah datang di kloter awal bersedia membantu. Kebetulan memang tim kita di kantor, sehingga janjian ketemu dengan pihak syarikah bisa dilaksanakan. Meskipun tentu harus berjalan kaki kembali menuju hotel 711 dan menunggu hingga 1 jam lebih. Jalani saja, akhirnya bisa berjumpa dan ID card NUSUK bisa didapatkan ditukar dengan pasport sebagai bagian dari proses adminstrasi penyelenggaraan haji tahun ini.

Oh iya, syarikah itu adalah pihak swasta di arab saudi yang bekerjasama dengan kementerian agama republik indonesia tentu dibawah kordinasi pemerintah Arab Saudi. Terdapat 8 pihak syarikah yang ditunjuk dan mengelola pelayanan para jemaah haji tahun ini diantaranya :
1. AL Baits Guest (BTG) 35.977 jemaah
2. Mashariq Rakeen (RKN) 35.090 jemaah
3. Rehlat Wamanapea (RHL) 34.3802 jemaah
4. Mashariq Sana (SNA) 32.570 jemaah
5. Rifadah (RFH) 20.317 jemaah
6. Rawaf Mina (RWF) 17.636 jrmaah
7. MCDC (MCD) 15.645 jemaah
8. Rifad (RFD) 11.283 jemaah
dan penulis berada di syarikah ke-8 yakni RFD.

Satu lagi yang belum selesai yakni koper besar ternyata belum datang di hotel, sama nasibnya dengan pak Gungun petugas haji juga. Kopernya masih berpetualang dari hotel ke hotel di mekah. Maka pertama yang dilakukan adalah berdoa kepada Allah agar koper segera ditemukan dan yang selanjutnya tentu berikhtiar dengan mengecek ke beberapa hotel serta share info via WAgrup petugas. Alhamdulillah akhirnya diremukan di hotel 301 dan diantarkan oleh petugas dari sana ke hotel 704 tempat kami menginap, Alhamdulillah, bisa ganti baju akhirnya. Khususnya baju dalam hehehe.

Demikianlah cerita singkat proses awal kedatangan kami di kota mekah dan bersiap menghadapi pelaksanaan ibadah puncak haji yaitu wukuf di arafah, mabit di muzdalifah dan melempar jumroh di mina. Tapi jangan lupa ada tahapan umroh wajib yang harus dilaksanakan sebelumnya. Semangat, Wassalam (AKW).

CATATAN PETUGAS HAJI DAERAH – Tiba di Mekah.

Alhamdulillah akhirnya tiba di Kota Mekah.

JARWAL MEKAH, akwnulis.id. Suasana mengharu biru dari para jemaah yang sudah melewati pemeriksaan imigrasi lalu bergerak ke tempat persiapan pemberangkatan ke hotel masing – masing di bandara King Abdul Aziz Jeddah. Tempatnya cikup luas dan terdapat akses toilet yang luas baik laki – laki dan perempuan. Maka bergiliranlah ke toilet untuk sekedar buang air kecil atau malah langsung ‘menandai tempat‘ dengan aktifitas buang air besar.

Ada pandangan bahwa manakala di tempat baru bisa langsung BAB alias ee, maka dianggap memiliki tingkat adaptasi tinggi. Katanya. Jadi berbahagialah bagi yang langsung bisa buang air besar di toilet tanpa kesulitan. Eh kok kadi ngobrolin beabe. Udah ah… kembali ke laptop.

Petugas haji dari Kementerian agama dengan cekatan memgatur rombongan dan mengarahkan ke bis yang sudah diatur sedemikian rupa. Maka para jemaah dan petugas haji daerah yang sama menggunakan kain ihram tentu mengikuti semua arahan dan menaiki bis yang sudah ditentukan. Bis bergerak dari bandara di Jeddah menuju mekkah dan beberapa titik terasa melambat tapi karena kondisi phisik cukup lelah jadi avak sayup – sayup hingga kembali terridur. Ternyata beberapa kali tersendat dan atau malah macet terdiam itu adalah proses pemeriksaan super ketat dari aparat keamanan Pemerintahan arab saudi dalam memastikan bahwa di musim haji tahun ini benar – benar tersaring bahwa jemaah haji yang masuk ke kota mekah adalah dengan menggunakan visa haji dan terintegrasi dalam aplikasi yang namanya NUSUK. Hati – hati bukan bahasa indonesia tetapi bahasa arab, *Nusuk* (نسك) dalam bahasa Arab memiliki arti yang terkait dengan ibadah dan ritual keagamaan, khususnya dalam konteks haji dan umrah.

Prosesi perjalanan berjalan lancar hingga memasuki kota mekah. Degup jantung terasa lebih kencang seiring luapan rasa syukur bisa menjejakkan kaki di tanah suci. Sebuah kesempatan hidup luar biasa dengan 2 fungsi yang penuh keberkahan. Sebagai petugas yang melayani jemaah haji sekaligus mengikuti prosesi tahapan berhaji. Alhamdulillahirobbil alamin.

Bis berkeliling mengantarkan jemaah menuju hotel yang sudah diatur sedemikian rupa. Satu persatu jemaah turun dengan berbagai hotel yang berbeda. Termasuk yang mengurusnya dari lokal arab yang disebut syarikah, mengatur dan mengarahkan para jemaah ke hotel – hotel yang tersebar di berbagai sektor di daerah kerja mekah. Setelah tuntas jemaah memasuki hotel masing – masing dilanjutkan dengan pendistribusian koper besar jemaah yang juga memerlukan kesabaran serta ketelitian. Ada beberapa koper yang berjiwa petualang sehingga berkeliling dari hotel ke hotel namun akhirnya bisa bersua kembali dengan pemiliknya.

Tantangan terus hadir, setelah mengawal penempatan jemaah juga mengejar koper besar yang berpetualang tiba saatnya kita memastikan para jemaah melaksanakan umroh wajib di masjidil harom. Disini peran ketua kloter, pembimbing ibadah, petugas pelayanan umum dan tenaga kesehatan serta kolaborasi intens dengan para ketua rombongan dan ketua regu sangat menentukan kelancaran semuanya. Alhamdulillah secara umum pelaksanaan umroh wajib dikordinasikan oleh para ketua rombongan termasuk juga yang jalur haji mandiri melakukan umroh wajibnya secara mandiri. Petugaspun menyesuaikan melaksanakan umroh wajib diawali tawaf lalu pelaksanaan sa’i. Selain itu petugas harus siap dan siaga manakala menghadapi jemaah lansia dan resiko tinggi yang tercecer tidak ikut rombongan melaksanakan umroh wajib. Disinilah peran binbad, petugas dan nakes untuk mengawal pelaksanaan umroh wajib tetsebut.

Kamar hotel yang ditempati penulis berada di sektor 7 tepatnya berkode 704 Hotel Wehdah Alhoir di wilayah Jarwal Kota Mekah yakni lantai 4 kamar 423. Isi kamar berempat dengan keunikan tersendiri yakni bergabung dengan jemaah dan lintas kloter juga lintas embarkasi. Sebuah pengalaman seru yang tidak akan terlupakan. (AKW).

HAJI JAHE & HAJI JAPAR

Heureuy petugas sareng jamaah waktos wukuf di Mina

FIKMIN # HAJI JAHE JEUNG HAJI JAPAR #

Uih ti jamarot ngalaksanakeun jumroh aqobah, asa karaos cangkeul bitis tur cangkèng. Padahak da teu tebih mapah tèh, mung nitih tujuh kilometer saritna. Anjog ka tènda, paheula-heula ngalungsar, geuning sadayana ogè sama, carangkeul.

Sabut ngalempengkeun cangkèng tur sampèan, Mang Gugun ngagorowok, “Saha nu apal sebutan haji nu taun ayeuna?”

Haji wahyu, sawahna payu”
Haji nurdin, nutut ku tugas dines”

Wa Ilham sareng Mang Riza ngawalèr. Mang Gugun nèmpas, “Eta mah sebutan haji jaman baheula, coba kreatip atuh, mikir!!”

Wa Ilham ngagorowok, “Aya nu anyar mang, Haji jahè?”

Naon hartosna?”
Itu tuh Haji Entang jahe, jago hèès”

Haji Entang gumujeng bari teras peureum deui.

Tah Cep Oky mah Haji japar, alias jahat parab, sok nambih tur sagala rupi dituang heu heu heu”

Hiji deui, Haji Kohar, tuh aa Rijaldi, haji ngaroko beres dahar” Mang Gugun imut jamaah lain nyèrèngèh. Cangkeul bitis leungit kasilih ku gogonjakan. (AKW).

KERTAJATI KE JEDDAH 9 JAM

Take off Kertajati dan Landing di King Abdul Aziz, selamat berhaji.

JEDDAH, Akwnulis.id. Adzan shubuh berkumandang membangunkan raga yang tertidur pulas di asrama haji indramayu. Segera bangun dan bergegas untuk memadi dan mempersiapkan segalanya sekaligus cek ricek aneka perlengkapan yang ada.  Serta ada tantangan yang harus siap dihadapi yaitu menggunakan pakain ihram.

Memang sulit pake kaun ihrom? Khan sudah latihan sebelumnya!”

Sebuah tanya akan hadir tentunya, dan jawabannya sebenarnya sederhana. Memakai kain ihrom itu insyaalloh mudah karena sudah diajarin, melatih diri dan menggunakan ikat pinggang untuk menjaga kekencangannya. Tapi disaat membiasakan tidak bercelana dalam, itu tantangannya. Nggak percaya, ya silahkan coba. Apalagi dipastikan bahwa baik jemaah juga petugas harus berkain ihrom mulai siang hari di hari ini hingga besok tiba di mekah. Maka adaptasi yang cepat harus segera dilakukan. Setelah makan pagi hingga jam 11.00 wib masih berpakaian kebanggaan petugas yakni kemeja panjang biru muda. Melakukan pengecekan akhir dengan ketua kloter dan pembimbing ibadah, hingga tibalah adzan dhuhur berkumandang dan itulah saatnya berubah.menggunakan kain ihrom. Jeng jreeng.

Kain ihram sudah digunakan, ikat pinggangpun terpasang. Gelang ditangan, kartu – kartu dikalungkan di leher serta tas pinggang pembagian menempel di pinggang kanan. “Gaskeun barudaaak, Mamang siap bertugas!”

Maka tas gendong hitam sudah siap dipunggung, koper kecil di geser menuju lokasi pemeriksaan akhir yang berada di lantai 2 asrama haji. Pintu X-Ray.menyambut dan pemndaian barang-barang dimulai. Ini yang disebut ‘fast track‘ sebuah pelayanan inovatif hasil kolaborasi kementerian agama republik indonesia dan pihak saudi arabia airlines dalam rangka percepatan pendorongan jemaah untuk segera masuk pesawat. Jadi tidak ada lagi pemeriksaan jemaah di bandara. Kami petugas dan jemaah yang sudah lolos pemeriksaan, diarahkan naik ke bis yang sudah tersedia dan pintu bisnya ditutup oleh petugas serta disegel. Jadi yang mau buang air harus ditahan atau gunakan toilet yang ada di bis.

Perjalanan selama 1,5 jam menggunakan bis terasa menyenangkan. Selain mendengarkan penjelasan dari pihak saudi arabia airlines juga penjelasan umum dari pembimbing ibadah tentang tahapan urusan ibadah yang harus dipersiapkan dan diyakini optimisme perjalanan ibadah haji yang sudah berada di ambang mata. Hingga akhirnya rombongan bis tiba di bandara kertajati dan tidak melalui proses pemeriksaan lagi. Namun langsung diarahkan petugas ke ruang tunggu dan hanya sekitar 25 menit saja beristirahat serta sebagian ke kamar mandi bandara, maka secara per rombongan mulai memasuki pesawat Saudi Airlines yang akan menerbangkan 405 orang penumpang yang terdiri dari jemaah dengan petugas haji.

Tepat pada pukul 17.15 wib pesawat take off dan terbang menggapai batas awan lalu melewatinya sehingga awan putih menjadi hamparan dalam mengawali perjalanan ini. Bismillabirrohmannirrohim. Perjalanan akan ditempuh selama 9 jam kawan, iya 9 jam. Berarti target tiba di Bandara King Abdul Aziz di Jeddah adalah sekitar pukul 01.15 wib atau masih pukul 23.15 was (waktu arab saudi) karena perbedaan waktu antara indonesia dan mekah adalah selisih 4 jam lebih cepat.

Kembali tak lupa.mengucap syukur kepada Illahi karena dapat kembali bertugas dinas melewati batas negara setelah terakhir adalah perjalan dinas ke Melbourne Australia pada akhir tahun 2022 lalu sebagaimana terdokumentasi pada salah satu tulisanku ini yakni COLD BREW at CALIA RESTO. maka perjalanan kali ini jauh lebih ajiiiib, karena menjadi petugas haji daerah. Berangkat dinas selama 40 hari membersamai para jemaah haji sekaligus mendapat kesempatan melaksanakan rukun islam yang kelima. Luar biasa.

Tugas sebagai petugas ternyata unik dan menarik, di dalam kabin pesawatpun harus senantiasa siaga dan siap sedia melaksanakan aneka fungsi untuk membantu calon jemaah haji ataupun pihak lain seperti pihak maskapai saudia airlines. Mulai dari mengatur ulang posisi duduk dari penumpang dimana para penumpang lansia dan beresiko tinggi penyakit ditempatkan di kursi terdepan agar memudahkan pelatanan media oleh tim kesehatan. Tentu dokter dan perawat sigap memberikan pelatanan baik yang resiko tinggi ataypun keluhan kesehatan lainnya dari para penumpang.

Ada juga tugas tambahan baru yang agak menggelitik yakni request dari pihak pramugari untuk memberikan pengumuman kepada seluruh penumpang melalui interkom pesawat dalam bahasa sunda.. ya bahasa sunda. Karena dikhawatirkan banyak yang tidak paham bahasa indonesia terkait pemakaian toilet pesawat yang memang dengan air terbatas dan mengelap setelah kencing atau cebok dengan kertas tisu. Untung saja penulis suka iseng menulis bahasa sunda dalam format fiksimini maka mikropon disambar dan segera menyampaikan pengumuman khusus berbahasa sunda.

Kahatur bapak miwah ibu calon jemaah haji, sing saha waè nu hoyong kahampangan atanapi miceun di jamban kapal udara teu kenging babaseuhan komo deui jijibrugan margi cai nu disagogikeun walurat. Lajeng upami rèngsè ngisang, papang, sareng sajabina ulah hilap cècèwok ogè ombèhna nganggo kertas tisu. Hatur nuhun.”

Para penumpang terlihat mengangguk – angguk mendengarkan pengumuman berbahasa daerah tersebut tapi wajahnya kembali bingung karena membersihkan kotoran dengan tisu adalah hal yang baru. Pasti pikirannya sama, “Takut nggak bersih ah.”

Ya sudah yang penting informasi telah disampaikan. Penulis sendiri mencoba fasilitas toiletnya, ya harus extra adaptasi apalagi terkait pijit tombol flush yang langsung terdengar suara angin berhembus dan kotoran di wc hilang, ajaiiib. Cuci tangan dan cuci muka masih bisa tetapi tentu berhematlah dengan air yang ada di toilet pesawat tersebut.

Tugas selanjutnya adalah melakukan operasi razia celana dalam. Tapi jangan salah sangka, bukan berarti narikin celana dalam eh kolor bapak – bapak, tetapi hanya mengingatkan saja bahwa disaat akan miqot dan tentunya berniat umroh maka menggunakan kain ihram tanpa menggunakan kain yang dijahit seperti kaos dalam dan celana dalam. Cara mengingatkannya tentu melalui teriakan dan menggunakan interkom dalam kabin. Tentu saja petugas sambil berkeliling kabin untuk mengingatkan terus para jemaah pria agar ibadah umrohnya lancar dan tidak kena dam atau denda.

15 menit kemudian, pesawat diyakini sudah melewati yalam lam dan miqot sudah bisa dilaksanakan. Suasana dalam kabin terasa syahdu karena lampu semua dimatikan seiring dengan waktu pendaratan di bandara King Abdil Aziz Jeddah semakin dekat. Niat umroh dipimpin pembimbing ibadah dan diikuti oleh para jemaah. Menandakan dimulainya rangkaian ibadah haji bagi kloter 28 KJT ini yang merupakan kloter pamungkas yang diberangkatkan dari Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati Majalengka.

Tepat pukul 02.15 wib atau pukul 22.15 waktu arab saudi, pesawat mendarat dengan mulus di landasan runway king abdul aziz di Jeddah dan tak berapa lama para penumpang turun secara antre disambut oleh bis yang akan mengantarkan ke area pemeriksaan pasport oleh pihak Imigrasj Pemerintah Arab Saudi. (Bersambung).

Berangkat ke Asrama Haji Indramayu – phd

Catatan awal keberangkatan

INDRAMAYU, akwnulis.id. Perjalanan menuju asrama haji indramayu menjadi awal dari perjalanan panjang menuju tanah suci Mekah AlMukaromah. Ditemani istri dan anak tercinta serta sopir yang setia, ioniq 5 melesat melewati jalan tol Padalarang – Cileunyi dan berlanjut ke Cisumdawu. Hari ini adalah hari sabtu tanggal 30 mei 2025, sebuah tanggal yang bersejarah yang akan memberikan momentum perjalanan luar negeri lintas negara dalam kerangka tugas sekaligus ibadah mulia. Raga ini hadir untuk bertugas menjadi petugas haji daerah, sebuah tugas yang merupakan Amanah dari pemerintah provinsi jawa barat untuk memberikan pelayanan umum kepada para Jemaah provinsi jawa barat dalam rangka penyelenggaraan haji tahun ini, tahun 1446 hijriyah atau tahun 2025 masehi. Kami tidak sendiri tetapi ada 171 orang PHD (Petugas Haji Daerah) yang dibiayai oleh APBD Provinsi Jawa barat melalui mekanisme hibah kepada Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Barat.

Mobil berbelok sesaat ke arah pintu tol Sumedang kota, karena anak kesayangan mulai terasa lapar. Kebetulan tidak jauh dari pintu keluar tersebut terdapat restoran cepat saji McD dan bisa dilakukan pembelian via kendaraan. Jadi kami tidak perlu repot turun dan memesan, cukup bergerak saja kendaraan di jalurnya dan bisa membeli serta membayar dengan nyaman. Sebutannya ‘Drive-Thru’, sebuh layanan yang memungkinkan pelanggan dapat memesan dan membayar lalumengambil makanan dan minuman tanpa harus keluar dari kendaraan. Tentu ini lebih praktis serta efisien, apalagi saat ini ingin segera bergerak kembali mengejar jadwal yang sudah ditentukan di asrama haji indramayu.

Setelah tuntas belanja maka kembali balik arah menuju pintu tol sumedang dan melesat di tol cisumdawu hingga bersambung ke tol cipali dan tak berapa lama kemudian keluar dari pintuj tol Kertajati Majalengka. Perjalanan dilanjutkan dengan jalur jalan provinsi Jatitujuh menuju Indramayu. Kondisi jalan tol yang lebar dan bebas hambatan berganti dengan jalan umum yang banyak obstacle baik kendaraan umum lainnya terutama sepeda motor juga kondisi kontur jalan yang terkadang tidak rata, tidak ada kata lain selain harus hati-hati dan waspada bagi sopir yang mengedalikan kendaraan ini.

Alhamdulillah menjelang magrib tiba di Asrama Haji Indramayu dan ada momen yang mengharu biru. Anak kesayangan yang ikut mengantar ke Asrama ini selama di perjalanan menikmati nonton di tabletmya dan juga ngobrol bersama sambil.menikmati makanan yang dibeli diperjalanan. Tetapi disaat akan pulang meninggalkan ayahnya di asrama haji, terlihat begitu sedih berpisah. Air mata mengalir dan sambil terisak tidak mau lepas dari pelukan. Sebuah perasaan yang halus seorang anak perempuan terhadap ayahnya terasa begitu kuat. Apalagi memang selama ini tidak pernah ditinggal lama, paling hanya 1 minggu saja.

Udah ya sayang, ayah bertugas dulu. Baik – baik ya di rumah, sekolah dan jaga ibu ya”

Bukan jawaban kata-kata yang hadir tetapi pegangan tangan yang semakin kuat, padahal posisi sudah diluar kendaraan dan tangan bertaut di jendela belakang. Terlihat anak cantik kesayangan ini begitu sedih dan tak mau ditinggalkan. Ibunya pun sama sedih tetapi berusaha mengendalikan hati dalam perpisahan ini. Setelah drama jemari tangan nggak mau dilepas, akhirnya perlahan-lahan bisa dirayu untuk jangan bersedih. Anak dan istri tersayang bergerak meninggalkan halaman asrama haji dengan uraian air mata. Berat hati ini, tapi kenyataan tugas yang harua dihadapi.

Setelah itu langsung bergabung dengan para petugas di asrama haji untuk melaporkan kesiapan dan dilakukan pengecekan kesehatan, pembagian gelang, living cost dan juga kelengkapan peralatan kesehatan. Agenda berlanjut dengan rapat koordinasi dengan para ketua rombongan dan ketua regu yang dipimoin oleh bapak Profesor Dadan Rusmana sebagai Ketua Kloter didampingi Pembimbing ibadah, dokter, perawat dan Pelayanan umum.

Dalam pertemuan ini dilakukan pembahasan tentang berbagai informasi terkait penyelenggaran haji tahun ini dan berbagai tantangannya. Terutama kesiapan mental dan phisik  untuk memghadapi puncak ibadah haji yang akan segera dilaksanakan sesaat kloter 28 ini tiba di Mekah.  Bayangkan saja, kita sudah harus berkain ihram disaat berangkat, melaksanakan miqot di pesawat dan turun di Bandara Jeddah langsung bersiap melaksanakan tawaf wajib. Sementara lusanya sudah bersiap pergerakan menuju wukuf di arafah... (Bersambung).

CSR – fbs

Ditawisan tèh, kalèkèd.

CSR (Corporate Sosial Responsibility)

KOTA, akwnulis.id. Tengah peuting di péngkolan nu rada suni kaciri hiji wanoja rancunit maké mantel bulu ngadeukeutan bapa-bapa jeung nonoman nu keur ngariung. “Punten bilih aya nu badé ngersakeun, mangga haratis”, éta wanoja bari mukakeun mantel buluna.

Astagfirullohal adzim, nanaonan ieu téh?”, Abah Sarmad ngarénjag bari melong. Jang Ibro jeung Cép Duléx ogé mencrong teu kiceup-kiceup.

Mang Bahro tungkul bari kunyam-kunyem babacaan. “Badé moal?”, wanoja rancunit naros deui kanu karempel. Hookeun.

Keur ting haruleng, katingali dua urang Satpol PP muru ka éta patempatan. Wanoja rikat nutupkeun deui mantel buluna, ngan teu tiasa lumpat da kabujeng dicerek.

Di pos keamanan wanoja téh ditalék, “Anjeun ngalanggar Perda Asusila, wayahna kudu dihukum”.

Teu rumaos ngalanggar abdi mah pa, da tadi mah sanés icalan. Diharatiskeun malih mah”, eta wanoja ngabéla diri.

Naha bisa kitu?”

Muhun abdi téh kaleresan dinten ieu icalanna mucekil, malih mah batina ageung. Tah nu nembé nawisan haratis téh dina raraga CSR”. (AKW).

KEHILANGAN : SEDIH & BAYAR

Ternyata Kesedihannya mendalam karena diharuskan juga membayar hehehehe…

JAKARTA, akwnulis.id, Pagi masih menggelayut manja diatas cakrawala sementara mentari tampak malas menampakkan cerianya. Pagi syahdu yang entah mengapa membuat jiwa ini rapuh dan meragu. Tetapi tidak ada jalan lain untuk menahan langkah dan kembali pulang untuk memeluk kenangan. Karena harapan ternyata menjadi bayang yang akan hadir dikala bentar bersinar terang.

Maka dengan segenap sisa kemampuan, dilawan perlahan semua keengganan dan kemalasan dengan cara tarik nafas panjang lalu berteriak spontan dengan semangat, “Alloooohu Akbarr!!”

Otot di raga tergerak dan semesta menemani perubahan sikap ini. Maka sebelum pelukan kemalasan kembali berkelindan, kaki melangkah penuh keyaminan untuk menuju sebuah tempat yang diharapkan memberikan kepastian.

Sebagai penguat sinyal dalam meyakinkan tentang rasa kehilangan ini maka kantor polsek terdekat bisa memberikan secercah harapan dengan menghadirkan sebuah kertas keterangan. Jelas sudah ada yang hilang karena judul surat yang diterbitkan di kantor polisi adalah SURAT KEHILANGAN.

Biarkan secara administrasi tercatat hilang, tapi kenanganmu tetap tak lekang oleh jaman”

Langkah kaki setengah berlari membawa bukti surat kehilangan. Menuju sebuah tempat yang berharap menjadi pengobat luka akibat kehilangan, namun ternyata kehilangan kali ini bukan sekedar kehilangan tetapi dilengkapi dengan keharusan menyediakan sejumlah uang.

Omay gad, ternyata kehilangan kali ini bukan hanya kesedihan dan kebingungan mencari kenangan dan bukti keberadaan tetapi juga perlu merogoh saku demi mengikuti sebuah aturan”

Jadi lengkap sudah, pertama hilang lalu kehilangan, diberi surat keterangan hilang dan dalam proses selanjutnya ternyata bukan hanya kehilangan tetapi harus bayar sejumlah uang. Huuuu huuuu huuuu huuu.

Memang anda kehilangan apa sampai bersedih tak tertahankan?” Sebuah pertanyaan hadir dari kumpulan orang yang jadi penasaran. Termasuk yang sedang baca tulisan ini. “Ya khan?”

Kehilangan ini” Dengan suara memelas memperlihatkan photo sebuah buku hijau kecil bergambar garuda emas.

Pantesan atuh, hilang pasport mah resiko, memang begitu aturannya”

Kamu betlebihan, hilang ginian tapi heboh sendiri cari simpati”

Raga terdiam dan sedikit senyum simpul. Dari awal khan hanya ingin cerita kehilangan dan ternyata kehilangan pasport memang harus berposes dan juga bayar 1 jura rupiah diluar biaya pembuatan pasportnya. “Kenapa orang – orang sewot?”

Jadi kesimpulannya :
1. Bagi yang sudah punya paspor maka dijaga baik – baik jangan hilang.
2. Jika hilang maka ada keharusan membawa surat dari kepolisian, BAP oleh Kantor Imigrasi lalu bayar dendanya.
3. Jika hilang dan tidak ada sama sekali photocopy atau file digital dari paspor yang hilang maka harus ke kantor imigrasi terdekat untuk meminta salinan dari paspor yang hilang ini. Harus datang pagi – pagi dan dengan ikhlas antri. Setelah dipanggil dan mengisi beberapa formulir serta wawancara maka diberikan copy-an berkas sebagai bahan untuk membuat surat keterangan kehilangan dari kepolisian.
4. Ke kantor polisi terdekat atau disarankan di daerah domisili dan inipun perlu waktu yang lumayan.
5. Kembali ke kantor Imigrasi dan berproses untuk pembuatan paspor baru dan selain harus mengantri lagi juga bersiap membayar denda kehilangan.
6. Waktu yang digunakan cukup banyak dalam prosesnya, jadi tetap semangat, bersabar dan fokus.

Begitu ceritanya yang penulis alami, semoga menjadi cerminan kehati-hatian bagi para pembaca yang baik hati dan tidak sombong serta teliti untuk berbagai hal. Selamat menjalani hari ini, penuh arti dan jangan lupa tafakur serta syukuri. Wassalam (AKW).

NASIB SIAL fbs

Terkadang memang nasib tidak berpihak. sabar ya dek.

INDRAMAYU, akwnulis.id. Sebuah cerita singkat yang terinspirasi dari diskusi santai berbagi pengalaman dengan bosnya Kanwil Kemenag Jabar di sela – sela persiapan akhir pelaksanaan Ibadah Haji 1446 H tahun ini.

FIKMIN # NASIB SIAL #

Geus saminggu mondok moèk di kantor. Pabeulit mulek jeung kertas, paspor ogè daptar jalma nu ŕèk indit munggah haji. Kabeneran boga dunungan beukina sosorongot, teu mingè. Gawè jeung gawè, kudu suhud jeung taliti. Sabab jadi urusan panjang lamun jamaah aya masalah di bandara diditu, barabè Jang.

Komo dua poè katukang mah ripuh pisan, teu pira kudu nèangan 2 ngaran calon jamaah nu leungit. Dina daptar tapi pasporna suwung. Atuh dibukaan deui sakabèh koper. Sanajan bangga, teu bisa kumaha.

Tèangan nepika panggih!!!” Sora handaruan dunungan, matak pegat jajantung.

Alhamdulillah jam sapuluh peuting, berkas kapanggih. Disuhun teu sirikna diciuman, beungeut dunungan marahmay.

Jig siah arulin, tong poho isuk – isuk ngumpul deui”

Bring, opatan mapay jalan sudirman. Sup ka hiji wangunan nu loba jelema. Sora musik handaruan matak ratug kana hatè.  Leguk nginum cihèrang nu asongkeun ku nu gareulis. Haneut dina tikoro, leng poèk.

Isukna ibur di kantor, Jang Usep saparakanca mabok.

***

Terima kasih berkenan meluangkan waktu 2 – 3 menit membaca tulisanku ini. Jangan lupa ini hanya cerita rekaan saja tetapi diambil dari sebuah ide yang hadir disaat ngobrol santai yang penuh keakraban. Salam semangat, salam literasi, salam ngamumulè basa indung, Sunda. Wassalam (AKW).

VARIASI – fbs

Diskusi singkat tapi bermakna..

FIKMIN # VARIASI #

Lalaunan mapah ngabujeng ka tepas, seja nepangan  mitoha, Ama Haji. Katingal anjeuna nuju sila tutug, melong ka payun bari teu hilap ngenyot udud bako molè di bungkus daun kawung. Ni’mat katingalna.

Assalamualaikum Ama, kumaha damang?” Uluk salam kalawan ajrih, teu hilap rengkuh kanu janten sepuh. “Euleuh Sarjang, Alhamdulillah. Iraha ti dayeuh?”

Tadi ba’da lohor Ama, hapunten nembè tiasa nepangan”
Teu nanaon Sarjang, nu utama mah sarèhat sakabèhna. Naha awak bayuhyuh deui?” Ama melong kana patuangan ogè damis nu nyurungkuy deui. Rada nyereng.

Papagah Ama leumpang sapoè 5 kilo jeung push up 100x jigana tos kahihilapkeun nya?”
“Teu pisan – pisan Ama, masih dilakonan. Mung push upna rada aya variasi”

Variasi kumaha Jang?”
“Muhun, nembè 10x dina ubin, pun bojo piwarang naèk kana risbang, kangge neraskeun push upna Ama” lalaunan ngawaler bari rada isin.

Ama imut ngagelenyu bari ngenyot rokona, “Si Nyai mah nyeplès indungna.”

***

Sebuah tulisan singkat berbahasa sunda yang menemani perjalanan tugas di tol Cipularang menuju agenda dinas ke Depok. Wassalam, AKW.